OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Kamis, 27 April 2017

Gugatan Ditolak MK, Rentetan Kekalahan PDIP-Nasdem Bertambah

Gugatan Ditolak MK, Rentetan Kekalahan PDIP-Nasdem Bertambah


10Berita- Duet PDIP dan Partai Nasdem kembali harus gigit jari. Upaya menggugat hasil Pilkada Kota Yogyakarta 2017 kandas setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh permohonan yang diajukan pasangan Imam Priyono-Achmad Fadli karena dianggap tidak beralasan menurut hukum.

"Menolak seluruh permohonan. Empat eksepsi pemohon tidak beralasan menurut hukum," ucap Ketua MK Arief Hidayat  di Ruang Sidang Utama MK, Jakarta, Rabu (26/4/2017), seperti dilansir Sindonews.

Dengan demikian pasangan Haryadi Suyuti-Heroe Poerwadi yang diusung PAN, PKS, Demokrat, PPP, Golkar ditetapkan sebagai pemenang.

Kegagalan gugatan di MK ini memperpanjang kekalahan koalisi PDIP-Nasdem.

Seperti diketahui, duet partai pengusung pemerintah ini kandas di sejumlah pilkada. Di Pilkada Banten, pasangan yang mereka usung, Rano Karno-Embay yang merupakan petahana kalah dari pasangan Wahidin-Andika. 

Terakhir mereka harus gigit jari setelah di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta pasangan yang juga petahana Ahok-Djarot kalah telak melawan Anies-Sandi. Bahkan kekalahan Ahok-Djarot dengan selisih suara 15,9% ini merupakan kekalahan terbesar sepanjang sejarah Pilkada DKI.

Hingga saat ini Ketum PDIP Megawati belum mengeluarkan statemen terkait kekalahan yang memalukan ini.

Sumber:

Jamaah Haji 2017 akan Wukuf dengan Tenda Baru

Jamaah Haji 2017 akan Wukuf dengan Tenda Baru

10Berita, BANDA ACEH — Menteri Agama (Menag)  Lukman Hakim Saifuddin mengatakan merasa bersyukur atas persiapan pelayanan ibadah haji tahun 2017. Hal ini karena seluruh persiapan haji kini sudah siap untuk melayani jamaah.

‘Untuk penginapan jamaah di Makkah kualitasnya sertara hotel bintang tiga. Setiap kamar di huni maksimal tiga orang. Penginapan di Madinah pun sudah siap,’’ kata Lukman Hakim, sesuai mengadakan silaturahmia dengan Pengasuh Pondok Pesantren se-Aceh Nanggroe Darussalam, di Banda Aceh, (26/4).

Yang lebih khusus lagi, Menang menyatakan bersyukur bila mulai tahun ini tenda jamaah haji untuk melakukan wukuf di Arafah sudah merupakan fasilitas yang baru. Pada setiap tenda itu pun dilengkapi dengan alat pendingin udara.

‘’Kain tendanya juga baru. Rangka tendanya pun lebih kokoh karena terbuat dari tiang rangka baja. Jumlah pendingin udara di dalam tenda juga diperbanyak. Jadi bukan hanya pakai AC saja, juga fan (kipas angin) yang ada di setiap tenda pun ditambah jumlahnya,’’ ujar Lukman.

Mengenai ketersedian toilet di Mina, Lukman mengatakan pihaknya terus mendesak kepada pemerintah Arab Saudi agar fasilitas ini ditambah. Dan tampaknya mulai direalisasikan.

‘’Untuk soal pelayanan di Mina kami tidak bisa melakukan apa-apa, cuma bisa mengusulkan karena kewenangannya ada di pemerina Arab Saudi. Fasilitas ini memang sangat penting mengingat nanti di Mina ada sekitar dua juta jamaah yang bermalam di situ untuk melakukan lempar jumrah,’’ kata Lukman.

Sementara itu salah satu pejabat di Kantor Urusan Haji (KH) Indonesia di Jeddah, Arsyad Hidayat, mengatakan pada musim haji 2017 ini memang akan teradi inovasi pengembangan tenda yang akan dipakai jamaah ketika melakukan wukof  di Arafah. Tenda baru ini menggantikan tenda lama yg dipakai jamaah haji selama ini dipakai, bahkan tak pernah diganti sejak lebih dari 100 tahun.

“Kelebihan tenda baru ini kain tenda terbuat dari PVC dengan konstruksi rangka sangat kokoh, tahan api/air, anti sinar UV, tidak mudah sobek, tidak menyerap panas dan tahan terpaan angin 30 - 40 km/per jam,’’ kata Arsyad.

Menurut Arsyad, di samping itu memakai  tenda yang baru, di dalamnya tenda tersebut juga akan disediakan AC dan mist fan (kipas angin).

‘’Adanya pembaruan itu maka diharapkan  kondisi di dalam tenda terasa nyaman meski cuaca di luar sangat panas. Ini jelas kabar yang baik bagi calon jamaah haji,’’ kata Arsyad yang juga mantan Kepala Daerah Kerja (Kadaker) pelayanan ibadah haji Indonesia di Makkah.

Sumber: Ihram

Di Daerah Manakah Nabi Musa Dilahirkan?

Di Daerah Manakah Nabi Musa Dilahirkan?

10Berita- JAKARTA -- Sungai Nil memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan sungai-sungai lain di dunia. Di samping panjangnya mencapai 6.670 km yang membentang dari selatan ke utara, Sungai Nil juga membentang pada garis 3,30 derajat Lintang Selatan sampai 31 derajat Lintang Utara. Dengan kata lain, sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis Lintang.

Inilah yang membedakan Nil dengan sungai-sungai lainnya di dunia, karena kebanyakan sungai di dunia mengalir ke arah timur atau ke barat. Sebaliknya, Sungai Nil merupakan sungai yang mengalir melalui daerah-daerah yang beragam dan dengan iklimnya yang bermacam-macam pula.

Di daerah hulu, Sungai Nil bersumber dan mengalir dari daerah yang beriklim tropis dan berdataran tinggi. Kemudian, melewati beberapa sumbernya yang lain di daerah semitropis. Lalu, melewati daerah lembah pegunungan yang beriklim subtropis.

Dari arah Ethiopia yang beriklim sub-seasonal, salah satu sumbernya mengalir ke negara ini. Sungai Nil juga melewati daerah Sudan yang merupakan daerah yang dipenuhi hujan pada musim panas dan kekeringan musim dingin. Setelah itu, ia menerobos membelah daerah padang pasir yang ganas dan bermuara di daerah Mesir, yang beriklim laut tengah.

Dengan demikian, Sungai Nil mengalir dari daerah hijau yang terletak pada garis khatulistiwa ke daerah padang pasir yang sangat tandus di bagian utara benua Afrika. Dengan begitu, setiap Nil mengalir satu langkah, dia akan kehilangan sebagian airnya.

''Jadi, semakin ke hilir, airnya semakin berkurang. Hal ini berbeda dengan sungai-sungai lain di dunia, di mana semakin ke hilir semakin banyak muatan airnya,'' tulis Iman Firdaus, asal Pandeglang, Banten, seorang alumnus Pascasarjana dari Zamalek Univesity, Kairo, sebagaimana dikutip rumahdunia.net.

Uskur; Tempat Musa Dilahirkan?

Di daerah manakah Nabi Musa dilahirkan? Pertanyaan ini, tampaknya banyak dipikirkan setiap Muslim. Sejumlah pendapat menyatakan, Nabi Musa dilahirkan di Uksur (Luxor), sekitar dua jam perjalanan naik mobil dari Kairo ke Uksur, yang terletak di tepi Sungai Nil.

Di Uksur ini, terdapat sebuah bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. Bangunan itu sudah tampak sangat tua, namun dipercaya ada nilai sejarah yang sangat besar, bagi peradaban bangsa Mesir.

Menurut penduduk setempat, bangunan tua itu menyimpan kisah 30 abad silam, yakni kelahiran seorang manusia, keturunan Bani Israil yang berani menentang kezaliman Firaun, raja Mesir. Dialah Musa yang dihanyutkan oleh ibunya, Yukabad, ke Sungai Nil.

Dalam bangunan tua itu, terdapat sebuah sumur yang (konon) dahulunya digunakan oleh Yukabad, ibu Musa, setelah Musa lahir. Berdasarkan sejarah, selama tiga bulan ibu Musa menyembunyikan kelahiran anaknya karena takut pada Firaun. Dan, sumur ini merupakan sumber air mereka selama dalam persembunyian.

Kedalaman sumur sekitar lima hingga delapan meter, dengan luas kurang lebih satu meter. Saat ini, lokasi itu ditutupi dengan papan biasa, namun diyakini sebagai sumur yang digunakan Yukabad untuk menyembunyikan Musa selama masa awal kelahiran.

Di sekitar sumur, kini terdapat sebuah masjid tua yang telah ditinggalkan. Kondisi ini menandakan bahwa orang-orang Uskur sudah beriman kepada Allah sejak dahulu kala. Masjid ini dibangun oleh salah seorang sahabat Rasul SAW dalam perjalanannya menuju Spanyol. Wa Allahu A'lam.

Sumber: Republika

Kisah Nabi Musa dan Sungai Nil

Kisah Nabi Musa dan Sungai Nil

10Berita-  JAKARTA -- Menyebut nama Sungai Nil, sebagian besar umat Islam akan teringat dengan kisah Nabi Musa AS. Sebagaimana dikisahkan, sewaktu masih bayi, ibunda Nabi Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk menghanyutkan bayinya (Musa) dalam sebuah peti ke Sungai Nil.

Kisah ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran surah Thaaha [20]: 39. Yaitu, ''Letakkan ia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh dibawah pengawasan-Ku.''

Dalam surah Al-Qashash [28] ayat 7, Allah berfirman: ''Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul.''

Secara jelas, ayat di atas menunjukkan tentang kisah Nabi Musa yang dihanyutkan oleh ibunya ke Sungai Nil. Karena itulah, kisah Nabi Musa dan Sungai Nil sangat terkenal di dunia Islam. Bahkan, dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga dikisahkan tentang dihanyutkannya Nabi Musa AS ke Sungai Nil yang kemudian diasuh oleh Permasuri Firaun.

Sungai Nil terletak di Negara Mesir, Benua Afrika. Sungai Nil merupakan sungai terpanjang di dunia. Panjangnya mencapai 6.650 kilometer (km) atau sekitar 4.132 mil. Secara keseluruhan Sungai Nil melintasi sembilan negara di Afrika, seperti Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, dan Mesir.

Sungai Nil berasal dari bahasa Yunani, Neilos, yang berarti lembah sungai. Sungai ini identik dengan sejarah Mesir, yakni sejak zaman Mesir kuno. Sungai Nil mempunyai peranan penting dalam peradaban, kehidupan, dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu.

Sumber: Republika

Inilah Wajah Islam di Indonesia, MUI: Tak Ingin Cari Ideologi Baru dan Negara Baru

Inilah Wajah Islam di Indonesia, MUI: Tak Ingin Cari Ideologi Baru dan Negara Baru


10Berita-JAKARTA–Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, meminta semua pihak bisa menjaga keutuhan NKRI.

Dia menegaskan, dengan pertemuan Partai Politik, ormas Islam, bersama MUI, menggambarkan, tidak ada keinginan untuk membuat ideologi, bahkan negara baru di luar NKRI.

“Inilah wajah Islam, baik di majelis ulama dan parpol, memiliki harapan yang sama. Dan tidak ada yang berkeinginan mencari ideologi baru dan negara baru. Kita terus berkomitmen dengan apa yang sudah ada,” ucap Nasaruddin dalam Rapat Pleno Dewan Pertimbangan, di Gedung MUI, Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Dia mengingatkan majelis ulama adalah sekelompok manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Sehingga tidak ada maksud untuk menyerang apalagi saling memusuhi elite politik.

“Majelis ulama juga manusia biasa dan kami punya terbatasan. Tadi kita mendengar harapan soal majelis ulama kepada parpol. Sesungguhnya kita juga membutuhkan saran dari elite kepada kami,” jelas Nasaruddin.

Karenanya, daripada menimbulkan pergesekan dengan para elite politik, maka jangan sampai ada ucapan negatif yang terus diarahkan kepada parpol.

“Kalau terus memberikan negatif dengan parpol tertentu kemudian membalas, juga yang rugi adalah umat Islam. Alangkah bagusnya diselesaikan,” pungkas Nasaruddin. []

Sumber:Liputan6


Tausiyah Kebangsaan Dewan Pertimbangan MUI Hasilkan Enam Poin

Tausiyah Kebangsaan Dewan Pertimbangan MUI Hasilkan Enam Poin

10Berita- JAKARTA -- Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melaksanakan rapat pleno ke-17 di Kantor MUI pada Rabu (26/4). Rapat kali ini mengusung Tema Membangkitkan Marwah Politik Umat Islam. Melalui rapat pleno tersebut Dewan Pertimbangan MUI melahirkan enam poin Taushiyah Kebangsaan.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH Didin Hafidhuddin menyampaikan Dewan Pertimbangan MUI didorong rasa tanggung jawab keagamaan, kebangsaan dan kewajiban melakukan amar makruf nahi munkar untuk kemaslahatan umum, Dewan Pertimbangan MUI menyampaikan enam poin tausiyah kebangsaan.

"Pertama, kehidupan bangsa dewasa ini, terutama terkait pilkada serentak dan hal-hal yang mengitarinya telah menimbulkan perbedaan pandangan dan kepentingan politik yang tajam yang nyaris membawa perpecahan bangsa," kata KH Didin saat membacakan tausiyah Kebangsaan di Kantor MUI, Rabu sore (26/4).

Ia mengatakan, keadaan saat ini diperparah oleh pertentangan pendapat dan sikap terhadap kasus penistaan agama serta proses peradilannya. Oleh karena itu, Dewan Pertimbangan MUI berpesan agar tidak terjebak dalam pertentangan dan permusuhan. Perbedaan aspirasi dan kepentingan politik tidak harus membawa perpecahan. Persaudaraan kebangsaan tidak harus sampai terganggu.

Poin kedua, sikap dan pandangan keagamaan MUI tentang kasus penistaan agama pada 11 Oktober 2016 diperkuat serta didukung Taushiyah Kebangsaan Dewan Pertimbangan MUI pada 9 November 2016. Maka kesimpulannya harus dilakukan penegakan hukum secara berkeadilan, transparan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Ia mengungkapkan, Dewan Pertimbangan MUI tidak bermaksud mencampuri proses peradilan. Namun, proses peradilan atas kasus penistaan agama secara kasat mata telah menunjukan hal yang patut diduga adanya campur tangan lain. Campur tangan tersebut ditunjukkan dengan adanya penundaan penuntutan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Juga JPU yang cenderung membebaskan terdakwa.

"Maka Dewan Pertimbangan MUI menilai bahwa tuntutan itu telah mengusik rasa keadilan masyarakat, khususnya umat Islam," ujarnya.

KH Didin menegaskan, Dewan Pertimbangan MUI memesan kepada lembaga penegak hukum agar berhati-hati dan berhenti dari kecenderungan mempermainkan hukum. Kemudian poin ketiga Taushiyah Kebangsaan, Dewan Pertimbangan MUI mengajak penyelenggara negara khususnya lembaga penegak hukum untuk bersungguh-sungguh dan secara konsisten serta konsekuen menegakkan hukum secara berkeadilan.

Jika ada campur tangan pemerintah dalam proses penegakan hukum, menurutnya, hal tersebut akan berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan (distrust). Kemudian membawa sikap ketidaktaatan (disobedience) rakyat terhadap hukum dan penegakan hukum. Jika ketidakadilan hukum terjadi, maka rakyat akan mudah bangkit dan bergerak untuk memprotes demi tegaknya kebenaran serta keadilan.
 
KH Didin melanjutkan, poin yang keempat, Dewan Pertimbangan MUI mengajak semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat, umat berbagai agama mengembangkan toleransi dan wawasan kebinekaan sejati. Hal itu adalah budaya dan etika untuk tidak memasuki wilayah keyakinan pihak lain dan tidak mengganggu hal-hal suci yang dianut pihak lain. Hal ini dilakukan dalam rangka memelihara keamanan negara dan kerukunan bangsa.

"Kelima, sehubungan dengan situasi dan kondisi kehidupan bangsa akhir-akhir ini, seyogyanya segenap penyelenggara negara tidak terbelenggu dan tersandera oleh satu faktor perusak dan pemecah belah bangsa. Terlalu rendah derajat kita jika hal itu terjadi dan terlalu mahal harga yang harus dibayar jika kerusakan dan perpecahan terjadi di negeri ini," jelasnya.

Ia menegaskan, poin keenam, Dewan Pertimbangan MUI menghimbau seluruh umat Islam sebagai umat mayoritas di negeri ini untuk menjadi perekat bangsa dan mengedepankan akhlak agung dalam melakukan muamalah secara nasional. Di samping itu umat Islam dituntut untuk mengokohkan ibadah dan tazkiyatun nafs dalam rangka menjaga keutuhan NKRI.

Sumber: Republika

Benarkah Mayit Menjawab Salam Para Peziarah?

Benarkah Mayit Menjawab Salam Para Peziarah?

10Berita-KEMATIAN, adalah pemisah dari dunia kehidupan, jika seandainya orang yang sudah meninggal tidak mampu mendengar dan melihat, kenapa Rasulullah menyuruh kita mengucapkan salam ketika memasuki area perkuburan?

Alam kubur termasuk alam ghaib. Sehingga tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali melalui dalil Al-Quran dan hadis.

Ketika kita diperintahkan untuk ziarah kubur, agar lebih mudah mengingat kematian, memberi salam dan mendoakan si mayit. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ya Rasulullah, apa yang harus aku ucapkan ketika aku ziarah kubur?’

Ucapkanlah, “Assalamu alaikum wahai penghuni kubur, dari kalangan mukmini dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang yang telah meninggal dan yang masih hidup. Dan insyaaAllah kami akan menyusul kalian,” (HR. Muslim 2301).

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memberi salam kepada penghuni kubur. Dan beliau tidak menyebutkan, apakah mereka mendengar salam itu ataukah tidak.

Kemudian, ada satu riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila ada seseorang yang melewati kuburan saudaranya sesama mukmin  yang dia kenal di dunia, lalu dia memberi salam, maka saudaranya akan akan menjawab salamnya.

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam al-Istidzkar (1/185) dari jalur Ubaid bin Muhammad, dari Fatimah bintu Rayyan, dari Rabi’ bin Sulaiman – muridnya imam as-Syafi’I, dari Bisyr bin Bukair, dari al-Auza’I, dari Atha’, dari Ubaid bin Umair, dari Ibnu Abbas.

Hadis ini juga dibawakan Syaikhul Islam, dan beliau mengatakan

Ibnul Mubarok mengatakan, “Hadis ini shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dishahihkan Abdul Haq, penulis kitab al-Ahkam,” (Majmu’ Fatawa, 24/331).

Hadis ini juga dishahihkan al-Hafidz Abdul Haq al-Isybili, al-Qurthubi dalam al-Mufhim (1/500), al-Iraqi dalam Takhrij Ihya Ulumiddin (4/491), demikian pula as-Syaukani dalam Nailul Authar (3/304).

Disamping itu, para ulama juga menegaskan bahwa mayit bisa mengetahui orang yang dia kenal ketika menziarahinya.

[1] Keterangan Ibnul Qoyim mengatakan,

Para salaf dan ulama sepakat tentang ini, dan terdapat banyak riwayat dari mereka bahwa mayit mengetahui orang hidup yang menziarahinya dan merasa senang dengannya. (ar-Ruh, hlm. 5)

[2] Keterangan Ibnu Katsir,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyariatkan kepada umatnya ketika mereka memberi salam kepada penghuni kubur, agar disampaikan seperti menyampaikan kepada orang yang ada di depannya. ‘Assalamu alaikum, wahai penghuni kampung kaum mukminin”

sementara panggilan semacam ini hanya bisa diarahkan kepada orang yang bisa mendengar dan berakal. Andai bukan seperti ini panggilannya, tentu statusnya seperti memanggil sosok yang tidak ada atau benda mati. Dan para ulama salaf sepakat hal ini. Terdapat banyak riwayat dari mereka bahwa mayit mengetahui orang hidup yang menziarahinya dan merasa senang dengannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/325).

Jangan Meminta Ahli Kubur

Orang yang telah mati, mereka tidak lagi bisa beramal. Sehingga mereka sama sekali tidak bisa membantu orang lain. Jutru mereka butuh amal, butuh ampunan Allah, dan butuh bantuan doa dari mereka yang hidup. Bukan sebaliknya.

Allah mencela orang-orang musyrik yang berdoa, memohon kepada ruh orang soleh. Allah berfirman,

“Tuhan-tuhan yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. Itu semua benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan,” (QS. an-Nahl: 20-21).

Orang yang telah dikubur, mereka membutuhkan doa, membutuhkan tambahan amal. Sehingga sangat mengherankan jika dia dimintai doa, apalagi datang ke kuburan untuk curhat masalah dunianya. Allahu a’lam. []

Sumber: Konsultasi syariah 


Gerakkan Ekonomi Umat, Kiai Ma'ruf Amin: Mari Bung Rebut Kembali!

Gerakkan Ekonomi Umat, Kiai Ma'ruf Amin: Mari Bung Rebut Kembali!

10Berita, TASIKMALAYA -- Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengingatkan  para pengurus dan kiai-kiai kultural NU turut berperan menggerakkan ekonomi umat.  

“Kini saatnya para kiai menggerakkan ekonomi umat. Mari Bung, rebut kembali!” katanya dalam pelantikan dan peresmian Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (6/4) dalam keterangan persnya yang diterima Republika.co.id. 

Menurut sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI ini, ekonomi tersebut digerakkan dengan menegakkan prinsip ta’awun, saling bantu membantu. 

Mereka yang ekonominya kuat harus membantu yang lemah tanpa harus mengambil untung. Pembagian untungnya dikembalikan semua untuk umat.  

“Nanti ketika gerakan ini berjalan, semua akan memperoleh manfaatnya,” ujar dia.  

Prinsip ta’awun  itu, menurut Rais Amm, bisa dimulai melalui program kemitraan. Dengan melibatkan atau membuat sendiri waralaba yang berjejaring ke seluruh pelosok negeri. 

Terkait hal ini, negara dan para pengusaha di tingkat nasional maupun pemerintah daerah bisa dilibatkan. Karena gerakan ekonomi umat  itu, akan meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Kyai Ma’ruf juga mendorong para pengurus NU di tingkat pusat hingga tingkat ranting tak segan bermitra dengan pengusaha dan pemerintah. Asalkan, kemitraan itu bermaslahat dan terasa manfaatnya oleh umat . 

NU, kata Kiai Ma’ruf, bertanggung jawab meningkatkan ekonomi masyarakat. Karena mayoritas warga NU adalah dari kalangan mustadh’afin (ekonomi lemah). 

“Ini bukan lagi ajakan. Ini adalah intruksi Rais Aam PBNU,” ujar dia. 

Sebab kata dia, persoalan ini berkaitan tanggungjawab umat(mas’uliyyat al-ummat) dan tanggungjawab kebangsaan(mas’uliyyat wathaniyyah) dan satu lagi, ini merupakan juga tanggung jawab sejarah. 

Menurut Kiai, NU bukan hanya berjuang untuk kemerdekaan RI, tapi bagian dari pendiri NKRI.  Karena itu ketika ada yang mengancam umat , mengancam bangsa ini dari sisi kedaulatan maupun sisi ekonomi, NU harus bertindak. 

“NU adalah pendiri dan pemegang saham di NKRI,” katanya seraya mengajak dua ribu Nahdliyin se-Kabupaten Tasikmalaya yang hadir di Aula IAI Cipasung itu terlibat dalam gerakan tersebut. 

Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tasikmalaya, KH Abun Bunyamin Ruchiyat mengatakan sebagai pendiri NKRI, warga NU wajib hukumnya kita membela negara. 

Di samping itu, kata dia, mayoritas warga NU juga dari kalangan mustadh’afin maka NU perlu menggalakkan program penguatan ekonomi umat. Rasulullah SAW menegaskan kada al-faqru an yakuna kufran, kemiskinan itu sangat potensial memicu kekufuran. 

Sebab itu, ujar dia, pengurus NU harus berpikir dan bergerak mencari solusi agar umat  mampu bangkit dari kemiskinan. Agar umat  tidak mudah diiming-imingi oleh harta, untuk menukar aqidah an-nahdliyah ke aqidah lain yang bisa mengancam NU, bahkan mengancam keutuhan NKRI. 

Dalam kesempatan itu, Rais Amm PBNU melantik KH Atam Rustam, Pimpinan Ponpes Sukamanah, sebagai Ketua PCNU Kabupaten Tasikmaaya. Cucu Pahlawan nasional, KH Zainal Mustofa itu mengungkapkan, program pertama PCNU Kabupaten Tasikmalaya adalah memakmurkan masjid, dimulai dengan menggerakkan shalat subuh berjamaah dan menggalang persaudaraan antar-Nahdliyin  dengan program lailatul ijtima’ dan lain-lain. 

Sumber: Republika

Penghina Gubernur NTB, Steven kabur ke luar negeri

Penghina Gubernur NTB, Steven kabur ke luar negeri

10Berita- Pelaku penghinaan bernada rasis Steven Hadi Surya Sulistyo, (26) terhadap Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi, (43 tahun), yang biasa disapaTuan Guru Bajang (TGB), di Bandara Changi Singapura pada 9 April 2017, ternyata diduga kabur ke luar negeri.

Sebagaimana dilansir Harian Terbit, Steven terbang dari Bandara Soekarno Hatta pada Jum’at (14/4/2017), pukul 06.37 WIB.

Kaburnya Steven tersebut disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah NTB Komisaris Besar Irwan Anwar di kantornya, Rabu (26/4) sore.

”Ya Steven sudah ke luar negeri sebelum Imigrasi menerima laporan perkara,” kata Irwan Anwar yang menyebutkan pesawat yang ditumpanginya menuju Singapura.

Pencekalan terhadap Steven dilakukan pada Selasa (18/4) setelah sehari sebelumnya Senin (17/4) menerima laporannya.

Selain Polda Metro Jaya, Direktorat Reskrimum Polda NTB juga ikut menangani perkara Steven setelah menerima pengaduan perkara oleh Tim Pembela Gerakan Pribumi Berdaulat, Senin 17 April 2017.

Mereka mewakili 10 orang warga dari berbagai profesi dan lembaga sosial di Mataram yang menyatakan Steven HadiSurya Sulistyo melakukan perbuatan tindak pidana penistaan rasial (penghinaan golongan penduduk Indonesia) dan tindak pidana diskriminasi ras dan etnis.

Salah seorang pengacaranya, Abdul Hadi Muchlis menyebutkan bahwa Steven diduga melakukan Tindak Pidana Diskriminasi Ras dan Etnis sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Undang-undang No. 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Tindak Pidana Penistaan Rasial sebagaimana dimaksud dalam pasal 156 KUHP dengan menyatakan permusuhan, kebencian atau merendahkan Golongan Penduduk Indonesia dan/atau Ras dan Etnis (suku, daerah, agama, asal usul, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum ketatanegaraan).

Komisaris Besar Irwan Anwar mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan polisi di Bandara Soekarno Hatta, Rabu 19 April 2017.

”Polda Metro Jaya sudah memintai keterangan polisi yang menangani di Bandara Soekarno Hatta,” ungkap Irwan Anwar yang juga telah bertemu polisi di sana, Selasa (18/4).

Irwan juga menegaskan bahwa kasus yang menimpa Zainul Majdi tersebut bukan fiktif karena ada bukti tertulis bahwa Steven meminta maaf, ada KTP, paspor dan bukti perjalanan keluar masuk Indonesia.

Penanganan perkara ini bisa dilakukan di Jakarta walaupun kejadiannya di Changi, Singapura. Menurutnya, suatu peristiwa yang ditetapkan dianggap pidana oleh orang Indonesia di luar negeri penyidikannya bisa dilakukan di area PN Jakarta Pusat. Maka yang bisa menyidik adalah Bareskrim Polri, Metro Jaya dan atau Polres Jakarta Pusat.

Sumber: arrahmah

7 Tanda Khusnul Khotimah

7 Tanda Khusnul Khotimah

10Berita-SALAH satu diantara kabar gembira yang Allah segerakan untuk hamba-Nya yang beriman adalah adanya pujian yang diberikan oleh orang lain untuknya.

Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,

“Bagaimana jika ada orang yang melakukan amal baik, kemudian dia dipuji oleh masyarakat?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Itu adalah kabar gembira bagi mukmin yang disegerakan,” (HR. Ahmad 21380 & Muslim 6891).

Termasuk diantaranya adalah pujian yang diberikan masyarakat di saat kita meninggal. Allah tunjukkan sisi kebaikan kita di hadapan masyarakat di sekitar kita. Dan ini bagian dari doa Ibrahim yang Allah sebutkan dalam Al-Quran,

“Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,” (QS. As-Syu’ara:84).

Makna: “buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”

Ibrahim memohon kepada Allah agar dia diberi taufik untuk menjadi sumber kebaikan, sehingga semua orang memuji beliau, hingga hari kiamat.

Doa Ibrahim dikabulkan oleh Allah

Di surat Ash-Shaffat, Allah berfirman,

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ‘(Yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Ash-Shaffat:108–110).

Di surat Maryam, Allah berfirman,

“Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi,” (QS. Maryam:50).

Allah jadikan pujian untuk Ibrahim dan keluarganya, bukan hanya pujian di langit, namun juga pujian di bumi. Karena pujian manusia adalah kesaksaian mereka atas perbuatan dan perilaku kita di dunia.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

“Suatu ketika para sahabat melihat sebuah jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Mereka pun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Wajib … wajib … wajib.’

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya. Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wajib … wajib … wajib.’

Umar pun keheranan, dan bertanya, ‘Apanya yang wajib?’

Jawab sang Nabi,

“Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi,” (HR. Bukhari 1367; Muslim 949).

Ada beberapa keadaan ketika kematian, yang itu merupakan tanda khusnul khotimah.  Dalam kitab Ahkamul Jana`iz disebutkan beberapa diantaranya,

Pertama, mengucapkan syahadat menjelang wafat,

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ dia akan masuk surga,” (HR. Abu Daud 3118).

Kedua, meninggal dengan keringat di dahi.

Suatu ketika, Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu datang ke Khurasan, menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Ternyata saudaranya dalam kondisi sakaratul maut. Ketika wafat, ada keringat di dahinya.

Buraidah langsung bertakbir,

“Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi,” (HR. Ahmad 22964, Nasai 1839 dan yang lainnya).

Ketiga, meninggal pada malam atau siang hari Jum’at,

Dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila ada seorang muslim yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka Allah akan menjaganya dari pertanyaan kubur,” (HR. Ahmad 6582, Turmudzi 1095, dan yang lainnya)

Keempat, syahid di medan perang

Allah Ta’ala berfirman,

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki,” (QS. Ali Imran: 169).

Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan banyak keutamaan orang yang mati di medan jihad,

Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya,” (HR. Turmudzi 1764, Ibnu Majah 2905, dan yang lainnya).

Dalam hadis lain, ada seorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ya Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan ditanya dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?”

Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian kesabaran baginya.” (HR. Nasai 2065 dan dishahihkan al-Albani)

Kelima, meninggal setelah bersabar dengan ujian yang Allah berikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid menurut kalian?”

‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak.

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,

“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid,” (HR. Muslim 1915).

Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari 2480).

Dalam hadis lain dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).

Ketika mejelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,

“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

Keenam, meninggal dalam keadaan berjaga (ribath) fi sabilillah (di daerah perbatasan negeri muslim dan kafir).

Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur),” (HR. Muslim 5047)

Ketujuh, meninggal dalam keadaan beramal shalih.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang dia mengiri hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga.” (HR. Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Sumber: Islampos