OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 06 April 2018

UMAT ISLAM TIDAK LAGI PEMAAF...???

UMAT ISLAM TIDAK LAGI PEMAAF...???




Ustadz DR. Urwatul Wusqo, Lc, MA

10Berita, Sebagian kaum muslimin pada saat ini ada yang bertanya, kenapa umat Islam tidak bersikap pemaaf pada saat sekarang ini sebagaimana dahulunya?

Dahulu Nabi dihina, dicaci, dilempar dengan batu namun beliau memaafkan orang-orang yang berlaku demikian kepada beliau, namun sekarang kita lihat umat Islam susah memaafkan orang yang salah.

Jawaban untuk pertanyaan tersebut:

Sikap pemaaf memang merupakan akhlaq Rasulullah saw, apapun yang ditujukan kepada beliau dari keburukan orang lain bahkan pelecehan sekalipun, beliau sikapi dengan penuh kemaafan.

Diantara kisah luar biasa yang sampai kepada kita dari kemaafan Rasulullah saw adalah kisah dakwah ke Thaif.

Rasulullah saw mengatakan kepada Aisyah bahwa apa yang beliau dapati di Thaif merupakan hal yang sangat berat beliau hadapi sebagaimana perang Uhud sampai-sampai malaikat Jibril menawarkan agar malaikat gunung menimpakan gunung ke penduduk Thaif akibat perbuatan mereka kepada nabi namun Nabi Muhammad saw malah memaafkan mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Namun apakah selalu seperti itu sikap nabi Muhammad saw?

Dalam sirah kita akan dapati bahwa Rasulullah saw mengutus beberapa orang ke berbagai pimpinan negara untuk berdakwah kepada mereka.

Diantara utusan tersebut ada yang diutus kepada Kisra Persia, akan tetapi ketika sang kisra membaca surat dari Rasulullah saw yang dikirim kepadanya maka sang kisra kemudian merobek-robek surat tersebut.

Pertanyaan yang timbul dalam diri kita, apakah yang akan dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mendapatkan berita perobekan tersebut?

Kalaulah dipakai kaedah kemaafan maka kita akan dapati Rasulullah saw akan memaafkan kisra Persia karena hanya sebuah surat yang dirobek dan tidak ada seorang muslim yang dihina atau al-Quran yang dilecehkan.

Namun yang terjadi sebaliknya, Rasulullah saw sangat marah dengan berita tersebut dan beliau berdoa:

اَللَّهُمَّ مَزِّقْ مُلْكَهُ

Artinya: “Ya Allah, hancurkanlah dan cerai beraikanlah kekuasaannya”.

Allah SWT mengabulkan doa nabi tersebut, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab semua wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan kisra Persia, tidak ada satupun yang tertinggal semua sudah lepas dari kekuasaan mereka.

Apakah yang membedakan antara dua kisah diatas?

Jawabannya ada pada hadits Aisyah r.a:

وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ، حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ

Artinya: “Demi Allah, Tidaklah Rasulullah saw membalas sesuatu yang ditujukan kepada dirinya kecuali ketika kehormatan agama Allah SWT dilanggar maka beliau pun marah semata-mata karena Allah”. (HR al-Bukhari).

Bukalah lembaran sirah Rasul maka kita akan dapati kemaafan diberikan Rasul untuk sesuatu yang berkaitan dengan diri beliau, baik hinaan, celaan, lemparan batu dan lain sebagainya, akan tetapi ketika menyangkut kehormatan agama maka beliau mengajarkan kepada kita untuk menunjukkan kemarahan supaya tidak ada seorang pun yang mencoba bertidak semena-mena terhadap agama ini.

Kisah lain akan kita dapati pada kisah Yahudi bani Qainuqa, yang terkenal sebagai pandai emas.

Suatu hari seorang muslimah datang ke pasar bani Qainuqa untuk membeli atau memperbaiki emasnya, namun sang penjual mengikat jilbab muslimah tersebut sehingga ketika ia berdiri maka nampaklah aurat bagian belakangnya.

Seorang pemuda muslim yang lewat berusaha membantu sang muslimah akan tetapi ia dikeroyok oleh orang-orang Yahudi bani Qainuqa’ yang ada di pasar tersebut. Ketika sampai berita itu kepada Rasulullah saw maka apakah yang akan beliau lakukan?

Kalaulah teori kemaafan yang dipakai, niscaya Rasul akan memaafkan yahudi bani Qainuqa dan mengadakan negosiasi dengan mereka.

Akan tetapi ternyata yang beliau lakukan adalah sebaliknya, beliau perintahkan semua sahabat untuk mengepung perkampungan yahudi bani Qainuqa dengan pilihan: perang atau mereka keluar dari wilayah Madinah dalam keadaan terusir.

Pengepungan itu terjadi selama 15 hari, lalu mereka memilih untuk keluar dari Madinah dalam keadaan terusir dan tidak boleh kembali lagi ke Madinah.

Cukuplah kisah-kisah diatas sebagai jawaban bagi kita, kenapa umat Islam tidak memaafkan pelecehan yang dilakukan terhadap al-Quran dan agama mereka, sebab nabi yang mengajarkan kita untuk memaafkan kesalahan orang lain maka beliau juga yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap tegas kepada penista agama.

Kata kuncinya adalah; kalau pelecehan dan penghinaan itu kepada DIRI beliau maka beliau akan meMAAFkan sepenuh HATI tanpa perlu diminta.

Akan tetapi kalaulah PELECEHAN itu dalam masalah AGAMA, maka beliau menunjukkan keMARAHannya. Seakan-akan pesan kepada kita semua:

“Kalaulah penghinaan itu kepada diri kita, maka seribu maaf akan kita berikan. Tapi kalaulah penghinaan itu kepada agama, maka seribu nyawa akan kami siapkan."***

Sumber :Portal Islam 

MUI: Sukmawati Tidak Terlalu Memperhitungkan Dampak Puisinya

MUI: Sukmawati Tidak Terlalu Memperhitungkan Dampak Puisinya

zulkarnain/hidayatullah.com

10Berita – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, mengatakan, Sukmawati Soekarnoputri tidak terlalu memperhitungkan akibat yang terjadi dari puisi berjudul “Ibu Indonesia” yang menjadi viral dan menimbulkan kegaduhan karena menyinggung syariat Islam, adzan, dan cadar.

“Bagaimana (puisi) itu didengar dan dirasakan pihak lain. Apapun harus menghormati norma-norma hukum agama, kesantunan, maupun kepatutan,” ujarnya saat konferensi pers bersama Sukmawati di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (05/04/2018).

Baca: Soal Sukmawati, FAPA: Pelaku Ujaran Kebencian Harus Diproses Hukum


Meskipun MUI, terang Kiai Ma’ruf, belum mendalami khusus mengenai puisi itu. Tapi, kata dia, reaksinya sudah ada.

“Kita belum masuk ke situ dulu, tapi bagaimana ini kita kompromikan, mendamaikan, kemudian membangun kembali persaudaraan,” ungkapnya, yang menerima permintaan maaf Sukmawati.

Baca: Sukmawati Datangi MUI untuk Meminta Maaf


Sukmawati mendatangi MUI guna menyampaikan permohonan maaf atas puisi yang dibacakannya dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018 yang menjadi viral dan menimbulkan kegaduhan, Rabu.

Selasa kemarin, Sukmawati menggelar konferensi pers menyampaikan permintaan maafnya kepada umat Islam.

Akibat puisi itu, Sukmawati ramai-ramai dilaporkan ke kepolisian oleh berbagai kelompok Islam.*

Sumber :Hidayatullah.com 

Keistimewaan Al-Akhfiya' (Orang Shalih yang Tersembunyi)

Keistimewaan Al-Akhfiya' (Orang Shalih yang Tersembunyi)


10Berita, Imam Ibnul Mubarak (Tabi'ut Tabi'in) -rahimahullah- menceritakan kisahnya, “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan : “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (Tabi'ut Tabi'in) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.

Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.

Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”

Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.

Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?”

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.” [PurWD/voa-islam.com]

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

Sumber :Voa-islam.com 

Yuk, Intip Potret Laundry Manual Terbesar di Dunia Ini. Nyucinya Masih Pakai Tangan Lho!

Yuk, Intip Potret Laundry Manual Terbesar di Dunia Ini. Nyucinya Masih Pakai Tangan Lho!

10Berita, Laundry manual terbesar di dunia ada di India

Kalau ngomongin jasa laundry pasti yang terbayang di otak kita ya sebuah tempat dengan banyak mesin cuci canggih berjajar rapi. Para pemiliknya cuma tinggal memasukkan baju-baju kotor, menambahkan deterjen, mengisi baknya dengan air, dan mesin cuci pun berfungsi sebagaimana kodratnya. Mereka bisa menunggu cucian dengan nonton TV, makan onde-onde, hingga bergosip. Bahkan ada juga mesin cuci yang bisa mengeringkan pakaian tanpa perlu dijemur. Sungguh membahagiakan…

Tapi jangan harap kamu akan melihat mesin cuci di pusat laundry terbesar di dunia ini. Karena seluruh pekerjanya masih menggunakan tangan! Iya, mulai dari mencuci, membilas, memeras, sampai menjemur dan menyetrika pun masih manual. Nggak kebayang, padahal di Indonesia, orang udah berlomba-lomba beli mesin cuci paling canggih ya. Tapi ternyata ada alasan tersembunyi lho kenapa kawasan laundry di India ini masih ngotot pakai tangan meski zaman udah modern. Yuk, intip ulasan Hipwee News & Feature berikut ini!

Kawasan laundry terbesar di dunia ini namanya Dholbi Ghat, letaknya di Mumbai Selatan, India

Dholbi Ghat di Mumbai Selatan, India via digitaltravels.net

Dhobi Ghat sudah jadi pusat laundry outdoordan manual terbesar sejak 1890

Pusat laundry terbesar di dunia sejak lebih dari seabad lalu via www.theglobeandmail.com

Awalnya kawasan laundry ini dibangun dengan tujuan melayani orang-orang Parsi dan Inggris setelah mereka pindah ke Mumbai

Di zaman kasta, orang yang bekerja sebagai pencuci ini dianggap kasta terendah via www.theglobeandmail.com

Meski sudah berusia lebih dari satu abad dan bersaing dengan jutaan jasa cuci canggih, Dhobi Ghat tetap melanjutkan tradisi mencuci dengan memakai tangan

Terkenal karena masih pakai tangan via www.theglobeandmail.com

Sebanyak kurang lebih 200 keluarga menggantungkan hidupnya dari mencuci. Mereka bahkan juga tinggal di kawasan tersebut

Meski populer di kalangan turis, bagi warga lokal, tempat ini hanya dianggap kawasan kumuh dan sarang nyamuk via theculturetrip.com

Para pekerja yang disebut dhobi ini menerima jasa laundry dari hotel, rumah sakit, dan rumah tangga dari seluruh kota

Para dhobi sedang bekerja via www.theglobeandmail.com

Para dhobi mencuci menggunakan bak dari semen. Baju-baju milik pelanggan kemudian dipukul-pukulkan ke papan batu sampai bersih

Mereka memakai bak dari semen dan papan batu via www.theglobeandmail.com

Dhobi Ghat punya sekitar 700 tempat mencuci yang berjajar dengan rapi, tetapi banyak dikritik karena polusi dan jadi sarang nyamuk

Kawasan ini menghasilkan banyak limbah via theculturetrip.com

Satu dhobi di sana biasa bekerja selama 20 jam sehari lho! Yang lebih mencengangkan lagi, mereka ini bisa mencuci kurang lebih 400 helai pakaian per harinya!

Proses menyortir baju sebelum dicuci via theculturetrip.com

Meski dalam sehari ribuan dholbi bekerja saling berdampingan, tapi jarang ada pelanggan yang komplain karena bajunya tertukar. Hebat ya?

Dijemur rapi via www.india.com

Saking lakunya, dalam setahun Dholbi Ghat bisa mencapai omset 16 juta dolar, atau kalau dirupiahkan sekitar 220 miliar!

Laku karena murah via www.theglobeandmail.com

Pada 2011 lalu, Dhobi Ghat menerima penghargaan Guinness Book of World Records, setelah tercatat sebanyak 496 orang mencuci baju serempak memakai tangan di satu lokasi

Hanya ada satu-satunya di dunia via www.punjabkesari.in

Keunikan tradisi Dhobi Ghat ini juga pernah difilmkan beberapa kali lho. Udah pernah nonton Slumdog Millionaire (2008) dan Dhobi Gat (2010) belum?

Salah satu scene di film Dhobi Ghat (2010) via www.timeout.com

Sering juga para turis sengaja datang ke sana cuma buat menyaksikan sendiri masifnya industri laundry di Dholbi Ghat. Mereka nggak perlu bayar kok buat bisa masuk ke sana

Jadi pusat destinasi wisata para turis mancanegara via www.tripadvisor.in

Advertisement

Meskipun sebenarnya di India juga banyak jasa laundry modern yang udah pakai banyak mesin cuci canggih, tapi Dhobi Ghat masih dianggap paling laku. Ini karena tarif yang dipasang cenderung lebih murah dari kebanyakan laundry masa kini. Pelanggan tetap di Dhobi Ghat biasanya sih hotel-hotel kelas menengah, atau rumah sakit-rumah sakit gitu. Kalau murah, hasil cucinya bersih, dan bisa jadi cepat sih, kenapa harus cari yang lebih mahal ya…

Sumber : Hipwee

Dinilai Rendang Ayam Harus Crispy, Netizen 4 Negara Bersatu Membela Rendang!

Dinilai Rendang Ayam Harus Crispy, Netizen 4 Negara Bersatu Membela Rendang!

10Berita, Netizen Malaysia dan Indonesia Bersatu Membela Rendang yang Dianggap Harus Crispy

Perseteruan netizen Indonesia dan Malaysia untuk sementara terhenti. Hal ini karena ada musuh bersama, yakni juri Master Chef UK yang berkomentar seenaknya soal rendang. Adalah Gregg Wallace dan John Torode yang memberikan komentar bahwa rendang ayam haruslah krispi dan mengeliminasi peserta asal Malaysia dengan alasan itu. Sontak, netizen Malaysia pun ‘ngamuk’ dengan penilaian ngawur itu. Mereka menganggap juri Master Chef UK itu nggak ngerti apa-apa soal masakan Asia.

Menariknya, jika selama ini netizen Indonesia dan Malaysia saling mengklaim, kini justru saling mendukung. Dunia maya pun riuh dengan ‘pertarungan’ komentar antara juri Master Chef UK dan netizen 4 negara, Malaysia, Indonesia lalu kemudian Singapura dan Brunei ikut serta. Wah penasaran ‘kan gimana serunya? Simak ulasannya di Hipwee Travel ya.

Jadi awalnya, Zaleha Kadir Olpin peserta asal Malaysia yang kini menetap di Inggris sedang mengikuti kompetis Master Chef UK. Temanya pun masakan yang punya kenangan khusus dengan si peserta. Alhasil, Zaleha memasak rendang

nasi lemak dan rendang via says.com

Advertisement

Zaleha memilih memasak nasi lemak dan rendang karena makanan itu sangat berkesan baginya sewaktu kecil. Ia pun kemudian menata piringnya yang berisi nasi lemak lengkap dengan teri, udang, telur dan rendang. Setelah makanan siap, kemudian Zaleha menyajikan untuk para juri. Juri bernama Gregg Wallace berkomentar seperti ini.

“I like the rendang flavour, there’s a coconut sweetness, however, the chicken skin isn’t crispy. It can’t be eaten and all the sauce is on the skin, I can’t eat”

“Saya suka rasa rendang, ada rasa manisnya, namun kulit ayamnya tidak renyah/ krispi. Tidak bisa dimakan dan semua sausnya ada di kulit (tidak meresap), saya tidak bisa memakannya.”


Dia beranggapan bahwa masakan rendang Zaleha tidak bisa ia nikmati gara-gara rendangnya tidak krispi. Padahal dari dulu rendang tidak pernah krispi. Ia juga berujar bahwa bumbu atau saus rendangnya cuma di kulit saja. Ya wajar dong masaknya cuma sejam doang. Padahal rendang butuh waktu lama untuk memasaknya. Hal ini sontak memicu perdebatan di media sosial Twitter. John Torode pun mengatakan bahwa pilihannya menggunakan rendang ayam untuk lauk nasi lemak itu tidak tepat. Di akhir, Zaleha pun tereliminasi gara-gara hal itu.

Bukannya mengakui kesalahan, John Torode justru ‘mengadu’ netizen Malaysia dengan Indonesia dengan menyebutkan rendang dari Indonesia. Ia juga tampak tak paham Asia Tenggara ketika justru berkata Namaste

komentar john torode via says.com

Advertisement

Netizen Malaysia dan Indonesia pun bersatu untuk melawan opini yang tidak benar mengenai rendang tersebut. Alih-alih kena adu domba dan ribut soal klaim, netizen kedua negara justru bersatu dan mengajak Singapura dan Brunei untuk ikut serta Twitwar. Tidak ada rendang yang diciptakan dengan ayam krispi. Tapi jawaban John justru nggak keren dengan bilang ‘Maybe rendang from Indonesia.’ Ia ingin mengadu netizen Malaysia dan Indonesia untuk saling klaim tapi nggak berhasil. Netizen Indonesia juga protes karena di Indonesia rendang juga nggak krispi. Salahnya lagi, ia justru mengucap ‘Namaste’yang asalnya dari India/Nepal alih alih mengucapkan ‘Terima Kasih’ atau ‘Salam’ yang khas Asia Tenggara. Maka dari itu mereka berdua jadi bulan-bulanan netizen dan muncul banyak meme kocak tentang rendang krispi.

Tumben ya netizen Malaysia dan Indonesia (plus Singapura dan Brunei) yang selama ia saling klaim budaya dan kuliner, malah bersatu atas nama rendang. Menarik.

meme rendang crispy via style.tribunnews.com

Kasus ini jadi pelajaran menarik bahwa rendang krispi jadi pemersatu keempat bangsa. Hal ini juga menjadi bukti bahwa juri sekelas Master Chef UK tidak mengenal betul kuliner nusantara. Mereka berkata hanya dengan asumsi dan kekeuh dengan asumsi tersebut meskipun netizen asal Malaysia dan Indonesia sudah banyak yang memprotesnya. Tak cuma netizen, bahkan Perdana Menteri Malaysia, Najid Razak pun ikut mencuit, ‘mana ada orang makan rendang ayam ‘crispy?’

Hal ini tentunya jadi kabar baik untuk promosi rendang di dunia internasional. Makanan khas yang berasal dari Padang ini kini makin mendunia dan bikin penasaran. Kuliner yang mendapat predikat paling enak di dunia ini diharapkan makin terkenal dan tugas kita pulalah untuk melestarikannya.

Semoga negara-negara di nusantara dan Asia Tenggara bisa bersatu tak cuma oleh rendang, tapi oleh budaya lainnya yang tidak jauh beda. Mudah-mudahan ini jadi titik balik persatuan di Asia Tenggara. Terima kasih rendang.

Sumber : Hipwee

Nasihati Sukmawati Soal Puisi, Wartawan Senior Asyari Usman: Lebih Baik Anda Katakan: “Saya Tak Suka Islam”

Nasihati Sukmawati Soal Puisi, Wartawan Senior Asyari Usman: Lebih Baik Anda Katakan: “Saya Tak Suka Islam”


10Berita,  Maaf Bu Sukmawati Soekarnoputri, mohon maaf sekali. Dengan puisi “Ibu Indonesia” yang menuai kontroversi sekarang ini, saya menduga Ibu ingin mengekspresikan ketidaksukaan Anda kepada Islam. Sebetulnya, Bu Sukma bisa menyatakan itu dengan bahasa yang sederhana tanpa harus menghina Islam. Dan juga tanpa harus lama-lama memikirkan alur puitisasinya.

Cukup Anda katakan, “Saya tak suka Islam.”

Hanya empat kata saja. Tidak ada unsur pidananya. Tidak akan menyingung umat Islam. Dan, di atas semua itu, orang akan cepat paham. Kaum muslimin pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena pernyataan “Saya tak suka Islam” tidak bisa dihalangi oleh siapa pun. Semua orang berhak mengatakan itu.

Sekarang, gara-gara puisi yang membanding-bandingkan kidung dengan suara adzan, konde dengan cadar, dsb, Anda melecehkan Islam. Padahal, saya yakin sekali, yang ingin Anda maklumatkan kepada publik ialah bahwa Anda tidak suka pada Islam.

Memang ada rasa tak tega mengucapkan “Saya tak suka Islam”. Barangkali, ini yang menyebabkan Anda memilih puisi sebagai medium untuk menyatakan itu. Mungkin, Anda pikir, terasa halus penyampaiannya. Dibungkus dengan kata-kata “ruwet” supaya tidak kelihatan konten “Saya tak suka Islam” itu.

Saya tidak ahli dalam hal kesusasteraan. Tapi, menurut hemat saya, merangkai kata-kata dan ungkapan puitis menjadi sebuah puisi, bisa menjebak diri sendiri. Sebagai contoh, untuk mengatakan “saya tak suka adzan”, Anda terpaksa merendahkan derajat panggilan sholat itu dengan memuji kidung. Untuk mengatakan “saya tak suka cadar atau jilbab”, Anda harus mengejek pakaian penutup aurat muslimah itu dengan memuji keindahan konde.

Bisa juga Anda buat “break down” ketidaksukaan pada Islam dengan menggunakan “konde” dan “kidung” atau kata-kata lainnya, tanpa harus terjebak ke dalam penghinaan.

Misalnya, Bu Sukma bisa katakan, “Saya tak suka cadar, saya lebih suka konde.” Atau bisa pula Anda ucapkan, “Saya suka kidung. Saya tak suka adzan.”

Aman. Tidak ada unsur pidananya. Khalayak juga cepat mengetahui pikiran Anda. Tidak multi tafsir. Menuliskannya juga cukup 20 detik, mengucapkannya hanya 10 detik.

Tidak akan banyak dibahas di medsos. Paling-paling orang akan mengatakan, “Tak heran kalau Bu Sukma tidak suka Islam, tidak suka adzan, tidak suka cadar.” Paling sampai di situ saja. Karena tidak menghina Islam.

Jadi, Bu, semua bisa Anda katakan tidak suka. Tak suka sholat, tak suka puasa, tak suka zakat, tak suka ibadah haji, atau apa saja tentang Islam.

Tak suka akad nikah, tak suka bersedekah, tak suka membantu orang miskin, tak suka anak yatim, dll. Pokoknya, katakan saja “tak suka” sesuka hati Anda, Bu Sukma. Aman, insyaAllah. Aman di dunia, maksudnya! Kalau di akhirat, kita lihat saja nanti. Yang penting kan di dunia…, iya kan Bu Sukma!

Terus, apa lagi. Bu Sukma bisa juga ucapkan: tak suka janggut, tak suka celana cingkrang, tak suka jubah, tak suka baju koko, dslb.

Bisa juga Anda ucapkan, “Saya tak suka makanan halal, saya suka makanan haram.” Bebas Bu Sukma. Ini tidak menghina. Tidak apa-apa, Bu.

Tak ketinggalan, Bu Sukma pun bebas-lepas untuk mengatakan, “Saya suka Hindu, saya tak suka Islam. Saya suka beribadah di pura, saya tak suka masjid.”

Jangan khawatir Bu. Tidak menghina siapa-siapa.

Sebagai penutup, Bu Sukma, Anda bebas pula menggunakan pengeras suara untuk mengatakan semua yang Anda tidak suka itu. Anda bisa memakai mobil terbuka, mondar-mandir di jalan-jalan Jakarta dan kota-kota lainnya sambil berteriak “Saya tak suka Islam”. Anda bisa juga bawa rombongan untuk berteriak-teriak di depan gedung DPR, di Monas, dll.

Paling-paling orang akan merasa heran saja kenapa Bu Sukma berteriak-teriak seperti itu. Mereka tidak akan melapor ke Polisi. Mereka akan melapor ke pihak yang lebih relevan dengan situasi teriak-teriak “saya tak suka”.

Maaf Bu Sukma, sekadar tips saja buat Anda.

Penulis: Asyari Usman, wartawan senior

Sumber : PORTAL ISLAM

UGM luncurkan alat tes kecerdasan kognitif anak, ini lho kelebihannya

UGM luncurkan alat tes kecerdasan kognitif anak, ini lho kelebihannya

10Berita - Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Yayasan Dharma Bermakna dan PT Melintas Cakrawala Indonesia meluncurkan alat Tes Kognitif AJT. Alat ini berfungsi sebagai sarana untuk mengukur kecerdasan kognitif anak berdasarkan latar belakang Indonesia.

"Profil kognitif yang dihasilkan oleh alat tes ini lebih rinci dibandingkan dengan alat tes lain yang selama ini digunakan di Indonesia," kata Project Manager AJT Retno Suhapti di Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Selama ini, kata Retno, alat psikologi di Indonesia yang dapat mengungkap kemampuan kognitif anak masih terbatas, dan kebanyakan berasal dari luar negeri. Tes kognitif AJT memiliki kelebihan dibanding alat tes psikologi yang selama ini ada karena disusun berdasarkan latar bekakang budaya Indonesia.

"Pembuatan item-itemnya berbasis budaya Indonesia, misalnya memakai gambar buah pisang atau monyet. Sehingga jangan sampai memakai gambar salju yang tidak semua anak Indonesia tahu," terang dia.

Selain itu, lanjut dia dikutip Antara, alat tersebut mampu mengukur profil kognitif lebih rinci karena menggunakan landasan teori yang kuat yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (CHC) dengan 28 sub-tes. Teori CHC merupakan teori tentang kemampuan manusia yang paling komprehensif saat ini yang didukung oleh bukti empiris, serta mempertimbangkan aspek biologis, perilaku, dan neurologis.

Dia mengatakan alat tes itu dapat digunakan untuk anak usia 5 sampai 18 tahun baik yang mengikuti pendidikan formal maupun yang tidak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan.

"Ini juga akan menjadi alat tes komprehensif pertama yang mampu memetakan kemampuan kognitif anak berkebutuhan khusus," pungkasnya.

Ilustrasi : Google 

Sumber : Brilio.net

Keutamaan Mempunyai Anak Perempuan

Keutamaan Mempunyai Anak Perempuan


10Berita, Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ .

Siapa yang menanggung nafkah 2 anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya. (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .

Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat. (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ ابْنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ بَنَاتٍ، أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ أَخَوَاتٍ، حَتَّى يَبِنَّ أَوْ يَمُوتَ عَنْهُنَّ، كُنْتُ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ ” وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى .

”Siapa yang menafkahi 2 atau 3 anak perempuan atau saudara perempuan, hingga mereka menikah atau sampai dia mati, maka aku dan dia seperti dua jari ini.” Beliau berisyarat dengan dua jari: telunjuk dan jari tengah.” (HR. Ahmad 12498 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Sumber: Dakwah Media

Bocah Gaza: Saya Ikut Aksi untuk Mengambil Kembali Tanah Kakek-Nenek Saya

Bocah Gaza: Saya Ikut Aksi untuk Mengambil Kembali Tanah Kakek-Nenek Saya


Bocah ‘Bawang’ Gaza, Mohamed Ayyash

Foto Mohamed Ayyash menggunakan “topeng bawang” untuk melindungi dirinya dari gas air mata “Israel” menjadi viral di media sosial.

10Berita, GAZA  “Tujuan saya (ikut aksi) adalah mengambil kembali tanah saya, tanah kakek nenek saya dan kenangan keluarga saya.”

Itulah yang diungkapkan Mohamed Ayyash (9 tahun), ketika ditanya Aljazeera, mengapa dia berada di garis depan saat aksi damai digelar di dekat perbatasan Gaza dengan wilayah yahg diduduki “Israel”, Jumat (30/3/2018) lalu.

Mohamed Ayyash seperti dilansir Aljazeera,Kamis (5/4) telah menjadi sosok pemrotes “Hari Tanah” di Gaza, yang menyerukan kembalinya hak (tanah) para pengungsi Palestina.

Setidaknya 18 orang gugur dan lebih dari 1.000 lainnya terluka ketika penembak jitu penjajah “Israel” menembaki demonstran yang tidak bersenjata.

Foto-foto Mohamed Ayyash yang mengenakan kostum “topeng bawang” yang dibuat menggunakan daun bawang dan masker wajah menjadi viral di media sosial.

Topeng buatan tangan adalah upaya Mohame Ayyash untuk mengurangi efek gas air mata yang ditembakkan oleh tentara Zionis—sebuah gagasan yang didapat Ayyash dari ayahnya.

“Ayah saya terluka di Intifadhah pertama dan biasa menceritakan kepada saya cerita tentang (topeng bawang),” kata Mohamed Ayyash kepada Aljazeera.

“Aku mencoba membuatnya kembali (topeng bawang) dan kemudian keluar seperti itu. Aku tidak berharap fotoku akan menjadi viral.”

Bassam Ayyash, ayahnya, mengatakan kepada Aljazeera pada Kamis (5/4) bahwa “topeng bawang” membantu mengurangi efek gas air mata pada saraf dan membantu menjaga ketenangan.

“Itu bahkan akan membantu Anda mengambil gas granat dan melemparkannya kembali ke tentara (Israel),” kata Bassam.

Bassam, yang terluka pada 1989 dalam Intifadhah pertama, mengatakan dia bangga dengan putranya dan tekadnya untuk mengambil kembali tanah leluhurnya.

Keluarga Ayyash awalnya dipindahkan dari Yaffa dalam pembersihan etnis Palestina oleh milisi Zionis pada 1948. Keluarga itu sekarang tinggal di kamp Maghazi yang terletak di pusat Jalur Gaza.

Mohamed ingin kembali meski ada ancaman dari tentara “Israel”.

“Saya tidak takut pada mereka, mereka yang takut kepada kami,” kata Mohamed.

“Mereka takut karena mereka tidak memiliki tanah di sini, mereka berasal dari negara yang berbeda dan mereka ingin merebut Yerusalem (Al-Quds),” tambahnya.

Mohamed kehilangan seorang kerabat dalam aksi protes hari Jumat itu, dan sejumlah lainnya terluka.

Namun menurut ayahnya, Mohamed siap untuk turut dalam aksi menjelang peringatan Hari Nakbah (Hari Bencana) pada 15 Mei, tanggal yang digunakan oleh bangsa Palestina untuk menandai pengusiran dari tanah mereka. (S)

Sumber: Aljazeera, Salam Online.

Pentingnya Kecerdasan Politis di Tahun Politik

Pentingnya Kecerdasan Politis di Tahun Politik



Oleh: Salsabila Maghfoor*

10Berita, Tahun 2018 saat ini merupakan titik tolak menuju kondisi perpolitikan negeri yang kian memanas menuju pilpres 2019. Para pemimpin kita sedang menyelenggarakan perhelatan akbar yang tentu bukan dengan kapasitas biasa.

Setelah berjalannya periode presiden rasa walikota dan gubernur, kita semakin ditampakkan pada fenomena kepemimpinan ala pengusaha-penguasa.

Hal ini memang agaknya terlihat baru, sebab sebelumnya kita berturut-turut dipimpin oleh presiden berbasis intelektual dan juga militer. Entah apa mungkin ini berpengaruh banyak, tapi saya rasa memang berpengaruh.

Banyak diantara kebijakan yang dicanangkan sesungguhnya lebih cocok disebut sebagai perniagaan insfrastruktur. Satu-dua infrastruktur yang dibangun pada akhirnya ada yang roboh dan tidak sedikit yang menelan korban jiwa dari pengguna jalan yang melintas.

Entah aspek apa yang kurang diperhatikan dari proses pembangunan yang ada, tapi memang semestinya harus ada pemetaan di awal, lengkap dengan segala analisa dan persiapan yang dikerahkan, serta yang terpenting adalah dalam eksekusi pembangunan yang harus memperhatikan waktu secara proporsional, efektif namun juga bisa optimal. Namun hari ini justru kebanyakan pembangunan yang ada itu semacam dikejar tayang, atau justru ada yang berjalannya mangkrak dan terbengkalai.

Ini hanya satu contoh. Banyak aspek lain dalam pelayanan pemerintah yang dirasa masih belum betul-betul berpihak pada rakyat. Seperti pemberian kartu-kartu sakti ala pemerintah yang teryata ada kepentingan juga didalamnhya.

Dalam aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya itu dapat kita rasakan mekanisme yang terkesan di-kapitalisasi dan berpihak kepada keuntungan semata. Saya lebih terkejut ketika seorang menteri agama lantas mencanangkan ingin mengusulkan kewajiban zakat profesi 2,5% untuk PNS, yang belakangan terkuak bahwa itu akan diputar dan digunakan untuk mendanai infrasttuktur.

Ada banyak corak kepemimpinan yang telah, sedang dan akan menguasai negeri ini. Kesemuanya itu tentu bisa dibaca dengan mudah kemana arah kepemimpinannya jika bukan kearah Kapitalis-Liberalis. Apakah ini suudzon ? tentu tidak. Sebab memang saat ini sistem pemerintahan di negara manapun memang mengikut kepada corak negara adidaya yang terus memberikan pengaruh dan mindset Kapitalistik.

Tentu bukan tidak mungkin bila pada akhirnya negara berkembang pun akan mengikuti dan memang diaruskan untuk membebek dan mengikuti. Hal ini dapat kita rasakan dari aspek pelayan ataupun kepemimpinan yang dijalankan, pasti bukan murni karena inginnya melayani rakyat dan tidak betul-betul murni berdasar kesadarannya akan tugas kepemimpinannya, melainkan pasti ada aspek tertentu yang dia pandang sebagai keuntungan.

Selalu berpusar kepada keuntungan apa yang mampu didapat oleh pemerintah bila ia membuat kebijakan A, bila memutuskan mekanisme B, dan sebagainya.

Maka yang mesti kita lakukan adalah menumbuhkan sikap kekritisan dan daya analisa yang super tinggi bila tidak mau dibodohi dengan istilah wong cilikpro rakyat, dan istilah lain yang sebenarnya menutupi wajah asli ala kapitalis dibelakangnya. Ini yang mesti kita bangun dan terus kita asah, agar kita mampu menjadi corong yang menyadarkan pemerintah melalui lisan dan sikap kita.

Disinilah letak pentingnya kecerdasan politis ditengah tahun politik. Kita mesti terus mengasah kepekaan politis bila tidak mau dipolitisasi oleh segelintir oknum di badan pemerintah. Mengkritik ini bukanlah untuk menjatuhkan dan bukan pula untuk tujuan pencelaan.

Lebih jauh lagi, ini adalah bentuk penjagaan dari komponen rakyat yang tidak ingin ada kebocoran dan kerusakan yang semakin parah dalam kapal kebangsaan yang berpotensi menyebabkan kerugian besar di segala sisi dan akhirnya akan menjerumuskan. [syahid/voa-islam.com]

*) Aktivis Mahasiswa Universitas Brawijaya

Sumber : Voa-islam.com