OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 30 April 2018

Temuan Ombudsman Buktikan Kebijakan Pemerintah Soal TKA itu Salah

Temuan Ombudsman Buktikan Kebijakan Pemerintah Soal TKA itu Salah


10Berita – Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi’ Munawar mengatakan temuan Ombudsman RI terkait Tenaga Kerja Asing (TKA), harusnya dijadikan acuan bagi Pemerintah untuk segera mencabut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang TKA.

“Kebijakan Pemerintah terkait TKA selalu menggunakan rumus perbandingan dan kontradiksi dengan negara lain, dari sikap itu kemudian menjadi pijakan bahwa TKA yang ada di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan TKI yang berkerja diluar negeri. Padahal variabel dan faktor-faktor pendukungnya sangat jauh berbeda satu sama lain,” kata Rofi’ secara tertulis, Minggu (29/4).

Lebih lanjut, menurut Rofi’, selama ini banyaknya TKI yang berkerja di luar negeri karena ada dua faktor penentu. Pertama, secara eksternal karena adanya kebutuhan negara tujuan terhadap tenaga kerja skill terbatas. Kedua, secara internal kesempatan kerja yang terbatas di dalam negeri, akibat penciptaan lapangan kerja yang minim dan keberpihakan yang kurang dari Pemerintah. Buktinya cukup banyak TKA yang ditemukan oleh Ombudsman hanya memiliki skill terbatas, bahkan buruh kasar.

“Alasan pemerintah yang memudahkan masuknya TKA untuk mendorong investasi sesungguhnya tidak menemukan padanan yang sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Bukti bahwa proses negosiasi pemerintah lemah dan skema investasi yang dilakukan lebih bersifat tertutup. Bahwa investor mengambil seluruh aspek pekerjaan yang ada” tegasnya.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Rofi menambahkan, kemudahan yang diberikan Pemerintah terhadap TKA tidak diimbangi dengan pengawasan dan penindakan tegas pelanggaran keimigrasian. Buktinya cukup banyak TKA yang menyalahgunakan izin dan visa diluar batas waktu maupun peruntukannya.

“Jika pelonggaran TKA ini terus dilakukan bersamaan dengan masuknya investasi asing, maka sesungguhnya Pemerintah tidak memilki keberpihakan dan itikad baik tenaga kerja indonesia”pungkasnya.

Sebelumnya, berdasarkan investigasi dari Ombudsman dalam rangka pengawasan TKA, banyak tenaga kerja dari China yang masuk ke Indonesia setiap harinya. Padahal, jika dilihat dari nilai investasinya, China menempati urutan ketiga sebagai negara dengan investasi terbesar di Indonesia, setelah Singapura dan Jepang.

Ombudsman RI menemukan beberapa permasalahan seperti TKA yang secara aktif bekerja namun masa berlaku Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) telah habis dan tidak diperpanjang, perusahaan pemberi kerja kepada TKA yang tidak dapat dipastikan keberadaannya, TKA yang bekerja sebagai buruh kasar, dan TKA yang telah menjadi WNI namun tidak memiliki izin kerja. (kl/)

Sumber :aktual

KLAIM "#DiaSibukKerja", Ini Tanggapan MAKJLEB Warganet 😂

KLAIM "#DiaSibukKerja", Ini Tanggapan MAKJLEB Warganet 😂


10Berita, Di sosial media kemarin ramai tagar #DiaSibukKerja yang diviralkan para pendukung Jokowi. Bahkan dibikin kaos untuk menyaingi #2019GantiPresiden.

Benarkah 'Dia Sibuk Kerja'?

Berikut tanggapan makjleb warganet dengan nama Kawendra Lukistian yang diposting di akun facebooknya...

#DIASIBUKKERJA ??? 😴

Oleh: Kawendra Lukistian

#Diasibukkerja,
Memang apa sih yang dikerjakannya? Meroketkan ekonomi Indonesia?

#Diasibukkerja,
Memang apa sih yang dilakukannya? Menguatkan dollar terhadap rupiah?

#Diasibukkerja,
Memang apa sih yang diperbuatnya? Memudahkan TKA, buruh kasar itu masuk ke Indonesia, saat rakyat susah cari pekerjaan?

#Diasibukkerja,
Kerja yang bagaimana sih? Menumpuk hutang ? Mengimpor beras hingga garam?

#Diasibukkerja,
Memang apa sih kerjanya? Menghilangkan berbagai subsidi ? Menaikan TDL ? Menghilangkan premium? Atau lempar barang dari dalam mobil untuk rakyat? Atau bagi-bagi sembako? Sambil ngevlog?

Jadi sibuk kerja untuk siapa sih ? Rakyat ?
Lalu, kenapa rakyat makin susah?

#HoaxSibukKerja

Sumber link: https://www.facebook.com/kawendra.lukistianfull/posts/10214611592355170

DIASIBUKKERJA 😴 Oleh Kawendra Lukistian Diasibukkerja, Memang apa sih yang dikerjakannya? Meroketkan ekonomi...
Dikirim oleh Kawendra Lukistian pada 29 April 2018


***

Di media sosial Twitter, warganet juga menyindiri 'Dia Sibuk Kerja' dengan "BUKTI" video berikut...

— ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ (@RajaPurwa) 30 April 2018


Sumber :Portal Islam 

Ada Gak Buruh Kasar Jepang yang Garap Proyek Kereta MRT? Bandingkan dengan Proyek China

Ada Gak Buruh Kasar Jepang yang Garap Proyek Kereta MRT? Bandingkan dengan Proyek China


10Berita,  Serbuan massif buruh kasar Tenaga Kerja Asing (TKA) dari China/Tiongkok yang menggarap proyek-proyek investasi China di Indonesia, menjadi sorotan berbagai pihak. Bahkan DPR RI sudah menggulirkan Pansus Hak Angket TKA.

DR. Ronnie Higuchi Rusli, dosen tetap dan dosen penguji pada Program Studi S3 Manajemen Strategik pada program Pascasarjana Ilmu Manajemen FE-UI, mengungkapkan bedanya proyek yang dikerjakan Jepang dengan proyek yang dikerjakan China.

Apa perbedaan proyek Jepang dan China? Proyek yang dikerjakan Jepang tidak mendatangkan buruh kasar Jepang ke Indonesia. Jepang hanya mendatangkan TKA dengan skill tertentu. Sedangkan proyek China mereka mendatangkan buruh kasar dari China untuk mengerjakan proyek di Indonesia.

Sebagai perbandingan adalah proyek MRT Jakarta, singkatan dari Mass Rapid Transit Jakarta atau Moda Raya Terpadu atau Angkutan Cepat Terpadu Jakarta yang dikerjakan oleh Jepang.

Proses pembangunan MRT (110 km) telah dimulai sejak 10 Oktober 2013 dan diperkirakan selesai pada Maret 2019. Studi MRT sudah lama sebelum itu. Dan Jepang tidak mendatangkan buruh kasar, hanya tenaga ahli.

DR. Ronnie Higuchi Rusli sudah mengetahui proyek MRT sejak 1991 saat membimbing mahasiswanya S2 dengan tesis berjudul Perencanaan Pembangunan Sistem Angkutan Masal (Mass Rapid Transit/MRT) "Subway" di Jakarta.

"Proyek MRT di Jakarta sudah saya ketahui sejak tahun 1991 dari hasil bimbingan S2 saya di Pascasarjana UI. Sekarang dikerjakan Jepang di Jakarta👉 Coba liat sendiri ada gak ribuan “buruh kasar Jepang” yg mengerjakan proyek yg sangat komplex daripada KA Bandung-Jakarta (digarap China -red)??" kata Ronnie Higuchi Rusli di akun twitternya.

Dengan dikerjakan oleh tenaga kerja dan buruh kasar lokal, maka terjadi transfer knowledge.

"Yang pasti seteleh MRT selesai pekerja proyek MRT termasuk buruh kasarnya tau cara membuat terowongan MRT dibawah tanah untuk selanjutnya mengerjakan di kota-kota besar di Indonesia. Itu cara “know how transfer” proyek-royek yang dikerjakan Jepang untuk Indonesia. Cuma tenaga ahli yang datang," tambah Pak Ronnie.

Proyek MRT di Jakarta sudah saya ketahui sejak th 1991 dari hasil bimbingan S2 saya di Pascasarjana UI. Sekarang dikerjakan Jepang di Jakarta👉 Coba liat sendiri ada gak ribuan “buruh kasar Jepang” yg mengerjakan proyek yg sangat komplex drpd KA Bandung-Jakarta?? pic.twitter.com/aoLtPO6xV4

— Ronnie Higuchi Rusli (@Ronnie_Rusli) 29 April 2018


Yg psti stlh MRT selesai pekerja proyek MRT trmsk buruh kasarnya tau cara membuat terowongan MRT di bwh tanah utk selanjutnya mengerjakan di kota2 besar di Indonesia. Itu cara “know how transfer” proyek2 yg dikerjakan Jepang untuk Indonesia. Cuma tenaga ahli yg datang.

— Ronnie Higuchi Rusli (@Ronnie_Rusli) 30 April 2018

Itulah bedanya. Proyek yang dikerjakan Jepang dengan China.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/MRT Jakarta, PI

Pesta Rakyat Paskah di Monas yang Sarat dengan Masalah

Pesta Rakyat Paskah di Monas yang Sarat dengan Masalah


10Berita, Pada hari Ahad (28/4) tiba tiba saja kawasan Monas menjadi penuh sesak dengan manusia yang sebagian besarnya memakai pakaian kaos merah dan banyak juga yang berjilbab merah dan ada juga yang berwarna putih. Mereka terdiri dari para nenek-nenek, Ibu ibu dan anak anak yang datang secara berbondong bondong dengan masing masing membawa kupon sembako, kupon makanan, kupon transport dan kupon kupon yang lain.

Mereka panitia acara itu mengemas acaranya dengan nama Pesta Rakyat Untukmu Indonesia yang dilakukan oleh Forum Untukmu Indonesia. Acara ini menurut Moh Naufal Dunggio selaku Sekretaris Komite Dakwah Khusus MUI itu sebenarnya acara memperingati Hari Paskah oleh Umat Kristiani tapi di kemas dengan bakti sosial dengan membagi kupon sembako di kalangan muslim yang papa.

“Bayangkan hanya sembako yang tak seberapa nilainya mereka muslim yang papa tersebut harus rela desak desakan bahkan ada yang terinjak injak dan kehilangan anak. Kalau mereka gak miskin papa gak mungkin hadir di Monas tadi. Mereka inilah sasaran empuk dari para MISIONARIS itu,” ujar Ustd Naufal kepada Panjimas pada Sabtu (28/4).

Kupon-kupon yang dibagi berlambang Burung Merpati Putih itu menurut Ustadz Naufal adalah mereka yang disebarkan ke tempat Majelis Taklim, RT, RW diseluruh Jadetabek yang notabene 90 persen beragama Islam. “Gak tahu panitia keluarkan berapa miliar untuk mensukseskan acara ini karena masyarakat diangkut dengan bus gratis. Inilah salah satu cara menyebarkan agama dgn cara yang culas, menipu dan main kasar,” tuturnya.

Ibu ibu yang semuanya berjilbab dan diwawancara Panjimas, semuanya menjawab bahwa mereka tidak tahu acara itu apa. Mereka hanya tahu dari pak RT yang bagi bagi kupon bahwa acara itu adalah acara pesta rakyat bagi bagi sembako. Sudah berada di lokasi (TKP) dan membaca di medsos baru mereka tahu bahwa acara itu adalah acara kristiani. Tapi mereka dengan yakin mengatakan saat diwawancara bahwa hanya mengambil sembakonya tapi tidak akan mengikuti agamanya.

Alhamdulillah ibu-ibu yang ikut antrian sembako itu mereka masih kokoh keimanan mereka walaupun ukurannya tidak jelas tapi paling tidak mereka tahu bahwa acara itu adalah acara Kristiani.

Secara kuantitas (jumlah) panitia sukses mengumpulkan kaum muslimin papa di Monas tapi secara kwalitas (nilai) mereka gagal total. “Ini harus jadi pelajaran bagi kita kaum muslimin seluruhnya. Para Murtadin tak henti hentinya mengeluarkan energi, dana dan segala upaya mereka untuk memurtadkan umat Islam dengan berbagai cara. Apalagi rezim penguasa memberikan mereka lampu hijau dalam aksinya,” tandas Ustadz Naufal Dungio.

Kelihatannya acara pesta rakyat tadi mau menyamai Aksi Bela Islam 212 tapi sayang acara kemarin itu di Monas sangat jauh sekali dengan aksi 212. Kayak bumi dan langit. Banyak sampah sampah berserakan. Tanaman pada rusak padahal hanya diikutin oleh ribuan orang. Tidak sampai ratusan ribu orang apalagi jutaan orang seperti ABI 212. Dari sini kita bisa mengukur dan menakar dengan jelas mana agama yang di Ridhai Allah dan mana agama palsu yang dibenci oleh Allah.

“Semoga kita kaum muslimin semakin sadar bahwa musuh-musuh Allah tidak bakal tidur nyenyak dan tidak bisa makan enak kalau kita umat Islam belum murtad dari agama kita, (QS. 2;120). Mari kita sama sama tetap berjama’ah menjaga Aqidah keislaman kita.Hanya kepada Allah lah kita berlindung diri,” pungkas Ustd Naufal.

Sumber : panjimas.com

  

Prabowo: Utamakan Pekerja Lokal!

Prabowo: Utamakan Pekerja Lokal!


10Berita -Ketua Umum Partai Geridra Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah seharusnya mengutamakan tenaga kerja dalam negeri untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Prabowo menegaskan, rakyat Indonesia berhak mendapatkan kesempatan lapangan bekerja seluas-luasnya.

“Bukan kita antiasing, kita butuh tenaga kerja dengan kemampuan asing tapi kita utamakan rakyat kita,” kata Prabowo dalam Seminar Kebangsaan “Akhiri Kerakusan Korporasi Menuju Negara Sejahtera” yang diadakan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Gedung Joang 45, Jakarta, Ahad (29/4).

Prabowo mengatakan masih banyak rakyat Indonesia yang belum memiliki pekerjaan yang layak. Untuk itu, kesempatan kerja harus diberikan secara luas bagi warga Indonesia. “Rakyat kita banyak belum mempunyai pekerjaan yang baik dan layak. Karena itu, perempuan kita terpaksa jadi pembantu di negara-negara lain, mereka meninggalkan suami, anak dan keluarga untuk mengirim uang ke kampungnya. Masak demikian kita izinkan tenaga kerja asing masuk,” tegasnya.

Prabowo melanjutkan, negara Indonesia memang harus bersahabat dengan negara asing namun harus juga menjaga kepentingan dan kesejahteraan segenap rakyat Indonesia serta waspada agar kekayaan alam tidak dieksploitasi bangsa lain. Menurutnya, rakyat Indonesia harus dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan dengan keahlian yang dibutuhkan untuk membangun bangsa. Dengan demikian, negara Indonesia dapat menggunakan sumber daya manusia dalam negeri untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja yang terampil.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

“Kalau rakyat kita tidak mampu kewajiban kita pemimin negara Indonesia untuk membuat rakyat kita mampu. Kalau rakyat tidak pintar kewajiban pemimpin negara ini untuk membuat rakyat pintar,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H Laoly menilai isu mengenai tenaga kerja asing terlalu dipolitisasi dan terlalu dibesar-besarkan. “Jadi ini kan terlalu dipolitisasi, sudah ada rapat kerja dengan Komisi IX DPR ya kemarin tentang itu, sudah dijelaskan oleh Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara Pratikno). Jadi saya kira kalau soal tenaga kerja asing itu sengaja disebar dan dibesar-besarkan,” kata Yasonna usai menghadiri acara Hari Bakti Kemasyarakatan ke-54 di Gedung Ditjen Pemasyarakatan, Jakarta, Jumat.

Menurut Yasonna, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing diterbitkan supaya proses penanganan tenaga kerja asing lebih cepat dan transparan. “Kami mau adalah supaya prosesnya itu lebih cepat, transparan, itu yang mau digunakan oleh perpres itu,” ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa bagaimanapun Indonesiaa membutuhkan investasi. Sementara Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan jumlah tenaga kerja asing di Indonesia masih tergolong proporsional setelah penerbitan Peraturan Presiden tentang tenaga kerja asing dan meminta semua pihak tidak khawatir mengenai itu. []

Sumber : republika

TERCYDUK! Ngaku-ngaku Koordinator #2019GantiPresiden, Jejak Digital Effendi Saman Ketua Sekber Jokowi

TERCYDUK! Ngaku-ngaku Koordinator #2019GantiPresiden, Jejak Digital Effendi Saman Ketua Sekber Jokowi


10Berita,  Para pendukung dan aktivis gerakan #2019GantiPresiden kaget dengan pengakuan seorang yang bernama Effendi Saman yang mengaku sebagai Koordinator Nasional #2019GantiPresiden.

Effendi Saman tampil diwawancarai media tv CNN Indonesia kemarin. Disitu ditulis sebagai Koordinator Nasional #2019GantiPresiden.

Salah satu aktivis gerakan #2019GantiPresiden, Mustofa Nahrawardaya mempertanyakan siapa Effendi Saman dan siapa yang telah mengangkatnya sebagai Koordinator Nasional #2019GantiPresiden.

Karena gerakan #2019GantiPresiden tidak ada koordinatornya. Bahkan inisiator gerakan #2019GantiPresiden tidak membuat struktur apapun namanya terkait gerakan #2019GantiPresiden.

Mustofa pun memprotes CNN Indonesia.

"Bro @CNNIndonesia Siapa Effendi Saman ini, kok ngaku2 Koordinator Nasional #2019GantiPresiden ??? Tidak ada Koordinator Nasional nya. Ngawur Banget ah. Colek @MardaniAliSera," ungkat Mustofa Nahrawardaya melalui akun twitternya @NetizenTofa.

Warganet yang lain kemudian berhasil membongkar siapa Effendi Saman. Dari penelusuran jejak digital ternyata Effendi Saman adalah Ketua Sekber Jokowi alias salah satu dedengkot relawan Jokowi di Pilpres 2014 lalu.

Jejak digital tahun 2013...

Aksi gelar tanda tangan mendukung Jokowi Presiden digelar di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Aksi ini dimotori sekitar 100 aktivis dari Sekretariat Bersama Jokowi yang diketuai Effendi Saman.

Pantauan Liputan6.com, aksi yang digelar di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu pagi (24/11/2013) itu tidak hanya pengumpulan tanda tangan warga. Tapi juga pelepasan sejumlah balon sebagai bentuk simbolisisi mendukung Jokowi sebagai Tokoh Nasional dan Presiden RI.

Ini link jejak digital: https://m.liputan6.com/news/read/754971/aksi-galang-tanda-tangan-jokowi-presiden-digelar-di-bundaran-hi

Ngaku-ngaku sebagai koordinator nasional #2019GantiPresiden, cara-cara ini ditengarai mirip dengan gerakan MCA (Muslim Cyber Army) yang merupakan gerakan massif tanpa ada struktur atau koordinator, tapi tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku koordinator/tim MCA untuk mendiskreditkan para MCA sejati.

Bro @CNNIndonesia Siapa Effendi Saman ini, kok ngaku2 Koordinator Nasional #2019GantiPresiden ???
Tidak ada Koordinator Nasional nya. Ngawur Banget ah. Colek @MardaniAliSera pic.twitter.com/4MukWh0Pan

— Mustofa Nahrawardaya (@NetizenTofa) 29 April 2018


Mengenal sosok Effendi Saman, dulu 2013 Silam, doi adalah Sekber Jokowi.

Dan sekarang, mendadak jadi Koordinator Nasional #2019GantiPresiden.

Siapa yang ngangkat??? Kapan diangkatnya??? Dan apakah Kalian Percaya???

Ini link nya jejak digitalnya: https://t.co/tABqGplthr pic.twitter.com/hiL5X3Fg3V

— BP™ (@BangPino_) 29 April 2018


Sumber :Portal Islam 

Penghinaan RASIS Jokower Terhadap Natalius Pigai, Ini Pembelaan Jaya Suprana

Penghinaan RASIS Jokower Terhadap Natalius Pigai, Ini Pembelaan Jaya Suprana


10Berita, Tokoh Papua yang merupakan mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, yang selama ini tegas mengkritik rezim Jokowi, mendapat perlakuan RASIS dari para pendukung Jokowi.

Berikut pembelaan Jaya Suprana....

Prihatin Atas Penghinaan Terhadap Natalius Pigai

MENJELANG akhir April 2018 di media sosial beredar sebuah meme yang menyandingkan foto Natalius Pigai dengan foto seekor gorila disertai komentar-komentar yang menyebut sang mantan anggota Komnas HAM sebagai teman sang gorila disusul koreksi "Bukan teman tapi saudara kembar wkwkwkwkwk" lalu diperparah dengan "Cocok-cocok kembar siam tapi masalah sifatnya baikan yang gak pake baju" disusul "kalau Bapak ini keluar malam tanpa ada penerangan orang pasti ketakutan".

Menurut pendapat saya sebagai pendiri Perhimpunan Pencinta Humor dan peneliti humor yang hasilnya saya tuangkan ke dalam buku Humorologi, komentar yang ditimpakan ke Natalius Pigai sama sekali bukan humor tetapi horor yang sama sekali tidak jenaka sebab tidak beradab!

Penghinaan

Saya bukan orang Papua namun sebagai sesama warga Indonesia dengan Natalius Pigai saya merasa sangat amat prihatin atas penghinaan yang ditimpakan kepada Natalius Pigai.

Akibat berpihak kepada rakyat tergusur, saya pribadi sudah terbiasa dihujat oleh masyarakat medsos sebagai "si gendut", "si gentong", "tua bangka bau tanah", "cari muka", "penjilat pantat penguasa" padahal sama sekali saya bukan relawan tokoh penguasa mana pun akibat sama sekali tidak punya ambisi politik sebab tidak haus jabatan, duit dan kekuasaan namun sekedar berupaya berpihak kepada rakyat tergusur oleh angkara murka penguasa.

Namun menurut saya, hujatan terhadap Natalius Piagai sudah melanggar batas peradaban dan kebudayaan bangsa Indonesia yang sebenarnya sangat toleran dalam menghadapi perbedaan ras, etnis, paham dan agama sesuai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Boleh saja tidak suka terhadap Natalius Pigai akibat perbedaan paham, pendapat atau selera namun sama sekali tidak ada alasan pembenaran bagi seorang insan Indonesia yang beradab untuk menghina Natalius Pigai sebagai sesama warga Indonesia dan sesama manusia.

Orde Reformasi menghadirkan demokrasi di persada Nusantara sejak 1998. Demokrasi menghadirkan kebebasan berpendapat dan kebebasan mengungkap pendapat termasuk melalui medsos namun sama sekali bukan berarti demokrasi menghadirkan kebebasan menghina sesama manusia dengan alasan apa pun.

Mohom Maaf

Dengan penuh kerendahan hati sebagai seorang sesama warga Indonesia dan sesama manusia saya memohon maaf atas penghinaan yang disampaikan segelintir sesama warga Indonesia dan sesama manusia terhadap Natalius Pigai.

Pada hakikatnya penghinaan tersebut bukan hanya mencemarkan nama baik Natalius Pigai namun juga mencemarkan nama baik bangsa Indonesia sebagai bangsa yang toleran dan beradab.

Disamping sesama manusia dan sesama warga Indonesia, kebetulan saya juga sesama umat Nasrani dengan Natalius Pigai. Maka saya yakin Natalius Pigai niscaya senantiasa berupaya mewujudkan ajaran kasih sayang Jesus Kristus yang bukan cuma dihujat namun difitnah, dianiaya bahkan disalib oleh mereka yang tidak sepaham dengan Jesus Kristus.

Sabda terakhir Jesus Kristus di tiang salib bukan membenci namun legowo, tulus ikhlas mengampuni mereka yang memfitnah, menghujat bahkan menyalib Beliau dengan sabda, "Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat".

(JAYA SUPRANA)

Sumber: RMOL


May Day, KSPI Deklarasi Dukungan Pada Prabowo

May Day, KSPI Deklarasi Dukungan Pada Prabowo


10Berita -Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan mendeklarasikan dukungan kepada Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto untuk mencalonkan diri di Pemilihan Presiden (pilpres) 2019 pada peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2018. KSPI mengajukan sejumlah tuntutan kepada presiden yang terpilih di pilpres 2019.

“Di Hari Buruh Internasional, seluruh dunia akan menyaksikan semua buruh Indonesia akan mendeklarasikan Bapak Prabowo Subianto sebagai calon yang diusung pada Pemilihan Presiden 2019,” kata Presiden KSPI Said Iqbal di Gedung Joang 45, Jakarta, Ahad (29/4).

Iqbal mengatakan, KSPI menginginkan presiden di periode mendatang untuk memenuhi sejumlah tuntutan antara lain pengupahan yang layak, penghapusan outsourcing dan memulangkan tenaga kerja asing asal China.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memuji dukungan dari pihak buruh tersebut untuk mencalonkan dirinya di pemilihan presiden yang akan datang. “Kalian telah memutuskan memberi kepercayaan kepada saya untuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia di 2019 yang akan datang. Bagi saya, mendapat kepercayaan dari golongan buruh adalah suatu kehormatan yang sangat besar. Ini adalah dukungan yang sangat penting. Ini adalah suatu kekuatan bagi perjuangan hidup saya,” ujarnya.

Prabowo mengatakan siapa pun yang memimpin negara Indonesia di masa akan datang memiliki tugas untuk melindungi segenap rakyat Indonesia. “Rakyat Indonesia harus aman tidak boleh khawatir akan masa depan, tidak khawatir tentang pekerjaan, dan memiliki hidup yang layak,” ujarnya.

Menurut dia, negara Indonesia yang dicita-citakan para pendiri Indonesia adalah negara kesejahteraan bukan negara konglomerasi. Dengan demikian, seluruh warga Indonesia harus memiliki kehidupan yang layak dan sejahtera, yang bukan hanya dinikmati oleh golongan tertentu atau segelintir orang.

“Saya akan berjuang untuk kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia,” ujarnya.(kl/)

Sumber : Republika.co.id, EM

Pilpres Turki antara Jalan Pikiran Oposisi dan Kemenangan Erdogan

Pilpres Turki antara Jalan Pikiran Oposisi dan Kemenangan Erdogan

(Erdogan dan Abdullah Gul) 

10Berita,  Pemilihan presiden (pilpres) Turki yang dimajukan satu setengah tahun lebih awal 24 Juni 2018 mendatang semakin heboh. Bukan karena munculnya penantang kuat Erdogan, tapi justru karena semakin tidak jelasnya siapa yang akan menjadi penantang Erdogan.

Abdullah Gul (mantan Presiden Turki, teman perjuangan Erdogan yang sekarang hubungannya renggang) menyatakan bahwa ia tidak akan menjadi penantang Erdogan, ia tidak mau menjadi kandidat gabungan pihak oposisi, yang sebelumnya merayu untuk maju sebagai capres menantang Erdogan.

Dunia Barat melalui media-medianya terlihat jelas ketakutan, mereka kerap “memaksa” oposisi Turki untuk melupakan “ego” golongan dan bersatu menentang Erdogan. Namun oposisi Turki memiliki pikiran lain, hingga saat ini oposisi utama CHP yang beraliran Kemalis pun belum memiliki calon presiden.

Lalu, sebetulnya seperti apakah jalan pikiran oposisi Turki?

Ada dua kelompok pemikiran secara umum didalam oposisi Turki. Yang pertama adalah mereka yang meyakini bahwa Erdogan hanya dapat dikalahkan dengan mengusung seorang tokoh sebagai calon presiden gabungan oposisi. Mereka meyakini bahwa dengan mengusung tokoh gabungan ini, maka seluruh elemen oposisi Turki terutama mereka yang menentang keras kepemimpinan Erdogan akan mudah mengidentifikasi “siapa” tokoh yang akan menjadi pusat mereka berkumpul melawan Erdogan, serta karena kemanunggalan tokoh ini mereka akan dengan mudah “menjual” pada pemilih Turki seperti apakah alternative dari Erdogan, dan seperti apakah model yang akan mereka gunakan bila mereka sukses merebut kendali Turki nantinya.

Keyakinan ini mereka ambil karena mereka melihat bahwa rakyat Turki yang memilih “Tidak” (berlawanan dengan kubu Erdogan yang memilih "Ya") pada referendum konstitusi kemarin mencapai 48%, yang berarti dalam pendapat mereka maka hanya butuh 3% suara lagi untuk mengalahkan Erdogan.

Mereka juga meyakini bahwa karena pendukung partai AKP berada di kisaran 49% dan pendukung kelompok kanan (islamis, konservati serta  konservatif-nasionalis) di Turki secara umum mencapai 63% (jumlah suara partai AKP, MHP dan partai-partai kecil berhaluan kanan lainnya di pemilu 2015), maka mau tidak mau mereka perlu merangkul tokoh yang dalam pandangan hidup personalnya merupakan tokoh kanan namun cukup liberal hingga dapat diterima basis kelompok kiri dan kemalis. Dalam hal ini pun, muncul nama Abdullah Gul yang sejak lama menjadi “pemimpin” dari sayap liberal di kubu konservatif Turki. Namun rencana ini saya prediksi gagal karena 3 hal.

Pertama, model persatuan ini sudah pernah diuji pada pemilihan presiden Turki tahun 2014. Saat itu, kelompok nasionalis dan kemalis Turki bersatu mengusung Ekmeleddin Ihsanoglu, mantan Sekjen Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang diharapkan mampu mengambil suara pendukung Erdogan. Namun, ternyata Erdogan sukses unggul mendapatkan 51,7% suara, jumlah suara yang serupa dengan jumlah suara “Ya” pada referendum konstitusi. Ini membuktikan bahwa bahkan disaat Erdogan dulu belum didukung partai MHP,  segmen pendukung Erdogan tidak bergeming kemana-mana, mereka setia pada brand “Erdogan”.

Yang kedua adalah soal ketokohan. Abdullah Gul yang memutuskan mengundurkan diri dari bursa pencalonan membuat kubu oposisi kebingungan mencari siapa tokoh yang dapat menjadi usungan mereka. Ini karena bahkan bila Abdullah Gul mencalonkan diri, kecil kemungkinan ia mampu memenangkan 50 % +1 suara. Juga tidak ada tokoh lain yang memiliki kemungkinan diterima baik oleh kubu kiri maupun nasionalis. Satu-satunya tokoh yang mendekati kemampuan Abdullah Gul adalah Meral Aksener, figur yang disebut mampu menarik mayoritas suara nasionalis untuk memilih “tidak” pada referendum konstitusi. Namun ia juga tidak memiliki basis yang kuat diluar lingkaran nasionalis, serta dalam berbagai survei dan simulasi ia justru menarik turun dukungan suara pada kubu oposisi, yakni pada kisaran total 30-44 % bila ia menjadi calon gabungan.

Yang ketiga adalah masalah didalam kubu oposisi itu sendiri. Terdapat pertentangan mengenai siapa yang harus maju. Meski para pentolan oposisi meyakini bahwa mereka butuh tokoh gabungan, namun tidak ada kata sepakat mengenai siapa tokoh ini. Bahkan disaat pencalonan Abdullah Gul masih santer terdengar, kubu nasionalis-kemalis pimpinan Meral Aksener masih bersikukuh bahwa ia-lah yang harus menjadi calon gabungan atau minimal dapat maju sendiri.

Segmen pemilih Kurdi yang memiliki haluan komunis juga bersikukuh ingin mencalonkan pemimpinnya sendiri, dengan berbagai alasan seperti kebanggaan ideologi maupun ketidaksepahaman pilihan calon dengan kubu oposisi lain.

Bahkan didalam partai CHP sendiri (partai utama oposisi), terdapat keguncangan mengenai pemilihan tokoh. Sebagian merasa bahwa bila mereka mengulang skenario 2014, maka CHP akan kehilangan identitas kemalisme mereka. Bahkan ada yang menyebut bahwa mereka tidak akan memilih bila tak ada tokoh kemalis yang diusung dalam pilpres. Kubu ini menginginkan Muharrem Ince atau tokoh kemalis lain sebagai calon, meski sebagian yang lain menyebut bahwa bila calon gabungan adalah seorang Kemalis (pengikut Kemal Attaturk -red), ini sama saja dengan menyerahkan kemenangan kepada Erdogan.

Karena itulah, skenario kedua merupakan skenario yang lebih realistis diambil oleh oposisi, yakni mereka maju sendiri-sendiri didalam pilpres.

Didalam skenario ini, partai CHP akan mengajukan calon sendiri. Meral Aksener sebagai perwakilan nasionalis-sekuler juga akan maju dengan partainya yakni IYI Party. Kelompok Komunis Kurdi juga akan mencalonkan tokoh mereka sendiri. Tujuannya adalah agar masing-masing basis kelompok oposisi akan termotivasi dengan keberadaan calon yang mewakili ideology mereka. Ini karena, menurut beberapa kolumnis di media pro-oposisi, kemenangan Erdogan di pilpres 2014 adalah karena tingkat partisipasi yang tergolong biasa saja (dalam konteks Turki). Bila mereka berhasil memotivasi basis oposisi secara keseluruhan dengan mencalonkan 3 capres yang mewakili fragmentasi kubu oposisi, maka tingkat partisipasi akan meningkat. Dengan meningkatnya tingkat partisipasi, maka mereka akan mampu mengalahkan jumlah suara pemilih Erdogan.

Bila ini terjadi, maka pilpres akan melaju ke putaran kedua. Dan di putaran kedua inilah, kelompok-kelompok yang gagal menempati posisi kedua namun telah termotivasi untuk berpartisipasi akan mendukung siapapun tokoh yang menempati posisi kedua tersebut dan mengalahkan Erdogan di putaran kedua. Bahkan, sebut mereka, bilapun Erdogan tetap menang dalam putaran kedua, setidaknya suara di pemilihan legislative akan mirip dengan suara di pilpres yang membuat mereka memiliki kemungkinan menguasai Parlemen. Dalam scenario ini, oposisi meyakini bahwa bahkan bila Erdogan menang pilpres, mereka tetap berkesempatan mendapatkan “hadiah hiburan” berupa penguasaan parlemen.

Namun lagi-lagi, prediksi saya menyebut bahwa dalam scenario ini oposisi juga akan mendapatkan kesulitan.

Ini karena tokoh segmen Komunis Kurdi (HDP) memiliki basis kecil, berkisar 6-8% dan tak memiliki kemungkinan meluas. Bahkan Erdogan bisa mendapat sebagian dari basis HDP, karena banyak orang Kurdi memilih HDP berdasar ikatan kesukuan, namun secara personal mereka adalah muslim. Apalagi, ikatan public antara HDP dengan organisasi terror komunis PKK kali ini akan membuat siapapun calon presiden mereka menjadi sasaran empuk Erdogan, yang sukses menggebuk komunis dari wilayah-wilayah Kurdi di Anatolia Tenggara serta membawa kemakmuran disana.

Calon presiden lainnya, Meral Aksener didukung 5-18% pemilh dalam berbagai survei. hanya saja ia belum tentu mampu mengambil mayoritas segmen pemilih nasionalis, dimana seluruh struktur established nasionalis (MHP) mendukung Erdogan. Rata-rata survei memperlihatkan bahwa sebagian besar pemilih MHP solid mendukung Erdogan. Mayoritas pemilih nasionalis juga mengakui bahwa Erdogan lebih baik dari segi pengalaman dan kharisma. Aksener terihat justru mengambil suara dari partai CHP, dimana berbagai pemilih CHP menganggapnya sebagai tokoh sekuler alternative. Bisa jadi, tingginya keterpilihan Aksener dalam beberapa survei adalah bogus (palsu), karena suara dukungan pada Aksener adalah suara pemilih CHP.

Terakhir, calon presiden dari partai CHP juga belum jelas. Ketua umum CHP Kemal Kilicdaroglu enggan menjadi calon presiden. Baik pengamat pro-Erdogan maupun pro-oposisi melihat ini sebagai ketidakmauan Kilicdaroglu mengambil resiko kalah. Tokoh lain, yang sebetulnya benar-benar berpotensi menggerus Erdogan adalah Muharrem Ince. Ia seorang kemalis, namun ia memiliki kemampuan orasi yang hebat, berani mengambil resiko dan didalam kesempatan tertentu setuju dengan beberapa kebijakan Erdogan. Hanya saja, pengurus DPP CHP yang diisi pendukung Kilicdaroglu tak akan mau mencalonkan Ince, karena berarti ia akan mendapat dukungan besar dari public dan akan mampu mendongkel Kilicdaroglu dari posisi ketua. Ince pun tak akan mau maju independen, karena ia berambisi menjadi ketua umum CHP. Tokoh-tokoh potensial lain adalah Ilhan Kesici dan Yilmaz Buyukersen. Mereka “orang”nya Kilicdaroglu, punya kapasitas intelektual, serta berpengalaman dalam memerintah. Hanya saja, secara nasional mereka tak punya pengaruh. Sulit untuk sekedar mengkhayalkan kesan “presiden” dari individu mereka.

Inilah yang membuat scenario kedua juga sulit berhasil, karena kedua segmen oposisi yang lebih kecil tidaklah dalam  kondisi ideal. Tokoh usungan CHP, komponn terbesar oposisi, pun belum muncul. Kurang dari 60 hari sebelum tanggal pilpres, jangankan meyakinkan rakyat Turki, siapa yang ditawarkan oposisi untuk masuk ke putaran kedua pun belum ada. Oposisi telah kehilangan momentum.

Lalu bagaimana dengan prospek kemenangan Erdogan?

(M. Radityo)

Sumber :Portal Islam 

Pemuda Atheis Seketika Diam 1000 Bahasa, Tak Disangka Begini Jawaban Sang Ulama

Pemuda Atheis Seketika Diam 1000 Bahasa, Tak Disangka Begini Jawaban Sang Ulama

Ilustasi (Sumber: Referensi pihak ketiga)

10Berita,  Suatu ketika, seorang atheis menemui seorang ulama. Ia ingin meruntuhkan aqidah bahwa seluruh makhluk di dunia ini diciptakan oleh Allah.

“Aku juga bisa menciptakan makhluk,” kata atheis tersebut.

“Kamu juga bisa menciptakan makhluk?”

“Ya”

“Coba buktikan”

Atheis itu lantas mengajak sang ulama pergi ke sebuah pohon. Ia membuat lubang di pangkal pohon besar tersebut, lalu meletakkan sepotong daging di dalamnya. “Sebulan lagi kita akan bertemu kembali di sini,” kata atheis itu setelah menutup lubang di pangkal pohon.

Sebulan kemudian, keduanya bertemu sesuai rencana. Orang atheis itu membuka lubang pada pangkal pohon sembari tersenyum penuh kemenangan. “Lihatlah, di dalamnya telah ada banyak cacing. Itu adalah makhluk. Aku telah berhasil menciptakan makhluk. Apakah dengan demikian aku layak disebut Tuhan? Katamu Allah itu Tuhan yang Maha Pencipta. Buktinya aku bisa menciptakan makhluk”

Sang ulama tetap tenang. Begitu orang atheis tersebut diam, sang ulama bertanya, “Berapa jumlah cacing yang kau ciptakan itu?”

“Aku.. aku belum menghitungnya”

“Berapa jumlah yang jantan dan berapa jumlah yang betina?”

“Aku tidak tahu”

“Cacing yang katanya kau ciptakan ini sebagiannya merayap ke pohon, hendak ke mana mereka? Apa yang mereka makan hari ini dan kapan mereka mati?”

“Tentu saja aku tidak tahu”

“Subhanallah. Engkau mengklaim sebagai pencipta cacing-cacing tersebut, tetapi engkau tidak tahu jumlahnya. Engkau tidak tahu berapa yang jantan dan berapa yang betina. Engkau tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Engkau tidak tahu mereka makan apa. Engkau juga tidak tahu kapan mereka mati. Pencipta macam apa kau ini?” mendengar cercaan bertubi-tubi itu, atheis tersebut diam seribu bahasa. Ia tak sanggup berkata apa-apa.

Persis seperti Fir’aun ketika mengaku Tuhan dan diminta oleh Nabi Musa untuk menerbitkan matahari dari barat, “fabuhital ladzii kafar” maka terbungkamlah mulut orang kafir itu.

Sumber :www.bersamadakwah.net