OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 31 Maret 2018

7 Hal Ini Bisa Halangi Doa Kita

7 Hal Ini Bisa Halangi Doa Kita

10Berita, SEORANG hamba yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Allah harus senantiasa menengadahkan kedua tangannya seraya meminta kepada-Nya. Hal ini merupakan bukti bahwa dirinya sangat membutuhkan Allah. Namun terkadang, kita merasa bahwa doa yang dipinta itu tidak juga terwujud. Lalu, apa alasannya ya?

Ada seorang yang bijaksana ditanya, “Kami telah berdoa kepada Allah, akan tetapi dia kami tidak dikabulkan. Padahal Allah berfirman, Berdoalah kepada Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu,” (QS. Al-Mu’minun: 60)’.”

Kemudian orang yang bijaksana itu berkata, “Karena pada dirimu ada tujuh hal yang menyebabkan doamu tertahan.” Ditanyakan, “Apakah tujuh hal tersebut?” Ia menjawab,

1. Anda melakukan perbuatan yang menyebabkan Allah murka dan Anda tidak bertaubat, dan menyesali apa yang telah Anda lakukan itu.

2. Anda berkata, ‘Kami adalah hamba Allah,’ akan tetapi Anda tidak mengerjakan sebagaimana layaknya hamba itu bekerja. Maksudnya, hamba (budak) itu senantiasa mengerjakan segala apa yang diperintahkan oleh majikannya, dan tidak pernah membangkang.

3. Anda membaca al-Quran, akan tetapi Anda tidak memikirkan dan mengangan-angankan tentang apa yang terkandung di dalamnya.

4. Anda berkata, ‘Kami adalah umat Muhammad,’ akan tetapi Anda tidak mengamalkan sunnahnya. Artinya, Anda masih memakan makanan yang haram dan syubhat serta tidak bertaubat daripadanya.

5. Anda berkata, ‘dunia itu di sisi Allah tidaklah menyamai sayap nyamuk,’ akan tetapi Anda merasa puas dan tenang bila memilikinya.

6. Anda berkata, ‘Dunia itu akan sirna,’ akan tetapi Anda beramal seperti amalnya orang-orang yang akan kekal selama-lamanya di dunia.

7. Anda berkata, ‘Akhirat itu lebih baik daripada dunia,’ akan tetapi Anda tidak sungguh-sungguh di dalam mencarinya, dan Anda lebih memilih mencari dunia daripada akhirat.”

Itulah ketujuh hal yang menjadi penghambat doa kita tidak terkabulkan. Jadi, doa itu tidak dikabul akibat ada yang menghalanginya, yakni dosa-dosa yang telah kita perbuat, baik yang disadari maupun yang tidak kita sadari. Oleh sebab itu, bertaubatlah kepada Allah, mohon ampun pada-Nya dengan kesungguhan hati, serta berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. []

Sumber: inspiradata.com, Islampos.

Umat Islam harus Aktif di Politik seperti Dahulu, jangan Lagi Lengah

Umat Islam harus Aktif di Politik seperti Dahulu, jangan Lagi Lengah



10Berita, JAKARTA - Dalam negara RI, agama mendapatkan tempat yang sangat fundamental sebagai sumber inspirasi dan landasan spiritual dalam menyelenggarakan negara dan membangun bangsa. Namun, tidak sebagaimana halnya Malaysia yang menempatkan Islam sebagai agama resmi negara atau Philipina yang sekular dan memisahkan agama dengan negara, di negara kita tidak ada jaminan atau keistimewaan apapun yang diberikan kepada Islam, meskipun Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas mutlak penduduk Indonesia.

Demikian kata Ketum PBB, Yusril Ihza Mahendra, di fanpage FB-nya, belum lama ini. Dalam kesepakatan para pendiri negara dalam menyusun draf UUD 45 mulanya jaminan itu ada, yakni jaminan konstitusional terhadap pelaksanaan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dan jaminan bahwa Presiden Indonesia adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam.

“Namun semua kesepakatan dalam draf UUD 45 itu dihapuskan ketika UUD 45 disahkan sehari setelah proklamasi pada tanggal 18 Agustus 1945.”


Dengan tidak adanya jaminan keistimewaan secara konstitusi, maka konsekuensinya, menurut Yusril, umat Islam wajib mampu untuk berkompetisi dan bersikap pro aktif dalam politik. “Jika umat Islam lengah, maka kekuasaan politik akan direbut oleh kekuatan-kekuatan politik yang belum tentu bersikap empati kepada Islam dan umatnya.

Bisa saja kekuasaan politik yang menentukan perjalanan bangsa dan negara adalah kekuatan sekular anti Islam yang didukung oleh kekuatan-kekuatan politik dan pemilik modal yang berada di luar negeri.” (Robi/)

Sumber : voa-islam.com

Diveto AS, DK-PBB Gagal Kutuk Zionis Bantai Warga Palestina di Gaza

Diveto AS, DK-PBB Gagal Kutuk Zionis Bantai Warga Palestina di Gaza

10Berita, NEW YORK  Atas prakarsa Kuwait, Dewan Keamanan (DK) PBB mengadakan rapat darurat Jumat (30/3/2018) malam, untuk mengeluarkan pernyataan bersama mengutuk penggunaan kekuatan berlebihan penjajah “Israel” terhadap warga Palestina yang menggelar unjuk rasa di Gaza.

Namun AS menghambat/memvetonya beberapa kali sehingga DK PBB gagal menyepakati pernyataan bersama tersebut, demikian seperti dilansir Aljazeera, Sabtu (31/3/2018)

Sementara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak “penyelidikan independen dan transparan” dan menegaskan kembali “kesiapan” badan dunia itu untuk merevitalisasi upaya perdamaian.

Duta Besar Kuwait untuk PBB, Mansour al-Otaibi, mengeluarkan pernyataan yang mengkritik Dewan Keamanan PBB karena gagal mengambil tindakan terhadap “Israel” yang membantai warga Palestina di Gaza, Jumat (30/3) kemarin. Belasan warga Palestina gugur ditembak militer Zionis dengan peluru tajam. (S)

Sumber: Aljazeera,  Salam Online.

Viral #2019GantiPresiden, Mardani: Sama Legalnya Seperti Pendukung Jokowi yang Inginkan Dua Periode

Viral #2019GantiPresiden, Mardani: Sama Legalnya Seperti Pendukung Jokowi yang Inginkan Dua Periode



10Berita, BEKASI —Mardani Ali Sera menilai gerakan #2019GantiPresiden yang digagasnya kemudian menjadi viral tidak melanggar konstitusi seperti yang dituduh beberapa kalangan.

Hal ini diungkapkan Mardani saat menjadi pembicara pada Mudzakarah Kebangsaan dalam rangka milad ke 26 Dakta Media Network di Hotel Horison, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/3/2018) lalu.

“Gerakan #2019GantiPresiden, sah, legal, konstitusional. Perlima tahun, kita seluruh rakyat Indonesia dapat kesempatan untuk mengganti nahkoda baru dan pemerintah dapat kesempatan perlima tahun. Begitu juga pendukung Pak Jokowi yang menginginkan dua periode itu legal, sah, dan konstitusional,” ungkap Mardani.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan gerakan #2019GantiPresiden adalah upaya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang kian terpuruk.  

“Hampir semuanya, naik dan turun segala sesuatu karena kepemimpinan. Tidak ada posisi yang mendapatkan penjelasan sampai 15 pasal di konstitusi kita selain posisi presiden. Karena di Indonesia sistemnya presidensial. Jadi negeri ini bobrokkah, diserang narkobakah, negeri ini ekonominya cuma lima persen, tidak bisa disalahkan selain presiden,” kata Mardani.

Menurut Mardani sudah sangat lama umat Islam mempercayai kepemimpinan bangas kepada orang-orang yang tidak memiliki kompeten.

“Apa itu hastag 2019 Ganti Presiden. Sudah terlalu lama umat ini mempercayakan dan menitipkan Indonesia ini kepada orang yang tidak berhak. Saatnya Indonesia diambil oleh ulama dan umat Islam sekarang,” tegas Mardani.* [Syaf/]

Sumber :voa-islam.com

Rezim yang Punya ‘Banyak Solusi’

Rezim yang Punya ‘Banyak Solusi’

Oleh: Zico Alviandri

10Berita, Emangnya kenapa kalau makanan kaleng mengandung cacing? Saat masyarakat heboh bahkan panik, sekali lagi menterinya pak Jokowi menunjukkan hal yang out of the box.

Dia adalah ibu Nila Moeloek, Menteri Kesehatan. Dengan meyakinkan, ia membuka mata masyarakat melalui pernyataannya yang dikutip banyak media dan kini jadi perbincangan viral. “Cacing itu sebenarnya isinya protein,” begitu terangnya.

Iya kan? Kecil-kecil gitu cacing juga mengandung protein kan? Nah, masalahnya apa? Makan aja! Toh itu bahan yang diperlukan tubuh. Jangan lupa, kaleng sarden juga mengandung zat besi lho! Silakan dimakan sekalian untuk melengkapi protein ikan+cacing.

Sungguh out of the box pemikiran seorang menteri dari kabinet pak Jokowi. Dan pemikiran yang tak terduga begini bukan cuma sekali. Sebelumnya sudah sering para menteri di Kabinet Kerja mengajukan solusi yang tak kepikiran sebelumnya kepada masyarakat.

Bulan Desember masih tak terlalu lama berlalu. Dan masyarakat masih banyak yang ingat tentang terobosan yang menghebohkan yang dicetuskan oleh menteri pertanian di bulan itu. Ketika ia merespon keluhan mahalnya harga daging, Andi Amran memberi solusi: mengganti sumber protein lain misalnya tutut atau keong sawah.

http://m.tribunnews.com/…/daging-sapi-mahal-menteri-pertani…

Nah, ide ini jelas tidak terpikirkan oleh menteri di negara lain, dari AS sampai Wakanda. Hanya menteri di pemerintahan pak Jokowi yang kepikiran untuk menyodorkan keong sawah sebagai pengganti daging sapi yang harganya tak kunjung murah kepada masyarakat. Plus bu Menkes sudah memperkenalkan makanan lain yang mengandung protein, yaitu cacing.

Gagasan ini mengingatkan saya kepada teman SMA ketika kami hendak study tour ke Way Kambas. Teman saya itu heboh mau meminta sperma gajah. “Buat apa coba?”, pikir saya waktu itu. Kan sperma itu kandungannya protein. Mending minum protein aja.

Nah, saya jadi pengen menyaingi ide brilian pak menteri: sperma hewan sebagai pengganti daging sapi. Gimana? Gak kalah brilian kan?

Solusi cerdas lain dikemukakan oleh Menteri Perdagangan merespon kenaikan harga cabai yang menggila. Kepada masyarakat, Enggartiasto Lukita menyarankan untuk menanam sendiri cabai yang diperlukan sebagai bahan masakan.

Tentu ini sebuah tawaran jalan keluar yang tidak diduga-duga. Apalagi bagi masyarakat yang rumahnya tak punya pekarangan dan terlalu sempit untuk diselipkan satu pot tanaman pun. Mereka tak kan pernah memikirkan terobosan cara begini. Terbukti sudah kecerdasan para menteri Kabinet Kerja.

https://m.detik.com/…/cabai-rawit-merah-rp-90000kg-mendag-t…

Ia juga yang pernah memberi sebuah penyelesaian masalah yang jenius saat merespon harga bawang putih yang melonjak. “Tidak usah makan bawang putih, tidak apa kan,” begitu katanya kepada media.

Bener tho? Kalau bawang putih ga dimakan, kita ga perlu pusing dengan harganya yang tinggi.

https://m.merdeka.com/…/mendag-soal-harga-bawang-putih-maha…

Solusi out of the box untuk rakyat miskin agar tidak pusing dengan anggaran belanja yang semakin tak berarti di pasar pernah juga dipaparkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani. Pada acara penyaluran program raskin/rastra tahun 2016 tingkat nasional di Bali, ia menyelipkan gagasan memukau dalam pidato sambutan. “Jangan banyak-banyak makan lah, diet sedikit tidak apa-apa,” begitu sarannya kepada rakyat miskin.

https://m.merdeka.com/…/menteri-puan-minta-orang-miskin-die…

Tentu ide itu adalah sebuah revolusi cara berpikir yang bernas namun sederhana yang disorot dalam sudut pandang yang pas sehingga menjadi booming.

Dan tak cuma menteri yang punya solusi cerdas. Pejabat lain juga ikut-ikutan. Contohnya dirut PLN, pernah menganjurkan begini agar tarif listrik murah: 
“Mau tarif listrik turun? Cabut meterannya,” katanya.

https://m.merdeka.com/…/trik-agar-bayaran-listrik-turun-tia…

Kalau meteran dicabut, apa yang mau kita bayar dari tagihan listrik? Ga ada kan… Dan kita terbebas dari beban.

Nah, itu tadi kan kabinet dan pejabatnya. Bagaimana dengan pak Jokowi sendiri? Tentu beliau sebagai pemimpin bangsa juga punya terobosan yang inovatif.

Saat menghadapi keluhan rakyat tentang harga cabai rawit yang naik tinggi, ia menyarankan: “Nggak usah beli cabai rawit. Belinya cabai yang hijau, yang merah juga pedes, sama saja.” Bener kan?

Rezim sekarang selalu punya solusi yang tak terpikirkan sebelumnya. Dan ke depan, kita akan terus mendengar kejutan-kejutan dari mereka. Rakyat akan terus bergumam, “oh iya ya… Bener juga… Kok ga kepikiran tadi ya…?” Mereka itu cara berpikirnya jauh di atas rakyat yang cuma bisa kritik tapi tak bisa beri solusi.

Sumber : Ngelmu.co 

Keseriusan Pemerintahan Jokowi Menjaga Persatuan, Bisa Diukur Dengan Dimana Ahok Ditahan

Keseriusan Pemerintahan Jokowi Menjaga Persatuan, Bisa Diukur Dengan Dimana Ahok Ditahan


10Berita, PASCA penolakan Peninjauan Kembali (PK), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tetap diputuskan tidak ditahan di LP Cipinang dengan alasan kapasitas yang sudah penuh dan hukumannya di bawah 5 tahun. Artinya semua kasus terpidana sesudah dia, harusnya juga tidak ditahan di sana, jika memenuhi dua alasan yang sama.

Benarkah demikian yang terjadi? Kalau tidak, maka patut diduga pemerintah dan aparat sebenarnya hanya mencari-cari dalih untuk memberikan “kenyamanan” masa tahanan kepada Ahok.

Keseriusan dimana Ahok ditahan sangat penting bagi publik karena Ahok adalah terpidana kasus penista agama, yaitu kasus yang sangat potensial memecahbelah bangsa dan negara ini. Ketidakseriusan pemerintah dan aparat menghukum secara tegas Ahok menunjukkan ketidakseriusan pemerintah tentang bahayanya tindakan memecahbelah bangsa dan negara.

Menjadi antitesis luar biasa ketika Presiden Jokowi yang pernah sibuk dengan jargon #SayaPancasila, tapi membiarkan pelaku pemecah belah yang berjiwa Anti Pancasila seperti Ahok malah tidak dihukum tegas di tempat yang tegas untuk jadi pembelajaran publik agar tak berulang.

Harusnya bukan Ahok yang tidak ditempatkan di LP Cipinang, tapi sebaliknya sebanyak mungkin tahanan LP Cipinang yang sudah memasuki tahap asimilasilah yang dikeluarkan dan dipindahkan ke Rutan Mako Brimob sehingga Ahok bisa ditempatkan dengan tegas di LP Cipinang. Tidak boleh ada pengistimewaan kepada Ahok. Apalagi dengan tindakannya mengajukan langsung ke tahap PK menunjukkan bahwa yang bersangkutan memang tidak pernah merasa bersalah dengan perilakunya yang menghina agama dan menggiring ke potensi perpecahan kerukunan antar umat beragama.

Tidak cukup sampai di sini, malah ada kekonyolan baru dengan munculnya pihak yang memberikan saran sebaiknya Presiden Jokowi memberikan grasi kepada Ahok. Jika saran ini didengar dan dilakukan oleh Jokowi, maka bukan diduga lagi, tapi langsung dapat disimpulkan bahwa Jokowi selama ini memang berpihak kepada Ahok dan tidak perduli dengan penistaan yang dilakukan Ahok. Artinya semakin jelas bahwa Jokowi memang tidak pantas menjadi presiden.

Tentu kita semua berharap dan masih berpikir, rasanya tidak mungkin hal ini dilakukan Jokowi yang masih berhasrat berkuasa dua periode. Menyegerakan Ahok ditahan di LP Cipinang justru akan lebih menunjukkan keseriusan Jokowi tentang bangsa ini memang tegas menjaga persatuan dan tidak akan bubar dalam waktu dekat atau lama.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategi Indonesia

Sumber: rmol

PAN tidak terima dengan Kalimat ‘Membereskan Amien Rais’

PAN tidak terima dengan Kalimat ‘Membereskan Amien Rais’



10Berita, Sinyal Partai Amanat Nasional (PAN) yang ingin merapat ke poros pengusung Joko Widodo bakal sedikit terhambat. Hal itu karena Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sudah bulat mencalonkan kembali Jokowi di pilpres nanti, mewanti-wanti PAN jika ingin bergabung dalam koalisi Jokowi.

Wasekjen PPP, Achmad Baidowi mengatakan, jika ingin bergabung PAN terlebih dulu membereskan sikap Amien Rais yang selalu berseberangan dengan pemerintah. Namun Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais yang juga putra Amien Rais keberatan dengan adanya kata “menertibkan atau membereskan”.

“Tentu saya keberatan dengan frasa ‘membereskan’. Menurut saya, itu kata yang kurang patut karena sebenarnya antarparpol ini juga pasti akan membangun koalisi,” jelas Hanafi, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (30/3).

Hanafi menambahkan, sesama partai politik (parpol) pasti akan membangun koalisi untuk bisa ikut dalam kontestasi mengusung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di Pilpres 2019. Oleh karena itu, seharusnya semua politikus menjaga kondusitivitas suasana di tahun politik ini.

“Maka sebaiknya, parpol yang pasti akan berkoalisi untuk mengusung capres-cawapres sebaiknya jaga suasana kondusif,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memberi sinyal bahwa partainya akan mendukung Joko Widodo sebagai capres di Pilpres 2019 mendatang. Sebenarnya, sinyal bergabungnya PAN ini disambut positif parpol lain yang sudah terlebih dulu menyatakan dukungan ke Presiden Republik Indonesia itu.

Sumber: Republika.co.id 

Mengukur Peluang TGB di Pilpres 2019

Mengukur Peluang TGB di Pilpres 2019


Tengku Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang/TGB)

10Berita, JAKARTA  Pendaftaran Pilpres 2019 tinggal menghitung bulan, yakni dimulai pada 4 agustus 2018 mendatang. Beberapa partai politik seperti PDIP, Nasdem, PPP, Golkar, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Hanura dan Perindo telah mendeklarasikan dukungannya kepada petahana Joko Widodo.

Namun di samping itu, umat Islam, khususnya para simpatisan Aksi 212, belum juga menyatakan sosok calon yang akan didukung dalam Pilpres mendatang. Apalagi Koalisi Partai Gerindra dan PKS yang selama ini dekat dengan kalangan Islam, belum juga mendeklarasikan secara resmi calonnya.

Meski demikian, sosok Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr Muhammad Zainul Majdi, MA atau yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB), saat ini kerap Disebut-sebut berpeluang maju di Pilpres sebagai representasi umat Islam.

Ketua DPP PKS yang menjadi ketua pemenangan pasangan Anies-Sandi pada Pilgub DKI 2017, Mardani Ali Sera, menyebut TGB sebagai sosok yang layak dipromosikan.

Hal itu menurut Mardani dapat dilihat dari kesuksesan TGB dalam memimpin NTB selama 2 periode. Apalagi TGB sendiri, kata dia, adalah tokoh umat Islam.

“TGB di antara tokoh umat yang luar biasa. Menurut saya beliau dengan kepemimpinan dua periode di NTB yang sukses sangat layak dipromosikan,” kata Mardani Ali Sera kepada Salam-Online saat ditemui di Bekasi dalam  sebuah acara baru-baru ini.

Namun, apakah nanti TGB dapat dicalonkan oleh koalisi PKS dan Gerindra, menurut Mardani, hasil musyawarahlah yang akan menentukan.

Oleh karenanya, dia mengatakan bahwa umat Islam ataupun simpatisan 212 yang memiliki animo besar terhadap pencalonan TGB, harus segera bersilaturahim dengan partai-partai politik, mengingat, kata dia, presidential treshold 20 persen adalah milik parpol.

“Setelah ini temen-temen 212 atau kalangan Islam perlu segera silaturahim kepada partai-partai sehingga aspirasinya bisa diserap,” harap Mardani.

Cawapres Gerindra-Demokrat

Partai Demokrat yang menjadi tempat bernaung TGB sendiri sampai saat ini juga belum menentukan sikapnya terkait Pilpres 2019. Apakah nanti partai yang berkuasa selama satu dekade sebelum Jokowi itu akan membuat koalisi baru atau malah justru merapat ke koalisi Gerindra-PKS.

Demokrat sendiri, selain TGB, masih memiliki kader lain yang juga berpeluang untuk maju di Piplres mendatang. Sosok itu adalah yang kalah dalam kontes Pilgub DKI tahun lalu. Dia adalah anak dari Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambag Yudoyono (SBY), Presiden RI ke-6, yakni Agus Harimurti Yudhoyono  (AHY).

Namun jika nantinya Demokrat harus merapat ke Gerindra, Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengungkapkan, Prabowo Subianto harus memilih cawapresnya dari Partai Demokrat. Dan, sosok TGB-lah yang lebih pantas ketimbang AHY, kata Riza.

“Memang itu (Zainul Majdi) yang termasuk dalam nominasi cawapres Prabowo Subianto,” ungkap Riza sebagaimana dikutip Jawapos.

Apalagi, Menurut Ahmad Riza, kader Partai Demokrat itu memang memiliki kapasitas, sehingga cocok masuk dalam radar pendamping Prabowo. TGB juga, kata dia, memiliki hubungan baik dengan Prabowo.

“Yang bersangkutan itu (TGB) dianggap cukup baik dan punya hubungan baik dengan Prabowo Subianto,” ujar Riza.

Menarik Suara Umat

TGB sendiri adalah salah seorang pejabat negara yang menjadi simpatisan 212. Lebih-lebih pada aksi 411 TGB sendiri hadir di tengah-tengah demonstran. Hal itu jelas menjadi bukti bahwa TGB berada di pihak kebanyakan umat Islam.

Center of Study for Indonesian Leadirship (CSIL) menganggap tak cukup hanya memiliki keberpihakan terhadap umat Islam atau 212, ada beberapa hal yang perlu dilakukan TGB untuk dapat menarik suara umat secara keseluruhan.

Menurut Direktur CSIL Aji Dedi, TGB harus dapat mengonsolidasi dengan matang umat Islam secara keseluruhan dan masyarakat secara umum. Karena, menurut Aji, persoalan bangsa bukan hanya soal pembangunan, tapi juga ada beberapa hal lain yang mesti dikonsolidasikan secara luas.

“Konsolidasi umat dan bangsa menjadi prioritas kita. Karena pembangunan tanpa diselesaikan dengan konsolidasi, itu akan gonjang ganjing,” kata Aji saat dihubungi Salam-Online.

Selain itu, ujar Aji, TGB juga harus dapat mencitrakan dirinya sebagai sosok yang bersih dan berkomitmen dalam perjuangan umat, untuk dapat meraih suara.

“Pemimpin yang bersih, bukan kutu loncat. Jadi perjuangannya untuk umat itu terlihat,” ungkap Aji.

Sosok TGB sendiri dianggap Aji sebagai sosok yang wajar jika saat ini mendapatkan dukungan yang cukup besar dari umat. TGB juga, terang Aji, adalah salah satu pemimpin yang menjadi penilaian CSIL yang nantinya dapat direkomendasikan.

“Tapi masih ada beberapa tokoh yang kita timbang-timbang,” ujarnya.

Sosok Kader Partai Islam yang Membelot

TGB bukan hanya seorang politisi belaka, dia juga adalah sosok ulama yang cukup disegani di NTB. TGB memperoleh pendidikan formalnya dari mulai strata satu sampai doktor di Universitas Islam tertua di dunia, Universitas Al-Azhar Kairo.

Keilmuannya pada bidang Tafsir tidak bisa diragukan. Terbukti saat meraih gelar Master of Art (MA) dia lulus dengan predikat Jayyid Jiddan atau sangat baik. Sementara ketika meraih gelar doktor, disertasinya mendapatkan nilai Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude.

Setelah menamatkan gelar doktornya, TGB pada 2004 memutuskan untuk terjun ke dunia politik, bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB). Melalui partai itulah TGB akhirnya berhasil duduk di DPR RI masa jabatan 2004-2009.

Diusung oleh PBB dan PKS, pada 2008 TGB akhirnya berhasil menjadi Gubernur NTB. Namun pada Pilgub 2013, yang kembali memenangkan dirinya, TGB memutuskan untuk berpaling dari PBB dan menjatuhkan hatinya kepada partai penguasa negeri saat itu, Demokrat. Sampai saat ini, TGB masih tercatat sebagai kader partai tersebut.

Terlepas dari itu semua, TGB sendiri selama menjabat Gubernur, kerap mendapatkan banyak penghargaan. Jumlah penghargaannya jika diurutkan menurut tahun adalah, 2008 dua penghargaan, 2009 sebelas penghargaan, 2010 sembilan penghargaan, 2011 enam penghargaan, 2012 sembilan penghargaan, 2013 enam penghargaan, 2014 delapan penghargaan, 2015 sembilan penghargaan, 2016 tujuh penghargaan dan beberapa penghargaan di tahun 2017 seperti Gubernur Terbaik, Penghargaan Transparansi dan Akuntabilats Pengelolaan Keuangan, Penghargaan Nasional terbaik tentang kepatuhan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), dan lainnya. (MNM)

 Sumber:Salam Online.

MAKJLEB! Sindir Menkes, Suryo Prabowo: Selempeng-Lempengnya Orang Bila Dipimpin oleh Tukang Ngeles Ya Lama-Lama Pinter Ngeles

MAKJLEB! Sindir Menkes, Suryo Prabowo: Selempeng-Lempengnya Orang Bila Dipimpin oleh Tukang Ngeles Ya Lama-Lama Pinter Ngeles


10Berita, Geger temuan cacing dalam produk ikan kaleng makarel menjadi bahan pembicaraan yang hangat belakangan ini.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan cacing yang berada pada ikan makarel, mengandung protein.

"Setahu saya itu (ikan makarel) kan nggak dimakan mentah, kita kan goreng lagi, atau dimasak lagi, cacingnya mati lah. Cacing itu sebenarnya isinya protein, berbagai contoh aja tapi saya kira kalau udah di masak kan saya kira juga steril. Insya Allah gak jadi," kata Menkes di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 29 Maret 2018.

Pernyataan Menteri Nila dikomentari oleh Letjen TNI (Purn) Suryo Prabowo.

"sepandai-pandainya orang
bila dipimpin oleh orang bodoh
ya ..... lama-lama ketularan bodoh

selempeng-lempengnya orang
bila dipimpin oleh tukang ngeles
ya ..... lama-lama pinter ngeles lah," tulis Suryo Prabowo melalui akun twitternya @marierteman.

sepandai-pandainya orang
bila dipimpin oleh orang bodoh
ya ..... lama-lama ketularan bodoh

selempeng-lempengnya orang
bila dipimpin oleh tukang ngeles
ya ..... lama-lama pinter ngeles lahhttps://t.co/Y2vt1Enmds

— J.S. Prabowo (@marierteman) March 31, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

LUAR BIASA! Saat Kunjungi TEMPO, Jenderal Gatot "Bela" Habib Rizieq

LUAR BIASA! Saat Kunjungi TEMPO, Jenderal Gatot "Bela" Habib Rizieq


10Berita,  JAKARTA - Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengunjungi media TEMPO pada Selasa 27 Maret 2018 lalu.
Tak diduga, dalam kunjungan dan bincang-bincang dengan awak media TEMPO, jenderal bintang empat ini membela Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Shihab.

Seperti dilansir TEMPO pada Jumat (30/3), Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan perkenalan dengan pendiri Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Shihab.

Menurut Gatot, tidak ada yang perlu dicemaskan dengan kebangkitan konservatisme agama di Indonesia. Ia meyakini Habib Rizieq Shihab adalah orang yang paham ideologi pancasila.

“Temui saja Habib Rizieq, bicara tentang Pancasila. Kalau perlu hadapkan dengan Tim Pancasila (Badan Pembinaan Idologi Pancasila bentukan Presiden Jokowi -red). Dia jago sekali,” kata Gatot saat mengunjungi TEMPO pada Selasa 27 Maret 2018.

Gatot pun sangsi jika Habib Rizieq memang mengharapkan dasar negara berdasarkan syariat Islam.

“Apakah pernah dia bicara negara berdasarkan syariat Islam? Enggak,” ujarnya. Ia menegaskan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sudah final lantaran sudah melembaga di benak para ulama dan murid-murid perumus Pancasila.

Gatot dikenal sebagai Panglima TNI yang dekat dengan para ulama. Kedekatan itu bukan tanpa sebab. Menurut dia, kedekatan itu untuk mengurangi potensi konflik horisontal karena perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. “Indikasi ini sudah muncul dan itu yang harus saya jaga. Jangan sampai itu terjadi,” kata Gatot.

Gatot menceritakan kedekatannya dengan Habib Rizieq berawal saat dirinya membantu pemulihan pascagempa dan tsunami di Aceh pada 2004. Gatot yang saat itu menjadi staf untuk Alwi Shihab yang ketika itu menjabat sebagai menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, bertemu dengan kelompok relawan FPI yang dipimpin Habib Rizieq Shihab. “Habib Rizieq dan kelompoknya ikut dalam kelompok pencari jenazah,” ujarnya.

Kelompok Relawan FPI yang dipimpin Habib Rizieq Shihab inilah yang bertugas mencari mayat-mayat secara mandiri hingga ke tempat terpencil. “Dia tidak minta apa pun, cuma kantong mayat. Itu yang saya lihat,” kata Gatot Nurmantyo, yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Darat.

Simber: https://nasional.tempo.co/read/1074721/gatot-nurmantyo-sebut-rizieq-shihab-jago-sekali-tentang-pancasila

***

Terimakasih Pak Jenderal Gatot