OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 27 April 2018

Seru! Perang Twitter Yusril vs Menaker soal "Banjir TKA dari China"

Seru! Perang Twitter Yusril vs Menaker soal "Banjir TKA dari China"


10Berita, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengkritik keras rezim pemerintahan Jokowi yang dinilainya tunduk pada kemauan China demi kelancaran investasi di Indonesia daripada kepentingan rakyatnya.

Menurut Yusril, hal itu nampak dari sikap Jokowi yang menerbitkan Perpres TKA atau Peraturan Presiden Nomor 20 tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Menurut Yusril, salah satu syarat agar China mau berinvestasi di Indonesia adalah dengan menuruti kemauan negara tirai bambu tersebut. Salah satunya yakni memberikan ruang bagi tenaga kerja asal China untuk bekerja di Indonesia. Sehingga banyak buruh kasar dari China yang membanjiri dan mengambil lahan pekerjaan tenaga kerja lokal.

"Pemerintah selalu saja berdalih ada jutaan TKI di luar negeri, negara lain tidak protes, kok kita protes membanjirnya TKA ke sini. Mereka tidak protes karena mereka butuh TKI kita. Kita protes karena kita tidak butuh TKA. Di sini masih banyak yang miskin dan nganggur, untuk apa TKA?" ujar Yusril melalui akun Twitternya @Yusrilihza_Mhd, 25 April 2018.

Pernyataan mantan Menteri Sekretarius Negara dan Menteri Kehakiman dan HAM ini, lalu ditanggapi oleh Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri.

Terjadilan "TWITWAR" (perang twitter), antara menteri dan mantan menteri.

"Maaf bang, apa saat abang menteri gak ada TKA di Indonesia? Kalau ada, apa abang protes?" kata Menaker melalui akun twitternya @hanifdhakiri.

Yusril lalu membalas...

"Ada, tapi kami batasi hanya pada level manajemen dan tenaga skill yang belum bisa dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia. Kami tidak jor2an izinkan buruh kasar masuk ke sini, terutama dari Tiongkok seperti ketika anda jadi menteri," jawab Yusril sangat telak.

Yusril lalu melanjutkan dan menyinggung kebijakan Jokowi bebas visa...

"Di zaman saya jadi Menteri Kehakiman dan HAM saya juga tidak mau jor2an memberikan bebas visa. Kalau tidak selektif, bebas visa bisa disalahgunakan orang asing untuk bekerja di sini. Negara kita sangat luas, kita belum mampu membangun sistem pengawasan orang asing yg efektif."

"Pada waktu saya jadi Menteri Kehakiman dan HAM hanya sekitar 20 negara yang diberi bebas visa. Sekarang sekitar 165 negara termasuk RRC dan beberapa negara Afrika warganya bebas visa masuk negara kita. Kami sangat hati2 menjaga kepentingan nasional."

Demikian disampaikan Yusril.

***‏

Pendapat yang sama juga disampaikan mantan Sekretaris Menteri Negara BUMN, Muhammad Said Didu. Dia mengatakan, kondisi di Indonesia berbeda dengan kondisi di negara yang menerima banyak TKI.

"Beda TKI di luar negeri dan TKA yang masuk sehingga ribut : 1) mereka butuh TKI vs kita banyak pengangguran, 2) TKI mengisi kekurangan tenaga kerja vs TKA merebut lapangan kerja kita, 3) TKI hasilkan devisa vs TKA sedot devisa, 4) TKI untuk bantu kelola SDA vs TKA datang bersama modal kuasai SDA kita," kata Said Didu dalam akun Twitter @saididu.

Pemerintah selalu saja berdalih ada jutaan TKI kerja di LN, negara lain tdk protes, kok kita protes membanjirnya TKA ke sini. Mereka tdk protes karena mereka butuh TKI kita. Kita protes karena kita tidak butuh TKA. Disini msh banyak yg miskin dan nganggur, untuk apa TKA?

— Yusril Ihza Mahendra (@Yusrilihza_Mhd) 25 April 2018


— MHD (@hanifdhakiri) 26 April 2018


Ada, tapi kami batasi hanya pada level manajemen dan tenaga skill yang blm bisa dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia. Kami tidak jor2an izinkan buruh kasar masuk ke sini, terutama dari Tiongkok seperti ketika anda jadi menteri. https://t.co/9suQlbgE3x

— Yusril Ihza Mahendra (@Yusrilihza_Mhd) 26 April 2018


Di zaman saya jadi Menteri Kehakiman dan HAM saya juga tidak mau jor2an memberikan bebas visa. Kalau tidak selektif, bebas visa bisa disalahgunakan orang asing untuk bekerja di sini. Negara kita sangat luas, kita belum mampu membangun sistem pengawasan orang asing yg efektif

— Yusril Ihza Mahendra (@Yusrilihza_Mhd) 26 April 2018


Pada waktu saya jadi Menteri Kehakiman dan HAM hanya sekitar 20 negara yang diberi bebas visa. Sekarang sekitar 165 negara termasuk RRC dan beberapa negara Afrika warganya bebas visa masuk negara kita. Kami sangat hati2 menjaga kepentingan nasional.

— Yusril Ihza Mahendra (@Yusrilihza_Mhd) 26 April 2018


Beda TKI di LN dan TKA yg masuk shg ribut : 1) mrk butuh TKI vs kita banyak penganguran, 2) TKI mengisi kekurangan tenaga kerja vs TKA merebut lapangan kerja kita, 3) TKI hasilkan devisa vs TKA sedot devis, 4) TKI utk bantu kelola SDA vs TKA datang bersama modal kuasai SDA kita

— Muhammad Said Didu (@saididu) 25 April 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Jonru Ginting: Rezeki Tercukupi Setelah Masuk Penjara

Jonru Ginting: Rezeki Tercukupi Setelah Masuk Penjara




Oleh: Jonru Ginting

10Berita, Beberapa waktu lalu di Rutan Cipinang, saya bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Namanya Sandi, usia sekitar 35 tahun. Menurut pengakuannya, dia dipenjara karena kasus penjualan hewan yang dilindungi.

Awalnya dia menyapa saya dengan bertanya, "Fan page Jonru masih ada gak, Bang?"

"Sudah disita polisi," sahut saya.

"Sudah dihapus?"

"Masih ada. Tapi saya sudah tak bisa mengaksesnya."

"O, password-nya diubah oleh polisi, ya?"

"Betul," sahut saya. Lebih tepatnya, password akun adminnya sudah diganti oleh polisi.

Lalu kami pun ngobrol. Ia bertanya tentang kasus saya. Saya pun menjawab sesuai fakta. Saya jelaskan bahwa saya naik banding dan sedang menunggu hasilnya."

Lalu kami pun ngobrol tentang semakin banyaknya aktivis muslim yang ditangkap, tentang rezim yang makin otoriter.

Dan tiba-tiba si Sandi ini berkata, "Kita ambil hikmahnya saja ya, Bang. Kita memang geram melihat situasi yang makin kacau. Tapi kita bersuara kritis pun, tak ada gunanya bagi keluarga. Pihak yang dulu kita bela, ternyata kini lupa pada kita."

Saya tertegun, mulai menyadari bahwa sepertinya ada yang salah pada diri si Sandi ini. Maka saya pun mulai berceramah padanya.

Begini lho, Mas:

Pertama:
Kita ini kalau berjuang harus ikhlas. Luruskan niat demi Allah semata. Jadi tak ada urusan dengan orang-orang yang kita bela. Mereka mau membela kita atau melupakan kita, itu sama sekali tidak penting jika niat kita ikhlas demi Allah semata. Kita berjuang Demi Allah, bukan demi Prabowo atau demi FPI atau demi PKS dan sebagainya.

Kedua:
Faktanya, alhamdulilah yang membela saya sangat banyak. Ketika sidang, saya dibantu oleh 54 pengacara muslim dari berbagai lembaga hukum. Dan mereka semua tidak dibayar (jadi jika dulu sempat ada berita bahwa Jonru belum punya pengacara, Jonru sudah dibuang, Jonru sudah dilupakan, dst, ketahuilah bahwa itu cuma hoax bikinan para cebong).

Rumah saya hampir setiap hari dikunjungi oleh teman, sahabat, tokoh, komunitas, yang memberikan dukungan moril bagi istri dan keluarga saya.

Banyak di antara mereka yang datang membawa uang sumbangan. Ada pula di antara mereka yang melakukan penggalangan dana untuk membantu keluarga saya. Padahal kami tak pernah meminta.

Saya pun sering dijenguk di penjara oleh sejumlah teman. Saat berkunjung, ada yang memberikan bantuan dana Rp 1 juta. Saat di pengadilan pun, banyak sekali orang yang memberikan uang pada saya, tanpa pernah saya minta.

Bahkan yang sangat ajaib, pengacara saya sendiri yang mentraktir saya makan, bahkan memberikan bantuan uang pada saya. Padahal seharusnya sayalah yang membayar jasa mereka. Tapi ini kok malah terbalik?

Jika ditotal, jumlah bantuan dana yang telah diterima oleh keluarga kami sudah sangat untuk cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan lumayan untuk modal usaha (padahal sejak dulu, salah satu hal yang paling sulit saya dapatkan dalam berbisnis adalah modal), juga untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, dan sebagainya.

Alhamdulilah....

Dan saat banyak orang tahu bahwa istri saya sedang hamil, tiba-tiba banyak dokter ahli kandungan yang menghubungi, menyatakan siap membantu persalinan istri saya secara gratis.

Jadi Mas Sandi....
Itulah jawaban untuk "hikmah" versi Anda.

Alhamdulilah... orang dan lembaga yang membantu saya sangat banyak. Tidak benar bahwa saya dilupakan. Tidak benar bahwa perjuangan saya selama ini tak ada manfaatnya bagi keluarga.

Alhamdulilah, keluarga saya yang dulu hampir tiap hari menghadapi masalah kesulitan keuangan, karena kami memang masih tergolong miskin, dan saya selama ini berjuang murni karena panggilan hati nurani dan panggilan dakwah semata, bukan karena dibayar atau semacamnya, alhamdulilah... Justru kriminalisasi yang sedang saya alami ini mendatangkan manfaat yang sangat tak terduga bagi keluarga kami.

Justru setelah saya masuk penjara, masalah finansial keluarga kami kini teratasi. Padahal dulu, hampir tiap hari saya galau memikirkan hidup yang serba pas-pasan bahkan sering kehabisan uang.

Anda mungkin tidak percaya jika saya katakan bahwa selama ini hidup saya sungguh kontradiktif: Sangat terkenal tapi masih miskin. Terdengar aneh, tapi Demi Allah memang demikianlah faktanya. Bahkan teman saya Dudun Parwanto yang pernah makan siang di istana bersama Jokowi, pernah menulis di Kompasiana memgenai hal tersebut. Karena dia adalah teman yang sudah sangat mengenal saya secara pribadi.

Alhamdulillah, rezeki keluarga kami datang dari Allah melalui bantuan teman, sahabat dan orang-orang yang mendukung perjuangan saya, yang simpati terhadap nasib saya yang sedang dikriminalisasi, yang simpati terhadap istri dan anak-anak saya yang untuk sementara harus jauh dari sang kepala keluarga.

Alhamdulilah, apa yang saat ini saya alami membuat saya semakin yakin terhadap kebenaran Al-Quran.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS.Muhammad:7)

Setelah mendengar penjelasan saya di atas, Sandi terlihat diam, seperti bingung harus berkata apalagi.

Ya, itulah salah satu pengalaman saya di Rutan Cipinang. Pengalaman yang sangat berkesan. Saking berkesannya, saya pun rela menuliskannya pakai pulpen dan kertas, lalu diketik oleh keluarga saya di rumah.

NB: Saya divonis 1,5 tahun penjara oleh pengadilan, dituduh terbukti melakukan ujaran kebencian. Padahal dari fakta persidangan terbukti bahwa tuduhan terhadap saya tidak punya dasar hukum apapun. Sehingga jika hakim benar-benar bersikap adil, seharusnya saya divonis bebas. Tapi seperti inilah potret hukum di negeri kita. Masih sangat jauh dari keadilan. Apalagi kasus saya ini sepertinya adalah kasus pesanan, di mana "mereka" menghendaki saya harus masuk penjara.

Saya didzolimi. Namun alhamdulilah Allah menolong saya dan keluarga saya dengan cara yang sangat tak terduga.

Rutan Cipinang, 10 April 2018

(Jonru Ginting)

***

Benarlah janji Allah SWT...

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong [agama] Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad[47]: 7) 

Sumber :Portal Islam 

Istidraj: Ketika Ahlul Maksiat Bergelimang Harta Dunia

Istidraj: Ketika Ahlul Maksiat Bergelimang Harta Dunia


10Berita – HATI-HATI DENGAN ISTIDRAJ !!!

Jika Kita Tidak Segera Melakukan Perbaikan Diri Dengan Menjauhi Mindset Materialisme Dari Dalam Diri Kita, Sehingga Kita Terlena Dengan Kehidupan Dunia Yang Fana ini, Akhirnya Terjebak Istidraj dari ALLAH, Karena Kelalaian Kita Sendiri. Ujung-Ujungnya adalah Musibah dan Kerugian di Akhirat Kelak.!

APA ITU ISTIDROJ ?

ISTIDROJ itu adalah Azab Yang Diundur- Undur Oleh ALLAH Ta’ala, Namun ALLAH Tetap Memberikan Kita :

1). Harta Yang Berlimpah; Padahal Tidak Pernah Bersedekah. !

2). REZEKI BERLIPAT-LIPAT; Padahal Jarang Shalat, Tidak Senang pada Nasihat Ulama, dan Terus Berbuat Maksiat.. !

3). DIKAGUMI, DIHORMATI; Padahal Akhlak Bejat.

4). DIIKUTI, DITELADANI dan DIIDOLAKAN; Padahal Bangga Mengumbar Aurat Dalam Berpakaian.. !

5). SANGAT JARANG DIUJI SAKIT; Padahal Dosa-Dosa Menggunung dan Membukit. !

6). TIDAK PERNAH DIBERIKAN MUSIBAH; Padahal Gaya Hidupnya Sombong, Meremehkan Manusia, Angkuh dan Bedebah.. !

7). ANAK-ANAK SEHAT-SEHAT, CERDAS-CERDAS; Padahal Diberikan Makan Dari Harta Hasil Yang Haram (Menipu, Korupsi, Riba’, dll )..

8). HIDUP BAHAGIA PENUH CANDA TAWA; Padahal, Banyak Orang Karenanya Ternoda dan Terluka.

9. KARIRNYA TERUS MENANJAK; Padahal Banyak Hak Orang Yang Diinjak-Injak.. !

10. SEMAKIN TUA SEMAKIN MAKMUR; Padahal Berkubang Dosa Sepanjang Umur.. !

Hati-Hati, Karena itulah yang Dinamakan ISTIDRAJ.

RENUNGKAN AYAT INI :

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Artinya:
“Maka Tatkala Mereka Melupakan Peringatan yang telah diberikan kepada mereka, KAMI pun Membukakan Semua Pintu-Pintu Kesenangan Untuk Mereka; Sehingga apabila Mereka Bergembira Dengan Apa yang Telah Diberikan Kepada Mereka, KAMI Siksa Mereka Dengan Sekonyong-Konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. AL-‘AN’ĀM : 44 )

RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassalam., bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Kamu Melihat ALLAH Memberikan Dunia Kepada Seorang Manusia Pelaku Maksiat, Dengan Sesuatu YANG ia (pelaku maksiat) Sukai, Maka Sesungguhnya Itu adalah ISTIDRAJ.”
(HR. AHMAD )

Maka Jangan Silau Dengan Kesuksesan dan Kemegahan Yang Ditampilkan Seseorang.. !!! Maka Waspadalah.. !!! Bisa Jadi Dia Sedang Mengalami ISTIDRAJ.

Dan pada Sagatnya Nanti, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., Tiba-Tiba Mencabut Semua Kenikmatan itu, Tanpa Dia Sadari. !!!

Sebagai Orang Beriman yang Dikasihi ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., maka ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., akan Selalu Menjaga Kita dari Segala Kemaksiatan, Tidak Dibiarkan Dalam Kesesatan. !

Jadi kalau kita sudah Beramal Sholeh, Namun Kita Masih Diberi Ujian / Cobaan, Maka Itulah Tanda Kasih Sayang ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., pada Hamba-Hamba-NYA, Berupa Keringanan Dosa dan Menuju Ampunan-NYA. !

SEMOGA KITA SELAMAT DARI ISTIDRAJ.

AAMIIN YAA RABBAL AL AAMIIN (kk/wa)

Sumber : Eramuslim

Politik Ramadhan, Strategi Jokowi Tarik Simpati Umat Islam ?

Politik Ramadhan, Strategi Jokowi Tarik Simpati Umat Islam ?



10Berita, Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan ulama dinilai akan lebih intensif terjadi pada bulan puasa mendatang.

Pengamat Politik Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf menilai Jokowi akan memainkan strategi politik “Bulan Ramadhan” agar mendapat simpatik umat.

Menurut Asep langkah akan dilakukan mengingat waktu pendaftaran capres dan cawapres hanya tersisa empat bulan lagi.

“Nanti dukungan dari partai-partai akan turun juga, karena Agustus sudah dekat dalam kaitannya dengan pendaftaran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asep menilai selain menarik dukungan dari para ulama, dalam pertemuan nanti juga sebagai momentum Jokowi untuk memperkenalkan cawapres yang dipilih sekaligus melihat respon dari para ulama. Jika mendapat restu maka langkah selanjutnya adalah fase penjajakan.

“fase berikutnya mengenalkan pasangannya siapa, berikutnya adalah bagaimana memenangkan,” tutupnya. 

Sumber : rmol,

Kalau Harga Beras Masih Mahal, Impor Beras Kemarin Untuk Apa?

Kalau Harga Beras Masih Mahal, Impor Beras Kemarin Untuk Apa?


10Berita, Politisi Partai Gerindra Iwan Sumule mengaku bingung dengan pernyataan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang menyarankan masyarakat menawar harga beras yang mahal.

Iwan pun mempertanyakan soal impor 500 ribu ton beras dari Thailand beberapa waktu lalu. Dimana impor dilakukan dengan dalil untuk mengamankan pasokan dan mengendalikan harga beras di tingkat konsumen.

"Kalau harga beras masih mahal, artinya impor beras kemarin untuk apa?" kata dia kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (26/4).

Jika ternyata harga beras masih tinggi di tingkat konsumen, sambung Iwan, maka ada yang janggal dengan kebijakan impor tempo hari.

"KPK mesti turun tangan periksa menteri tersebut dan semua orang yang terkait dalam impor beras tersebut," seru Iwan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sebelumnya mengatakan, seharusnya masyarakat menawar jika pedagang memberikan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan Pemerintah yakni untuk beras jenis medium di Pulau Jawa, Lampung, Sumatera Selatan yaitu Rp 9.450/kg dan Rp 12.800/kg untuk premium.

Sumber : b-islam24h.com

Rendra Hadi Kurniawan Penghina Nabi Muhammad Ternyata Kader Partai Demokrat

Rendra Hadi Kurniawan Penghina Nabi Muhammad Ternyata Kader Partai Demokrat

10Berita Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur, telah menetapkan Rendra Hadi Kurniawan sebagai tersangka penghina Nabi Muhammad dan langsung menahannya. Rendra Hadi Kurniawan (39 tahun), ternyata merupakan kader dan pengurus Partai Demokrat cabang Sidoarjo, Jawa Timur.

Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Rendra ditetapkan sebagai tersangka karena penyidik sudah mendapatkan alat bukti kuat ujaran kebencian yang dilakukan Rendra melalui media sosial, Facebook.

Begitu video ujaran kebencian itu viral di medsos, partai Demokrat langsung melakukan pemecatan terhadap Rendra. Terbongkarnya Rendra sebagai kader Demokrat diketahui dari foto surat permohonan pencabutan KTA atas nama Rendra Hadikurniawan oleh DPC Demokrat Sidoarjo bernomor 35.0/Prmh/DPC.PD/SDA/VI/2018. Tertanggal 26 April 2018, surat berkop resmi itu ditujukan kepada Ketua Umum DPP Demokrat.

Baca juga: Polisi Medan Kembali Bekuk Pelaku Penghina Nabi Muhammad Lewat Media Sosial

Surat permohonan pencabutan KTA Rendra Hadi Kurniawan diajukan sebagai respons atas viralnya video yang berkonten hinaan kepada Nabi Muhammad. Surat juga menyebutkan keterangan dari keluarga yang menjelaskan bahwa Rendra mengalami gangguan kejiwaan sejak lama.

Renville menjelaskan, yang berhak mencabut KTA adalah DPP Demokrat. Begitu menerima surat itu, DPP langsung memutuskan pemberhentian terhadap Rendra.

“Selain karena sudah viral, DPP memberikan alasan tambahan, kalau sudah menghina dan menistakan agama, dia harus dipecat,” ujar Renville.

Renville mengungkapkan bahwa sebenarnya DPD meminta DPC Demokrat Sidoarjo melakukan klarifikasi terkait video menghebohkan itu sejak kemarin, Rabu, 25 April 2018, di antaranya kepada keluarga Rendra. Berdasarkan hasil klarifikasi Demokrat Sidoarjo, terang Renville, Rendra mengalami gangguan kejiwaan.

“Kesimpulannya, yang bersangkutan gangguan jiwa,” ujar Renville.

Dikonfirmasi soal itu, Sekretaris DPD Demokrat Jatim, Renville Antonio, membenarkan ihwal surat tersebut. Surat permohonan pencabutan KTA dari Demokrat Sidoarjo diterima DPD Demokrat Jatim, lalu diteruskan ke DPP.

Namun perlu diketahui, polisi menegaskan bahwa Rendra tidak gila. Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, menuturkan, penyidik untuk sementara ini memastikan Rendra dalam kondisi normal alias tidak mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan, dipastikan dia dalam kondisi sadar dan sehat saat merekam kata-kata penghinaan.

Sumber : Ngelmu.co

Diam-Diam, Perusahaan Swiss Ekspor Bahan Gas Sarin ke Suriah

Diam-Diam, Perusahaan Swiss Ekspor Bahan Gas Sarin ke Suriah

10Berita, SWISS—Sebuah perusahaan Swiss telah mengekspor zat kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku gas sarin ke Suriah pada 2014, kata media Swiss, Rabu (25/4/2018).

Menurut Swiss Radio and Televisi (RTS), perusahaan itu telah mengekspor sebanyak lima metrik ton isopropanol ke Suriah. Pada Mei 2014, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengatakan, bahwa Suriah telah menghancurkan 120 metrik ton isopropanol.

“Namun, enam bulan kemudian, sebuah perusahaan Swiss bisa mengekspor lima metrik ton isopropanol tanpa larangan dari pemerintah Swiss,” ujar RTS.

Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) mengatakan bahwa perusahaan tersebut adalah “Perusahaan farmasi swasta Suriah” dan “Tidak ada indikasi bahwa mereka memiliki keterkaitan dengan rezim Bashar al-Assad di Suriah pada saat itu ataupun sekarang.”

Uni Eropa telah memberlakukan sanksi atas rezim Assad, salah satunya larangan ekspor beberapa bahan kimia, termasuk Isopropanol. Sementara itu, otoritas Swiss, yang bukan anggota UE, tidak memasukkan Isopropanol ke daftar produk terlarang untuk Suriah.

Kelompok Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR) mengungkapkan bahwa pasukan rezim Assad telah melancarkan 214 serangan kimia ke pihak oposisi sejak 2011, yang telah menewaskan sedikitnya 1.421 orang. []

SUMBER: Anadolu, Islampos.

Kronologis Lengkap Pertemuan Tim 11 Ulama Alumni 212 dengan Jokowi

Kronologis Lengkap Pertemuan Tim 11 Ulama Alumni 212 dengan Jokowi



10Berita, JAKARTA - Simpang siurnya agenda pertemuan hingga sifat pertemuan antara Tim 11 Ulama Alumni 212 dengan Jokowi pada Ahad lalu sebetulnya sudah terjawab. Hal ini misalkan saja dapat diamati dari beberapa pernyataan dari tokoh terkait kala bertemu Jokowi melalui konferensi pers.

Berikut pernyataan lengkap tokoh-tokoh tersebut ketika mengadakan konferensi pers pada hari Rabu (25/4/2018), di Tebet, Jakarta Selatan.

Usamah Hisyam, Anggota Tim 11 sekaligus Ketum Parmusi:

"Siapa yang mengundang dan diundang ini berawal dari rapat jelang kepulangan habib Rizieq pada 21 Februari yang direncanakan kembali ke Indonesia. Satu minggu sebelumnya, sekitar tanggal 12 Februari kita mengadakan rapat bagaimana agar kepulangan habib Rizieq ini bisa menjadi lancar, aman, tertib dan bisa terlaksana dengan baik maka kita sepakat perlu segera memberikan penjelasan yang utuh kepada Bapak Presiden tentang masalah kriminalisasi ini.

Dan pada saaat itu, kita ulama, atas inisiasi Abitam dan mendapat persetujuan habib Rizieq di Mekkah, kita laporkan untuk bisa menemui Bapak Presiden. Dan saya sebagai Ketum Parmusi diamanatkan  oleh Tim untuk menghubungi istana. Kenapa? Karena saya tahun lalu, saya hampir setiap bulan ketemu presiden, ya, walaupun melakukan aksi 212 untuk Aksi Bela Islam, karena saya punya hubungan silaturahim dengan beliau, dan itu dilakukan namun pada saat itu karena beberapa kesibukan akhirnya pertemuan itu gagal. Dijanjikan nanti.

Mungkin setelah 212. Tidak ada kabar, baru kemudian pada tanggal sekitar 14 April kami mendapatkan informasi dari pihak istana bahwa beliau meminta saya hadir di istana. Oleh sebab itu saya pribadi pada tanggal 19 April diterima Bapak Presiden empat mata pukul 15.30. Kemudian Pak Presiden menanyakan: 'Pak Usamah,  rencana pertemuan dengan Tim 11 materinya apa kontennya?' Saya menjawab, tunggal, Pak Presiden kontennya. Berlama silaturahmi, kontennya bagaimana agar kriminalisasi ulama ini dapat dihentikan.

Itu konten yang ingin disampaikan oleh ulama. Dan saya menyampaikan pertemuan ini menjadi penting agar miskomunikasi yang terjadi antara Presiden dengan ulama selama ini bisa cair. Menjadi sangat penting bagi upaya untuk menuntaskan kriminalisasi, karena bagaimanapun juga penanggungjawab tertinggi di negara ini adalah Presiden RI. Jadi langkah apapun yang dilakukan aparat, dampaknya terhadap presiden.

Oleh sebab itu, saya sampaikan ketika itu harus ada politicalweel terhadap permasalahan ulama ini, kriminalisasi karena masih banyak aktivis yang terbelenggu dengan kriminalisasi termasuk ustaz al-Khaththath, walaupu sudah posisi bebas, ya, tetapi kasusnya masih tersangkut. Beluk di-SP3-kan. 

Oleh sebab itu kemudian dalam pertemuan itu, presiden menyatakan, 'Baik kalau begitu, Pak Usamah. Saya akan kaji dulu dengan tim kecil. Malam hari akan saya kabari, Pak Usamah.' Dan tim kecil itu sudah mengkaji kemudian saya mendapat kontak dari pihak istana untuk disiapkan waktu hari Minggu. Tadinya kita mengharapkan salat Subuh berjamaah di istama Bogor.

Tapi Presiden karena ada kesibukan lain maka dilakukan di istana Bogor, kita minta salat Zuhur berjamaah. Dan kemudian itulah berlangsung. Jadi tidak ada yang mengundang dan tidak ada yang diundang, ya. Ini kesepakatan saja."

Ustaz al-Khaththath, Tim 11:

"Kita tidak mengenal suhu politik. Yang pasti adalah kita fokus untuk memberikan informasi yang akurat ke presiden tentang fakta kriminalisasi, karena kita sebelumnya mendengar bahwa presiden itu saat di istana, dulu ketika kawan-kawan dari GNPF datang, presiden mengatakan tidak melakukan kriminalisasi dan tidak punya niat melakukan kriminalisasi.

Nah, kemarin dalam pertemuan itu kita sampaikan fakta-fakta tentang bahwa kriminalisasi itu ada. Sampai di situ saja. Kita tidak tahu. Yang buat kebijakan siapa. Yang pasti kita minta ke presiden agar kebijakan kriminalisasi itu dihentikan. Dan ini tidak terkait dengan suhu politik.

Harapan kita presiden mengusut siapa yang membocorkan pertemuan tersebut.  Kita sebenarnya posisinya mau tertutup boleh, mau terbuka boleh. Tapi kita memandang, karena semua HP kita diminta, tidak boleh dibawa, pemahaman kita berarti itu tertutup. Kalau sudah tertutup berarti kan tidak boleh terbuka.

Makanya kita tidak memberitakan apapun. Seandainya terbuka, dan pertemuan itu tidak dimaksud tertutup maka ketika kita keluar dari ruangan pasti sudah disediakan wartawan untuk konferensi pers."

KH. Misbahul Anam:

"Tolong wartawan tanya pada presiden, ya? Sebab kami inginnya terbuka. Yuk kita dialog terbuka antara pemerintah dengan para tokoh ulama 212. Jadi sekali lagi silahkan tanyakan ke presiden. Kami siap terbuka. Tidak ada rahasia. Jika perlu kita buka forum terbuka antar pemerintah dengan tokoh ulama 212."

Yusuf M. Marta, Ketua Umum sekaligus Jubir GNPF:

"Di dalam pertemuan itu kita diundang dan di saat kita akan masuk semua handphone tidak diperkenankan dibawa masuk. Berarti sepakat secara tidak tersirat bahwa tidak ada foto dan tidak ada rekaman. Bahkan saat kita duduk bersama presiden, presiden menyampaikan keluhan-keluhan tentang hujatan-hujatan dan penghinaan terhadap beliau, beliau menginginkan agar fotographer yang ada di depan beliau yang sedang melakukan pengambilan gambar dihentikan agar pembicaraan lebih fokus.

Dan secara tidak langsung jelas bahwa pertemuan itu kita anggap adalah pertemuan tertutup. Jadi bukan kami yang meminta tertutup. Kami tidak pernah melakukan satu permintaan tertutup maupun terbuka, pertemuan bagi kami semuanya sama. 

Pertemuan kami juga tidak ada kaitannya dengan dukung mendukung dan lain sebagainya. Pertemuan kami secara khusus hanya membicarakan masalah ketidakadilan, kriminalisasi yang dialami oleh para ulama, habaib, adatidz dan lara tokoh-tokoh umat Islam.

Dan di dalam pertemuan itu kebetulan saya satu-satunya yang hadir di pertemuan di sembilan bulan lalu di istana negara, yang mana saya mendengar secara langsung setelah presiden mendengar keluhan-keluhan ulama yang hadir saat itu, presiden langsung instruksikan Menkopolhukam untuk menindaklanjuti permasalahan-permasalahan yang terkait dan menimpa, menerpa semua para ulama yang dikriminalisasi. 

Namun, setelah berjalannya waktu, sembilan bulan tidak ada satupun kasus-kasus yang menimpa ulama terselesaikan dengan baik. Bahkan laporan-laporan yang tidak jelas pun sudah ditindaklanjuti. Sedangkan laporan-laporan yang dibuat oleh para ulama tentang penistaan terhadap ulama, para asatidz, para habaib bahkan kitab suci umat Islam, rasul umat Islam, tuhan pun dihinakan tidak satupun yang mendapatkan suatu proses yang akurat.

Bahkan cenderung diolor-olor. Bahkan penista-penista itu dari beberapa partai bergiliran, bahkan saat ini mereka mencalonkan dirinya, ada yang menjadi Cagub, calon Wali Kota dan sebagainya. 

Itulah yang kita sampaikan, keluhan umat kepada presiden dalam pertemuan kemarin di istana Bogor. Jadi, kita para Tim 11 tidak pernah berpikir untuk bicara calon mencalonkan dan tidak ada keterkaitan dengan Pileg, Pilpres, maupun Pilkada.

Jadi kita fokus ke kriminalisasi, bahkan kami juga menyampaikan beberapa hal kepada presiden tentang kenapa ada satu proses yang tidak ada dasar, tidak memenuhi unsur hukum tapi dipaksa-paksakan. Itulah yang akhirnya presiden meminta pendapat dari kami 'Apa yang seharusnya saya lakukan? Apa yang harus saya sampaikan kepada aparat?

Dan saya selama ini benar mendapatkan informasi hanya sepihak. Tidak mendapat informasi dari kedua pihak.' Itulah yang mana bisa kita sampaikan isi dari pertemuan tersebut. Adapun bisa terjadi proses pertemuan, saya rasa akan ada secara khusus yang akan menjawab. Terima kasih." 

Demikian respon tokoh-tokoh tersebut yang sempat diabadikan oleh Tim Redaksi saat konferensi pers. (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

Cerita Politisi kala Jokowi Tersudut Hadapi Aksi Besar Massa hingga Tawaran Cawapres untuk Prabowo

Cerita Politisi kala Jokowi Tersudut Hadapi Aksi Besar Massa hingga Tawaran Cawapres untuk Prabowo




10Berita, JAKARTA - Ada cerita menarik, yang ternyata nampaknya cerita ini dibelokkan kemudian dijadikan sebuah berita, seolah-olah Prabowo “mengemis” ke Joko Widodo untuk dijadikan Cawapres. Cerita ini disampaikan oleh kader Gerindra, Habiburokhman, yang kala itu bertepatan dengan rasa terdesaknya Jokowi akibat aksi besar massa, melalui akun media sosial, Twitter pribadi miliknya, Sabtu (14/4/2018). Berikut untaian ceritanya:

“Soal tawaran 08 (Prabowo, red) Cawapres Jokowi, gua pernah denger pasca  Jokowi ke Hambalang jelang 212. Saat itu Jokowi seperti tersudut  rangkaian aksi demo raksasa yang bisa saja merembet ke Istana. 


08 tidak tergiur manfaatkan aksi  212  untuk ganggu pemerinthan Jokowi. 08 justru nyatakan dukung Jokowi s/d 2019. Dukungan ikhlas sebagai negarawan, bukan pamrih mau Cawapres. 08 tidak minta dan tidak mendapat imbalan politik apapun dari kubu Jokowi atas sikap dukung Jokowi s/d 2019. Hanya menunjukkan evaluasi pemerintahan harus dilakukan secara konstitusional, lewat Pemilu. 

Soal Capres-Cawapres itu hampir mirip jodoh, terima kasih kalau memamg menawarkan. Tapi yang lebih penting jadikan Pemilu 2019 bermartabat, tanpa kecurangan, tanpa kriminalisasi lawan politik, tanpa politik uang. Mari bertarung secara ksatria.” (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

‘Merasa Diri punya banyak Ilmu adalah Musibah Besar’

‘Merasa Diri punya banyak Ilmu adalah Musibah Besar’

10Berita, ILMU tidak akan pernah ada habisnya. Karena itu tak pantas bagi seseorang merasa sombong, merasa paling unggul sehingga merendahkan orang lain hanya merasa dirinya memiliki banyak ilmu.

Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, “Suatu musibah yang besar adalah ketika seorang insan merasa ridha dengan keadaan dirinya dan merasa cukup dengan ilmunya, dan ini adalah ujian yang telah merata pada keadaan mayoritas orang.”

Maka engkau bisa lihat hal ini pada orang-orang Yahudi atau Nasrani yang memandang bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, mereka tidak mau menelaah, tidak juga mau melihat kepada dalil nubuwah Nabi Muhammad SAW.

Jika mereka diperdengarkan dengan sesuatu yang bisa melembutkan hatinya semisal Al Quran yang mulia, mereka pun lari menghindar supaya tidak mendengarnya.

Demikian juga kepada orang yang telah memiliki hawa nafsu yang kuat, bisa berupa karena dia seorang yang mengikuti mazhab bapaknya dan keluarganya, atau bisa berupa adanya pendapat pribadi yang dia anggap benar.

Namun mereka melihat dalil lain yang bisa membantahnya dan tidak mau melihat bahasan ulama yang sesungguhnya akan memberikan kepadanya pencerahan akan kesalahannya.” []

SUMBER: https://www.atsar.id/2018/04/jangan-merasa-pede-cukup-dengan-ilmumu.html