OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 28 April 2017

Penembakan di Lubuklinggau dan Bengkulu Karena Primitifnya Pikiran Anggota Polri

Penembakan di Lubuklinggau dan Bengkulu Karena Primitifnya Pikiran Anggota Polri

10Berita- Jakarta – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menilai kasus penembakan oleh anggota Polri terhadap masyarakat sipil di Lubuklinggau dan Bengkulu disebabkan kurangnya sosialiasi dari pimpinan kewilayahaan mengenai Peraturan Kapolri (Perkap) nomor 8 tahun 2009.

Padahal, dalam Perkap tentang implementasi prinsip dan standar Hak Asasi Manusia (HAM) dalam penyelengaraan tugas Polri jelas diatur bahwa setiap anggota Polri wajib untuk menghormati, melindungi dan menegakkan Hak Asasi Manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

“Masalahnya adalah banyak anggota belum tahu aturan itu,” ujar Komisioner Kompolnas, Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto dalam sebuah diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/04).

Masalah lain adalah masih primitifnya pemikiran tiap anggota Polri yang diberikan kewenangan memegang senjata, khususnya di daerah, mengenai prosedur penggunaan senjata api dalam situasi-situasi tertentu.

Ia mencontohkan, masih ada anggota Polri pemegang senjata yang masih percaya bahwa dalam menghadapi situasi tertentu, yang mengharuskan senjata api digunakan, harus memberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali ke udara.

“Aturan itu tidak ada. Harus mengacu Perkap nomor 8 Tahun 2009, itu sangat detail, jelas,” ungkap Bekto.

Masalah lainnya adalah minimnya kemahiran seorang anggota Polri dalam penggunaan senjata api lantaran jarang diberikannya porsi latihan. Dalam investigasinya ke Lubuk Linggau, Kompolnas menemukan fakta bahwa Brigadir K, pelaku penembakan terakhir kali latihan menembak pada tahun 2008. Itu pun latihan semasa Brigadir K masih menjalani pendidikan kepolisian.

“Ini jadi masalah. Ketika kami ke Polres lain juga alami hal sama,” ungkap Bekto.

Harusnya, anggota pemegang senjata tiap 3 bulan menjalani latihan kemahiran menembak. Tak sekedar latihan menembak, anggota Polri, pemegang senjata wajib diberikan porsi latihan mengenal situasi kapan harus memberikan peringatan hingga keputusan menembak.

“Pengawasan internal kita dorong untuk evaluasi ini. Agar masyarakat tidak bertanya-tanya ‘kok gampang sekali menembak’,” tutup Bekto.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Hunef Ibrahim

Sumber: Kiblat


Katanya "Dua Minggu Kelar, Tinggal Panggil Programmer"; Ini Sudah 2,5 Tahun Gak Kelar Juga

Katanya "Dua Minggu Kelar, Tinggal Panggil Programmer"; Ini Sudah 2,5 Tahun Gak Kelar Juga


"Saya kalo bekerja selalu pake target! Tahu saya, target itu HARUS TERCAPAI. Kalo ndak tercapai, ya urusannya akan lain..."

Pak, cuma mau ngingetin, dulu ada yang pasang target "DUA MINGGU SELESAI!"

Kira-kira sudah tercapai belum ya targetnya???

Katanya tinggal panggil programmer, ahli IT, bikin "e-e"an cukup 2 minggu bakal kelar.

Nah kalo sudah 2,5 tahun gak kelar juga, apa targetnya direvisi atau yang bikin target di"reshuffle" ya Pak???

27 Oktober 2014 melantik kabinet Kerja untuk pertama kali.
Tidak sampai 10 bulan kemudian...
12 Agustus 2015 mereshuffle kabinet Kerja jilid 1.
Hanya 11 bulan kemudian...
27 Juli 2016 mereshuffle kabinet Kerja jilid 2.

Kini, 9 bulan kemudian, mulai menyindir kinerja menterinya.

2017 segera menyusul reshuffle kabinet Kerja jilid 3?

Demi menyediakan tempat buat sang "adik" tercinta yang gak laku dijual untuk jabatan publik yang harus didapat melalui ajang pemilihan??

Kalau itu terjadi, 2,5 tahun menjabat, sudah 3 kali bongkar pasang kabinet.

Kalau dalam organisasi, suatu organisasi yang keseringan berubah komposisi pengurusnya, itu organisasi yang labil.

Kalau perusahaan keseringan gonta ganti direksi dan manajer, pasti itu perusahaan yang bad managed.

Kalau ibarat orang menikah, bolak balik kawin cerai. Malah ada yang sudah dicerai, dirujuk lagi.

Sesungguhnya perbuatan/tindakan seseorang adalah cerminan dari pikirannya.

Orang yang kokoh pendirian, yang istiqomah, yang yakin dengan keputusannya, gak akan gampang berubah pikiran dan "membuang" orang/pihak lain hanya untuk menyelesaikan masalah yang sesungguhnya berasal dari ketidakmampuan dirinya menjadi problem solver.

Jadi, yang selesai dua minggu apa?

E ndilalah...
E la dhalah...
E jebule...
E lha kok ngene...
E..., ora ngoco dhisik

(Iramawati Oemar)

Sumber: Portal Islam

Jika Sudah Memiliki 3 Hal Ini Tiap Pagi, Dunia Dihimpun untuknya

Jika Sudah Memiliki 3 Hal Ini Tiap Pagi, Dunia Dihimpun untuknya


10Berita-BERSYUKUR merupakan salah satu cara untuk membuat diri menjadi lebih tenang dan tentram atas segala nikmat, ujian, teguran, dan semua yang Allah berikan.

Karena, meski sebesar apapun kekayaan yang Allah berikan, jika tanpa disertai dengan rasa syukur, maka semua itu tidak ada gunanya. Seseorang itu tidak akan pernah puas atas apa yang dan terus merasa dirinya kurang.

Padahal, nikmat Allah itu ada banyak jenisnya. Nikmat itu tidak selalu soal materi.

Kita masih bisa bernafas setiap pagi, itu nikmat. Masih bisa melihat dan merasakan kehangatan mentari, itu nikmat. Masih dapat berjalan, itu pun nikmat, bisa tersenyum juga nikmat. Masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang lain yang masih sering kita luput untuk syukuri.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa di pagi hari tubuhnya sehat, aman jiwanya dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka seolah-olah dunia telah dihimpun untuknya,” (HR. Ibnu Majah 4131).

Bahkan dengan memiliki tiga hal di atas saja, sudah seolah-olah dunia dihimpun untuk kita. Bagaimana kalau kita tambah lagi dengan rasa syukur? Bukan tidak mungkin Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya untuk kita kan?

Coba sekarang kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Kalau selama ini masih merasa Allah tidak adil, merasa diri selalu lebih rendah dari orang lain.

Sudahkah selama ini bersyukur atas segala nikmat yang telah kita peroleh? Atau justru selama ini selalu kufur? []

Sumber: Annida


[Cerita Dibalik Layar] KEKALAHAN ITU PAHIT, JENDRAL.. WAJAR JIKA BUTUH WAKTU LAMA UNTUK MENERIMANYA

[Cerita Dibalik Layar] KEKALAHAN ITU PAHIT, JENDRAL.. WAJAR JIKA BUTUH WAKTU LAMA UNTUK MENERIMANYA


KEKALAHAN ITU PAHIT, JENDRAL..

WAJAR JIKA BUTUH WAKTU LAMA UNTUK MENERIMANYA

(Tulisan Agi Betha, mantan jurnalis)

[19 April 2017] Hari Pencoblosan. Sejak pagi ruang konperensi pers di Hotel Pullman, jalan Thamrin Jakarta, sudah usai berdandan. Ballroom yang menjadi Posko Pemenangan itu sudah dipesan hari sebelumnya. Panggung dihias dengan kalimat KEMENANGAN.

Gambar bendera 6 partai pendukung Paslon nomor 2 berjejer rapi di bagian bawah spanduk yang lebar.

Lambang-lambang partai itu mengusung sebuah Tulisan warna hitam di atasnya: '#Ba2ukiDjarotMenang'. Sebuah perpaduan huruf dan angka warna hitam nan kontras yang tercetak di atas sebentang besar kain putih.

Tulisan itu dimaksudkan untuk menjadi Hashtag Kemenangan. Karena beberapa jam ke depan, bisa dipastikan hashtag#Ba2ukiDjarotMenang akan memuncaki Trending Topic Dunia di medsos.

Di atas 2 meja panjang bagian depan, telah digelar Taplak bermotif Kotak-Kotak berlipat indah. Disisinya berjejer rapi kursi-kursi yang akan diduduki Paslon Pemenang dan Para Ketua Partai Pengusung.

Motif taplak itu persis sama dengan motif baju kotak-kotak, yang selama ini diyakini begitu lekat membawa Aura Kemenangan.

Di sudut-sudut ruang, Sound System telah siap membahanakan Pekik Kemenangan.

Semua membayangkan, Rumah Lembang yang kerap penuh dengan gelak tawa itu, tak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan suasana riuh gembira siang nanti.

Bagai halaman Rumah Pegangsaan yang legendaris itu, Ruang tempat akan diproklamasikannya Kemenangan Ahok-Djarot inipun, akan menjadi Saksi Sejarah sebuah Kemenangan Pilkada yang sangat mengharu-biru.

Sebuah Pertarungan yang menghabiskan tenaga, suara, sembako, sapi, dan kursi roda.

Betapa sebuah Kemenangan Pilkada rasa Pilpres telah di ambang mata.

Siang itu, di ruang itu, sebuah skenario yang rapi, rekaman pemandangan yang indah, dan rencana perayaan meriah, telah selesai dipersiapkan.

Tak jauh dari Hotel megah itu, hanya berjarak sepelemparan pandang, Bundaran Hotel Indonesia pun akan disesaki pemandangan kotak-kotak merah hitam.

Relawan yang diwawancarai stasiun televisi menyebutkan, ribuan manusia dari berbagai penjuru telah bersiap datang ke tempat itu. Transportasi dipesan. Atribut-atribut sudah di tangan. Spanduk siap untuk dibentangkan.

Ia mematangkan rencana untuk mengambil alih lokasi itu lebih dahulu, sebelum dikuasai oleh kubu lawan.

Rencana pihak lawan bahwa mereka akan menuju Monas dan memilih menyesaki shalat Maghrib berjamaah di Masjid Istiqlal jika jagoannya menang, rupanya tak terendus oleh mereka.

Memang Bundaran HI selama ini adalah kawasan demonstrasi yang strategis. Gambar-gambar yang direkam di sekeliling air mancur dan patung Selamat Datang yang tegas menjulang itu, selalu menakjubkan.

Apalagi ini Pilkada Jakarta. Rekaman Perayaan Kemenangannya akan terumbar hingga ke mancanegara.

Memenangi Bundaran HI berarti melengkapi Simbol-simbol Kejayaan.

Tak hanya di tengah kota Jakarta.

Di pulau-pulau yang bertebaran di Teluk Jakarta pun, Pesta Besar Kemenangan telah disiapkan.

Dua puluh tiga sapi besar nan sehat siap mengenyangkan perut-perut manusia di seberang lautan.

Kapal yang disewa khusus untuk mengangkut hewan-hewan bernilai ratusan juta di hari tenang itu, telah berangkat lebih dahulu.

Sapi-sapi itu melaju di atas keruhnya lumpur reklamasi dan kapal-kapal nelayan, tanpa menunggu lebih dulu datangnya hari pencoblosan, maupun menanti selesainya penghitungan suara.

Toh pekik Juara sudah di sudut bibir, harumnya aroma Angka hitung cepat telah tercium, dan gempita Kemenangan sudah di pelupuk mata.

AKHIRNYA, sampailah semua di hari Rabu yang pongah...

Detik demi detik terlalui. Menit demi menit terlampaui, dan jam pun terlewati.

Dan begitulaah...

Cerita berakhir jauh dari harapan.

Mata-mata nanar menatap layar kaca. Hati remuk redam dilanda kegundahan.

Gelap dan kelam.


Kenyataan itu datang bersama sore.

Galau, gulana, dan rasa terhempas mewarnai senja.

Gulita bergayut merata di Pullman, di pancuran HI, di pulau-pulau, di sudut-sudut kota, dan di pelosok-pelosok hati.

Timses ahli merencanakan.

Rakyat cerdas memutuskan.

Dan Tuhan Yang Maha Menentukan.

Hari ini (27/4/2017), terhitung hari Hisab di bawah langit Jakarta itu sudah berlalu sekian hari. Tapi mendung masih menggelayut di sebagian hati warga Jakarta.

Tanpa disadari, kadang proses Pilkada menjadi cerminan watak dan nafsu tentang bagaimana kekuasaan kelak akan dijalankan. Cara kampanye yang brutal dan politik uang menjadi barometer keserakahan.

Sebagian yang bijaksana mengatakan, manusia hanya memanen apa yang dia tanam. Dan setiap dari kita akan Dipaksa mengunduh apapun hasil dari perbuatan.

Memang betul. Merencanakan sebuah Pesta KEMENANGAN itu lebih mudah. Bahkan seolah jadi Keharusan. PADAHAL KEKALAHAN LAH YANG HARUSNYA LEBIH DIPERSIAPKAN.

Mup on... mup on!

Seringkali nasehat itu seolah hanya berlaku untuk orang lain.

Tak terbayangkan sebelumnya jika kata-kata yang mudah meluncur dari bibir kotak-kotak itu, bahkan tidak pernah pergi kemana-mana. Karena nasehat itu ternyata diperlukan untuk mengobati perih di diri mereka sendiri.

Jadii..

Tak perlu lagi kita sarankan Mupon. Toh kata berbalut canda itu tengah mereka nikmati. Lebih baik kita semua berdoa untuk keselamatan negeri.

Seperti kalimat pepatah-petitih nan bijak, "Pain comes with time.. but Time will heal the pain."

Semoga sang Waktu akan menyembuhkan luka-luka itu.

Semoga rangkaian kalimat di papan-papan itu bisa memulihkan lara yang terlanjur merobek jiwa.

Semoga Ribuan Bunga-Bunga dapat mendamaikan hati yang terlanjur menganga.


TIME WILL DO THE MUPON.

PERCAYALAH...
 ❤💙💚💛💜

(Agi Betha)

Sumber: fb, PI

KEKALAHAN ITU PAHIT, JENDRAL.. WAJAR JIKA BUTUH WAKTU LAMA UNTUK MENERIMANYA. 19 April 2017. Sejak pagi ruang...
Dikirim oleh Agi Betha pada 27 April 2017


Jangan Gunakan Ruang Publik Untuk Lakukan PROPAGANDA PEMBODOHAN

Jangan Gunakan Ruang Publik Untuk Lakukan PROPAGANDA PEMBODOHAN


Jangan Gunakan Ruang Publik Untuk Lakukan PROPAGANDA PEMBODOHAN

[by Andi Irawan]

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa siapapun anda tidak bisa dibiarkan menggunakan wilayah publik (media TV, medsos ) untuk pencitraan nuansa propaganda yang tidak layak secara akal sehat karena semua itu namanya kita membiarkan pembodohan publik.

Survei itu basisnya sampel, sedangkan election/pemilihan itu indentik dengan sensus (populasi). Kita gunakan sample untuk menduga populasi. Jadi survei untuk menduga populasi. Suvei Pilkada untuk menduga Pilkada itu sendiri. Kalau survei anda tidak kongruen dengan yang tampak dari sensus. Berarti suvei anda itu yang salah. Jangan dibalik hasil sensusnya yang salah.

Kalau survei anda mengatakan A menang dibangding B, tetapi pilkadanya menunjukkan B yang menang. Anda harus legowo mengakui kesalahan ada pada survei anda jangan menghujat pilkadanya, kecuali anda bisa membuktikan bahwa pilkada tersebut ada error yang masif.

Kalau survei anda mengatakan kinerja petahana sangat memuaskan sampai pada angka 70 persen. Ketika pilkada petahana kalah telak sampai pada angka mendekati 16 persen. Itu ada error yang tinggi dari kesimpulan survei anda. Mungkin teknik samplingnya yang salah. Dan anda harus legowo bahwa survei yang anda lakukan itu yang salah bukan hasil pilkadanya. Ya tidak mungkin seorang petahana yang kinerjanya disukai 70 persen voter bisa kalah telak dengan selisih hampir 15% lebih dari kompetitornya. Petahana umumnya kalaupun kalah dengan angka yang tipis bukan kalah telak dengan selisih hampir 16 persen. Angka pilkada itu adalah angka populasi voters indentik dengan sensus. Sedangkan angka 70 persen survei-survei lembaga survei yang mengatakan para voter puas dengan kinerja berdasarkan sampel (dugaan). Itu artinya dugaan anda salah. Tidak benar mayoritas voter (70 persen) itu puas terhadap kinerja petahana itu. Kalau mereka puas pasti petahana itu menang dan pasti petahana itu tidak kalah telak pada angka mendekati 16 persen suara pemilih.

Silahkan saja kalau mau memberikan karangan bunga atau apapun kepada petahana jangan hitungnya ribuan bila perlu sama dengan suara petahana saat pilkada 2.351.145 karangan bunga, monggo. Tidak jadi masalah. Tapi jangan melakukan pembodohan dengan mencoba membuat framing bahwa kekalahan petahana adalah kekalahan akal sehat dan kemenangan kalangan primordial, para ekstremis dst. Itu semua tidak benar. Itu semua propaganda pembodohan publik.***

Sumber: Portal Islam

Romo: Ahok Konsisten Hina Umat Islam

Romo: Ahok Konsisten Hina Umat Islam

Hasil gambar untuk romo syafii

10Berita– Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi’i atau yang akra disapa Romo Syafii menilai, Terdakwa kasus dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) konsisten menghina umat Islam. Syafii menjelaskan, bukan hanya sekali Ahok menyakiti perasaan umat Islam, namun hal tersebut dilakukan Ahok secara berulang-ulang.
“Yang dilakukan Ahok bukan hanya di Kepulauan Seribu, dia bahkan sudah mengatakan lagi akan membuat akun wifi dengan nama Almaidah 51 dengan password kafir. Dia (Ahok) kampanye di medsos (video) menggambarkan betapa brutalnya umat Islam, sehingga menimbulkan ketakutan-ketakutan khususnya warga Tionghoa. Saya kira Ahok konsisten menunjukan betapa dia sangat menghina umat Islam,” katanya saat ditemui di gedung Nusantara I DPR RI, Kamis (27/4).
Syafii mengatakan, keanehan-keanehan juga muncul dalam kasus dugaan penistaan agama saat Ahok yang menjadi terdakwa. Beberapa di antaranya, Syafi’i mengatakan, Ahok tidak ditahan sebagai terdakwa dan tidak dinonaktifkan sebagai gubernur padahal berstatus terdakwa.
“Kemudian tuntutan hukumnya bisa ditunda atas permintaan Kapolda Metro Jaya, dan akhirnya tidak dituntut dengan pasal 165 a seperti yang dituntutn pada pelaku-pelaku sebelumnya,” jelasnya.
Syafii menilai, jika masih ada yang beranggapan bahwa Ahok belum menistakan agama, ini adalah pandangan yang sangat keliru. “Dia memang penista agama Islam,” ujarnya.

Sumber: Eramuslim

Gelar Islam "RADIKAL" dari Kaum ISLAMOFOBIA

Gelar Islam "RADIKAL" dari Kaum ISLAMOFOBIA


Oleh: Nasihin Masha*
(Pimred Republika)

Media-media asing menyebut kemenangan Anies-Sandi sebagai kemenangan Islam radikal, Islam garis keras, dan Islam fundamentalis. Sejumlah, bahkan banyak, pihak di dalam negeri juga menyebut hasil Pilkada DKI 2017 sebagai kemenangan Islam radikal.

Para penuduh ini seperti sedang membuat orang-orangan sawah bahwa politik identitas sebagai hantu yang harus diusir. Intinya orang Islam itu tidak Pancasilais, anti-Bhinneka Tunggal Ika, dan tentu saja tak layak hidup di NKRI.

Bagi yang lama bergelut sebagai aktivis pergerakan Islam, tuduhan ini bukan stigmatisasi baru. Propaganda lama yang selalu diputar kala ada kebangkitan Islam politik. Jangankan Anies-Sandi, BJ Habibie pun saat mendirikan ICMI dan menjadi presiden mendapat stigma sama. Tentu saja itu lucu, geli, dan norak. Yang menuduh adalah orang-orang hebat. Tentu bukan karena mereka tak paham. Mereka paham sepaham-pahamnya. Lalu mengapa mereka membuat tuduhan semacam itu?

BJ Habibie tak pernah mesantren (tak belajar di Pesantren -red). Ia juga tak pernah ikut taklim. Saat SMA bersekolah di sekolah Kristen. Lalu sebentar kuliah di ITB, dilanjutkan kuliah di Jerman. Di negeri itu, ia menempuh pendidikan sarjana hingga meraih gelar doktor. Selanjutnya ia meniti karier di negeri itu hingga dipanggil pulang oleh Soeharto. Setelah sebentar di Pertamina, Habibie menjadi menristek. Ia hanya bergulat dengan itu.

Namun panggung politik di akhir dekade 1980-an -saat generasi santri pertama yang bersekolah setelah kemerdekaan mencapai usia mapan dan menuntut ruang lebih baik- membuat diriya terpilih menjadi ketua umum ICMI pada 1990.

Inilah interaksinya yang intens dengan kalangan Islam untuk kali pertama. Ia menjadi mendadak santri. Para pendiri ICMI adalah tokoh Islam dari kampus, birokrasi, dan LSM yang lahir pada 1940-an.

Nurcholish Madjid, M Dawam Rahardjo, M Amien Rais, Adi Sasono, dan lainnya di antara para pendiri itu. Mereka tentu jauh dari fakta sektarian dan anti-Pancasila. Namun gerakan ini distigma sebagai sektarian dan anti-Pancasila. Indonesia diharu biru dengan stigma itu. Habibie yang sebelumnya menjadi idola bangsa Indonesia, dari anak-anak hingga orang tua, menjadi orang paling rendah. Butet Kertaradjasa bahkan paling jago memarodikan dengan menirukan mimik, gerak, dan suaranya. Habibie menjadi bahan tertawaan.

Saat ia menjadi presiden, seolah tiada hari tanpa demonstrasi. Hingga akhirnya pertanggungjawabannya ditolak MPR. Habibie demokrat sejati. Karena pertanggungjawabannya ditolak, ia menolak dicalonkan kembali menjadi presiden pada periode berikutnya. Masa kekuasaannya yang singkat, dicatat dengan tinta emas. Ia membebaskan semua tahanan politik. Bahkan di antara mereka kemudian menjadi tokoh yang ikut mendemo dirinya di hari-hari tanpa sepi unjuk rasa itu.

Ia juga melakukan liberalisasi di berbagai sektor. Tak hanya di bidang politik, tapi juga ekonomi. Perundang-undangan yang menjadi basis kebebasan sipil dilahirkan. Tak ada regulasi yang ia lahirkan sebagaimana yang distigmakan itu. Ia dikenal sebagai satu-satunya presiden yang berhubungan baik dengan semua golongan dan semua mantan presiden - kecuali dengan Soeharto. Kini, ia legenda dan teladan dalam moralitas bernegara dan berbangsa.

Sebagian orang yang memusuhinya, kini menyesali kelakuannya menjatuhkan Habibie. Bagaimana dengan Anies dan Sandi? Saat mahasiswa, Anies aktif di HMI. Ia menempuh pendidikan di sekolah negeri di Yogyakarta. Setelah itu, ia kuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Pendidikan master dan doktoralnya di Amerika Serikat (AS).

Pulang dari sana, ia menjadi direktur riset di Indonesia Institute. Lalu menjadi rektor Universitas Paramadina, universitas yang didirikan Nurcholish Madjid. Ia juga memimpin gerakan Indonesia Mengajar. Pemikirannya liberal dan sekuler. Ia pembaca manifesto saat deklarasi ormas Nasdem. Ia ikut konvensi capres Partai Demokrat, namun kemudian menjadi juru bicara pasangan Jokowi-Kalla pada Pilpres 2014. Dari situ, ia menjadi deputi di Kantor Transisi yang dipimpin Rini M Soemarno.

Lalu ia menjadi mendikbud di kabinet Jokowi. Ia tak pernah mengikuti gerakan keagamaan berbasis pengajian.

Sandi adalah anak kosmopolit. Pendidikan SD dan SMA di sekolah Kristen dan Katolik. Setelah itu, ia menempuh pendidikan sarjana dan masternya di AS. Sebelum menjadi pebisnis, ia pegawai di Bank Summa, juga menjadi ekspatriat di Singapura dan Kanada.

Setelah krisis global, ia menjadi pebisnis. Ia memiliki hubungan baik dengan taipan William Soerjadjaja, bahkan menjadi mitra bisnis Edwin Soerjadjaja. Ia bermitra dengan teman-temannya saat SMA maupun saat kuliah di AS, dari beragam etnik dan agama. Ia tak pernah ikut gerakan keagamaan berbasis pengajian. Ia pernah menjadi ketua umum HIPMI dan kini salah satu ketua Kadin. Akhirnya, ia terjun ke politik menjadi wakil ketua umum Gerindra.

Anies dan Sandi, tipikal generasi yang dididik keluarga baik-baik. Kedua orang tua Anies dosen di Yogyakarta. Mien Uno, ibunda Sandi, pendidik di sekolah kepribadian. Ayahnya, profesional di bidang pertambangan. Mereka menanamkan kehidupan religius kepada anak-anaknya. Namun kini, setelah menang pada Pilkada DKI Jakarta, keduanya mendapat stempel dan gelar baru: wakil Islam radikal.

Fakta terbuka di masa lalu masih begitu lekat dalam ingatan. ICMI memang organisasi kaum cendekiawan. Namun organisasi ini berpretensi untuk menjadi clearing house bagi seluruh elemen Muslim di Indonesia. Kendati begitu, di seluruh elemen kepemimpinan, yang bertahta adalah para cendekiawan dan ulama. Kini, Anies-Sandi hanya diusung Gerindra dan PKS. Namun ustaz-ustaz umumnya berlabuh mendukung pasangan ini. Ada pretensi untuk menghimpun seluruh pemilih Muslim.

Sejak 2015, para ustaz bergerak mengerem laju Ahok. Mereka mengusung banyak nama, namun tak ada nama Anies. Mereka juga melobi ke PDIP agar tak mencalonkan Ahok. Silakan pilih kandidat lain dan mereka siap berkampanye mendukungnya. Ketua umum ormas Islam besar bahkan harus dua kali melakukan lobi serupa. Para ustaz dan ulama sudah mendeteksi penolakan keras terhadap Ahok. Bukan hanya dari FPI saja misalnya. FPI itu kecil sekali. Umat yang terbesar tetaplah berasal dari NU dan Muhammadiyah.

Hal itu kemudian dibuktikan data exit poll, sekitar 60 persen Muslim menolak Ahok. Dari data exit poll juga terungkap afiliasi politik mereka yang beragam, termasuk dari Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Namun stempel dan stigma "Radikal" telah dilekatkan. Tak perlu defensif. Ini bukan hal baru. Santai saja. Intinya, jika ada wakil dari Islam politik yang lahir dari rahim yang tak dikehendaki maka jadilah ia radikal, anti-Pancasila, anti-NKRI, anti- Bhinneka Tunggal Ika.

Lebih baik Anies dan Sandi membuktikan diri dengan kerja yang baik. Tapi jangan kaget pula jika nanti keriuhan akan terus terjadi seperti masa Habibie. Ini namanya Islamofobia alias anti-Islam.[]

Sumber: ROL

Ketika Ilmu Diangkat dan Kebodohan Merajalela

Ketika Ilmu Diangkat dan Kebodohan Merajalela


10Berita-SELAMA ini, pernahkah kita merenung sudah berapa ulama yang benar-benar memperjuangkan Islam, ilmu agama dengan sungguh-sungguh namun telah tiada? Berapa banyak yang mampu menjadi pengganti mereka pada saat ini? Bagaimana ilmu agama dan kebenaran dapat terus hidup jika para ulama benar-benar sudah tidak ada, dan karya besar mereka sudah dilupakan?

Kita sudah tahu bahwasannya ulama adalah pewaris para nabi, namun bagaimana ilmu yang telah diajarkan oleh para nabi tersebut dapat diamalkan, sedangkan umat saat ini sudah jauh dari tuntunan ulama. Inilah salah satu fenomena yang pernah digambarkan oleh Rasulullah Saw bahwa menjelang hari kiamat ilmu akan lenyap dari muka bumi.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah, Rasulullah Saw bersabda:

“Menjelang kiamat akan ada beberapa masa, di mana ilmu dicabut, lalu diturunkanlah kebodohan, dan terjadi banyak kerusuhan. Adapun kerusuhan itu adalah pembunuhan.”

Ini semua menunjukkan, bahwa suatu saat nanti (mungkin sekarang) ilmu akan dicabut dari umat manusia di akhir zaman, sehingga Al-Quran pun akan lenyap dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati manusia. Akhirnya manusia tidak memiliki ilmu, yang ada hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah lanjut usia.

Mereka mengeluh dan menyatakan bahwa mereka hanya bisa mengucapkan “La ilaha illallah.” Padahal mereka mengucapkannya hanya sekedar ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun demikian ucapan itu berguna bagi mereka, sekalipun mereka tidak pernah melakukan amal saleh dan tidak memiliki ilmu yang bermanfaat, selain ucapan saja.

Kalau ada pendapat yang mengatakan, bahwa ucapan mereka itu dapat menyelamatkan diri mereka dari neraka, boleh jadi maksudnya adalah, bahwa kalimat tauhid itu mencegah mereka masuk neraka sama sekali. Karena kewajiban mereka hanya sekedar mengucapkan kata-kata itu, sebab mereka tidak lagi dibebani melakukan amlan-amalan yang seruannya tak pernah sampai kepada mereka.

Adapun yang dimaksud disini adalah, bahwa ilmu akan dicabut pada akhir zaman dan akan terjadi banyak kebodohan. Selain itu sabda Rasul dalam hadits di atas adalah pemberitahuan tentang bakal diturunkannya kebodohan. Yakni bahwa orang-orang yang hidup di zaman itu akan diilhami kebodohan, yang berarti ketidakpedulian Allah Swt terhadap mereka.

Kemudian mereka akan tetap dalam keadaan seperti itu, bahkan semakin bodoh dan sesat, sampai dengan berakhirnya kehidupan dunia dan kehancuran alam semesta. Sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda:

“Tidak akan terjadi kiamat pada seorang pun yang mengucapkan ‘Allah, Allah,’ dan tidak akan terjadi kiamat kecuali atas manusia-manusia yang jahat.” []

Sumber: Islampos


Saat Sore di Rumah Buni Yani

Saat Sore di Rumah Buni Yani

Hasil gambar untuk buni yani

10Berita– Lelaki berkacamata minus itu keluar dari pintu dan menyambut dengan hangat. Senyumnya mengembang lebar di wajahnya yang berseri.
Dengan peci berwarna putih, bersarung kotak-kotak, dan berbaju koko putih lengan panjang dengan  aksen colekat muda memanjang ke bawah, Buni Yani mempersilakan saya masuk ke rumahnya, di kawassan Cilodong, Depok, Jawa Barat. Sebuah rumah yang asri, dengan tetananaman di halaman. Rumahnya sama sekali tidak besar, hanya tipe 45 dengan luas lahan 114 m2.
Saya tidak mengira, Senin sore itu akhirnya bisa jumpa dengan sosok yang berjasa besar kepada umat Islam ini. Lewat unggahan video pidato Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu yang menista surat al Maidah ayat 51, Buni berhasil membangkitkan ghiroh ummat atas penistaan terhadap agamanya.
“Rasa cemburu atau ghiroh dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari Iman itu sendiri. Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu. Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantilah bajumu dengan kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati,” tulis ulama besar Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Ghiroh.
Ghiroh yang dipantik video penistaan agama oleh Ahok inilah yang berbuah protes yang merebak di mana-mana. Demo yang berbalut tajuk aksi bela Islam digelar berjilid-jilid di Jakarta, melibatkan ratusan ribu bahkan jutaan umat yang ikhlas datang dari seantero negeri.
Buni berperawakan sedang saja, bahkan bisa disebut kecil. Lelaki kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) 48 tahun lalu itu benar-benar bersahaja. Kami duduk di ruang tamu dengan lebar tiga meter. Hanya ada satu set meja kursi sederhana berwarna cokelat gelap. Jarak ruang tamu dan ruang keluarga yang juga merangkap ruang makan hanya dipisah oleh lemari buku kecil. Di sisi kiri pintu, juga ada lemari buku yang susunannya tidak bisa disebut rapi. Mungkin karena si empunya memang hobi membaca, hingga belum sempat meletakkan kembali buku yang usai dibacanya dengan rapi.
Sejak menjadi tersangka akibat video unggahannya menjadi viral, Buni memang harus mengubah ritme hidupnya. Sebelumnya dia adalah dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Pusat. Namun, seiring dengan merebaknya kasus penistaan agama oleh Ahok, berbagai intimidasi dan ancaman terus bertubi-tubi menimpanya. Gangguan dan prilaku premanisme bahkan juga menghinggapi kampus tempatnya mengajar. Tidak ingin masalahnya merembet ke kampus, Buni memilih mengundurkan diri sebagai pengajar.
Tapi teror terus saja bergelombang datang. Telepon genggamnya dipenuhi berbagai pesan dan ancaman. Bahkan ada juga beberapa ancaman yang akan membunuh. Namun baginya semua itu dianggap sebagai risiko perjuangan.
“Syukur alhamdulillah, sejauh ini terror dan ancaman itu hanya ditujukan kepada saya saja. Allah masih melindungi anak dan istri dari hal serupa itu. Tapi beberapa kali para peneror datang ke rumah dengan mobil. Mereka tidak memang masuk, tapi hanya mondar-mandir di gang depan. Sesekali mereka memarkir mobilnya cukup lama pas di depan rumah tanpa keperluan yang jelas. Sepertinya orang-orang itu memang bermaksud menjatuhkan mental saya dan keluarga,” paparnya.
Obrolan hangat di sore yang cerah itu harus terhenti sejenak. Saya harus pamit ke masjid. Maklum, tadi berangkat belum masuk waktu sholat ashar. Kereta commuter line yang mengangkut saya dari stasiun Bojong Indah, Jakbar, memang tepat waktu. Tapi Obeth, anak muda pengemudi ojek Grab yang membawa saya dari stasiun Depok, rupanya tidak kenal jalan dan daerah Cilodong. Akibatnya kami harus berputar-putar memakan waktu hampir satu jam. Jadilah saya telat melaksanakan shalat ashar.
Buni memang tuan rumah yang baik. Dia tidak saja menunjukkan masjid di komplek perumahan itu, tapi juga menemani menuju lokasi. Saya memintanya kembali ke rumah begitu masjid yang dituju tampak. Usai, shalat saya segera kembali karena tidak sabar ingin melanjutkan obrolan yang amat menarik tadi.
Sambil menyeruput teh manis di cangkir dan sesekali menjumput wafer yang disuguhkan, kami banyak bicara soal aktivitasnya usai tidak lagi mengajar.Berhenti menjadi dosen ternyata tidak membuat Buni terpuruk. Aktivitasnya justru makin bejibun. Tidak ada hari yang dilaluinya tanpa seabrek kesibukan. Mulai dari keliling bicara di banyak event dan forum, sampai ketemu dengan para aktivis untuk menggagas sejumlah program atau kegiatan.
Ya, Buni memang mendadak jadi ustadz.
Banyak permintaan dia mengisi acara di berbagai pengajian yang diselenggarakan masjid atau majelis taklim. Padahal, dia sendiri merasa ilmu agamanya masih amat dangkal. “Masih harus banyak belajar,” katanya merendah.
Tentang kesibukannya bertemu dengan banyak orang, dia menjelaskan materinya tidak melulu soal agama. Maksudnya, tidak hanya berkisar soal-soal ibadah  yang mengasah kesalehan individual. Justru sebaliknya, dia belakangan ini banyak berbincang tentang aspek sosial dalam beribadah.
“Kami sedang mengupayakan kebangkitan ekonomi umat. Antara lain melalui usaha bersama membuat warung makan. Usaha ini sudah berbentuk PT dengan saham Rp 500 ribu per lembar. Siapa saja boleh ikut, tapi maksimal memiliki 10 lembar. Alhamdulillah, jumlah dana yang terkumpul sudah Rp 400 juta lebih. Sebagian sudah digunakan untuk menyewa gedung tiga lantai sebagai lokasi warung makan,” ujarnya dengan mimik optimistis.
Saat bicara soal ekonomi umat, Buni tampak bersemangat. Berbagai ide dan rencana mengalir lancar dari mulutnya yang seperti tidak pernah absen tersenyum. Tapi, bagaimana dengan ekonomi keluarganya paska berhenti mengajar?
“Alhamdulillah, Allah memberi saya rezeki dari jalan-jalan lain. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya bahkan lebih baik dibandingkan yang saya peroleh saat mengajar. Mungkin ini menjadi bagian dari bukti kebenaran janji Allah. Bahwa barang siapa yang bertaqwa kepadaNya, Dia akan membuka banyak jalan keluar. Allah juga berjanji memberi rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Bahkan kalau kita bertawakal, Dia akan mencukupi segala kebutuhan kita. Tentu saja, saya masih jauh dari takwa. Segala nikmat yang Allah berikan kepada saya dan keluarga, semata-mata karena kasih sayang Allah saja,” urainya, lagi-lagi dengan senyum.
Janji Allah yang dimaksudkannya itu ada dalam QS Ath Thalaq [65] ayat 2-3. Di sana memang tertulis dengan eksplisit akan janji tersebut, persis yang dikutip Buni. Tinggal kita sebagai muslim mengimaninya atau tidak. Sesederhana itu…
Jadi, ketika di dunia maya beredar kabar, seolah-olah Buni Yani telah bangkrut dan terpuruk kehidupan ekonominya paska ditersangkakan, itu jelas bohong belaka. Apalagi disana disebutkan, Buni harus jualan mug atau cangkir keramik bergambar dirinya untuk membiayai pengacara yang membelanya dalam kasus tersebut.
Menurut dia, hingga kini banyak pengacarayang datang menawarkan diri untuk membantunya. Semuanya pro bono alias gratis. Beberapa hari sebelum saya bertandang ke rumahnya, dia kedatangan rombongan dari Muhammadiyah yang juga menawarkan diri menjadi penasehat hukumnya. Namun karena selama ini dia sudah dibantu Aldwin Rahardian sebagai penasehat hukum, maka tawaran dari Muhammadiyah dan berbagai pihak lainnya itu akan dikoordinasikan lagi dengan yang bersangkutan.
“Teman-teman memang membuka semacam gerakan donasi. Tapi itu bukan untuk membayar pengacara, karena mereka semua memberi bantuan dengan cuma-cuma. Dana yang terkumpul nanti antara lain untuk membiayai mendatangkan saksi ahli yang berasal dari daerah dan lainnya,” ungkap Buni, kali ini dengan wajah serius.
Tak terasa adzan maghrib berkumandang. Awalnya suara muncul dari telepon genggam saya yang memang di-setting program adzan lima waktu. Namun sejurus kemudian, adzan maghrib bersahut-sahutan dari masjid dan mushola di sekitar komplek perumahan. Saya dan Buni pun segera menuju masjid…
“Ini bawa saja airnya untuk bekal di jalan,” kata istri Buni saat saya pamit hendak pulang.  Dia juga memesankan ojek on linedari gawainya untuk mengantarkan saya kembali ke stasiun Depok.
Sungguh  keluarga yang luar biasa. Teguh dalam perjuangan, santun dalam pergaulan, dan sangat menghormati tamunya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan balasan yang lebih baik dan lebih banyak lagi. Aamiin (jk/rmol)

Edy Mulyadi, Penulis Merupakan Aktivis Korps Muballigh Jakarta

Sumber: Eramuslim

Ahok Kecewa Anak-anak Pakai Seragam Kerudung Tampil di Depannya; Netizen: Emang Isi Otak Ahok Anti-Islam

Ahok Kecewa Anak-anak Pakai Seragam Kerudung Tampil di Depannya; Netizen: Emang Isi Otak Ahok Anti-Islam

Anak-anak perempuan dari RPTRA Cililitan yang tampil pada acara Rapat Koordinasi Daerah DPPAPP DKI Jakarta, mengenakan kerudung saat menyanyikan lagu 'Ibu Kita Kartini'. (suara.com/Dwi Bowo Raharjo)

10Berita-JAKARTA - Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku kecewa dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta, Dien Emmawati.

Kekecewaan itu soal penampilan anak-anak perempuan dari RPTRA Cililitan yang tampil pada acara Rapat Koordinasi Daerah DPPAPP DKI Jakarta, yang mengenakan kerudung saat menyanyikan lagu 'Ibu Kita Kartini'.

"Terus terang Bu Dien, saya kecewa anak-anak diseragamkan seperti itu. Bukan kecewa karena kerudungnya, jangan salah paham di luar nih," ucap Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (27/4/2017).

Ahok tidak ingin anak-anak memiliki persepsi yang salah dengan penggunaan kerudung. Ia menegaskan kerudung bukan seragam sekolah atau kostum yang wajib digunakan untuk pementasan.

"Kerudung bukan seragam, jadi kalau Anda menyeragamkan itu menghina, menista, menodai, menurunkan yang mulia ke bawah, nah ini mesti jelas posisinya," ujar Ahok.

Menurut Ahok, kostum yang tepat untuk menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, adalah anak-anak mengenakan sanggul atau tanpa kerudung. Namun, apabila anak tersebut memang sudah terbiasa mengenakan kerudung, Ahok juga tidak ingin kerudungnya dilepas saat pementasan.

"Saya tadi lihat, anak-anak nyanyi Ibu Kita Kartini kok nggak pakai sanggul. Waktu saya kecil, waktu SD, SMP, nyanyi Ibu Kartini itu semua sibuk sanggul anak-anak (perempuan) itu. Betul toh?" kata dia.

Selain itu, Ahok juga tidak ingin ada pihak sekolah yang memaksa siswinya harus berjilbab. Alasannya, ia khawatir jika kerudung diwajibkan di sekolah-sekolah, anak-anak menganggapnya hanya sebuah simbol.

"Ibu Dien tolong, saya tidak mau anak-anak mengenal kerudung sebagai seragam atau kostum untuk pementasan. Nggak boleh," katanya.

"Jadi kalau anak itu tidak mau pakai sanggul, maunya pakai kerudung, ya silakan. Tapi jangan anak nggak pakai kerudung, Anda paksa pakai kerudung biar kelihatan bagus. Ini Indonesia kok, ada yang kerudung ada yang nggak. Emang kenapa sih, ini Indonesia," lanjut Ahok.

Lebih jauh, Ahok mengaku tidak masalah apabila pernyataannya tersebut akan ada pihak yang mempermasalahkan. Sebab, ia mengaku sudah terbiasa dilaporkan dan sudah terlatih, mengingat sudah 21 kali menjalani sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

"Orang-orang bilang jangan ngomong agama, nanti kamu dilaporin lagi. Udah terlatih saya 21 kali disidang. Saya juga sudah muak juga dengan kemunafikan-kemunafikan seperti ini," kata Ahok.

Sumber: http://www.suara.com/news/2017/04/27/193500/ahok-kecewa-anak-anak-pakai-kerudung-tampil-di-depannya

***

PERNYATAAN Ahok ini langsung menuai protes Umat Islam.

"Hahaha emang isi otak ahok anti islam," ujar Hafesz Elmasri.

"Ini akibat dr selalu dilindungi dan didukung oleh orang orang muslim sendiri jd dia berasa benar apa yg sudah dia lakukan disini bahayanya otang munafik menyesatkan orang yg sudah sesat," komen bu Iis Ismawati.

Kenapa Ahok gak pernah kapok ikut campur agama lain?

Sumber: Portal ISLAM