OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 03 April 2018

Bercuit Soal Putin, Goenawan Mohamad DIHAJAR Warganet: Di Sana Nggak Ada Media Boong Kayak Punya Elu!

Bercuit Soal Putin, Goenawan Mohamad DIHAJAR Warganet: Di Sana Nggak Ada Media Boong Kayak Punya Elu!


10Berita, Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon soal Pitin dan pemimpin yang tidak plonga-plongo baru-baru ini ternyata demikian membekas di benak budayawan Goenawan Mohamad.

Dengan semangat '45, ia menyanggah perkataan Fadli dan bercuit melalui akun media sosial twitternya @gm_gm bahwa pemimpin haruslah plonga-plongo.

Cuitan tersebut lalu viral dan justru dijadikan bahan tertawaan oleh warganet. Tapi rupanya ia belum kapok.

Ahad, 1 April 2018, Goenawan mengunggah infografis daftar kekayaan Putin dan juga menyebut soal paham komunisme yang dianut Putin.

"Putin, dulu perwira KGB (dinas rahasia Uni Soviet ketika Komunisme menguasai Rusia), kini berkuasa lagi — dan jadi orang yang lebih kaya ketimbang jutawan2 AS, menurut penerbitan terkemuka Forbes," cuit Goenawan.

Putin, dulu perwira KGB (dinas rahasia Uni Soviet ketika Komunisme menguasai Rusia), kini berkuasa lagi — dan jadi orang yang lebih kaya ketimbang jutawan2 AS, menurut penerbitan terkemuka Forbes. pic.twitter.com/cNL3jcSUgT

— goenawan mohamad (@gm_gm) March 31, 2018


Tak disangka-sangka, cuitan GM ditanggapi keras oleh warganet.

Putin mengakhiri komunisme di awal 2000, pak tua. Sekarang Rusia termasuk negara kapitalis hanya saja pendidikan dan kesehatan gratis dan rakyatnya gak punya media bo'ong kayak media elu. https://t.co/3NKiq54tBL

— Linda Baroes (@lindabaroes) April 2, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Gincu Politik Pemberdayaan Perempuan

Gincu Politik Pemberdayaan Perempuan


Oleh: Siska Dewi Septiani, S.I.P.

(Alumni Prodi Manajemen Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada)

10Berita, Secercah harapan muncul dalam hasil verifikasi dan penetapan parpol peserta pemilihan umum (pemilu) 2019 pada Sabtu, 17 Februari 2018 di tengah stagnasi keikutsertaan perempuan dalam parlemen. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi partai yang memiliki keterwakilan perempuan dalam kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) tertinggi, yaitu sebanyak 66,66 persen (detikNews, 17/2/2018).

Angka ini terbilang langka di kalangan partai-partai lama mengingat hingga saat ini kaum laki-laki masih mendominasi kancah percaturan politik Indonesia. Ditambah lagi meskipun tergolong partai yang baru, PSI sudah sangat lekat dengan public figureperempuannya, misalnya Grace Natalie dan Tsamara Amany. Maka, wajar jika mereka sangat berharap dapat mewakili suara perempuan melalui tingginya keterwakilan perempuan dalam kepengurusannya (detikNews, 17/2/2018).

Di sisi lain, Kaukus Perempuan Parlemen RI (KPP-RI), Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), dan Maju Perempuan Indonesia (MPI) telah bergerak terlebih dahulu supaya Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan keterwakilan perempuan dalam pemilu pada hari Jumat, 26 Januari 2018 (Tempo.co, 26/1/2018).

Ada empat aspirasi yang mereka sampaikan kepada KPU, yaitu memastikan partai politik mengakomodasi kebijakan afirmasi berupa kuota minimal 30 persen di daftar caleg dan penempatan minimal satu perempuan di antara tiga caleg yang diajukan partai politik atau parpol, memastikan keterpilihan perempuan dengan meminta parpol menempatkan perempuan di nomor urut satu di minimal 30 persen daerah pemilihan.

Penyelenggara pemilu diminta memastikan dan melakukan pengawasan kepada partai politik peserta pemilu untuk memenuhi ketentuan yang telah diatur perundang-undangan, dan meminta terobosan peraturan untuk menjamin keterpilihan perempuan dengan salah satunya memastikan satu dari tiga calon legislator terpilih adalah perempuan (Tempo.co, 26/1/2018).

Keterwakilan perempuan bukan barang baru karena telah menjadi agenda dari Millenium Development Goals (MDGs) yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Implementasi SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TBP) di Indonesia kemudian diwujudkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Perpres tersebut memuat 17 TBP yang salah satunya adalah mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan. Tujuan ini dibreakdown menjadi lima sasaran, yaitu mengakhiri diskriminasi perempuan, menghilangkan kekerasan terhadap kaum perempuan, menghilangkan praktik berbahaya, menjamin partisipasi dan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memimpin pengambilan keputusan, dan menjamin akses terhadap kesehatan seksual dan reproduksi serta hak reproduksi.

Keterwakilan perempuan dalam parlemen dan lembaga eksekutif merupakan jalan untuk mewujudkan kebijakan yang mampu merealisasikan kelima sasaran tersebut. Namun, pada faktanya pengaruhnya terhadap masalah perempuan belum terlihat secara signifikan. Tercatat pada tahun 2016 berdasarkan data Komnas Perempuan terdapat 245.548 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian dan kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 1.799 kasus (Kompas.com, 7/3/2017).

Kemudian kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diadukan bertambah menjadi sekitar 300 ribu kasus pada tahun 2017 (Tempo.co, 15/2/2018). Masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan menunjukkan masih banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemangku kebijakan, khususnya perempuan. Belum lagi keterlibatan kepala daerah dan anggota parlemen perempuan dalam korupsi yang menodai kepercayaan masyarakat terhadap kapabilitas perempuan dalam berpolitik.

Munculnya isu perempuan, khususnya kasus KDRT, menurut Koordinator Bidang Pemantauan Komisi Nasional Perempuan, Dewi Ayu Kartika Sari, disebabkan masih adanya budaya patriarki, pendidikan gender, dan ketimpangan relasi gender dalam keluarga, yang mana perempuan selalu dianggap hanya berkewajiban di rumah, menjaga anak, mengurus keluarga (Tempo.co, 15/2/2018).

Itu adalah cara pandang yang sempit dalam menganalisis suatu masalah yang multidimensional. Problematika KDRT serta isu-isu perempuan lainnya tidak pernah terlepas dari sistem politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan yang menaunginya. Sistem politik yang menjadikan akal manusia sebagai sumber dalam pengambilan keputusan menghasilkan politik transaksional yang menyesuaikan kepentingan orang atau kelompok yang berkuasa tanpa benar-benar berpihak kepada masyarakat.

Sistem ekonomi yang kapitalis-materialistis menyebabkan ekonomi hanya dikuasai oleh para pemilik modal dan memperlebar disparitas antara si kaya dan si miskin sehingga perempuan dengan sukarela maupun terpaksa keluar dari ranah domestik dan menghilangkan prioritas utama sebagai seorang ibu.

Sistem sosial yang liberal menimbulkan sikap remeh terhadap urusan rumah tangga dan pengasuhan anak yang dianggap tidak menghasilkan materi, di samping menyuburkan pergaulan tak sehat antara laki-laki dan perempuan melalui pacaran dan pembebekan terhadap lifestyle Barat yang hedonis. Sistem pendidikan yang sekuler mengebiri Islam menjadi khazanah keilmuan semata yang hanya boleh diterapkan di masjid untuk diri sendiri.

Dengan demikian, isu perempuan selayaknya dipandang sebagai salah satu cabang dari seluruh problematika sistemik sehingga solusi yang dibutuhkan juga berupa solusi yang fundamental dan komprehensif, bukan dengan affirmative action yang justru bertentangan dengan Islam dan menjauhkan perempuan dari peran yang sesungguhnya.

Rasulullah bersabda “Tidak akan pernah menang suatu kaum yang menyerahkan urusan (kekuasaannya) kepada perempuan” (HR. Bukhori).

Maka, siapakah yang lebih mengetahui fitrah perempuan dan segala pemecahan masalah selain Allah Sang Pencipta? [syahid/]

Sumber :voa-islam.com

Ippho Santosa : Mereka Seenaknya Melecehkan Islam. Apa mungkin karena mereka sadar bahwa mereka kebal hukum?

Ippho Santosa : Mereka Seenaknya Melecehkan Islam. Apa mungkin karena mereka sadar bahwa mereka kebal hukum?


Oleh: Ippho Santosa

10Berita, Dalam azan, sebenarnya ada dua seruan. Pertama, seruan untuk sholat. Kedua, seruan untuk menang. Ayo sholat, ayo menang. Menurut saya, ini hebat sekali. Lebih hebat dari yell-yell motivasi manapun!

Dua aktor ternama Hollywood, Liam Neeson juga Will Smith, sempat terpana dan terpesona dengan #SuaraAzan. Ini terjadi di Turki dan di India. Justin Bieber bahkan pernah menghentikan sejenak konsernya demi menghormati azan.

Nggak percaya? Silakan googling berita-beritanya. Sahih insya Allah. Ternyata mereka bertiga lebih pancasilais ketimbang si pembaca puisi itu. Btw, suara azan dianggap kalah merdu, menurut si pembaca puisi itu.

Apa pendapat saya? Pernyataan dia jelas-jelas menghina dan merendahkan. Repotnya, kalau kita protes, ntar kita dianggap terlalu vokal dan radikal. Padahal siapa yang bermulut kasar dan berpikir dangkal?

Kita berulang kali diminta untuk sabar dan menjaga sikap. Selaluuu begitu. Sementara orang-orang seperti dia seenaknya tidak menjaga mulut dan tidak menjaga sikap. Apa mungkin karena mereka sadar bahwa mereka kebal hukum?

Azan itu istimewa. Pesan Nabi, kalau ada azan, dengarlah dan jawablah. Selesai azan, berdoalah. Bayangkan, ini reminder dan calling untuk beribadah kepada-Nya. Sarat dengan doa serta harapan. Itu kan indah sekali. Setidaknya, bagi seorang Muslim yang masih punya iman di hatinya.

Bagi saya, kalau kau belum tahu soal syariat, kalau kau belum tahu soal azan, #belajarlah. Jangan pongah. Tak perlu pula kau rendahkan azan dan kau banding-bandingkan dengan kidung serta puisi.

Kalaupun kau tak mau belajar soal syariat dan azan, yah diam dan hormatilah. Ini Indonesia. Saling menghormati, saling menghargai, itu baru namanya Indonesia, itu baru namanya Pancasila.

Di sisi lain, bagi seluruh Muslim, saya menganjurkan kita semua untuk introspeksi. Barangkali selama ini kita sering mengabaikan azan. Tidak mengindahkan. Allah izinkan peristiwa ini terjadi, mungkin agar kita kembali mengingat pentingnya azan dan pentingnya sholat.

Tulisan ini boleh di-share. Berulang-ulang. Seluas-luasnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Sumber :Dakwah media 

Dibelit Kasus Korupsi E-KTP, Ganjar Ndableg Blusukan ke Pasar Bawa Juru Foto

Dibelit Kasus Korupsi E-KTP, Ganjar Ndableg Blusukan ke Pasar Bawa Juru Foto


10Berita, Ganjar Pranowo main di pasar. Dua polisi di belakang. Ada juru foto. Blusukan, gaya Joko. Hari pencoblosan sebentar lagi. Smartphone keluar dari saku. Ckreek. Selfie. Pasarnya sepi. Warga pedagang tidak antusias.

Hanya ada seorang ibu pedagang rempah-rempah. Duduk cuek di hadapan Ganjar yang selfie. Tangan kanan si ibu menjulur ke samping. Tampak terayun. Seperti orang sedang berkata, "Pergi kau...!!"

Ganjar hebat. Mental juara. Semboyan kaosnya "Jangan Lupa Bahagia".

Dia masih bisa blusukan, temui masyarakat, selfie-selfie sambil nyengir. Ya dia lakukan itu di saat namanya disebut-sebut terima jatah fee proyek E-KTP

Penyidik KPK Novel Baswedan berkata minimal Ganjar tau soal bagi-bagi duit itu. Novel adalah adik sepupu Gubernur Jakarta. Pantas Ahoker dan Pro Ganjar meradang dan tebar fitnah terhadap Anies.

Supaya publik tertipu, mereka katakan Jakarta rusak di tangan Anies. Padahal nyatanya, Jakarta semakin bersih, indah, tentram dan damai pasca Anies jadi gubernur.

Semua itu perlu mereka lakukan. Supaya reputasi Sudirnan Said jatuh. Karena dia dekat dan diback-up Anies.

Selain Novel, ada Nazarudin, Setya Novanto, Irvanto dan Miryam yang mengatakan Ganjar terima duit.

Di situ, jagonya Ganjar. Orang biasa sudah ketar-ketir menghadapi dilema E-KTP. Dia masih bisa blusukan dan bahagia. Persis seperti tulisan di kaosnya, "Jangan Lupa Bahagia", beda dengan kaos Sudirman Said bertuliskan "Jangan Korupsi. Pasti Bahagia".

Saya bertanya-tanya, apa kunci mental Ganjar. "I believe the answer to that question, like the answer to most questions, is fuck you!" kata Phillip 'Lip' Gallagher (Jeremy Allen White).

Penulis: Zeng Wei Jian

Sumber : PORTAL ISLAM

Resmi Sukmawati Akhirnya Dipolisikan Oleh Pengacara Ini

Resmi Sukmawati Akhirnya Dipolisikan Oleh Pengacara Ini


10Berita, Puisi ‘Ibu Indonesia’ karya Sukmawati Soekarnoputri berujung pada dua laporan polisi. Sukmawati dilaporkan atas dugaan penistaan agama islam lewat puisinya tersebut.

Salah seorang pelapor, Denny Andrian Kusdayat, mengatakan dasar pelaporan itu karena Sukmawati membandingkan syariat islam dengan sari konde. Padahal menurutnya kedua hal tersebut tak bisa dibandingkan sama sekali.

“Kalau dari sisi saya pengacara, kita pengacara pasti bilang semua ahli hukum. Yang pertama saat dia berkata bahwa syariat Islam disandingkan dengan sari konde. Itu kan jelas, menurut kami nggak bisa disandingkan seperti itu syariat Islam,” kata Denny di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Kalimat lain yang disoal oleh Denny adalah saat Sukmawati membandingkan suara kidung ibu Indonesia dengan lantunan azan. Menurut Denny, azan itu berisi lafaz Allah yang tak sebanding dengan kidung Ibu Indonesia.

“Tidak perlu dia menyandingkan dengan kalimat kidung ibu pertiwi lebih indah dari pada azan. Apapun itu, itu lafaz Allah. Mau dia ibu Sukmawati dengan alasan bahwa dengan suara azan jelek apapun, sekarang saya dengar bantahan, dia tidak pernah minta maaf tapi dia hanya buat bantahan,” kata dia.

Denny meminta Sukmawati tidak banyak bicara jika tak tahu banyak soal syariat Islam. Dia juga meminta aparat kepolisian memproses secara tepat laporan yang telah dibuat.

“Polisi harus bertindak cepat, kalau dia menyandingkan soal syariat islam dengan konde apa lah. Saya minta menyandingkan, kepada polisi saya sandingkan dengan kasua Ahok. Lebih parah dia lebih Ahok. Dia harus naik,” ujar dia.

Laporan Denny tertuang dalam laporan polisi bernomor TBL//1782/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimum tanggal 3 April 2018. Perkara yang dilaporkan adalah dugaan tindak pidana penistaan agama dengan pasal 156 A KUHP dan atau pasal 16 UU No 14 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Selain Denny, Sukmawati juga dilaporkan oleh Ketua DPP Hanura Amron Asyhari. Dia melaporkan kasus ini bukan atas nama institusi partai melainkan secara personal.

Amron menilai Sukmawati harusnya lebih bijak dalam membuat puisi. Kata dia, Sukmawati seharusnya membacakan puisi yang merangkul dan menenangkan.

“Kalau saya secara pribadi, dia jangan pakai bahasa bahasa yang kontroversi yang membuat gerah,” tutur dia.

Selain itu, menurut Amron, puisi Sukmawati ini lebih parah dibandingkan dengan kasus penodaan agama Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dalam puisi tersebut, Amron menganggap ada unsur kesengajaan untuk menodai agama.

“Kalau Ahok itu autodidak, secara responsif. Kalau beliau ini puisi, sudah dia catat, baca kaji ulang setelah itu dituangkan. Ini lebih parah dibanding Ahok,” paparnya.

Laporan Amron tertuang dalam laporan polisi bernomor TBL/1785/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimum tanggal 3 April 2017. Perkara yang dilaporkan adalah dugaan tindak pidana penistaan agama dengan pasal 156 A KUHP.

Sumber: detik

Barisan Emak Militan Kembali Didzalimi [Catatan Pembelaan Persidangan]

Barisan Emak Militan Kembali Didzalimi [Catatan Pembelaan Persidangan]


Oleh: Ahmad Khozinudin S.H.
Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

10Berita, Rezim memang tidak akan pernah puas dengan satu kedzaliman. Setelah selesai satu kedzaliman, rezim berusaha merealisir kedzaliman yang lain.

Pengadilan telah memvonis Ujaran kritisme Barisan Emak Militan dengan menghukum Asma Dewi melalui Vonis yang dipotong masa tahanan. Kini kembali, seorang ibu berputra 4 (empat) dua diantaranya masih kecil (berusia 10 dan 8 tahun), ditangkap dan ditahan divisi cyber Polda Metro Djaya hanya karena mengupload konten meme bertuliskan “PDIP TIDAK BUTUH SUARA UMAT ISLAM”.

Kritisme atas PDIP sebenarnya wajar, karena dinamika penolakan Perppu Ormas telah menguatkan PDIP menjadi sasaran kritik publik, karena dianggap sebagai pihak pendukung Perppu diktator.

Dinamika opini itu menyeret perdebatan sengit PDIP melawan publik, dimana mayoritasnya adalah umat Islam. PDIP bahkan menyebut tidak khawatir atas posisi politiknya yang mendukung Perppu Ormas.

Rini Sulistiawati Binti Djoko Warsito, adalah barisan emak kedua setelah Asma Dewi, yang menjadi pesakitan karena didakwa melanggar ketentuan pasal 28 ayat (2) Jo pasal 45 ayat (2) UU nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE. Bahkan, Ibu empat ini juga didakwa dengan dakwaan kedua pasal 35 jo 59 ayat (1) UU nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.

Terdakwa Barisan Emak Militan kedua ini, diancam pidana 6 (enam) dan 12 (dua belas) tahun penjara.

Sejak sidang perdana pemeriksaan saksi dari penyidik Polda dan tim cyber Polda, banyak terdapat keganjilan dalam fakta persidangan. Pada sidang pertama, saksi pelapor yang berprofesi penyidik memberi pengantar bahwa dirinya tidak ada hubungan dengan PDIP, pelaporan murni inisiatif pribadi dalam kerangka menjalankan tugas.

Keanehan pertama, saksi pelapor mengaku tanpa sengaja menemukan konten yang dianggap bernada SARA (PDIP tidak butuh suara umat Islam) saat menghidupkan HP dan membuka akun jejaring sosial media (Facebook).

Saat ditanyakan beberapa pertanyaan, keterangan saksi ini diragukan. Saksi mengaku memiliki akun Facebook, tetapi tidak berteman dengan akun Facebook terdakwa, tidak di tag oleh upadate status terdakwa, tidak mendapat laman yang dibagikan terdakwa, namun secara tiba tiba bisa melihat konten meme.

Padahal, sepengetahuan penulis yang juga memiliki akun Facebook, pengguna facebook tidak mungkin bisa melihat konten update dari pengguna Facebook lainnya, kecuali mereka memiliki relasi hubungan pertemanan, ditandai dalam kiriman (tag) atau mendapat share (pembagian) konten kiriman.

Jadi sangat aneh jika pelapor bisa melihat konten meme terdakwa secara tidak sengaja kecuali pelapor berniat mencari tahu dengan mendatangi laman Facebook terdakwa atau melalui searching di Facebook. Berkali kali ditegaskan, pelapor tetap keukeuh bahwa konten meme yang dilihat terjadi secara tidak sengaja saat terdakwa mengaktifkan sosial media.

Keanehan Kedua, pelapor menuding terdakwa melakuan manipulasi (mengubah bentuk) konten meme hanya berdasarkan data pembanding berupa konten meme baliho yang di posting akun Facebook masjid jogokariyan Jogjakarta.

Meme asli diklaim bertuliskan “pesan istri kepada sang suamiku, carilah rezeki yang halal saja. Aku dan anak anakmu rela lapar dengan sedikit tetapi halal daripada kenyang namun dibakar api neraka”.

Kemudian pelapor menuding terdakwa mengedit dan mengubahnya menjadi “PDIP TIDAK BUTUH SUARA UMAT ISLAM, PDIP Megawati Soekarno Putri”.

Padahal, pelapor dan penyidik tidak pernah memanggil dan memeriksa pemilik akun masjid jogokariyan, tidak pernah melakukan ferifikasi faktual ke Jogjakarta untuk memastikan benar tidaknya keberadaan spanduk, tidak pernah pula secara langsung melihat terdakwa mengedit atau mengupload konten dimaksud.

Lantas apa dasar pelapor dan tim cyber menuding terdakwa mengubah bentuk konten meme ?

Keanehan ketiga, sejak ditetapkan tersangka Terdakwa ditahan dan barang bukti berupa HP milik terdakwa disita penyidik. Namun, saksi pelapor dan penyidik tim cyber hingga sidang ke empat tidak juga mampu menunjukan konten meme yang diperoleh dari sumber URL sesuai hasil BAP penyidik. Kemana raibnya konten meme yang dipermasalahkan ? Siapa yang bertanggung jawab ? Sebab saat BAP awal disebut URL konten meme masih bisa diakses.

Artinya fakta persidangan justru membuktikan absurdnya dakwaan jaksa atas terdakwa. Terdakwa tidak pernah mengedit konten meme, yang aneh lagi pelapor menyebut Redaksi meme dianggap ujaran kebencian terhadap PDIP yang dengan dasar tafsir itu pelapor yang notabene penyidik membuat laporan polisi.

Penulis berkeyakinan majelis hakim akan objektif melihat kasus. Melihat lemahnya bukti dan saksi yang dihadirkan dipersidangan, penulis selaku Penasehat Hukum terdakwa optimis hakim akan membebaskan terdakwa atau setidaknya melepaskan dari seluruh tuntutan. [].

Sumber: pojok-aktivis

Pergerakan PKB Gelar Aksi Makan Durian Tolak Cak Imin jadi Cawapres

Pergerakan PKB Gelar Aksi Makan Durian Tolak Cak Imin jadi Cawapres


10Berita, Komunitas massa aksi yang menamakan diri sebagai Pergerakan PKB menggelar aksi makan durian di depan kantor Dewan Pimpinan Pusat PKB. Aksi tersebut digelar untuk menyindir Muhaimin Iskandar atau Cak Imin atas kasus “kardus durian” saat menjabat Menaker. Kasus itu ditangani KPK.

Aksi dilakukan pukul 13.45 WIB, Senin (2/4). Dua pemimpin aksi menggelar sebuah spanduk dan meletakkan dua buah durian. Sejurus kemudian, di hadapan para polisi yang berjaga, mereka membuka durian tersebut dan memakannya.

“Ini merupakan bentuk protes kami terhadap Cak Imin yang terkena kasus duriangate. Di mana, ini merupakan simbol dari durian-nya Cak Imin,” ujar Faris Bada, koordinator aksi, ketika ditemui setelah aksi tersebut usai, di DPP PKB, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Kasus duriangate sendiri bermula saat KPK menemukan sebuah kardus durian di kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi saat melakukan OTT. Kardus durian tersebut berisi uang sebesar Rp 1,5 milliar. Saat itu, Cak Imin masih menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja.

Belakangan diketahui bahwa kardus tersebut dikirimkan oleh Dharnawati, selaku kuasa dari PT Alam Jaya Papua. Dari kasus ini sendiri, KPK akhirnya menangkap Dharnawati.

Uang tersebut merupakan uang terimakasih dari PT Alam Jaya Papua, kepada Kemenakertrans karena telah meloloskan PT tersebut sebagai pemegang proyek PPIDT (Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi) dengan nilai Rp 73 milliar.

“Tuntutan dari aksi ini sebenarnya untuk meminta Jokowi menjalankan poin 4 Nawacita yang berisi menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya, dan saya harap Jokowi tidak memilih Cak Imin sebagai cawapres,” kata Faris.

Sumber: kumparan

RADIKAL! FPI Turun Salurkan Beras, Sembako Dan Pakaian Untuk Para Korban Kebakaran Kembangan

RADIKAL! FPI Turun Salurkan Beras, Sembako Dan Pakaian Untuk Para Korban Kebakaran Kembangan


10Berita, Tiga hari lalu terjadi musibah kebakaran yang melanda ratusan rumah di Jalan Perumahan Taman Kota Blok A1, RT. 16, RW. 05, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis (29/3/2018) malam.

Dalam musibah kebakaran ini, tercatat 123 rumah pribadi dan 450 rumah kontrakan yang habis terbakar termasuk 53 Sepeda Motor.

Ada 1.252 jiwa yang tertimpa musibah dari total 316 Kepala Keluarga. Korban jiwa meninggal sebanyak 2 orang warga dan 1 orang petugas Petugas Pemadam Kebakaran.

Tak hanya kehilangan tempat tinggal, para warga korban kebakaran juga banyak yang kehilangan seluruh harta bendanya termasuk pakaian, bahkan untuk makan sehari-haripun kini mereka susah.

Namun alhamdulillah DPD FPI DKI dengan sigap segera turun ke lokasi bencana dan menyalurkan berbagai bantuan untuk para korban kebakaran di Perumahan Taman Kota, Kembangan, hari Ahad (1/4/2018) kemarin.

Bantuan yang diserahkan langsung oleh Abuya Abdul Madjid Ketua Tanfidzi DPD FPI DKI Jakarta itu berupa beras, sembako, mie instant, roti, pakaian dan berbagai bantuan lainnya.

Semuanya lillahi ta'ala dilakukan FPI demi untuk membantu meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita warga Kembangan yang sedang ditimpa kesusahan.

Tidak hanya DPD FPI DKI, Mujahidah Pembela Islam (MPI) sayap juang organisasi FPI juga turut menyalurkan bantuan. Sontak seluruh bantuan ini disambut dengan penuh rasa haru oleh para warga korban kebakaran.

Dalam peristiwa ini juga ada suatu hal yang unik yaitu sebuah Musholla yang tak tersentuh api sama sekali, Subhanallah.

Semoga berbagai bantuan ini bisa membantu meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita warga Kembangan yang sedang dilanda musibah kebakaran, dan FPI terus istiqomah dalam membantu sesama yang sedang kesusahan.

Keterangan foto: Penyaluran bantuan oleh FPI DKI dan MPI untuk para korban kebakaran di Perumahan Kota, Kembangan Jakarta Barat, Ahad 1/4/2018 serta foto Musholla yang tak tersentuh api. Dokumentasi foto dan video selengkapnya silahkan lihat di Channel Telegram Kegiatan FPI Yang Sebenarnya: http://t.me/KegiatanFPI

Sumber : PORTAL ISLAM

Myanmar Rayu Suku Budha di Bangladesh untuk Pindah Tempati Tanah Muslim Rohingya di Rakhine

Myanmar Rayu Suku Budha di Bangladesh untuk Pindah Tempati Tanah Muslim Rohingya di Rakhine

10Berita, RAKHINE, MYANMAR  - Pihak berwenang Myanmar telah merayu puluhan keluarga suku yang sebagian besar beragama Buddha untuk menyeberangi perbatasan dan bermukim kembali di tanah yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya yang melarikan diri, kata para pejabat, Senin (2/4/2018).

Sekitar 50 keluarga dari bukit terpencil dan kawasan hutan di sisi Bangladesh, yang tertarik dengan tawaran tanah dan makanan gratis, telah pindah ke negara bagian Rakhine di Myanmar yang mayoritas Budha - tempat terjadinya penumpasan brutal oleh tentara mendorong ratusan ribu Muslim Rohingya melarikan diri .

Keluarga-keluarga dari suku Marma dan Mro telah meninggalkan rumah mereka di distrik perbukitan Bandarban, kata anggota dewan setempat Muing Swi Thwee kepada AFP.

Dia mengatakan 22 keluarga berangkat dari desa mereka di Hutan Suaka Sangu bulan lalu.

Keluarga-keluarga itu, yang sebagian besar beragama Buddha tetapi dengan beberapa orang Kristen, "dibujuk oleh Myanmar" ke Rakhine di mana mereka diberi tanah gratis, kewarganegaraan, dan makanan gratis selama lima tahun, kata Muing Swi Thwee.

"Mereka pergi ke sana untuk mengisi tanah yang ditinggalkan oleh Rohingya yang telah meninggalkan Burma (Myanmar). Mereka sangat miskin."

Hampir 700.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Rakhine untuk kamp-kamp di Bangladesh yang mayoritas Muslim sejak Myanmar Agustus lalu melancarkan tindakan keras yang oleh para pejabat AS dan Amerika Serikat digambarkan sebagai pembersihan etnis.

Kesepakatan untuk memulangkan Rohingya belum melihat satu pengungsi pun yang kembali. Para pemimpin Rohingya mengatakan para pengungsi tidak akan kembali kecuali mereka diizinkan kembali ke desa-desa mereka, banyak yang telah dibakar oleh pasukan keamanan, daripada ke kamp-kamp pemukiman sementara yang seharusnya sementara.

Dua pejabat pemerintah di wilayah itu mengkonfirmasi migrasi tersebut, mengatakan bahwa 55 keluarga suku telah pergi ke Myanmar.

"Mereka dibujuk oleh beberapa orang di Myanmar dengan imbalan rumah gratis, makanan gratis selama lima-tujuh tahun. Beberapa keluarga telah pindah ke sana setelah tertarik oleh tawaran ini," kata Jahangir Alam, seorang administrator distrik pemerintah, kepada AFP.

Dia mengatakan beberapa kelompok suku memiliki keluarga di Rakhine dan kerabat ini digunakan untuk merayu suku-suku Bangladesh.

"Orang-orang ini memiliki kesamaan agama dan bahasa dengan Myanmar. Beberapa leluhur mereka telah menetap di sana di masa lalu," katanya.

Al Kaiser, pejabat pemerintah lainnya, mengatakan seorang pria suku tewas dan beberapa anggota keluarga terluka dalam ledakan ranjau ketika mereka menyeberang ke Myanmar dari kota Ali Kadam.

Para pejabat mengatakan mereka menduga motif politik di belakang migrasi tersebut.

"Kami pikir mungkin mereka (Myanmar) ingin membuat berita menggunakan orang-orang ini, bahwa umat Budha disiksa dan ditekan di Bangladesh dan itulah mengapa mereka meninggalkan negara itu," kata seorang pejabat yang tidak mau disebutkan namanya.

Seorang perwira keamanan Bangladesh mengatakan kepada AFP bahwa Myanmar telah memukimkan kembali ribuan umat Buddha di Rakhine dengan menggunakan skema pemukiman kembali yang menawarkan makanan gratis, rumah, sapi dan uang tunai.

Muing Swi Thwee mengatakan lebih dari 100 keluarga suku telah meninggalkan daerahnya menuju Myanmar dalam tiga tahun terakhir.

Para pengamat mengatakan pemerintah Myanmar sedang melaksanakan skema rekayasa sosial yang sistematis di Rakhine utara karena tidak adanya orang Rohingya.

Serangkaian proyek pembangunan, baik yang disponsori pemerintah maupun militer atau didanai oleh swasta, mengubah kawasan itu, yang dipandang oleh militer sebagai garis depan perjuangannya melawan perambahan Islam. (st/AFP)

Sumber :Voa-islam.com 

Israel Jagal Nomor Wahid

Israel Jagal Nomor Wahid


10Berita,  GAZA - Jumlah syuhada Palestina yang gugur di Jalur Gaza saat pelaksanaan aksi damai “Hak Kembali” sejak Jum’at (30/3) hingga hari ini bertambah menjadi 18 orang, menyusul syahidnya seorang pemuda yang terluka pada Senin (2/4).

Asyraf Qadurah, juru bicara bidang kesehatan Palestina dalam keteranganya mengatakan, seorang pemuda, Faras Raqib (29 tahun) akhirnya gugur syahid akibat luka-lukanya yang diderita pada Jum’at kemarin terkena tembakan peluru Zionis di bagian perutnya saat berdemonstrasi di bagian timur Khanyunis, Gaza selatan.

Dengan meninggalnya pemuda ini, makan jumlah korban keganasan Zionis di perbatasan mencapai 18 orang. Sementara jumlah korban luka akibat agresi tentara Israel pada Jum’at kemarin mencapai 1500-an orang.

Zionis Israel menasbihkan sebagai salah satu Jagal Nomor Wahid di bumi ini.

Pada hari ke 4 aksi “Hak Kembali” ini, puluhan warga Palestina masih berbondong-bondong mendekati pagar pembatas antara Gaza dan wilayah jajahan Palestina 48 untuk merayakan hari Bumi Palestina yang ke 42 tahunnya.

Hari bumi Palestina diperingati setiap tanggal 30 Maret dalam rangka memperingati gugurnya enam syuhada Palestina pada tanggal tersebut tahun 1976 lalu, saat terjadinya aksi penolakan atas kebijakan Israel yang menggusur lahan luas milik tanah Palestina. (PIP )

Sumber : Rakyat Merdeka