OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ucap Takbir dan Kalimat Tauhid Dituduh akan Buat Negara, GPJ: Ngaji, Biar Pinteran

Ucap Takbir dan Kalimat Tauhid Dituduh akan Buat Negara, GPJ: Ngaji, Biar Pinteran


10Berita-JAKARTA - Pemerintah dan segenap aparaturnya diminta untuk tidak berperilaku negatif kepada umat Islam, terlebih apabila saat umat Islam melakukan aksi dengan pekikan takbir dan kalimat tauhid.

“Masa sekarang begini disebut lalu dituduh ingin membuat negara? Waduh! Padahal kan negara ini merdeka dengan pekikan takbir. Makanya, Anda sebagai anggota DPR harusnya banyak-banyak ngaji. Biar pinter. Jangan cuma korupsi, dan kawin. Gak enak bangetdah,” demikian orasi dari Ade Nugroho dari Gerakan Pemuda Jakarta (GPJ), Jum’at (11/08/2017), di depan gedung DPR RI, Jakarta.


Ia dan sekelompok organisasi mahasiswa dan kepemudaan melakukan aksi untuk menolak Perppu Ormas Nomor 2 Tahun 2017. Menurutnya, Perppu itu harus dicabut, ditolak karena sudah melanggar UUD 45.

“Intinya jelas, kami menolak Perppu Ormas. Ini jelas menodai UUD 45, pasal 28 huruf e ayat 3, yakni soal berkumpul dan berpendapat di muka umum. Dan itu dilindungi UU,” tambah pemuda yang kental dengan logat Betawinya itu.

Ia menyesalkan itu, terlebih saat ada ormas yang dituduh anti Pancasila tetapi dibubarkannya tanpa melalui meja pengadilan. “Ada yang menyatakan bahwa ormas itu anti Pancasila tetapi membubarkannya tanpa pengadilan. Dari zaman kuda gigit besi, yang namanya membubarkan ormas itu harus melalui pengadilan, bukan dengan pidato politik,” katanya lagi.

Oleh karena itu, ia meminta kepada Anggota DPR RI untuk menolak dan atau mencabut Perppu Ormas tersebut. Sebagai wakil rakyat, DPR mesti memperhatikan aspirasi kuat yang datang dari umat Islam. (Robi/)

Sumber: voa-islam.com

Usaha Cabut Blokade, Hamas Kirim Utusan ke Mesir

Usaha Cabut Blokade, Hamas Kirim Utusan ke Mesir

10Berita – Gerakan perlawan Islam Hamas mengirimkan utusannya ke Kairo melalui perbatasan Rafah pada Jumat (11/8/2017). Hamas mengumumkan bahwa mereka akan mencoba negosiasi dengan pemerintah setempat agar mencabut blokade Mesir kepada Gaza.

Kantor berita Anadolu mengutip pernyataan juru bicara Hamas, Hazim Qasim, ia mengatakan bahwa kunjungan utusan Hamas ke Mesir bertujuan untuk menindaklanjuti kunjungan pemimpin Hamas baru-baru ini, Yahya Sinwar.

Pada bulan Juni lalu, rombongan Jalur Gaza yang dipimpin Yahya Sinwar menemui pemerintah Mesir. Dalam pertemuan itu, mereka membahas banyak permasalahan antar dua negara dan permohonan keringanan blokade terhadap Jalur Gaza.

Adapun pada kunjungan Jumat kemarin, Hazim menjelaskan bahwa Hamas berharap dapat melakukan kerjasama berbagai hal positif dengan Mesir. Kunjungan ini, kata Hazim, juga bertujuan untuk meminta kontribusi Mesir dalam menyikapi perlakuan Israel kepada Jalur Gaza yang semakin memburuk.

Kondisi Jalur Gaza

Jalur Gaza saat ini masih mengalami krisis di berbagai sisi, khususnya di sisi kemanusiaan. Israel masih terus mengepung Jalur Gaza selama sepuluh tahun terakhir. Di lain sisi Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, telah menaikkan Tarif Dasar Listrik untuk mengurangi krisis. Selain itu, Mahmoud Abbas meminta kepada Israel untuk mengurangi pasokan energi mereka ke Jalur Gaza. (js/rassd/)

Sumber: Rassd, dawatuna

Setelah Diprotes Akhirnya Baliho Tak Senonoh Yang Lecehkan Bendera RI Diturunkan, Terima Kasih Netizen!

Setelah Diprotes Akhirnya Baliho Tak Senonoh Yang Lecehkan Bendera RI Diturunkan, Terima Kasih Netizen!


10Berita-Sebuah baliho besar bergambar wanita sexy yang memamerkan tubuhnya dengan balutan kain merah putih menuai protes keras dan luas dari netizen di sosial media.

"Pantaskah bendera merah putih di tampilkan dengan gambar seperti ini,
Lokasi di jalan Panglima Sudirman Surabaya."

Demikian salah satu protes netizen yang mengunggah foto tsb. Sontak foto tsb viral dan warganet ramai-ramai memprotes atas pelecehan bendera RI dan pelecehan penyambutan HUT Kemerdekaan RI dengan cara yang tak senonoh.

Tak berapa lama, Alhamdulillah setelah ramai diprotes netizen, dengan cepat hari ini juga (12/8/2017) Pemkot Surabaya menurunkan baliho yang tak layak untuk memberikan penghormatan pada Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Terimakasih kepada netizen yang senantiasa peka dan peduli dengan negeri ini.

Masih menunggu Pemkab Tuban melakukan hal yang sama untuk Patung Kong Co Jenderal Perang China yang tak layak berdiri di bumi Ronggolawe - WaliSongo - Tuban - Bumi Para Wali!

Teruslah cerewet wahai warganet, status-status Anda di sosial media ikut menentukan arah bangsa.

Sumber: Portal Islam

Penutupan Al-Jazeera, Keputusan Blunder Otoritas Zionis

Penutupan Al-Jazeera, Keputusan Blunder Otoritas Zionis


Ilustrasi. (aljazeera.net)

10Berita – Tel Aviv. Keputusan Otoritas Zionis Israel terkait penutupan kantor perwakilan Al-Jazeera di Al-Quds terus menuai kontroversi. Terbaru, pengamat Timur Tengah asal Israel, Jackie Khoji turut menyuarakan pendangan atas keputusan negaranya tersebut.

Dalam sebuah artikel yang dimuat surat kabar Israel, Maariv, Jackie menyebutkan  bahwa penutupan kantor Al-Jazeera merupakan kelanjutan dari langkah serupa yang dilakukan negara-negara Arab sejak berdirinya kantor berita yang berpusat di Qatar tersebut. Negara-negara Arab yang dimaksud adalah Suriah, Arab Saudi, Yordania, Bahrain, Tunisia dan lainnya.

Jackie menyebutkan, Al-Jazeera bukanlah kantor berita biasa. Tapi, Al-Jazeera merupakan saluran berita dengan pemirsa yang luas dari kalangan Arab  sejak awal berdirinya 20 tahun silam. Jumlah pemirsa Al-Jazeera kian bertambah sering berjalannya waktu.

Selain itu, Al-Jazeera juga punya pengaruh yang cukup kuat, tambah Jackie. Boleh dikatakan bahwa saat ini tidak ada stasiun televisi yang bisa mengimbangi tingkat dan pengaruh Al-Jazeera.

Bahkan, menurut Jackie, pengaruh yang diberikan Al-Jazeera jauh lebih besar daripada pengaruh para pemimpin Arab. Sehingga tidak ada kekuatan yang dapat mengimbanginya dalam membentuk opini publik dunia Arab.

Al-Jazeera bukanlah sebuah saluran televisi yang kecil, tegas Jakcie. Melainkan telah menjelma menjadi lengan media yang kuat bagi negara Qatar. Hal ini menjadikan Al-Jazeera dapat memainkan peran yang cukup baik.

Penutupan kantor Al-Jazeera oleh Otoritas Israel, menurut Jackie, tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap editorialnya dalam pemberitaan politik. Tidak menutup kemungkinan keputusan tersebut malah menjadi blunder, sehingga mengakibatkan pemirsa Al-Jazeera makin bertambah.

Jackie menutup artikelnya dengan menuturkan bahwa cara Otoritas Israel memperlakukan Al-Jazeera layaknya anak-anak yang bermain di lapangan. Saat mengalami kegagalan, maka ia akan melemparkan pasir ke orang lain agar tidak melihatnya. (whc/)

Sumber: Aljazeera.net, dakwatuna

Temukan Mobil Berbahan Bakar Air, Lelaki Ini Patahkan Klaim Jenggot Panjang Bikin Goblok

Temukan Mobil Berbahan Bakar Air, Lelaki Ini Patahkan Klaim Jenggot Panjang Bikin Goblok


10Berita – Mobil berbahan bakar air hasil karya Hamidun Nasution, warga Desa Gunung Tua Julu, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, sudah diuji dari rumahnya hingga Tasikmalaya, Jawa Barat.

Seperti diberitakan okezone.com, selama di perjalanan tidak ada kendala berarti yang dihadapi pria berusia 50 tahun itu. Karena itu, ia yakin mobil yang sudah dikonversi dari bahan bakar konvensional ke air itu sudah layak digunakan. Hamidun pun sudah menggunakannya sejak tiga tahun terakhir.

“Mobil yang sudah saya rakit ini sudah terbukti tidak ada kendala. Sebab saya mengendarai mobil ini dari Madina ke Aceh terus ke Jawa,” ujar Hamidun kepada Okezone, belum lama ini.

Diakuinya, biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat converter cukup besar untuk ukurannya. Converter itu dapat mengubah air menjadi gas hidrogen yang dialirkan ke karburator. Biaya pembuatan converter yang dikeluarkan Hamidun mencapai Rp10 juta.

 “Memang pada pembuatan alat pengubah air menjadi bahan bakar mobil ini yang menempel di bagian mesin membutuhkan Rp10 juta,” paparnya.
Di samping itu, proses pembuatannya cukup kompleks. Untuk membuat satu mobil hingga benar-benar bisa berjalan menggunakan bahan bakar air ia membutuhkan waktu hingga dua pekan.

Lebih lanjut Hamidun mengungkapkan, jika ada perusahaan yang mau membeli dan mengembangkan hasil penemuannya lebih besar lagi dia akan senang hati membuka diri.

“Harapan saya ke depannya ada perusahaan yang mau mengembangkan itu,” ungkap pria yang pernah bekerja di sebuah perusahaan automotif itu.

Diikutkan Dalam Tekhnolgi Tepat Guna (TTG) Tingkat Provinsi

Seperti diketahui Hamidun Nasution (50), warga Desa Gunung Tua Julu, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing

Natal (Madina), Sumatera Utara, memodifikasi sektor jantung pacu mobilnya.

Hasilnya tak tanggung-tanggung, mobil Toyota Kijang-nya kini bisa berjalan dengan menggunakan bahan bakar air. “Sebenarnya mengetahui penemuan air sebagai pengganti bahan bakar mobil itu sejak tahun 1994,” Kata Hamidun, kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Menurut Hamidun, ia hanya perlu membuat converter yang mengubah air menjadi gas hirdogen. Gas hidrogen itu kemudian dihubungkan ke karburator untuk membuat mobil berjalan. “Saya merakit alat converter yang mampu membuat air menjadi gas (hirdogen), sehingga dapat difungsikan mesin menjadi bahan bakar,” ungkapnya.

Temuan Hamidun ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Madina. Hasil temuannya itu pun diikutkan dalam pameran Tekhnolgi Tepat Guna (TTG) ke-17 tingkat provinsi yang digelar di Taman Raja Batu Panyabungan, belum lama ini. Hamidun juga sudah pernah meraih juara kedua dalam lomba penemuan-penemuan canggih di tingkat provinsi Sumatera Utara pada tahun lalu. Di antaranya ia mengonversi sepeda motor dari bahan bakar bensin ke gas. “Saya pernah meraih juara dua pada perlombaan perakitan automotif di tingkat provinsi,” ujarnya.

Jenggot makin panjang makin goblok

Melihat penampakan Hamidun Nasution yang bersorban dan berjenggot panjang tentu semua orang tak menyangka beliau adalah penemu Mobil berbahan bakar air. Apalagi usai Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj menyatakan bahwa makin panjang jenggot, makin mengurangi kecerdasan.

Tentunya statement Said Aqil terkait “makin panjang jenggot makin goblok” ini juga memicu kontroversi di tubuh NU sendiri.

Seperti diketahui, NU adalah ormas yang lahir dari rahim pesantren, tempat dimana orang mengedepankan adab dan keilmiahan.

“Menyerang kelompok lain dengan cara mengolok jenggotnya adalah cara yang memalukan nama baik NU. Itu cara yang bodoh. Tidak mencerminkan akhlak dan intelektual.” ujar aktivis muda NU Ustadz Ahmad Kholili Hasib.

Dan sekali lagi terbukti dengan penemuan mobil berbahan bakar air oleh pria berjenggot, mematahkan statement Said Aqil terkait jenggot di atas. (kl/gr/okz)

Sumber: Eramuslim

Ajaib! Jelas Tak Berizin, Istana Malah Ancam Pihak yang Mempermasalahkan Patung China di Tuban

Ajaib! Jelas Tak Berizin, Istana Malah Ancam Pihak yang Mempermasalahkan Patung China di Tuban

10Berita -  Setelah dalam satu pekan terakhir publik dihebohkan dengan pendirian patung Dewa Perang China Kongco Kwan Sing Tee Koen, pihak istana akhirnya ikut berkomentar terkait patung kontroversi di Tubat tersebut.

Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki menilai pihak yang mempermasalahkan patung sebagai tindakan intoleransi.

"Banyak hal-hal yang dulu tidak jadi masalah, kita rukun-rukun saja, duduk bersama dalam perbedaan, dalam kehidupan sehari-hari berbeda dalam politik dan kehidupan bernegara, kok ini sekarang menjadi masalah," ujar Teten di Jakarta, Rabu (9/8), seperti dilansir Kompas.

Teten mencontohkan penolakan kelompok masyarakat atas berdirinya patung raksasa dewa di Tuban.
Puluhan orang dari berbagai elemen menggelar aksi protes di depan gedung DPRD Jatim. Mereka mendesak agar patung tersebut segera dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.

Teten menegaskan negara tidak boleh tinggal diam merespon fenomena ini. Negara harus menempatkan seluruh warganya pada kedudukan yang sama. Jika ada persoalan, hukumlah yang ditegakkan. Bukan dengan cara main hakim sendiri.
.
"Jadi setiap ada tindakan intoleransi atau tindakan semena-mena, misalnya menghancurkan patung, benda seni dan sebagainya, harus dilakukan tindakan hukum. Apalagi jika mereka protes mau ini mau itu, minta patung itu dirobohkan misalnya. Aparat tidak boleh tunduk pada tekanan," ujar Teten.

Link: http://nasional.kompas.com/read/2017/08/10/08574211/polemik-patung-raksasa-di-tuban-istana-minta-aparat-tak-tunduk-pada-tekanan

Agaknya Teten lupa bahwa toleransi bukan berarti selalu menuntut pihak mayoritas untuk dapat menerima kelompok minoritas. Tapi kelompok minoritas juga harus menghormati kelompok mayoritas sehingga terjadilah saling sinergi antara kedua pihak.

Entah pejabat ini memang tidak tahu atau lupa bahwa patung itu dibangun tanpa adanya izin dari Pemda setempat.

Patung Raksasa di Kelenteng Tuban Ternyata Belum Kantongi Izin
Link: https://news.detik.com/berita/3582398/patung-raksasa-di-kelenteng-tuban-ternyata-belum-kantongi-izin

Bukankah sesuatu yang dibangun ilegal harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku? Seperti rakyat kecil yang tidak memiliki sertifikat tanah yang harus kehilangan tempat tinggal mereka karena digusur.

Kalau sama rakyat kecil kok tegas dan main gusur?

Kenapa yang ini malah main ancam pada pihak yang mempermasalahkan patung ilegal? [pii]

Sumber: www.beritaislamterbaru.org

Wartawan Senior: Memusuhi Khilafah adalah Penyesalan Terbesar Jokowi

Wartawan Senior: Memusuhi Khilafah adalah Penyesalan Terbesar Jokowi

Memusuhi Khilafah adalah Penyesalan Terbesar Jokowi

Ada misinformasi yang sangat keliru tentang khilafah, dan ini akan menjadi penyesalam terbesar Jokowi. Menyesal karena dia memusuhi sistem yang direkomendasikan sendiri oleh Pencipta Alam ini.

Kalau penyesalan itu di dunia, mungkin masih ada peluang untuk membalikkannya. Tetapi, penyesalan itu akan terjadi ketika Jokowi berdiri di depan Allah SWT dan harus menjelaskan mengapa dia memusuhi khilafah.

Bisa dimengerti mengapa Jokowi memusuhi khilafah. Sebagaimana bisa dipahami mengapaVictor Laiskodat menjadikan khilafah sebagai momok. Jokowi dan Laiskodat adalah dua contoh tentang penginformasian yang keliru mengenai khilafah. Mereka berdua ini, seperti halnya banyak orang lain (baik Islam maupun bukan), sama-sama tidak memiliki pemahaman yang utuh tentang sistem khilafah. Mereka semua, barangkali kita juga, hanya disuguhi informasi yang 100% menjelaskan aspek-aspek yang menakutkan tentang khilafah.

Ibarat obat yang pahit rasanya, sebagian besar orang dan media terus-menerus membiacarakan rasa pahit obat itu saja. Tidakpernah menceritakan tentang khasiatnya. Apalagi sistem ini belum pernah diberi kesempatan untuk dilaksanakan di Indonesia. Akibatnya, khilafah dibungkus sebagai obat yang getir dan tidak bagus.

Tidak hanya dikampanyekan sebagai obat pahit, melainkan khilafah disebut sebagai benda yang berbahaya. Sangat disayangkan. Padahal, khilafah adalah pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang yang paling belakangan menikmati kesejehateraan setelah semua rakyat meperolehnya.

Khilafah wajib (disyariatkan) melindungi semua penganut agama selain Islam.

Selama kemelut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), banyak musuh khilafah yang mengatakan bahwa Hizbut Tahrir (HT), sebagai penganjur khilafah, dilarang di mana-mana. Bahkan di negeri kelahirannya sendiri.Nosi (notion) ini memang benar. Tetapi, pernahkah kita bahas lebih jauh mengapa HT dibubarkan di Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan negara-negara Timur Tengah lainnya? Juga di Uzbekistan, Tajiskistan, dll?

Kalau kita lihat selangkah dua langkah ke dalam, akan didapat jawaban yang logis. Jawaban itu ialah bahwa di semua negara yang disebutkan tadi, sistem pemerintah yang mereka terapkan adalah sistem yang korup. Sistem yang melanggengkang otoritarianisme. Dan juga sistem pemerintahan turun-temurun, yang mengekang hak-hak sipil.

Di Uzbekistan, mendiang Islam Karimov malah belasan tahun berkuasa sebagai diktator. Para penguasa di negara-negara itu merasa terancam dengan kehadiran HT.

Pastilah Husni Mubarak menumpas HT, yang kini dilanjutkan oleh El-Sisi. Begitu juga Raja Saudi, Raja Yordania, para emir di UEA, presidenIrak, presiden Suriah, dll. Mereka semua merasa terancam oleh pemerintah khilafah, yaitu pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak rakus pada kekuasaan, yang tidak mencari-cari kekuasaan. Yang tidak rakus pada kekayaan-kebendaan.

Para penguasa ini pasti memusuhi khilafah. Sebab, mereka semua tidak memenuhi kualifikasi untuk duduk sebagai pemimpin manusia, bukan hanya sebagai pemimpin umat Islam.Jadi, pemberangusan dengan cara brutal adalah satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh. Mereka tidak mau ada keadilan, tidak ingin korupsi dihapus, tidak mau kejahatan lenyap.

Mereka tidak mau kekuasaan yang terbatas, apalagi diambil. Sangat logis kalau mereka memusuhi Khilafah.

Asyari Usman

(Wartawan senior, bukan anggota HTI)_

Sumber: fb Asyari Usman, PI


Ketua MUI: Ayo Kita ganti Alfamart dan Indomaret dengan Umatmart

Ketua MUI: Ayo Kita ganti Alfamart dan Indomaret dengan Umatmart

10Berita – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’aruf Amin, mengkritik kehadiran bisnis ritel waralaba seperti Indomaret dan Alfamart yang menjamur di setiap sudut wilayah di Indonesia, dan berdampak buruk bagi umat.

Kritik ini disampaikan KH Ma’aruf Amin saat menghadiri Grand Launching Hari Santri 2017 di Kantor PBNU pada hari Kamis (10/08) kemarin. Dalam kesempatan tersebut, Rais ‘Am PBNU ini menyebut kehadiran waralaba Indomaret dan Alfamart berdampak pada semakin melemahnya ekonomi umat di Indonesia.

“Ekonomi umat sudah melemah. Warung-warung pada roboh karena adanya Alfamart, Indomaret,” ujar KH Ma’aruf Amin di Kantor PBNU, dan berharap jumlah kedua waralab tersebut dapat ditekan dengan bisnis serupa yang diberdayakan umat sendiri, seperti Umatmart, Hamdalahmart, dan Basmalahmart yang sudah berjalan di lingkup pesantren.

“Karena itu ke depan ini harus diganti itu. Yang sudah ada biar saja. Tapi nanti yang banyak jangan Alfamart atau Indomaret. Tapi Umatmart, Basmalahmart, dan Hamdalahmart,” jelasnya.

“Ini yang harus kita bangun. Ada penguatan dan pemberdayaan karena sekarang ini kita mengalami era yang baru,”lanjut Ma’aruf.

KH Ma’aruf Amin menambahkan, pengembangan ekonomi umat harus berasal dari pesantren, seperti sejumlah program pemberdayaan yang telah terealisasikan sejauh ini. “Dan pusat pembangunan itu harus ada di pesantren. Kita mulai karena itu pesantren harus jadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Saat ini ada program pemberdayaan. Ada juga pabrik roti mini, ada Hamdalahmart, Umatmart dan Basmalahmart,” tandasnya. (PSM/Ram)

Sumber: Eramuslim

Bung Hatta Naik Haji, Kembang 'Alfatihah': Teladan yang Hilang!

Bung Hatta Naik Haji, Kembang 'Alfatihah': Teladan yang Hilang!


Tak banyak diketahui orang, hari ini 12 Agustus atau lima hari sebelum peringatan hari ulang tahun kemerdekaan, merupakan hari ulang tahun salah satu bapak bangsa sekaligus proklamator, serta wakil presiden pertama Indonesa, Moh Hatta (Bung Hatta). Kalau beliau masih hidup kali ini adalah hari ulang tahunnya yang ke -115 (Bung Hatta lahir 12 Agustus 1902, wafat 14 Maret 1980).

Bila melintas kompleks makam beliau yang ada di bilangan Tanah Kusir, Jakarta, memang tetap seperti hari-hari biasa yang selalu tenang dan khidmad. Ingar-bingar jalan Tanah Kusir yang sepanjang waktu selalu ramai dan di siang hari hingga malam selalu macet, tak berpengaruh pada situasi area makam yang berada di tengah kompleks kuburan rakyat biasa itu.

"Bung Hatta berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Bila meninggal, beliau ingin dimakamkam di kuburan biasa. Alasannya agar selalu dekat dengan rakyat," begitu kalimat penyiar TVRI ketika menyiarkan secara langsung upacara pemakaman sang Proklamator. Kala itu, media massa baik radio maupun cetak pun ikut memberitakan wasiat Bung Hatta ini.

Dan kenangan ini melekat kuat, karena pada saat itu banyak orang tua dan dewasa yang menangis ketika menonton siaran televisi tersebut. Di layar televisi hitam putih yang pasokan daya listriknya masih memakai aki bekas truk, terlihat tayangan kerumunan masa yang berjajar di tepi jalanan, mengular dari pusat ibu kota hingga ke arah jalan pemakaman umum Tanah Kusir yang saat itu tempatnya bisa dikatakan berada di pinggiran Jakarta. Selama sepekan, pemerintah Indonesia menyatakan masa berduka dan bendera dikibarkan setengah tiang.

Nah, keharuan yang sama pun segera menyergap saat kemarin sore mendatangi permakaman itu. Dibandingkan dengan suasana pemakaman pasangan proklamatornya Bung Karno di Blitar, tak ada keriuhan yang terdengar di area makam cucu ulama besar Nagari Minangkabau, yakni Syekh Abdurrahman atau Syekh Batu Hampar, itu . Tak ada kerumunan peziarah, atau pasar suvenir yang ramai menjual aneka pernak-pernik barang kerajinan tangan yang mengesankan mengultuskannya.

Selain itu, tak ada penjagaan yang ketat. Situasi ini jangan dibandingkan dengan kompleks mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, atau makam filsuf sekaligus Bapak Bangsa Pakistan M Iqbal di Lahore. Di dua makam orang penting tersebut, penjagaan luar biasa ketat.

Di makam Iqbal yang lokasinya berada di dalam benteng kuno dan di samping Masjid Badhsahi peninggalan Kesultanan Mughal India, area makamnya dijaga selama 24 jam oleh tentara bersenjata dan berseragam lengkap. Yang akan masuk ke makam harus berbaris dan satu per satu berdoa di pinggir makam. Di atas pusara Iqbal selalu diletakkan seikat kembang. Dan di batu nisan tertulis: Makam pemikir besar maulana M Iqbal.

Namun, hal itu tak ditemui pada makam Bung Hatta yang bersisian dengan makam sang istri tercinta, Ibu Rachmi Hatta. Penjagaan terasa longgar dan pada siang hari kompleks makam selalu terbuka untuk dikunjungi.

Sedangkan, di atas nisan hanya tertulis kalimat pendek namanya, lengkap dengan gelar haji dan kesarjanaannya. Dan di bawah tulisan itu tertulis kata "proklamator dan wakil presiden Indonesia". Di jendela kaca yang ada di bagian belakang makam hanya tergores tulisan kaligrafi bergaya kufi.

Uniknya, meski tak ada kesan kemewahan dan mengagungkan diri, setiap kali berziarah selalu ada seikat kembang yang ditaruh di atas nisan. Taburan bunga berwarna merah dan putih juga ikut terlihat di sana. Dan bila melihat kondisi kelopak bunganya yang masih segar, maka dipastikan bunga itu belum terlalu lama ditaburkan.

Tampaknya, pemilihan lokasi makam di "tempat biasa" atau bukan taman makam pahlawan memang tepat. Bung Hatta paham kalau makamnya berada di tempat khusus maka rakyat biasa akan susah menziarahinya.

Kesederhanaan itulah yang membuat batin rakyat biasa terasa mantap dan khidmat ketika memanjatkan doa, membacakan surah al-Fatihah, atau sekadar menabur bunga di atas pusaranya.

Sumber: Republika


Awas Penyesatan Sejarah! Republik Lanfang, Republik Pertama di Kalbar?

Awas Penyesatan Sejarah! Republik Lanfang, Republik Pertama di Kalbar?



10Berita – Diam-diam, ada upaya menyesatkan dari para tukang sejarah, istilah untuk orang-orang yang menulis sejarah yang sengaja diselewengkan demi kepentingan dan tujuannya sendiri, yang menyatakan jauh sebelum NKRI berdiri telah ada sebuah negara berbentuk republik di Kalimantan Barat, bernama Republik Lanfang dimana presidennya bernama Low Fang Pak. Ini sama sekali tidak benar. Penyebutan istilah “Republik” juga tidak tepat. Artikel yang ditulis oleh salah satu situs konspirasi terbesar dunia yang berasal dari indonesia di bawah ini cukup lengkap membantah anggapan di atas. Inilah tulisannya:

Ternyata Kalimantan Barat menyimpan sejarah yang unik. Tak banyak yang tahu bahwa jauh sebelum Republik Indonesia lahir pada tahun 1945, sejak tahun 1777 hingga 1884 ada sebuah negara bernama “Republik” Lan Fang / Kongsie Langfong. 

“Republik Lan Fang” (Kongsie Lanfang) adalah nama sebuah negara Hakka (salah satu kelompok Tionghoa Han yang terbesar di Republik Rakyat Tiongkok) yang sudah berbentuk Republk, dimana di wilayah Asia Tenggara pada masa itu masih berupa kerajaan-kerajaan.

Lan Fang didirikan oleh Low Fang Pak atau kadang disebut Luo Fangbo, dan sudah berdiri di Kalimantan Barat tepatnya di Kota Mandor, Kabupaten Landak tidak jauh dari Pontianak (kini ibukota proinsi Kalimantan Barat), sampai akhirnya dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1884, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Barawal Dari Tambang Emas di Wilayah Kalimantan Barat

Kedatangan orang-orang China dari daratan China kewilayah ini adalah atas permintaan sultan-sultan Melayu saat itu yang mendatangkan para pekerja tambang emas dari daratan China.

Mereka di datangkan untuk melakukan pekerjaan pertambangan yang memang memerlukan keahlian, dan kesulitan pekerjaan tambang saat itu hanya dapat dilakukan dengan ketekunan dari orang-orang China. Permintaan pekerja tambang dari China daratan saat itu merupakan satu trend yang berkembang di kerajaan-kerajaan Melayu.

Bendera Lan Fang

Awalnya dimulai oleh kerajaan Melayu yang ada di Semenanjung Melayu (kini Malaysia). Kemudian meluas ke kerajaan Melayu di pesisir utara dan timur pulau Sumatra, lalu Kerajaan Melayu di Utara Kalimantan yaitu Brunei (pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin I) baru kemudian disusul oleh Kerajaan-Kerajaan Melayu yang berada di pesisir wilayah Pulau Kalimantan bagian barat.

Kerajaan Melayu di pesisir barat Pulau Kalimantan adalah pertama mendatangkan pekerja tambang dari daratan China. Ia adalah Panembahan Mempawah yang waktu itu rajanya adalah Opu Daeng Manambung, sekitar tahun 1740.

Kebijakan Panembahan Mempawah ini, kemungkinan atas saran dari adik Opu Daeng Manambung, yaitu Opu Daeng Celak yang kala itu sedang menjabat sebagai Raja Muda di Kesultanan Riau yang telah lebih dahulu mendatangkan pekerja dari China daratan untuk tambang timah di Kesultanan Riau dan berhasil dengan baik.

Sedangkan si Kalimantan barat, saat itu Panembahan Mempawah untuk pertama kali hanya mendatangkan orang-orang China untuk pekerja tambang (emas) hanya berjumlah 20 orang (kemungkinan para pakar mencari emas) yang sebelumnya telah bekerja di Kesultanan Brunei.

Pekerja Cina Mulai Masuk dan Menambang Di Wilayah Kesultanan Sambas

Tak lama setelah periode kedatangan orng-orang China itu, maka didirikanlah pertambangan emas yang dikerjakan oleh orang-orang Cina tersebut, yaitu di daerah Mandor yang saat itu merupakan wilayah Panembahan Mempawah.

Setelah beberapa tahun berjalan mengerjakan tambang emas di Mandor ini, para pakar pencari emas dari Cina ini kemudian mengindikasikan adanya suatu tempat tak begitu jauh dari Mandor yang disinyalir lebih banyak mengandung emasnya.

Namun wilayah itu adalah wilayah kekuasaan dari Kesultanan Sambas yaitu daerah yang bernama Montraduk. Maka kemudian utusan pekerja tambang emas Cina ini menghadap Sultan Sambas mengenai potensi emas di Montraduk ini.

Lambang Lan Fang

Mendengar hal demikian Sultan Sambas kemudian mengijinkan untuk membuka tambang emas di Montraduk oleh orang-orang Cina dengan syarat bagi hasil yaitu sebagian hasil emas adalah untuk pekerja tambang dari Cina ini, dan sebagian hasil yang lain adalah untuk Sultan Sambas sebagai pemilik Negeri.

Maka kemudian dibukalah tambang emas di Montraduk pada sekitar tahun 1750, yaitu tambang emas kedua setelah di Mandor. Sungguh diluar dugaan bahwa potensi emas di wilayah Kesultanan Sambas ini sangat melimpah ruah.

Setelah Montraduk, berturut-turut dibuka lagi tambang emas di Seminis, Lara, Lumar yang semuanya di wilayah Kesultanan Sambas dan memberikan hasil emas yang sangat memuaskan. Sebagai dampaknya, gelombang kedatangan orang-orang China semakin melimpah ke wilayah Kalimantan Barat, khususnya ke wilayah Kesultanan Sambas. Mereka berdatangan berdasarkan pertalian keluarga, sekampung halaman atau sesama kumpulan.

Pada sekitar tahun 1770 Masehi telah ada sekitar lebih dari 20.000 orang-orang Cina pekerja tambang emas di wilayah Kalimantan Barat ini yang sekitar 70 % dari jumlah pekerja tambang emas berada di wilayah Kesultanan Sambas yang berpusat di Montraduk.

Sultan-sultan di Kalimantan Barat yang mendatangkan buruh yang berasal dari China pada abad ke-18 untuk bekerja dalam pertambangan emas atau timah itu, terdapat sejumlah “komunitas pertambangan” (kongsi) yang menikmati beberapa otonomi politik dan Lanfang dikenal oleh sejarah berdasarkan tulisan oleh Yap-Yoen Siong, menantu Kapitan terakhir kongsi Lanfang, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada tahun 1885.

Sejarah Kedatangan Low Fang Pak, Pendiri Lan Fang

Lo Fang Pak

Low Fang Pak mulai bertualang pada usia 34 tahun. Dia merantau ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush), dengan menyusuri wilayah Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam kemudian berlabuh di pulau Kalimantan bagian barat (wilayah Kesultanan Sambas) pada usia sekitar 41 tahun, yaitu pada sekitar tahun 1774 – 1775 ke daerah Kongsi yang ada di wilayah Kesultanan Sambas.

Pada Tahun 1776, terdapat empat belas buah Kongsi yang ada di wilayah Kalimantan Barat ini yaitu 12 Kongsi di wilayah Kesultanan Sambas yang berpusat di Montraduk dan 2 buah Kongsi di wilayah Panembahan Mempawah yang berpusat di Mandor

Mereka menyatukan diri dalam wadah lembaga yang bernama Hee Soon yaitu untuk memperkuat persatuan di antara mereka dari ancaman pertempuran antara sesama Kongsi seperti yang telah terjadi antara Kongsi Thai Kong dan Lan Fong pada tahun 1774 yang lalu. Salah satu dari 14 Kongsi itu adalah Kongsi Lanfong yang dihidupkan lagi oleh Lo Fong Pak dengan Lo Fong Pak sendiri yang menjadi ketuanya.

Setahun kemudian yaitu pada tahun 1777, Lo Fong Pak memindahkan lokasi Kongsi Lan Fong ke lokasi lain dimana lokasi Kongsi Lan Fong yang baru ini tidak lagi di wilayah Kesultanan Sambas tetapi adalah di wilayah Panembahan Mempawah yaitu Mandor (Tung Ban Lut).

Walaupun telah mempunyai Kelompok Induk yaitu Hee Soon, Kongsi-Kongsi ini tetap menyatakan tunduk dibawah Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah dimana 12 Kongsi tunduk dibawah naungan Sultan Sambas dan 2 Kongsi tunduk dibawah naungan Panembahan Mempawah.

Namun Kongsi-Kongsi diberi kewenangan untuk mengangkat pemimpin Kongsi dan mengatur pertambangan serta wilayah sekitarnya sesuai dengan lokasi tambangnya (semacam daerah otonomi distrik).

Di Mandor, Lo Fong Pak, Ketua Kongsi Lan Fong kemudian menyatukan orang-orang Hakka yang ada di wilayah Mandor dalam organisasi yang bernama San Shin Cing Fu(karena di wilayah Mandor saat itu juga terdapat orang-orang Cina selain Suku Hakka / Khek yaitu orang Thio Ciu, berbeda dengan Kongsi-kongsi Cina yang ada di wilayah Kesultanan Sambas yang seluruhnya adalah dari Suku Hakka / Khek).

Pada tahun 1778 , terjadi peninggkatan derajat kekuasaan di daerah Muara Sungai Landak dimana Syarif Abdurrahman Al Qadri yang tadinya Ketua dari Kampung Pontianak (terbentuk pada tahun 1771) yang terletak di Muara Sungai Landak kemudian pada tahun itu mengangkat dirinya menjadi Sultan pertama dari Kesultanan Pontianak.

Berdirinya Kesultanan Pontianak di Muara Sungai Landak ini kemudian menimbulkan protes keras dari Raja Kerajaan Landak karena secara historis wilayah muara Sungai Landak adalah merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Landak.

Namun VOC Belanda karena kepentingan ekonomi terhadap daerah muara Sungai Landak ini kemudian berdiri di belakang Kesultanan Pontianak sehingga membuat Raja Landak mengendurkan protes kerasnya.

Lukisan Lo Fang Pak di Kelenteng Sungai Purun Besar.

Berkuasanya Sultan Syarif Abdurrahman di muara Sungai Landak sedikit banyak membuat Kongsi Lan Fong bergantung pada aktivitas di muara sungai itu.

Inilah salah satu yang kemudian membuat Lo Fong Pak lebih dekat kepada Sultan Pontianak dibandingkan kepada Panembahan Mempawah, padahal Kongsi Lan Fong saat itu masih dibawah naungan dari Panembahan Mempawah.

Pada tahun 1789, Sultan Pontianak dengan dukungan Belanda melakukan serangan terhadap Panembahan Mempawah dengan tujuan merebut wilayah Panembahan Mempawah.

Untuk mendukung serangan ini, Sultan Pontianak saat itu juga mengajak Lo Fong Pak (Kongsi Lan Fong) untuk ikut serta dalan serangan kepada Panembahan Mempawah ini dan Kongsi Lan Fong kemudian juga mengirimkan pasukannya membantu pasukan Sultan Pontianak.

Menghadapi serangan ini, Panembahan Mempawah kalah yang kemudian Raja Panembahan Mempawah mengundurkan dirinya ke daerah Karangan dan kemudian menetap disana.

Sejak saat itu hubungan Lo Fong Pak (Kongsi Lan Fong) dengan Sultan Pontianak menjadi semakin kuat dan dekat, sehingga kemudian Lo Fong Pak diberikan kewenangan yang lebih luas lagi (semacam daerah otonomi khusus) namun tetap berada dibawah naungan Kesultanan Pontianak. Peristiwa ini terjadi ketika usia Lo Fong Pak mencapai usia 57 tahun yaitu pada sekitar tahun 1793.

Salah Arti Kata “Republik” Lan Fang

Cara Pemilihan Ketua Kongsi Lan Fan saat itu menurut pemahaman zaman sekarang ini adalah sangat demokratis yaitu Ketua Kongsi dipilih melalui pemilihan umum oleh seluruh warga Kongsi.

Karena cara pemilihan ini sehingga oleh sebagian orang yang menterjemahkan tulisan Yap Siong Yoen (anak tiri dari Kapitan Kongsi Lan Fang yang terakhir) dan tulisan J.J. Groot (sejarawan Belanda) mengenai Kongsi Lan Fang, di interpretasikan terlalu jauh sehingga Kongsi Lan Fang diartikan adalah “Republik Lan Fang” padahal di dalam kedua-dua tulisan itu tidak ada kata Republik.

Disamping itu kata “Republik” adalah untuk sebutan bagi suatu negara / wilayah yang merdeka, sedangkan Kongsi Lan Fang walau mendapat status otonomi khusus namun tetap berada dibawah naungan Kesultanan Pontianak, sehingga bukan merupakan suatu negara merdeka.

Oleh karena itu apa yang disebut sebagai “Republik Lan Fang” itu tidak pernah ada, yang ada adalah Kongsi Lan Fang yang mendapat status otonomi khusus dari Sultan Pontianak.

Lo Fang Pak kemudian terpilih kembali melalui sistem pemilihan umum untuk menjabat sebagai Ketua Daerah Otonomi Kongsi Lan Fong, dan diberi gelar dalam bahasa Mandarin “Ta Tang Chung Chang” atau Kepala Daerah Otonomi. Peraturan Kongsi Lan Fong menyebutkan bahwa posisi Ketua dan Wakil Ketua Kongsi Lan Fong harus dijabat oleh orang yang berbahasa Hakka.

Pusatnya tetap di Mandor dan Ta Tang Chung Chang (Ketua Kongsi) dipilih melalui pemilihan umum. Menurut aturannya, baik Ketua maupun Wakil Ketua Kongsi harus merupakan orang Hakka yang berasal dari daerah Ka Yin Chiu atau Thai Pu.

Tugu peringatan Lo Fang Pak di kecamatan Mandor, Pontianak, Kalimantan Barat. Tugu ini pada jaman dahulu merupakan tempat pusat pemerintahan dari Lo Fang Pak, republik pertama di bagian negara Indonesia. (FOTO : HENDRA EKA/JAWA POS)

Benderanya berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan dalam bahasa Mandarin “Lan Fang Ta Tong Chi”. Bendera Lo Fong Pak (Ketua Kongsi Lan Fong) berwarna kuning berbentuk segitiga dengan tulisan “Chuao” (Jenderal).

Para pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya Tionghoa, sementara pejabat yang lebih rendah memakai pakaian gaya barat. Kongsi Lan Fong tersebut mencapai keberhasilan besar dalam ekonomi dan stabilitas keamanan selama 19 tahun kepemimpinan Lo Fang Pak.

Dalam tarikh negara samudera dari Dinasti Qing tercatat adanya sebuah tempat dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien) bekerja sebagai penambang, membangun jalan, mendirikan negaranya sendiri, yang setiap tahun kapalnya mendarat di daerah Zhou dan Chao Zhou (Teochiu) untuk berdagang.

Sementara dalam catatan sejarah Kongsi Lan Fong sendiri terungkap bahwa setiap tahun mereka membayar upeti kepada Dinasti Qing seperti Annan ( di Vietnam).

Tjong Yu Fei, penjaga klenteng Lo Fang Pak, di Sungai Purun Besar, Kecamatan Sungai Pinyuh, Pontianak tampak membersihkan sisa-sia hio yang terbakar. Klenteng ini merupakan sisa peninggalan dari era kejayaan Lo Fang Pak, pemimpin Republik Lan Fang di Kalimantan Barat. Foto : Hendra Eka/Jawa Pos

Daftar Ketua Kongsi yang pernah memimpin Daerah Otonomi Kongsi Lanfang (1777 – 1793) dan Daerah Otonomi Khusus Kongsi Lanfang dari tahun 1793 – 1884:

Nama Ketua KongsiPeriodeKeteranganLo Fangpak1777-1795Pendiri Kongsi Lanfang di Mandor pada tahun 1777Kong Meupak1795-1799Perang dengan Panembahan MempawahJak Sipak1799-1803Konflik dengan orang Dayak dari LandakKong Meupak1803-1811Sung Chiappak1811-1823Ekspansi tambang di LandakLiu Thoinyi1823-1837Sudah di bawah pengaruh kolonial BelandaKu Liukpak1837-1842Konflik dengan Panembahan Landak dan kemerosotan kongsiChia Kuifong1842-1843Yap Thinfui1843-1845Liu Konsin1845-1848Pertempuran dengan orang Dayak dari LandakLiu Asin1848-1876Ekspansi tambang ke kawasan LandakLiu Liongkon1876-1880Liu Asin1880-1884Kejatuhan Lanfang Kongsi pada tahun 1884

(sumber: dreamindonesia.me dan sumber-sumber lainnya)

Pustaka:

Sumber asli: www.indocropcircles.wordpress.com, Eramuslim