OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 16 Agustus 2017

MARI TENGGELAMKAN! Pasukan Eks Tim Ahok Bakal Berhadapan dengan Muslim Cyber Army di Pilkada JABAR

MARI TENGGELAMKAN! Pasukan Eks Tim Ahok Bakal Berhadapan dengan Muslim Cyber Army di Pilkada JABAR

 

 10Berita~Beberapa hari ini sosial media beredar foto para pasukan cyber eks pendukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta bertemu dengan salah satu kandidat Cagub Jabar yang saat ini Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Seperti diberitakan, PDIP dan Golkar sudah menjalin koalisi di Pilkada Jawa Barat. Dan sekarang para buzzer pun sudah bertemu di Purwakarta.

Sontak kabar dikerahkannya para buzer Ahok di Pilkada Jabar ini membangkitkan semangat Muslim Cyber Army (MCA).

"Ini bukan cuma pemilihan kepala daerah/Gubernur saja, ini pertarungan ideologi. Bersiap siagalah!" seru netizen Azzam Mujahid Izzulhaq.

Tak hanya itu, Tim pemenangan Anies-Sandi di Pilkada DKI lalu juga akan diterjunkan di Pilgub Jawa Barat 2018.

Hal ini disampaikan Wasekjen DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera. Upaya itu dilakukan PKS dan koalisinya sebagai langkah untuk memenangkan ketiga kalinya atauhattrick dalam gelaran Pilgub Jawa Barat.

"Saya dan tim siap ke Jawa Barat," kata Mardani kepadaTeropongSenayan di Jakarta, Selasa (15/8/2017).

Mardani mengaskan Pilgub Jabar 2018 sangat strategis untuk kemenangan Pilpres 2019 mendatang.

"Jabar strategis pemenangan 2019 (karena jumlah penduduk terbanyak)," ucapnya.

BERSIAP SIAGALAH ARMY CYBER MUSLIM.

MARI TENGGELAMKAN LAGI GEROMBOLAN PENISTA AGAMA

SEPERTI KITA TENGGELAMKAN DI PILKADA DKI.

ARE YOU READY MCA???

TAKBIR!!!

Paceklik di Jakarta. Buzzer perusak bangsa mengais rejeki di Purwakarta. pic.twitter.com/U5OC5F4nmb

— SiBonekaKayu (@SiBonekaKayu) 14 Agustus 2017

Sumber: PORTAL ISLAM 

Ini yang Harus Diperhatikan Saat Menyembelih Hewan Kurban

Ini yang Harus Diperhatikan Saat Menyembelih Hewan Kurban

10Berita, JAKARTA -- Perayaan Idul Adha yang diakhiri dengan memotong hewan berkaki empat akan segera tiba. Ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan panitia pemotongan hewan kurban saat penyembelihan dan setelah penyembelihan.

Direktur Halal Center Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Nanung Danar Dono menjelaskan, untuk mengatakan ada tiga area yang mesti diperhatikan setelah hewan kurban disembeli.

"Tiga area yang dapat dicek untuk memastikan apakah hewan kurban sudah mati atau belum adalah dengan mengecek salah satu dari tiga refleksnya, yaitu refleks mata, refleks kuku, dan refleks ekor,"kata Nanung lewat keterangan tertulisnya yang diterima Republika.co.id, Rabu,(16/7).

Nanung menuturkan, untuk mengecek refleks mata yaitu dengan menggunakan ujung jari untuk menyentuh pupil mata. Jika masih bereaksi atau berkedip, artinya sarafnya masih aktif dan hewannya masih hidup. Namun jika sudah tidak bereaksi lagi, maka artinya hewan mati.

Untuk mengecek refleks ekor sebagai salah satu tempat berkumpulnya ujung-ujung saraf yang sangat sensitif. Setelah hewan disembelih dan diam saja, jagal disarankan menekan atau memijat batang ekornya. Jika ia masih bereaksi, itu artinya sarafnya masih aktif dan hewannya masih hidup.

"Jika hewan tidak bereaksi ketika dipencet-pencet batang ekornya, artinya ia sudah mati," jelas Nanung yang juga dosen pada Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fapet UGM.

Selanjutnya ada mengecek refleks kuku sebab hewan sapi, kerbau, unta, kambing, dan domba adalah hewan berkuku genap (ungulata). Di antara kedua kuku kaki hewan-hewan tersebut, terdapat bagian yang sangat sensitif.

"Tusuk pelan bagian itu menggunakan ujung pisau yang runcing. Jika masih bereaksi, artinya hewannya masih hidup. Namun, jika diam saja, artinya ia sudah mati," jelas dia.

Nanung mengatakan, sering ditemui panitia kurban yang tidak sabar menunggu hewan benar-benar mati. Sehingga, saluran yang menghubungkan antara otak dan jantung (spinal cord) diputus agar hewan cepat mati.

Nanung menuturkan secara teori kematian hewan saat disembelih misalnya darah memancar dari leher depan karena jantung memompa darah keluar. Jantung memompa darah karena ada perintah dari otak. Ketika kabel antara otak dan jantung diputus, hubungan otak dan jantung otomatis akan terputus sehingga jantung tidak dapat memompa darah secara maksimal.

"Ketika darah tidak keluar secara maksimal, maka akan menjadi timbunan bakteri yang sangat banyak. Akibatnya, daging akan cepat membusuk," katanya.

Selain memerhatikan tiga refleks tersebut, kata Nanung panitia kurban harus diperhatikan juga bahwa dalam menyembelih hewan ternak harus memotong tiga saluran pada leher bagian depan. Karena proses penyembelihan yang benar harus memotong tiga saluran, yaitu saluran nafas (kerongkongan), saluran makanan (tenggorokan), dan pembuluh darah (arteri karotis dan vena jugularis).

Setelah penyembelihan Nanung juga menjelaskan bahwa perlu juga dipahami penanganan sebelum dan sesudah penyembelihan. Sebelum menyembelih, katanya, pastikan bahwa pisau sudah diasah setajam mungkin. Amati kondisi visual ternak seperti postur, keadaan wajah (khususnya mata), lubang hidung, dan saluran reproduksi.

“Penting juga untuk mengistirahatkan ternak sebelum disembelih. Hewan yang stress karena kelelahan atau ketakutan akan mengakibatkan kualitas daging menjadi turun,” ujar Nanung.

Sumber:Republika

27 tahun ditutup, Saudi-Irak kembali buka perbatasan

27 tahun ditutup, Saudi-Irak kembali buka perbatasan

10Berita~RIYADH  Arab Saudi dan Irak berencana untuk membuka perbatasan Arar sejak penutupannya pada tahun 1990 atau pada masa pemerintahan Saddam Hussein, lansir Al Bawaba (15/8/2017).

Kedua negara tersebut sedang dalam proses memperbaiki hubungan setelah bus pertama yang membawa jemaah haji Irak memasuki kerajaan Saudi melalui perbatasan di Arar, yang ditutup selama 27 tahun ini.

Saudi menutup perbatasan dengan Irak setelah Baghdad melakukan serangan terhadap Kuwait pada awal 1990. Serangan terhadap Kuwait juga membuat Saudi memilih untuk memutus hubungan diplomatik dengan Irak, yang akhirnya kembali dipulihkan pada tahun 2015 lalu.

Kedua negara juga memulai kembali transportasi udara, tetapi belum menetapkan tanggal untuk penerbangan pertama.

Tokoh syiah Irak Muqtada al-Sadr sebelumnya telah melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi untuk bertemu Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama setelah hampir 11 tahun. (fath/)

Sumber: arrahmah.com

Novel: Penjajahan Sekarang Lebih Parah Ketimbang Yang Dulu…

Novel: Penjajahan Sekarang Lebih Parah Ketimbang Yang Dulu…

10Berita – Satu hari lagi, Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan yang ke-72. Berbagai kritik dan harapan disampaikan oleh segenap anak bangsa demi kemajuan bangsa ini.

Tak terkecuali Tokoh Front Pembela Islam (FPI) Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin yang memaknai HUT Kemerdekaan RI ini sebagai pengingat bahwa Indonesia sejatinya belum lepas dari penjajahan.

Novel mengatakan, penjajahan yang ada saat ini merupakan penjajahan gaya baru yang dilakukan oleh, “mereka para cukong-cukong etnis tertentu yang menikmati kemerdekaan ini dan dengan leluasanya mereka mengatur negeri ini,” ujar Novel saat dihubungi Kriminalitas.com, Minggu (13/8/2017).

Menurutnya, penjajahan saat ini justru lebih parah ketimbang penjajahan yang dilakukan sebelum era kemerdekaan Indonesia.

“Dulu mereka para penjajah hanya bisa mengeruk hasil bumi yang ada di atas bumi, sekarang para penjajah keruk seluruh hasil bumi. Bahkan yang ada di dalam perut bumi,” kritik Novel.
Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ini meminta seluruh anak bangsa untuk melawan penjajahan gaya baru tersebut dengan harapan Indonesia mampu menjadi negara mandiri.

“Semangat kemerdekaan sekarang adalah melawan mereka agar kita punya negara yang mandiri untuk anak cucu kita yang tidak tergantung dengan negara mana pun‎,” tandasnya.(kl/gr)


Sumber: Eramuslim

Kwik Kian Gie: Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak November 1967 (1)

Kwik Kian Gie: Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak November 1967 (1)

10Berita -Boleh dikatakan bahwa secara menyeluruh, rakyat dan para pemimpin masyarakat berpendapat dan merasakan, bahwa setelah puluhan tahun merdeka, kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara kita mengalami kemerosotan yang parah.

Maka untuk bahan perenungan apakah demikian kondisinya, kami menyajikan kondisi dari 8 tonggak yang paling fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk ditanyakan kepada diri sendiri, apakah dalam 8 aspek terpenting ini, kita mengalami kemajuan atau kemerosotan?

Delapan tonggak tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kemandirian

Apakah kita dalam bidang kemandirian mengurus diri sendiri, yaitu mandiri dan bebas merumuskan kebijakan-kebijakan terbaik untuk diri sendiri, mengalami kemajuan atau kemunduran? Apakah de facto yang membuat kebijakan dalam segala bidang bangsa kita sendiri atau bangsa lain beserta lembaga-lembaga internasional?

Dari berbagai studi oleh para ahli sejarah, baik dalam maupun luar negeri yang boleh dikatakan obyektif, sejak tahun 1967 kita sudah tidak mandiri. Ketidakmandirian kita sudah mencapai puncak setelah kita dilanda krisis pada tahun 1997.

Jauh sebelum itu, tetapi menjadi sangat jelas setelahnya, dapat kita lihat hubungan yang sangat erat antara kebijakan Pemerintah Indonesia dan apa yang tercantum dalam country strategy report yang disusun oleh Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, serta segala sesuatu yang didiktekan kepada Pemerintah Indonesia dalam bentuk Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP), yang lebih dikenal dengan sebutan Letter of Intent.

Bagaimana dampaknya? Buat mayoritas rakyat Indonesia sangat merusak, bahkan dapat dikatakan sudah membangkrutkan keuangan negara.

2. Peradaban dan Kebudayaan

Terutama dalam bidang tata nilai, mental, moralitas dan akhlak, apakah setelah 63 tahun merdeka dari penjajahan kita lebih maju atau lebih mundur? Benarkah Bung Hatta yang sejak puluhan tahun lalu mengatakan bahwa korupsi mulai menjadi kebudayaan kita?

Benarkah kalau sekarang dikatakan bahwa KKN sudah “mendarah daging” dan merupakan gaya hidup bagian terbanyak elite bangsa kita? Benarkah peringkat yang diberikan oleh lembaga asing bahwa Indonesia digolongkan dalam kelompok negara-negara yang paling korup di dunia?

3. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Apakah setelah lebih dari 60 tahun merdeka, bangsa kita unggul? Dibandingkan dengan zaman penjajahan, kemampuan kita menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakan oleh bangsa-bangsa lain memang boleh dikatakan cukup up to date.

Tetapi, yang dimaksud apakah ilmu pengetahuan itu temuan kita sendiri, dan apakah teknologinya ciptaan bangsa kita sendiri? Ataukah harus membelinya dengan harga sangat mahal dari bangsa-bangsa lain?

4. Persatuan dan Kesatuan

Apakah bangsa kita lebih kokoh atau lebih rapuh? Referensi yang dapat kita gunakan adalah Amandemen UUD 1945. Bentuk dan praktik otonomi daerah, baik dalam bidang pengelolaan administrasi negara maupun dalam bidang keuangannya.

Gerakan Aceh Merdeka berserta cara penanganannya. Aktifnya Gerakan Papua Merdeka di dunia internasional. Konflik antar etnis dan antar agama yang cukup keras, walaupun belum terjadi di seluruh wilayah Republik Indonesia. Hilangnya Sipadan dan Ligitan. Digugatnya Ambalat. Terancamnya Aceh dan Irian Barat lepas dari NKRI. Saya kira sangat mundur dan menjadi sangat rapuh.

5. Pertahanan dan Keamanan (Hankam)

Apakah kondisi kita semakin kuat atau semakin lemah? Referensinya adalah persenjataan dan alat-alat perang yang kita miliki, dikaitkan dengan kemampuan serta prospeknya untuk membangun dan mengembangkan industri pertahanan sendiri.

Referensi non materiilnya, apakah dengan reformasi yang memisahkan fungsi Polri dan TNI dalam bentuknya seperti sekarang ini membuat ketahanan nasional lebih mantap atau lebih rapuh?

6. Interaksi dan kedudukan kita di dunia Internasional

Dalam pergaulan antar bangsa dan kedudukan kita dalam organisasi-organisasi internasional, apakah bangsa kita mempunyai tempat dan kedudukan yang lebih terhormat atau lebih terpuruk?

Pemberitaan dan ulasan di pers internasional menempatkan Indonesia sebagai negara yang dalam banyak aspek sebagai negara bangsa yang terbelakang dan kurang terhormat.

7. Kemakmuran dan Kesejahteraan yang Berkeadilan

Tidak dapat disangkal bahwa pendapatan nasional per kapita meningkat sejak kemerdekaan hingga sekarang. Namun seperti diketahui, pendapatan nasional per kapita tidak mencerminkan pemerataan maupun keadilan dalam menikmatinya.

Angka-angka dari berbagai sumber menggambarkan betapa timpangnya antara kaya dan miskin, antara kota dan desa, antara perusahaan besar dan kecil.

8. Keuangan Negara

Keterbatasan infrastruktur, pendidikan, pelayanan kesehatan, penyediaan public utility oleh pemerintah jelas disebabkan oleh keuangan negara yang sangat terbatas, karena korupsi dan beban utang yang sangat besar.

KEMEROSOTAN, MALAISE ATAU MELT DOWN

Dalam berbagai seminar dan pertemuan-pertemuan diskusi, bahkan dalam perbincangan sehari-hari di mana-mana, pada umumnya orang berpendapat bahwa dalam 8 bidang fundamental tersebut kita mengalami kemerosotan yang parah.

Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, gejala seperti yang sedang dialami oleh bangsa kita juga pernah dialami oleh bangsa-bangsa lain. Karena faktor-faktor yang tidak selalu sama, dalam kurun waktu tertentu yang bisa panjang atau pendek, sebuah bangsa dapat mengalami kemerosotan dalam segala aspek dan segala bidang kehidupan. (kl/Bersambung)

Penulis: Kwik Kian Gie

Sumber: Indocropcircles.wordpress.com, Eramuslim.com

Subhanallah... Yang HIJRAH Masuk FPI Gantengnya Bertambah

Subhanallah... Yang HIJRAH Masuk FPI Gantengnya Bertambah


10Berita~Sebuah foto diunggah akun fanpage FPI. Anak muda bertato yang memilih HIJRAH masuk FPI. Dulu urakan, sekarang bangga membela Islam. Dan bonusnya.. gentengnya bertambah hehe...

Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin Habib Rizieq Syihab didirikan oleh para Habaib, Ulama dan Ustadz pada 17 Agustus 1998 akan genap berusia 19 tahun pada 17 Agustus 2017 besok.

Usia 19 tahun... seperti usia anak muda. Dan memang FPI banyak diisi anak-anak muda. Anak-anak muda yang sebagian besarnya mantan anak-anak muda jalanan yang kemudian dibina dan bertaubat.

Inilah yang membuat kagum Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun pada FPI dan Habib Rizieq.

Dalam salah satu acara Cak Nun mengatakan:

"Jangan sesekali menilai orang dengan cara menghakimi orang. Termasuk menilai anak anak FPI. Mereka adalah anak anak yang tersingkir di kota Jakarta. Kalau yang pandai mereka ke PKS. Yang santri ke PKB atau PPP. Tapi anak anak Islam pinggiran itulah yang kemudian dibina oleh Habib Rizieq."

Begitulah FPI... membina "anak-anak" pinggiran, berandal, jalanan, preman. Mereka dibina untuk mencintai agama ini dan membela agama Islam yang mulia ini.

Sama seperti dulu ada Umar bin Khathab, preman Makkah yang mau membunuh Nabi, namun kemudian taubat masuk Islam, dibina Rasulullah dan akhirnya jadi pejuang Islam yang tangguh.

Selamat Milad ke-19 FPI. Tetaplah gagah berjuang di jalan Allah.

Sumber: Portal Islam

Allahu Akbar! Mantan Pendeta Penista Islam Yang Pernah Dilaporkan FPI Akhirnya Masuk Islam

Allahu Akbar! Mantan Pendeta Penista Islam Yang Pernah Dilaporkan FPI Akhirnya Masuk Islam


10Berita~Prof. Dr. Achmad Welson, Sth. Mth (seorang pendeta, ahli filsafat, guru besar sekolah Teologi dan seorang ahli Islamologi yang pernah menista Islam dan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam) dan istrinya akhirnya masuk Islam.

Hal ini disampaikan Sekjen Mualaf Center Hanny Kristianto melaui laman fbnya.

Bertempat di Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, Selasa (15/8/2017) ba'da Dhuhur, Welson dan istrinya bersyahadat dibimbing imam masjid Ustadz Abdul Majid, S.Pdi dan disaksikan team Mualaf Center Darussalam serta jama'ah.

Pendeta Ahmad Wilson asal Solo pernah menista Agama Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan "Sebelum menjadi muslim, Nabi Muhammad itu adalah pemeluk Kristen."

Reaksi keras muslim Solo kontan muncul. FPI Surakarta melaporkan Wilson ke polisi. Proses pun berlanjut ke meja hijau. Pada Juli 2000, Wilson dinyatakan bersalah dan diganjar hukuman lima tahun penjara.

Selama ini Wilson menjadi rujukan para penginjil untuk memurtadkan Umat Islam.

Berikut video keislaman Wilson dan istrinya:

Sumber: Portal Islam

Berawal Dari Iseng Puasa Bulan Ramadhan, Akhirnya Bersyahadat

Berawal Dari Iseng Puasa Bulan Ramadhan, Akhirnya Bersyahadat



10Berita – Seorang Non Muslim Dari saudi Arabia, Ayesha Siddiqa, 29 tahun memandang Ramadan memiliki pesona tersendiri. Bulan Ramadan telah mengubah hidupnya.

Dia mengenal islam dan menjadi mualaf setelah belajar berpuasa Ramadan.

Kisah hidup Ayesha bermula ketika Ramadan 2013. Ayesha yang berpindah dari India ke Uni Emirat Arab (UEA) ingin merasakan puasa Ramadan.

Ini karena Ayeesha melihat beberapa kawannya menjalankan ibadah puasa. Dia lalu mencoba rasanya puasa bersama dengan beberapa temannya.

”Ramadan sangat spesial bagi saya karena ini adalah hal pertama yang menarik saya mempelajari Islam. Saya tinggal di sini bersama teman-teman saya dan saat Ramadan tiba, saya melihat mereka sahur, puasa sepanjang hari, berdoa, dan berbuka bersama di waktu senja. Saya tertarik dan kemudian memutuskan untuk berpuasa dengan mereka,” kata Ayesha, di laman Khaleej Times, (13/06/2017) kemarin
Sejak perkenalan di bulan Ramadan 2013 cinta Ayesha kepada Islam mulai tumbuh. Dia menyebut perkenalan itu sebagai titik balik.

” Cinta untuk Islam berakar di hati saya selama bulan suci ini empat tahun yang lalu. Meskipun saya memulai berpuasa bukan sebagai pemeluk Islam. Kini merupakan Ramadan ketiga saya sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah,” pungkasnya.(jk/gr)

Sumber: Eramuslim

Perang Badar; Tatkala yang lemah memenangkan pertempuran

Perang Badar; Tatkala yang lemah memenangkan pertempuran

10Berita Sejarah Islam memiliki cerita pertempuran yang he Arrahmah.com / A. Z. Muttaqin / 44 menit yang lalu
bat dan kemenangan perdana yang memesona atas musuh mereka. Sejarah tak terbantahkan yang paling terkenal dari pertempuran ini adalah Perang Badar, yang berlangsung di sebuah oasis barat daya Madinah pada tahun 2 H atau 624 M.

Pada tahun 622 M, Nabi Muhammad Shalllalahu alaihi wa sallambeserta sekitar seratus orang pengikutnya pergi meninggalkan Mekah untuk menghindarkan diri dari gangguan dan penyiksaan Musyrik Quraisy. Mereka menuju Yatsrib yang terletak di utara Mekah. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Musyrik Quraisy berdiam diri. Harta orang-orang Muslim yang masih berada di Mekah mereka rampas, bahkan Musyrik Quraisy gencar melakukan ancaman dan rencana penyerangan. Dalam kondisi seperti inilah, Allah mengizinkan orang-orang Muslim berperang untuk mempertahankan diri dari musuh-musuh yang mengancam mereka.

Setelah turunnya izin berperang, tidak serta merta Nabi Muhammad Shalllalahu alaihi wa sallam mengadakan peperangan terhadap Musyrik Quraisy yang saat itu masih sangat kuat. Langkah pertama yang Nabi MuhammadShalllalahu alaihi wa sallam lakukan adalah menguasai jalur perdagangan Musyrik Quraisy antara Mekah dan Syam (mengganggu perekonomian Quraisy).

Perang Badar terjadi karena Nabi Muhammad Shalllalahu alaihi wa sallam mengetahui kabar adanya kafilah dagang Quraisy yang akan kembali dari Syam. Sebagaimana tradisi Quraisy sebelumnya pada setiap musim gugur, di tahun 623 M (2 H) kafilah dagang tahunan Quraisy berangkat dari Mekah menuju Syam. Rute yang biasa ditempuh yaitu sepanjang pantai Laut Merah melintasi sekitar 80 mil timur Madinah. Kafilah dagang musim gugur 624 tersebut terdiri dari seribu ekor unta yang sarat dengan barang-barang perdagangan yang mahal. Diperkirakan nilai kafilah dagang tersebut mencapai 50.000 dinar (sekitar 105 Milyar rupiah). Kafilah tersebut berada di bawah komando Abu Sufyan bin Harb, seorang pedagang penting yang merupakan salah satu pemimpin oposisi terhadap Nabi Muhammad Shalllalahu alaihi wa sallam dan seorang perwira militer berpengalaman yang memimpin kavaleri Mekah. Karavan itu diiringi penjaga empat puluh orang.

Nabi Muhammad pun Shalllalahu alaihi wa sallam dengan cermat merencanakan operasi ini agar meraih keberhasilan. Untuk itu, beliau mengutus tim pengintai dan intelijen guna mengumpulkan informasi yang diperlukan. Selanjutnya, beliau pun memerintahkan para sahabat—yang jumlahnya sekitar sekitar tiga ratusan personil—untuk berangkat.

Abu Sufyan sebagai seorang yang berpengalaman mengambil sikap waspada. Saat mendekati daerah Hijaz, Abu Sufyan mengirim seorang pengintai ke depan untuk mengintip rute di depan dan untuk mengetahui aktivitas pasukan Islam. Tatkala mengetahui adanya gerakan pasukan Islam, ia pun memutuskan berbelok melewati rute tepi pantai, selain juga ia memutuskan untuk mengirim seorang pengendara unta untuk memberikan peringatan dan meminta agar orang-orang Mekah memobilisasi pasukan besar untuk mencegah serangan Nabi Muhammad Shalllalahu alaihi wa sallam.

Berita yang diterima oleh Musyrik Quraisy ibarat petir yang menyambar mereka. Oleh sebab itu, pasukan Quraisy segera bergerak dan berusaha mengerahkan segala kemampuan mereka. Dari sana, terhimpunlah sekitar seribu personil. Hampir semua pemuka terlibat dalam pasukan tersebut.

Saat tiba di lembah Zufran, pasukan Islam mendengar bahwa kafilah Abu Sufyan berhasil lolos dari kejaran, sementara pasukan Quraisy telah bersiap berperang. Di sinilah keimanan pasukan Islam diuji dan ketaatan mereka kepada Nabi Muhammad dinilai. Menghadapi hal itu, beliau pun melakukan musyawarah dengan para sahabatnya dari golongan Muhajirin dan terkhusus dari kalangan Anshar. Keputusan bulat mereka yakni menghadapi pasukan Musyrik Quraisy.

Tempat pertempuran tersebut yaitu Badar. Pada pagi 17 Ramadhan, Nabi Muhammad Shalllalahu alaihi wa sallammengatur pasukannya sebagaimana barisan perang. Ini merupakan siasat baru dalam peperangan yang bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Arab. Sementara pasukan Musyrik Quraisy masih menerapkan formasi konvensional.

Peperangan diawali dengan dual satu lawan satu. Di pihak Musyrik Quraisy, majulah Utbah bin Rabiah, Walid dan Syaibah. Sementara dari pasukan Islam tampillah Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Harits. Hasilnya, pihak Islam berhasil mengalahkan musuh mereka. Setelah itu, terjadilah pertempuran jarak dekat antara kedua pasukan.

Dengan izin dan pertolongan Allah, perang pada akhirnya dimenangkan oleh pasukan Islam. Pasukan Musyrik Quraisy banyak menderita kerugian. Tujuh puluh orang di antara mereka terbunuh dan tujuh puluhan lagi tertawan, yang kebanyakan mereka justru terdiri dari para pemuka dan pemimpin mereka. Sementara korban dari pihak Islam berjumlah empat belas orang, yang terdiiri dari enam orang kaum Muhajirin dan delapan orang dari kaum Anshar.

Penduduk Mekah sangat shock mendengar berita kekalahan tersebut. Hal itu menimbulkan efek buruk terhadap kondisi mereka. Bahkan mereka melarang orang-orang yang keluarganya terbunuh di Badar untuk meratapi mereka. Sementara penduduk Madinah langsung mengekspresikan kemenangan pasukan Islam dengan melantunkan takbir dan tahlil di mana-mana, sehingga bergemalah di Madinah suara takbir dan tahlil. Kemenangan pasukan Islam di Badar merupakan kemenangan politik strategis yang pertama dan terutama bagi umat Islam. Apalagi tidak lama berselang dari kemenangan tersebut, hadirlah momen paling mengesankan yaitu Idul Fitri pertama yang dijalani umat Islam pada tahun 624 M, yang bertepatan setelah mereka memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang Badar.

Spirit utama Perang Badar adalah keberhasilan kelompok yang lemah mengalahkan kelompok yang kuat dan perkasa melalui nikmat atau keputusan ilahi. Sejarah tentang Perang Badar sangat mirip dengan kisah salah seorang nabi Bani Israil, Daud, yang berhasil mengalahkan Jalut. Perang Badar menegaskan bahwa kekuatan keilahian lebih besar daripada kekuatan duniawi manapun, yang disampaikan melalui kisah kemenangan yang menakjubkan. Orang-orang beriman yang berperang demi Tuhan, terlepas dari siapa pun musuh yang melawan mereka, dapat mengalahkan orang-orang yang berperang untuk tujuan lain, baik itu demi tujuan: bangsa, ras, kepercayaan yang keliru, harta rampasan, atau penaklukan yang brutal. Perang Badar juga secara fundamental mengubah sifat identitas komunal di kalangan umat Isla

A. SadikinExecutive Summary Laporan Lembaga Kajian Syamina Edisi 11/Agustus 2017

.Sumber: arrahmah.com

Ini Alasan Prof Kato Pakai Baju Koko Saat ke Indonesia

Ini Alasan Prof Kato Pakai Baju Koko Saat ke Indonesia



10Berita~Jakarta- Ada yang unik saat Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, bersama 23 mahasiswanya berkunjung ke Indonesia. Guru besar yang bersahaja ini memakai baju khas Muslim Indonesia, yakni baju koko.

Menurut dia, memakai baju khas penduduk setempat merupakan wujud penghormatan. Dengan berpenampilan seperti kaum muslimin Indonesia, ada rasa kedekatan dalam dirinya.

“Saya banyak pakai batik atau baju koko ketika bertemu dengan orang Muslim Indonesia. Hanya ingin ekspresikan hormat atau respect kepada mereka,” ujar Kato di Jakarta, Selasa (15/8).

Saat ditanya bedanya Muslim Indonesia dengan Muslim di negara lain yang pernah ia kunjungi, pria berkaca mata ini mengatakan pada dasarnya tidak begitu berbeda. Meski demikian, kemampuan berbahasa Indonesia membuat dirinya lebih dekat dengan WNI.

“Tapi mungkin karena saya paham bahasanya jadi merasa lebih dekat. Saya respect agama apa pun. Tapi kalau Muslim Indonesia menurut saya baik. Karena itu, saya selalu respect mereka. Dengan kata lain, merekalah yang membuat saya menghomati mereka,” ujarnya.

Pria yang pernah mengajar di Universitas Nasional Jakarta selama empat tahun ini menambahkan, dirinya tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia, terutama mengenai Islam. Sejumlah riset telah ia buat tentang dunia Islam di Indonesia. Salah satu bukunya, “Agama dan Peradaban” ia tulis dalam bahasa Indonesia.

“Dari situ juga saya kenal dengan Gus Dur. Saya dekat dengan Gus Dur sampai akhir hayatnya. Kami saling berkunjung. Saya juga sudah mengajak beliau ke Sakai,” tutur Kato.

Selama hampir 20 tahun berjibaku di Indonesia, Kato kini tinggal di Sakai dan mengajar di Universitas Chuo, Tokyo, Jepang. Universitas yang berusia lebih dari 100 tahun ini merupakan perguruan tinggi tertua di Jepang yang berdiri pada tahun 1800-an.

Bagi Kato, kenangan tentang Indonesia sangat mendalam. Lika-likunya menaklukkan ibukota sangat menginspirasi. “Tak akan pernah pudar. Untuk mengenang kisah hidup saya di sini juga telah saya ramungkan buku berjudul Kangen Indonesia,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online