Dukungan Rakyat terhadap AMIN Riil, Hasil Survei Tak lagi Dianggap Penting

[KONTENISLAM.COM] Gegap gempita sambutan terhadap Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar (AMIN) di berbagai daerah membuat masyarakat tidak percaya dengan hasil survei yang menyebutkan elektabilitas capres-cawapres dari Koalisi Perubahan itu masih rendah bahkan jeblok, terutama dalam konteks Jawa Timur.
Rakyat akhirnya menilai hasil survei yang terus dipublikasi itu hanya untuk menahan laju tsunami dukungan kepada pasangan yang diusung NasDem, PKB, dan PKS tersebut.
“Karena agak sulit mendobrak realitas tsunami dukungan ke AMIN maka narasinya adalah diproduksi melalui survei, memainkan angka-angka persentase yang terus-menerus diproduksi, yang intinya AMIN dijeblok,” jelas pengamat politik Dr. Muhammad Iqbal kepada KBA News Sabtu, 21 Oktober 2023.
Iqbal menjelaskan survei politik sejatinya dihasilkan dari metode ilmiah untuk merekam dinamika persepsi atau opini publik pada saat rekaman data itu dilakukan. Namun masalahnya banyak faktor yang bisa diciptakan akhirnya terjadi bias survei. Misalnya, sebelum survei bisa saja sudah digelontorkan berbagai skema bantuan.
“Kira-kira begini polanya. Setelah beli atau memesan sejumlah proyek survei, lembaga survei itu mungkin memberi informasi mulai kapan wawancara dan di mana lokasi PSU atau primary sampling unit,” ungkap dosen Universitas Jember (Unej) ini.
“Lalu satu atau dua minggu sebelum survei ke PSU, saat itulah bisa saja seluruh lokasi PSU ‘digelontorkan habis-habisan’ aneka variasi skema bantuan apa pun agar saat rekaman data dilakukan sejatinya persepsi dan opini masih hangat bisa dipengaruhi,” imbuh Iqbal.
Dugaan terjadinya bias survei semakin menguat karena pada umumnya lembaga survei tak mau transparan soal hal-hal di luar metode ilmiah yang dipakai.”Semua dugaan itu selalu ditanyakan oleh banyak pihak. Tapi kerap tak satu pun menjawab dengan transparan dan akuntabel,” jelasnya.
Akhirnya realitas survei persepsi atau opini yang dihasilkan lembaga survei sejatinya bukan lagi cerminan nyata realitas sosial politik yang seutuhnya. Terlebih lagi di abad disrupsi digital, era post-truth saat ini, di mana perang informasi dan perang persepsi sangat masif disruptif terjadi.
“Maka di era pascakebenaran ini tidak lagi memandang penting kebenaran hakiki, tapi lebih mementingkan bagaimana sesuatu bisa dipersepsikan sebagai yang benar kendati sejatinya adalah salah, sesat dan menyesatkan,” paparnya.
“Maka tak heran, jika perang informasi dan persepsi dengan memanfaatkan perangkat lembaga survei maupun pasukan buzzer, sudah jamak dilakukan demi kepentingan pragmatisme politik,” lanjutnya.
Namun, para medioker pragmatisme politik tersebut, ujarnya, lupa bahwa sumber daya dan relasi sosial spiritual dan kultural yang dimiliki mesin politik PKB. Partai yang berbasis di Jatim dan Jateng dengan konstituen utama warga NU ini punya ruang-ruang tausiyah dan islah dalam spektrum jejaring pondok pesantren untuk meluruskan realitas yang seutuhnya terjadi.
“Maka menurut saya, sekecil dan serendah berapa pun hasil-hasil survei yang dipersepsikan oleh lembaga survei kepada pasangan AMIN, sejatinya sudah tidak lagi penting,” tukasnya.
Terlebih, dia menambahkan, pasangan AMIN dan Koalisi Perubahan saat ini terlihat sangat menikmati dan bersyukur atas makin solidnya jejaring kerja politik NasDem, PKB dan PKS. Selama AMIN melakukan safari politik, antusiasme jutaan rakyat menyambut politik harapan perubahan itu terasa semakin membesar menuju kemenangan.
Apalagi, pasangan AMIN sejatinya sudah mengalami kemenangan pertama setelah mendaftar ke KPU pada Kamis kemarin dan resmi menjadi kontestan pada Pemilu 2024 tahun depan. Berbagai opini yang dibangun bahwa AMIN akan gagal mendaftar dan Koalisi Perubahan akan bubar tidak terbukti. Ternyata Koalisi Perubahan solid dan puluhan ribu rakyat ikut mengantarkan AMIN ke KPU.
“Sekali lagi, realitas survei persepsi atau opini sejatinya bukan cerminan nyata realitas sosial politik yang seutuhnya,” pungkasnya. (kba)