OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 27 Januari 2018

Desain Koin Islam Pertama, Seperti Apa?

Desain Koin Islam Pertama, Seperti Apa?
Satu koin menunjukkan profil sang khalifah.
10Berita , JAKARTA --  Kedua koin dinar pertama yang  diterbitkan di Damaskus dalam kurun waktu 12 bulan, yaitu antara tahun 76-77 Hijriah atau 696-697 Masehi. Keduanya terbuat dari emas dengan ukuran yang sama.
Kurang lebih ukuran kin dinar itu sama dengan koin satu sen Inggris meski sedikit lebih berat. Namun, dengan desain yang sangat berbeda. Satu koin menunjukkan profil sang khalifah. Sedangkan, satunya tidak mempunyai gambar sama sekali. Perubahan ini mengungkapkan, bagaimana Islam di tahun-tahun awal yang kritis mendefinisikan dirinya bukan hanya sebagai sistem agama, tetapi juga sistem politik.
Pada koin dinar pertama, tergambar sosok khalifah Abdul Malik secara penuh. Ini adalah penggambaran awal yang diketahui dari sosok seorang Muslim. Dan, di bagian belakang, tempat biasanya Bizantium menorehkan tanda salib, digambar sebuah bola yang berada di dalam kolom. Abdul Malik pun ditampilkan secara penuh, berdiri dan berjanggut, mengenakan jubah Arab dan syal penutup kepala ala suku Badui.
Tangannya bertumpu pada pedang di pinggangnya. Gambar ini menjadi sumber yang unik bagi pengetahuan dunia tentang pakaian dan tanda kebesaran yang digunakan khalifah di masa awal. Posenya pun seakan-akan mengancam dan tampak seolah-olah dia akan menghunus pedangnya. Garis yang ada di bawah pinggangnya hampir dapat dipastikan mewakili cambuk.
Gambar itu dibuat untuk menimbulkan rasa takut dan hormat. Gambar yang menjelaskan wilayah Levant atau Mediterania Timur sekarang memiliki keyakinan yang baru dan penguasa baru yang tangguh. Sebuah surat dari salah satu gubernur menegaskan pesan implisit dari gambar ini.
Bunyinya kira-kira seperti ini, “Ini adalah Abdul Malik, komandan para umat, seorang pria tanpa kelemahan. Darinya seorang pembangkang tidak akan mendapat pengampunan. Orang yang menentangnya akan dicambuk!”
Sumber : Republika.co.id

Anies Hadapi Impeachment, Zeng Wei Jian: Perang Jakarta Belum Usai!

Anies Hadapi Impeachment, Zeng Wei Jian: Perang Jakarta Belum Usai!


10Berita, In America, seratus hari pertama dianggap penting. Fase transisi. Di situ, seorang presiden dinilai.

Menurut Michael D. Watkins, di atas 70% responden setuju bahwa “success or failure during the transition period is a strong predictor of overall success or failure in the job.”

Professor David Greenberg menyatakan istilah "100 hari pertama" punya korelasi dengam Napoleon Bonaparte. Di Perancis, ada istilah "Les cent jours". Artinya, periode pendek saat Napoleon "escaped from exile, raised an army, and briefly regained power in 1815".

Di Jakarta, "100 Hari Pertama" Anies-Sandi dimulai 16 Oktober 2017. Puncaknya: Acara "Mata Najwa".

Di masa transisi seratus hari itu, Anies bangun momentum. Opini terkristalisasi di Mata Najwa. Tak ayal, Anies-Sandi dinyatakan menang. Personal credibility dan political capital ada di saku mereka.

Bila memakai a narrow set of metrics, 29 butir kinerja 100 hari Anies-Sandi sulit ditandingi gubernur lama. 10 dari 23 janji kampanye dimaterialisir hanya dalam waktu singkat. Pendapatan daerah tembus 103%. Padahal, Alexis ditutup. Ini luar biasa.

Donald Trump hanya sanggup mengakhiri keanggotaan Amerika dalam Trans Pacific Partnership trade agreement.

Franklin D. Roosevelt dinilai sebagai presiden paling berprestasi dalam 100 hari pertama.

Di Seratus Hari Pertama, Anies sukses menampilkan karakter pribadinya. Saya kira ini penting. Publik jadi tau siapa Anies Baswedan dan di mana keberpihakannya.

Anies seorang filsuf. Bahasa politiknya tinggi, halus dan dalam. Dia masuk kategori "Philosopher King".

Menurut Plato, philosopher king adalah penguasa yang punya love of knowledge, intelligence, reliability, and a willingness to live a simple life.

"Philosophers must become kings…or those now called kings must…genuinely and adequately philosophize,"_ kata Plato.

Anies flexible di soal solusi. Nggak dogmatis dan pukul rata. Solusi Tanah Abang tidak mesti bisa diaplikasi di Asemka Glodok. Bagi saya, itu cerdas.

Anies berpihak pada rakyat kecil. Dia berani tolak reklamasi berdasarkan regulasi. Gubernur lama tunduk pada taipan dan istana.

Anies membuat terobosan dalam rencana legalisasi terbatas becak. Dia mau revisi Perda No.8/2007. Ini perda problematis. Banyak dikecam aktifis NGO.

Tapi, Jakarta sedang diselimuti anomali. Setan rasuki hati sebagian orang. Sebaik apa pun Anies-Sandi, mereka harus di-downgrade. Menyerupai Trump yang jadi sasaran klik liberal hingga dia nge-twit:

"No matter how much I accomplish during the ridiculous standard of the first 100 days, & it has been a lot (including S.C.), media will kill!"

Pertarungan belum selesai. The first hundred days mark is not the end of the story, it’s the end of the beginning. Masih banyak PR Jakarta. Di hari ke 101, Anies-Sandi langsung mau di-impeach.

*THE END*

Penulis: Zeng Wei Jian

Sumber : PORTAL ISLAM

TNI – Polri akan Tindak Tegas Anggotanya Yang Terlibat Politik Praktis di Pilkada 2018

TNI – Polri akan Tindak Tegas Anggotanya Yang Terlibat Politik Praktis di Pilkada 2018



10Berita, CIMAHI—Menghadapi pesta demokrasi pada pilkada serentak 2018 ini, Kodim 0609 Cimahi dan polres Cimahi melakukan sinergitas dengan berbagai kegiatan, seperti senam bersama, menebar benih ikan dan kerja bakti bersama di lingkungan Makodim 0609 Cimahi, Jumat (26/1/18) pagi.

Kegiatan ini dilakukan guna meningkatkan kekompakan antara anggota TNI dan Polri dalam mengawal pilkada serentak tahun 2018 ini, kekompakan itu sendiri diharapkan terjadi dari tingkat pimpinan hingga tingkat bawahan guna mewujudkan keamanan jelang Pilkada nanti.

“Untuk sinergitas TNI polri kita berharap bukan hanya ditingkat pimpinan saja tapi sampai ke Desa sampai kebawahan juga,” kata Komandan Kodim (Dandim) 0609, Letkol Arh. A.Andre Wira Kurniawan, usai kegiatan senam di Makodim, 0609, Jumat, (26/1/18).

Untuk meningkatkan keamanan di wilayah Cimahi dan Kabupaten Bandung barat, Polres Cimahi dan kodim 0609 berkomitmen akan mengawal terus pilkada di dua wilayah ini.

“Kita akan bersama-sama trus untuk mengawal dimana tahun ini adalah tahun politik,” tambah Andre Wira.

Ditanya soal sikap TNI dan Polri dalam menghadapi tahun pilkada ini, Andre Wira menjelaskan pihaknya akan bersikap netral dalam pesta demokrasi ini, meskipun ada calon yang berasal dari TNI dan Polri.

“Dalam rangka tahun politik ini sesuai komando atas bahwa TNI dan Polri harus bersikap netral. Netralitas disini contohnya tidak ada anggota kita yang ikut-ikutan Kampanye, dan tidak ada lingkungan TNI atau perlengkapan yang digunakan untuk kampanye,” tuturnya.

Apabila ada anggota TNI maupun Polri dirinya meminta agar  dilaporkan di Kodim jika itu anggota untuk diberikan himbauan maupun tindakan lainya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Hal tersebut tidak hanya untuk TNI namun Polri juga agar dilaporkan pada pihak kepolisian jika ditemukan ada anggotanya yang terlibat politik praktis atau bersikap tidak netral.

“Apabila ada anggota kami yang tidak netral tolong dihimbau atau dilaporkan pada saya atau pada Kapolres jika ada anggota polri yang bersifat tidak netral, karna kita bersikap netral,” lanjutannya.

Seperti diketahui, tahun ini ada calon gubernur yang berasal dari TNI dan Polri, namun hal tersebut bagi Kodim 0609 dan Polres Cimahi tak berpengaruh terhadap netralitas dalam memilih nantinya.

“Meskipun ada calon gubernur dari TNI maupun  polri kita bersifat profesional dan netral, siapapun yang jadi kita mendukung,” pungkasnya.

Senada dengan hal tersebut, Kapolres Cimahi  AKBP Rusdy Pramana Suryanagara sepakat di kalangan TNI dan Polri khususnya di polres Cimahi dan kodim 0609 tidak ada keberpihakan atau tidak netral.

“Untuk netaralitas kita juga sepakat dengan pak Dandim bahwa kita harus netral. Apabila ada yang ketahuan terlibat politik praktis maka kita akan tindak sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Kapolres Cimahi berharap dari berbagai kalangan agar mematuhi hukum dan saling menghargai dalam bertugas

“Kami juga menghimbau kepada semua pihak mari kita saling menghargai dan saling mematuhi aturan yang berlaku, sebisa mungkin tidak ada aturan yang dilanggar,” tukasnya. []

REPORTER: SAIFAL
Sumber :Islampos 

Menaati Pemimpin

Menaati Pemimpin

Islam sangat memerintahkan umat agar menaati pemimpin atau ulil amri.

10Berita , JAKARTA --  Serangkaian kisah Shammil (Samuel), Talut (Saul), Jalut (Goliath), dan Daud (Davidh) tersebut dikabarkan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 246 hingga 251. Kisah tersebut pun terdapat dalam Kitab Injil dengan pemaparan yang teramat panjang. Namun, inti kisah tak jauh berbeda seperti yang termaktub dalam Alquran meski dalam beberapa hal ada perbedaan.

Untuk penjelasan kisah lebih rinci, Muslimin dapat merujuk buku tafsir yang juga menjelaskan kisah tersebut lebih rinci, sesuai riwayat Rasulullah dari para sahabat beliau. Tafsir Ath Thabari pun memaparkan kisah itu hingga berpuluh halaman. Dalam tafsir Ibnu Katsir kisah tersebut tak luput. Beliau juga menceritakannya dalam Kitab Stories of The Prophet Tafsir Ibn Katsir.

Dengan demikian, dapat dipastikan kebenaran kisah Talut dan Jalut tersebut. Bahkan, kisah ini juga masuk sejarah masyarakat Arab, terlepas kebenaran rincian kisah yang beragam di kalangan Muslimin dan ahli kitab. Meski demikian, Allah telah menyatakan di pengujung kisah ayat tersebut bahwa kisah itu adalah nyata terjadi di antara kehidupan para nabi. Rasulullah pun mengisahkannya tanpa mengada-ada dan tanpa menyontek kitab sebelumnya. “Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu (Rasulullah) benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus,” demikian surah Al-Baqarah ayat 252.

Meski terjadi keberagaman versi, perjalanan Talut tersebut melahirkan banyak hikmah. Salah satunya, yakni menaati pemimpin. Dalam kisah Talut disebutkan bahwa betapa Bani Israil tak menaati larangan meminum air sungai. Mereka pun jatuh pada dosa, bahkan tak diakui lagi sebagai pengikut talut. Padahal sebelumnya, merekalah yang meminta nabi Shammil mengangkat seorang pemimpin bagi mereka. Bani Israil yang meminta pemimpin untuk berjihad, pada akhirnya membangkang dan enggan berjihad bersama Talut.

Sementara, Islam sangat memerintahkan umat agar menaati pemimpin atau ulil amri. Terdapat banyak dalil yang mengisyaratkan perintah tersebut. Di antaranya, dalam surah an-Nisa ayat 83 dan ayat 59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu...” n

Sumber : Republika.co.id

Bangkitnya Kaum Luth Zaman Now

Bangkitnya Kaum Luth Zaman Now


Oleh: Khusnul.Khotimah (Ibu Rumah Tangga)

10Berita, Baru-baru ini MK (Mahkamah Konstitusi) menolak gugatan terkait uji materi pasal zina, cabul dan homoseksual. Artinya perjuangan yang kemarin dibawa oleh teman-teman AILA untuk mempidanakan para pelaku yang melakukan aktivitas zina, kumpul kebo sampai hubungan sesama jenis atau LGBT belum bisa diterapkan di negeri ini. Kejadian ini memperlihatkan kepada kita bahwa seolah-olah MK dan negara melegalkan aktivitas ini.

Sementara itu keberadaan LGBT di indonesia semakin menancap kokoh. Tumbuh subur ditengah sistem sekuler liberalisme yang dipakai negara ini sebagai landasannya. Wajar jika jumlah mereka terus bertambah karena meraka berlindung atas nama kebebasan dan hak asasi manusia.

LGBT masuk ke Indonesia sekitar tahun 1960an. Dan penularan LGBT ini terbilang cukup cepat. Karena sejatinya LGBT bukan bawaan manusia, tetapi penyakit yang sengaja disebarluaskan dan tumbuh ditengah-tengah masyarakat. Mereka melakukan berbagai cara agar bisa diterima ditengah masyarakat. Film film dan media sosial menjadi sarana mereka untuk menampilkan gaya hidup mereka.

Bahkan tanpa rasa malu sedikitpun. Mereka membuat sebagian masyarakat yang melihatnya akhirnya membiarkan mereka ada tanpa dalih. Bahkan mungkin akhirnya yang tadinya bukan pelaku LGBT sampai bisa melakukan perbuatan yang sama. Apalagi negara ini menganut sistem liberal sekuler yang serba bebas, tanpa ada aturan yang mengaturnya.

Sistem inilah yang telah membiarkan para generasi mudanya hanyut dalam pergaulan dan seks bebas merajalela, membiarkan bahkan memfasilitasi perzinahan, ditambah dengan adanya kasus LGBT yang semakin mengkhawatirkan bangsa ini. Karena yang mereka.lakukan adalah penyimpangan seksual yang akan menghentikan munculnya generasi yang akan datang. Dan LGBT juga ternyata menjadi penyumbang terbesar penyakit HIV/Aids yang sulit disembuhkan.

Maka harus ada ketegasan untuk kasus LGBT ini, karena penyimpangan ini harus segera diluruskan agar tidak ada lagi aktivitas ini ditengah-tengah masyarakat. Negara dan masyarakat harus menyadari bahwa LGBT itu bukan bawaan lahir tapi ada karena mengedepankan nafsu tanpa berpikir. Berarti ada peran negara, masyarakat dan individu itu untuk berubah dan mengubah keadaan.

Sebagai idividu kita bisa membentengi diri kita dengan Iman dan takwa kepada Allah SWT, sehingga mampu berpikir cemerlang sebelum melakukan sebuah perbuatan. Sehingga ketika ada prbuatan yang tidak sesuai kita bisa menolaknya dengan tegas. Sebagai masyarakat melakukan kontrol sosial dilingkungannya, ketika ada perbuatan yang menyimpang ditengah-tengah masyarakat bisa mengingatkan dan menasehati. Sedangkan peran Negara sebagai penegak hukum dan pengambil kebijakan seharusnya bisa melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan perilaku LGBT dari negeri ini.

Membuat sebuah peraturan yang tegas terkait kasus ini. Agar penyebarannya segera bisa dihentikan dan pelakunya mendapatkan hukuman. Dalam pandangan hukum Islam, syariat Islam jelas dan tegas mengatur hal ini. Maka ketika masih berada di sistem yang salah akan sangat sulit untuk menghilangkannya justru malah sebaliknya semakin berkembang. Sudah seharusnya Syariat Islam dijadikan sebagai aturan kehidupan dinegeri ini.

Dalam Islam perbuatan LGBT ini adalah perbuatan yang diharamkan.  Allah pun sudah memperlihatkan bagaimana kaum luth dalam al-quran. Allah SWT berfirman:

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita,…” (Q.S. Al-A’raaf: 80-81).

Dan bagaimana cara Allah membinasakan mereka akibat perbuatan mereka dalam firman-Nya, “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (QS. Al-Hijr [15]: 73-74).

Cukuplah kaum luth menjadi pelajaran kepada kita bagaimana cara Allah melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam. Wallahu a’lam bishawab. [syahid/]

Sumber:voa-islam.com

Jumat, 26 Januari 2018

Laut Mati yang tak Mati

Laut Mati yang tak Mati

Airnya enam kali lebih asin dibandingkan air laut.

10Berita ,  JAKARTA -- Laut Mati kerap memberikan kejutan bagi pengunjungnya. Banyak cerita yang menyelubunginya. Legenda menyebutkan, burung-burung tidak bisa terbang hidup-hidup saat melintasi danau ini. Pengunjung pun harap-harap cemas saat mendekatinya.

Dalam benaknya, mereka membayangkan Laut Mati adalah danau yang suram dan tidak menyenangkan. Padahal, tidak juga. Kekontrasan air biru yang berhadapan langsung dengan tebing berwarna merah keemasan dan bukit-bukit tandus menjadi salah satu pemandangan yang tidak bisa dilupakan jika anda berkunjung ke sini.

Tidak bisa dimungkiri bahwa Laut Mati memang “mati”. Airnya enam kali lebih asin dibandingkan air laut. Dengan kandungan mineral yang melimpah di dasarnya, Laut Mati hanya dapat menyokong kehidupan dalam bentuk bakteri. Laut Mati menempati titik terendah di bumi. Ia berada 1.300 meter di bawah permukaan laut. Kawasan danau merupakan salah satu tempat terpanas di bumi dan hanya ada sedikit kawanan burung menghuni wilayah tersebut.

Namun, kadar garam atau salinitas yang tinggi bukanlah faktor yang mematikan atau mengancam. Panas yang membakar hanya terjadi di pertengahan musim panas. Dan, penyebab burung-burung menghindari danau bukanlah karena adanya asap beracun, melainkan karena tidak ada ikan atau serangga yang bisa mereka makan.

Banyak sungai bermuara ke Laut Mati, termasuk Sungai Yordania yang termasyhur. Sekitar enam juta galon air dituangkan ke danau ini setiap hari. Pasokan ini lebih dari cukup karena air yang masuk terperangkap. Tidak ada jalan keluar bagi air.

Di kawasan ini suhu musim dingin tidak pernah di bawah 21 derajat Celcius. Ketika memasuki musim panas, suhu biasanya mencapai 60 derajat Celcius. Terlebih lagi, curah hujan tahunan tidak pernah melebihi 13 sentimeter sehingga air menghilang sama cepatnya seperti saat ia datang.

Penguapan adalah penyebab tingginya kadar garam. Selama berabad-abad air menguap, tetapi mineral di dalamnya tetap ada. Kandungan mineral yang padat di dalamnya membuat pengunjung tidak bisa berenang atau tak bakal tenggelam. Mereka mengapung di permukaan air. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik Laut Mati. Pengunjung dapat melakukan aktivitas menyenangkan, seperti membaca, makan, minum, atau bahkan tidur siang sambil mengapung.

Hingga kemudian, seseorang mencoba mengekstrak beberapa mineralnya. Saat ini, berkat ilmu pengetahuan dan teknik modern, pepohonan di sekitarnya mampu menghasilkan potasium klorida dalam jumlah besar dan bahan kimia lain. Potasium klorida adalah pupuk yang berharga.

Hal tersebut menjadikan Laut Mati secara tidak langsung telah menjadi sumber kehidupan yang penting. Lumpur hitam di dasar danau juga berkhasiat bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Laut Mati juga memberikan kehidupan dengan cara lain. Di sebelah utara telah berdiri sebuah hotel modern. Fasilitas lain yang mendukung bagi wisatawan terus dibangun.

Sumber :Republika.co.id 

Ketika Masjid tak Lagi Sepi Kala Subuh

Ketika Masjid tak Lagi Sepi Kala Subuh

Upaya memotivasi jamaah anak usia SD di Masjid Al Bayan di antaranya memberi hadiah.

10Berita , Gerakan Shalat Subuh Berjemaah di masjid-masjid Tanah Air makin menggeliat dan menghadirkan pemandangan baru di banyak rumah ibadah kaum Muslimin di berbagai kota yang tak lagi sepi jamaah. Padahal, kondisi berpuluh tahun ke belakang, pemandangan di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini, belum terlihat.

Namun, gerakan itu menjadi bagian dari penanda kebangkitan kesadaran kolektif umat Islam negeri ini akan tuntunan ajaran agamanya. Di tengah fenomena ini, cara mengomunikasikan ajakan kepada warga untuk meramaikan masjid-masjid pada saat Subuh itu pun tak lagi monoton.

Sejalan dengan tuntutan "zaman now" yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, Gerakan Shalat Subuh Berjemaah itu pun tak lagi cukup hanya dipromosikan pengurus bersama jemaahnya melalui spanduk-spanduk yang dipasang di area masjid mereka. Ajakan mengawali hari dengan shalat Subuh berjemaah di masjid tersebut juga disosialisasikan para pegiat gerakan ini melalui beragam kanal media sosial seperti Instagram, YouTube, Twitter, Facebook, dan WhatsApp.

Dengan memanfaatkan keberadaan media sosial itu, pesan-pesan berisi ajakan untuk meramaikan shalat Subuh di masjid-masjid lingkungan mereka pun tersampaikan dengan lebih mudah dan menjangkau radius yang tiada berbatas. Kini, tidak sulit menemukan tautan-tautan pesan komunitas pendukung Gerakan Shalat Subuh Berjemaah itu di kanal-kanal media sosial. "Sahabat Subuh", misalnya, gencar mengajak publik untuk meramaikan Salat Subuh di masjid yang ada di lingkungan masing-masing.

Melalui tautan https://www.instagram.com/p/BdkY-ssFp2E/,seruan untuk memperkuat gerakan ini pun digaungkan: "Yuk bergabung dengan group Duta Sahabat Subuh. Ikuti tautan ini: https://chat.whatsapp.com/FRkOXeuV8dV2De2VSLZxbN. Follow teruss @sahabatsubuh ..."

Seperti terungkap dalam pesan-pesan yang disampaikan secara terbuka melalui jejaring Internet itu, mereka yang mendukung "Sahabat Subuh" ini menyampaikan alasan mereka ikut mendukung gerakan mengawali hari dengan mendirikan Ssalat Subuh berjemaah di masjid ini.

"Kami ingin masuk surga sekeluarga." Itulah alasan utama mereka beramai-ramai berjuang mensyiarkan Gerakan Nasional Shalat Subuh Berjemaah di masjid.

Mengenai keutamaan shalat Subuh berjemaah di masjid, terutama bagi pria Muslim, itu sendiri, telah banyak ulama yang membahasnya. Di antara keutamaan-keutamaannya tersebut adalah "disaksikan malaikat" dan "dihitung sebagai salat malam semalam penuh" (Haq, 2017).

Seiring dengan makin menggeliatnya Gerakan Shalat Subuh Berjemaah itu, makin banyak masjid yang ramai. Di Masjid Jogokariyan, Kota Yogyakarta, misalnya, suasana subuh berjemaahnya tetap ramai.

Suasana Subuh yang diramaikan kalangan tua dan muda, termasuk tidak sedikit di antara mereka berusia renta, di masjid yang berdiri di tengah perkampungan berpenduduk sedikitnya 907 kepala keluarga atau 2.973 jiwa itu relatif tak berubah dalam tiga tahun terakhir.

Betapa tidak, seluruh shaf di ruang utama masjid berlantai dua itu penuh dengan jamaah. Mereka yang tak kebagian shaf di bagian dalam mendirikan shalat Subuh mereka di pelataran kanan-kiri dan belakang masjid pada Jumat (19/1), Sabtu (20/1), dan Ahad (21/1) itu.

Suasana subuh berjamaah di Masjid Jogokariyan yang ramai seperti yang Antara sendiri rasakan selama tiga hari di pekan ketiga Januari 2018 itu relatif sama dengan pengalaman pertama mengikuti shlat Subuh di masjid tersebut pada pertengahan Oktober 2016.

Pencapaian masjid yang terletak di Jalan Jogokariyan No. 36, Mantrijeron, Yogyakarta, dalam menarik warga setempat dan musafir untuk meramaikan shalat Subuh berjemaah setiap harinya itu kini menjadi model yang menginspirasi banyak masjid di luar Provinsi D.I. Yogyakarta.

Masjid Al Bayan

Di antara masjid-masjid yang pengurusnya terinspirasi oleh keberhasilan Masjid Jogokariyan dalam menjadikan setiap Subuh ramai bak suasana shalat Jumat selama bertahun-tahun itu adalah Masjid Al Bayan, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

"Alhamdulillah, kita sudah melakukannya. Dan, tujuh shaf yang masing-masing shafnya diisi 25 orang jamaah kini penuh dalam setiap shalat Subuh dalam tiga bulan terakhir ini," kata Suprianto, Bendahara Masjid Al Bayan.

Tak hendak kehilangan momentum yang tercipta dari menggeloranya semangat kolektif para pengurus Masjid Al Bayan setelah menonton tayangan YouTube tentang Subuh di Masjid Jogokariya itu, gerakan shalat Subuh di masjid kecil itu pun dimulai.

Bahkan, sebagai bagian dari upaya menyemai tumbuhnya benih-benih "pejuang shalat Subuh" di kalangan jamaah anak-anak, pengurus masjid sepakat memberikan hadiah sepeda untuk 17 orang anak yang berhasil mengikuti Subuh berjamaah tanpa putus selama 30 hari.

"Upaya memotivasi jamaah anak-anak usia sekolah dasar di lingkungan Masjid Al Bayan dengan menyediakan hadiah sepeda kepada mereka yang berhasil itu pada mulanya diikuti oleh 40 orang anak," kata Suprianto.

Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah mereka yang lulus karena tak pernah putus shalat Subuh berjemaah di masjid sepanjang Periode I (11 Desember 2017 hingga 12 Januari 2018) itu tinggal 17 orang anak.

Setiap kali ke masjid untuk shalat Subuh berjemaah, anak-anak itu diabsen. Setelah diabsen, mereka diberi kuis seputar soal ibadah. Bagi anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar, mereka dikasih uang jajan sekolah hari itu oleh pihak masjid.

"Insya Allah, Ahad ini (28/1), dilaksanakan tablig shalat berjamaah dan pembagian hadiah untuk anak-anak yang tidak putus shalat Subuh selama 30 hari itu," katanya.

Gerakan Shalat Subuh Berjamaah yang dilakukan pengurus Masjid Al Bayan tersebut mendapat sambutan hangat dari banyak orang tua dan warga masyarakat sekitar masjid. Namun, strategi yang dilakukan pengurus Masjid Al Bayan, Pekanbaru, untuk membangun generasi "pejuang shalat shubuh" sejak usia dini dengan menghadiahi 17 orang anak sepeda tersebut selama sebulan penuh itu bukanlah hal baru.

Di Istanbul, Turki, misalnya, sejumlah anak di sana pun pernah dihadiahi sepeda setelah mereka mengikuti shalat Subuh berjemaah di masjid mereka selama 40 hari tanpa putus (Hidayatullah.com, 2017).

Terlepas dari bagaimana strategi dan cara pengurus masjid memotivasi warganya untuk memulai setiap hari baru mereka dengan shalat Subuh berjemaah di masjid, Gerakan Shalat Subuh Berjemaah itu kini telah menjadi bagian dari fenomena kebangkitan umat Islam Indonesia.

"Mulai hari ini, ayoo... Jangan lewatkan shalat Subuh berjamaah di masjid". Isi spanduk yang terpasang di depan Masjid Jami' Assuhaimiah, Jalan Kebon Sirih Barat Dalam No.15, Jakarta, itu mewakili pesan bagi seluruh Muslim yang ingin meraih surga dunia dan akhirat dari Allah SWT.

Sumber : Republika.co.id

WADUH, GABENER Nih! Lagi-Lagi Anies Pencitraan

WADUH, GABENER Nih! Lagi-Lagi Anies Pencitraan


10Berita,   Saya mengulum senyum saat membaca komentar-komentar warganet tentang acara Mata Najwa yang dipandu Najwa Shihab, di salah satu stasiun televisi swasta, Rabu, 24 Januari 2018. Dalam episode ‘100 Hari Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta’, Najwa dinilai kurang sopan karena kerap memotong penjelasan dari narasumber, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Kali ini saya bukan terfokus pada kritikan warganet atas pembawaan Najwa, tapi cara Anies bersikap dan mengelola emosi saat menjawab rentetan pertanyaan dari Najwa. Bagi yang menonton acara itu, –dan tentunya menilai secara objektif tanpa dilandasi kebencian kepada Anies-Sandi–, pasti setuju jika Anies tetap mampu menjaga sikap dan tak terpancing emosinya saat diwawancara wartawan, tetapi serasa diinterogasi polisi.

Di tiap-tiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Nana, sapaan akrab Najwa, Anies menjawabnya dengan kalem, santai, walau di beberapa bagian mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu sedikit meninggikan intonasi. Itu pun terlihat dan terdengar lantaran Nana memotong penjelasan Anies yang belum rampung. Kalau kata seorang warganet menilai aksi Nana, “Yang bertanya dia, yang menjawab dia, yang menyimpulkan dia.”

Tiap gerakan tubuh dan kalimat yang disusun Anies menjawab pertanyaan Najwa menggambarkan jika ia sedang memainkan politik simbol. Di acara itu, politik simbol Anies paripurna dengan motif batik corak naga yang dikenakannya. Bukan naga sembarang naga, tapi raja naga. Lewat corak batik yang dikenakan, Anies ingin memberikan sinyal jika ia saat ini yang mampu mengendalikan naga, bukan dikendalikan naga. Ia seolah ingin mengumumkan jika citranya kini adalah penjaga rakyat miskin, bukan orang-orang besar.
Tak percaya, tengok jawaban dia tentang reklamasi, penataan PKL Tanah Abang, hingga kebijakan becak. Anies menyatakan dengan tegas tetap menolak reklamasi. Tetapi bukan asal menolak, Anies menjabarkan alasannya mengapa reklamasi harus dihentikan dengan mengacu kepada Keppres Nomor 52 Tahun 1995 Pasal 4 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta. Dalam pasal itu disebutkan, wewenang dan tanggung jawab Reklamasi Pantura berada pada Gubernur DKI. Selain itu, Anies juga berpatokan pada Perda Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 33 yakni penyelenggaraan reklamasi oleh badan pelaksana.

“Ini tanah air kita, dan diatur dengan hukum yang ada di tanah air kita. Kita tidak akan memarahi orang lain, tapi tegas dengan aturan yang dibuat,” kata Anies menutup segmen terakhir Mata Najwa.

Dengan latar belakang sebagai pendidik, dosen, hingga rektor, Anies sangat akrab dengan politik simbol. Jangan lupa pula, Anies adalah salah satu bagian tim sukses Joko Widodo-Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Ia bahkan ditunjuk menjadi juru bicara pemenangan Jokowi-JK. Maka bisa dikatakan Anies adalah salah seorang arsitek yang membangun citra merakyat dan sederhana Jokowi-JK di mata rakyat. Anies pun sukses mengantarkan Jokowi-JK melenggang ke Istana. Ia pun sempat diangkat menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan.

Sejak masa kampanye hingga menjadi gubernur, bersama wakilnya Sandiaga Uno, Anies berusaha mempertahankan politik santun. Santun dalam berbicara, santun dalam menjawab setiap kritikan, hingga santun dalam menangkis serangan-serangan politik. Tapi santunnya Anies bukan berarti asal jeplak atau menyeringai sambil cengangas-cengenges ketika melontarkan jawaban. Anies selalu menjawab dengan jawaban cerdas, serta yang terpenting berdasarkan data. Rancak kalau kata orang Sumatra Barat.

Anda yang membaca dan berada di kubu seberang Anies, pasti bilang semua yang dilakukannya adalah pencitraan. Menurut saya bukan politik pencitraan, tetapi politik simbol. Sekali lagi, politik simbol. Anies berhasil memainkan perannya sebagai seorang pemimpin yang dicintai rakyat.

Satu contoh yang membuat Anies-Sandi dihujani pujian sekaligus kritikan karena dinilai pencitraan, adalah saat Jakarta dilanda banjir. Anies langsung terjun ke lapangan dengan mendatangi sejumlah wilayah yang terendam air. Menyapa warga, dan mencari solusi bersama rekan-rekan kerjanya. Dunia sosial media pun dibanjiri hujatan, warganet menuntut janji Anies-Sandi yang disebut tak becus mengurus Jakarta sampai-sampai ibu kota terendam air. Upaya Anies mendatangi daerah banjir pun dinilai sebagai ajang pencitraan, bukan solusi mengatasi banjir.

Saya sih cukup tersenyum saja membaca kritikan-kritikan itu. Lah, Anies-Sandi saat itu baru dua bulan memimpin Jakarta, tapi mintanya semua masalah cepat diselesaikan. Ya banjir, ya macet, harus selesai dalam satu kedipan mata. Wong sekelas Raden Bandung Bondowoso yang disebut sakti mandraguna saja perlu waktu satu malam untuk membangun seribu candi, apalagi Anies-Sandi yang tidak punya ajian apa pun, dituntut harus merampungkan masalah Jakarta yang super rumit hanya dalam tempo hitungan bulan. Apalagi banjir sudah melanda Jakarta sejak zaman Raja Purnawarman. Herannya, walau dihujani hujatan dan kritik, toh Anies-Sandi tetap mampu bekerja maksimal. Jika Bandung Bondowoso pendekar pilih tanding, Anies-Sandi bisa dibilang sebagai pemimpin pilih tanding. Pemimpin yang dipilih setelah bertanding secara adil, bukan memimpin karena dapat lungsuran jabatan.

Bayangkan saja, baru 100 hari bekerja, Anies-Sandi sudah menyelesaikan sejumlah program kerja yang dijanjikan selama masa kampanye. Bukan satu atau dua janji, tapi sekitar 10 janji kampanye sudah dituntaskan Anies-Sandi. Antara lain, menutup Alexis, menata pedagang kaki lima, memberikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, one karcis one trip (OK Otrip), Oke Oce, rumah DP 0 rupiah, pajak melebihi target, membolehkan motor lewat Jalan MH Thamrin, Monas bebas digunakan untuk kegiatan keagamaan, budaya dan seni, serta mengizinkan becak beroperasi. Bagaimana rakyat tidak kagum dengan kinerja kepala daerah yang mendahulukan kepentingan rakyat kecil.

Kebijakan-kebijakan itu seperti magnet yang menarik simpati rakyat dari zona proletar alias wong cilik. Meski ada yang menentang dan tidak setuju dengan kebijakan Anies-Sandi, toh mereka hanya sebagian kecil. Apalagi Anies-Sandi memiliki hak dalam membuat kebijakan sebagai kepala daerah dan menjalankan roda pemerintahan. Dikritik kan juga bagus untuk kesehatan roda pemerintahan, daripada terus menerus dipuji bisa-bisa jadi antikritik.

Mengutip sindiran, atau mungkin lebih tepatnya ‘julukan’, yang diberikan sejumlah warganet untuk Anies-Sandi. Anies disebut gabener, dan Sandi sebagai wahgabener. Memang, Anies gabener. Sandi wahgabener juga. Anies di sini memang tidak bisa mengelak dari julukan gabener. Soalnya, saat Kementerian Perdagangan mengimpor 500 ribu ton beras, Anies malah pamer jika Pemprov DKI memiliki 300 hektare lahan pertanian yang hasil panennya berpotensi menjadi pemasok pangan warga Ibu Kota. Tak hanya itu, Anies bahkan ikut memanen padi di areal sawah milik Pemprov DKI di bilangan Cakung, Jakarta Timur. Anies seolah tidak mau kalah dengan daerah-daerah lain yang lebih dulu panen padi hingga surplus beras. Padahal Jakarta dijuluki hutan beton, tapi masih punya sawah dan bisa menghasilkan padi, tak kalah dengan daerah-daerah yang menjadi lumbung padi indonesia. Gak bener kan?! Kerja terus soalnya dia. Hasilnya juga transparan dan dipetik masyarakat.

Ah memang, Anies-Sandi bener-bener gabener. Bisanya cuma kerja saja selesaikan program, tanpa perlu sewot dan marah-marah, apalagi menepuk dada membanggakan hasil kerja. Karena itu, move on yuk. Lupakan persaingan di Pilgub DKI 2017 lalu. Kita sebagai warga Jakarta sebaiknya memberikan waktu dan dukungan agar Anies-Sandi mampu menyelesaikan semua program-programnya sembari kita kawal cara kerjanya. Jika semua program terealisasi, yang untung kan warga Jakarta juga. Betul gak?

Penulis: Karta Raharja Ucu

Sumber :Portal Islam 

Koin, Saksi Masuknya Islam di Panggung Peradaban Dunia

Koin, Saksi Masuknya Islam di Panggung Peradaban Dunia

Kota Damaskus sebagai kota metropolis Romawi Kristen ditaklukkan oleh tentara Muslim.

10Berita , JAKARTA -- Bagi umat Muslim yang baru saja muncul di panggung peradaban dunia, jam sejarah bagaikan disetel ulang ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya hijrah dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah dalam kalender Kristen disebutkan terjadi pada 622 M, sedangkan umat Islam memulainya sebagai tahun 1 dalam kalender baru.

Bagi pengikutnya, ajaran Rasulullah telah begitu mengubah masyarakat sejak waktu terulang kembali. Sejumlah benda-benda sejarah menunjukkan seperti apa dunia di saat yang penting itu. Berbagai benda tersebut dibuat sekitar tahun kematian Nabi pada Hijrah 11 atau 632 Masehi. Mereka berasal dari Suriah, Cina, Inggris, Peru, dan Korea. Benda-benda itu memberikan wawasan interaksi kekuasaan dan iman.

Lima puluh tahun setelah kematian Nabi, tentara Arab menghancurkan status quo politik di Timur Tengah dan menaklukkan Mesir, Suriah, Irak, dan Iran. Kekuatan Islam telah menyebar sejauh beberapa dekade, sama seperti yang terjadi dalam Kristen dan Buddha berabad-abad sebelumnya. Pada sekitar pertengahan 690, para penduduk Damaskus merasakan bahwa dunia sedang berubah drastis saat itu.

Kota Damaskus sebagai kota metropolis Romawi Kristen ditaklukkan oleh tentara Muslim pada 635 dan menjadi ibu kota kerajaan Islam yang baru, sebuah dinasti yang didirikan oleh klan Bani Umayyah. Kepala kerajaan yang disebut khalifah tinggal di istananya, sementara tentara Islam memenuhi barak-barak mereka. Tetapi, masyarakat di pasar-pasar dan jalan-jalan Damaskus yang baru saja ditaklukkan itu hendak memiliki realitas baru yang tidak akan mereka lepaskan seumur hidup, yaitu uang.

Pada awal sekitar 690 M, para pedagang di Damaskus mungkin tidak sepenuhnya memahami bahwa dunia mereka tidak sama lagi. Terlepas dari puluhan tahun pemerintahan Islam, mereka masih menggunakan koin dinar penguasa sebelumnya, kaisar Bizantium Kristen. Tentunya, koin-koin tersebut sarat dengan simbol-simbol Kristen. Sangat masuk akal jika mereka masih berpikir, cepat atau lambat sang kaisar dari sebuah kerajaan yang pernah menguasai sepertiga dunia beradab itu akan kembali untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Namun, nyatanya tidak. Damaskus tetap menjadi kota Muslim sampai hari ini. Dan, mungkin tanda yang paling kasat mata bahwa rezim Islam yang baru ini akan bertahan adalah perubahan dalam mata uang.

Sumber : Republika.co.id

Mengukur Kedahsyatan "Gempa Politik" Zulhas Effect on LGBT Issue

Mengukur Kedahsyatan "Gempa Politik" Zulhas Effect on LGBT Issue


10Berita, Pro kontra atas pernyataan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan soal Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) masih terus berlanjut. Seperti sebuah gempa dahsyat, efek getarannya masih terasa hingga hari ini. Bahkan banyak yang tidak menyadari, efeknya jangka panjang.

Setidaknya ada tiga efek dari statemen tersebut. Efek jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Pertama, efek jangka pendek. Yang paling banyak bereaksi adalah kalangan politisi. Mereka beramai-ramai menyatakan partainya menolak LGBT. Ketua DPR Bambang Soesatyo yang juga politisi Golkar bahkan sampai harus menyatakan akan mempertaruhkan jabatannya bila sampai LGBT dilegalkan.

Reaksi ini sangat wajar karena sejumlah survei menunjukkan hampir semua pemilih –bukan sekedar mayoritas– menolak keras praktik LGBT.

Tidak hanya di kalangan pemilih usia tua yang konotasinya konservatif, bahkan generasi milenial yang dicirikan lebih terbuka dan permisif, juga menolak keras.

Survei yang dilakukan oleh Median menyebutkan sekitar 96.5% responden menolak dengan keras LGBT. Sementara hasil survei CSIS menunjukkan 78,92% generasi milenial juga menolak LGBT, dan 15.86% kurang menerima. Sisanya 3.96% cukup menerima, dan yang sangat menerima jumlahnya sangat kecil, hanya 1,26%.

Perilaku pemilih kita yang dikonfirmasi oleh dua survei tadi tampaknya menjadi alasan di balik reaksi keras sejumlah partai atas pernyataan Zulhasan. Mulai dari partai yang berada di sayap kiri (PDIP), tengah (Golkar, Nasdem, Demokrat, Gerindra, dan Hanura), sampai partai di sayap kanan (PPP, PKB, PAN, dan PKS). Tidak ada satupun parpol yang ingin mendapat stempel, atau setidaknya diasosiasikan sebagai pendukung LGBT.

Citra sebagai parpol pendukung LGBT dikhawatirkan akan sangat mempengaruhi keputusan para pemilih dan menggerus habis suara mereka dalam Pileg 2019.

Efek elektoral tersebut tampaknya juga akan sangat berpengaruh dalam pilkada. Apakah partai atau kandidatnya menjadi pendukung LGBT atau tidak, akan sangat menentukan keterpilihan seorang kandidat? Apalagi bila ada seorang kandidat yang terindikasi sebagai pelaku LGBT, dampaknya akan sangat buruk.

Kedua, efek jangka menengah. Hancurnya kampanye para pendukung LGBT. Selama ini para pendukung gerakan ini sangat agresif dan sudah berani terbuka. Mereka sangat aktif melakukan kampanye melalui berbagai medium. Ada yang menggarapnya melalui jalur budaya, akademik, penggalangan opini media dan medsos melalui berbagai artikel, games, jalur politik, dan jalur hukum.

Para pendukung LGBT ini biasanya menggunakan pendekatan hak asasi manusia (HAM) sebagai selubung dan pembenaran (cover and justification). Yang mereka dengung-dengungkan jika Indonesia ingin maju dan diakui setara dengan negara beradab lainnya, haruslah bisa menerima LGBT sebagai realitas sosial. Taglinenya “Indonesia tanpa diskriminasi.”

Memasyarakatkan LGBT adalah gerakan liberal dan sekulerisme global yang didukung PBB dan disupport dengan dana besar. Melalui United Nation Development Programme (UNDP), PBB menggelontorkan dana sebesar USD 8 juta untuk membantu LSM dan perorangan mengkampanyekan dan mengadvokasi pelaku LGBT di Indonesia, Cina, Filipina, dan Thailand.

Di luar jalur opini, mereka juga melakukan berbagai gerakan yang simultan. Melalui Komisi HAM PBB (UNCHR) mereka aktif menekan pemerintah Indonesia. Sementara melalui jalur LSM dan perorangan melakukan lobi-lobi di DPR, terutama melalui Badan Legislasi.

Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) di DPR menjadi pintu celah bagi mereka untuk sedikit memperlonggar ketentuan pidana atas perilaku LGBT.

Melihat time table kampanye UNDP yang berlangsung Desember 2014-September 2017, maka awal tahun 2018 ini seharusnya situasi di Indonesia sudah cukup kondusif bagi praktik LGBT. Mereka mencoba masuk melalui jalur legislasi.

Namun statemen Zulhasan menyebabkan semuanya menjadi mentah. Kampanye yang mereka bangun sekian lama, dengan dana yang cukup besar menjadi berantakan.

Banyak anggota DPR yang ditengarai menjadi pendukung idiologi LGBT, balik kanan, putar haluan. Mereka sangat kaget dan tidak menduga reaksi yang muncul begitu dahsyat.

Dalam jangka menengah, tampaknya aktivitas kampanye dukungan atas LGBT akan mengalami mati suri. Kalau toh tidak mati, mereka harus bersusah payah membangun kembali dari nol.

Ketiga, efek jangka panjang. Dalam RUU KUHP yang kini tengah dibahas di DPR, masalah pemidanaan atas LGBT menjadi salah satu topik paling menarik perhatian. Isu tersebut menjadi bola panas setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan uji materiil atas kumpul kebo dan LGBT.

Semula dalam rumusan pasal 492 menyebutkan yang dapat dipidana hanya praktik hubungan sesama jenis antara orang dewasa dengan anak di bawah usia 18 tahun, atau dilakukan dengan kekerasan. Beberapa fraksi seperti PAN, PKS, dan PPP meminta agar rumusan pasal tersebut diperluas. Perdebatan soal pasal ini sangat alot.

Setelah heboh pernyataan Zulhasan bahwa ada lima fraksi yang mendukung LGBT, semua fraksi kompak mendukung agar rumusan pidana LGBT diperluas. Bahkan rumusan tersebut mencakup perilaku pencabulan sesama jenis yang dipertontonkan di depan umum. Para penganjur dan pendukung LGBT juga diusulkan bisa terkena pidana.

Tak heran bila banyak kalangan yang kemudian berterimakasih kepada Zulhasan. Sebab karena pernyataannyalah peta opini publik maupun pembahasan rumusan pasal LGBT dalam RUU KUHP menjadi berubah drastis. Banyak yang curiga lobi-lobi pendukung LGBT ikut bermain di balik alotnya pembahasan rumusan pasal tersebut.

Hampir dapat dipastikan RUU KUHP yang akan disahkan didalamnya mencantumkan pemidanaan terhadap perilaku LGBT dengan rumusan hukum diperluas. Konskuensinya menjadi jangka panjang.

KUHP yang saat ini tengah dibahas oleh DPR adalah UU produk Indonesia yang diharapkan akan menggantikan KUHP buatan kolonial Belanda. Untuk mengganti/membuat sebuah UU yang baru, prosesnya sangat panjang dan berliku. Memerlukan waktu sampai 73 tahun bangsa Indonesia merdeka, baru kita akan memiliki KUHP buatan sendiri.

Perubahan sikap fraksi-fraksi di DPR merupakan malapetaka bagi para pendukung LGBT. Sebaliknya menjadi angin segar bagi para penentangnya.

Sebuah media menobatkan Zulhasan sebagai “Tokoh Pekan Ini,” karena besarnya efek dari pernyataannya.

Namun melihat dampak dari pernyataannya, sudah jelas efeknya tidak hanya akan bertahan sepekan. Bisa sampai bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun mendatang.

Inilah barangkali yang dapat disebut sebagai *_Zulhasan Effect_* dalam kamus baru politik dan hukum Indonesia.

Penulis: Hersubeno Arief

Sumber :Portal Islam