OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 08 Maret 2017

Geliat Islam di Negara Orang Jujur

10Berita-JAKARTA -- Burkina Faso. Negara di Afrika Barat yang terkurung daratan itu mayoritas penduduknya beragama Islam. Menurut data yang dihimpun Pew Research Center  dalam laporan Pemetaan Populasi Muslim di dunia pada 2009, sebanyak 59 persen penduduk negeri yang dulunya dikenal dengan nama Republik Volta Hulu (Upper Volta) itu adalah Muslim.

Jumlah pemeluk Muslim di negara yang berbatasan dengan Mali di sebelah utara; Togo dan Ghana di selatan; Niger di timur, Benin di tenggara; dan Pantai Gading di barat daya itu mencapai 9,29 juta jiwa. Burkina Faso merupakan nama yang diberikan Presiden Thomas Sankara, saat memimpin negeri itu pada 4 Agustus 1984.

Sejak kapan Islam bersemi di Negara Orang Jujur itu? Adalah emas yang membuka jalan bagi umat Islam untuk masuk ke Burkina Faso, sebuah negara miskin di daerah Afrika Barat. Sebelumnya, dari abad XI sampai  XIX, Burkina Faso didominasi oleh Kerajaan Mossi.

Kerajaan ini sangat ketat dengan agama yang dianut oleh masyarakatnya. Dengan segala cara mereka berupaya untuk membentengi masyarakatnya dari agama asing, termasuk Islam. Celah masuknya Islam ke negara itu baru terbuka pada sekitar abad XV.

Ladang emas akan yang dibuka untuk publik mampu membetot perhatian pedagang Muslim. Melihat adanya peluang keuntungan, para saudagar Muslim pun membangun tempat tinggal di negara yang sempat menjadi koloni Prancis itu. Daerah-daerah di Afrika Barat memang dipercaya memiliki kandungan emas yang banyak.

Daerah kaya emas itu berada di daerah Greenstone Belts. Sabuk emas itu membentang sepanjang tiga juta kilometer persegi di Afrika Barat. Burkina Faso dipercaya memiliki cadangan sekitar 21 persen dari sabuk tersebut. Selain karena emas, para pedagang juga melihat adanya kesempatan memperjualbelikan kacang kola dan garam.

Para saudagar Muslim itu sebagian besar berasal dari orang-orang berbahasa Soninke dari daerah Timbuktu dan Djenne. Lama kelamaan mereka mengadaptasi dialek suku Malinke yang kemudian membuat mereka disebut orang-orang Dyula. Mereka membangun tempat tinggal di Kota Bobo-Dyulasso, Kong, Bunduku, atau kota lain yang dekat dengan ladang emas.

Islam mulai menyebar melalui perkawinan antara para saudagar Muslim dan penduduk setempat. Seiring waktu, generasi-generasi Muslim baru bermunculan dari hasil perkawinan tersebut. Komunitas Muslim pun semakin meluas. Kelompok Muslim pun tanpa terasa sudah dianggap menjadi bagian dari masyarakat Kerajaan Mossi.

Sumber: Republika

Related Posts:

  • Penjaga Terakhir Persatuan Dunia IslamPenjaga Terakhir Persatuan Dunia Islam 10Berita , JAKARTA -- Turki Usmani adalah salah satu kesultanan yang memiliki sejarah paling panjang. Catatan-catatan lama dari para ahli sejarah telah mengurai kisah-kisah heroik … Read More
  • 250 Pemuda Hijrah Semarang Akan Ikut Reuni 212250 Pemuda Hijrah Semarang Akan Ikut Reuni 212 10Berita - SEMARANG – Komunitas Pemuda Hijrah Semarang akan memberangkatkan250 orang anggotanya untuk mengikuti Reuni Akbar 212 di Jakarta pada 2 Desember mendatang. ̶… Read More
  • Oxford Cabut Penghargaan dari Aung San Su Kyii Oxford Cabut Penghargaan dari Aung San Su Kyii 10Berita - OXFORD, INGGRIS - Kota Oxford Inggris telah menanggalkan sebuah penghargaan bergengsi yang pernah mereka berikan kepada penguasa de facto Myanmar Aung San Suu Kyi ata… Read More
  • Mengikis Keraguan Dalam Doa KitaMengikis Keraguan Dalam Doa Kita    10Berita - Sahabat , dalam hidup kita selalu dihadapkan dengan pilihan. Bahkan, jika kita tidak memilih, itu termasuk pilihan kita untuk tidak memilih. Dalam hal apapun, bisa saj… Read More
  • Masyarakat Kanada Belum Pahami Visi IslamMasyarakat Kanada Belum Pahami Visi Islam 10Berita ,  JAKARTA -- Islam dan hukumnya sangat disalahpahami di Kanada dan juga di dunia Barat pada umumnya. Dia menemukan bahwa ketidaktahuan tentang Islam, tak terkecua… Read More