OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 25 April 2017

WUIH!! Wakil Walkot JakUt BANTAH KERAS Tudingan Ahok Soal Preman Kalijodo yang Muncul Karena AHOK KALAH

WUIH!! Wakil Walkot JakUt BANTAH KERAS Tudingan Ahok Soal Preman Kalijodo yang Muncul Karena AHOK KALAH


10Berita- Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adanya preman yang mulai masuk dan bertugas menjadi petugas parkir liar di kawasan RPTRA Kalijodo.

Menurut dia, preman muncul karena merasa Ahok sudah kalah di Pilgub DKI.

"Ini merasa gubernur sudah kalah, sudah hilang. Gubernur sampai Oktober kok, masih gubernur kok sampai 7 Oktober," kata Ahok.

Pemprov DKI, kata dia, akan segera menindak oknum preman di RPTRA Kalijodo.

Pernyataan Ahok dibantah keras Wakil Wali Kota Jakarta Utara Yani Wahyu.

Yani mengatakan tak ada lagi preman di Kalijodo sejak kawasan ini diresmikan menjadi RPTRA oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama pada 22 Februari lalu.

"Di sini tidak ada preman. Ini buktinya di sini tidak ada. Kita datang kesini tidak ada preman. Ya, tidak ada," kata Yani di Kalijodo, Selasa, 25 April 2017.

Apa yang disampaikan Yani ini menepis isu yang berkembang soal preman yang muncul lagi di Kalijodo, dengan meminta 'jatah' parkiran.

Meski demikian Yani tetap melakukan kerja sama dengan sejumlah pihak keamanaan untuk berjaga di lokasi RPTRA, agar masyarakat yang berkunjung merasa aman.

"Tetap kita ada untuk masyarakat. Tidak ada intimidasi, tidak ada tekanan-tekanan. Upaya yang dilakukan mengefektifkan tugas-tugas satpol PP dan tugas-tugas Dinas Perhubungan," ujar Yani.

Beragam sarana pendukung di RPTRA, kata Yani, juga akan terus ditingkatkan kualitasnya. Mulai dari memaksimalkan pemanfaatan ruang terbuka hijau di sana hingga persediaan air bersih untuk pengunjung RPTRA.

"Sehingga masyarakat mudah mengakses ruang terbuka hijau, termasuk nanti persediaan air bersih, tolilet bersih, keamanan parkir, semuannya tetap kita upayakan warga senyaman mungkin bisa menikmati RPTRA Kalijodo," katanya.

Tak hanya mengupayakan kenyamanan pengunjung RPTRA, Yani juga mengatakan pihaknya juga telah bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengatur dan mendata para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sana.

"Pemerintah semua pada intinya, akan memberdayakan, pedagang kaki lima usaha sektor meneggah ke bawah. UKM ya. Kami sudah bekerja sama dengan Sosro. Sekarang ini kita lihat bersama kios-kios sudah mulai dikerjakan 90 persen. Jadi setelah tuntas, mereka akan dilakukan pendataan dan diundi dapat di mana," kata nya

Sumber: Portal Islam

Ketika Rakyat Menyatu Mencari Keadilan Melawan Tirani, Tembok Paling Kuat Kekuasaanpun Roboh

Ketika Rakyat Menyatu Mencari Keadilan Melawan Tirani, Tembok Paling Kuat Kekuasaanpun Roboh

Oleh: Denny JA

(pendiri dan peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia)

The power in people is much stronger than the people in power. Ketika rakyat menyatu, digerakkan oleh passion mencari keadilan, melawan tirani, maka tembok paling kuat dari kekuasaanpun roboh!

Tak heran negara paling super power di dunia saat itu, Uni Soviet, bubar. Hitler, yang hampir menguasai dunia, tumbang. Tak ada kekuatan yang lebih kuat dibandingkan rakyat yang sudah menyatu dan ikhlas mengambil semua resiko.

Itu yang kemudian dikenal dengan nama people power. Dalam pilkada Jakarta, versi lain dari people power itu, sekali lagi versi yang berbeda dari people power itu bekerja.

Mengapa dalam pilkada Jakarta disebut versi lain dari people power? Itu karena dalam pilkada bertarung kandidat yang sama sah dan legal. Mereka sama-sama tokoh baik dan tokoh pujaan di mata pendukung masing-masing. Ini bukan Good versus Evil. Ini Baik versus Baik di mata penyokong masing-masing.

Banyak pihak berperan mengalahkan Ahok. Namun peran paling besar adalah spirit yang menggerakan people power. Ahok dikalahkan oleh sebuah momen yang tidak direkayasa oleh satu-dua orang, tapi sinerji aneka variabel baik yang dirancang, ataupun yang datang tak terduga.

Itulah kesimpulan akhir saya selaku konsultan politik. Saya memegang data sebelas kali survei di Jakarta sejak Maret 2016 hingga April 2017. Saya bekerja dengan rencana dan strategi. Namun harus saya akui banyak yang masih tak terjelaskan yang akhirnya Ahok dikalahkan secara telak.

Sejak Maret 2016, saya mengekspresikan opini soal Pilkada Jakarta. Tak terduga total yang sudah saya publikasi sebanyak lima puluh satu tulisan. Mayoritas tulisan itu analisis survei, yang merekam opini, harapan, kemarahan, kekecewaan pemilih Jakarta. Banyak pula tulisan berupa puisi.

Sejak awal saya sudah memposting aneka tulisan itu dalam project web Inspirasi.co. Bahkan sejak awal saya sudah memilih judulnya. Sudah ditulis sebagai nama project buku itu: People Power Kalahkan Ahok. Padahal ketika tulisan pertama dibuat di April 2016, Ahok masih sangat perkasa, seolah mustahil dikalahkan.

Bagi yang rindu ingin membuka kembali dokumen pilkada Jakarta 2017 sejak awal; bagi yang mulai ingin menganalisa pilkada Jakarta lebih serius secara akademik; bagi yang ingin merasakan passion dan dinamika sebuah momen pilkada, terimalah hidangan buku ini.

Anggaplah ini catatan harian seorang konsultan politik. Ini buku penuh data riset. Banyak analisis. Tapi tak kurang hadir pula perspektif dan passion.

Ketika menjadi aktivis mahasiswa di tahun 1980-an, saya cukup intens mengunjungi Sutan Takdir Alisyahbana. Ia budayawan, sastrawan, juga seorang entrepreneur. Banyak renungan yang saya dapat darinya.

Satu kutipan yang saya ingat hingga kini, ia menggambarkan tentang sosok pemikir besar. Ujarnya, pemikir besar itu seperti ayam yang berkokok. Sebelum matahari terbit, sebelum orang banyak sadar fajar segera menyingsing, ayam tahu terlebih dahulu dan berkokok. Akibat kokok ayam itu, masyarakat tahu pagi segera datang.

Pemikir besar adalah mereka yang melampaui pengetahuan zamannya. Ia lantang dan berani berkokok, tak peduli apapun resikonya.

Saya tidak mengklaim dan bukan pemikir besar. Tapi memang untuk pilkada Jakarta, saya sudah melihat dan menuliskan apa yang orang banyak, bahkan pada peneliti belum lihat.

Di bulan Febuari-Maret 2016, setahun sebelum pilkada putaran pertama dimulai, semua survei mengenai pilkada DKI menunjukkan data yang sama. Siapapun calon yang dilawankan ke Ahok, dalam pertanyaan untuk 5-10 calon gubernur, Ahok sendirian didukung oleh pemilih sebesar di atas 55 persen.

Survei LSI Denny JA sendiri di bulan Maret 2016, menunjukkan elektabilitas Ahok sekitar 59 persen. Semua calon lain bahkan digabung menjadi satu, totalnya tak sampai 35 persen. Sisa pemilih tak menjawab.

Aneka lembaga survei dan publik luas nyaris sepakat saat itu bahwa Ahok bukan saja akan terpilih kembali. Tapi Ahok akan menang satu putaran saja.

Tanggal 1 April 2016, saya sudah membuat tulisan yang dimuat Inspirasi.co. Tulisan itu cukup meluas dan dibaca para elit. Judulnya justru kebalikannya dengan opini saat itu: Ahok Kuat, tapi Bisa Dikalahkan.

Berbeda dengan keyakinan orang banyak, saya berkeyakinan Ahok memang kuat saat itu, tapi ia akan dikalahkan. Saya tak punya kemampuan paranormal, atau indra keenam. Tapi mengapa saya begitu yakin dengan kesimpulan yang melawan “conventional wisdom,” melawan arus besar era itu?

Jawabnya, analisis data dan jam terbang saya selaku konsultan politik. Saya dianggap founding father profesi konsultan politik Indonesia yang bersandar pada survei opini publik. Sejak pemilu presiden langsung yang pertama di 2004, dan pilkada langsung pertama di 2005 saya sudah terlibat intens menjadi konsultan politik. Saat itu profesi tersebut belum dikenal.

Di tanggal 1 April 2016 itu, saya sudah ikut memenangkan tiga kali pemilu presiden, tiga puluh pilkada gubernur dan lebih dari 70 pilkada kabupaten dan kota madya. Saya sudah mendalami ratusan survei opini publik dan belajar memahami data.

Dari data dan jam terbang itu, saya melawan arus opini di era tersebut. Saya membaca tanda, melihat sinyal yang tersembunyi dalam data. Tak dipungkiri, data menunjukkan Ahok kuat. Bahkan sangat, sangat kuat. Tapi sinyal data juga menyatakan Ahok bisa dikalahkan.

Saya seperti ayam jago juga berkokok. Tapi publik luas lebih banyak yang tak yakin, bahwa kokok ayam saya itu mengabarkan datangnya fajar.

*19 April 2017, setahun kemudian, apa yang saya tulis itu terbukti. Ahok kalah. Saya terlibat aktif ikut mengalahkannya sejak 1 April 2016.*

Mengapa Ahok kalah? Data, perspektif dan analisa dapat dibaca dalam aneka tulisan bersandar pada riset di buku ini.

Di media online 13 April 2017, saya membaca komentar Ruhut Sitompul. Ujarnya, “Denny JA itu musuh bebuyutannya Ahok. Tak usah ditanggapi.” Saat itu Ruhut diminta komentar hasil survei LSI Denny JA menjelang pencoblosan putaran kedua, yang mengabarkan Ahok akan kalah. Lawannya, Anies-Sandi sudah mendapatkan dukungan di atas 51 persen, jauh dibandingkan Ahok di angka 42 persen.

Saya tersenyum membacanya dan bertanya dalam hati. Apa yang membuat Ruhut, dan banyak orang lain menganggap saya musuh bebuyutannya Ahok?

Di Viva news 11 November 2016, saya juga membaca komentar Ahok sendiri. Ketika merespon hasil survei LSI, ia mengatakan “LSI Denny JA itu memang selalu melemahkan saya sejak di Bangka Belitung.”

Memang 10 tahun lalu, dalam pilkada 2007 di Bangka Belitung, saya berhadapan dengan Ahok yang menjadi calon gubernur Babel 2007. Saya membantu saingannya Eko Maulana.

Sebagaimana dalam pilkada DKI 2017, di daerahnya di Babel, Ahok juga sangat fenomenal. Ia diyakini akan menjadi gubernur terpilih. Tapi akhirnya ia dikalahkan Eko Maulana dengan prosentase sangat tipis.

Saya sendiri nyaris tak pernah berjumpa dan bicara empat mata dengan Ahok. Seingat saya hanya sekali saya pernah berpapasan dan saling menyapa waktu jumpa kebetulan menonton preview Film Hanung Bramantyo.

Namun di hati saya tak ada masalah personal dengannya. Ini hanya sebuah profesi saja. Kebetulan di Babel 2007 dan DKI 2017 saya membantu saingannya untuk mengalahkan Ahok. Sebagai profesional tentu saya mencari semua cara yang dibolehkan hukum nasional dan prinsip demokrasi mengalahkan Ahok. Sesimpel itu.

*Mengapa saya memilih mengalahkan Ahok di pilkada DKI 2017? Bukankah selaku aktivis Indonesia Tanpa Diskriminasi kemenangan Ahok adalah kemenangan Indonesia Tanpa Diskriminasi?*

Ahok itu triple minoritas. Ia minoritas agama, minoritas etnik, dan pendatang pula. Bukankah jika Ahok menang, dan di ibu kota pula, itu akan menjadi panggung besar menunjukkan tak ada masalah dengan minoritas-mayoritas?

Hal itu banyak ditanyakan pada saya. Kegiatan saya ikut mengalahkan Ahok mendatangkan bahkan putusnya silahturahmi dan perkawanan. Banyak sahabat dan kolega yang dulu bersama berjuang mempopulerkan Indonesia Tanpa Diskriminasi kini berjarak.

Beberapa WA grup yang saya ikut dibubarkan karena pro-kontra Ahok. Hubungan pertemanan di Facebook dan Twitter juga diputus. Bahkan silahturahmi dengan beberapa partner ideologis itu juga terhenti karenanya.

Saya sendiri sebenarnya sudah mengundurkan diri sebagai konsultan politik. Di LSI grup, saya sudah resmi mundur. Tak ada satu jabatan resmi pun yang saya pegang lagi di sana. Saya hanya sebagai pemilik saja.

Saat itu saya sudah meminta teman-teman LSI merelakan saya pensiun. Sambil bergurau saya katakan, sebaiknya para juara itu pensiun di puncak kejayaannya, bukan di era ketika ia sudah banyak dikalahkan.

Puncak kejayaan saya anggap ketika melakukan hatrick, tiga kali berturut-turut memenangkan pemilu presiden. Yaitu ketika LSI tercatat ikut memenangkan SBY (2004), SBY (2009), Jokowi (2014).

Berseloroh saya bercerita kepada kolega di LSI bahwa kita harus seperti Lionel Messi atau Christian Ronaldo. Jangan hanya mereka yang melakukan hatrick mencetak tiga goal dalam satu pertandingan. Kita juga harus mencetak hatrick dalam ibu segala pemilu yaitu pemilu presiden.

Semua rekor puncak sudah saya capai. Rekor untuk survei paling akurat, quick count paling cepat dan akurat, publikasi paling heboh, dan paling banyak memenangkan klien, sudah saya raih.

Bahkan untuk kampanye sosial media saya sudah mendapatkan penghargaan internasional dari majalah berita terbesar dunia TIME Magazine. Juga penghargaan dari Twitter Inc internasional.

Saya merasa tak ada lagi tantangan di profesi itu. Ibarat pendaki, tujuh gunung tertinggi sudah ditaklukkan. Saatnya memberi panggung kepada generasi selanjutnya.

Secara resmi saya pensiun selesai Pilpres 2014. Waktu yang ada saya fokus pada kegiatan sastra, membuat film, kegiatan sosial Indonesia Tanpa Diskriminasi dan bisnis. Saya juga mulai menulis kembali aneka kolom. Itu dunia yang pernah sangat intens saya geluti dan kemudian saya tinggalkan.

Semua kegiatan LSI diambil alih yang muda. Saya hanya terlibat enam bulan sekali ketika diadakan Raker dan RUPS.

Menjelang pilkada Jakarta, karena sudah didelegasikan wewenang, masing-masing pimpinan bergerak secara bebas bertemu atau melobi calon klien.

Ketika jumpa dengan pimpinan baru LSI, mereka bercerita. Sudah ada dua kali pertemuan pihak LSI dengan Ahok. Ujar mereka, agaknya Ahok masih sulit untuk klik dengan LSI. Mengapa? Tanya saya. Mungkin kasus pilkada Babel 2007, pak. Jawab mereka.

Secara tak sengaja saya juga jumpa dengan seorang konglomerat di pesta pernikahan. Ia bertanya ke saya: “you ada kasus apa dengan Ahok?” Saya rileks saja menjawab, saya tak ada kasus apapun dengan Ahok.

Konglomerat itu bercerita, saya sudah bilang ke Ahok, anda sebaiknya dibantu Denny JA di pilkada DKI 2017. Anda jangan marah dengan Denny soal pilkada Babel itu. Anda justru harus terima kasih ke Denny. Gara-gara kalah di Babel, kan anda sekarang jadi gubernur DKI.

Jika dulu anda jadi gubernur Babel, anda sekarang tidak menjadi gubernur DKI, ujar konglomerat itu bercerita percakapannya dengan Ahok. Saya dan konglomerat itu tertawa dengan logika out of the box.

Di bulan akhir Febuari 2016, kembali saya berjumpa dengan teman-teman yang mengelola LSI. Pak Denny, ujar mereka, mustahil LSI absen di pilkada DKI. Ini magnet semua pilkada. Kita selaku konsultan politik terbesar akan aneh jika absen di panggung politik pilkada terbesar.

Sudah dicoba semua saluran ke Ahok, tapi tak jalan. Kita agaknya terpaksa melawan Ahok lagi. Tapi Ahok sangat perkasa. Akan buruk untuk reputasi LSI jika kita kalah di Jakarta. Ini disorot semua pemain politik.

Mereka pun membuat usul. Pak Denny harus turun gunung agar Ahok bisa dikalahkan. Ya, pak Denny, yang lain meneguhkan. Pak Denny harus ikhlas demi reputasi LSI untuk terlibat aktif lagi.

Ha? Jawab saya. Saya sudah menikmati masa pensiun saya sebagai konsultan, dan mulai menapak menjadi peminat puisi, aktivis dan penulis lagi. Ibarat buku, saya sudah meluncur ke Bab 2. Kok diminta balik ke Bab 1 lagi?

Saya teringat film cowboy legendaris di tahun 1952: High Noon. Saat itu Will Kane sang cowboy sudah menyiapkan diri pensiun, dan hidup damai beserta keluarga. Namun situasi memintanya untuk menjadi cowboy aktif kembali.

Saya bertanya dalam hati. Haruskah saya menjadi seperti Will Kane? Saya belum definitif merespon permintaan teman teman di LSI. Namun saya sudah mulai aktif membuat tulisan untuk membentuk opini.

Tanggal 1 April 2016, tulisan saya pertama soal pilkada Jakarta dipublikasi. Motif tulisan itu untuk membuka mata banyak pihak bahwa Ahok memang kuat, tapi bisa dikalahkan.

Tapi saya masih setengah hati untuk aktif lagi. Sambil juga saya merenungkan apa lagi yang mau saya capai dengan niat mengalahkan Ahok? Siapa pula kandidat yang harus saya bantu?

Saya agak risih turun gunung mengalahkan Ahok jika alasannya hanya untuk reputasi LSI. Semata itu sebagai alasan, ia kurang memanggil. Ia kurang bisa membuat saya memberikan hati seluruh.

Harus untuk tujuan yang lebih besar, yang lebih terasa kepentingan publiknya. Itu saya syaratkan pada diri saya untuk akhirnya turun gunung melawan Ahok. Jika tak ada alasan sosial yang lebih besar, saya memilih tetap pensiun saja.

Semakin lama saya mendalami perilaku dan pernyataan publik Ahok, semakin saya teguh dan bulat hati.

Selaku aktivis yang sejak lama ikut menghayati prinsip demokrasi dan hak asasi, saya banyak kaget dengan pernyataan publik Ahok. Ia misalnya mengatakan mereka yang demo itu sebaiknya disiram Canon berisi bensin hingga terbakar.

Atau ia bersedia membunuh 2.000 orang demi melindungi 10 juta penduduk. Atau ketika para ibu menangis akibat rumahnya digusur, enteng saja ia berkomentar para ibu itu seperti main sinetron.

Ahok pun tidak risih berkata di depan TV: taik! taik! Atau seorang ibu ia maki di depan orang banyak: ibu maling!

Terlebih lagi, Ahok mudah saja menggusur tak ikut prosedur hukum. Akibatnya ia beberapa kali dikalahkan di pengadilan.

Walau kinerjanya sebagai gubernur baik di banyak bidang, Ahok tidak mencontohkan pemimpim dengan pernyataan publik yang terjaga. Ia seorang manajer kota yang kuat. Tapi Ahok sangat tumpul kecerdasan emosionalnya, membuat pernyataan emosional tak perlu.

Itu bukan menggambarkan pemimpin yang tegas, tapi kasar, tak sensitif atau tak peduli dengan emosi massa. Bahkan cenderung arogan di mata orang banyak. Ini bukan tipe pemimpin yang saya ideakan buat ibu kota.

Baiklah saya turun gunung. Saya putuskan sepenuh hati dengan semua resikonya bergerak mengalahkan Ahok kembali. Saya pernah mengalahkanya di Babel 2007. Kini saya ingin kalahkan lagi

Tekad saya lebih kuat lagi setelah Ahok membuat blunder soal Al Maidah. Mungkin baginya, dan pendukungnya, itu bukan soal besar. Namun untuk Jakarta yang demokrasinya masih labil, hadirnya pemimpin yang tak peduli dengan emosi massa, bisa membuat bangunan demokrasi semakin labil.

Saya pun menemukan alasan sosial mengapa Ahok berharga untuk dikalahkan.

Buku ini berisi 51 (lima puluh satu) tulisan saya soal pilkada Jakarta. Umumnya itu analisis hasil survei. Ada juga analisa berita. Juga ada puisi yang menggambarkan suasana batin pilkada saat itu.

Anggap saja buku ini catatan harian konsultan politik. Tulisan paling awal tanggal 1 April 2016. Tulisan paling akhir di ujung bulan April 2017 ketika sudah pasti terpilih gubernur baru.

Dengan membaca buku ini secara kronologi, tergambar dinamika opini, harapan, kemarahan, kecemasan pemilih Jakarta yang direkam melalui sebelas kali survei. Ditambah dua exit poll dan dua quick count melengkapi data.

Terekam pula batin penulis di momen itu melalui aneka puisi khusus soal pilkada.

Ini buku pertama kumpulan tulisan seorang konsultan politik yang intens memotret, menganalisa, dan ikut mempengaruhi hasil akhir pilkada. Panggungnya ibu kota Jakarta. Heboh peristiwa dalam pilkada itu tepat dikatakan. Ini ibu semua pilkada, yang paling dramatik, yang paling menyita perhatian, yang paling mengkhawatirkan, yang paling menggugah emosi, yang pernah terjadi di Indonesia. (*)

Sumber: Swamedium.com, Ummat Pos


Kesan Pertama Mark Shaffer Saat Kunjungi Baitullah

Kesan Pertama Mark Shaffer Saat Kunjungi Baitullah

10Berita, JAKARTA -- Mark Shaffer memutuskan menjadi Muslim sekitar delapan tahun lalu atau tepatnya pada 17 Oktober 2009. Ia berikrar syahadat saat berada di Arab Saudi. 

Ketika itu, Mark sedang menghabiskan waktu liburan di negara petro dolar itu selama 10 hari dengan mengunjungi beberapa kota, seperti Riyadh, Abha, dan Jeddah. Selama kunjungan ini, ia tertarik dengan Islam dan mempelajarinya.

Mark adalah seorang jutawan terkenal sekaligus seorang pengacara di Los Angeles. Spesialisasi kasus yang ia tangani adalah seputar kasus di hukum perdata. Ia merupakan pemilik firma hukum The Shaffer Law Firm. Kasus besar terakhir  yang ia tangani adalah kasus penyanyi pop terkenal Amerika, Michael Jackson, sepekan sebelum ia meninggal.

Perkenalan Mark tidak terlepas dari sentuhan pemandu wisata yang menemaninya selama di Arab Saudi. Dhawi Ben Nashir namanya.

Menurut Nashir, sejak menginjakkan kaki pertama kali di Arab Saudi dan tinggal di Riyadh selama dua hari, Mark sudah mulai mengajukan pertanyaan soal Islam dan shalat. Dari hari ke hari selama perjalanan wisata, ketertarikan Mark kepada Islam semakin besar, terutama saat ia mengunjungi padang gurun pasir.

Saat berada di gurun gersang itu, Mark kagum melihat tiga pemuda Saudi yang melaksanakan shalat di atas bentangan padang pasir yang sangat luas. Baginya, hal tersebut merupakan pemandangan yang begitu fantastis.

Setelah dua hari di Al-Ula, Mark dan rombongan mengunjungi al-Juf. Saat tiba di al-Juf, Mark mulai berburu buku-buku Islam. Ia meminta Nashir memberikan beberapa buku Islam yang ia butuhkan. 

Sumber: Republika

Imam Masjid Agung Perancis Serukan Muslim Perancis Bersatu Pilih Macron

Imam Masjid Agung Perancis Serukan Muslim Perancis Bersatu Pilih Macron


10Berita – Masjid Agung Paris meminta umat Islam di Perancis bersatu melawan xenophobia dalam putaran kedua pemilihan presiden bulan Mei mendatang. Langkah ini dilakukan untuk memenangkan kandidat independen Emmanuel Macron yang dianggap tidak memusuhi Islam.

Hasil pemilihan putaran pertama pemilu Presiden Perancis telah diumumkan. Emmanuel Macron dari independen dan pemimpin Front Nasional Marine Le Pen akan bertarung dalam pemungutan suara pada 7 Mei mendatang, seperti dilansir Huffington Post hari Selasa (25/4).

Dalam pernyataannya pada hari Senin (24/04) kemarin, Mufti Masjid Agung Paris, Dalil Boubaker, meminta warga Muslim Prancis untuk memilih selain Le Pen. Hal itu dikarenakan ancaman perpecahan dan fragmentasi dari Le Pen terhadap Perancis.

“Pemilihan 7 Mei akan menentukan takdir bagi Prancis dan kelompok agama minoritas,” ujar Boubakeur.

Emmanuel Macron, head of the political movement En Marche !, or Onwards !, and candidate for the 2017 French presidential election, delivers a speech during a campaign political rally at the AccorHotels Arena in Paris, France, April 17, 2017. REUTERS/Christian Hartmann – RTS12O17

Emmanuel Macron adalah seorang bankir berusia 39 tahun yang mendirikan partai politiknya sendiri dengan mempromosikan multikultural Prancis. Emmanuel dianggap akan mampu mewujudkan harapan Prancis yang percaya kepada nilai-nilai agama.

Sedangkan lawan politiknya, Le Pen, adalah politikus berusia 48 tahun yang mendukung platfom anti-imigran dan mengecam fundamentalis Islam. Ia turut melarang bentuk-bentuk Islami di ruang publik, dan mengidentifikasi identitas Muslim sebagai status imigran.

“Saya menentang pemakaian jilbab di tempat umum, itu bukan Prancis,” kata Le Pen kepada Anderson Cooper pada Maret lalu.

Le Pen juga bersumpah akan memperjuangkan jiwa Prancis dengan menerapkan pembatasan pada peredaran daging halal, melarang pakaian religius di publik dan menghentikan peredaran burkini. (Rol/Ram)

Sumber: rol, eramuslim

Lawan Kebijakan Presiden Trump, 800 Muslim California Gelar Aksi Tahunan

Lawan Kebijakan Presiden Trump, 800 Muslim California Gelar Aksi Tahunan

10Berita-SACRAMENTO  Sekitar 800 orang melakukan perjalanan ke ibu kota California, Sacramento, pada Senin (24/4) kemarin. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari program advokasi nasional tahunan yang dikenal dengan “Hari Muslim di Capitol”. Acara ini digambarkan oleh seorang pejabat senior negara bagian California sebagai “perlawanan” terhadap kebijakan Presiden Donald Trump.

Acara ini bertujuan untuk mempromosikan empat proposisi yang dapat memblokir beberapa kebijakan presiden AS yang paling kontroversial, termasuk yang baru saja diisyaratkan, seperti pendaftaran Muslim nasional.

Pertemuan tahun ini, menandai edisi keenam acara tersebut yang menekankan urgensi karena iklim politik saat ini dan ancaman yang dirasakan dari pemerintahan terhadap umat Islam dan imigran.

“Action Trumps Fear” adalah tema acara tersebut, yang berbicara banyak tentang suasana umum yang sedang terjadi.

Menurut panitia, Council on American-Islamic Relations (CAIR), acara tahun ini menjadi edisi paling sukses.

“Tahun ini kami menghadirkan hampir 800 orang. Sementara tahun lalu 650 orang menghadiri demonstrasi tahunan tersebut,” kata Koordinator Legislatif dan Pemerintahan untuk CAIR, Yannina Casillas, kepada MiddleEastEye, Selasa (25/4).

CAIR mensponsori dua tuntutan. Pertama, SB 31, dikenal sebagai Undang-Undang Kebebasan Beragama California. Anggota parlemen dari Partai Demokrat, David Chiu, memperkenalkan RUU tersebut yang merupakan bagian dari paket proposal legislatif mengenai kebebasan sipil.

Kedua, SB 54, yang bertujuan untuk mencegah penegak hukum negara bagian atau lokal untuk berbagi informasi dengan agen imigrasi federal. Hal ini dilakukan untuk mencegah deportasi penduduk California yang tidak berdokumen. Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Kevin de Leon, memperkenalkan undang-undang tersebut.

“Kami mulai mengajukan tuntutan pada Desember nanti,” kata Casillas.


Seperti diketahui, Perintah Eksekutif Presiden Donald Trump yang antara lain melarang masuknya warga tujuh negara berpenduduk mayoritas Islam ke Amerika Serikat pada awal Januari 2017 lalu itu berdampak juga bagi warga Muslim AS. (EZ/Salam-Online)

Sumber: Middleeasteye, Salam

Taman Agdal Hibur Tamu-Tamu Sultan

Taman Agdal Hibur Tamu-Tamu Sultan

10Berita, JAKARTA -- Setiap kebun di Taman Agdal membudidayakan tanaman yang berbeda. Setiap jalan setapak dibatasi oleh barisan pohon zaitun yang ditanam 10 meter menuju pusat.

Untuk mengairi taman yang luas itu, Taman Agdal dilengkapi dua waduk yang terletak sekitar 820 meter di utara dari tepi bagian selatan taman. Kedua cekungan tersebut diisi dari Lembah Ourika melalui jaringan saluran bawah tanah (khettara) yang dibangun pada awal abad ke-12 M.

Pada saat itu, di bawah pemerintahan Ali bin Yusuf (berkuasa pada 1107-1142). Waduk terbesar bernama al-Manzeh, memiliki luas 205 x 180 m. Arsitektur waduk dan teras perimeter pada taman ini didesain oleh Abu Yaqub Yusuf.

Model waduk ini kemudian dipakai untuk cekungan yang sama di Rabat (1171) dan Sevilla (1171). Tidak jauh dari Waduk al-Manzeh terdapat sebuah paviliun yang dikenal dengan nama Dar al-Hana.

Bangunan terbuka yang berukuran 8 x 30 meter itu berfungsi sebagai loggia(semacam saung), tempat Sultan menghibur tamu-tamunya dengan pemandangan hamparan air di cekungan. Dar al-Hana juga digunakan oleh sultan untuk mengamati kegiatan pelatihan militer yang sering dilakukan di waduk al-Manzeh, termasuk renang dan berperahu.

Waduk kedua dinamakan Waduk Gharssya Agdal. Cekungan ini berukuran lebih kecil dibandingkan waduk al-Manzeh, yaitu hanya 200 x 150 meter. Sebuah pulau persegi dengan panjang sisi 16 meter itu dibangun di tengah danau buatan. Di tengah pulau tersebut berdiri sebuah paviliun kecil dengan ukuran 12 meter pada setiap sisi.

Paviliun itu berfungsi sebagai tempat hiburan dan dapat dijangkau dengan menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi waduk. Karena berada di tempat yang lebih tinggi, seseorang dapat melihat pemandangan bagian atas pepohonan yang spektakuler dari waduk tersebut.

Sumber: Republika

Marrakesh, Simbol Kejayaan Maroko

Marrakesh, Simbol Kejayaan Maroko

10Berita, JAKARTA -- Marrakech. Inilah kota yang fantastis yang menjadi simbol Maroko.

Orang Barat menyebutnya Marrakesh dan literatur di Indonesia menamainya Marrakus. Kota ini dibangun pada 1062 M oleh Yusuf bin Tasyfin atau Ibnu Tasyfin dari Dinasti Murabitun. Dinasti ini menguasai Maroko setelah kekuasaan Dinasti Fatimiah di negeri itu tumbang.

Kota itu merupakan kota terbesar kedua di Maroko setelah Casablanca. Penguasa Dinasti Murabitun memilih Marrakech sebagai pusat pemerintahannya yang jauh dari gunung dan sungai. Marrakech dipilih karena berada di kawasan yang netral di antara dua suku yang bersaing untuk meraih kehormatan untuk menjadi tuan rumah di ibu kota baru itu.

Selama berabad-abad, Marrakech sangat dikenal dengan sebutan ‘seven saint’ atau tujuh orang suci. Ketika sufisme begitu populer semasa kekuasaan Moulay Ismail, di Marrakech sering diadakan festival ‘seven saints’. Pada 1147 M, Marrakech diambil alih Dinasti Muwahhidun. Pada masa itu, bangunan penduduk dan ibadah dihancurkan.

Namun, dinasti itu kembali merekonstruksi seluruh bangunan, termasuk pembangunan Masjid Koutoubia dan Menara Gardens— keduanya menjadi landmarkKota Marrakech hingga saat ini. Pada 1269 M, Marrakech diambil alih Dinasti Marrin dan ibu kota dipindah ke Fez. Dinasti ini sempat mengalami kemunduran pada 1274 M hingga 1522 M.

Mulai tahun 1522 M, Saadians mengambil alih kekuasaan Marrakech. Kota Marrakech yang berubah miskin itu kembali bergairah setelah dijadikan ibu kota Maroko selatan. Pada akhir abad ke-16 M, Marrakech kembali mencapai kejayaannya. Secara budaya dan ekonomi, Marrakech menjadi kota terkemuka dan terdepan di Maroko. Saat itu jumlah penduduknya mencapai 60 ribu orang.

Pada 1669, Marrakech dikuasai sultan Maroko dan ibu kota kembali pindah ke Fez. Pada pertengahan abad ke-18, Marrakech kembali dibangun Sultan Muhammad III. Pada awal abad ke-20, Prancis banyak membangun bangunan bergaya Prancis. Ketika Maroko meraih kemerdekaan pada 1956, ibu kota kerajaan berpindah ke Rabat.

Kini, Marrakech menjadi salah satu kota budaya yang dilindungi UNESCO. Di kota itu banyak berdiri masjid serta madrasah peninggalan masa kejayaan Islam, antara lain: Masjid Koutoubia, Madrasah Ben Youssef, Masjid Casbah, Masjid Mansouria, Masjid Bab Doukkala, Masjid Mouassine, serta banyak lagi yang lainnya.

Di kota ini juga banyak ditemukan bangunan istana peninggalan kejayaan Islam, seperti Istana El Badi, Royal Palace, serta Istana Bahia. Di Marrakech juga banyak sentra kerajinan tangan. Sebagai kota tua yang dijadikan objek wisata, Marrakech juga banyak memiliki museum, seperti: Mu seum Dar Si Saad, Museum Marrakech, Mu seum Bert Flint, dan Museum Islamic Art. 

Sumber: Republika

Petani Karawang “Menguburkan Diri” di Depan Istana Negara

Petani Karawang “Menguburkan Diri” di Depan Istana Negara


10Berita– Untuk kesekian kalinya petani blok kutandingan Kampung Cisadang Desa Wanajay, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, kembali melakukan aksi di depan Istana Negara Jakarta, Selasa (25/4).

Dalam aksinya kali ini petani melakukan aksi yang tidak biasa juga melibatakan berapa organisasi gerakan dan LBH. Petani melakukan aksi ekstrem dengan mengubur dirinya didalam peti mati yang ditimbun tanah merah diatasnya.

Hal tersebut dilakukan akibat petani kecewa terhadap Pemerintah Jokowi yang tak kunjung bergeming untuk menuntaskan persoalan sengketa tanah yang dialami petani melawan perusahaan PT Pertiwi Lestari (Group Salim).

Selain itu juga petani menuntut untuk segera di pulangkan ke kampung halamanya yang sebelumnya telah digusur oleh  PT Pertiwi Lestari. Dan pemerintah memberi jaminan dengan payung hukum.

“Kami menuntut dibuatkan payung hukum kepada pemerintah sebagai jaminan untuk kepulangan kami ketanah kelahiran petani di Karawang,”ucapnya Maman Nuryaman Ketua STTB di Jakarta, Selasa (25/04/2017) siang.

Petani juga menuntut untuk segera ditegakan Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, Cabut Hak Guna Bangunan Nomor 5, Nomor 11 dan Nomor 30 atas nama PT Pertiwi Lestari, Kemblikan hak tanah petani yang dirampas, Kembalikan petani Telukjambe ketempat tinggalnya dalam keadaan semula dan hentikan kriminalisasi terhadap pejuang agraria.

Petani juga mengancam tidak akan mengakhiri aksi ekstrimnya tersebut sebelum tuntutan yang mereka bawa dapat terakomoir oleh pemerintah

“Rencananya aksi kita kontinue sampai tuntutan petani didengar oleh rezim hingga medapat penyelesaianya,”tegasnya Maman.

Selain petani telukjambe yang tergabung dalam Serikat Tani Telukjambe Bersatu (STTB), terdapat beberapa organ lain yang mendukung dan ikut berpartisipasi dalam Aksi Kubur Diri ini, LBH Jakarta dan LBH Bandung, Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, PBH Dompet Dhuafa, Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKPKWI), BM PAN Karawang, KontraS dan Aksi Kaum Muda Indonesia (Akmi). (sp/kbk)

Sumber: Sangpencerah

TELAK!! Nicholay: Ahok TIDAK BISA LIMPAHKAN KESALAHANNYA KE BUNI YANI! Ini Alasannya...

TELAK!! Nicholay: Ahok TIDAK BISA LIMPAHKAN KESALAHANNYA KE BUNI YANI! Ini Alasannya...


10Berita-Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok membacakan pledoinya sendiri dalam sidang kasus penistaan agama yang digelar hari ini Selasa 25 April 2017 di Auditorium Kementrian Kehutanan Ragunan. Sidang ini dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB dan disiarkan live di televisi.

Memakai batik cokelat, Ahok dengan lantang membacakan poin-poin pembelaannya menghadapi tuntutan jaksa.

Setelah dipersilakan hakim, Ahok kemudian membaca pledoinya. Ahok mengaku tidak punya niat menghina dan menista agama. Ahok tidak juga berniat menghina golongan. Ahok kemudian menyinggung bagaimana orang-orang kemudian memproduksi fitnah dan terus mengungkap dirinya menghina agama.

Ahok juga menyinggung Buni Yani yang memotong pidatonya di Kepulauan Seribu. Ahok dan Pembela hukumnya menyatakan dalam kasus ini seharusnya Buni Yani yang seharusnya diproses dan bukanlah Ahok.

Menanggapi hal tersebut pengamat hukum Nicholay Aprilindo mengatakan bahwa pernyataan pengacara Ahok tidak benar.

Ia mengatakan kesalahan Ahok tidak bisa dilimpahkan begitu saja kepada Buni Yani. Pasalnya kasus yang dihadapi berbeda. Berikut penjelasannya.

Sumber: Portal Islam

Ketika Majelis Hakim Tunda Putusan Sidang Kasus Ahok

Ketika Majelis Hakim Tunda Putusan Sidang Kasus Ahok

10Berita-JAKARTA–Terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan penasihat hukumnya sudah menyampaikan pledoi–pembelaan–di hadapan Majelis Hakim sidang kasus penodaan agama pada  Selasa (25/4/2017) siang.

Dilansir dari Republika, Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto menunda sidang Ahok selama dua pekan ke depan karena agenda sidang selanjutnya sudah dibacakan secara lisan hari ini.

“Setelah tuntutan dan pembelaan serta replik telah disampaikan oleh penuntut umum maka giliran majelis akan memberikan putusan terhadap perkara BTP alias Ahok sesuai dengan jadwal maka putusan akan kami ucapkan pada Selasa (9/5/2017),” kata Ketua Majelis Hakim

Karena itu, Ketua Majelis Hakim memerintahkan Ahok untuk hadir dalam sidang tersebut. “Untuk itu, diperintahkan saudara terdakwa untuk hadir dalam sidang tersebut,” ujar Dwiarso saat menutup sidang di Auditorium Kementrian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, setelah terdakwa dan penasihat hukum membacakan pleidoi, Majelis Hakim langsung menanyakan tanggapan nota pembelaan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Kami tanya kepada penuntut umum terhadap nota pembelaan ini apakah saudara akan memberi tanggapan,” tanya Dwiarso.

Ketua Jaksa Penuntut Umum, Ali Mukartono menjawab, “Pertama kami sampaikan bahwa kami menilai apa yang disampaikan penasihat hukum tidak ada fakta yang baru. Kedua, ada sebagian pengulangan di materi eksepsi yang sudah diputus majelis hakim. Kami juga harus mengembalikan jadwal yang pernah mundur.”

Ali melanjutkan, “Maka untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu kami merasa apa yang kami sampaikan pada tuntutan sudah cukup. Pada prinsipnya kami tetap pada tuntutan sebagaimana surat tuntutan yang kami bacakan. Demikian sikap kami,” lanjutnya.

Mendengar jawaban Ali, Ketua Majelis Hakim lanjut menanyakan kepada salah satu penasehat hukum Ahok Teguh Samudra, “Setelah saya mendengar saudara yang pada prinsipnya tetap pada tuntutan, apakah dari penasehat hukum ada komentar?.”

“Sebagaimana yang kami dengar, JPU tetap pada tuntutan sehingga menurut proses hukum apa yang kami kemukakan dalam pembelaan kami dan terdakwa. Dan segalanya kami serahkan kepada yang mulia,” pungkas Teguh.

Seperti diketahui, Jaksa Penuntut Umum menyatakan bahwa Ahok tidak terbukti melakukan penodaan agama seperti dalam dakwaan pasal 156 a KUHP. Karena itu, tuntutan Ahok hanya satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. []

Sumber: Islampos