OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 24 April 2017

Hai Ahokers , Belum Dilantik, Sudah Ditagih…

Hai Ahokers , Belum Dilantik, Sudah Ditagih…


Oleh: @JonruGinting

Duhai Para Ahokers, Tidak Ada yang Salah dengan MENAGIH JANJI.

Anda menagih janji kampanye Anies-Sandi, ya saya SANGAT SETUJU. Saya sebagai pendukung mereka, justru punya alasan yang jauh lebih kuat untuk menagih janji-janji mereka.

Sebab sebagai pemilih, saya punya tanggung jawab yang sangat besar terhadap pilihan saya. Jika saya tidak menagih janji, justru itu artinya saya tidak bertanggung jawab terhadap pilihan saya.

Karena itu, justru saya dan para pendukung Anies-Sandi lainnya insya Allah akan menjadi orang pertama yang akan menagih janji-janji Anies Sandi.

Jika Anies Sandi nanti terbukti ingkar janji, maka kami pula akan menjadi orang pertama yang akan mengkritik mereka.

Kami bukan tipe pencinta buta seperti Anda, yang berprinsip “junjunganku selalu benar, tak mungkin salah.”

Jadi Para Ahokers Sekalian, Tidak Ada yang Salah dengan MENAGIH JANJI. Kami Sama Sekali TIDAK MENYALAHKAN Anda yang Menagih Janji Anies Sandi.

Justru, kami akan dengan sangat senang hati, bekerja sama dengan Anda dalam menagih janji Anies Sandi.

Yang Kami Permasalahkan Adalah:

(1). TAGIHAN ANDA TERLALU DINI
Ingat: Anies Sandi baru akan dilantik Oktober 2017 nanti. Ibarat tagihan kartu kredit yang baru akan jatuh tempo tanggal 20 Oktober 2017, tapi Anda sudah mendatangkan debt collector pada tanggal 20 April 2017. Ini tindakan yang sangat konyol, Para Pemirsa Sekalian!

Mbok ya sabaran dikit gitu lho. Tunggu hingga Anies Sandi dilantik. Bisa?

(2) ANDA BERSTANDAR GANDA
Dulu saat kampanye, Jokowi dan Ahok juga mengumbar banyak sekali janji. Namun Anda TIDAK PERNAH MENAGIHNYA. Padahal Anda sebagai pemilih Jokowi, tentu bertanggung jawab penuh atas pilihan Anda. Seharusnya Anda sebagai pemilih merasa sangat kecewa karena Jokowi dan Ahok tidak menepati janji.

Namun apa yang terjadi?

Di saat kami yang menagih janji Jokowi, Anda menuduh kami tukang fitnah, provokator, gagal move on, masih sakit hati karena jagoannya kalah, dan sebagainya.

Tuduhan yang sangat menyakitkan. Namun alhamdulillah, untungnya kami SANGAT SABAR menghadapi semua tuduhan tersebut. Sebab tuduhan-tuduhan Anda itu memang hanya tuduhan ngasal bin ngawur plus kacau balau.

Dengan kemenangan Anies-Sandi, dan munculnya perilaku Anda seperti poin (1) dan (2) di atas, semoga ANDA MULAI SADAR bahwa tuduhan-tuduhan Anda terhadap kami tersebut ternyata kini MENJADI BUMERANG bagi Anda sendiri.

Sebab justru kini terbukti, Anda semualah yang melakukan semua itu.

Anda ternyata terbukti gagal move on, masih sakit hati karena jagoannya kalah. Dan hanya beberapa hari setelah kemenangan Anies Sandi, saya menemukan sejumlah posting yang isinya memfitnah dan menjelek-jelekkan Anies Sandi beserta para pendukung mereka.

Duh! Apa yang Anda lakukan hari ini, kok sama persis dengan semua yang dulu kalian tuduhkan terhadap kami, ya?

Semoga Anda semua cepat sembuh dari stress akibat sebuah kekalahan, yang sebenarnya hanya hal biasa di dalam demokrasi.

Setiap orang seharusnya siap untuk menang, siap untuk kalah.

Jika menang, dia tidak sombong. Jika kalah, dia legowo. Kami sebenarnya sudah menerapkan ini, alhamdulillah. Kami pernah kalah, dan kini menjadi pemenang.

Ketika kalah kami legowo. Namun tentu kami sebagai warga negara merasa punya tanggung jawab untuk mengontrol pemerintahan dengan cara mengkritik mereka, mengingatkan mereka jika berbuat salah. Itu baru warga negara yang baik namanya.

Dan ketika menang, kami berusaha untuk tidak sombong, tidak balas dendam kepada Anda yang dulu rajin membully, menghina,bahkan memfitnah..

Kami bahkan berusaha untuk merangkul Anda, agar kita bekerja sama membangun Indonesia dan Jakarta.

Semoga Anda semua menyadari hal tersebut.

Salam Sembako #eh :-)

Jakarta, 23 April 2017
Jonru Ginting

*_Emang klo orang panik itu suka salah langkah y…makanya gak usah panikan…_*
Salam 👌🏼k 👌🏼ce

Sumber: Eramuslim

PENUH KEGANJILAN JPU Kasus Ahok Dilaporkan ke Komisi Kejaksaan

PENUH KEGANJILAN
JPU Kasus Ahok Dilaporkan ke Komisi Kejaksaan

10Berita-BANTUL,Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah akan melaporkan Jaksa Penuntut Umum kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Komisi Kejaksaan karena tuntutan satu tahun yang disampaikan bertolak belakang. Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, apa yang dilakukan jaksa yang menuntut Ahok satu tahun penjara masa percobaan dua tahun itu justru tidak sesuai dengan keterangan saksi yang dihadirkan.
“Tuntutan itu justru mengkhianati diri sendiri karena banyak ‘miss’ antara apa yang disampaikan saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum dengan tuntutannya sendiri.Jadi aneh, banyak keganjilan yang dilakukan jaksa penuntut umum. Oleh sebab itu kami akan melaporkan JPU ke Komisi Kejaksaan,” katanya usai apel akbar Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) se-Bantul, sebagaimana yang dikutip dari Republika Ahad (23/4).

Menurut Dahnil, apa yang dilakukan JPU atas tuntutan kepada Ahok tersebut jelas ada pengaruh intervensi oleh Kejaksaan Agung sehingga selain melaporkan JPU ke Komisi Kejaksaan, Jaksa Agung direkomendasikan agar dicopot. “Bahkan saya secara resmi kepada Pak Jokowi minta Jaksa Agung dicopot saja karena bagi kami Jaksa Agung tidak berdiri atas nama kepentingan hukum,” katanya.

Dahnil mengatakan, Jaksa Agung sudah berdiri atas nama kepentingan partai politik dia sendiri karena Jaksa Agung tersebut merupakan kader Partai Nasional Demokrat (Nasdem). “Kemudian dia justru terkesan membela atau melindungi Ahok dari hukum. Rabu nanti kami laporkan secara resmi ke Komisi Kejaksaan. Dan saya sudah sampaikan waktu bertemu dengan Pak Jokowi supaya Jaksa Agung saya pikir perlu dievaluasi,” katanya.

Ketika ditanya terkait tahapan yang akan dilakukan selanjutnya jika upaya yang akan ditempuh tidak mendapat tanggapan, Dahnil akan menempuh jalur hukum. “Tentu kami melakukan upaya hukum berikutnya, kami berharap dari hakim,” kata Dahnil.

Sumber: Muslimdaily

Bayangkan Jika Ahok Pidato "Jangan Mau Dibohongi dan Dibodohi Pakai Adat Bali.."

Bayangkan Jika Ahok Pidato "Jangan Mau Dibohongi dan Dibodohi Pakai Adat Bali.."


10Berita-Pasca kalah telak di Pilgub DKI 2017, Kini sebuah petisi muncul mendorong agar Ahok ikut dalam Pilgub Bali yang akan berlangsung Juni 2018. Di sosial media juga ramai tagar #AhokForBali1.

Namun, petisi ini ternyata mendapat penolakan dari warga Bali yang mayoritas Hindu.

"Jangan jadi gubernur Bali. Meskipun saya suka kerjanya ahok, sebagai orang bali saya lebih suka punya gubernur orang bali hindu. Masih banyak jabatan lain yg lebih pantas buat pak ahok. Ayo pak tetep semangat," ujar salah satu komentar di sosial media.

"Betol itu," timpal Kadek Sugiartha

"Pulau Bali beda. Yg mau jadi pemimpin harus diupacarai secara hindu Bali dan scr tdk langsung beragama harus hindu. Bukan krn tidak toleran tapi untuk menjaga kekuatan yg menjadi sumber daya tarik pulau kami,” kata Ida Bagus Udyana Putra.

NAH, Bisa dibayangkan kalau Ahok berpidato mengatakan kepada orang Bali yang tidak mau memilihnya: "Jangan mau dibohongi dan dibodohi pakai adat Bali..".

Bagaimana kira-kira reaksi masyarakat disana..?

Mudah-mudahan pemeluk agama lain bisa memahami mengapa umat Islam marah ketika Kitab Sucinya dinistakan dianggap sebagai alat "pembodohan" dan menuduh "dibohongi" oleh para ulama yang mengajarkan Al Maidah 51.

(Arda Chandra)

Sumber: Portal Islam

Hanya di Rezim Jokowi Kasus Penistaan Agama Dituntut Hukuman Percobaan

Hanya di Rezim Jokowi Kasus Penistaan Agama Dituntut Hukuman Percobaan

10Berita-JAKARTA–Jaksa Penuntut Umum memberikan tuntutan terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan hukuman dua tahun percobaan atas kasus dugaan penistaan agama yang dilakukannya. Pengamat Kepolisian M Nasser menilai itu merupakan kasus pertama yang dituntut hukuman percobaan.

“Ini adalah kasus pertama di tanah air penista agama dituntut percobaan,” kata M Nasser, dilansir Republika, Mingggu (23/4/2017).

Nasser menyatakan, keprihatinannya terhadap penegakan hukum Ahok yang terkesan seperti adanya intervensi dari pihak-pihak tertentu.

“Kita semua prihatin karena penegakan hukum masih dapat dibelok-belokkan sesuai keinginan yang punya hajat,” katanya.

Dikatakan Nasser, penegakan hukum yang adil, seyogyanya tidak memihak. Keberpihakan atau tidaknya suatu hukum, kata dia, bisa menjadi indikator peradaban suatu bangsa.

Nasser juga memberikan apresiasi pada Kapolri yang telah membuktikan Polri berani menyidik Ahok secara profesional.

Apresiasi dirinya atas Polri, dapat dimaknai agar penegak hukum lain bisa seperti seberani dan seprofesional polisi dalam meneggakkan hukum.

Namun, kata dia, JPU sangat disayangkan tidak mengimbangi kinerja (perfomance) Polri yang profesional.

“Polri gagah berani menetapkan Ahok sebagai tersangka karena memang unsur-unsur terpenuhi,” tandasnya. []

Sumber: Islampos


Anak SD di Papua Saja Tahu Kalau Ahok Menista Agama. Ahok Sebut Al-Quran Tipu-tipu

Anak SD di Papua Saja Tahu Kalau Ahok Menista Agama. Ahok Sebut Al-Quran Tipu-tipu


10Berita., Fakfak- Siapa sangka kasus penistaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta, Ahok menjadi perhatian warga Papua. Lebih-lebih seorang anak Papua kelas lima Sekolah Dasar (SD).

Pada Ahad (23/04) Fardi Anugerah Lamau, bocah Kampung Kayu Merah mengikuti serangkaian lomba yang digelar oleh Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN). Fardi mengatakan bahwa ia mengikuti lomba adzan. Ia datang bersama kawan-kawan sebayanya.

Saat di sela-sela menunggu giliran lomba azan, Kiblat.net berbincang dengan Fardi. Ketika ditanya prihal Ahok, ia mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta itu telah menghina Islam.

“Dia adalah orang yang menghina agama Islam,” ungkap bocah yang biasa dipanggil Elo itu.

Menurutnya, Ahok telah menghina Islam karena menyebut Al-Quran bohong. “Dia bilang Al-Quran tipu-tipu,” ujarnya.

Selain itu, Fardi juga meminta agar Ahok dipenjara selama setahun. Teman Fardi, Fahlan menyebut bahwa Ahok pantas dipenjara selama lima tahun atas perbuatannya.

“Dia (Ahok.red) dipenjara selama lima tahun,” ujar Fardi.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Syafi’i Iskandar

Sumber: Kiblat.net


Jika Ahok Bebas, Maka Berhati-Hatilah…

Jika Ahok Bebas, Maka Berhati-Hatilah…

10Berita – Pengamat sosial Devie Rahmawati menyebut bakal ada aksi besar-besaran jika terdakwa penistaaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bebas dari tuntutan hukum.

Menurut Devie, dengan bebasnya Ahok, bisa memicu luapan emosi massa yang merasa diperlakukan tidak adil.

“Sangat mungkin (ada aksi massa). Kekecewaan masyarakat begitu tinggi, karena hukum tak memberikan keadilan,” kata Devie kepada Kriminalitas.com di Jakarta, Minggu (23/4/2017).

Devie menambahkan, jika Ahok bebas maka bisa menggiring opini masyarakat bahwa dia benar-benar dilindungi pemerintah.

“Jika Ahok bebas, ini memperkeras dan mengkristalkan opini bahwa memang hukum itu akan sangat lembut pada elite tapi akan sangat keras pada rakyat,” tutupnya.

Sementara itu, Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab menggalang kekuatan untuk mengerahkan massa agar turun ke jalan. Hal ini dilakukan agar Ahok segera dipenjara terkait kasus dugaan penistaan agama. Mereka menilai, tuntutan kepada Ahok sangatlah rendah.

Aksi seperti ini sudah berlangsung berkali-kali dengan tuntutan yang sama, yakni memenjarakan Ahok. Namun, belum diketahui secara pasti kapan aksi demo ini akan berlangsung. (rg/krm)


Sumber: eramuslim

Biaya Kampanye 31,7 M Suara Ahok-Djarot Malah Melorot, Anies-Sandi Cuma 17,9 M Suara Meningkat Pesat

Biaya Kampanye 31,7 M Suara Ahok-Djarot Malah Melorot, Anies-Sandi Cuma 17,9 M Suara Meningkat Pesat


10Berita- Pilkada DKI Jakarta 2017 akhirnya selesai digelar pada Rabu 19 April lalu. Pasangan Anies Rasyid Baswedan - Sandiaga Salahudin Uno menang telak mengalahkan petahana/incumbent Ahok-Djarot.

Salah satu hal yang cukup menarik adalah bahwa gelontoran uang kampanye ternyata tidak menjamin bakal menang Pilkada.

BUKTI nya, pada putaran kedua, pasangan Ahok-Djarot mengeluarkan biaya kampanye Rp 31,7 Miliar hampir 2x lipat dibanding Anies-Sandi yang hanya Rp 17,9 Miliar, tapi perolehan suara Ahok-Djarot bukannya MENINGKAT malah justru MELOROT dibanding suara yang diperoleh pada putaran pertama.

Pada putaran pertama Ahok-Djarot meraih suara = 2.357.785
Pada putaran kedua suara Ahok-Djarot = 2.351.245

Biaya kampanye besar malah suara Ahok-Djarot jadi minus (-)/berkurang 6540. Padahal sudah berton-ton sembako dan puluhan sapi dikerahkan hehe...

Hal sebaliknya, pasangan Anies-Sandi dengan biaya kampanye cuma separonya, tapi suara malah meningkat pesat.

Pada putaran pertama Anies-Sandi meraih suara = 2.193.530
Pada putaran kedua suara Anies-Sandi = 3.240.332

Atau meningkat/bertambah sebanyak = 1.046.802

Pertarungan Pilkada DKI 2017 bagaikan Tholut melawan Raja Jalut. Dan Allah SWT berikan kemenangan.

ڪَم مِّن فِئَةٍ۬ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةً۬ ڪَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ‌ۗ

"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah." (QS Al-Baqarah: 249)

ALHAMDULILLAH.... Ini semua atas pertolongan Allah SWT bagi yang berjuang membela agamaNya.

*NB:
Hasil resmi KPU putaran pertama: https://pilkada2017.kpu.go.id/hasil/t1/dki_jakarta
Hasil resmi KPU putaran kedua:https://pilkada2017.kpu.go.id/hasil/2/t1/dki_jakarta

Biaya kampnye putaran kedua:
https://news.detik.com/berita/d-3475674/kampanye-putaran-dua-ahok-djarot-habiskan-rp-317-miliar
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/16/11153141/anies-sandi.habiskan.rp.17.9.miliar.pada.kampanye.putaran.kedua

Sumber:  Portal Islam

Isu Panglima TNI diganti dan Isu Makar yang Dihembuskan Jaringan Istana Dan Kawanan Kotak-Kotak

Isu Panglima TNI diganti dan Isu Makar yang Dihembuskan Jaringan Istana Dan Kawanan Kotak-Kotak

10Berita — Tudingan jurnalis asal Amerika Serikat, Allan Nairn bahwa Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo turut mendukung rencana makar untuk menggulingkan Presiden Joko Widodo adalah fitnah keji.

Isu tersebut patut dicurigai sengaja digulirkan oleh jaringan Istana untuk mencari alasan mempercepat pergantian Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Terlebih isu yang dihembuskan oleh Allan Nairn muncul bersamaan dengan pernyataan Jokowi yang memberi sinyal adanya rencana reshuffle kabinet. Begitu pendapat Ketua Progres 98, Faizal Assegaf melalui pesan whatsappnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, hari ini (Minggu, 23/4).

"Sudah menjadi rahasia umum bahwa Allan Nairn ikut berperan besar memenangkan Jokowi di Pilpres 2014. Dan hingga kini hubungan kedua pihak sangat mesra dan intensif," terangnya.

Bahkan kabarnya, lanjut Faizal, Allan Nairn dan Duta Besar RRT untuk Indonesia, Xie Feng terlibat bekerja sama dengan jaringan intelijen Tiongkok untuk membantu Jokowi menghadapi pengaruh TNI di Indonesia. Sehingga, menurut dia, tidak mengherankan jika manuver Allan Nairn untuk menyudutkan Panglima TNI Jenderal Gatot dengan isu makar.

"TNI dan rakyat harus kompak untuk menolak Presiden Jokowi mencopot Jenderal Gatot," tegas dia.

Faizal menekankan, tidak seyogyanya pergantian Panglima TNI atas dasar kekalahan Ahok dan intervensi kepentingan intelijen asing.

"Jabatan Panglima TNI sangat vital dan strategis, harus dilindungi dan mempertahankan masa jabatan Jenderal Gatot hingga berakhir pada tahun 2018," jelas Faizal. 

Sumber: Sujanews.com


Anies: Media Asing Boleh Tulis Apa Saja

Anies: Media Asing Boleh Tulis Apa Saja

10Berita-JAKARTA – Berbagai media asing turut menyoroti proses Pilkada DKI Jakarta 2017 selama beberapa bulan terakhir, Bahkan menyebutkan bahwa kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno  dalam hitungan cepat beberapa lembaga survei sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta didukung oleh kelompok radikal.

“Orang boleh nulis apa saja, apalagi yang jauh-jauh. Enggak tahu apa yang terjadi di Jakarta dengan detail,” kata Anies di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Minggu, 23 April 2017 seperti dikutip dari BeritaSatu

Dengan tegas Anies mengatakan bahwa ia akan tetap memastikan gubernur di Jakarta adalah gubernur untuk semuanya yang menjalankan undang-undang, mengikuti konstitusi dan menghadirkan kedamaian.

“Kami Insya Allah akan menghadirkan kedamaian. Nanti kita tunjukkan dengan kebijakan dan langkah-langkah kita,” ujar Anies.

Seperti diketahui dalam pemberitaan di New York Times dan The Wall Street Journal menuliskan, bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias tidak dapat pulih dari kerusakan kelompok Islam yang menggunakan agama sebagai senjata politik, kendati ada peraturan pemerintah yang telah puluhan tahun melarang tindakan semacam itu.

Selain itu disebutkan kekalahan Ahok akan memperkuat kelompok Islam garis keras untuk menekan pemerintah Jakarta dan nasional agar menerapkan agenda ultrakonservatif, termasuk menerapkan hukum Islam dan melarang penjualan alkohol.

“Alhamdulillah kita bersyukur bahwa syukuran itu banyak di mana-mana oleh rakyat kecil. Jadi ini sebuah amanat besar, karena itu kita siap-siap,” pungkasnya.[]

Sumber: Islampos


Warga Hindu Bali Tolak Ahok Jadi Gubernur Kok Tak Disebut INTOLERAN/ANTI-BHINNEKA, Beda Kalau Umat Islam

Warga Hindu Bali Tolak Ahok Jadi Gubernur Kok Tak Disebut INTOLERAN/ANTI-BHINNEKA, Beda Kalau Umat Islam


10Berita- Pasca kalah telak di Pilgub DKI 2017, Kini sebuah petisi muncul mendorong agar Ahok ikut dalam Pilgub Bali yang akan berlangsung Juni 2018.

Petisi agar Ahok menjadi Bali 1 dibuat oleh Wika Ganesha pada Rabu (19/4), masih di hari pelaksanaan Pilkada DKI.

Wika menilai Pilkada DKI mencerminkan ketidakadilan demokrasi, serta tidak sejalan dengan rasionalitas. Dia berharap kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI tidak membuat lelaki asal Bangka Belitung itu jadi ciut. Sebaliknya dia memandang Ahok sebagai aset bangsa yang harus diselamatkan dan dimanfaatkan.

"Petisi ini ditujukan untuk menggalang dukungan Ahok menjadi Gubernur Bali, bukan hanya untuk warga Bali, melainkan juga untuk warga Indonesia, bahwa Ahok merupakan individu yang tepat untuk Bali 1 atau Guberur Bali," tulis Wika.

"Apa yang ditunjukkan pada PILKADA DKI hari ini merupakan contoh yang sahih 'ketidakadilan' demokrasi, bahwa ia tidak harus sejalan dengan nilai-nilai universal dan rasionalitas," urai Wika.

Namun, petisi ini ternyata mendapat penolakan dari warga Bali yang mayoritas Hindu.

"Jangan jadi gubernur Bali. Meskipun saya suka kerjanya ahok, sebagai orang bali saya lebih suka punya gubernur orang bali hindu. Masih banyak jabatan lain yg lebih pantas buat pak ahok. Ayo pak tetep semangat," ujar salah satu komentar di sosial media.

"Betol itu,” timpal Kadek Sugiartha

Penolakan warga hindu Bali ini pun ditimpali oleh warga muslim, katanya Bali orang paling toleran no.1 kok tolak Ahok.

"Bagos ajarin tuh si Ahok ga perlu bawa bawa agama islam lagi lain kali, dah tau toh dampaknya? Mau jadi gubernur lagi dah ga bisa. Ajak aja dia jadi gubernur di Bali. Katanya lo orang paling toleran no 1? Coba mana buktikan klo bali itu toleransi dgn agama lain. Wkwk," timpal netizen muslim.

“Pulau Bali beda mbak. Yg mau jadi pemimpin harus diupacarai secara hindu Bali dan scr tdk langsung beragama harus hindu. Bukan krn tidak toleran tapi untuk menjaga kekuatan yg menjadi sumber daya tarik pulau kami,” balas Ida Bagus Udyana Putra.


PENOLAKAN warga hindu Bali ini tidak mendapat reaksi dari Bani Taplak maupun aktivis JIL yang biasanya jualan Toleransi, Bhinneka, Pluralisme, apalah apalah.

Mereka mingkem. Karena sejatinya selama ini bukan persoalan BHINNEKA maupun TOLERANSI, tapi karena sejatinya mereka BENCI ISLAM.

Jadi kalau yang 'INTOLERAN' atau 'ANTI BHINNEKA' bukan dari kalangan Islam, maka tak dipersoalkan.

Sumber: Portal Islam