OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 26 April 2017

Abu Bakar Tetap Mengimani Isra Mi’raj Meski di Luar Logika

Abu Bakar Tetap Mengimani Isra Mi’raj Meski di Luar Logika


10Berita-ISRA mi’raj adalah peristiwa yang kasat mata. Tak heran, banyak orang tak percaya akan kejadian ini. Banyak yang mempertanyakan, bahkan menganggap gila Rasulullah.

Abu Bakar ash-shiddiq merupakan sahabat yang pertama kali mengimani Isra Miraj. Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang-orang datang berbondong-bondong kepada Abu Bakar ash-shiddiq karena mendengar cerita perjalanan malam Nabi Muhammad.

“Lihat apa yang diucapkan temanmu (Muhammad),” ujar salah satu di antara mereka.

“Apa yang Beliau ucapkan?” tanya Abu Bakar.

Orang-orang bercerita, Rasululah  mengaku telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis. Ia diangkat ke langit hanya dalam satu malam. “Jika memang Beliau yang mengucapkan, maka sungguh itu berita benar, sesuai yang Beliau ucapkan. Karena Beliau adalah orang yang jujur,” kata Abu Bakar.

Abu Bakar tak banyak bertanya. Ia mengimani Rasulullah sebagai utusan Allah yang amanah dan jujur.

Di kemudian hari, peristiwa itu dikenal dengan Isra Mi’raj. Peristiwa sakral itu terdiri dari rangkaian Nabi Muhammad menaiki burak hingga langit ke tujuh. Ia juga mengalami perjalanan ke Masjid al-Aqsa.

Para ilmuwan modern menemukan bahwa kecepatan cahaya merupakan pergerakan tercepat yang pernah tercatat dalam sejarah ilmu sains. Berabad-abad sebelumnya, umat Islam telah mengenal burak, yang berarti kilatan cahaya, yang mengantarkan Nabi Muhammad menjalani Isra Mi’raj. []

Sumber: Republika


Mimbar Syari’ah: Tuntutan JPU Terhadap Ahok Amputasi Hukum Indonesia

Mimbar Syari’ah: Tuntutan JPU Terhadap Ahok Amputasi Hukum Indonesia

10Berita-SURABAYA – Ketua Mimbar Syariah, Ustadz Hamzah Baya, mengatakan, tuntutan jaksa terhadap Ahok bukan sekedar mencederai hukum akan tetapi mengamputasi hukum Indonesia.

Ustadz Hamzah, menjelaskan, Ahok sudah sepantasnya mendapat hukuman maksimal sesuai pasal yang didakwakan. Akan tetapi, kata dia, JPU hanya menuntut Ahok dengan hukuman 1 tahun dan 2 tahun masa percobaan.

“Hal ini bukan lagi mencederai hukum di negeri ini. Tapi, sudah mengamputasi hukum yang ada,” tegasnya.

Ia melanjutkan, persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok hanyalah sandiwara belaka. Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat untuk tidak terlalu berharap kepada keputusan Majelis Hakim.

“Kita tidak bisa berharap terlalu banyak terhadap keputusan majelis hakim dalam persidangan. Kita tahu bahwa mereka tidak akan menjatuhkan vonis atau menghukum penista agama (Ahok) berat,” katanya.

Untuk itu, Ustadz Hamzah meminta umat Islam untuk terus melakukan perlawanan secara hukum maupun bentuk lainnya sampai keadilan ditegakkan.

“Kita harus menjalankan kewajiban kita, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab orang-orang kafir dan munafiq tidak akan pernah membiarkan umat Islam menjalankan syariat Allah di bumi ini. Sehingga perlu sebuah upaya atau perlawanan untuk tegaknya keadilan di negeri ini,” pungkasnya.

Mimbar Syari’ah adalah forum koordinasi dan konsolidasi bagi para da’i pejuang penegakkan syariah di Indonesia.

Reporter: Yan Aditya

Sumber: Jurnalislam


Penelitian: Tahajjud Bisa Cegah Kanker

Penelitian: Tahajjud Bisa Cegah Kanker


“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji,” (QS. Al-Israa’: 79).

SHOLAT tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah, tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran.

Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, Pensyarah IAIN Surabaya, salah satu salat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak percaya? “Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusyu’, dan ikhlas, niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker,” ucap Sholeh.

Ayah dua anak ini bukan ‘tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Respons ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi.” Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya.

Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah sholat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusyu’ dan ikhlas. Secara medis, sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusyukan, dan keikhlasan.

Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya anatara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24.00- normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02.00-03.30 sebanyak 11 rakaat, masing-masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (Paramita, Prodia dan Klinika).

Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajjud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menanggulangi masalah. []

Sumber: Islampos


Le Pen Masuk Putaran Dua, Warga Perancis: Dia Punya Gagasan Rasis, Tak Mungkin Rakyat Memilihnya

Le Pen Masuk Putaran Dua, Warga Perancis: Dia Punya Gagasan Rasis, Tak Mungkin Rakyat Memilihnya

10Berita- Paris – Marine Le Pen, politikus yang dikenal anti Islam dan anti Imigran menjadi salah satu kandidat Presiden Perancis selain pesaingnya Emmanuel Macron yang maju melalui jalur independen.

Le Pen berada di bawah Macron dalam pencapaian suara pada putaran pertama pemilu Perancis yang digelar Ahad 23 April kemarin. Ia meraih 21,53 persen suara, sementara Macron sedikit di atasnya dengan 23,75 persen.

Situs berita Al Jazeera, yang berpusat di Qatar, mencoba bertanya kepada warga Paris tentang kemenangan calon presiden dari Partai Front Nasional (FN) tersebut.

“Dia memiliki gagasan rasis, dan tidak mungkin Prancis memilih presiden seperti itu,” kata Abdel yakin.

Sementara itu, seorang pria bernama Christian, ketika ditanya soal peluang kemenangan Le Pen, ia menjawab,”Tidak, tidak, tidak, Marine Le Pen tidak akan menang. Keberadaan Macron di Elysee (istana) menjadi sebuah revolusi. Le Pen tidak akan menang sekarang, tidak juga di tahun 2022.”

Hugo yang pada putaran pertama mendukung politikus komunis Jean-Luc Melenchon, mengatakan tidak akan mengambil risiko dengan memenangkan Le Pen pada putaran kedua.

“Jika orang Prancis berusaha membaca program Le Pen, mereka akan mengerti betapa negatif proposalnya,” katanya.

Bahkan, seorang perempuan bernama Sabrina berjanji akan meninggalkan Perancis jika Le Pen terpilih. “Saya berencana untuk meninggalkan Perancis jika dia menjadi presiden berikutnya,” katanya. “Saya tidak ingin anak perempuan saya yang berusia enam bulan tumbuh bersama Le Pen.”

Sumber: Kiblat


Beginilah Zalimnya Pemberitaan Media Nasional terhadap Gubernur Muslim Penuh Prestasi

Beginilah Zalimnya Pemberitaan Media Nasional terhadap Gubernur Muslim Penuh Prestasi


Kepala Daerah penerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha (kemendagri)

10Berita-Media Nasional kembali bersikap tidak adil alias zalim terhadap daerah yang dipimpin oleh Gubernur Muslim penuh prestasi. Alhasil, jika tidak teliti dan hanya membaca judul, pembaca akan terdoktrin sebagaimana judul yang dipublikasikan oleh media ini.

Dalam pemberitaan hari ini, Selasa (25/4/17) pukul 12.17 WIB, portal Kompas.com melansir berita berjudul: Jakarta Jadi Provinsi Berkinerja Terbaik, Djarot Disambut Paling Meriah.

Jika hanya membaca judul, Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dengan wakilnya Djarot Syaiful Hidayat berhasil meraih predikat paling baik dan tidak ada yang lebih baik darinya.

Padahal, jika pembacaan dilanjutkan ke badan berita, akan didapati kesimpulan yang jauh berbeda dari judul yang diterbitkan.

Disebutkan dalam berita tersebut, Kementrian Dalam Negeri memberikan penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha berdasarkan hasil evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah (EKPPD) tahun 2016 terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) 2015.

Ketidakadilan dalam pemberitaan tersebut baru bisa didapati oleh pembaca di akhir paragraf kelima. Di sana disebutkan, "Namun, DKI Jakarta bukanlah Provinsi dengan skor tertinggi."

Di sini, timbullah pertanyaan, "Jika bukan skor tertinggi, mengapa disebutkan 'terbaik' dalam judul berita? Bukankah terbaik bermakna yang paling baik atau tidak ada yang lebih baik darinya?"

Dalam kelanjutan paragraf berikutnya, disebutkanlah provinsi-provinsi mana yang sejatinya layak mendapatkan gelaran terbaik dan nama provinsinya ditampilkan di judul dengan penghormatan penuh.

Dan ternyata, dua provinsi terbaik merupakan daerah yang dipimpin oleh Gubernur Muslim sarat prestasi.

"Provinsi dengan kinerja terbaik didapat oleh Provinsi Jawa Timur dengan skor 3,1802. Berikutnya disusul oleh Jawa Barat 3,1760; Kalimantan Timur 3,1469; DKI Jakarta 3,0560; dan Jawa tengah 3,0539." sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (25/4/17).

Negeri ini patut bersedih lantaran ketidakadilan yang terjadi di level media berkelas Nasional. Bagaimana kisahnya peringkat 4 mendapatkan julukan terbaik dan ditampilkan di judul, sedangkan juara satu dan dua tenggelam jika pembaca hanya berhenti di judul tanpa melanjutkan membaca badan berita? [Om Pir]

Sumber:Tarbawia


Selasa, 25 April 2017

Survei ExitPoll: Ini Parpol Pilihan Warga Jakarta Jika Pemilu Legislatif Digelar Hari Ini

Survei ExitPoll: Ini Parpol Pilihan Warga Jakarta Jika Pemilu Legislatif Digelar Hari Ini

Eep Saefulloh Fatah

10Berita--JAKARTA PolMark Research Center Indonesia merilis hasil exit-poll terbaru terkait elektabilitas atau keterpilihan partai politik (parpol) di Jakarta. Ada 13 parpol yang disurvei di Jakarta pada saat pelaksanaan Pilkada DKI putaran kedua, 19 April 2017 lalu.

Exit-poll berisi pertanyaan tentang pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) jika dilaksanakan saat gelaran Pilkada DKI Jakarta pada 19 April lalu.

“Banyak yang tanya soal elektabilitas partai hasil ExitPoll PolMark Indonesia pada 19 April 2017 lalu. Ini 710 responden dari 400 TPS, dengan Margin of Error +/- 3,6%,” kata Direktur yang juga pendiri PolMark Indonesia/PolMark Research Center, Eep Saefulloh Fatah, dalam rilisnya melalui akun twitternya, Selasa (25/4).

Dari 13 Parpol, inilah partai pilihan warga Jakarta:

Di urutan pertama PDIP 16,9%, kedua Partai Gerindra 16,1%, ketiga PKS 12,8%, disusul Perindo 5,8%, Partai Demokrat 4,5%, Nasdem 4,1% dan Golkar di urutan ke-7 (3,5%). Namun yang Golput ternyata masih lebih besar: 22%. Selengkapnya bisa dilihat dari tabel di bawah ini:

Sumber: Salam-Online

Rasis, Cina Larang Berikan Nama Islami Kepada Bayi Muslim Uighur

Rasis, Cina Larang Berikan Nama Islami Kepada Bayi Muslim Uighur

10Berita – Kebijakan diskriminatif dan rasis kembali dikeluarkan pemerintah Cina. Kali ini Negeri Tirai Bambu melarang penggunaan nama-nama tertentu untuk diberikan kepada bayi yang baru lahir, khusus di provinsi Xinjiang, tempat 10 juta Muslim Uighur tinggal.

Dilansir Human Right Watch hari Selasa (25/4) menyatakan bahwa pemerintah Xinjiang baru-baru ini melarang banyak nama dengan konotasi keagamaan yang banyak terjadi di dunia seperti Saddam dan Medina. Orang tua yang menamai anaknya dengan nama-nama tersebut dianggap telah melebih-lebihkan semangat religius.

Nantinya anak-anak dengan nama yang dilarang tidak akan mendapatkan semacam ijazah yang penting untuk mengakses sekolah umum atau layanan sosial lain. Ini hanya sepenggal peraturan baru yang akan membatasi kebebasan beragama umat Islam.

Bulan April ini, Xinjiang juga telah memberlakukan peraturan baru melarang penggunaan jenggot atau cadar yang tidak normal di tempat umum, dan wajib menonton program televisi atau radio milik negara, serta kewajiban bagi pejabat pemerintah untuk merokok di depan tokoh agama umat Islam. (Rol/Ram)

Sumber: rol,eramuslim

Kompas Bohong Lagi : Jakarta Jadi Provinsi Berkinerja Terbaik; Netizen: Judul Bombastis, Padahal Urutan 4 Kalah Dengan Gubernur PKS

Kompas Bohong Lagi : Jakarta Jadi Provinsi Berkinerja Terbaik; Netizen: Judul Bombastis, Padahal Urutan 4 Kalah Dengan Gubernur PKS


10Berita- "Jakarta Jadi Provinsi Berkinerja Terbaik, Djarot Disambut Paling Meriah". Demikian JUDUL berita KOMPAS online yang diposting hari ini, Selasa (25/4/2017).

Link: http://nasional.kompas.com/read/2017/04/25/12173071/jakarta.jadi.provinsi.berkinerja.terbaik.djarot.disambut.paling.meriah

JUDUL berita KOMPAS ini mendapat tanggapan netizen karena setelah lihat ISI berita TERNYATA Provinsi DKI Jakarta HANYA URUTAN KE-4, kalah jauh dari Jawa Barat yang dipimpin Gubernur dari PKS Ahmad Heryawan.

Urutan Provinsi dengan kinerja terbaik:
1. Provinsi Jawa Timur dengan skor 3,1802
2. Provinsi  Jawa Barat 3,1760
3. Provinsi  Kalimantan Timur 3,1469
4. Provinsi DKI Jakarta 3,0560
5. Provinsi  Jawa tengah 3,0539.

"Judul sih bombastis, wong urutannya ke berapa dulu. Di bawah gubernur PKS tuh," komen netizen @AHMADTANTAWl.

"@kompascom Spin Doctor,...lha urutan ke empat koq terbaik....ter itu yg pertama, the most, kalau keempat itu juara harapan1 keleeessss," ujar @BrataRobinto.

"@kompascom terbaik ke 4 itu artinya harapan 1 kom , masih ada 3 terbaik di atasnya *duh," komen @andy_kidn.

Sumber: Portal Islam

WUIH!! Wakil Walkot JakUt BANTAH KERAS Tudingan Ahok Soal Preman Kalijodo yang Muncul Karena AHOK KALAH

WUIH!! Wakil Walkot JakUt BANTAH KERAS Tudingan Ahok Soal Preman Kalijodo yang Muncul Karena AHOK KALAH


10Berita- Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adanya preman yang mulai masuk dan bertugas menjadi petugas parkir liar di kawasan RPTRA Kalijodo.

Menurut dia, preman muncul karena merasa Ahok sudah kalah di Pilgub DKI.

"Ini merasa gubernur sudah kalah, sudah hilang. Gubernur sampai Oktober kok, masih gubernur kok sampai 7 Oktober," kata Ahok.

Pemprov DKI, kata dia, akan segera menindak oknum preman di RPTRA Kalijodo.

Pernyataan Ahok dibantah keras Wakil Wali Kota Jakarta Utara Yani Wahyu.

Yani mengatakan tak ada lagi preman di Kalijodo sejak kawasan ini diresmikan menjadi RPTRA oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama pada 22 Februari lalu.

"Di sini tidak ada preman. Ini buktinya di sini tidak ada. Kita datang kesini tidak ada preman. Ya, tidak ada," kata Yani di Kalijodo, Selasa, 25 April 2017.

Apa yang disampaikan Yani ini menepis isu yang berkembang soal preman yang muncul lagi di Kalijodo, dengan meminta 'jatah' parkiran.

Meski demikian Yani tetap melakukan kerja sama dengan sejumlah pihak keamanaan untuk berjaga di lokasi RPTRA, agar masyarakat yang berkunjung merasa aman.

"Tetap kita ada untuk masyarakat. Tidak ada intimidasi, tidak ada tekanan-tekanan. Upaya yang dilakukan mengefektifkan tugas-tugas satpol PP dan tugas-tugas Dinas Perhubungan," ujar Yani.

Beragam sarana pendukung di RPTRA, kata Yani, juga akan terus ditingkatkan kualitasnya. Mulai dari memaksimalkan pemanfaatan ruang terbuka hijau di sana hingga persediaan air bersih untuk pengunjung RPTRA.

"Sehingga masyarakat mudah mengakses ruang terbuka hijau, termasuk nanti persediaan air bersih, tolilet bersih, keamanan parkir, semuannya tetap kita upayakan warga senyaman mungkin bisa menikmati RPTRA Kalijodo," katanya.

Tak hanya mengupayakan kenyamanan pengunjung RPTRA, Yani juga mengatakan pihaknya juga telah bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengatur dan mendata para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sana.

"Pemerintah semua pada intinya, akan memberdayakan, pedagang kaki lima usaha sektor meneggah ke bawah. UKM ya. Kami sudah bekerja sama dengan Sosro. Sekarang ini kita lihat bersama kios-kios sudah mulai dikerjakan 90 persen. Jadi setelah tuntas, mereka akan dilakukan pendataan dan diundi dapat di mana," kata nya

Sumber: Portal Islam

Ketika Rakyat Menyatu Mencari Keadilan Melawan Tirani, Tembok Paling Kuat Kekuasaanpun Roboh

Ketika Rakyat Menyatu Mencari Keadilan Melawan Tirani, Tembok Paling Kuat Kekuasaanpun Roboh

Oleh: Denny JA

(pendiri dan peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia)

The power in people is much stronger than the people in power. Ketika rakyat menyatu, digerakkan oleh passion mencari keadilan, melawan tirani, maka tembok paling kuat dari kekuasaanpun roboh!

Tak heran negara paling super power di dunia saat itu, Uni Soviet, bubar. Hitler, yang hampir menguasai dunia, tumbang. Tak ada kekuatan yang lebih kuat dibandingkan rakyat yang sudah menyatu dan ikhlas mengambil semua resiko.

Itu yang kemudian dikenal dengan nama people power. Dalam pilkada Jakarta, versi lain dari people power itu, sekali lagi versi yang berbeda dari people power itu bekerja.

Mengapa dalam pilkada Jakarta disebut versi lain dari people power? Itu karena dalam pilkada bertarung kandidat yang sama sah dan legal. Mereka sama-sama tokoh baik dan tokoh pujaan di mata pendukung masing-masing. Ini bukan Good versus Evil. Ini Baik versus Baik di mata penyokong masing-masing.

Banyak pihak berperan mengalahkan Ahok. Namun peran paling besar adalah spirit yang menggerakan people power. Ahok dikalahkan oleh sebuah momen yang tidak direkayasa oleh satu-dua orang, tapi sinerji aneka variabel baik yang dirancang, ataupun yang datang tak terduga.

Itulah kesimpulan akhir saya selaku konsultan politik. Saya memegang data sebelas kali survei di Jakarta sejak Maret 2016 hingga April 2017. Saya bekerja dengan rencana dan strategi. Namun harus saya akui banyak yang masih tak terjelaskan yang akhirnya Ahok dikalahkan secara telak.

Sejak Maret 2016, saya mengekspresikan opini soal Pilkada Jakarta. Tak terduga total yang sudah saya publikasi sebanyak lima puluh satu tulisan. Mayoritas tulisan itu analisis survei, yang merekam opini, harapan, kemarahan, kekecewaan pemilih Jakarta. Banyak pula tulisan berupa puisi.

Sejak awal saya sudah memposting aneka tulisan itu dalam project web Inspirasi.co. Bahkan sejak awal saya sudah memilih judulnya. Sudah ditulis sebagai nama project buku itu: People Power Kalahkan Ahok. Padahal ketika tulisan pertama dibuat di April 2016, Ahok masih sangat perkasa, seolah mustahil dikalahkan.

Bagi yang rindu ingin membuka kembali dokumen pilkada Jakarta 2017 sejak awal; bagi yang mulai ingin menganalisa pilkada Jakarta lebih serius secara akademik; bagi yang ingin merasakan passion dan dinamika sebuah momen pilkada, terimalah hidangan buku ini.

Anggaplah ini catatan harian seorang konsultan politik. Ini buku penuh data riset. Banyak analisis. Tapi tak kurang hadir pula perspektif dan passion.

Ketika menjadi aktivis mahasiswa di tahun 1980-an, saya cukup intens mengunjungi Sutan Takdir Alisyahbana. Ia budayawan, sastrawan, juga seorang entrepreneur. Banyak renungan yang saya dapat darinya.

Satu kutipan yang saya ingat hingga kini, ia menggambarkan tentang sosok pemikir besar. Ujarnya, pemikir besar itu seperti ayam yang berkokok. Sebelum matahari terbit, sebelum orang banyak sadar fajar segera menyingsing, ayam tahu terlebih dahulu dan berkokok. Akibat kokok ayam itu, masyarakat tahu pagi segera datang.

Pemikir besar adalah mereka yang melampaui pengetahuan zamannya. Ia lantang dan berani berkokok, tak peduli apapun resikonya.

Saya tidak mengklaim dan bukan pemikir besar. Tapi memang untuk pilkada Jakarta, saya sudah melihat dan menuliskan apa yang orang banyak, bahkan pada peneliti belum lihat.

Di bulan Febuari-Maret 2016, setahun sebelum pilkada putaran pertama dimulai, semua survei mengenai pilkada DKI menunjukkan data yang sama. Siapapun calon yang dilawankan ke Ahok, dalam pertanyaan untuk 5-10 calon gubernur, Ahok sendirian didukung oleh pemilih sebesar di atas 55 persen.

Survei LSI Denny JA sendiri di bulan Maret 2016, menunjukkan elektabilitas Ahok sekitar 59 persen. Semua calon lain bahkan digabung menjadi satu, totalnya tak sampai 35 persen. Sisa pemilih tak menjawab.

Aneka lembaga survei dan publik luas nyaris sepakat saat itu bahwa Ahok bukan saja akan terpilih kembali. Tapi Ahok akan menang satu putaran saja.

Tanggal 1 April 2016, saya sudah membuat tulisan yang dimuat Inspirasi.co. Tulisan itu cukup meluas dan dibaca para elit. Judulnya justru kebalikannya dengan opini saat itu: Ahok Kuat, tapi Bisa Dikalahkan.

Berbeda dengan keyakinan orang banyak, saya berkeyakinan Ahok memang kuat saat itu, tapi ia akan dikalahkan. Saya tak punya kemampuan paranormal, atau indra keenam. Tapi mengapa saya begitu yakin dengan kesimpulan yang melawan “conventional wisdom,” melawan arus besar era itu?

Jawabnya, analisis data dan jam terbang saya selaku konsultan politik. Saya dianggap founding father profesi konsultan politik Indonesia yang bersandar pada survei opini publik. Sejak pemilu presiden langsung yang pertama di 2004, dan pilkada langsung pertama di 2005 saya sudah terlibat intens menjadi konsultan politik. Saat itu profesi tersebut belum dikenal.

Di tanggal 1 April 2016 itu, saya sudah ikut memenangkan tiga kali pemilu presiden, tiga puluh pilkada gubernur dan lebih dari 70 pilkada kabupaten dan kota madya. Saya sudah mendalami ratusan survei opini publik dan belajar memahami data.

Dari data dan jam terbang itu, saya melawan arus opini di era tersebut. Saya membaca tanda, melihat sinyal yang tersembunyi dalam data. Tak dipungkiri, data menunjukkan Ahok kuat. Bahkan sangat, sangat kuat. Tapi sinyal data juga menyatakan Ahok bisa dikalahkan.

Saya seperti ayam jago juga berkokok. Tapi publik luas lebih banyak yang tak yakin, bahwa kokok ayam saya itu mengabarkan datangnya fajar.

*19 April 2017, setahun kemudian, apa yang saya tulis itu terbukti. Ahok kalah. Saya terlibat aktif ikut mengalahkannya sejak 1 April 2016.*

Mengapa Ahok kalah? Data, perspektif dan analisa dapat dibaca dalam aneka tulisan bersandar pada riset di buku ini.

Di media online 13 April 2017, saya membaca komentar Ruhut Sitompul. Ujarnya, “Denny JA itu musuh bebuyutannya Ahok. Tak usah ditanggapi.” Saat itu Ruhut diminta komentar hasil survei LSI Denny JA menjelang pencoblosan putaran kedua, yang mengabarkan Ahok akan kalah. Lawannya, Anies-Sandi sudah mendapatkan dukungan di atas 51 persen, jauh dibandingkan Ahok di angka 42 persen.

Saya tersenyum membacanya dan bertanya dalam hati. Apa yang membuat Ruhut, dan banyak orang lain menganggap saya musuh bebuyutannya Ahok?

Di Viva news 11 November 2016, saya juga membaca komentar Ahok sendiri. Ketika merespon hasil survei LSI, ia mengatakan “LSI Denny JA itu memang selalu melemahkan saya sejak di Bangka Belitung.”

Memang 10 tahun lalu, dalam pilkada 2007 di Bangka Belitung, saya berhadapan dengan Ahok yang menjadi calon gubernur Babel 2007. Saya membantu saingannya Eko Maulana.

Sebagaimana dalam pilkada DKI 2017, di daerahnya di Babel, Ahok juga sangat fenomenal. Ia diyakini akan menjadi gubernur terpilih. Tapi akhirnya ia dikalahkan Eko Maulana dengan prosentase sangat tipis.

Saya sendiri nyaris tak pernah berjumpa dan bicara empat mata dengan Ahok. Seingat saya hanya sekali saya pernah berpapasan dan saling menyapa waktu jumpa kebetulan menonton preview Film Hanung Bramantyo.

Namun di hati saya tak ada masalah personal dengannya. Ini hanya sebuah profesi saja. Kebetulan di Babel 2007 dan DKI 2017 saya membantu saingannya untuk mengalahkan Ahok. Sebagai profesional tentu saya mencari semua cara yang dibolehkan hukum nasional dan prinsip demokrasi mengalahkan Ahok. Sesimpel itu.

*Mengapa saya memilih mengalahkan Ahok di pilkada DKI 2017? Bukankah selaku aktivis Indonesia Tanpa Diskriminasi kemenangan Ahok adalah kemenangan Indonesia Tanpa Diskriminasi?*

Ahok itu triple minoritas. Ia minoritas agama, minoritas etnik, dan pendatang pula. Bukankah jika Ahok menang, dan di ibu kota pula, itu akan menjadi panggung besar menunjukkan tak ada masalah dengan minoritas-mayoritas?

Hal itu banyak ditanyakan pada saya. Kegiatan saya ikut mengalahkan Ahok mendatangkan bahkan putusnya silahturahmi dan perkawanan. Banyak sahabat dan kolega yang dulu bersama berjuang mempopulerkan Indonesia Tanpa Diskriminasi kini berjarak.

Beberapa WA grup yang saya ikut dibubarkan karena pro-kontra Ahok. Hubungan pertemanan di Facebook dan Twitter juga diputus. Bahkan silahturahmi dengan beberapa partner ideologis itu juga terhenti karenanya.

Saya sendiri sebenarnya sudah mengundurkan diri sebagai konsultan politik. Di LSI grup, saya sudah resmi mundur. Tak ada satu jabatan resmi pun yang saya pegang lagi di sana. Saya hanya sebagai pemilik saja.

Saat itu saya sudah meminta teman-teman LSI merelakan saya pensiun. Sambil bergurau saya katakan, sebaiknya para juara itu pensiun di puncak kejayaannya, bukan di era ketika ia sudah banyak dikalahkan.

Puncak kejayaan saya anggap ketika melakukan hatrick, tiga kali berturut-turut memenangkan pemilu presiden. Yaitu ketika LSI tercatat ikut memenangkan SBY (2004), SBY (2009), Jokowi (2014).

Berseloroh saya bercerita kepada kolega di LSI bahwa kita harus seperti Lionel Messi atau Christian Ronaldo. Jangan hanya mereka yang melakukan hatrick mencetak tiga goal dalam satu pertandingan. Kita juga harus mencetak hatrick dalam ibu segala pemilu yaitu pemilu presiden.

Semua rekor puncak sudah saya capai. Rekor untuk survei paling akurat, quick count paling cepat dan akurat, publikasi paling heboh, dan paling banyak memenangkan klien, sudah saya raih.

Bahkan untuk kampanye sosial media saya sudah mendapatkan penghargaan internasional dari majalah berita terbesar dunia TIME Magazine. Juga penghargaan dari Twitter Inc internasional.

Saya merasa tak ada lagi tantangan di profesi itu. Ibarat pendaki, tujuh gunung tertinggi sudah ditaklukkan. Saatnya memberi panggung kepada generasi selanjutnya.

Secara resmi saya pensiun selesai Pilpres 2014. Waktu yang ada saya fokus pada kegiatan sastra, membuat film, kegiatan sosial Indonesia Tanpa Diskriminasi dan bisnis. Saya juga mulai menulis kembali aneka kolom. Itu dunia yang pernah sangat intens saya geluti dan kemudian saya tinggalkan.

Semua kegiatan LSI diambil alih yang muda. Saya hanya terlibat enam bulan sekali ketika diadakan Raker dan RUPS.

Menjelang pilkada Jakarta, karena sudah didelegasikan wewenang, masing-masing pimpinan bergerak secara bebas bertemu atau melobi calon klien.

Ketika jumpa dengan pimpinan baru LSI, mereka bercerita. Sudah ada dua kali pertemuan pihak LSI dengan Ahok. Ujar mereka, agaknya Ahok masih sulit untuk klik dengan LSI. Mengapa? Tanya saya. Mungkin kasus pilkada Babel 2007, pak. Jawab mereka.

Secara tak sengaja saya juga jumpa dengan seorang konglomerat di pesta pernikahan. Ia bertanya ke saya: “you ada kasus apa dengan Ahok?” Saya rileks saja menjawab, saya tak ada kasus apapun dengan Ahok.

Konglomerat itu bercerita, saya sudah bilang ke Ahok, anda sebaiknya dibantu Denny JA di pilkada DKI 2017. Anda jangan marah dengan Denny soal pilkada Babel itu. Anda justru harus terima kasih ke Denny. Gara-gara kalah di Babel, kan anda sekarang jadi gubernur DKI.

Jika dulu anda jadi gubernur Babel, anda sekarang tidak menjadi gubernur DKI, ujar konglomerat itu bercerita percakapannya dengan Ahok. Saya dan konglomerat itu tertawa dengan logika out of the box.

Di bulan akhir Febuari 2016, kembali saya berjumpa dengan teman-teman yang mengelola LSI. Pak Denny, ujar mereka, mustahil LSI absen di pilkada DKI. Ini magnet semua pilkada. Kita selaku konsultan politik terbesar akan aneh jika absen di panggung politik pilkada terbesar.

Sudah dicoba semua saluran ke Ahok, tapi tak jalan. Kita agaknya terpaksa melawan Ahok lagi. Tapi Ahok sangat perkasa. Akan buruk untuk reputasi LSI jika kita kalah di Jakarta. Ini disorot semua pemain politik.

Mereka pun membuat usul. Pak Denny harus turun gunung agar Ahok bisa dikalahkan. Ya, pak Denny, yang lain meneguhkan. Pak Denny harus ikhlas demi reputasi LSI untuk terlibat aktif lagi.

Ha? Jawab saya. Saya sudah menikmati masa pensiun saya sebagai konsultan, dan mulai menapak menjadi peminat puisi, aktivis dan penulis lagi. Ibarat buku, saya sudah meluncur ke Bab 2. Kok diminta balik ke Bab 1 lagi?

Saya teringat film cowboy legendaris di tahun 1952: High Noon. Saat itu Will Kane sang cowboy sudah menyiapkan diri pensiun, dan hidup damai beserta keluarga. Namun situasi memintanya untuk menjadi cowboy aktif kembali.

Saya bertanya dalam hati. Haruskah saya menjadi seperti Will Kane? Saya belum definitif merespon permintaan teman teman di LSI. Namun saya sudah mulai aktif membuat tulisan untuk membentuk opini.

Tanggal 1 April 2016, tulisan saya pertama soal pilkada Jakarta dipublikasi. Motif tulisan itu untuk membuka mata banyak pihak bahwa Ahok memang kuat, tapi bisa dikalahkan.

Tapi saya masih setengah hati untuk aktif lagi. Sambil juga saya merenungkan apa lagi yang mau saya capai dengan niat mengalahkan Ahok? Siapa pula kandidat yang harus saya bantu?

Saya agak risih turun gunung mengalahkan Ahok jika alasannya hanya untuk reputasi LSI. Semata itu sebagai alasan, ia kurang memanggil. Ia kurang bisa membuat saya memberikan hati seluruh.

Harus untuk tujuan yang lebih besar, yang lebih terasa kepentingan publiknya. Itu saya syaratkan pada diri saya untuk akhirnya turun gunung melawan Ahok. Jika tak ada alasan sosial yang lebih besar, saya memilih tetap pensiun saja.

Semakin lama saya mendalami perilaku dan pernyataan publik Ahok, semakin saya teguh dan bulat hati.

Selaku aktivis yang sejak lama ikut menghayati prinsip demokrasi dan hak asasi, saya banyak kaget dengan pernyataan publik Ahok. Ia misalnya mengatakan mereka yang demo itu sebaiknya disiram Canon berisi bensin hingga terbakar.

Atau ia bersedia membunuh 2.000 orang demi melindungi 10 juta penduduk. Atau ketika para ibu menangis akibat rumahnya digusur, enteng saja ia berkomentar para ibu itu seperti main sinetron.

Ahok pun tidak risih berkata di depan TV: taik! taik! Atau seorang ibu ia maki di depan orang banyak: ibu maling!

Terlebih lagi, Ahok mudah saja menggusur tak ikut prosedur hukum. Akibatnya ia beberapa kali dikalahkan di pengadilan.

Walau kinerjanya sebagai gubernur baik di banyak bidang, Ahok tidak mencontohkan pemimpim dengan pernyataan publik yang terjaga. Ia seorang manajer kota yang kuat. Tapi Ahok sangat tumpul kecerdasan emosionalnya, membuat pernyataan emosional tak perlu.

Itu bukan menggambarkan pemimpin yang tegas, tapi kasar, tak sensitif atau tak peduli dengan emosi massa. Bahkan cenderung arogan di mata orang banyak. Ini bukan tipe pemimpin yang saya ideakan buat ibu kota.

Baiklah saya turun gunung. Saya putuskan sepenuh hati dengan semua resikonya bergerak mengalahkan Ahok kembali. Saya pernah mengalahkanya di Babel 2007. Kini saya ingin kalahkan lagi

Tekad saya lebih kuat lagi setelah Ahok membuat blunder soal Al Maidah. Mungkin baginya, dan pendukungnya, itu bukan soal besar. Namun untuk Jakarta yang demokrasinya masih labil, hadirnya pemimpin yang tak peduli dengan emosi massa, bisa membuat bangunan demokrasi semakin labil.

Saya pun menemukan alasan sosial mengapa Ahok berharga untuk dikalahkan.

Buku ini berisi 51 (lima puluh satu) tulisan saya soal pilkada Jakarta. Umumnya itu analisis hasil survei. Ada juga analisa berita. Juga ada puisi yang menggambarkan suasana batin pilkada saat itu.

Anggap saja buku ini catatan harian konsultan politik. Tulisan paling awal tanggal 1 April 2016. Tulisan paling akhir di ujung bulan April 2017 ketika sudah pasti terpilih gubernur baru.

Dengan membaca buku ini secara kronologi, tergambar dinamika opini, harapan, kemarahan, kecemasan pemilih Jakarta yang direkam melalui sebelas kali survei. Ditambah dua exit poll dan dua quick count melengkapi data.

Terekam pula batin penulis di momen itu melalui aneka puisi khusus soal pilkada.

Ini buku pertama kumpulan tulisan seorang konsultan politik yang intens memotret, menganalisa, dan ikut mempengaruhi hasil akhir pilkada. Panggungnya ibu kota Jakarta. Heboh peristiwa dalam pilkada itu tepat dikatakan. Ini ibu semua pilkada, yang paling dramatik, yang paling menyita perhatian, yang paling mengkhawatirkan, yang paling menggugah emosi, yang pernah terjadi di Indonesia. (*)

Sumber: Swamedium.com, Ummat Pos