
Penyair Uyghur, Aziz Isa Elkun, menggambarkan dirinya sebagai “saksi hidup Pembantaian 5 Juli” (Courtesy of Aziz Isa Elkun)
10Berita, TURKISTAN TIMUR (The China Project) – Empat belas tahun yang lalu, pada musim panas 2009, tuduhan palsu tentang pemerkosaan yang dilontarkan oleh pekerja Cina Han menyebabkan pembunuhan terhadap pekerja Uyghur di pabrik mainan di wilayah Cina selatan.
Rezim komunis Cina menyataka hanya dua orang pekerja Uyghur yang terbunuh dalam insiden itu. Namun, Abduweli Ayup mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan menunjukkan 36 orang Uyghur tewas dan 126 lainnya terluka dalam insiden Shaoguan tersebut.
Hal tersebut memicu protes di ibu kota tanah air Uyghur di Urumqi, Turkistan Timur. Awalnya, mahasiswa di Urumqi memprotes secara damai kegagalan Beijing menghukum para pembunuh di pabrik mainan.
Namun, sikap represif aparat menyebabkan ketegangan memuncak dan mengubah aksi damai itu menjadi kekerasan.
Menurut data rezim komunis, sebanyak 197 orang meninggal dan 1.721 lainnya luka-luka. Sementara itu, jumlah tidak resmi dari saksi mata dan aktivis sangat bervariasi.
Betapapun suramnya tanggal 5 Juli 2009, peristiwa “Lima- Tujuh” atau pembantaian Urumqi tersebut adalah hari yang akan terus diperingati dan diyakini oleh Muslim Uyghur sebagai awal mula genosida yang dilakukan rezim komunis Cina.
The China Project berbicara dengan tiga saksi mata pembantaian tersebut, yang masing-masing masih mengingat “Lima-Tujuh” seolah-olah baru terjadi kemarin.
Gulnur
Gulnur meninggalkan Xinjiang 20 tahun lalu untuk belajar di Inggris hingga dia memiliki tiga anak di luar negeri. Namun, ia tetap merindukan rumah, dan sangat bersemangat di musim panas 2009 ketika membawa anak-anaknya pulang ke tanah air untuk memperkenalkan mereka kepada keluarga dan teman di kampung halaman.
Mereka mendarat di Urumqi tepat tanggal 5 Juli 2009. Langit biru terlihat cerah sempurna. Bunga-bunga indah berjajar di jalan dari bandara. Semuanya tampak baik-baik saja dan dia senang bisa kembali berada di rumah. Sore itu suasana penuh bahagia saat mereka saling memberi hadiah dan melepas rindu.
Namun, itu semua berubah seketika menjadi kelam ketika saudara perempuannya tiba-tiba menyuruhnya masuk ke ruang belakang yang gelap di mana dia disuruh tetap diam.
Berita terkini di TV lokal yang dikelola pemerintah menyalahkan warga negara asing karena telah memicu kerusuhan hebat dan melakukan pembunuhan di Kota Urumqi. Seluruh keluarganya tiba-tiba dicurigai.
“Sejauh yang mereka ketahui, saya sekarang adalah warga asing,” ucap Gulnur, “kami tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi tiba-tiba semua mengkhawatirkan nyawa kami.”
Laporan peristiwa yang simpang siur ditambah pemblokiran akses informasi seketika menambah runyam kondisi ketika itu, di tengah meletusnya kekerasan di setiap pinggiran kota.
Warga Uyghur diberitakan membuat onar dengan senjata tajam dan bom molotov lalu mengamuk di seluruh kota, membakar serta menjungkirbalikkan bus dan mobil, menghancurkan jendela toko-toko, dan membunuh orang yang tidak bersalah.
Sebagai reaksi, tembakan senapan mesin dari aparat memecah keheningan udara malam. Setelah polisi memutus saluran telepon dan internet, penembakan berhenti. Seorang sepupu yang pergi keluar bergegas kembali dan mengatakan bahwa dia telah melihat truk-truk yang penuh dengan mayat.
“Dia berteriak bahwa kita semua akan menjadi yang berikutnya,” ucap Gulnur.
Sekira pukul 1:30 pagi, sebuah pengeras suara yang dipasang di atas mobil van melewati apartemen itu dan berteriak “Allahu Akbar!” Pengunjuk rasa Uyghur yang melarikan diri dan bersembunyi di sekitar lingkungan apartemen itu terpancing keluar oleh suara yang dianggap sebagai seruan kemenangan Uyghur. Namun, deruan senapan mesin terdengar lagi.
“Itu jebakan,” sebut Gulnur.
“Hal itu berlangsung sampai malam. Mereka menyingkirkan setiap tanda bahwa telah terjadi pembantaian. Pada pagi hari, mayat dan darah (di jalanan) telah menghilang.”
Sampai hari ini, Gulnur menyangsikan angka resmi korban dari pemerintah. Ia ingat, ketika melihat ke bawah dari jendela lantai 13 apartemen malam itu, terdapat banyak tumpukan mayat Uyghur di truk-truk yang bersiap mengangkutnya.
“Saya menyaksikan ratusan mayat,” tegas Gulnur, “saya terkadang masih melihat mereka ketika saya menutup mata.”
Tiga hari kemudian, Wang Lequan, Sekretaris Partai Komunis Xinjiang, muncul di televisi nasional menyalahkan etnis Uyghur atas kekerasan tersebut dan mendesak Han Cina untuk membalas dendam. Dan mereka melakukannya. Dengan berbagai senjata, mereka juga mengamuk di Urumqi untuk membalas dendam, membunuh warga Uyghur yang mereka temui.
“Hidup saya berubah selamanya setelah peristiwa ini,” kata Gulnur.
Wang Lequan digantikan oleh Chen Quanguo, yang mulai tahun 2016 meluncurkan kebijakan untuk mengumpulkan warga Uyghur secara massal, menerapkan pengawasan 24/7 di seluruh Xinjiang, memaksa sterilisasi terhadap Muslimah Uyghur, dan memulai penghapusan budaya maupun bahasa Uyghur secara sistematis.
Sejak kebijakan Chen Quanguo digulirkan, Gulnur tidak berani menghubungi atau mencari lagi adik perempuannya.
“Saya benar-benar kesulitan karena situasi ini dan kesehatan saya ikut terimbas,” kata Gulnur, “tidak ada yang bisa menggambarkan rasa sakit yang saya rasakan.”
Aigul
Aigul, yang mengubah nama dan identitasnya karena apa yang disaksikannya pada “Lima-Tujuh”, berbicara dari rumah pengasingannya di Istanbul.
Meskipun ia telah menjadi warga negara Turki, dia masih takut dengan jangkauan kuat Beijing dan ancaman untuk kembali ke penjara terbuka yang dulu menjadi rumahnya.
Aigul adalah seorang mahasiswa yang ikut bergabung dengan massa yang marah di pusat kota Urumqi pada 5 Juli 2009. Polisi menembakkan gas air mata ke arahnya dan teman-temannya.
Untuk melarikan diri dari kendaraan lapis baja dan tentara dengan senapan mesin yang terus bertambah, Aigul berlari secepat mungkin ke rumah seorang teman di mana dia bisa berlindung semalaman.
Dalam perjalanannya, Aigul melihat polisi Han bertengkar dengan petugas Uyghur yang menolak untuk menembak saudara sebangsanya.
Sepanjang malam, satu-satunya suara yang bisa didengar Aigul hanyalah tembakan diikuti oleh jeritan dan teriakan siswa yang meminta bantuan.
Dia terlalu takut untuk melihat ke luar jendela selama penembakan, tetapi sekira pukul 2 pagi dia memberanikan diri membuka tirai dan melihat darah sudah di mana-mana.
“Pada pagi hari, sebagian besar darah telah dibersihkan,” jelasnya, “tetapi, masih ada bekasnya. Saya bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada malam hari itu.”
“Kami semua sangat ketakutan, tetapi lambat laun warga mulai menyebut kerabat dan temannya yang hilang,” lanjut Aigul, “orang-orang menangis karena saudara laki-laki, anak, dan suami mereka telah hilang. Ada begitu banyak cerita seperti ini.”
“Suami teman yang seorang aparat mengabarkan bahwa ia menjaga penjara yang penuh dengan (warga Uyghur) tua dan muda, kaki mereka dibelenggu dengan rantai besi,” kata Aigul.
“Salah satu teman sekamar saya menghilang setelah keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dia tidak pernah muncul kembali. Selama tiga bulan, saya sangat ketakutan atas semua yang telah saya saksikan.”
Aigul mempertimbangkan untuk menyelamatkan diri dari Xinjiang untuk bergabung dengan gerakan perlawanan Uyghur di luar negeri dengan pemuda yang kemudian dinikahinya.
“Kami sangat marah. Kita bisa melihat dari reaksi pemerintah terhadap protes damai bahwa bangsa Uyghur tidak punya masa depan. Kami menghadapi kenyataan setelahnya bahwa rezim Cina tidak akan pernah mendengarkan kami,” ujarnya.
Aziz
Aziz Isa Elkun adalah seorang penyair Uyghur yang diasingkan di London. Elkun mengatakan kepada The China Project bahwa kerusuhan Urumqi pada 5 Juli 2009 menandai “titik balik” bagi rakyatnya.
Kekerasan resmi yang dilancarkan terhadap etnis Uyghur menyebabkan mereka kehilangan semua harapan bahwa mereka dapat hidup damai di bawah rezim komunis Cina.
Elkun dan keluarganya—dua anak perempuan dan istrinya, Rachel Harris, seorang etnomusikolog Uyghur—atas izin Allah sedang berada di Urumqi pada tanggal 5 Juli 2009, pergi ke selatan untuk reuni keluarga, sebelum mereka terjebak di penginapan universitas mereka akibat pertempuran yang pecah di jalan-jalan sekitar kampus.
“Saksi hidup Pembantaian 5 Juli,” begitu Elkun menggambarkan dirinya.
Dalam sebuah makalah berjudul “Invitation to a Mourning Ceremony: Perspectives on the Uyghur Internet,” Elkun dan Harris sebagai penulis bersama memerinci apa yang terjadi pada saat “Lima-Tujuh” sebelum rezim komunis memberlakukan pemutusan internet di Xinjiang selama delapan bulan.
Mereka menyebutkan terjadi ledakan pada pukul 6 sore, kepulan asap tebal yang membubung tinggi dari Da Bazar (kawasan perbelanjaan utama Uyghur), tembakan dan teriakan, serta api yang menjalar di sekitar area.
“Setelah gelap, kami mendengar teriakan para demonstran di dalam kampus universitas,” kata Elkun, “’Uyghurlar yashsun!’ [‘Hidup Uyghur!’ atau ‘Biarkan Uyghur hidup!’]. Hingga larut malam, kami mendengar ledakan, teriakan dan jeritan, serta tembakan senjata otomatis yang berkelanjutan. Listrik dan internet diputus dan jaringan telepon dimatikan menjelang senja.”
Elkun merekam suara yang mereka dengar dari lantai 22 penginapan kampus mereka dan tidak diragukan lagi bahwa telah terjadi pembantaian terhadap para pengunjuk rasa oleh polisi dan tentara Cina sekitar tengah malam. Dia juga ingat pembersihan jalanan yang mengerikan berikut ratusan orang yang hilang pada hari-hari berikutnya.
“Kami sebagai satu keluarga menyaksikan pembantaian ini. Saat itu, putri bungsu kami berusia dua tahun dan yang tertua berusia lima tahun,” tulis Elkun, “…Putri kami tidak akan pernah melupakan polisi yang menodongkan senjata ke kepala kami, memeriksa paspor dan barang bawaan kami.”
Kebencian antaretnis memuncak setelah tahun 2009, hingga rezim mendirikan jaringan “kamp pendidikan ulang” yang masif, sistem pengawasan dan tindakan keras berikutnya, serta kebijakan pembatasan yang sekarang diakui secara internasional sebagai genosida.
“Rezim Cina tidak pernah ingin bangsa Uyghur maju dan berkembang,” kata Elkun. Skema pemberantasan kemiskinan di seluruh negeri yang diluncurkan setelah pembantaian Tiananmen 1989 tidak pernah sampai ke wilayah Uyghur. Hingga tahun 2009 pun, sistem ekonomi dan sosial mereka sengaja ditinggalkan. (The China Project)
Sumber: Sahabat Al-Aqsha.