OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 25 April 2017

5 Hari Setelah Kalah Pilkada Jakarta, Ini Bukti Megawati Tinggalkan Ahok

5 Hari Setelah Kalah Pilkada Jakarta, Ini Bukti Megawati Tinggalkan Ahok


Megawati ziarah ke makam mantan Presiden Soekarno (antara)

10Berita-Berdasarkan hasil hitung cepat semua lembaga survei dan perhitungan KPU, pasangan calon Anies-Sandi dinyatakan menang dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua pada Rabu (19/4/17). 

Ahok-Djarot juga menyatakan pengakuan atas kemenangan Anies-Sandi, meski KPUD DKI Jakarta belum memberikan pengumuman pemenang secara resmi.

Kekalahan Ahok merupakan bukti bahwa pelaku penista agama mulai ditinggalkan oleh warga Jakarta. Mirisnya, meski tidak banyak diketahui publik, Ahok juga mulai ditinggalkan oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Kejadian ini berlangsung lima hari setelah Pilkada Jakarta atau pada Senin (24/4/17).

Sebagaimana diketahui, rombongan Megawati Soekarnoputri dan beberapa pengurus DPP PDIP melakukan ziarah ke makam mantan Presiden Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Blitar, Jawa Timur, pada Senin (24/4/17).

Mega yang hadir sekitar pukul 12.15 WIB terlihat bersama pengurus pusat PDIP Perjuangan. Terlihat dalam rombongan tersebut Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat, Kepala BIN Budi Gunawan, Wakapolri Komjen Syafrudin, dan lainnya.

Ketika rombongan terebut tiba, kompleks peristirahatan terakhir mantan Presiden Soekarno ini ditutup dari warga umum yang berziarah. Warga menunggu di luar gerbang dan baru diziinkan masuk setelah rombongan usai melakukan ziarah.

Mega yang mengenakan celana jins abu-abu dan kemeja putih ini tetap tak mengenakan kerudung ketika bersimpuh, berdoa, dan menaburkan bunga serta menyiramkan air di pemakaman sang ayah.

Dalam foto yang dipublikasikan oleh Republika, Selasa (25/4/17) dari kantor berita Antara, hanya ada tujuh orang yang terlihat berziarah. Megawati berdiri di sebelah barat makam seraya menaburkan bunga dan menyiramkan air, Djarot berada di sebelah utara makam, dua orang berada di sebelah timur makam. Dan tiga orang berdiri di bagian dengan posisi membelakangi kamera.

Dalam rombongan tersebut tidak terdapat cagub DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang diusung PDIP Perjuangan. Apakah tidak diajaknya Ahok karena alasan sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama yang dihelat hari ini, Selasa (25/4/17) atau sinyalir ditinggalkannya Ahok oleh Megawati? [Om Pir]

Sumber:Tarbawia


SALAM UNTUK WARGA BALI..KARENA KITA SATU INDONESIA YANG BENCI PERPECAHAN.

SALAM UNTUK WARGA BALI..KARENA KITA SATU INDONESIA YANG BENCI PERPECAHAN.


By : Imawati Sukardi

Beberapa hari ini saya memang masif buat opini tentang ahok bagusnya di bawa ke bali. Karena melihat pendukung ahok dari bali sangat mendukung beliau dengan menepuk dada bahwa bali adalah tempat yang paling toleran. Berbagai macam opini dalam bentuk tulisan di media sosial bermunculan untuk menguji reaksi arti BHINEKA pada warga bali.

Saya percaya bali sangat TOLERAN dan BHINEKA, bukti bali sebagai tempat wisata membuktikan bahwa bali bisa menerima budaya para wisatawan yang datang di daerahnya. Namun, bicara Toleransi itu tidak semudah melakukannya. Terlebih pada kondisi yang belum pernah di alami.

Kenapa umat muslim jakarta tidak suka pada ahok? kenapa umat islam indonesia juga tidak suka pada ahok..? bukan karena dia dr etnis keturunan, namun karena ada perlakukan dia yang tidak sesuai dengan slogan PERSATUAN dan KESATUAN negeri ini.

Sama halnya penggiat medsos pendukung ahok dari bali, saat mendukung mereka bisa berkata bla..bla..dan bla. Tapi saat di hadapkan, bisa lain ceritanya.

"Pulau Bali beda. Yg mau jadi pemimpin harus diupacarai secara hindu Bali dan scr tdk langsung beragama harus hindu. Bukan krn tidak toleran tapi untuk menjaga kekuatan yg menjadi sumber daya tarik pulau kami,” kata Ida Bagus Udyana Putra.

NAH, Bisa dibayangkan kalau Ahok berpidato mengatakan kepada orang Bali yang tidak mau memilihnya:

"Jangan mau dibohongi dan dibodohi pakai adat Bali..".

"Di bodoh2in pakai dupa, macem macem itu..."

Bayangin..!!

Bagaimana kira-kira reaksi masyarakat disana..? Apa yang akan dilakukan Pecalang? Apa akan diam saja dengan dalih toleransi? Akan diberi hadiah gelar kehormatan?

Andai perlakuan ahok itu terjadi pada kalian, apakah kalian akan diam atau melakukan hal yang sama seperti kami? Kasus sebagai contoh sudah ada dibali bagaimana seorang ibu bernama rusgiani terkena pidana. Andai ahok berkata seperti diatas..apakah kalian akan menerima juga dengan membawa nama TOLERANSI atau BHINEKA?

Mungkin akan ada kelompok yang akan berikan gelar kehormatan adat bagi ahok...coba rasakan, bagaimana saat tetua adat memberikan gelar kehormatan pada ahok..disaat kalian terluka. Apakah kalian akan ikut sanjungnya atau kalian akan sebaliknya?

Kami telah melakukannya sebagai CERMIN bgi kalian penggiat medsos pendukung ahok dari BALI. Memang tidak semua orang bali mendukung ahok, namun masifnya dukungan dari bali..membuat kami melempar ahok ke arah kalian. Kami ingin melihat..apa ceritanya saat ahok didekatkan ke arah kalian.

Kami terima tuduhan radikal..kami terima tuduhan kelompok INTOLERAN asal kalian bisa jadikan perjuangan kami sebagai CERMIN >>> "bagaimana kalau kalian dalam posisi kami".

KAMI TERIMA DIJADIKAN TUMBAL UNTUK ARTI PERSATUAN NKRI.

Mudah-mudahan pemeluk agama lain bisa memahami mengapa umat Islam marah ketika Kitab Sucinya dinistakan dianggap sebagai alat "pembodohan" dan menuduh "dibohongi" oleh para ulama yang mengajarkan Al Maidah 51.

Salam untuk warga bali..sebenarnya KITA ADALAH SAMA

Oleh: Imawati Sukardi


ORANG KRISTEN SAJA MENGANGGAP TUNTUTAN JAKSA TERHADAP AHOK CUMA MAIN-MAIN. APALAGI BAGI UMAT ISLAM

ORANG KRISTEN SAJA MENGANGGAP TUNTUTAN JAKSA TERHADAP AHOK CUMA MAIN-MAIN. APALAGI BAGI UMAT ISLAM


10Berita – Saya ingin mengawali tulisan ini dengan ucapan Selamat kepada Anies Basewedan dan Sandiaga Uno atas kemenangan di Pilgub Jakarta, meski belum secara resmi diumumkan oleh KPUD, namun keyakinan sudah bulat serta utuh berdasar hasil hitung cepat lembaga-lembaga Survay. Semoga Jakarta kedepan semakin baik dan lepas dari ketakutan perpecahan dan ketakutan huniannya digusur paksa atas nama penataan kota. Sekali lagi, Selamat..!!!
Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama kemarin adalah sebuah kekalahan yang sarat makna, sebuah kekalahan sempurna yang pesannya harus dipahami terutama oleh kekuasaan. Ada pesan yang menjadi teguran keras yang dialamatkan ke jantung kekuasaan. Bahwa tidak ada kekuasaan manapun yang mampu mengalahkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada kekuasaan manusia manapun yang mampu membendung doa rakyat tertindas serta tidak ada kekuasaan manapun yang boleh menantang kekuasaan Tuhan. Itulah pesan yang menjadi teguran keras kepada penguasa, dan elit-elit politik yang melihat masalah bangsa ini hanya dari sudut pandang sempitnya saja tanpa mau melihat dari sudut pandang luas masyarakat.
Kekalahan telah menghukum kepongahan dan keangkuhan selama ini yang dipertontonkan oleh kekuasaan. Ahok bahkan sesumbar akan menantang Tuhan dan melawan seisi Republik ini seraya merasa dirinya adalah mahluk suci tanpa dosa. Keangkuhan seorang manusia yang sesungguhnya hina atas segala kecongkakan. Ahok kalah, Ahok dihukum, doa rakyat tertindas, doa Umat yang menangis terkabul, Jakarta memilih Gubernur baru.
Meski berbekal kekuasaan yang bisa melakukan segalanya, berbekal uang yang tak terbatas jumlahnya, berbekal media main stream yang membentuk persepsi, Ahok dan kekuasaan dikalahkan oleh masyarakat, karena kekuasaan dan Ahok tidak memiliki bekal rendah hati, tidak memiliki bekal percaya secara benar kepada kuasa Tuhan. Mereka menyimpang dari nilai-nilai kebenaran sehingga hukuman pun dijatuhkan kepada Ahok dan kepada kekuasaan rejim. Rejim sudah runtuh secara politik ditengah masyarakat. Tidak ada lagi kepercayaan rakyat kepada penguasa.
*Pasca kekalahan yang menghukum kepongahan dan keangkuhan itu, hari ini Basuki Tjahaja Purnama telah juga menjalani sebuah fase waktu yang menggetirkan. Ahok duduk dikursi terdakwa mendengarkan tuntutan negara yang diwakili oleh Jaksa Penuntut Umum atas perbuatan Ahok yang menjatuhkan dirinya menjadi terdakwa atas penodaan agama.*Posisi terdakwa yang sangat memalukan dan menghinakan diri sendiri, karena status terdakwa itu didapat bukan karena membela kepentingan umum akan tetapi hanya karena nafsu berkuasa yang tak terkendali. *
Maka surat Almaidah dalam  kitab suci Islam pun dijadikan olok-olok dan dianggap sebagai alat membohongi.
Terkait dengan posisi duduk Ahok sebagai terdakwa, ada yang sesungguhnya membuat resah seisi Republik yang pernah ditantangnya.  Ahok dituntut secara dramatis namun penuh dagelan yang tidak lucu. Ahok yang didakwa menodai Agama Islam hanya dituntut hukuman percobaan. Ini sungguh perbuatan yang menghinakan penegakan hukum, perbuatan dari negara yang tidak mencerminkan bahwa hukum harus ditegakkan walau langit runtuh, hukum justru dibuat mainan untuk memenuhi ekspektasi kekuasaan.
Adakah keraguan dari negara dalam hal ini pemerintah yang diwakili Jaksa atas keyakinan bahwa telah terjadi penodaan agama seperti yang dilakukan Ahok? Jika tidak yakin mengapa Ahok tidak dituntut bebas saja? Dan jika yakin, mengapa tuntutan hanya hukuman percobaan sementara ancaman yang diatur dalam KUHP adalah kurungan 5 tahun? Logika hukum odong-odong menurut saya telah dipraktekkan dalam hal ini. Ancaman 5 tahun hanya dituntut hukuman percobaan. Seyogyanya tuntuan itu 2/3 dari ancaman dan vonis 2/3 dari tuntutan. Lantas logika hukum apa yang digunakan Jaksa menuntut Ahok dengan hukuman percobaan?
Tuntutan ini jelas akan merusak penegakan hukum kedepan. Tuntutan ini akan menjadi yurisprudensi kedepan jika benar-benar hakim menjatuhkan vonis seperti tuntutan Jaksa. Maka jangan kaget jika kemudian akan banyak yang berani menista agama sebagai akibat dari tuntutan terhadap Ahok. Maka bubar dan kiamatlah penegakan hukum dinegara ini dibawah pemerintahan Presiden Jokowi.
Hukum telah meresahkan publik, hukum telah membuat publik terguncang, dan rasa keadilan kemudian terhanggu dan rasa keadilan itu mungkin akan mengakibatkan guncangan politik baru, karena rasa keadilan itu mungkin akan mencari jalannya sendiri.
Semoga Tuhan menjaga bangsa ini.
Oleh  :  Ferdinand Hutahaean
RUMAH AMANAH RAKYAT
Sumber: Bataranews

PAHLAWAN WANITA BERKERUDUNG SYAR’I YANG TERLUPAKAN

PAHLAWAN WANITA BERKERUDUNG SYAR’I YANG TERLUPAKAN

10Berita– “Kartini” yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..
Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar’i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.
Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.
Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tekadnya, “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”
Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.
Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.
Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.
Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.
Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.
Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.
Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi olehpemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.
Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).
Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.
Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.
Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.
Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.
Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.
Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.
Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.
Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.
Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.
Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.
Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar’i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.
(Diringkas dari berbagai sumber)
Sumber: Bataranews



Menyusup, Enam Tentara Singapura Ditangkap di Batam

Menyusup, Enam Tentara Singapura Ditangkap di Batam
 Hasil gambar untuk singapura

10Berita- Anggota Komisi I DPR RI Elnino H Mohi mendesak agar pemerintah secepatnya meminta penjelasan dari pemerintah Singapura soal tertangkapnya enam tentaranya di Indonesia baru-baru ini.
“Perlu langsung minta klarifikasi dari pemerintah negaranya sebelum dilepaskan. Klarifikasi sekaligus permohonan maaf karena aparatur tentaranya melanggar aturan imigrasi,” tegas politikus Gerindra itu saat dihubungi di Jakarta, Senin (24/04/2017).
Menurutnya, kejadian tersebut sangat disayangkan karena betapa rapuhnya wilayah pertahanan negara ini dimana dengan mudahnya dimasuki orang asing secara leluasa.
“Kita menyesalkan adanya orang asing yang masuk ke wilayah kita tanpa dokumen yang lengkap. Apalagi yang masuk adalah anggota tentara asing,” tandas dia.
Mau tidak mau, kata dia, harus ada evaluasi serta perbaikan terkait sistem pertahanan dan keamanan negara saat ini.
“Kita juga mesti perbaiki segera sistem keamanan perbatasan kita. Kemenlu, imigrasi, polisi, tentara, Kemenhub, dan semua yang terkait mesti mengetatkan pintu-pintu masuk dan keluar negara ini. Jangan ada warga asing seenaknya masuk keluar negara ini. Jangan ada pula WNI yang seenaknya keluar masuk negara tanpa dokumen yang jelas,” tegasnya.
Seperti diketahui, dalam operasi penyakit masyarakat (pekat) yang dilakukan aparat imigrasi, POM TNI AL dan kepolisian di kepulauan Batam terjaring sejumlah orang asing termasuk enam tentara asal Singapura di sebuah tempat hiburan malam tanpa kelengkapan dokumen alias ilegal atau penyusup.(jk/ts)
Sumber: ts, eramuslim

Kemenangan Pilkada DKI, Di Mata Imam Masjid New York

Kemenangan Pilkada DKI, Di Mata Imam Masjid New York


PILKADA DKI YANG MEMBANGGAKAN

Oleh: Imam Shamsi Ali
(Imam Masjid di New York AS)

Setelah melalui proses panjang, sengit, heboh, dan terkadang menggigit dan menyakitkan, akhirnya pemilihan gubernur DKI telah berlalu. Ada sebagian pengamat yang menyebutkan pilkada Jakarta dengan "the most brutal campaign". Akhirnya, pasangan Anies Sandi yang diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera memenangkan pertarungan itu.

Tidak diragukan lagi jika DKI sesungguhnya cerminan dari gerak langkah dan peta perpolitikan Indonesia saat ini dan minimal beberapa tahun ke depan. Selain karena posisinya sebagai ibukota sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi. Juga karena pilkada ini melibatkan sentimen nasional, tentu karena faktor-faktor terkait antara lain kasus Al-Maidah 51.

Saya pribadi sangat bangga dengan pilkada DKI itu. Selain senang dengan hasilnya, karena saya masih lebih mendukung calon yang santun dan berkarakter, juga karena saya kenal gubernur terpilih Anies Baswedan dengan kredibilitas dan kapabilitasnya.

Tapi yang paling membanggakan adalah bahwa dengan segala hiruk pikuk dan berita yang kerkeliaran sana sini, pilkada DKI berjalan dengan lancar, aman, dan sukses. Bagi saya, ini sekaligus menggambarkan tingkat kedewasaan dan kesadaran politik dan demokrasi warga yang mengedepankan spirit kebebasan secara bertanggung jawab.

Lebih jauh lagi tentunya 80 persen lebih pemilih adalah Muslim. Sehingga dengan sendirinya menyampaikan pesan jelas kepada dunia bahwa proses demokrasi dan Islam bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Dan karenanya Indonesia harus bangga dengan posisi yang khas ini. Dunia merindukan partisipasi umat Islam dalam memperkuat basis demokrasi pada setiap levelnya. Dan Indonesia punya kredibilitas dan mampu membuktikan itu.

Ketidakjujuran Internasional

Tidak disangkal bahwa proses panjang yang dilalui oleh pilkada Jakarta ini cukup seru, bahkan sekali lagi dalam ekspresi sebagian "sangat brutal". Sejatinya itu bukan masalah. Di mana saja, di dunia ini, proses pertarungan politik seringkali menghadapi realita yang demikian. Bahkan, di negara-negara maju seperti Amerika sekalipun. Kampanye pemilihan Hillary melawan Donald Trump bahkan lebih brutal.

Sesungguhnya yang menjadi masalah adalah ketika penghakiman itu dilakukan secara tidak jujur. Setelah kemenangan pasangan Anies Sandi, media barat mulai melakukan "analisa" dengan metode usang; connecting factors. Seolah dengan adanya orang-orang atau kelompok tertentu yang selama ini ditenggarai sebagai "radikal" lalu kemenangan Anies Sandi juga dimaknai sebagai kemenangan radikalisme di Indonesia.

Sekarang terjadi kampanye terstruktur (sistimatik) untuk membangum persepsi bahwa kemenangan Anies Sandi menjadi ancaman bagi minoritas, baik secara agama (non Muslim) maupun ras (khususnya mereka yang berketurunan Cina). Allan Nairn salah satu sebagai misal. Allan adalah seorang penulis yang sejarahnya memang anti Indonesia, sejak kasus Timor Timur dan Orde Baru. Setelah kemenangan Anies Sandi, Allan menuduh kemenangan ini didukung oleh FPI, dan jahatnya pula FPI dikaitkan dengan ISIS.

Ketika kata itu tampil di permukaan, kira-kira persepsi apa yang kemudian terbangun di dunia internasional? Sungguh jahat iktikad mereka yang sering berkoar pentingnya berdemokrasi. Tapi, di saat apa yang dianggap kepentingannya tidak berhasil, dilakukanlah fitnah keji seperti itu.

Saya memang sadar bahwa tuduhan-tuduhan seperti ini "highly expected" (sangat memungkinkan). Ketika calon mereka masih di atas angin, menempati posisi teratas pada putaran pertama, rasanya biasa saja. Bahkan, beberapa pihak tidak terlalu peduli. Boleh jadi karena sangat percaya diri bahwa calon unggulan mereka yang akan memenangkan pilkada DKI. Maka, ketika calon mereka gagal memenangkan pertarungan itu, cara yang paling efektif untuk menghalangi paslon terpilih, atau minimal melakukan "distraksi" (gangguan) sehingga paslon pemenang kehilangan konsentrasi dan tidak mendapat dukungan dalam menjalankan amanahnya.

Terus terang saja, saya agak curiga jika propaganda calon Muslim itu selalu dianggap tidak mampu, korup, dan seterusnya sudah menjadi agenda yang sistimatis. Serangan ke Anies-Sandi, saya curigai serangan kepada umat Islam itu sendiri. Mengobok-obok kemenangan Anies Sandi sesungguhnya adalah menarget umat. Bahwa umat Islam itu jika menang, maka kemenangannya bukan karena proses demokrasi. Tapi, kemenangan yang dibangun di atas kebencian dan intoleransi. Dan pada akhirnya persepsi yang terbangun adalah bahwa calon Muslim itu pasti tidak mampu dan selalu cenderung korup.

Maka, tantangan gubernur Anies dan wakilnya ke depan adalah menjaga diri dari kemungkinan dua lobang. Lobang pertama adalah tuduhan "intoleransi". Dan karenanya akan ada tekanan yang luar biasa dari pihak luar yang digandeng oleh kelompok dalam negeri yang punya kepentingan.

Dan lobang kedua adalah permainan halus yang akan dilancarkan oleh sebagian yang punya kepentingan dalam negeri. Ingat, pak Harto pernah terjatuh dalam perangkap mereka ini. Khawatirnya, Anies-Sandi akan tergelincir ke dalam lobang yang sama.

Dukungan banyak ulama akan dijadikan amunisi palsu jika Anies memang menggandeng kelompok radikal. Kelompok yang antiagama lain, antiras dan etnik lain, dan seterusnya. Dan karenanya, apapun nantinya, yang akan dilakukan oleh Anies-Sandi akan dilabeli sebagai bentuk intoleransi. Kemungkinan usaha-usaha Anies-Sandi nanti mengangkat derajat kaummustadh'afin akan dianggap keberpihakan ke kelompok radikal.

Dalam dunia kita yang semakin membingunkan, hal ini bukan baru dan mengejutkan. Kemenangan Presiden Morsi di Mesir, walaupun melalui jalur demokrasi pasca-pemerintahan diktator Husni Mubarak mengalami hal yang sama. Mungkin Anies-Sandi tidak sampai separah itu. Tapi, targetnya adalah membangun persepsi jika kemenangan seorang Muslim dalam sebuah proses demokrasi itu adalah ancaman kepada demokrasi.

Akhirnya, saya memang selalu heran, bahkan terusik dengan sikap sebagian dalam menyikapi proses-proses kehidupan komunal, termasuk proses demokrasi di Indonesia. Padahal, saya selalu bangga dan menyampaikan kebanggan ini kepada banyak orang di Amerika.

Baru-baru ini, saya mendapat kesempatan khutbah Jumat di gedung Capitol Hill (gedung Kongress AS). Sebelum khutbah itu saya bertemu dengan seorang tokoh Muslim Amerika yang telah lama saya kenal. Beliau adalah Dr. Saeed Seyyed, direktur nasional Interfaith untuk ISNA. Beliau juga adalah mantan Sekjen dan salah seorang pendiri organisasi terbesar di Amerika itu.

Dalam pertemuan itu, saya dikejutkan oleh pertanyaan beliau yang kira-kira bunyinya: "what was the main cause of recent riots in Jakarta? Why Indonesians if they don't like a non Muslim to be their governor, to go through a democratic process or election?"

Artinya persepsi yang sampai ke beliau, dan ingat dia seorang pemimpin Muslim AS, adalah bahwa kemarahan umat di Jakarta (dan Indonesia) karena didasari oleh kebencian kepada non Muslim dan etniknya. Sehingga, dalam pandangan Amerika, hal ini, jelas tidak bisa diterima karena memang itulah tafsiran demokrasi universal.

Tapi yang paling mengejutkan saya adalah kata "riots" (kekacauan atau anarkis). Saya bertanya anarkis yang mana? Beliau mengatakan yang bulan Desember lalu. (Aksi 212 -red)

Saya kemudian menjelaskan bahwa yang terjadi bukan anarkis. Tidak sama sekali. Justeru yang terjadi adalah sebuah kebebasan ekspresi sebagai simbolisasi soliditas kehidupan berdemokrasi. Bukankah kita mengakui bahwa dalam dunia demokrasi Anda bebas setuju dan tidak setuju? Dan Anda bebas mengekspresikan itu selama tidak melanggar aturan dan ketertiban umum.

Yang terjadi di Jakarta adalah ekspresi kebebasan berdemokrasi. Dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan menakjubkan. Bayangkan, jika Anda dipersepsikan marah, atau minimal protes kepada suatu hal. Dan Anda berada pada posisi mayoritas, berjuta-juta manusia. Tapi, Anda lakukan itu dengan penuh damai, tertib, dan tidak satupun pohon yang dirusak. Apalagi properti atau orang non Muslim yang disentuh. Bukankah itu sebuah kebanggaan? Bayangkan kalau kasus Ahok itu, terlepas dari salah atau tidak dalam pendangan hukum, tapi sudah menjadi persepsi umum kalau dia menghina agama orang lain. Dan itu terjadi di Pakistan, atau di salah satu negara di Timur Tengah. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Maka, aksi 212 itu bukankah suatu hal yang perlu dicatat sebagai sejarah yang membanggakan dalam perjalanan sejarah bangsa dan umat Indonesia?

Mendengar itu beliau baru sadar dan paham tentang hal yang sesungguhnya terjadi.

Yang ingin saya sampaikan adalah betapa persepsi bisa dibolak balik oleh media yang begitu kuat dalam dunia global saat ini. Dan semua juga tahu, jika media itu berada dalam genggaman para pemodal. Dalam bahasa sehari-hari di Jakarta, media itu dikontrol oleh para bandar. Dan lebih spesifik lagi media itu digenggam oleh para taipan.

Pada akhirnya, saya mengharapkan agar semua warga Jakarta sadar jika pilkada telah dilangsungkan dan hasilnya sudah ada. Proses telah selesai dan karenanya semua harus siap menerima hasil itu, apakah sesuai harapannya ataupun tidak sesuai. Larut dalam lamunan kecurigaan, kekecewaan bahkan kemarahan sudah pasti hanya akan memperdalam luka yang telah ditimbulkan oleh hiruk pikuk kampanye yang diistilahkan sebagian dengan "brutal campaign" itu.

Saya memang sudah cukup lama terusik, bahkan resah dengan prilaku sebagian orang Indonesia, di saat berbicara tentang kasus-kasus yang anggaplah benar sebagai kasus intoleransia. Tapi sekali lagi, kasus adalah kasus. Di mana saja kasus itu selalu ada, bahkan di negara yang merasa Mbah-nya demokrasi sekalipun. Yang menjadi masalah ketika kasus itu dihakimi sebagai wajah Indonesia secara keseluruhan. Bagi sebagian diaspora di luar negeri, pembusukan Indonesia ini, biasanya dipakai alasan untuk mendapat status lewat "political asylum". Anehnya ketika ditolak, mereka kembali ke Indonesia menetap seolah tanpa malu dan beban apapun.

Oleh karenanya saya mengajak semua pihak untuk "legowo" menerima hasil pilkada itu. Ahok yang telah menjadi harapan banyak orang, bahkan sebagian di luar negeri seperti Franklin Graham, penginjil berpengaruh di Amerika, dengan tenang telah menerima kekalahannya dengan hati yang lega. Bahkan, ditegaskan kalau kekuasaan itu Tuhan yang memberi. Lalu kenapa penggemarnya masih saja banyak yang ngeyel? Bahkan berusaha mencari seribu alasan jika kemenangannya itu seolah tidak demokratis dan berbahaya bagi demokrasi dan kebebasan beragama?

Saya tentunya juga tekankan kembali bahwa kalau ternyata kemenangan Anies-Sandi itu menjadi alasan intoleransi, apalagi dijadikan alasan menzalimi kelompok minoritas, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan mengingatkan itu. Sekali lagi, kemenangan Anies-Sandi adalah kemenangan Jakarta dan Indonesia, serta kemenangan demokrasi. Dan karenanya jangan sampai kembali ternodai oleh friksi sistemik. Pemegang amanah harus sadar bahwa dia dipilih untuk memimpin semua pemilih. Baik yang memilihnya maupun yang memilih lawannya.

Saya juga ingatkan pendukung Anies-Sandi, khususnya umat Islam, bahwa perbedaan pilihan agama, apalagi pilihan politik tidak boleh menjadi alasan kebencian dan perpecahan. Kemenangan Anies-Sandi yang dimaknai oleh sebagian sebagai kemenangan umat Islam, justeru menjadi pengingat amanah keadilan. Bahwa jangan hanya bisa menuntut keadilan. Tapi tidak kalah pentingnya adalah bebuat adil karena itu ketakwaan. Semoga!***

Sumber: ROL


Sidang Dugaan Penistaan Agama Hari Ini Kembali Digelar dengan Agenda Pembacaan Pleidoi

Sidang Dugaan Penistaan Agama Hari Ini Kembali Digelar dengan Agenda Pembacaan Pleidoi

10Berita-JAKARTA—Sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dengan agenda pembacaan pledoi kembali digelar hari ini, Selasa (25/4/2017).

Dalam sidang penistaan agama ke-21 ini yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), penasihat terdakwa akan membacakan pleidoi—pembelaan—atas kasus Ahok tersebut.

Pada sidang sebelumnya, Kamis (20/4/2017), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.

“Dengan ini kami meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yaitu 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun,” ujar Ketua Tim JPU Ali Mukartono saat membacakan tuntutan.

Ahok, menurut Ali, terbukti bersalah dan karenanya dijerat pidana dengan Pasal alternatif 156 tentang Penodaan Agama.

Hal-hal yang memberatkan Ahok adalah perbuatannya yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Sedangkan hal yang yang meringankan terdakwa menurut Ali Mukartono adalah karena Ahok menjalani persidangan dengan baik, bersikap baik, dan membangun Jakarta.

Sebelumnya, Ahok didakwa Pasal 156a KUHP dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara. Sedangkan, dakwaan alternatif kedua mencatut Pasal 156 KUHP dengan ancaman maksimal 4 tahun penjara. []

Sumber: Islampos


Di Yerusalem, Peziarah Muslim Ikut Merasakan Aqsa

Di Yerusalem, Peziarah Muslim Ikut Merasakan Aqsa

10Berita, "Jangan foto atau selfie di kantor imigrasi. Jangan kelihatan terlalu pandai Bahasa Inggris. Kalau ditanya tujuan ke Israel, jawab mau shalat di Aqsa, karena memang itu tujuan kita, tidak perlu bohong. Kalau ditanya hal lain, tunjuk saja tour leader. Jangan lupa berdoa."

Pesan pemandu dari Yordania itu, ditambah nasihat dari pengelola biro perjalanan untuk banyak berdoa saat menjalani pemeriksaan di kantor imigrasi Israel karena petugasnya seringkali menguji kekuatan mental, dan cerita dari rombongan yang satu anggotanya ditahan petugas imigrasi selama tiga jam tanpa penjelasan membuat gedung kantor imigrasi Israel di Allenby, yang berada di Lembah Yordan, terasa mengintimidasi.

Suhu udara yang awal Februari lalu rata-rata di bawah delapan derajat Celcius membuat berdiri mengantre giliran pemeriksaan makin menegangkan.

Ketegangan serasa langsung turun beberapa derajat ketika petugas imigrasi lelaki tanpa senyum selesai memeriksa paspor dan memberikan izin masuk berupa kertas warna biru gradasi putih seukuran kartu nama setelah satu jam lebih menanti.

Satu kekhawatiran hilang, tapi kekhawatiran lain datang.

Di tempat pemeriksaan barang bawaan, jaket, tas dan segala tetek bengek bawaan harus masuk ke alat pemindai. Kadang petugas secara acak melakukan pemeriksaan tambahan pada barang-barang turis maupun warga Palestina, dua kelompok yang dilayani di Allenby Border Terminal. Warga Israel dilarang melintasi perbatasan ini menurut laman Otoritas Bandara Israel.

Setelah dag-dig-dug menanti tas isi kamera dan aneka rupa bekal perjalanan yang entah mengapa ditahan petugas, bolak-balik dimasukkan ke alat pemindai, lalu ditumpahkan semua isinya untuk diperiksa, dan melewati tempat pemeriksaan terakhir di kantor imigrasi itu, rasanya doubel plong. Seperti menemukan kembali paspor yang dikira hilang dalam perjalanan sekaligus berhasil mengambil biji cabai yang bercokol di lubang gigi.

"Akhirnya datang juga...sudah hampir empat jam kami menunggu," kata Waleed Al Jora, pemandu Palestina yang menyambut rombongan peziarah Muslim asal Indonesia di luar kantor imigrasi Allenby.

Ia lalu mengarahkan rombongan 22 orang itu ke bus yang akan membawa mereka ke sebuah restoran di Bethlehem yang menyajikan nasi dan ayam panggang lalu ke hotel tempat mereka menginap di Yerusalem; kota suci yang disebut sebagai rumah satu Tuhan, ibu kota dua rakyat, dan kuil tiga agama oleh penulis keturunan Yahudi, Simon Sebag Montefiore, dalam "Jerusalem: The Biography".

Malam sudah datang, dan dingin mencekam ketika rombongan tiba di kota lama Yerusalem, memasuki Gerbang Herods, melewati jalanan menurun di antara tembok-tembok krem menuju kompleks Masjid Al Aqsa atau al-Haram al-Sharif, yang hingga sekarang berada di bawah perwalian Raja Yordania.

Di pintu masuk kompleks masjid, ada dua aparat Israel yang berjaga, berseragam gelap, mengenakan helm, dan menyandang senjata.

Dari sana, ada jalan-jalan membelah taman luas dengan pohon-pohon zaitun menuju undak-undakan yang berakhir di halaman Masjid Kubah Batu, atau Kubah Shakhrah, atau Dome of The Rock.

Shalat Magrib dan Isya di Masjid Kubah Batu di kompleks Masjid Al Aqsa yang temaram saat malam mengakhiri perjalanan hampir setengah hari dari Amman menuju Yerusalem pada hari itu. Dingin belum pergi juga.

Kompleks Masjid al-Aqsa

Muslim dari berbagai negara mengunjungi Al Aqsa antara lain karena itu merupakan tempat Nabi Muhammad SAW melakukan Isra' dan Mi'raj, perjalanan semalam dari Masjidil Haram di Makkah menuju ke Masjid Aqsa di Yerusalem dan dari Masjid Aqsa menuju langit ke Sidratul Muntaha.

Ulama asal Palestina Syaikh Emad Yousef Musa Abu Hatab saat mengunjungi Bogor pada Juni 2015 mengatakan, bahwa Rasullullah SAW memimpin seluruh nabi yang diutus shalat di Masjid Al Aqsa, menjadikannya sebagai satu-satunya tempat di Bumi di mana semua nabi shalat berjamaah.

Selain itu, Abu Darda (ra) meriwayatkan, Rosulullah SAW mengatakan bahwa shalat di Masjid Al Aqsa nilainya 500 kali daripada di masjid lain (Hadis Riwayat Bukhari).

Masjid al Aqsa juga merupakan kiblat pertama umat Islam.

Semua itu membuat Muslim seperti Majdi H Al Kurdi, seorang pemandu wisata asal Yordania, tak pernah berhenti berusaha dan berdoa demi mendapatkan visa masuk Israel setelah berulang kali mengajukan permohonan dan ditolak.

"Dari 100 orang Yordania yang mengajukan visa, paling hanya dua yang bisa dapat," kata Majdi, yang pernah belajar Bahasa Indonesia di Yogyakarta dan kini sudah fasih menggunakannya.

Ia lalu meminta rombongan yang dia pandu mendoakannya di Aqsa, agar suatu saat dia juga bisa merasakan shalat di masjid bersejarah di dalam kompleks bangunan yang dikelilingi tembok di kota lama Yerusalem itu.

Kompleks al-Haram al-Sharif, yang luasnya menurut buku Montefiore total sekitar 35 acre atau lebih dari 141.000 meter persegi, meliputi taman luas dan sejumlah bangunan, termasuk Masjid Kubah Batu, Masjid Al Aqsa dan beberapa bangunan yang berukuran lebih kecil.
 
Masjid Kubah Batu terlihat paling menonjol. Bangunan segi delapan dengan warna dominan biru yang memiliki kubah emas itu ada di bagian tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif. Di bagian bawah masjid ini ada gua yang diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW naik menuju langit untuk melakukan Mi'raj.

Saat shalat, bagian dalam masjid  penuh sesak dengan jamaah yang sudah tidak tertampung di Masjid Al Aqsa. Masjid Al Aqsa, yang berdinding krem dan memiliki pintu-pintu hijau tebal, berada di bagian yang lebih rendah. Kubahnya hitam.

Di bagian bawahnya ada ruangan dengan sisa pilar tempat ibadah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman, tempat penampung air pada masa lalu dan perpustakaan yang dibangun pada masa Salahuddin Al Ayyubi menurut Waleed.

"Kalau ke Aqsa saya selalu berusaha shalat di sini, karena ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW mengimami para nabi shalat," kata Waleed.

Masjid Al Aqsa ditutup setelah shalat isya dan baru dibuka lagi antara satu sampai satu setengah jam sebelum waktu Subuh. Pagi hari, sekitar pukul 04.00 orang-orang yang datang ke Yerusalem untuk beribadah di Al Aqsa sudah berangkat dari hotel, berjalan sekitar 1,8 kilometer menuju ke masjid, melewati jalan raya sepi, mobil-mobil yang seperti mematung kedinginan, toko-toko yang masih tutup, dan gang-gang yang temaram.

Tidak seperti jalan-jalan menuju ke Masjid Nabawi di Madinah atau Masjidil Haram di Makkah yang selalu ramai, jalan-jalan menuju kompleks Al Aqsa sangat sepi saat dini hari. Jarang sekali bertemu dengan orang lain selain sesama anggota rombongan dalam perjalanan, atau pengemis di beberapa sudut gang di dalam kota lama Yerusalem. 

Jamaah perempuan yang menunaikan shalat subuh di masjid itu awal Februari lalu kebanyakan berwajah Asia, sebagian besar berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Masjid masih longgar sekitar satu jam sebelum waktu shalat. Sebagian jamaah menanti waktu shalat subuh dengan menunaikan shalat sunnah, berdzikir atau membaca Alquran sambil melawan dingin, yang serasa menusuk hingga tulang saat angin berembus masuk.

Saat waktu shalat tiba, imam bersuara merdu memimpin shalat, melantunkan ayat-ayat suci Alquran, dan membaca doa qunut petaka dengan penuh penghayatan, terdengar seperti memohon sepenuh hati dalam kesusahan yang teramat sangat, membuat hati-hati tersentuh, bahkan hati mereka yang tidak memahami artinya sekalipun. 

Subuh berikutnya, imam lain yang bersuara berat dan sedikit serak menumbuhkan rasa serupa, membangkitkan tangis dengan lantunan doa-doa panjangnya untuk Al Aqsa dan kaum muslim.

Usai subuh dingin tak mereda. Kopi hangat yang dibagikan oleh seorang perempuan Palestina di depan masjid membantu tubuh melawan dingin beberapa saat.

Selanjutnya, hanya harum aroma roti yang baru keluar dari panggangan di kedai-kedai pinggir jalan yang terasa membantu meringankan perjalanan pulang yang mendaki dalam dingin.

Jejak para nabi

Ada banyak jejak nabi di dalam dan sekitar Yerusalem, kota dengan banyak nama yang sudah menyaksikan banyak perang, perebutan kekuasaan, penaklukkan, serta penguasa baik yang bijak sampai tiran yang kejam.

Di Bukit Zaitun, ada Chapel of Ascencion (Kapel Kenaikan) dengan batu bertutup kaca yang diyakini sebagai tempat Nabi Isa naik ke surga dan makam Salman Al Farisi, pencari kebenaran asal Persia yang kemudian memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW serta mengusulkan penggalian parit saat perang Khandaq.

Lalu ada Church of the Nativity atau Gereja Kelahiran di Bethlehem, yang sejak Abad II diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Isa menurut situs resmi UNESCO. Pintunya pendek. Pengunjung harus menunduk untuk memasuki bangunan yang meliputi biara dan gereja Orthodok Yunani, Fransiskan dan Armenian serta menara dan taman itu. Renovasi yang sedang berlangsung membuat pengunjung tidak bisa leluasa melihat-lihat gereja itu.

Sementara makam Nabi Musa, yang berupa batu persegi tertutup kain hijau bertulisan Arab, berada di dalam kompleks bangunan yang berada di 11 kilometer selatan Jericho, kota tertua dan terendah di dunia, sekitar 20 kilometer di timur Yerusalem.

Selanjutnya ada Mount of Temptation atau Bukit Percobaan di tiga kilometer barat laut Jericho, sekitar 58 kilometer di timur Yerusalem. Bukit itu diyakini sebagai tempat Nabi Isa melakukan perenungan selama 40 hari 40 malam.

Dari Jericho yang dikenal sebagai sentra produksi pertanian dan penghasil kurma medjool, biara Bukit Percobaan hanya terlihat seperti pahatan pada gunung batu cokelat. Selain itu ada makam Nabi Ibrahim dan Nabi Ishak di Hebron, sekitar 30 kilometer selatan Yerusalem.

Ketegangan di Hebron

Setelah perjalanan diwarnai kemacetan akibat demonstrasi yang tampaknya sedikit rusuh, serombongan peziarah asal Indonesia tiba di Hebron atau al-Khalil di bagian selatan Tepi Barat pada 3 Februari petang.

Matahari masih terang, anak-anak berpipi merah bermain di gang di antara bangunan-bangunan berwarna krem, mereka tertawa dan beberapa menyapa "Haloo...! Haloo...!

Tapi entah mengapa ketegangan terasa menggantung di udara, sampai-sampai niat mengambil kamera untuk mengabadikan tempat itu pun dibatalkan karena khawatir.

Mungkin karena Waleed kali ini terlihat berhati-hati, berjalan agak pelan sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket dan yang berkali-kali menekankan "harus bersama, terus sama-sama, saya tidak mau ada yang terpisah".
 
Dan saat dua pemuda setempat berjalan menghampiri, Waleed tampak menjaga jarak, hanya memberikan jawaban-jawaban singkat kepada dua pemuda yang kemudian terus membuntuti rombongan.

Setelah melewati jalanan menurun, satu atau dua toko suvenir yang masih buka dan lorong agak gelap, dan bertemu beberapa orang berseragam gelap dengan tulisan "Observer", rombongan harus melewati dua pintu kontrol sebelum sampai ke bangunan yang tampaknya pos pemeriksaan.

Di dalamnya ada aparat Israel berseragam yang menyandang senjata, dia bicara sebentar dengan Waleed sambil menatap curiga, dan Waleed menyerahkan buku saku kecil bersampul biru sambil mengendikkan bahu sebelum memandu rombongan menuju Masjid Ibrahim al Khalil.

Saat menaiki tangga dan sampai di bagian dalam masjid, terdengar suara nyanyian yang ternyata lantunan puji-pujian dari orang-orang Yahudi yang sedang beribadah.

Bangunan yang meliputi makam Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Sarah serta Nabi Ishak dan istrinya Rifka atau Rebecca itu memang terbagi dua menurut Waleed, separuh untuk tempat ibadah umat Islam dan separuh untuk tempat ibadah orang Yahudi.

Petang itu cuma ada seorang perempuan dan anaknya dan beberapa lelaki yang menunaikan shalat Magrib dan Isya di masjid. Waleed mengatakan, pada malam hari memang tidak banyak yang shalat di sana karena alasan keamanan.

Ia juga menuturkan, bahwa sudah menjadi tradisi bagi orang Palestina untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim sebelum menunaikan ibadah haji dan umrah. "Saya juga ziarah ke sini sebelum haji...," katanya.

Ketika rombongan hendak keluar melewati pintu putar kompleks masjid itu, beberapa lelaki  menghadang, bicara dengan suara keras dan nada tinggi, berdebat dengan Waleed. Suasana jadi tegang, bahkan setelah satu dari pria-pria itu bilang "No problem! No problem! Okay?"

Setelah itu rombongan boleh lewat. Mereka berusaha sekuat tenaga mengabaikan dingin dan melintasi jalan panjang menanjak supaya bisa segera meninggalkan tempat itu. Anak-anak kecil datang, mengejar meminta sedekah, namun pria-pria yang tadi berdebat dengan Waleed menyuruh mereka pergi. Dan semua bernapas lega ketika sampai di depan bus.

"Tadi, waktu kita di dalam, semua orang di luar mau uang...semua mau uang..., lalu saya bilang bahwa tujuan kita ke sini untuk ziarah," kata Waleed sesampainya di dalam bus.

"Orang-orang ini bukan orang jahat, saya tahu mereka, mereka hanya butuh dan minta...kalau ada yang mau kasih silakan, tidak juga tidak apa-apa...," tambah dia.

Sumber:  Ihram

Lucunya Orang Bali, Bangga-Banggain Ahok Tapi Menolak Jadi Gubernur Bali

Lucunya Orang Bali, Bangga-Banggain Ahok Tapi Menolak Jadi Gubernur Bali


10Berita-Tahun 2011 lalu untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki ke pulau Bali dalam sebuah acara jalan-jalan yang dibiayai kantor. Dan itu juga merupakan pertama kalinya saya naik pesawat. Ngeri. Hahaha.. norak.

Selama perjalanan dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya kami dipandu seorang 'guide' yang bercerita tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi dengan diselingi joke-joke segar khas Bali.

Salah satu 'joke' yang masih saya ingat adalah cerita ttg wanita 'estewe' bali yang berprofesi sbg tukang pijat. Wanita ini tidak buta huruf, tapi buta angka.

Begini ceritanya...

Satu ketika si wanita ini dipanggil utk memijat seorang bule di sebuah kamar hotel. Krn dirasa pijatannya enak, si bule memberinya uang tips sebesar $10.

Setelah menerima uang tsb si wanita tukang pijat itu marah2 hingga menimbulkan kegaduhan. Krn bingung, akhirnya si bule memanggil security hotel.

Kpd security hotel si wanita itu berkata: "mentang2 bule... mau membohongi saya, ya? Emangnya dia pikir saya tidak bisa baca, apa? 1 jam lebih saya pijitin dia, masa' dibayar pakai dollar palsu."

Sambil ikut bingung, security hotel menanggapi, "emangya ibu tau dari mana kalau uangnya palsu?"

"Ini uangnya, liat aja sendiri", jawab si ibu ketus. "Baca ya... ten dollar", lanjutnya, sambil menunjukan tulisan yg tertera pada lembaran uang tsb.

(Ten, dlm bahasa bali berarti bukan).

Setelah tau duduk persoalannya, sang security hotel menyarankan agar si bule memberi uang tips ke si ibu tadi sebesar $1 saja.

Setelah menerima uang $1 dari si bule, si wanita 'estewe' tadi senyum sumringah sambil meninggalkan si bule yg makin kebingungan dan security hotel yg senyum2 sendiri.

Terdengar gumam kegirangan si wanita tadi setelah membaca tulisan yg tertera pada lembaran uang, "O... NE dollar, yg tadi bukan."

***

Cerita joke wanita bali 'oon' di atas mengingatkan saya pada apa yang saat ini sedang ramai di sosial media, yaitu usulan agar Ahok dimajukan sebagai kandidat calon gubernur Bali pada Pilgub 2018 yang akan datang.

Selama perhelatan Pilgub Jakarta berlangsung, mayoritas orang-orang Bali, setidaknya yg terpantau di sosial media, begitu kuat memberi dukungan kepada Ahok. Yang paling terkenal tentu saja si wanita paruh baya (estewe), Niluh Djelantik, yang paling gemar memeluk tiang listrik :D

Tiada hari tanpa puja-puji kepada ahok. Ahok mereka sebut sebagai sosok yang hebat, pemberani, bersih, bahkan ada yang mengibaratkan Ahok bak intan mutiara. Lebay :D

Tapi oon-nya, seperti cerita wanita tukang pijat diatas, dia justru menolak orang yang dia bangga-banggakan untuk menjadi pemimpin di tempat asalnya. Sikap yang juga sama ditunjukan mayoritas warga bali, yang notabene beragama hindu.

Selama ini mereka teriak-teriak tentang toleransi, pluralisme, keterbukaan, kebhinnekaan, dll utk menyindir warga Jakarta yang menolak Ahok. Tapi ketika hal yang sama dikembalikan ke mereka, beribu alasan meluncur dari lidah-lidah mereka tanpa rasa malu. 

Jika mereka beralasan bahwa Bali mempunyai adat istiadat tersendiri, termasuk dalam hal tata cara memilih pemimpin, apa mereka fikir cuma Bali saja yang punya adat istiadat, sedangkan suku bangsa yg lain tidak? Sok superioritas sekali kaum minoritas ini.

Ada 33 provinsi lain di negeri ini selain Jakarta. Kenapa pasca kekalahan ahok di Jakarta, yang muncul hanya petisi "ahok for bali"? Kenapa tidak ada "ahok for kalbar", misalnya, atau "ahok for sumut", atau "ahok for NTT", atau yg lainnya?

Jawabnya karena warga suku bangsa yang lain, termasuk di Bangka Belitung, tempat Ahok berasal, tidak ada yang se-demonstratif orang-orang Bali dalam mendukung Ahok.

Kita jadi bertanya-tanya... jika Ahok maju pada Pilkada Bali, siapakah yang jadi terhina? Ahoknya kah, atau Balinya?

Kini gara-gara Ahok, warga Bali jadi tertawaan orang-orang se-Indonesia. :D

(ERWIN)

Sumber: Portal Islam

Hartono Liem: Sadarlah Yang Ingin Bubarkan FPI, Nilai-nilai Kehidupan Anda Sedang Diperjuangkan FPI

Hartono Liem: Sadarlah Yang Ingin Bubarkan FPI, Nilai-nilai Kehidupan Anda Sedang Diperjuangkan FPI


10Berita-Saya ingin tanya kepada teman-teman yang sangat getol ingin membubarkan FPI :

Haruskah anak atau keluarga kita menjadi korban minuman keras atau meninggal dengan tragis karena mabuk, baru kita memerangi bandar miras dan penjualnya seperti yang dilakukan FPI dan HRS (Habib Rizieq Shihab)?

Haruskah anak atau keluarga kita menjadi korban rentenir atau menjadi bangkrut karena terlibat perjudian, baru kita sibuk ingin menutup tempat judi dan memperkarakan bandar judi seperti yang dilakukan FPI dan HRS ?

Haruskah anak atau suami kita terkena penyakit HIV karena sex bebas baru kita koar-koar ingin menutup tempat prostitusi seperti yang dilakukan FPI dan HRS?

Jika kalian tidak mempunyai argumentasi yang jelas,.maka sadar lah !!!!

SEBETULNYA NILAI2 KEHIDUPAN ANDA SEDANG DIBELA DAN DIPERJUANGANKAN OLEH FPI DAN HABIB RIZIQ SHIHAB AGAR ANDA TERBEBAS DARI KEHIDUPAN JAHILIYAH !!!

(Hartono Liem)

*Sumber: fb, Portal Islam

Saya ingin tanya kepada teman-teman yang sangat getol ingin membubarkan FPI : Haruskah anak atau keluarga kita menjadi...
Dikirim oleh Hartono Liem pada 17 Februari 2017