OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 25 April 2017

Advokat GNPF-MUI Prediksi Ahok Tak Menyesal Nistakan Al Maidah 51 di Pledoi

Advokat GNPF-MUI Prediksi Ahok Tak Menyesal Nistakan Al Maidah 51 di Pledoi


10Berita-Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diprediksi tak akan merasa bersalah telah melakukan penistaan terkaiat Al Maidah 51, dalam sidang pledoi esok hari.

Sidang lanjutan kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok akan mengadendakan pembacaan nota pembelaan atau pledoi dari Ahok secara pribadi dan penasehat hukumnya. Koordinator persidangan tim advokat GNPF MUI, Nasrullah Nasution menduga bekas calon Gubernur DKI Jakarta itu tidak akan merasa bersalah telah menista surah Al Maidah 51.

“Ahok tidak akan merasa bersalah dan menyesal telah menista Surah Al Maidah 51 dalam pembelaannya besok, ini berkaca pada isi eksepsi yang pernah dibacakan Ahok diawal persidangan,” ujar Nasrullah dalam pernyataan tertulis, Senin (24/04).

Nasrullah menilai akan kembali mengulang isi eksepsinya dalam nota pembelaan. Isinya, antara lain mengungkit kekalahan Ahok di Pilgub Bangka Belitung 2007 karena selebaran Surah Al Maidah 51. Selain itu dia diprediksi juga akan mengungkit penutupan Kalijodo, pemberangkatan umrah marbot masjid dengan dana APBD, pembangunan masjid, serta pemberian hewan qurban.

Pembacaan pledoi Ahok dalam persidangan menjadi bagian dari haknya, sesuai pasal 182 KUHAP. Nota pembelaan itu disampaikan sebagai upaya pembelaan atas dakwaan yang disampaikan jaksa dalam persidangan sebelumnya. Tim JPU yang dipimpin Ali Mukartono melayangkan tuntutan 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan kepada Ahok.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Imam S

Sumber: Kiblat


Aksi Bela Islam, Ijazah Abah Hasyim: Ikhtiar 'Ngopeni' Umat

Aksi Bela Islam, Ijazah Abah Hasyim: Ikhtiar 'Ngopeni' Umat

Oleh: Mohammad Nashih Nashrulloh*

Bolehlah para wartawan senior itu (senior itu beda tipis dengan tua) sudah terlebih dulu dekat dengan Abah sejak menjabat sebagai ketua umum PBNU, selama dua periode. Tapi, saya pastikan mereka belum pernah Abah minta untuk mijitin jenengan, layaknya tradisi santri-kiai sewaktu mondok dulu.

Soal pijit memijit, expert banget sing enggak, Bah, begitu saya bilang ke jenengan sewaktu ikut kunker ke Kupang, NTT beberapa pekan jelang Abah dirawat karena sakit, hingga akhirnya, Gusti Pengeran, memilih memanggil jenengan, Bah. Setidaknya, saya tahu titik-titik mana yang harus diurut untuk keluhan kelelahan. Pengalaman bah, suka dipijit terapis refleksi gocapan sejam (ashli pake shad, terapis syar'i insyallah. Hehehe). Insyallah nayamul, Bah.

Beberapa menit saya urut jenengan, sayup terdengar dengkuran itu. Tak keras. Tapi cukup terindra telinga. Sesekali juga Abah mengajak bicara soal beragam soalan. Mulai dari ruwetnya aksi bela Islam, dan bagaimana sikap abah yang sebetulnya tidak setuju karena bagi Abah mereka-mereka ini ngajak gelut tanpa jurus dan strategi jitu, akibatnya sebelum jotos, mereka sudah kena pukul duluan (terbukti pentolan-pentolan aksi itu memang sedang 'bahstul masyakil bukan masail', kena pasal duluan semua, hehehe).

Namun, meski Abah tak sependapat, justru memutuskan merangkul dan mengayomi mereka. Bukan memusuhi dan apriori. "Lek ga ono sing ngopeni wong-wong iku terus arep dadi opo negoro, jika tak ada yang mencoba merengkul mereka, mau jadi apa negara."

Baiklah, simpan dulu detail pembicaraan kita ihwal mereka bah. Masih ada 100, 1000, dan haul2 jenengan dan masih butuh oret-oretan deleming macam ini, manfaat tidaknya ya embuh Bah. Sing penting kulo nulis. Sing penting kerjo. Yang penting telah berbuat walaupun sebatas menyusun huruf demi huruf, leres 'kan Bah?

Saat jenengan tersadar dari tidur 'ayam' itu, saya beranikan minta ijazah, resep di balik ceramah-ceramah Abah yang sukses menjadi magnet sekaligus sihir ajaib yang mampu
membuat orang sadar tanpa dicubit, baik tanpa disuruh, dan tertawa dengan sukarela.

Abah diam sejenak, namun hingga jari-jari ini keriting memijat, belum muncul juga ijazah itu. “Awakmu tirakat ae dulu (Kamu tirakat saja dulu),” begitu dawuh jenengan singkat. Well. Ini yang berat, Bah.

Laku tirakat itu sejatinya adalah jalan para salik, titian para ahli istiqamah, dan tangga menuju derajat pengamal ikhlas. Wes, itu semua masih buram dalam kamus hidup saya Bah. Dengkuran itu pun sayup kembali terdengar, saya memilih meninggalkan Abah dalam rehatnya.

Perbincangan itu membuka cakrawala saya tentang hakikat sebuah pengabdian dan bagaimana jerih payah kita itu meninggalkan bekas, tidak hanya dalam lembaran sejarah, tetapi menyisakan jejak di tiap kenangan dan hati mereka yang merasakan manfaat itu.

Belakangan, usai berbincang dengan Ibu Nyai Hasyim, semalam, di pungujung malam peringatan 40 hari wafatnya jenengan Bah, refleksi singkat mengantarkan saya pada kesimpulan tentang ijazah yang Abah urung memberikannya, yakni semoga saya salah tetapi jangan disalahin, hehe, ijazah itu adalah tentang keikhlasan. Ikhlas memberi tanpa pamrih, ikhlas mencintai meski ramai cacian dan kecurigaan, ikhlas berbuat walau kerap tak terlihat, tak dianggap, dan dilupakan.

Keikhlasan itulah yang tampaknya tengah raib dari elite negeri ini, keikhlasan itulah yang hilang dari suami atau istri, terhadap keluarganya, kiai terhadap umatnya, kekasih terhadap pasangannya, dan kian terkikis dari pribadi2 kita. Di titik ini, benar kata Abah, keikhlasan itu tidak tampak dan tak perlu ditampakkan, karena hasil keikhlasan akan terungkap saat ruh meninggalkan jasad kita.

Tapi, apa harus ajal takaran keikhlasan itu, Bah?

Lahul fatihah...

Depok, Senin (24/4) dini hari.

*Mohammad Nashih Nashrulloh, Jurnalis Republika

Sumber: Republika

Senin, 24 April 2017

FPI Serukan Aksi Simpatik Kawal Sidang Ahok 25 April Besok

FPI Serukan Aksi Simpatik Kawal Sidang Ahok 25 April Besok

10Berita-JAKARTA  – Sidang keduapuluh kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki T. Purnama besok akan kembali diwarnai aksi yang diinisiasi oleh Front Pembela Islam (FPI).

Melalui akun Twitter Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab, tampak selebaran bertajuk Aksi Simpatik Kepung Sidang Ahok.

Dalam poster itu tertera aksi yang akan dilangsungkan pada Selasa 25 April mulai pukul 07.00 WIB. “Aksi simpatik kepung sidang ahok. Aksi damai rutin tiap sidang bukan aksi anarkis,” demikian tulisan di selebaran itu seperti dikutip dari akun Twitter Habib Rizieq, Ahad (23/4/2017).

Aksi yang dijuluki aksi Simpatik Kepung Sidang Ahok ini untuk memberi support terhadap hakim agar tetap menjaga independensi saat menjatuhkan hukuman dengan memvonis lebih dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Beri support independensi hakim agar berani ambil keputusan ultra petitum (vonis melebihi tuntutan),” demikian lanjut keterangan di selebaran itu.

BACA JUGA: Besok, Sidang Lanjutan Kasus Penistaan Agama Akan Dilaksanakan, Ini Agendanya!

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Hubungan Msyarakat Polda Metro Jaya,  Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan selain akan menambahkan pasukan, ia juga tegaskan bahwa tidak ada yang bisa intervensi terhadap hukum.

“Tetep kita melakukan pengamanan sesuai SOP, yang tentunya kalau massa semakin banyak kita akan ada pasukan cadangan yang kita siapkan. Pola pengamanan tetap sama cuma penambahan pasukan, ribuanlah kita siapkan,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Senin, (24/4/2017).[]

Sumber: Ummat Pos

Siapa Intel Polisi yang Semobil dengan LUIS dan Ranu? Dahnil: “Nah, itu yang Nggak Diungkap!”

Siapa Intel Polisi yang Semobil dengan LUIS dan Ranu? Dahnil: “Nah, itu yang Nggak Diungkap!”


10Berita-SOLO – Usai memberikan tausiyah Shubuh berjamaah di Masjid Kota Barat, Jalan Doktor Muwardi No. 24, Solo, Jawa Tengah, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menanggapi kasus Social Kitchen yang menyeret Wartawan Ranu Muda dan Tokoh Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS).

Dahnil pernah menjadi penjamin pembebasa bersyarat Ranu Muda hingga dua kali ditolak Polda Jawa Tengah (Jateng). Meski demikian, ia berharap Majelis Hakim bertindak obyektif. Dia menilai kasus Social Kitchen penuh rekayasa, untuk mengkriminalisasi aktivis nahi munkar dan wartawan Ranu.

“Saya sih sejak awal kan menjaminkan, sekarang hakim harus melihat dari sisi kemanusiaan, Ranu punya anak kecil dan menjadi kepala keluarga. Hakim juga harus melihat secara jernih dan mendalam karena ada dugaan ini kriminalisasi,” katanya, Senin (24/4/2017).

Selain itu, Dahnil menegaskan seharusnya keberadaan intel polisi yang ikut dalam pertemuan mendatangi Social Kitchen juga diproses.

“Sejak awal Ranu hanya ikut melakukan peliputan, bahkan dalam pertemuan mendatangi cafe, dihadiri salah satu intel.Nah itu yang nggak diungkap, intelnya itu ikut ke cafe itu,” ungkapnya.

Menurutnya, kronologi kejadian di Social Kitchen dengan adanya perusakan bisa dicegah. Intel polisi yang berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) menjadi bukti kuat upaya kriminalisasi wartawan Ranu dan Tokoh LUIS.

“Kok tiba-tiba bisa bertambah dan keberadaan intel itu seharusnya bisa mencegah. Ini clue yang diperhatikan oleh Hakim. Jangan upaya kriminalisasi terhadap kawan-kawan yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar itu dilakukan secara masif,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dahnil berpesan kepada aktivis nahi munkar untuk berhati-hati dalam bertindak. Berusaha menggunakan instrumen hukum menjadi solusi upaya kriminalisasi aktifis.

“Kepada kawan yang memiliki energi amar ma’ruf nahi munkar berlebihan perlu diingatkan, jangan sampai kemudian menciptakan kemunkaran baru, itu harus hati-hati. Selalu gunakan instrumen hukum, jangan terjebak,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam kronologi aksi amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana disampaikan Ranu Muda dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), pihak kuasa hukum Ranu membeberkan, bahwa memang benar ada anggota aparat kepolisian dari Polresta Surakarta yang hadir pada saat itu.

Pada hari Ahad tanggal 18 Desember 2016, sekitar pukul 01.00 WIB, Ranu melakukan peliputan terhadap aksi amar ma’ruf nahi munkar Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), di café Social Kitchen.

Kemudian hingga sekitar pukul 02.00 WIB, setelah melakukan liputan/dokumentasi, Ranu meninggalkan lokasi, kembali menumpang dalam mobil rombongan tokoh LUIS. Tak disangka, dalam mobil itu ikut menumpang anggota polisi dari Polresta Surakarta yang bernama Karsuli.

Hanya beberapa hari setelah aksi amar ma’ruf nahi munkar di Social Kitchen, tepatnya pada Selasa (20/12/2016) dini hari, semua tokoh LUIS yang pernah berada dalam satu mobil dengan anggota Polresta Surakarta, Karsuli, satu persatu ditangkap di rumah mereka.

Tak ketinggalan, Kamis, 22 Desember 2016, pukul 00.10 WIB dini hari, Ranu diciduk polisi di rumahnya, Ngasinan Rt 003, Rw 004 Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Penangkapan itu disaksikan kedua anaknya yang masih balita hingga menimbulkan trauma. [SY]

Sumber: Panjimas


Tokoh Reformasi, Amien Rais: Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish!

Tokoh Reformasi, Amien Rais: Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish!

10Berita-SOLO  Terkait tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap kasus Penistaan Agama oleh Ahok, tokoh reformasi, Prof D. Amin Rais angkat bicara dan memperingatkan Presiden Jokowi untuk berhati-hati.

Usai meresmikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Terpadu Aisyiyah Bustanul Athfal, di Clolo, Kadipiro, Solo, Jawa Tengah, dia menilai jika hakim memberikan putusan sama dengan jaksa, maka Presiden Jokowi akan memanen protes keras rakyat Indonesia.

“Kalau sampai hakim memberikan hukuman seperti keputusan jaksa, hukuman satu tahun dengan percobaan dua tahun (ini artinya bebas), saya kira Jokowi akan memanen protes luar biasa masyarakat Indonesia. Jangan pernah berharap jadi presiden lagi, sudah, itu keyakinan saya,” katanya, Senin (24/4/2017).

Menurutnya, kekalahan Ahok pada Pilkada DKI Jakarta menjadi bukti kekalahan Jokowi. Jokowi yang membanggaka Taipan pemilik modal besar, sehingga mudah meremehkan rakyat, kata Amin Rais justru akan memicu kemarahan.

“Jadi kalau Jokowi cukup cerdas, harus tahu kekalahan Ahok di Pilkada itu, kekalahan Jokowi juga. Kalau mau nekat hukuman diperingan, dia (Jokowi) finish. Jangan meremehkan umat Islam lah, jadi Taipan, Cukong ndak ada gunanya. Sebab rakyat kita makin pandai, malah marah nanti,” ucapnya.

Dia berpesan pada Jokowi untuk tidak mencampuri keputusan hakim dalam memutuskan sidang perkara penistaan agama oleh Ahok.

“Kalau mereka main uang dan sembako, kita marah, rakyat akan marah. Akan jadi bumerang, jadi pesan saya bung Jokowi, anda hati-hati, jangan mencampuri keputusan hakim itu. Kalau anda mencampuri saya kira anda juga akan finish. Saya tidak mendahului takdir Allah bahwa umat Islam sudah habis kesabarannya, pengalaman kemarin itu jelas sekali,” ujarnya.

Lebih lanjut, Amin Rais menegaskan hukuman bagi penista agama sewajarnya adalah dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara. Jika penista agama bebas, dia yakin Jokowi akan lengser dan tidak akan pernah menjadi Presiden lagi.

“Kalau Ahok penista agama dihukum ringan, saya kira Jokowi jangan berharap jadi Presiden lagi,” pungkasnya. [SY]

Sumber: Islampos


DUH! Ahok Ditolak Warga Bali, Netizen: Kok Bisa?! DASAR RASIS!!

DUH! Ahok Ditolak Warga Bali, Netizen: Kok Bisa?! DASAR RASIS!!


10Berita-Pasca kekalahan Ahok di kontestasi pilkada DKI Jakarta, muncul seruan dari netizen untuk menjadikan Ahok sebagai Gubernur Bali pada tahun 2018 mendatang.

Tapi tak disangka rencana itu ditolak oleh para pendukungnya sendiri yang notabene orang Bali.

Berikut status facebook dari Mantan Komisioner KPU yang menyatakan ketidaksetujuannya dalam rencana tersebut meskipun ia pendukung Ahok.

TAK SEPAKAT AHOK CAGUB BALI

Ahok adalah manusia langka. Karakter lurusnya itu seharusnya diberdayakan oleh negara untuk mengawal proyek strategis. Menjadi gubernur Bali dengan skala persoalan yang relatif lokal mendagradasi kapasitas Ahok utk bisa maksimal mengabdi bagi negeri. Ahok tepatnya di Menteri BUMN (mencegah BUMN jadi sapi perahan para mafia), Menteri PAN dan RB (agar birokrasi lebih melayani dan bersih), Mendagri (agar kiat2 kepemimpinan bersih dan melayani bisa ditularkan) atau Kabulog (agar bisa mencegah mafia pangan dan menjamin keterjangkauan harga pangan).
Bali punya banyak stok anak muda brilyan dan mgkn sekelas Ahok. Hanya panggung mereka tak punya. Tugas kita menyiapkan mereka panggung agar kilaunya tampak!

Status ini mendapat tanggapan beragam dari netizen.




Sumber: Portal Islam

Kutukan" Keris Empu Gandring Anies dan Jokowi

"Kutukan" Keris Empu Gandring Anies dan Jokowi


Kutukan Keris Empu Gandring Anies dan Jokowi

Oleh: Hersubeno Arief*

APA dan bagaimana sesungguhnya hubungan Jokowi dengan Ahok? Soal ini banyak menjadi spekulasi. Konsultan politik Eep Saefulloh Fattah punya penjelasan yang lugas. “Jokowi adalah tim sukses utama Ahok dan istana kepresidenan adalah Posko Kemenangannya.”

Tudingan Eep sangat masuk akal bila melihat apa yang terjadi sepanjang proses Pilkada DKI 2017 lalu. Campur tangan kekuasaan dalam kasus hukum, sampai dalam proses kampanye sangat terasa. Kalau memang benar Jokowi adalah tim sukses utama, bagaimana Jokowi memandang dan memaknai kemenangan pasangan Anies-Sandi.

Kisah perjalanan naiknya Anies Baswedan ke kursi Gubernur DKI bila kita perhatikan, sesungguhnya sangat mirip dengan kisah perjalanan politik Jokowi. Campur tangan dan keputusan Ketua Umum Gerindra  Prabowo Subianto menjadi benang merah bagi keduanya. Kita boleh menyebut fenomena ini sebagai 'Prabowo factor'.

Pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI bisa dikatakan sepenuhnya karena adanya Prabowo factor. Pada Pilkada DKI 2012 PDIP sebenarnya tidak berniat mencalonkan Jokowi. Popularitas Jokowi sebagai Walikota Surakarta yang sangat berhasil, tidak membuat Ketua Umum Megawati tergiur untuk mencalonkannya.

Maklumlah, saat itu, yang dihadapi adalah Fauzi Bowo gubernur incumbent yang juga sangat populer dengan tingkat elektabilitas tinggi. Posisinya mirip-mirip dengan Ahok menjelang Pilkada 2017. Lembaga-lembaga survei juga menyebut elektabilitasnya belum ada yang mengalahkan.

PDIP ketika itu juga tertarik untuk mendukung Foke, panggilan Fauzi. Sinyal kuat tersebut datangnya dari Taufik Kiemas, suami Megawati. Fungsionaris PDIP Adang Ruchiatna yang bakal diajukan sebagi cawagub. Latar belakang Adang yang pensiunan jenderal bintang dua dari TNI AD sangat pas dengan kebutuhan Foke yang mencari figur militer sebagai pendampingnya. Namun peta pertarungan dan posisi kemudian berubah karena Prabowo.

Prabowo bergerilya dan bolak-balik menemui Megawati untuk meyakinkan bahwa Jokowi sangat layak dipasang sebagai Cagub DKI. Prabowo bahkan menyanggupi ketika Megawati menyatakan tidak mempunyai biaya untuk mendukung Jokowi.

Hubungan Prabowo dengan Megawati saat itu cukup erat. Mereka sempat berpasangan dalam Pilpres 2009 berhadapan dengan SBY-Budiono dan Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan Mega-Prabowo kalah, namun hubungan personal keduanya terus berlanjut.

Setelah berhasil meyakinkan Megawati untuk mengusung Jokowi, Prabowo kemudian mulai mencarikan jodohnya. Pilihannya jatuh ke anggota DPR RI dari Golkar Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama Ahok.

Pilihan kepada Ahok tampaknya tak lepas dari strategi jangka panjang Prabowo untuk maju kembali pada Pilpres 2014. Sejak Peristiwa Mei 1998 yang menimbulkan kerusuhan dan menimbulkan eksodus etnis China ke luar negeri, citra Prabowo yang anti China melekat cukup kuat.

Dia disalahkan ikut andil bahkan ada yang menyebutnya sebagai dalang kerusuhan itu. Tuduhan itu sampai sekarang masih sulit dibuktikan.

Dengan mencalonkan Ahok, Prabowo setidaknya ingin meredusir image yang sudah terlanjur melekat erat padanya.

Seperti kita ketahui akhirnya pasangan Jokowi-Ahok mengalahkan Foke yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli. Jokowi-Ahok juga harus melalui putaran kedua untuk memastikan kemenangan.

Cerita manis hubungan Jokowi dengan Prabowo mulai merenggang ketika ada gelagat Jokowi akan mencalonkan diri sebagai capres. Mega sendiri tampaknya juga berminat menjadi capres. Namun kuatnya dukungan publik kepada Jokowi, membuat Mega mundur.

Ketika Jokowi akhirnya benar-benar dicalonkan PDIP sebagai Capres, hubungan Jokowi-Mega dengan Prabowo benar-benar putus. Khusus soal Megawati menurut kubu Prabowo, dia mengingkari janjinya. Pada saat mereka maju berpasangan pada Pilpres 2009, ada klausul bila mereka kalah, maka Megawati akan mendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Kesepakatan itu dibuat di Batu Tulis, Bogor yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Batu Tulis.

Kisah Jokowi-Prabowo semakin dramatis. Jokowi orang yang diperjuangkan Prabowo dari tepian Bengawan Solo menuju puncak kekuasaan di Jakarta, akhirnya berhadapan dengannya dalam Pilpres 2014. Prabowo berpasangan dengan Hatta Radjasa dikalahkan Jokowi yang berpasangan Jusuf Kalla.

Pengkhianatan kepada Prabowo menjadi lengkap dan sempurna ketika Ahok yang sudah menjadi Gubernur DKI menggantikan Jokowi, meninggalkan Gerindra dengan alasan tak sepakat pada pilihan politik Gerindra. Saat itu, Gerindra bersama sejumlah partai mendukung opsi mengembalikan proses pilihan kepala daerah ke DPRD, bukan lagi pilkada langsung.

Dalam Pilkada DKI 2017, Prabowo kembali head to head dengan Megawati dan Jokowi yang mengusung pasangan Ahok-Djarot. Sementara Prabowo mengusung Anies-Sandi. Ini merupakan medan tempur besar kedua bagi mereka, setelah Pilpres 2014.

Cerita terpilihnya Anies sebagai cagub yang diusung Gerindra dan PKS tak kalah menariknya. Ceritanya  mirip dengan terpilihnya Jokowi-Ahok. Semula Gerindra dan PKS mengusung calon Sandiaga Uno Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra berpasangan dengan Mardani Ali Sera salah satu ketua DPP PKS.

Menyadari tingkat elektabilitas keduanya tidak cukup kuat untuk menandingi Ahok-Djarot, mereka kemudian mulai bergerilya. Salah satu pilihannya adalah Anies Baswedan yang saat itu baru dicopot dari jabatannya sebagai Mendiknas oleh Jokowi.

Menariknya ketika nama Anies disodorkan, Prabowo menyetujuinya. Begitu juga PKS yang rela menarik pencalonan Mardani sebagai cawagub. Jadilah mereka mengusung pasangan Anies-Sandi sebagai cagub dan cawagub.

Sekedar mengingatkan, ketika Pilpres 2014 Anies adalah salah satu juru bicara Jokowi. Dalam berbagai kampanye tak jarang dia menyerang Prabowo dengan keras dan kata menohok.

Disitulah Prabowo sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai negarawan yang kelasnya jempolan. Dia bisa melupakan semua itu untuk tujuan yang lebih besar mengalahkan Ahok, sekaligus mengalahkan Jokowi dan Megawati. SEKALI TEPUK, TIGA LALAT MATI!

Nah sekarang Anies terpilih menjadi Gubernur DKI. Kekalahan Ahok banyak dilihat juga sebagai simbol dari kekalahan Jokowi. Sementara dari sisi Prabowo kembali menunjukkan kepiawaiannya sebagai 'King Maker'.

Sentuhan tangan dinginnya setidaknya sudah terbukti dua kali. Tak heran bila Sekjen Gerindra Ahmad Muzani berucap sekaligus memberi sinyal, siapapun yang didukung Prabowo akan menang.

Bila mengambil analogi sepak bola, skor Jokowi vs Prabowo saat ini 1-1. Atau setidaknya 1-1/2, karena posisi sebagai Presiden RI tentu tidak bisa disamakan dengan Gubernur DKI.

Melihat kerasnya pertempuran di Pilkada DKI banyak yang melihat hal itu sebagai persiapan Pilpres 2019. Apakah Prabowo akan kembali mengambil kesempatan menantang Jokowi atau dia mempersiapkan Anies sebagai kandidat penantang Jokowi.

Berdasar pengalaman Jokowi, posisi Gubernur DKI Jakarta merupakan batu lompatan yang strategis menuju kursi presiden. Bila berhasil mengkapitalisasi posisinya sebagai Gubernur DKI, dapat dipastikan Anies bisa menjadi bayang-bayang yang membahayakan Jokowi. Dia bisa menjadi matahari baru yang dapat meredupkan cahaya sinar Jokowi.

Rivalitas mereka akan menjadi seru karena ada setting peristiwa pencopotan Anies dari kabinet Jokowi sebagai latar belakangnya.

Pencopotan Anies merupakan langkah kuda Jokowi yang berdampak ganda:

Pertama, dalam jangka pendek sebagai langkahnya meminimalisir adanya efek “matahari kembar”. Sebagai Mendiknas, Anies cukup populer dan dinilai sangat berhasil. Anies juga menjadi idola baru, terutama di kalangan anak muda dan kelas menengah terdidik. Mumpung sinarnya belum terlalu terik menyengat, Jokowi segera mengambil langkah mencopotnya.

Kedua, Jokowi ingin memperluas dukungan di kalangan Islam dengan merangkul Muhammadiyah. Muhajir Effendy pengganti Anies merupakan salah satu tokoh intelektual Muhammadiyah. Jokowi sudah berhasil merangkul Nahdlatul Ulama (NU) melalui PBNU, PKB dan PPP. Kini giliran Muhammadiyah.

Dengan modal partai-patai pendukung ditambah NU dan Muhammadiyah sebagai Ormas Islam terbesar di Indonesia, maka Jokowi akan sangat percaya diri menatap Pilpres 2019. Termasuk bila Jokowi harus berpisah jalan dengan Megawati dan PDIP.

Jangan lupa, Jokowi bukanlah kader idiologis PDIP. Dia seorang pengusaha mebel yang kemudian menjadi “anak angkat PDIP”  ketika maju dalam Pilkada Kota Surakarta 2005. Kendati telah menjadi presiden, Megawati dalam berbagai kesempatan di depan umum, tak sungkan menyebutnya “hanya” seorang petugas partai. Posisinya sebagai presiden juga selalu dalam bayang-bayang kekuasaan Megawati.

Sayangnya upaya Jokowi merangkul umat Islam menjadi  mentah kembali sebagai imbas Pilkada DKI 2017. Pertarungan dalam pilkada DKI mengkonfirmasi munculnya ketidakpuasan, bahkan kemarahan yang cukup tinggi di kalangan umat Islam, terhadap Jokowi.

Sikapnya yang mati-matian melindungi Ahok memicu antipati terhadapnya yang tercermin dari unjukrasa jutaan umat dalam Aksi Bela Islam (ABI) I-III.

Berbagai aksi tersebut tidak hanya melibatkan warga Jakarta, tapi juga berbagai elemen umat Islam di seluruh Indonesia. Aksinya sangat massif dan tercatat sebagai terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

Situasi ini  merupakan modal besar bagi Prabowo ataupun figur yang akan didukungnya. Apalagi ketika pemerintahan Jokowi melakukan kriminalisasi terhadap para ulama dan menuduh mereka makar, Prabowo dengan tegas menentangnya. Dia tampil di depan membela.

Berbagai aksi itu juga memunculkan sebuah fenomena berbagai elemen Islam yang selama ini terpecah-pecah dalam berbagai harakah (gerakan) menjadi satu. Mereka mengesampingkan berbagai perbedaan dan bersatu menentang Ahok dan tentu saja Jokowi sebagai pelindungnya.
Seperti kutukan keris Empu Gandring, akankah posisi Gubernur DKI Jakarta menjadi senjata yang menusuk Jokowi, seperti halnya ketika dia gunakan untuk menusuk Prabowo?

Sebagai orang Jawa yang mempercayai mitologi, bayang-bayang ini  setidaknya akan menghantui Jokowi. Kemenangan Anies-Sandi bisa menjadi awal keruntuhan Jokowi.*

*) Hersubeno Arief adalah wartawan senior yang kini jadi Konsultan Media dan Politik.

Sumber: https://www.ngopibareng.id/news/kutukan-keris-empu-gandring-anies-dan-jokowi-1011290, P I

Konser Iwan Fals Sepi Pengunjung, Alasannya Mengejutkan!

Konser Iwan Fals Sepi Pengunjung, Alasannya Mengejutkan!


Lapangan Korpri (Twitter/iwanfals)

10Berita-Iwan Fals menggelar konser usai Musyawarah Nasional Orang Indonesia (OI) di Bandar Lampung, Ahad (23/4/2017). Konser di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung itu disebutnya silaturahmi atau konser mini.

Tak seperti biasanya, konser itu sepi pengunjung. Hanya sekitar 400 orang, itu pun mayoritasnya dari pengurus OI.

Seperti dilansir Lampung-Online, dari jumlah keseluruhan penonton sekira 400 orang itu, 95 persen adalah anggota dan pengurus OI. Sedangkan 5 persen merupakan warga sekitar, terdiri dari kaum ibu dan anak-anak sekira 2 persen dan pria 3 persen.

Sejumlah penonton lokal menyaksikan konser itu dari kejauhan. Seperti di anak tangga dekat tiang bendera antara depan gedung Balai Keratun dan gedung DPRD Provinsi Lampung.

Apa yang membuat konser itu sepi pengunjung? Komentar dari warga Lampung sungguh mengejutkan.

"Saya ke sini bukan karena sengaja mau nonton Iwan Fals, tapi kebetulan tadi saya lewat lalu mampir. Dulu kalau Iwan Fals konser, penonton sangat ramai hingga ribuan orang memenuhi lapangan. Tapi sekarang, lihat sendiri, hanya di depan panggung saja yang ramai," kata Amir ketika diwawancarai Lampung-Online.

Ketika Lampung-Online menanyakan lebih lanjut apa maksud 'Iwan Fals bukan lagi yang dulu', pegawai honorer itu menjelaskan bahwa Iwan Fals sekarang sudah berpolitik, bukan lagi seniman murni. Ia pun menyayangkan Iwan Fals mendukung Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta.

Andi, warga Telukbetung Utara, Bandar Lampung juga berpendapat mirip dengan Amir.

"Idealisme Iwan Fals sudah hilang. Bahkan saya pernah baca di media online jika Iwan Fals sudah pro ke Presiden Jokowi dan Ahok. Padahal abang tahu sendiri kan gimana keadaan ekonomi kita sekarang. Rakyat susah. Iwan Fals sekarang sudah menyembah kepada penguasa, tidak lagi membela orang pinggiran," tukas Andi kesal. [Ibnu K]

Sumber: Tarbiyah.net

BLUNDER ADMIN @_TNIAU Dibalas PRESTASI CIAMIK Sederet Diplomat Sunda, MASIH NGEYEL MEREKA BELUM INDONESIA?

BLUNDER ADMIN @_TNIAU Dibalas PRESTASI CIAMIK Sederet Diplomat Sunda, MASIH NGEYEL MEREKA BELUM INDONESIA?


10Berita-  Blunder kicauan admin akun twitter resmi TNI AU akhirnya berakhir setelah admin memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas kicauannya.

Wajar bila kicauan blunder itu tak hanya membuat marah orang Sunda, namun telah memicu kemarahan hampir seluruh netizen.

Inilah persatuan dan keIndonesiaan yang sesungguhnya. Ketika saudara yang berbeda suku diejek, maka saudara sebangsa akan membela.

Terkait kicauan "Saya Sunda berarti belum Indonesia", berikut sederet bukti prestasi orang Sunda pada tatar diplomasi.

Orang Sunda dan diplomasi adalah hal yang cukup berkaitan erat. Berhubungan dengan bangsa lain pun bukan hal baru bagi orang Sunda. Sebuah prasasti kuno menceritakan bagaimana orang Sunda sudah punya hubungan dengan Tiongkok. Di masa lalu, seperti tertuang dalam Suma Oriental, yang ditulis Tome Pires, orang Sunda dianggap jujur dan pemberani. Surawisesa atau Raja Samiam pernah membuat perjanjian dengan Portugis yang diwakili Enrique Leme di Malaka pada abad XV. Seperti kemudian tertuang dalam Prasasti Sunda Portugis yang ditemukan di Kali Besar, Jakarta Barat.

Tentu saja sebagian orang, termasuk yang hanya melihat sumber Portugis itu, beranggapan itulah pertama kalinya orang Sunda terlibat hubungan internasional. Padahal, di tanah Sunda sendiri, sudah ada kerajaan yang tercatat punya hubungan dengan Kerajaan di Tiongkok daratan sebelum abad V. Setelah Republik Indonesia berdiri, lebih banyak orang Sunda yang berhubungan dengan bangsa lain. Setidaknya banyak orang Sunda jadi diplomat, Duta Besar bahkan menteri luar negeri. Tabiat tenang, sopan santun serta halus bicaranya, membuat orang Sunda berbakat jadi diplomat.

Ali Alatas dan Orang Sunda Lain

Jika saja Ramadhan KH meneruskan studinya di Akademi Dinas Luar Negeri, Jakarta, dia akan jadi diplomat. Belakangan dia sudah terkenal sebagai penulis terpandang di Indonesia. Istrinya, orang Sunda juga, Pruistin Atmadjasaputra, adalah lulusan Akademi itu dan belakangan jadi diplomat di luar negeri. Di Akademi itu, ada blasteran Arab-Sunda bernama Ali Alatas. Ibunya orang Sunda. Ali lulus di tahun 1954. Dia kemudian berkarier sebagai Diplomat dan akhirnya menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia.

Sebelum Ali Alatas, Mochtar Kusumaatmadja adalah orang Sunda pertama yang menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dari 1978 hingga 1988. Menteri Dalam Negeri Indonesia, baru orang Sunda, yakni RAA Wiranatakusumah. Sebelum jadi menteri, Mochtar dikenal sebagai ahli hukum. Selain Ali dan Muchtar, ada Hasan Wirayuda dan Marty Natalegawa yang merupakan diplomat berdarah Sunda dan menjadi menlu.

Hasan Wirayudha mengisi pos menlu sejak 2001 hingga 2009. Sebelumnya, Hasan pernah menjadi Direktur Organisasi Internasional, dari tahun1993 hingga 1997. Setelah itu, Hasan ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Mesir merangkap Djibouti, dari 1997 hingga 1998. Lalu sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dari 1998 hingga 2000. Hasan

Marty Natalegawa, yang berpendidikan luar negeri, berkarier di Departemen Luar Negeri sejak 1986. Ia memulai kariernya sebagai staf Badan Penelitian dan Pengembangan di departemen itu. Pada 2002, kariernya bersinar. Dia ditunjuk sebagai juru bicara Departemen Luar Negeri hingga 2005. Selanjutnya dia dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris Raya dan Republik Irlandia, menggantikan Juwono Sudarsono, yang diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Marty juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia di PBB, sejak 5 September 2007 hingga 22 Oktober 2009, lalu menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB.

Djuanda Kartawijaya, orang Sunda yang pernah jadi perdana menteri, barangkali bukan orang Kementerian Luar Negeri. Namun, namanya cukup penting dalam hukum laut internasional. Orang mengenal Deklarasi Djuanda mengenai garis batas laut terluar, yang semula 3 mil menjadi 12 dari garis pantai.

Selain jadi menteri luar negeri. Tentu lebih banyak orang Sunda yang pernah jadi duta besar, atau posisi diplomatik lainnya. Nana Sutresna Sastradidjaja dan Ilen Suryanegara termasuk dua orang Sunda, dari jalur nonmiliter yang menjadi duta besar. Nana Sutresna pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya. Diplomat kelahiran Ciamis ini berkarir di Departemen Luar Negeri sejak 1957. Sebagai diplomat, dia pernah juga dikirim ke Korea Utara dan Korea Selatan, untuk meredakan ketegangan abadi dua negara serumpun itu.

Ilen Suryanegara, yang juga dikenal sebagai budayawan penggagas Taman Ismail Marzuki, pernah menjadi duta besar di Tunisia dan Alzajair. Sebelumnya, dia pernah bekerja di beberapa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di beberapa negara Eropa.

Selain nama-mana senior tadi, duta besar yang dianggap berdarah Sunda dari kalangan sipil adalah Eki Syachrudin yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada, Iwan Wiriaatmadja sebagai Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh dan Rizali Wilman Indrakesuma yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk India. Ada pula Desra Percaya, Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merangkap Duta Besar RI untuk Bahama, Jamaika, Guatemala dan Nikaragua.

Mereka Yang "Didutabesarkan"

Sudah banyak orang Sunda masuk militer dan pangkatnya di atas kolonel. Mereka tak melulu bertugas di pasukan. Ada juga yang diperbantukan sebagai atase. Kolonel Rachmat Kartakusumah sebagai Atase Militer Indonesia di Paris, Perancis, pada 1957 hingga 1961. Menurut Satrio dalam Perjuangan dan Pengabdian(1986), penunjukan Rahmat itu adalah usul Ilen Suryanegara yang menjabat Sekretaris KBRI di Paris. Setelahnya, Rachmat tak pernah lagi di Departemen Luar Negeri.

Raden Eddy Martadinata pernah jadi orang nomor satu di Angkatan Laut sejak 1959 hingga 1966. Dengan pangkat Komodor hingga Laksamana dia menjadi menteri/Panglima Angkatan Laut kepercayaan Soekarno. Sebaliknya, di bawah Martadinata, Angkatan Laut pun begitu loyal kepada Soekarno sang pemimpin besar Revolusi. Jelang lengsernya Soekarno, Martadinata dijadikan Duta besar Indonesia untuk Pakistan. Pada 6 Oktober 1966, dia bersama tamu negara dari Pakistan naik sebuah helikopter di daerah Puncak. Helikopter naas itu menabrak gunung, Martadinata dan tamu negara asal Pakistan itu meninggal dunia.

Beberapa bulan sebelum kematian Martadinata. Panglima KODAM Siliwangi, Mayor Jenderal Ibrahim Adjie juga didutabesarkan ke Inggris Raya. Sejak Juni 1966, Adjie yang dikenal loyal pada Soekarno, tak lagi memimpin KODAM terbesar di Indonesia itu. Adjie punya pengalaman bertugas di kedutaan sebelum jadi Panglima Siliwangi. Dia atase militer di Beograd, Yugoslovakia. Dia bertemu istrinya yang merupakan warga negara Yugoslovakia. Adjie menjadi Duta Besar di Inggris hinga 1970.

Di kalangan perwira berbintang, jabatan duta besar seringkali dirasakan seperti sebuah pembuangan. Meski tak semuanya dibuang. Karena terlalu banyak jenderal yang kalah bersaing di posisi komando atau teritorial dan belum memasuki usia pensiun, maka banyak departemen-departemen di masa orde baru yang menerima para jenderal sebagai direktur jenderal, gubernur atau duta besar.

Perwira Sunda lain yang menjadi duta besar antara lain Ishak Djoearsa. Dia Duta Besar Indonesia untuk Kamboja 1975. Tahun berikutnya hampir jadi duta besar di Yugoslovakia. Ahmad Kosasih, yang pernah menjadi pimpinan Krakatau Steel, diangkat juga menjadi duta besar Indonesia untuk Belanda sejak 20 Maret 1980 hinga 1983. Aang Kunaefi Kartawiria, yang mantan Gubernur Jawa Barat, juga pernah jadi diplomat. Dia menjadi Duta Besar Arab Saudi Oman dan Yaman sejak 10 Desember 1985. Sementara Hidayat Martaatmadja, yang pernah jadi Menteri Pos Telekomunikasi dan pariwisata di era Soekarno, dijadikan duta besar di Australia dan New Zeland sejak Februari 1968 hingga Februari 1970.

Sumber: Tirto.id, Portal Islam

Jokowi Mulai “Gelisah” Sejak Ahok Kalah Pilkada

Jokowi Mulai “Gelisah” Sejak Ahok Kalah Pilkada

10Berita-Jakarta – Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat pada Pilkada DKI Jakarta 2017 bisa berpengaruh terhadap Presiden Joko Widodo. Pasalnya, pria yang karib disapa Jokowi itu sudah memiliki chemistry dengan Ahok, sapaan Basuki.

Berdasarkan hasil hitung cepat, Ahok-Djarot kalah dari Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta 2017. ‎Masa kerja Ahok-Djarot sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI hingga Oktober 2017.

“Kerja Jokowi enggak senyaman dulu dengan Ahok, karena chemistry-nya Ahok,” kata Direktur Eksekutif Vox‎pol Center Pangi Syarwi Chaniago dikutip dari jpnn, Senin (24/4).

Karena itu, Pangi menyatakan, tinggal bagaimana nanti Jokowi dan Anies melakukan pendekatan. Sehingga, bisa terjalin hubungan yang baik seperti ketika Gubernur DKI Jakarta dipegang Ahok. “(Jokowi) belum dapat (chemistry) dengan Anies, tapi gimana nanti bersosi‎alisasi, beradaptasi,” ujar Pangi.

Terkait Pemilihan Presiden 2019, Pangi mengatakan, Jokowi bisa saja menggandeng Ahok sebagai calon wakil presiden. ‎Namun, menurut dia, perkara dugaan penodaan agama yang menjerat Ahok bisa menjadi kendala. “Untuk bisa mendapat dukungan suara mayoritas enggak gampang, Jokowi agak terganggu,” tutur Pangi.

Pangi menilai, Jokowi bisa menggandeng kepala daerah yang berprestasi di pemerintahan untuk dijadikan sebagai cawapres. Misalnya saja Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Menurut Pangi, memegang jabatan sebagai wakil tidaklah mudah. Sebab, seorang wakil harus memahami persoalan fundamental dan bisa mengatasi persoalan.

Kemudian, sosok yang ditunjuk‎ sebagai wakil juga harus berpengalaman, karena biasanya pekerjaannya lebih teknis. “Kalau salah ngambil wakil bisa blunder,” ucap Pangi. [jp]

Sumber: NETIZENPLUS.com.