OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 11 Agustus 2017

Iwan Tjahyadikarta Meninggal Dunia, 9 "Naga" Kini Tersisa 8

Iwan Tjahyadikarta Meninggal Dunia, 9 "Naga" Kini Tersisa 8


Berita duka cita datang dari taipan Cina atau Tiongkok. Pengusaha Iwan Tjahyadikarta (Eng Thiong) meninggal dunia pada usia 65 tahun. Pria yang dikenal sebagai satu dari 9 ‘naga’ Indonesia itu menghembuskan nafas terakhir di Krankenhaus Nordwest, Frakfurt, Jerman, Rabu (9/8/2017), pukul 11:27 waktu setempat atau 16:27 WIB.

Jenazah dipulangkan ke Indonesia untuk disemayamkan di rumah duka, Jalan Prapanca Dalam 6 nomor 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Iwan Tjahyadikarta meninggalkan 5 istri, 13 anak, 4 menantu, dan 12 cucu.

Iwan Tjahyadikarta dikenal sebagai pengusaha Jakarta yang keluar dari bisnis keluarganya untuk membangun bisnis dealer mobil, Sumber Auto Graha pada 1980-an.

Memasuki 1990-an, Iwan Tjahyadikarta merambah bisnis properti. Kemitraannya dengan Yan Mogi dalam SMR Group menghasilkan sejumlah properti, seperti apartemen Mitra Oasis (Allison Residence), Mitra Sunter, Mal Artha Gading, dan Senayan Residence.

Keluarga Tjahyadikarta mempunyai banyak lahan dan sering diajak kerja sama. Salah satunya oleh Agung Podomoro Group untuk membangun Aston Hotel di Braga, Bandung.

Iwan mempercayakan bisnis properti yang sudah dirintisnya kepada anak keduanya, yaitu Budiman Tjahyadikarta.

Pada 2000, Budiman diminta pulang dari Australia oleh Iwan untuk membantu dalam pengelolaan Hotel Alila di Pecenongan, Jakarta. Ayah Budiman memiliki gedungnya, sementara paman Budiman menjadi operator hotelnya.

Di tahun 2004, adik bungsu Budiman, Donny Tjahyadikarta bergabung dalam pengelolaan Alila Hotel Pecenongan. Alila Hotel merupakan international chain hotel. Budiman dan Donny mendapatkan peluang untuk belajar mengembangkan bisnis keluarga ketika bergabung di Alila Hotel.

Saat ini Budiman dan Donny sedang mengembangkan bisnis operator hotel bernama Hotel International Management (HIM), yang sudah dimulai sejak 2012. Satu hotel yang mereka miliki dalam bendera HIM adalah Sparks Hotel di Mangga Besar dengan kamar sebanyak 114 buah.

Iwan memang memiliki beberapa lokasi properti yang ingin dikembangkan Budiman dan Donny untuk perhotelan, yang sudah berjalan Sparks Hotel di Mangga Besar.

Iwan adalah satu dari 9 "Naga" bersama Tommy Winata, Sugianto (Aguan),  Arief Prihatna (Cocong), Edi Winata, Kwee Haryadi kumala (A Sie), James Tjahya Riyadi Kumala (Sui Teng),  Hari Tanoe Soedibyo,  Iwan Cahyadi Karsa (Eng Tiong) dan Johnny Kesuma. Demikian dilansir dari Suara Harapan.

Sumber: SH, Wajada

Dikit-dikit RADIKAL... DULU Said Aqil Tuding Salman ITB Radikal, SEKARANG Full Day School

Dikit-dikit RADIKAL... DULU Said Aqil Tuding Salman ITB Radikal, SEKARANG Full Day School


Said Aqil: Full Day School Munculkan Generasi Radikal

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj kembali mengeluarkan pernyataan kontroversi. Kali ini terkait Full Day School (FDS) atau sekolah lima hari yang ditolak PBNU. Said Aqil menyebut FDS akan memunculkan generasi radikal.

"Karena full day school pulang sore, anak-anak tidak kenal akhlak. Maka saya jamin akan muncul generasi radikal," kata Said Aqil  di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017 malam.

Jika dengan penerapan full day school, dinilai paham-paham radikal akan semakin berkembang. Salah satu faktor penangkalnya yakni dunia pesantren telah tergerus pemberlakuan aturan tersebut.

"Betapa pesantren telah berhasil membangun karakter bangsa. NU tidak bertanggung jawab kalau muncul anak-anak radikal," ujar Said.

Link: http://www.viva.co.id/berita/nasional/945480-said-aqil-full-day-school-munculkan-generasi-radikal

DULU... Said Aqil menuding kampus-kampus menjadi sarang penyebaran radikalisme, terutama Masjid Salman ITB.

Ketua PBNU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj menjelaskan nilai-nilai radikal sudah menyebar ke sejumlah lembaga pendidikan tinggi di Tanah Air.

"Seperti di ITB, IPB, ITS dan lainnya. Terutama ITB lewat Masjid Salman," ujar Said pada peluncuran Pusat Komando dan Kartu Pintar Nusantara di kantor NU, Jakarta Pusat, pada Senin 22 Mei 2017.

Link: https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/23/173878085/nu-radikalisme-menyebar-ke-kampus-terutama-masjid-salman-itb

Setelah banyak diprotes, akhirnya Said Aqil minta maaf pada Salman ITB.

Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/25/oqi2zp396-kiai-said-aqil-mengaku-khilaf-dan-mohon-maaf

DIKIT-DIKIT KOK SENENGNYA NUDUH RADIKAL.

KALAU YANG GAK SEJALAN KOK LANGSUNG TUDUH RADIKAL...

Seharusnya sebagai tokoh umat mengayomi, menyejukkan dan memadamkan. Jangan malah menyulut kompor.

Sumber: Portal Islam

Embargo Saudi Cs Pada Qatar Menjadi "Berkah" Bagi Indonesia

Embargo Saudi Cs Pada Qatar Menjadi "Berkah" Bagi Indonesia


10Berita~Embargo Arab Saudi dan sekutunya seperti Mesir, Uni Emirat Arab, Yaman, Libya kepada Qatar, memberikan "berkah" tersendiri bagi Indonesia. Pasalnya hal itu membuka peluang investasi bagi perusahaan asal Indonesia, setidaknya ada lima Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang mendapat tawaran menggarap infrastruktur Piala Dunia 2022.

"Qatar sedang punya gawe besar Piala Dunia 2022. Saat ini mereka menyiapkan hal itu. Salah satunya meminta barang produksi Indonesia yang dikirim ke sana (Qatar, red)," ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Komite Tetap Timur Tengah, Fachry Thaib di Jakarta, Kamis (10/8).

Menurutnya pemerintah Qatar sangat suka dengan barang-barang produksi yang berhubungan dengan Indonesia. Maka, pihaknya menangkap keinginan itu dengan mengundang enam BUMN yang memungkinkan dapat memenuhi kebutuhan untuk membangun infrastruktur Piala Dunia di negara teluk tersebut. "Bagi Qatar, Indonesia memproduksi barang kebutuhan mereka. Apapun mereka minta dan kita punya. Kita pun mengajak enam BUMN," ungkapnya.

Enam perusahaan pelat merah yang dimaksud yakni PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Wijaya Karya (Wika), PT Semen Indoensia (Persero) Tbk, PT Industri Strategis (Dahana) dan PT Pindad (Persero) Tbk. Sambung Fachry, kelima BUMN tersebut mempunyai spesifikasi produksi, dimana sangat dibutuhkan Qatar untuk mempersiapkan pembangunan infrastruktur pendukung Piala Dunia.

"PT Semen Indoensia salah satu yang paling agresif mengambil kesempatan itu. Bahkan, manajemem BUMN produksi semen terbesar itu berencana melakukan akuisi salah satu perusahaan semen di Jordania," paparnya. ()

Sumber: Sindonews

Orang Tua Pintu Surga Anak

Orang Tua Pintu Surga Anak

10Berita, JAKARTA -- Berbuat baik kepada kedua orang tua sangat dianjurkan bagi seorang anak. Anjuran tersebut juga salah satu perintah Allah SWT yang dituangkan dalam Alquran. Seperti ayat Alquran surah al- Isra' 23-24 yang berbunyi, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."

Dalam Alquran pun, Allah SWT meng gandengkan tauhid dengan ber bakti kepada orang tua sebanyak empat kali. Itu menandakan kedudukan orang tua sangat agung, sehingga disandingkan dengan masalah tauhid. Itu juga yang dijelaskan oleh Ustaz Bendri Jaisyurrah man pada kajian rutin Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), Jumat (4/8). Ustaz Bendri mengingatkan kepada remaja Muslim untuk meningkatkan bakti kepa da orang tua. "Orang tua itu pintu surganya anak," ujar Ustaz Bendri.

Namun, Ustaz Bendri menyayangkan masih banyak anak yang kurang berbakti kepada orang tua. Ia mencontohkan ba nyak anak-anak yang menjelekkan orang tua di media sosial. Untuk itu, kaji an ten tang pentingnya berbakti kepada orang tua perlu digalakkan. Fenomena banyak nya kaum muda yang semakin gemar mengikuti kajian di masjid merupakan kesempatan untuk memberikan anjuran agar berbakti kepada orang tua sesering mungkin.

"Materi ini sejatinya selalu mengingatkan mengapa di tengah genarasi saat ini dengan dahsyatnya anak-anak muda semangat belajar ngaji, tapi sebagian begitu rusaknya hubungan dengan orang tuanya," kata Ustaz Bendri. Dia mengungkapkan alasan pentingnya berbakti ke pada orang tua. Ia mengatakan, kema rahan Allah SWT juga melekat kepada orang tua. Itu sebabnya, tuturnya, me nyakiti orang tua sama halnya membuat marah Allah SWT.

Berbuat baik kepada orang tua, Ustaz Bendri menegaskan, ada hubungannya dengan tauhid. Kedua orang tua harus mendapatkan kebaikan pertama kali sebelum kepada masyarakat lainnya.

Tindakan tersebut salah satu cara memperbaiki tauhid seseorang. "Orang yang berbuat baik kepada masyarakat, tapi orang terdekatnya tidak merasakan ke baikan maka itu petaka. Kalau dia benar tauhidnya maka orang terdekatnya harus merasakan agar berbuat baik kepada ibu dan bapaknya," kata Ustaz Bendri.

Dia juga menekankan agar anak me latih kesabaran dalam berbakti kepada orang tua. Pasalnya, tidak semua orang tua mempunyai sikap yang baik. Kendati demikian, sebagai seorang anak tetap wajib berbuat baik kepada mereka. Men dapatkan orang tua yang kurang baik, me nurut dia, merupakan ujian nilai ke tauhidan seorang anak. Selain itu, seba gai kesempatan berbuat baik kepada orang tua. Terlebih, jelasnya, tidak ada ajaran syariat satu pun yang mengajarkan berbuat kasar kepada orang tua. "Perbaiki tauhid berbuat baik kepada orang tua. Minimal, tidak menyakiti," tegas dia.

Ustaz Bendri menambahkan, se orang anak harus berbuat baik kepada orang tua dengan landasan ihsan.

Dengan begitu, anak akan merasa terus diawasi oleh Allah SWT di mana pun berada. Untuk itu, mereka tidak akan mem punyai niat sedikit pun untuk me nyakiti orang tuanya. Jamaah cukup an tu sias mengikuti kajian tersebut. Ratusan orang, baik perempuan maupun laki-laki dengan khusyuk mendengarkan cera mah yang disampaikan oleh Ustadz Bendri. Mereka mulai memadati masjid Sunda Kelapa sejak shalat Maghrib hingga selesai kajian.

Fahri, salah seorang jamaah, me nyam but baik pengajian tentang pen tingnya berbakti kepada orang tua. Bagi Fahri, ilmu yang didapatkan dari pengajian tersebut bisa diajarkan kepada anakanaknya. "Ini ilmu penting bagi saya karena saya punya dua anak yang masih kecilkecil," ungkap Fahri kepada Republika, usai pengajian.

Warga Menteng Pulo itu mengaku sering menghadiri acara pengajian, ter utama yang bertemakan keluarga. Ha rap annya, ilmu yang didapatkan bisa membawa berkah kepada kehidupan keluarganya.

Mudzakir, jamaah lainnya, juga tak jauh berbeda dengan Fahri. Ia tidak pernah absen mengikuti kajian yang diselenggarakan oleh Masjid Sunda Kelapa.

Mudzakir juga sering kali datang ke berbagai majelis taklim guna mencari ilmu. "Saya sering ikut kajian, nggak hanya di sini. Ya, biar bermanfaat buat diri saya sendiri," kata Mudzakir.

Menurut Mudzakir, kajian tentang berbakti kepada orang tua sangat pen ting. Mudzakir yang saat ini masih lajang akan berusaha berbakti kepada orang tua. Ia menyadari, selama ini masih kurang dalam melayani kedua orang tuanya

Sumber: Republika

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali untuk Penguasa (3)

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali untuk Penguasa (3)

10Berita,  JAKARTA -- Menurut Al Ghazali, Umar bin Abdul Aziz sudah terbebas dari kegelisahan yang diakibatkan sebab-sebab dari luar dan dalam diri. Dia tidak lagi dicengkeram oleh kepedihan dan kesenangan demi mencapai tujuan-tujuan luhur yang lebih unggul.

Al Ghazali menulis, manusia diberi kehendak terbatas. Tergantung apakah ia akan mengenali wujudnya dengan mengutamakan diri dan kepentingannya atau mencampakkan kepentingannya dan mengidentifikasi diri secara khusus dengan Allah di dalam dan di luar dirinya.

Al Ghazali pun berpesan, Tuhan telah mengangkat Syahibul Islam sebagai seorang perdana menteri di Kerajaan Seljuk. Waktunya tiba bagi Syahibul Islam untuk menginginkan tingkatan lebih tinggi dari sekadar menjadi pejabat.

"Jika Anda memperolehnya dan merasa puas dengannya, Anda akan teralihkan dari tahap ini menu ju tahap lain yang lebih tinggi. Anda akan terpalingkan ke arah yang lebih terhormat dan akan diganjar dengan perasaan kecu kupan diri. "

Untuk itu, Al Ghazali memberi wasiat agar manusia lepas dari ketergantungan ke pada selain Allah. Hawa nafsu ditanggalkan untuk bisa mengatasi yang lain-lain. Jiwa mesti sama sekali tenggelam di dalam uzlah dan menjadi tenggelam sehingga ia kembali ditemukan. Musuh yang sebenarnya ada pada dalam diri kita yang harus diperangi.

Ruh pengabdian sebenar nya menuntut agar kita bersyukur kepada Allah dalam kemakmuran dan bertawakal dalam kesengsaraan. Allah berfirman. "Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka dengan itu bergembira. Karunia Allah dan rahmat- Nya itu adalah lebih baik dari apa yang me reka kumpulkan." (QS Yunus:58).

Al Ghazali pun menyayangkan akan orang-orang yang menggantungkan kebahagiaan kepada manusia. Padahal, manu sia tempat mereka bergantung tidak luput dari kesalahan dan membuat kerusakan. Allah SWT pun membuat perumpamaan. "Per umpamaan orang-orang yang meng am bil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat ru mah. Dan, sesungguhnya rumah yang pa ling le mah adalah rumah laba-laba jika sa ja mere ka mengetahui." (QS Al Ankabut: 41).

Menurut Al Ghazali, tidak ada satu pun kekuatan dan kekuasaan selain Allah. Pada zaman ini, manusia dipenuhi berbagai ke su litan dan kehinaan hanya karena ketergantungan mereka kepada dunia. Mereka tidak acuh kepada akhirat dan Hari Per hitungan yang pasti akan tiba. "Jika Anda lebih mempercayai Rabb Anda ketimbang manusia, Anda lebih setia kepada-Nya dan Dia benar-benar Rabb Anda."

Lebih lanjut, Al Ghazali pun mendoa kan Syahibul Islam agar Allah menjadi kan nya selalu selaras dengan perintah-pe rintah dan keagungan rohani-Nya. Dia ber doa semoga Allah SWT memampukan perdana menteri untuk menyelenggarakan tugas-tugas seorang hamba Allah bagi orang yang tertekan. "Kekuasaan dan ke kuatan terletak di tangan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang." (Disarikan dari buku Surat-Surat Al Ghazali kepada Pa ra Penguasa, Pejabat Negara dan Ulama kar ya Abdul Qayyum).

Sumber: Republika

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali untuk Penguasa (2)

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali untuk Penguasa (2)

10Berita,  JAKARTA -- Abu Hamid Muhammad Al Ghazali meneruskan surat-suratnya kepada penguasa. Kali ini, dia menulis surat kepada Yang Mulia Syihabul Islam, seorang perdana menteri dari Kerajaan Seljuk yang hidup sekitar abad ke-11. Imam Al Ghazali menasihati Syihabul Islam agar tidak terjebak kepada penyakit hati.

Al Ghazali menjelaskan, penyakit fisik dan penyakit hati adalah sesuatu yang berbeda. Penyakit yang paling umum terjadi dan berakibat fatal adalah penyakit hati. Menurut Al Ghazali, hanya dengan berzikir dan mengingat Allah penyakit hati itu bisa ditaklukkan.

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada." (QS Yunus :57).

Dengan mengingat Allah, hati manusia bisa menikmati kedamaian sejati. Menda pat kan kedamaian dalam hidup yang pe nuh keperihan adalah hal terbaik di antara semua. Di sisi lain, orang dengan hati yang telah mati tidak bisa mendatangkan ke akrab an dengan Allah SWT. Peringatan ha nya bisa dirasakan oleh orang-orang 'ber hati'.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati." (QS Qaf:37).

Pada surat lainnya, Al Ghazali mendorong agar sang perdana menteri bisa menanjak ke capaian sejati yang lebih tinggi. Menurut sang imam, ada dua jenis maqamat atau kebijakan capaian. Pertama adalah kebenaran, kedua adalah kesalahan. Seseorang yang mengangkat dirinya menuju Dia akan mendapatkan kebenaran.

Yang menilai objek-objek duniawi lebih daripada-Nya tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kepalsuan. "Dan orang yang menghalangi pandangannya untuk mengingat Yang Maha Pemurah kami tu run kan kepadanya setan yang akan men jadi temannya." (QS Az Zukhruf:36).

Al Ghazali lantas menukil kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai sosok moralis praktis. Sebelum berkuasa, ketika sepotong pakaian berharga seribu dinar dibawa kepadanya, Umar berkata: "Aduh, pakaian ini terlalu kasar untuk kupakai." Namun, setelah berkuasa, jika sepotong pakaian seharga lima rupee dibawa kepadanya, ia akan berkata: "Pakaian ini terlalu baik untuk kupakai."

Umar, kata Al Ghazali, lantas mengungkapkan, betapa inginnya dia mengenakan pakaian dari karung yang sedemikian kasar. Umar bertamsil, dengan memegangnya saja, kulit tangannya akan tergores di sana-sini.

Sebelum pengangkatannya sebagai khalifah, dia memiliki cita rasa sedemikian halus sehingga tidak bisa berpuasa dengan apa yang diperolehnya. Dia pun selalu berupaya untuk mendapatkan hal yang lebih baik.

"Tetapi, setelah pengangkatan, saya mengikuti suatu disiplin yang keras dan menjalani kehidupan yang begitu sederhana dan prihatin sebagai seorang fakir paling miskin. Saya selalu ingin sedikit saja dan saya selalu mendapatkan yang sedikit dari yang saya ingini itu."

Sumber: Republika

Pahala Menafkahi Keluarga Amat Besar, Berbanggalah Engkau yang Menafkahi Keluarga dengan Jalan Halal

Pahala Menafkahi Keluarga Amat Besar, Berbanggalah Engkau yang Menafkahi Keluarga dengan Jalan Halal

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 1086 Kali

Pahala Menafkahi Keluarga Amat Besar

Sangat mengherankan jika ada yang menolak untuk menafkahi keluarganya, atau memberi nafkah sekadarnya, padahal balasan yang dijanjikan untuk para pencari nafkah sangat luar biasa.

Sahabat Ummi, tulisan ini bisa menjadi penyemangat para suami untuk memberi nafkah terbaik pada anak istri. Juga menjadi penyemangat anak-anak muda yang bekerja menjadi tulang punggung untuk orangtuanya.

Ketahuilah bahwa uang yang engkau keluarkan untuk menafkahi keluargamu jauh lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang hamba sahaya/budak. Maasya Allah...

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, "Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi),” (HR. Muslim no. 995).

Dalam Islam, ada prioritas dalam bersedekah. Jika harta kita seadanya saja... maka nafkahkanlah untuk keluarga seoptimal mungkin. Jika harta kita melimpah ruah, setelah keluarga inti tercukupi... pastikan orang-orang yang menjadi tanggungan kita lainnya juga terpenuhi kebutuhannya. Misalnya... para pekerja yang kita miliki, pengasuh anak, jangan sampai mereka bekerja sambil menggerutu karena kebakhilan majikannya.

Setelah itu, prioritaskan keluarga dan kerabat yang mungkin memiliki utang, atau telah menjadi janda, memiliki anak yatim. Jangan sampai kita mengabaikan mereka.

Selanjutnya, tengok tetangga kanan dan kiri, apakah mereka bisa tidur dalam keadaan perut terisi? Ataukah kita membiarkan tetangga kelaparan sedangkan kita berlebihan harta?

Jangan lupakan pula hak-hak saudara kita yang sedang berjuang di jalan Allah. Saudara-saudari kita sesama muslim di belahan dunia lain yang tertindas oleh kezaliman.

Demikianlah prioritas dalam bersedekah atau menginfakkan harta kita. Jangan sampai kita selalu pencitraan sedekah ke sana ke mari, namun keluarga dan orang-orang terdekat merasa tidak mendapat manfaat dari kelebihan harta yang kita miliki. Astaghfirullah.

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)

loading...


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).


Sumber: Ummi Online

(Video) Suara Hati Mualaf Merry Sinaga, Rela Tinggalkan Keluarga Demi Pertahankan Iman

(Video) Suara Hati Mualaf Merry Sinaga, Rela Tinggalkan Keluarga Demi Pertahankan Iman



10Berita~JAKARTA - Iman memang tidak bisa diwarisi. Iman itu harus dicari dan diperjuangkan. Dan inilah yang terjadi kepada Merry Sinaga yang dari terlahir dari keluarga Kristen taat namun hidayah Allah membuatnya lebih memilih Islam meninggalkan agama keluarga besarnya.

Demi mempertahankan Iman Islam-nya, Merry rela meninggalkan keluarga besarnya dan semua kebahagiaan duniawi yang selama ini dia rasakan.

"Saya meninggalkan keluarga karena saya ingin bisa beribadah kepada Allah," ujar Merry kepada Voa Islam beberapa waktu yang lalu.

Alhasil, keputusannya meninggalkan keluarga menuai murka dan kemarahan keluarga besarnya bahkan teman yang mengantarkan dia ke Mualaf Center Darussalam diancam akan dibunuh.

Simak video lengkapnya:


Sumber: voa-islam

NU Kok Berubah Jadi FPI Ehh…FPM?

NU Kok Berubah Jadi FPI Ehh…FPM?


NU Kok Berubah Jadi FPI Eh…FPM?

Oleh: Choirul Anam
(Dewan Kurator Museum Nahdlatul Ulama)

JUDUL di atas kepeleset karena diganggu cucu saya yang mengikuti FDS (Five Day School) tapi juga tetap belajar di Madin (Madrasah Diniyah). Jadi, bukan FPI yang dimaksud tapi FPM (Front Pembela Madin). Ini gara-gara saya baca viral di medsos, Ketua PWNU KH Hasan Mutawakkil bersama beberapa kiai Jawa Timur berencana akan melakukan demo besar-besaran di depan Istana Negara untuk menolak FDS dan Permendikbud No.23/2017. Mengapa? Sebab, demo kecil-kecilan yang dilakukan NU dan PKB di Pasuruan, Lumajang, Semarang dan Purwokerto Jawa Tengah tidak ngefek alias tidak digubris.

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar pun, dengan garangnya akan menarik dukungan terhadap Presiden Jokowi dalam Pilpres 2019, jika FDS tetap dipaksakan berlakunya. Bahkan NU Online, Rabu (9/8), mengutip pernyataan wakil ketua Lakpesdan PBNU, Muzaki Wahid, dengan judul bernada ancaman: Presiden Jokowi dan Mendikbud Muhadjir akan dicatat dalam sejarah sebagai “Pembunuh Madin”. Lebih miris lagi PWNU Jatim akan mufaraqah (berpisah) dengan pemerintah jika tuntutannya tidak dipenuhi. Wow…keren…!

Dalam sejarahnya, NU pernah bersikap super keras ketika imperialis Kerajaan Protestan Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Tidak ada kompromi, pada 22 Oktober 1945, NU mengumpulkan seluruh konsul se- Jawa dan Madura mengeluarkan Resolusi Jihad fi Sabilillah. Apakah FDS sudah segawat itu? Apakah Mendikbud Muhadjir Efendi sudah sekelas Snouck Hurgronje atau Van Der Plas? Sehingga perlu distigma sebagai “Pembunuh Madin”? Mendikbud Muhadjir yang saya kenal adalah seorang santri tulen, mustahil punya niat mematikan Madin.

Untuk mengetahui realitas lapangan, saya lalu bertanya cucu-ku tadi. Kamu sekolah berapa hari dalam sepekan? “Lima hari, Senin sampai Jum’at. Tapi pulang agak sore, pukul 16.00. Tapi saya masih tetap ikut belajar di Madin sampai setelah maghrib,” kata cucu saya. Apa enggak capek? “Enggak Kung, malah enak, hari Sabtu saya bisa ikut latihan bela diri dan les musik. Hari Ahad jalan-jalan sama ayah dan bunda,” kata sang cucu dengan ceria.

Saya sendiri, dibantu beberapa kawan yang melek tujuan utama bernegara, tujuan utama Indonesia merdeka, salah satunya adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, sejak tahun 1990 mendirikan sekolah mulai dari PAUD, TK, Madin, SD, SMP, SMA, MTs, MA dst. Dan ketika ada FDS, semua stakeholderberkumpul lalu berembuk untuk melakukan pengaturan lebih baik lagi. Tidak ada masalah, aman-aman saja. Kenapa mesti takut? Apa yang ditakuti dari FDS? Toh…di kalangan NU justru dikenal adagium FDNS (Full Day and Night School), bukan cuma FDS bro…!

Kemudian saya beralih bertanya pada keponakan yang sekolah di desa. Berapa hari kamu sekolah dalam sepekan? “Enam hari paman, Senin sampai Sabtu, pulang sekolah pukul 12.00 atau 13.00, lalu bantu bapak-ibu cari makanan ternak atau yang lain,” katanya. Sore hari? “Belajar agama di Madin,” katanya lagi. Lalu bapaknya menimpali, “ya mohon dimaklumi karena sekolahannya miskin fasilitas.”

Karena belum puas, saya lantas tanya pengurus NU yang saya anggap cukup cerdas. Apa yang dikuatirkan NU terhadap pelaksanaan FDS? “Lho…banyak, ada sembilan aspek,” jawabnya sambil nerocos memaparkan sembilan aspek mulai dari aspek akademis, Sarpras (sarana-prasarana), ekonomi, keamanan, sosial, kompetensi akademik, mental spiritual, keharmonisan keluarga dan aspek sistem pendidikan itu sendiri. Dari sembilan aspek yang didalihkan untuk menolak FDS itu, menurut hemat saya, tidak ada satupun yang esensial. Semuanya bertumpu pada masalah teknis dan minimnya Sarpras pendidikan yang, bila segera dipenuhi, akan bisa terselesaikan dengan sendirinya.

Persoalan pokoknya, dengan demikian, bukan terletak pada kebijakan FDS atau Permendikbud No. 23 Tahun 2017 yang, ternyata juga tidak ada paksaan dalam pelaksanaannya. Bahkan anak didik juga tidak perlu pulang larut sore. Permasalahan sesungguhnya, justru pada aspek pemenuhan fasilitas sekolah baik menyangkut ketersediaan dan kesiapan guru maupun Sarpras. Inilah persoalan inti yang, seharusnya, diperjuangkan NU yang kini mulai kesengsem mengikuti pola gerakan PKB. Sejauh mana komitmen pemerintah sebagai alat negara mem-fasilitasi dunia pendidikan? Meski sudah ada BOS, BOPDA, BOS MADIN, BOS SLTA dan Bantuan Sarana Penunjang SMK, pemerintah wajib memberikan dan meningkatkan fasilitas secara merata (tanpa pandang bulu) kepada seluruh sekolah (negeri maupun swasta), sehingga tidak ada lagi sekolah yang surplus dana tapi sebagian besar lainnya justru miskin fasilitas.

Itulah akar masalah dunia pendidikan kita yang mestinya dikritisi NU secara terus menerus. Karena faktanya, di Jawa Timur saja, masih banyak anak orang miskin tidak sekolah. Masih banyak orang tua menanggung beban berat biaya sekolah anaknya. Masih banyak anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Banyak sekali gedung sekolah yang rusak (bahkan nyaris ambruk) karena tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Lalu kemana APBN dan APBD yang triliunan itu dibelanjakan?

Pendidikan gratis didengung-dengungkan para pejabat pemerintah, kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Jika hari ini kita akan memperingati 72 tahun Indonesia merdeka, rakyat di bawah hanya bisa mengelus dada sambil meratapi besarnya biaya sekolah anaknya. Rakyat kebanyakan sesungguhnya menagih janji kapan terwujudnya tujuan utama Indonesia merdeka, kapan terlaksananya tujuan utama bernegara seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan berpartisipasi dalam ketertiban dunia.

Contoh di Jawa Timur sendiri, sudah terdengar lama pernyataan para pemimpin bahwa pendidikan di wilayah paling timur Pulau Jawa ini, diselenggarakan secara seksama dan gratis mulai dari SD sampai SMA. Benarkah? Ternyata, tong kosong nyaring bunyinya. APBD Provinsi Jawa Timur yang berkekuatan 23 T, hanya sebagian kecil yang disalurkan untuk pendidikan. Tahun 2015 APBD Jatim hanya mengucurkan 2,2% untuk pendidikan, tahun 2016 menurun lagi cuma 1,7%  dan tahun 2017 bisa jadi melorot lebih rendah lagi.

Persoalan keseriusan pemerintah menyediakan anggaran untuk pendidikan inilah yang, seharusnya, dikontrol ketat oleh NU Jatim. Kenapa Gubernur Soekarwo hanya mengalokasikan belanja pendidikan sekecil itu? Kenapa politisi PKB di DPRD Jatim tidak memperjuangkan anggaran pendidikan yang layak dan cukup? Jangan malah sibuk mengajak NU demo FDS, sementara oknum legislatornya mencari setoran suap ke dinas-dinas hingga ditangkap KPK.

Banyak kawan NU yang prihatin dan mengirim pesan pendek yang intinya, menyayangkan sikap keras NU menolak FDS yang terkesan sangat politis. Mereka bahkan menganggap sikap boikot yang disertai ancaman dan demo-demo itu sudah out of control. “Sudah di luar karakter NU,” tulis mereka. Lalu saya pura-pura tanya kenapa, karena sebab apa kok akhir-akhir ini gerak dan sikap NU seperti kehilangan substansi?

Di luar dugaan, mereka serempak menjawab, “Itulah buah muktamar Jombang (Muktamar NU ke 33 di Jombang, Agustus 2015–red). Muhaimin Isandar berhasil menjadikan NU sebagai sayap PKB. Jangan-jangan sejatinya Muhaimin yang ingin jadi Mendikbud.”

Sebagai politisi sah- sah saja ingin jadi menteri. Apa lagi dia sudah berkali-kali ketemu presiden, ‘kan tinggal minta jatah saja, kata saya. “Ya memang, tapi kalau jadi menteri lagi jangan seperti dulu, ada kasus bingkisan lebaran ditaruh dalam kardus durian. Untung saja KPK sekarang gampang lupa,” jawab mereka terkekeh-kekeh. Benarkah jawaban mereka? Wallahu’alam bisshawab. (*)

Sumber: http://duta.co/nu-kok-berubah-jadi-fpi-eh-fpm/, PI

Najwa Shihab Mundur dari Metro TV Untuk Jadi Menteri Jokowi?

Najwa Shihab Mundur dari Metro TV Untuk Jadi Menteri Jokowi?


Oleh: Samson Rahman

Mundurnya Host Mata Najwa Metro TV, Najwa Shihab sangat mengejutkan banyak pihak dan sekaligus menimbulkan tanda tanya besar dari banyak kalangan. Pertanyaan bersliweran menilik mundurnya presenter cantik dan cerdas itu. Najwa yang sudah tujuh belas tahun bekerja di Metro tentu saja merupakan aset sangat berharga bagi tv berita itu. Acara Mata Najwa yang digadang Najwa tak kalah menariknya dari acara ILCnya Karni Ilyas di TV One. Walaupun ada beberapa orang yang menganggap Najwa kadang berpihak pada arahan politis para owner metro tv di mana dia mengabdi sebagai jurnalis yang ditunggu dan tak jarang dikritisi dengan sangat keras dan tajam.

Najwa yang selama ini bergelut di Metro TV merasakan tempat yang pas dan cocok untuk artikulasi dan aktualisasi dirinya ssbagai jurnalis handal dan kompeten. Namun kenapa Najwa mundur? Ini pertanyaan yang jawaban pastinya hanya Najwa yang tahu dan dia yang berhak memberi jawaban walaupun pasti dia tidak akan menyingkap dan mengungkap semua drama di balik pengunduruan dirinya yang terkesan mendadak.

SPEKULASI

Ada asumsi dan anggapan paling gamblang dan sangat mencolok bahwa Najwa mundur karena dia dianggap tidak lagi patuh pada arahan "boss" yang ditandai pembangkangan dia saat mewancarai Novel Baswedan di Singapura yang sedang menjalani pengobatan serius akibat tindakan kriminal "serius" namun ditangani dengan cara tidak serius.

Najwa ingin memantik agar semua pihak melakukan penanganan serius sehingga Najwa Shihab perlu bertandang ke Singapura dengan melakukan wawancara serius, dan ternyata mendapat perlakuan sangat serius oleh pihak Metro.

Mundurnya Najwa Shihab yang mengundang tanya tak perlu saya sampaikan jawabannya. Yang ingin kita kunyah bersama adalah bahwa Najwa Shihab telah melakukan langkah tidak biasa dan tindakan yang tidak dinyana(disangka). Banyak orang bahkan mengira Najwa Syihab akan mengabdi di dan pada Metro dalam jangka waktu yang akan sangat lama sampai dia tua. Ini patut dikata karena Najwa Shihab begitu brilian mengemas acara yang luar biasa di Metro dan dianggap sosok sangat berharga sebagaimana Sandrina Malaiko di zamannya.

Apakah benar faktor Novel Baswedan membuat Najwa harus "titik tanpa koma" dari Metro di bulan Agustus ini?

Spekulasi mundurnya Najwa dari Mata Najwa secara khusus karena wawancara eksklusifnya dengan Novel memang tak bisa disangkal. Di saat aparat tidak bergerak cepat menangani kasus Novel yang seharusnya ditangani khusus dan sigap, tiba tiba Najwa melesat bagai elang betina yang memecah cakrawala. Mencairkan kebekuan atau lebih tepatnya pendiaman kasus Novel.

Najwa tiba tiba bersinar bagai bintang di saat penegakan hukum mengalami kegelapan.
Najwa seakan menjadi "juru selamat" muka Novel yang cidera akibat air keras.
Najwa bagai keluar dari ring Metro TV yang sangat ketat.

Namun jikapun spekulasi ini benar muncul analisa yang tak kalah tajam. Najwa mundur karena Metro banyak diboikot oleh para aktivis Islam karena sering memposisikan diri berseberangan secara "kasar" dengan sikap ummat Islam.

Mata Najwa yang tajam tentu melihat jeli bahwa ini merupakan ancaman bagi keberlangsungan acara yang dia pandu yang walaupun masih banyak peminat namun sekian banyak orang mengalami alergi dan gatal gatal dengan cara positioning Najwa yang tak menggigit. Bahkan terlihat sangat depend on someone who still mistery. Mata Najwa yang tajam terasa menjadi sayu di tengah gemerlap Metro yang semu. Kata kata yang tajam terasa semakin menumpul setiap hari diterpa ketidak berpihakan metro yang kentara pada ummat Islam.

Najwa berada pada titik gamang antara idealisme yang mungkin masih dia miliki dalam kode etik jurnalis dengan kenyataan pahit yang dia harus terima di Metro yang tak memberi ruang kebebasan ekspresi yang luas.

Untuk lari tanpa ada "perlawanan" yang tampak benderang rasanya bukan perilaku Najwa...dia harus keluar dan membawa bendera kemenangan dan bukan pecundang...dia sepertinya meninggalkan gelanggang yang semakin akan sepi dan akan membuka medan baru dengan cara elegan walaupun pasti terus dilanda kecurigaan akibat sikapnya yang selama ini kurang gentle woman.

JADI MENTERI

Kejutan-kejutan spekulasi selanjutnya selain karena Metro tidak lagi banyak diminati kalangan Islam, sehingga membuat Najwa hengkang, adalah adanya rumor bahwa dia diplot untuk naik "maqam". Dari hanya seorang wartawan dan jurnalis yang sering tampil di layar kaca yang maya menjadi sosok yang lebih luas daya jangka interaksi publiknya di alam realita. Dia diplot menjadi menteri mengganti seorang menteri wanita yang rumornya akan mencalonkan ulang sebagai calon gubernur setelah sebelumnya gagal. Tentu kita yang sering membaca berita tentang Pilkada sangat paham kemana telunjuk rumor ini mengarah. Dan saya tidak perlu menyebutkan sesuatu yang sudah sangat dipaham.

Jika rumor ini memang ternyata benar, maka amis ploting Najwa mewancarai Novel sebagai amunisi pengunduran dirinya dari Metro akan menjadi memiliki bau sangat menyengat bahwa itu semua adalah sandiwara kelas tinggi dan drama yang alur alur ceritanya sangat mudah dibaca.

Posisi Najwa yang selama ini sangat tidak terlalu berpihak pada kalangan Islam sengaja ditutup dengan mewancarai Novel agar jejak tidak netralnya tidak terlalu kentara dan ummat Islam menjadi "hilang ingatan" pada semua sikap dan perilakunya selama ini.

Najwa sangat paham sosio-psiko bangsa Indonesia yang secara sosial sangat mudah memaafkan dan secara psikologis sangat mudah melupakan. Atau dalam bahasa yang sarkastis mudah hilang ingatan.

Bangsa ini adalah bangsa yang ramah dan memiliki kearifan yang keterlaluan hingga hal-hal yang sebenarnya sangat prinsip sangat mudah dimaafkan dan setelah itu dikadali dan dikibuli dengan telanjang dipanggung sejarah yang kejam.

Jika apa yang diperkirakan sebagian orang ini benar maka bisa dipastikan bahwa Mata Najwa memang tajam dan bangsa ini memang mudah terpesona dengan keindahan mata seseorang.


Sumber: Portal Islam