OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 25 April 2017

Bangsa Indonesia Menanggung Malu, Kekonyolan Jokowi Kembali Jadi Viral Mendunia

Bangsa Indonesia Menanggung Malu, Kekonyolan Jokowi Kembali Jadi Viral Mendunia


10Berita-Presiden Joko Widodo kembali menjadi buah bibir masyarakat internasional, terutama penduduk timur tengah. Hal itu terjadi karena ucapan orang nomor satu di Indonesia itu yang jauh dari kata bijaksana. Alih-alih berterimakasih kepada Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, yang telah berinvestasi Rp 89 triliun di negerinya, Jokowi malah bertingkah seperti anak kecil, yang kecewa karena mendapat jatah invetasi lebih sedikit dibanding negara lain.

Ia juga kemudian menyebut-nyebut jasanya yang telah memayungi dan menyopiri sendiri Raja Salman. Jasa besar itu ia anggap tidak dibalas setimpal. Keluhan itu semakin menggambarkan sambutan dan jamuan Jokowi terhadap Raja Arab Saudi itu tidak benar-benar tulus. Cenderung lebih berharap kucuran dana segar dari sang raja, dibanding pentingnya persahabatan dan kerjasama kedua negara.

Ungkapan kekecewaan itu disampaikan Jokowi saat berkunjung ke Pondok Buntet Pesantren di Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (13/4/2017). Di hadapan para santri, ia mengatakan bahwa dirinya terkejut ketika mengetahui investasi yang diberikan Arab Saudi ke Tiongkok mencapai Rp 870 triliun. Hampir sepuluh kali lipat dibanding dana yang diberikan kepada Indonesia.

“Padahal saya sudah mayungi waktu hujan, saya sudah nyetiri, saya setiri sendiri, saya payungi sendiri, kok dapatnya lebih kecil. Itu yang saya sedikit kecewa, kecewanya sedikit, sedikit hanya sedikit,” kata Jokowi.

Sontak, komentar Jokowi itu mendapat respon dari berbagai pihak. Kebanyakan mereka menyesali pernyataan presiden yang terkesan tidak menghargai Raja Salman dan tidak pula mensyukuri investasi yang diberikannya. Sorotan juga datang dari dunia internasional, setelah sejumlah media asing memuat pernyataan konyol Jokowi tersebut.

Bahkan, yang lebih parah, keluarga bangsawan Arab Saudi ikut menyoroti ungkapan kekecewaan Jokowi itu. Salah satunya datang dari Sultan Sooud al-Qassemi. Ia merupakan pengamat Teluk dan Media Labs Director’s Fellow di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Keluarga Al-Qassemi merupakan satu dari enam keluarga yang memerintah di Arab Saudi.

Melalui akun media sosialnya, Sultan Sooud, mengunggah pernyataan Jokowi yang dikutipnya dari The Jakarta Post. Tampaknya, Sultan Sooud juga kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Jokowi itu. Begitu pula dengan tanggapan ribuan pengikut dan rekan-rekannya di media sosial tersebut, mereka menyesali pernyataan Jokowi terhadap raja mereka.

Bukan kali ini saja Jokowi mengeluarkan komentar konyol yang membuatnya menjadi bahan cemoohan dunia internasional. Dua tahun yang lalu, Jokowi menjadi populer dengan komentarnya, “I don’t read what I sign” yang dalam Bahasa Indonesia berarti, “Saya tidak membaca apa yang saya tandatangani”. Ungkapan itu dimuat di koran The Jakarta Globeedisi 7 April 2015.

Untuk ke depan, kita semua berharap, agar Jokowi mulai berhati-hati dalam berujar. Ia bukan lagi gubernur, apalagi wali kota. Ia adalah presiden. Pemimpin tertinggi negara. Kekonyolan yang diperbuat tidak hanya akan membuat malu dirinya sendiri, tetapi juga aib bagi penduduk negeri ini. Tunjukkanlah kewibawaan, tampilkanlah keteladanan, bukan guyonan rendahan yang membuat bangsa ini terus-terusan mendapat cemoohan dari dunia internasional. (Muhammad Fatih/PolitikToday)

Sumber: Portal Islam

Kenapa Rute Isra Miraj Lewat Palestina? Ini Hikmahnya

Kenapa Rute Isra Miraj Lewat Palestina? Ini Hikmahnya


Oleh @yasir_albantani

1. Rajab. Sebentar lagi Sya'ban. Sambil peringati #IsraMiraj, tetap berdo'a: Allahumma barik lana fii rajaba wa sya'ban wa balighna Ramadhan.

2. #IsraMiraj tahun ini jadi teringat kitab “Dardir”, rujukan kisah #IsraMiraj yang sangat populer di kalangan santri nahdhiyyin.

3. Di kitab itu cukup detail bagaimana kisah perjalanan multidimensi, #IsraMiraj diceritakan. Latar belakang, proses, dan hasilnya.

4. Tentunya dgn referensi utama Surah Al Isra: 1 dan An Najm: 1-18.

5. Peristiwa #IsraMiraj ini luar biasa. Jumhur ulama memposisikannya di urutan kedua mukjizat Nabi SAW yang terbesar kedua setelah Al Qur'an.

6. Banyak keistimewaan sekaligus hikmah yg bisa kita pelajari di balik perjalanan #IsraMiraj.

7. Sehingga peristiwa #IsraMiraj, Allah abadikan sebagai nama Surah ke-17 dalam Al Qur'an dan sekaligus di ayat pembukanya.


8. Allah ‘azza wajalla mengawali surah tsb dengan kata“subhana” (Maha Suci). Untuk menunjukkan betapa menakjubkannya peristiwa #IsraMiraj.

9. Kemudian proses perjalanan #IsraMiraj secara eksplisit dikisahkan dgn kata kerja “asraa” (memperjalankan). Bukan “saraa” (berjalan).

10. Kata “asraa” dalam ilmu nahwu sharaf adalah “fi'il muta'adi” (kata kerja transitif), mengharuskan keterlibatan subjek & objek.

11. Berarti dalam peristiwa #IsraMiraj, Rasulullah tidak berjalan atas kehendak pribadi dan dengan kemampuan sendiri. Ada “campur tangan” Allah.

12. Peristiwa #IsraMiraj yg luar biasa tsb tidak mungkin terjadi kalau bukan dengan kekuasaan Allah. Dan Rasulullah (hanya) “diperjalankan”.

13. Secara jelas, Allah mengatakan “bi 'abdihi” (hambanya). Menegaskan bahwa Rasulullah sbg “objek yang diperjalankan” dlm #IsraMiraj.

14. Dalam Al Isra: 1, Allah juga menambahkan keterangan waktu “lailan”. Bahwa peristiwa #IsraMiraj sangat singkat. Hanya semalam.

15. Definisi “lailan” dalam kajian nahwu sharaf adalah sejak terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar.

16. Dalam riwayat2 shahih dikisahkan: Rasulullah dijemput Jibril & Mikail dgn Buraq pada saat ba'da isya lalu kembali sebelum fajar.

17. Atau kalau kita convert ke waktu normal manusia, peristiwa #IsraMiraj hanya terjadi dalam waktu 8-9 jam. Sangat singkat.

18. Kemudian, setelah disampaikan informasi pelaku dan waktu perjalanan tsb, Al Isra: 1 juga mengabarkan rute #IsraMiraj.

19. Bagian rute #IsraMiraj menurut saya yg paling menarik. Dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsha Palestina. Kenapa?

20. Kenapa tidak dari Masjidil Haram, langsung naik ke langit? Kenapa Masjidil Aqsha dipilih sbg tempat “take off”-nya Buraq?

21. Kenapa harus Masjidil Aqsha? Kenapa tidak Masjid Nabawi (Madinah) yg beberapa bulan kemudian akan Rasulullah hijrahi?

22. Atau merujuk kota Yatsrib (Madinah) yg kelak dibangun masjid suci juga di sana dan sbg tempat hijrah Rasulullah.

23. Pasti ada hikmah di balik itu semua. Mengapa Baitul Maqdis Palestina dipilih sbg tempat transit Buraq sebelum naik ke langit.

24. Secara impilisit, Al Isra: 1 pun menggambarkan fenomena itu. Frasa “masjidil haram” tidak diikuti dgn keterangan apapun.

25. Namun, saat disebut “masjidil aqsha”, Allah menambahkan keterangan “yang telah Kami berkahi sekelilingnya….”

26. “….agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”

27. Sungguh unik dan menarik untuk kita telisik lebih dalam. Ada apa dgn Masjidil Aqsha? Mengapa dia menjadi istimewa dlm kisah #IsraMiraj?

28. Ternyata ada beberapa alasan dijadikannya Baitul Maqdis tsb sbg tempat “take off”-nya Buraq.

29. Pertama, menurut keterangan dlm Marah Labid/Tafsir Munir karya Imam An Nawawi Al Bantani…

30. Ketika Buraq bertolak ke langit dari Masjidil Aqsha, jalan yg dilalui berupa jalan lurus tanpa adanya belokan2.

31. Sehingga jarak tempuh menjadi lebih singkat. Mempercepat perjalanan.

32. Bahkan dlm satu riwayat dikatakan bahwa posisi Masjidil Aqsha terletak tegak lurus dgn “pintu langit” Wallahu a'lam.

33. Alasan pertama ini mungkin bisa kita sebut sbg “faktor astronomis”.

34. Kedua, dgn dipilihnya Masjidil Aqsha sbg bagian dari rute #IsraMiraj berarti perjalanan tsb adalah “dari masjid ke masjid”.

35. Masjidil Aqsha merupakan masjid ketiga yang dianjurkan untuk dikunjungi setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

36. Faktor ini sekaligus mengingatkan kita betapa sentralnya peran masjid dalam Islam.

37. Ketiga, ternyata fakta sejarah juga medukung. Baitul Maqdis pernah menjadi kiblat pertama umat Islam.

38. Sehingga perjalanan Isra terjadi di antara dua kiblat.

39. Jauh sebelum Rasulullah SAW diutus, kawasan sekitar Palestina merupakan negeri para Nabi dan Rasul.

40. Palestina dan wilayah Syam yg lain menurut Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah-nya disebut sbg “daerah lingkar pertama peradaban”.

41. Secara tidak langsung, Allah ingin mengajak Rasulullah utk kilas balik perjuangan dakwah nabi dan rasul sebelumnya.

42. Mengingat kembali bahwa dalam dakwah ilallah selalu ada ancaman dan tekanan. Seperti para rasul terdahulu.

43. Dan memang kondisi jiwa Rasulullah sebelum #IsraMiraj sedang tidak stabil sepeninggal Abu Thalib dan istri terkasih, Siti Khadijah.

44. Rasulullah perlu “dihibur” dan dikuatkan semangat juang dalam menjalankan tugas risalah, sekaligus bersiap utk hijrah.

45. Selain ketiga alasan tersebut, ternyata hingga era kontemporer saat ini pembicaraan tentang Masjidil Aqsha masih berlangsung.

46. Masjidil Aqsha dan Palestina masih tetap menjadi “buah bibir” masyarakat dunia. Terlebih sejak Deklarasi Balfour 1917.

47. Dan dengan didukung Resolusi PBB nomor 181 pada tanggal 29 November 1947, zionis Israel menduduki Palestina.


48. Sehingga saat ini, memperingati #IsraMiraj adalah memperingati perjuangan perebutan kembali Masjidil Aqsha, tanah #IsraMiraj Rasulullah.

49. Berbeda dgn Masjidil Haram yg telah mendapatkan jaminan keamanan langsung dari Allah. Tetapi, tidak untuk Masjidil Aqsha.

50. Untuk Masjidil Aqsha, menjadi TUGAS KAUM MUSLIMIN. Sekaligus membuktikan frasa “al-ladzi barakna haulahu…” dlm Al Isra: 1.


51. Keempat alasan itulah yang harusnya jangan luput kita renungi. Masjidil Aqsha sebagai tempat istimewa bagi kaum muslimin.

52. Setelah mampir ke Masjidil Aqsha dan shalat dua rakaat di sana, Rasulullah beserta Jibril dan Mikail melanjutkan perjalanan #IsraMiraj ke langit hingga Sidratul Muntaha.


Sumber: Portal Islam

Amien Rais: Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish! Umat Islam Sudah Habis Kesabarannya

Amien Rais: Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish! Umat Islam Sudah Habis Kesabarannya


10Berita-Terkait tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap kasus Penistaan Agama oleh Ahok, tokoh reformasi, Prof DR. Amin Rais angkat bicara dan memperingatkan Presiden Jokowi untuk berhati-hati.

“Kalau sampai hakim memberikan hukuman seperti keputusan jaksa, hukuman satu tahun dengan percobaan dua tahun (ini artinya bebas), saya kira Jokowi akan memanen protes luar biasa masyarakat Indonesia. Jangan pernah berharap jadi presiden lagi, sudah, itu keyakinan saya,” kata Amien Rais, Senin (24/4/2017).

Menurutnya, kekalahan Ahok pada Pilkada DKI Jakarta menjadi bukti kekalahan Jokowi. Jokowi yang membanggaka Taipan pemilik modal besar, sehingga mudah meremehkan rakyat, kata Amin Rais justru akan memicu kemarahan.

“Jadi kalau Jokowi cukup cerdas, harus tahu kekalahan Ahok di Pilkada itu, kekalahan Jokowi juga. Kalau mau nekat hukuman diperingan, dia (Jokowi) finish. Jangan meremehkan umat Islam lah, jadi Taipan, Cukong ndak ada gunanya. Sebab rakyat kita makin pandai, malah marah nanti,” ucapnya.

Dia berpesan pada Jokowi untuk tidak mencampuri keputusan hakim dalam memutuskan sidang perkara penistaan agama oleh Ahok.

“Kalau mereka main uang dan sembako, kita marah, rakyat akan marah. Akan jadi bumerang, jadi pesan saya bung Jokowi, anda hati-hati, jangan mencampuri keputusan hakim itu. Kalau anda mencampuri saya kira anda juga akan finish. Saya tidak mendahului takdir Allah bahwa umat Islam sudah habis kesabarannya, pengalaman kemarin itu jelas sekali,” ujarnya.

Lebih lanjut, Amin Rais menegaskan hukuman bagi penista agama sewajarnya adalah dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara. Jika penista agama bebas, dia yakin Jokowi akan lengser dan tidak akan pernah menjadi Presiden lagi.

“Kalau Ahok penista agama dihukum ringan, saya kira Jokowi jangan berharap jadi Presiden lagi,” pungkasnya.

Hari ini, Selasa 25 April 2017, Pengadilan Negeri Jakarta Utara kembali menggelar sidang ke 21 kasus penodaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, di Auditorium gedung A Kementerian Pertanian Jakarta Selatan. Sidang ini rencananya digelar dengan agenda pembelaan (pledoi).

Pada sidang sebelumnya, Kamis (20/4/2017), Jaksa Penuntut Umum hanya menuntut terdakwa dengan pidana 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan. Yang artinya terdakwa hanya akan dipenjara 1 tahun JIKA dalam 2 tahun melakukan perbuatan serupa. Ini artinya sama saja membebaskan terdakwa.

Sumber: Portal Islam


Habib Rizieq: Kawal Terus Proses Persidangan Penistaan Agama!

Habib Rizieq: Kawal Terus Proses Persidangan Penistaan Agama!


Hasil gambar untuk habib rizieq

10Berita– Jaksa Agung M Prasetyo menyebut Ahok tak menistakan agama. Karena itu, jaksa penuntut umum (JPU) tidak menuntut Ahok dengan Pasal 156 a KUHP, melainkan Pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman satu tahun penjara.
“Yang terbukti bukan penistaan agama, jaksa meyakini itu, sama tidak hakim, tuntutan jaksa tidak menyimpang dari fakta persidangan, 156 a tidak terbukti,” ucap Prasetyo di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, seperti dilansir detik.com, Jumat (21/4/2017).
Sikap Jaksa Agung dan JPU yang meyakini Ahok tidak menistakan agama dan hanya menuntutnya satu tahun penjara dianggap sebagai upaya melindungi Gubernur DKI Jakarta agar tidak dijebloskan ke penjara.
Dengan tuntutan ringan itu, majelis hakim bisa saja memvonis Ahok bebas. Kalau pun divonis bersalah, Ahok bakal tidak masuk penjara. Misalnya Ahok divonis satu tahun penjara dengan masa perobaan dua tahun. Itu artinya Ahok tidak akan dipenjara.
Tudingan intervensi dan melindungi Ahok dibantah Jaksa Agung. Ia menegaskan tidak ada intervensi dalam tuntutan yang dibacakan JPU. Tuntutan itu sesuai fakta persidangan.
“Kejaksaan tidak pernah bekerja di bawah intervensi atau tekanan, baik yang akan dilakukan atau belum akan dilakukan. Jadi yang dinyatakan terbukti oleh jaksa adalah Pasal 156, bukan dihilangkan (pasal 156 huruf a) hanya bahwa memang dari fakta persidangan dan bukti yang ada yang lebih terbukti adalah 156-nya,” tegas Prasetyo.
Prasetyo mengaku tidak masalah atas protes yang disampaikan pihak pelapor kasus yang menjerat Ahok tersebut. Para pelapor itu sebelumnya mengatakan akan melaporkan jaksa ke Komisi Kejaksaan (Komjak).
“Silakan dilaporkan, Komjak lebih tahu dia apa yang dikerjakan oleh jaksa,” tandas Prasetyo.
Menyikapi sikap Jaksa Agung dan JPU yang dianggap melindungi Ahok, Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab menegaskan, tuntutan yang dibacakan JPU dalam persidangan memperlihatkan kepongahan aparat penegak hukum.
“Seharusnya mereka tidak menciptakan kondisi yang membahayakan bangsa dan negara dengan melindungi penista agama,” ujar Habib Rizieq dalam peringatan Isra Mikraj di Majelis Taklim Miftahul Ulum, Minggu malam (23/4).
Habib Rizieq meminta agar umat Islam tetap mengawal persidangan Ahok yang akan diselenggarakan pada hari Selasa ini (25/4).
“Kita datang untuk mengawal kasus ini. Bukan untuk membuat kerusuhan. Ikuti komando ulama. Jangan sampai ada penyusupan di tengah barisan kita,” katanya lagi.
Habib Rizieq juga mengatakan, dirinya tidak bisa bergabung dengan umat Muslim yang mengawal persidangan Ahok karena di saat yang sama dirinya akan diperiksa di Mapolda Metro Jaya sebagai saksi.(jk/ps)

Sumber: Eramuslim

3 Jenis Golongan Manusia, Golongan Berapakah Kita?

3 Jenis Golongan Manusia, Golongan Berapakah Kita?


10Berita-KISAH ini populer di kalangan Bani Israel, hingga Allah menyuruh Rasul-Nya bertanya pada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut. Tepatnya di tepi pantai laut Merah antara kota Mesir dan Palestina. Antara kota Madyan dan Gunung Sinai. Eilah namanya, ataukah semacam sindiran karena penduduknya telah berbuat Helah (akal-akalan).

Sebagaimana yang kita ketahui, Bani Israel menetapkan hari Sabtu sebagai hari ibadah untuk dirinya. Dimana pada hari itu, mereka tidak melakukan pekerjaan apapun melainkan hanya beribadah kepada Allah.

Allah hendak menguji mereka, dengan mendatangkan ikan-ikan yang berada di sekitar mereka, terapung-apung dipermukaan air, khusus di hari Sabtu, dan tidak datang di hari lain.

Ternyata, mereka tak bisa menahan diri. Mereka mencari akal agar bisa menangkap ikan-ikan itu tanpa ketahuan, dengan tetap terlihat melaksanakan ibadah di hari Sabtu. Maka mereka susunlah siasat, memasang jaring-jaring di malam Sabtunya, dan mengambil hasil tangkapannya di hari Minggu.

Orang-orang alim di antara mereka menasihati, agar tidak melakukan perbuatan fasik itu.

Namun segolongan di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang keras?” jika kita terjemahkan dalam bahasa gaulnya, “Ngapain sih kamu capek-capek menasihati orang yang sudah Allah takdirkan akan diazab?”

Seakan golongan ini telah menvonis neraka bagi mereka yang melakukan helah, tanpa ikut andil menasihati untuk mencegah. Merasa aman terhadap dirinya karena tidak berbuat salah, hanya diam melihat perbuatan munkar di depan mata. Bahkan merespon negatif pada pihak kedua yang berusaha mencegah.

“Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.”

Inilah jawaban dan alasan golongan yang menasihati melakukan perbuatan itu, karena Allah yang telah memerintahkan! Dan agar mereka yang berbuat salah, segera bertaubat dan menjadi orang yang bertakwa!

Dari kisah ini, dapatlah kita bagi menjadi tiga golongan,

Golongan satu, yaitu yang melakukan helah,
Golongan dua, yang menasihati untuk tidak melakukan kemunkaran,
Golongan tiga, yang hanya diam membiarkan kemunkaran di depan mata tanpa mau menasihati atau berusaha mencegah.

Balasan apa yang diberikan Allah untuk ketiga golongan ini?
Bagi golongan dua, Allah selamatkan, karena mereka telah melarang orang yang berbuat jahat.
Bagi golongan satu, Allah timpakan siksa yang keras atas kezalimannya, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Bahkan mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang mengerjakannya. Hingga mereka dikutuk menjadi kera yang hina.

Ya, mereka berubah menjadi kera yang hina, dari makhluk yang diciptakan paling mulia bernama manusia, hingga kesedihan dan kepedihan itu membuat mereka malu menatap dunia, malu bertemu siapapun, mengurung dirinya di dalam rumah, merasa tak berdaya melakukan apapun, hingga mereka menemui azalnya. Tak lebih dari tiga hari.

Lantas, mengapa Allah tak mengabarkan balasan yang diberikan-Nya untuk golongan tiga?
Ternyata, itu bentuk ketidakpedulian Allah padanya. Hamba yang tidak melakukan pekerjaan amar makruf nahi munkar, mengajak pada kebaikan dan mencegar dari kemunkaran. Mereka hanya diam, tak peduli, masa bodo dengan lingkungan yang ada, hidup hanya untuk diri sendiri, ingin shalih sendiri, hingga Allah tak mempedulikannya.

Surah Al A’Raaf, 7 ayat 163 sampai dengan 167 ini, Allah ceritakan pada Rasul-Nya dalam perjuangan beliau menghadapi kaum Yahudi, dan kini cerita itu diabadikan dalam Al Qur’an untuk kita ambil hikmahnya, bahwa apa yang dihadapi Rasulullah juga seperti apa yang kita hadapi saat ini. Zaman terus berulang dan tiga golongan ini sebagai karakter abadi.

Jadi, termasuk golongan berapakah kita? Golongan apa yang kita pilih?
Yang pasti, tentu bukan golongan tiga, karena Rasulullah Saw telah bersabda,

“Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Hendaknya benar-benar kamu perintahkan manusia kepada kebaikan dan kamu cegah mereka dari perbuatan munkar. Atau kalau tidak, maka Allah akan menimpakan azab kepadamu. Kemudian kamu berdoa kepada-Nya, tetapi Dia sudah tidak mau mengabulkan permohonanmu,” (H.R. Imam Tirmidzi).

Melainkan kita bersama akan memilih menjadi golongan dua, yang Allah janjikan keselamatannya. Sebagaimana Dia telah menjadikan kita umat yang terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, karena kita senantiasa mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran dan senantiasa beriman kepada Allah.
Semoga! []

Sumber: Islampos

MUI Mendorong Terbentuknya Ekonomi Umat yang Merata

MUI Mendorong Terbentuknya Ekonomi Umat yang Merata

10Berita, JAKARTA -- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin menyampaikan, MUI melalui Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat telah menyelenggarakan Kongres Ekonomi Umat (KEU) di Hotel Grand Sahid Jaya pada 22-24 April 2017. Setelah kongres MUI akan mengawal gerakan ekonomi umat menuju arus baru ekonomi Indonesia.

Kiai Ma'ruf mengatakan, peran MUI dalam membangun arus baru ekonomi Indonesia tidak banyak. Di antara perannya, yang pertama MUI akan memberikan dorongan dan menggerakkan ekonomi umat. Sebagai contohnya mendorong dan menggerakkan ekonomi di pesantren, koperasi, dan lain sebagainya.

"Mensinergikan mereka, mensinkronisasi dan mengakselerasi mereka, karena itu MUI dari pusat sampai ke daerah terus melakukan gerakan ekonomi dan mengawal," kata KH Ma'ruf kepada Republika.co.id di Hotel Grand Sahid Jaya, Senin (24/4).

Yang kedua, kata dia, MUI akan berkoordinasi dengan pemerintah dalam rangka melahirkan kebijakan baru yang menopang berjalannya arus baru ekonomi Indonesia. Jadi, MUI akan melakukan koordinasi dengan pemerintah membahas kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah. MUI akan meminta kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang pro kepada pelaku usaha kecil dan menegah.

Sementara yang ketiga, MUI mengajak pengusaha besar untuk bermitra dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dalam hal ini mewujudkan mitra sejajar usaha besar dengan koperasi dan UMKM dalam sistem produksi serta pasar terintegrasi.

Menurutnya, kalau perekonomian umat tumbuh, pemerintah membuat kebijakan yang berpihak dan konglomerat ikut bergabung mendukung gerakan ekonomi umat, maka diharapkan akan terjadi pemerataan ekonomi. Pemerataan ekonomi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang masih menganga.

Selain itu, MUI juga melibatkan pengusaha besar untuk membantu mewujudkan arus baru ekonomi Indonesia. "Pengusaha besar ini kita libatkan untuk membahas terus kelanjutan dari pada pelaksanaan arus baru ekonomi Indonesia," ujarnya.

Seperti diketahui, MUI juga membentuk Komite Nasional Ekonomi Umat. Komite tersebut akan terus melakukan pengawalan pada kebijakan pemerintah, kemitraan dan gerakan-gerakan ekonomi Islam lainnya. Karena kongres menghasilkan poin-poin deklarasi dan rekomendasi, Komite Nasional Ekonomi Umat juga akan mengawal praktiknya.

Sumber: Republika

PPPA Daarul Qur'an Bangun 100 Pesantren di 100 Kota di Lima Benua

PPPA Daarul Qur'an Bangun 100 Pesantren di 100 Kota di Lima Benua

10Berita, JAKARTA -- Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) Daarul Quran, yang baru genap satu dekade berkiprah nyata untuk Indonesia, memiliki impian yang sangat luhur. Melalui Gerakan Sedekah Nasional (GSN) yang dicanangkan setiap 27 April, PPPA Daarul Quran ingin mewujudkan dan membangun peradaban Quran dunia dengan pembangunan 100 pesantren di 100 kota di lima benua.

Direktur Utama PPPA Daarul Quran  Muhammad Anwar Sani  mengatakan, PPPA Daarul Quran memiliki impian besar untuk membangun peradaban dunia. ''Impian PPPA Daarul Quran adalah bendirinya 100 pesantren tahfizh  di berbagai daerah di Indonesia hingga lima benua,'' kata Anwar Sani dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (24/4).

Lebih lanjut, Anwar Sani memaparkan, kehadiran rumah-rumah  tahfizh  di Indonesia hingga menjadi rumah perubahan bagi masyarakat di Indonesia dan dunia internasional menjadi cita-cita kita bersama. ''Tanggal 27 April gerakan sedekah nasional, bersama kita wujudkan dream Daqu, dream Indonesia, dream kita bersama. Bismillah!” tutur  Anwar Sani.

GSN sudah memasuki tahun ketujuh. Gerakan ini telah diikuti ribuan orang maupun institusi. “Tahun ini beragam acara untuk gerakan sedekah nasional serentak digelar di seluruh kantor PPPA pusat dan cabang, Pesantren Daarul Qur'an di seluruh Indonesia serta rumah-rumah tahfizh di seluruh dunia,” ujar Anwar Sani.

Ia menyebutkan, GSN diikuti  mulai dari staf sampai direktur, karyawan sampai owner, murid sampai guru, mahasiswa sampai dosen dan pedagang kaki lima sampai pengusaha-pengusaha besar. Semua antusias berbondong-bondong mengikuti Gerakan Sedekah Nasional 2017.

GSN  dipelopori Dewan Pembina PPPA Daarul Qur'an Ustad Yusuf Mansur dan Owner Waroeng Group Jody Broto Suseno ini pun diselenggarakan  di seluruh Yayasan Daarul Qur'an. Baik di pusat maupun cabang PPPA yang ada di daerah-daerah.

Dalam menyambut Gerakan Sedekah Nasional 2017, PPPA Daarul Qur'an pusat maupun cabang menyiapkan sejumlah kegiatan. Di pusat akan digelar sedekah berjamaah. “Keluarga besar Daarul Qur'an baik santri, guru, manajemen serta pengurus akan bersama-sama bersedekah,” paparnya.

Seluruh karwayan PPPA Daarul Qur'an Pusat akan berkumpul di halaman kantor yang terletak di Kawasan Bisnis CDB Ciledug, Tangerang, Banten,  pada 27 April 2017. Masing-masing dari mereka akan membawa sedekah terbaik dan mengajak masyarakat sekitar mendukung gerakan ini.

Sementara cabang  PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta akan menyelenggarakan seminar dan Webinar Kun Fauakuun for Business pada Ahad, 30 April 2017. "Kami juga melaksanakancampaign bersama pengusaha-pengusaha yang berkomitmen ikut gerakan sedekah ini," ujar Kepala Cabang PPPA Daarul Qur'an, Maulana Kurnia Putra.

PPPA Daarul Qur'an Semarang menggelar Gerai Goes to Campus. Dengan roadshow dari kampus ke kampus,  gerai sedekah akan dibuka di sejumlah kampus yang telah bekerja sama dengan PPPA Semarang pada 17-27 April.

Mobile Qur'an Goes to School juga dilaksanakan untuk mengajarkan anak-anak di Semarang bersedekah dan mendukung Gerakan Sedekah Nasional 2017. Tim PPPA Semarang juga melakukan sosialisasi di CFD melalui klinik tahsin tahfizh, doorprize, photo booth dan selfi berhadiah serta pawai Gersena yang dimeriahkan dengan nasyid.

"Puncaknya pada  27 April, kami akan menyelenggarakan talkshow dan bazar amal di Masjid Undip Semarang," tutur Koordinator Gersena PPPA Semarang, Sinta.

PPPA Daarul Qur'an Bandung juga mengggelar Sosialisasi di CFD Dago pada Ahad, 23 April kemarin dan acara tausiyah Ustadz Hendi Irawan Sholeh di Masjid TSM Bandung pada 27 April mendatang. Sementara itu, PPPA Daarul Qur'an Cirebon menyelenggarakan Wisuda Tahfizh se-Wilayah III Cirebon, Tegal dan Brebes di Islamic Center Cirebon pada 29 April 2017 Acara ini akan dihadiri Syekh Muhamad Jabeer.

PPPA Daarul Qur'an Surabaya pun mengajak pelaku usaha dan komunitas UKM mendukung Gerakan Sedekah Nasional 2017. Komunitas yang tercatat sudah bergabung adalah UKM Bergerak, IMEPI Jawa Timur. Pun dengan pengusaha-pengusaha yang tidak aktif di komunitas.

Contohnya, owner Martabak Hawai,   Tedy yang punya 30 outlet tersebar di beberapa kota. Pengusaha gas LPG wilayah Surabaya dan Gresik, Bambang Kiswanto. Ada lagi owner Bebek Pak Jos yang mengajak seluruh pelaku usaha di Surabaya mendukung gerakan ini.

"Kami syiarkan gerakan ini ke semua elemen masyarakat Surabaya mulai dari pegawai swasta, PNS, pengusaha, UKM hingga pelajar," ujar Kepala Cabang PPPA Daarul Qur'an Semarang, Nahar.

“Sedekah berapa saja, sedekah kapan saja, sedekah kemana saja jadi tagline gerakan ini. Insya Allah, Gerakan Sedekah Nasional 2017 akan didedikasikan untuk sebuah mimpi besar membangun peradaban Qur'an dunia dengan mendirikan 100 pesantren di 100 kota lima benua,” papar Anwar Sani.

Sumber: Republika

Kisah Istri Kecanduan Chatting, yang Berakhir Tragis!

Kisah Istri Kecanduan Chatting, yang Berakhir Tragis!


TERKADANG jika kita hanya sekadar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan mulai bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Kisah Bincang-bincang Seorang Istri di Dunia May

Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’i. Sang ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah di sini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting.

Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon.

Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.

Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah,hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.

Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.

Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet.

Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, ia merahasiakan dengan siapa ia chatting khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.

Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.

Duhai fitnah asmara semakin membara, ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa.

Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.

Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar,  lalu apa yang terjadi ?

Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.

Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya.

Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya?

Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, dengan tegasnya si lelaki itu berkata,

“Tidak! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya!”

Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan akhirnya menemui ustadz  dan menceritakan kisahnya.

Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu, mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.

Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul.

Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan  si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.

Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.

Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.

Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita,” (HR. Bukhari no. 5184). []

Sumber: Rumaysho


Advokat GNPF-MUI Prediksi Ahok Tak Menyesal Nistakan Al Maidah 51 di Pledoi

Advokat GNPF-MUI Prediksi Ahok Tak Menyesal Nistakan Al Maidah 51 di Pledoi


10Berita-Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diprediksi tak akan merasa bersalah telah melakukan penistaan terkaiat Al Maidah 51, dalam sidang pledoi esok hari.

Sidang lanjutan kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok akan mengadendakan pembacaan nota pembelaan atau pledoi dari Ahok secara pribadi dan penasehat hukumnya. Koordinator persidangan tim advokat GNPF MUI, Nasrullah Nasution menduga bekas calon Gubernur DKI Jakarta itu tidak akan merasa bersalah telah menista surah Al Maidah 51.

“Ahok tidak akan merasa bersalah dan menyesal telah menista Surah Al Maidah 51 dalam pembelaannya besok, ini berkaca pada isi eksepsi yang pernah dibacakan Ahok diawal persidangan,” ujar Nasrullah dalam pernyataan tertulis, Senin (24/04).

Nasrullah menilai akan kembali mengulang isi eksepsinya dalam nota pembelaan. Isinya, antara lain mengungkit kekalahan Ahok di Pilgub Bangka Belitung 2007 karena selebaran Surah Al Maidah 51. Selain itu dia diprediksi juga akan mengungkit penutupan Kalijodo, pemberangkatan umrah marbot masjid dengan dana APBD, pembangunan masjid, serta pemberian hewan qurban.

Pembacaan pledoi Ahok dalam persidangan menjadi bagian dari haknya, sesuai pasal 182 KUHAP. Nota pembelaan itu disampaikan sebagai upaya pembelaan atas dakwaan yang disampaikan jaksa dalam persidangan sebelumnya. Tim JPU yang dipimpin Ali Mukartono melayangkan tuntutan 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan kepada Ahok.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Imam S

Sumber: Kiblat


Aksi Bela Islam, Ijazah Abah Hasyim: Ikhtiar 'Ngopeni' Umat

Aksi Bela Islam, Ijazah Abah Hasyim: Ikhtiar 'Ngopeni' Umat

Oleh: Mohammad Nashih Nashrulloh*

Bolehlah para wartawan senior itu (senior itu beda tipis dengan tua) sudah terlebih dulu dekat dengan Abah sejak menjabat sebagai ketua umum PBNU, selama dua periode. Tapi, saya pastikan mereka belum pernah Abah minta untuk mijitin jenengan, layaknya tradisi santri-kiai sewaktu mondok dulu.

Soal pijit memijit, expert banget sing enggak, Bah, begitu saya bilang ke jenengan sewaktu ikut kunker ke Kupang, NTT beberapa pekan jelang Abah dirawat karena sakit, hingga akhirnya, Gusti Pengeran, memilih memanggil jenengan, Bah. Setidaknya, saya tahu titik-titik mana yang harus diurut untuk keluhan kelelahan. Pengalaman bah, suka dipijit terapis refleksi gocapan sejam (ashli pake shad, terapis syar'i insyallah. Hehehe). Insyallah nayamul, Bah.

Beberapa menit saya urut jenengan, sayup terdengar dengkuran itu. Tak keras. Tapi cukup terindra telinga. Sesekali juga Abah mengajak bicara soal beragam soalan. Mulai dari ruwetnya aksi bela Islam, dan bagaimana sikap abah yang sebetulnya tidak setuju karena bagi Abah mereka-mereka ini ngajak gelut tanpa jurus dan strategi jitu, akibatnya sebelum jotos, mereka sudah kena pukul duluan (terbukti pentolan-pentolan aksi itu memang sedang 'bahstul masyakil bukan masail', kena pasal duluan semua, hehehe).

Namun, meski Abah tak sependapat, justru memutuskan merangkul dan mengayomi mereka. Bukan memusuhi dan apriori. "Lek ga ono sing ngopeni wong-wong iku terus arep dadi opo negoro, jika tak ada yang mencoba merengkul mereka, mau jadi apa negara."

Baiklah, simpan dulu detail pembicaraan kita ihwal mereka bah. Masih ada 100, 1000, dan haul2 jenengan dan masih butuh oret-oretan deleming macam ini, manfaat tidaknya ya embuh Bah. Sing penting kulo nulis. Sing penting kerjo. Yang penting telah berbuat walaupun sebatas menyusun huruf demi huruf, leres 'kan Bah?

Saat jenengan tersadar dari tidur 'ayam' itu, saya beranikan minta ijazah, resep di balik ceramah-ceramah Abah yang sukses menjadi magnet sekaligus sihir ajaib yang mampu
membuat orang sadar tanpa dicubit, baik tanpa disuruh, dan tertawa dengan sukarela.

Abah diam sejenak, namun hingga jari-jari ini keriting memijat, belum muncul juga ijazah itu. “Awakmu tirakat ae dulu (Kamu tirakat saja dulu),” begitu dawuh jenengan singkat. Well. Ini yang berat, Bah.

Laku tirakat itu sejatinya adalah jalan para salik, titian para ahli istiqamah, dan tangga menuju derajat pengamal ikhlas. Wes, itu semua masih buram dalam kamus hidup saya Bah. Dengkuran itu pun sayup kembali terdengar, saya memilih meninggalkan Abah dalam rehatnya.

Perbincangan itu membuka cakrawala saya tentang hakikat sebuah pengabdian dan bagaimana jerih payah kita itu meninggalkan bekas, tidak hanya dalam lembaran sejarah, tetapi menyisakan jejak di tiap kenangan dan hati mereka yang merasakan manfaat itu.

Belakangan, usai berbincang dengan Ibu Nyai Hasyim, semalam, di pungujung malam peringatan 40 hari wafatnya jenengan Bah, refleksi singkat mengantarkan saya pada kesimpulan tentang ijazah yang Abah urung memberikannya, yakni semoga saya salah tetapi jangan disalahin, hehe, ijazah itu adalah tentang keikhlasan. Ikhlas memberi tanpa pamrih, ikhlas mencintai meski ramai cacian dan kecurigaan, ikhlas berbuat walau kerap tak terlihat, tak dianggap, dan dilupakan.

Keikhlasan itulah yang tampaknya tengah raib dari elite negeri ini, keikhlasan itulah yang hilang dari suami atau istri, terhadap keluarganya, kiai terhadap umatnya, kekasih terhadap pasangannya, dan kian terkikis dari pribadi2 kita. Di titik ini, benar kata Abah, keikhlasan itu tidak tampak dan tak perlu ditampakkan, karena hasil keikhlasan akan terungkap saat ruh meninggalkan jasad kita.

Tapi, apa harus ajal takaran keikhlasan itu, Bah?

Lahul fatihah...

Depok, Senin (24/4) dini hari.

*Mohammad Nashih Nashrulloh, Jurnalis Republika

Sumber: Republika