OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 02 Mei 2018

Instagram Didominasi Tagar #2019GantiPresiden (88,2%), #2019TetapJokowi Hanya 11,8%

Instagram Didominasi Tagar #2019GantiPresiden (88,2%), #2019TetapJokowi Hanya 11,8%


10Berita, Peta sosial media menjelang Pilpres 2019 sangat jauh berbeda dengan saat Pilpres 2014.

Saat Pilpres 2014 lalu bisa dikatakan sosial media dikuasai oleh pendukung Jokowi. Bahkan pendukung Jokowi sudah menguasai sosmed sejak Pilkada DKI Jakarta 2012 sebelumnya, dengan munculnya JASMEV.

Namun saat ini, peta sosmed di semua platform dikuasai oleh kubu kontra Jokowi. Baik di Facebook, Twitter dan Instagram.

Di Instagram bahkan posisinya sangat njomplang. Kubu pro Jokowi betul-betul tak berkutik.

Dari penelusuran di Instagram dua tagar yang berlawanan, tagar #2019GantiPresiden VS #2019TetapJokowi didapat hasil yang mencengangkan... kubu pendukung Jokowi babak belur.

Sampai pagi ini, Rabu (2/5/2018), tagar #2019GantiPresiden mendominasi Instagram dengan 118k (118.000) postingan atau 88,2%.

Sedang tagar #2019TetapJokowi hanya 15,8k (15.800) atau 11,8%.

Silakan cek sendiri di kolom Searching, tuliskan tagar #2019GantiPresiden akan didapat hasilnya, lalu ketik #2019TetapJokowi ketahuan hasilnya.

Ada pula tagar #DiaSibukKerja, juga sangat kecil cuma 2850.

Sumber: IG

Insiden CFD Jauh Lebih Kecil dari Inkompetensi Pemimpin Negara

Insiden CFD Jauh Lebih Kecil dari Inkompetensi Pemimpin Negara


10Berita -Rekayasa atau murni, settingan atau tidak, insiden kecil yang terjadi di tengah aksi #2019GantiPresiden pada hari Car Free Day di Bundaran HI, Jakarta, tidak akan berdampak terhadap tekad kuat dan perjuangan konstitusional untuk mencukupkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) satu periode saja. Insiden itu menjadi berita yang dibesar-besarkan karena media-media raksasa yang korup pendukung penguasa tidak punya cara lagi untuk mengecilkan gerakan ganti presiden itu.

Sehingga, insiden yang sebetulnya bisa berlalu tanpa berita itu, menjadi seolah peristiwa besar. Seolah #2019GantiPresiden diisi oleh orang-orang yang ceroboh, diikuti oleh orang-orang yang tidak dewasa berdemokrasi, dlsb.

Secara psikologis, blow-up insiden kecil itu memang tak terelakkan. Sebab, pihak pendukung Jokowi sekarang kehabisan cara untuk menghadang laju gerakan ganti presiden 2019. Mereka tidak mampu lagi memikirkan strategi untuk melawan gerakan ini. Akhirnya, mereka hanya bisa mengintai dengan cermat kesalahan-kesalahan yang tak signifikan, yang tidak substantif. Pastilah akan selalu ada momen yang diintip-intip itu.

Sangat alami sekali bahwa tidak ada satu pun gerakan massa yang sempurna 100 persen tanpa noda. Dengan mengatakan seperti ini, saya tidak mengesampingkan kemungkinan adanya “pegaturan” insiden itu. Kalau pengaturan ini bisa dibutkikan, tentulah semakin menguatkan persepsi orang bahwa pihak penguasa selalu punya cara dan fasilitas untuk memercikkan noda ke pihak lain.

Tetapi, sekirannya insiden ibu yang bawa anak itu terjadi secara alamiah, tidak berarti #2019GantiPresiden telah ternoda. Sama sekali tidak!

Gerakan ini dilahirkan untuk berlangsung secara tertib dan damai. Dan sejauh ini telah berjalan tertib dan damai. Tidak pernah ada masalah. Jadi, tidak perlu ada “guilty feeling” yang berlebihan terkait insiden itu. Ibarat kain putih bersih yang memang sulit menjaganya dari percik-percik kotoran. Yang harus dilakukan oleh komunitas besar #2019GantiPresiden adalah introspeksi yang positif. Selain itu, perlu juga dilakukan peningkatan pemahaman tentang “crowd provocation and hostility”. Yaitu, trik-trik povokasi dan pemusuhan (bukan permusuhan) di tengah khalayak.

Provokasi dan pemusuhan bisa berkembang di tengah keyakinan bahwa keberkumpulan massa suatu gerakan tidak akan diganggu oleh keanehan yang dilakukan beberapa orang. Singkatnya, warga yang mengikuti gerakan #2019GantiPresiden tidak menduga bakal akan satu-dua yang berpenampilan lain di tengah mereka. Sehingga, sejumlah orang akan menunjukkan reaksi yang spontanitas. Menurut hemat saya, jalan cerita seperti inilah yang terjadi di perhelatan CFD yang didominasi oleh #2019GantiPresiden.

Warga pendukung gerakan ganti presiden 2019 pasti akan mencatat pelajaran dari insiden ibu-anak itu. Tampil dengan “self-refrain” (menahan diri) yang kuat bisa beperan untuk mengubah provokasi menjadi hiburan.

Yakinlah bahwa insiden CFD itu jauh, jauh lebih kecil dibandingkan pembahasan bagi-bagi fee proyek BUMN. Jauh lebih kecil dari ancaman hutang luar negeri Indonesia yang semakin menggunung. Jauh lebih kecil dari kerugian material dan korban jiwa akibat pengerjaan proyek infrastruktur yang dilakukan secara semberono. Jauh lebih kecil dibandingkan invasi tenaga kerja asing, khususnya tenaga kerja RRC.

Jauh lebih kecil dibandingkan kriminalisasi terhadap para ulama. Jauh lebih kecil dibandingkan pembohongan publik yang dilakukan oleh penguasa. Jauh lebih kecil dibandingkan korupsi e-KTP, dibandingkan skandal Bank Century, dibandingkan konspirasi penyeludupan narkoba, dlsb. Jauh lecih kecil dibandingkan pencolengan dan penggarongan kekayaan negara yang dilakukan oleh para konglomerat rakus dan culas.

Jauh lebih kecil dibandingkan kehidupan rakyat yang semakin sulit sekarang ini. Jauh, jauh lebih kecil dibandingkan dua korban tewas akibat sembako Monas plus penghinaan terhadap martabat bangsa karena bagi-bagi sembako itu. Jauh lebih kecil dari cara kasar melemparkan hadiah lewat jendela mobil.

Jauh lebih kecil dibandingkan pengelolaan negara yang semakin tidak jelas. Dan, insiden ibu-anak di CFD itu jauh, jauh lebih kecil dibandingkan inkompetensi pemimpin negara ini.

Karena itu, insiden CFD tidak akan mengganggu gerakan #2019GantiPresiden. (kk/swamedium)

Penulis: Asyari Usman, Jurnalis Senior.

Sumber : Eramuslim

Polisi Pilih Panggil Mustofa Nahra Bukan Pria Pengintimidasi Susi di CFD, Warganet: Takut Dramanya Terbongkar?

Polisi Pilih Panggil Mustofa Nahra Bukan Pria Pengintimidasi Susi di CFD, Warganet: Takut Dramanya Terbongkar?


10Berita, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan polisi berencana memanggil pemilik akun Twitter @NetizenTofa, Mustofa Nahrawardaya terkait kicauannya tentang insiden intimidasi terhadap Susi Ferawati di acara Car Free Day, Ahad 29 April 2018.

Pemanggilan Mustofa itu untuk menindaklanjuti laporan Susi, Senin 30 April 2018, mengenai kicauan Mustofa di twitter yang disebut membuat Susi terancam dan mengalami perundungan di media sosial.

"Kami berencana memanggil terlapor (Mustafa). Kami terlebih dahulu harus menyelidiki kasus ini," kata Argo saat dihubungi Selasa 1 Mei 2018

Mustofa mengunggah sejumlah kalimat di twitternya menanggapi peristiwa intimidasi di Car Free Day.

"Ibunya harus paham situasinya. Kalau gak mau ribut, copot kaosnya. Biar anaknya tenang," tulis Mustofa lewat akun @NetizenTofa.

— Mustofa Nahrawardaya (@NetizenTofa) April 29, 2018


Susi melaporkan Mustofa ke polisi dan tercatat dalam Laporan nomor TBL/2376/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 30 April 2018. Perkara yang dilaporkan adalah pengancaman melalui media elektronik sesuai Pasal 27 (4) jo Pasal 45 (4) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Sementara itu, Mustofa yakin laporan terhadapnya tidak akan ditindaklanjuti oleh polisi. Dia merasa kicauannya bukanlah ancaman, melainkan saran kepada Susi.

"Kalau mengancam itu seperti saya bilang saya akan membunuh, saya akan merampok. Mengancam itu hal yang belum terjadi, makanya itu ancaman. Saya berada di lokasi saat itu, jadi cuitan saya hanya memberi saran saja, sebab Susi memang berjalan melewati kami (kelompok #2019GantiPresiden)," kata Mustafa.

Mustofa menyebut Susi saat itu memakai baju lapis dua, karena itu Mustafa bilang lebih baik melepas kaus yang ada tulisan #DiaSibukKerja.

Dia justru balik menyebut bahwa kelompok #DiaSibukKerja melanggar imbauan Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Roma Hutajulu yang mengimbau agar kedua kelompok tidak bertemu di CFD untuk menghindari konflik.

"Mereka (kelompok #DiaSibukKerja) juga melanggar, mereka melewati kelompok kami. Makanya terjadi seperti itu. Menurut saya hal tersebut wajar jika dua kelompok berlawanan bertemu," ujar Mustofa.

Intimidasi terhadap Susi dan anaknya viral di media sosial. Dalam video yang diunggah oleh akun Jakartanicus, di Youtube, sekelompok warga yang memakai kaus bertuliskan #2019GantiPresiden mengintimidasi Susi dan anaknya yang memakai kaus #DiaSibukKerja.

Keputusan pihak kepolisian untuk memanggil Mustofa Nahra, membuat banyak warganet heran.

Pasalnya, alih-alih memanggil orang yang pada berbagai foto dan video nampak jelas tengah mengintimidasi Susi, polisi justru lebih dahulu memproses laporan Susi dengan memanggil Mustofa Nahra.

Padahal, wajah para pelaku intimidasi sudah sangat jelas karena beberapa warganet sudah membeberkan jatidiri para pelakunya.

Kenapa ke sini? Knp tidak coba usut dan panggil orang2 yg fotonya beredar sbg pelaku "intimidasi"? Video ada, foto yg diduga pelaku ada.
Atau "khawatir" ketahuan skenario aslinya?

Polisi Akan Panggil Akun @NetizenTofa soal Cuitan Intimidasi https://t.co/jQdnGSrBRF

— ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ (@MbahUyok) May 1, 2018



Sumber :Portal Islam 

Yusril Ingatkan Semua Tenaga Kerja RRC Itu WAMIL, Mereka Adalah Tentara Atau Mantan Tentara

Yusril Ingatkan Semua Tenaga Kerja RRC Itu WAMIL, Mereka Adalah Tentara Atau Mantan Tentara

10Berita – Pemerintah Indonesia tidak bisa menganggap remeh urusan kehadiran tenaga kerja asing (TKA) dari Republik Rakyat Cina (RRC).

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra dalam forum Indonesian Lawyer Club (ILC) Selasa (1/5) malam mengingatkan bahwa semua TKA Cina memiliki latar belakang sebagai tentara.

“Kita harus ingat, bahwa di Cina itu berlaku wajib militer. Semua warga Cina yang berusia antara 18 sampai 23 tahun wajib ikut,” ujar Yusril yang beberapa tahun lalu pernah memerankan Laksmana Cheng Ho dalam sebuah film yang judulnya diambil dari nama pemimpin ekspedisi Tiongkok di abad ke-15.

“Jadi, semua TKA Cina yang ke sini adalah tentara atau punya pengalaman latar belakang sebagai tentara,” ujar Yusril lagi.

Cina merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang masih menggunakan sistem satu partai dimana Partai Komunis China (PKC) begitu berkuasa.

Selain Yusril, diskusi malam ini juga menghadirinya ekonom Rizal Ramli, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dan mantan Menaker Fahmi Idris. (rmol)

Berikut video lengkapnya;

Sumber :Eramuslim 

MIRIS!!! Tragedi "Sembako Maut Monas", Orang Tua Korban Diminta Tutup Mulut

MIRIS!!! Tragedi "Sembako Maut Monas", Orang Tua Korban Diminta Tutup Mulut


10Berita, Miris. Dua nyawa menghilang sia-sia hanya untuk menebus satu kupon yang dapat ditukarkan dengan sembako. Acara Untukmu Indonesia di Monas, Sabtu (28/4/2018), pun kini menjadi pergunjingan warga sekitar rumah korban.

Keluarga korban meninggal, M Rizki Saputra (10), pernah dilarang berbicara ihwal kronologi meninggalnya korban kepada orang lain. Informasi itu disampaikan tetangga rumah ibu korban, Laurensia yang tinggal di RT 12 RW 13 Kelurahan Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Menurut Laurensia, ada pihak panitia yang meminta agar orang tua Rizki tidak membicarakan kematian anaknya kepada para tetangganya. “Dari Relawan Merah Putih [meminta ibu keluarga korban diam], ibu boleh sekali lagi [bicara], tapi ngomong sama LPAI [Lembaga Perlindungan Anak Indonesia],” katanya saat ditemua di rumahnya, Selasa (1/5/2018).

Penelusuran Republika, Relawan Merah Putih terlibat aktif dalam pemenangan pasangan Ahok-Djarot saat Pilgub DKI 2017.

Ibu Rizki Komariah juga membenarkan ia didatangi Relawan Merah Putih yang memintanya agar tidak berbicara masalah kematian anaknya, khususnya kepada media.

Laurensia mengatakan, sejak kabar meninggalknya Rizki, keluarha korban banyak menerima kunungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, LPAI, Lembaga Musyawarah Kelurahan [LMK] Pademangan Barat, dan berbagai media. Selain itu, ia mengatakan, keluarga juga mendapat kunjungan dari Relawan Merah Putih dan panitia Forum Untukmu Indonesia (FUI).

Laurensia mengaku, banyak mengetahui betul informasi pertemuan itu lantaran pertemuan diadakan di rumahnya. Sebab, rumah kontrakan yang ditinggali korban dan keluarganya tidak memungkinan menerima banyak tamu.

Laurensia mengungkapkan, berdasarkan pembicaraan yang dilakukan, aparat kepolisian memberi imbauan, arahan, dan mendengar cerita keluarga korban. Sementara dari FUI dan Relawan Merah Putih memberikan sejumlah uang dan menyampaikan bela sungkawa.

Dia menyebut, Relawan Merah Putih membawa uang sebanyak Rp 5 juta dalam amplop yang sudah tersobek.

Laurensia mengatakan, berdasarkan keterangan keluarga, orang tua korban bernama Komariah mendapat tiga kupon pembagian sembako di Monas, yakni untuk jenis sembako, maka gratis, dan doorprize.

(Sumber: Koran REPUBLIKA, edisi Rabu, 2 Mei 2018)

INI JENIS-JENIS KUPON YANG DIBAGI ACARA MONAS MAUT...


(Baca: Dave Revano Ketua Acara Monas Yang Tewaskan 2 Anak Ternyata Dulu Ketua Forum Relawan Jokowi)

(Baca: Video Penuturan dan Kesaksian Ibu Korban di iNewsTV)

Ayo @psi_id mana? gak lapor Polisi neh? lha kemarin anak nangis aja dilaporin rame2 pakai doorstop wartawan. Ini ada dua anak tewas meregang nyawa di acara Paskah, kok tiba2 sepi? pic.twitter.com/lXF6XQ97tG

— Mustofa Nahrawardaya (@NetizenTofa) 2 Mei 2018


Sumber :Portal Islam 

PSI Laporkan Dugaan Intimidasi CFD #2019GantiPresiden, Ini Jawaban Menohok Netizen

PSI Laporkan Dugaan Intimidasi CFD #2019GantiPresiden, Ini Jawaban Menohok Netizen



10Berita - Menanggapi tindakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang melaporkan dugaan intimidasi saat car free day (CFD) #2019GantiPresiden di Monas pada Ahad (29/4/18) lalu, netizen dinilai menyampaikan pertanyaan yang menohok.

"Itu korban tewas di Monas gmn kbr?' kata netizen bernama Ndro Van Menyon.


Senada dengan pertanyaan Van, netizen lain juga mendorong PSI untuk menuntut panitian Forum Untukmu Indonesia yang mengadakan bagi-bagi sembako di Monas dan diduga merenggut dua korban nyawa.

"PSI ada korban meninggal tuh. Ayuk panitia dilaporkan oi!" kata Yulius Farani.

Laporan PSI

PSI mengambil inisiatif melaporkan dugaan intimidasi dalam CFD #2019GantiPresiden di Thamrin Jakarta Ahad (29/4/18) lalu. Seorang ibu dan anak dengan kaos #DiaSibukKerja terlihat di dalam video sedang berjalan di tengah kerumunan massa berkaos #2019GantiPresiden.

 Keterangan Saksi

Mustofa Nahra Wardaya yang berada di lokasi CFD #2019GantiPresiden angkat bicara. Pihaknya menyatakan tidak bisa mengidentifikasi siapa pelaku sebenarnya karena kaos #2019GantiPresiden bisa dibeli dimana saja, secara online maupun offline.

 Nahra juga menjelaskan adanya oknum yang sengaja memperkarakan kejadian tersebut dengan mengunggah video di media sosial yang dibumbui judul provokatif. 

Korban Meninggal

Kokom, orang tua salah satu korban meninggal di Monas, angkat bicara. Ia mengaku mengikuti acara bagi-bagi sembako di Monas pada Sabtu (28/4/18). Kokom menceritakan, dia dan anaknya berdesak-desakan, didorong hingga terjatuh dan akhirnya meninggal dunia.

Baca: Kesaksian Kokom Bungkam Keterangan Polisi

Keterangan Kokom ini senada dengan data yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Sandiaga S Uno dan membantah pernyataan Polda Metro Jaya. Polda menyatakan, korban meninggal bukan karena antrean dalam acara bagi-bagi sembako di Monas.

Sumber: Tarbawia

Sorotan Terhadap CFD Lebih Heboh Ketimbang Tewasnya Dua Orang Saat Antri Sembako

Sorotan Terhadap CFD Lebih Heboh Ketimbang Tewasnya Dua Orang Saat Antri Sembako

10Berita, JAKARTA – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M. Taufik menganggap wajar saling mengejek antara massa berkaus #2019GantiPresiden dengan massa berkaus #DiaSibukKerja pada Car Free Day, yang berlangsung pada Ahad (29/4/2018).

Menurut Taufik, peristiwa saat CFD sama dengan ketegangan antar kedua pendukung kedua tim sepakbola. Saling mengejek dan beradu orasi satu dengan yang lain. Hal tersebut biasa terjadi.

“Ketika ada kerumunan orang banyak beda kelompok pasti ada gesekan dan wajar, itu mah biasa-biasa saja,” ujar Taufik di gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (30/4).

Yang tidak biasa itu, tandas taufik, justru tewasnya dua orang akibat antri sembako di Monas, Sabtu (28/4).

Pembagian sembako tersebut digelar oleh Forum Untuk Indonesia dalam acara Untukmu Indonesia.

“Jangan hanya CFD yang ditayangkan,” cetus Taufik.

Sebelumnya, wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno mengatakan,, acara pesta rakyat dan bagi-bagi sembako di Lapangan Monas  telah menelan korban jiwa.

Dua orang diketahui tewas usai acara yang digagas Forum Untukmu Indonesia (FUI).

Sandi mengatakan hal ini usai mendapat laporan hasil pertemuan tertutup dengan pihak FUI dan Dinas Pariwisata dan Budaya DKI.

Dilansir viva.co,id, Selasa (1/5), Kokom, ibu dari Rizki Saputra, korban meninggal dunia usai antri sembako di Monas masih emosional menghadapi kematian anaknya. Sambil terisak, dia menceritakan kejadian saat dia dan anaknya ikut kegiatan bagi-bagi sembako yang diadakan oleh Forum Untukmu Indonesia.

Kokom mengaku mendapatkan kupon pembagian itu dari seorang warga di kawasan Pademangan, Jakarta Utara. Berbekal kupon itu, dia dan Rizki berangkat dengan bus bersama warga lain ke Monas.

“Enggak didorong dari belakang saja, dari depan pun didorong. Anak saya didorong dari belakang enggak jatuh, dari depan (didorong) langsung begini jatuh, kakinya keinjak (jadi) biru. Sudah begitu saya dorong lagi yang depan, takut nginjak lagi kan,” tutur i kontrakannya di Pademangan Barat, Jakarta Utara, Selasa (1/5).

Kokom menuturkan anaknya juga sempat muntah-muntah, kejang dan juga pingsan. Dalam kondisi itu, Kokom mengaku sulit mendapatkan pertolongan dari orang-orang sekitar.

Dari video yang beredar tentang suasana pembagian sembako di Monas pada Sabtu (28/4), nampak ribuan warga kepanasan dan kelelahan. Terdengar seorang ibu-ibu berteriak mencari anaknya yang lepas dari pantauannya.

Pihak panitia, yang berpakaian merah-merah, juga terlihat marah, karena massa sudah tidak terbendung.  Acara itu juga menyisakan sampah yang berserakan sejauh mata memandang.

(ameera/)

Sumber :arrahmah.com

CADAS! ILC tvOne, Prof. Yusril: Presiden Lemah dan Hanya Boneka Asing Dikendalikan Pemilik Modal, Negara Terjajah!

CADAS! ILC tvOne, Prof. Yusril: Presiden Lemah dan Hanya Boneka Asing Dikendalikan Pemilik Modal, Negara Terjajah!


10Berita,  Acara ILC tvOne edisi tadi malam, Selasa (1/5/2018), persis bersamaan dengan peringatan Hari Buruh (May Day), tema yang diangkat adalah topik hangan "BURUH LOKAL VS TKA".

Salah satu yang menjadi nara sumber adalah Pakar Hukum Tata Negara Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Mantan Menteri Hukum dan HAM serta Mensesneg ini siap membantu buruh melakukan gugatan terhadap Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Mahkamah Agung (MA).

"Tenaga Kerja Asing (TKA) seluruhnya diserahkan kepada Peraturan Presiden. Kalau Presiden itu seorang negarawan yang punya komitmen yang teguh kepada bangsa dan negaranya tentu dia akan sadar bahwa segala kebijakan yang dia buat adalah DEMI UNTUK MELINDUNGI SEGENAP BANGSA DAN TUMPAH DARAH INDONESIA, dan dia sadar bahwa kebijakan ketenagakerjaan adalah NEGARA harus menjamin lapangan kerja setiap warga negara seperti dalam Pasal 27 ayat 2 UUD 1945," kata Yusril di ILC.

"Tapi KALAU PRESIDEN LEMAH apalagi kalau PRESIDEN ITU HANYA BONEKA ASING, maka Presiden dengan mudah akan dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan pemilik modal untuk kepentingan mereka, dan negara kita pelan-pelan akan jatuh seperti negara terjajah kedudukannya," tegas Yusril.

Simak selengkapnya video ILC - Prof Yusril...

[video]

Sumber : PORTAL ISLAM 

Mengejutkan! Wartawan Senior Ungkap Dibalik Bocor Rekaman Rini, “Sembilan Naga” dan “Naga Berkepala Kobra"

Mengejutkan! Wartawan Senior Ungkap Dibalik Bocor Rekaman Rini, “Sembilan Naga” dan “Naga Berkepala Kobra"


10Berita, Seorang wartawan senior yang selama ini dikenal dekat dengan Istana, Derek Manangka, memposting "CATATAN TENGAH" di akun facebooknya, Selasa (1/8/2018), yang menyinggung bocornya rekaman percakapan telepon yang diduga Menteri BUMN dan Dirut PLN.

Dalam tulisannya yang cukup panjang, yang tema utamanya membahas "Penyebab Munculnya Tagar 2019 Ganti Presiden", Derek Manangka mengungkap salah satu sebabnya adalah situasi Indonesia sudah tidak wajar. Salah satu bukti ketidakwajaran itu adalah dari rekaman percakapan telepon Menteri BUMN Rini Soemarno dengan Dirut PLN Sofyan Basir.

Derek Manangka menyebut "rekaman pembicaraan itu mengindikasikan, di dalam pemerintahan Jokowi, sesungguhnya berkuasa “Naga Berkepala Kobra”. Dan naga ini terpisah dari “Sembilan Naga”."

Berikut kutipan tulisan Derek Manangka, yang dulu wartawan anak buah Surya Paloh:


Tetapi mengapa terjadi ketidak wajaran, karena situasi Indonesia sendiri, dalam banyak segi, terdapat sejumlah hal yang tidak wajar atau tidak patut.

Yang terbaru adalah rekaman percakapan antara Menteri BUMN dan Direktur Utama PLN. Beredar akhir pekan lalu.

Percakapan itu sudah menjadi viral, dan media-media sosial seperti tanpa komando, berreaksi secara terbuka. 

Reaksi rata-rata bersuara, menyesakkan. Kecewa negara yang memiliki sumber kekayaan yang tak terbatas, ternyata hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Selama ini, ada rakyat yang mengeluh. Mengapa bisnis dan kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh “Sembilan Naga”?

Tapi rekaman pembicaraan itu mengindikasikan, di dalam pemerintahan Jokowi, sesungguhnya berkuasa “Naga Berkepala Kobra”. Dan naga ini terpisah dari “Sembilan Naga”.

Dengan kata lain, kekayaan Indonesia saat ini sudah dikuasai dua kekuatan yang tak mungkin tersentuh. “Sembilan Naga” dan “Naga Berkepala Kobra”.

Tetapi Presiden Jokowi sepertinya tidak melihat adanya “naga” dan “naga berkepala kobra”. Jokowi tidak merasakan adanya ancaman yang serius. Sehingga wajar jika tidak diperhatikan oleh seorang Presiden.

Padahal kalau Presiden masih peka dalam melihat memviralnya rekaman pembicaraan itu, rekaman itu, cukup mengindikasikan, kasusnya tidak berdiri sendiri.

Dan hal ini sesuatu yang tidak wajar.

Ketidak wajaran itu, merupakan lanjutan dari berbagai persoalan yang berlangsung tidak wajar.

Sebelum terjadi kehebohan soal rekaman pembicaraan Menneg BUMN dan Dirut PLN, media-media sudah melaporkan secara intensif tentang pergantian mendadak Dirut Pertamina.

Dan pergantian Direksi Pertamina ini, hanya satu dari pergantian yang terjadi di enam perusahaan milik negara – dalam kurun waktu 4 bulan (Januari – April 2018).

Pergantian Direksi di 6 BUMN itu sendiri, tak pernah dilaukan secara terbuka. Padahal ada di antaranya, merupakan perusahaan Tbk (terbuka). Sahamnya dimiliki oleh publik.

Pergantian-pergantian itu mendapat sorotan, karena satu alasan, ada ketidak wajaran.

Media melihat, pembocoran rekaman pembicaraan Menneg BUMN dan Dirut PLN, merupakan "kesatuan" dari sejumlah hal yang tidak wajar yang berkaitan dengan BUMN.

Tapi Presiden melihatnya secara partial.

Sehingga Presiden sepertinya tak mempedulikan ketidak wajaran ini.

Jokowi "tidak nyambung" lagi dengan rakyat. 

***

Hal lain yang disoroti adalah "di era Jokowi, justru Indonesia memperkuat keanggotannya di IMF dan Bank Dunia."

Di akhir tulisannya, Derek Manangka menyimpulkan:

"Sehingga kesimpulan sementara saya adalah yang mendorong lahirnya tagar “2019 Ganti Presiden”, justru Jokowinya sendiri.

Dan tagar itu pun sebetulnya, tidak perlu dianggap oleh Presiden Jokowi sebagai sebuah “ancaman”.

Ancaman kehilangan jabatan, selalu melekat pada seseorang yang menduduki sebuah jabatan.

Dan tanpa tagar itu pun, cepat atau lambat Jokowi pasti diganti. 

Yang menentukan Jokowi diganti atau tidak adalah rakyat. Bukan Jokowi sendiri ataupun kaos bertagar itu sendiri."


Sumber: https://www.facebook.com/catatan.tengah/posts/1947110128655439

[VIDEO - Ini Dia Rekaman Percakapan Menteri BUMN-Dirut PLN]

Sumber :Portal Islam 

Mengapa Sedekah Tidak Mengurangi Harta Justru Menambahnya? Begini Penjelasan Al-Qur’an

Mengapa Sedekah Tidak Mengurangi Harta Justru Menambahnya? Begini Penjelasan Al-Qur’an

10Berita, Sudahkah kita banyak bersedekah selama ini? Seberapa sering kita menyisihkan uang atau penghasilan yang kita punya untuk bersedekah?

Lebih banyak uang belanja bulanan atau uang sedekah yang kita keluarkan?

Bersedekah pada dasarnya tak akan membuat kita miskin. Malah bisa jadi ada banyak keberkahan dan keajaiban yang terjadi di hidup kita kalau kita bersedekah.

Bersedekah pun bisa menjadi bentuk syukur kita pada Sang Pemberi Rezeki Kehidupan.

Mengapa sih kalau kita sedekah justru menambah rezeki?

Dari uang dan penghasilan yang kita punya, sebagiannya ada hak untuk orang lain. Rezeki kita bahkan bisa makin lancar dengan bersedekah.

Lihat saja para tokoh dunia, mereka tidak pernah sungkan mendermakan sebagian kekayaan mereka untuk orang lain.

Jangan pernah takut jatuh miskin karena bersedekah. Justru, orang-orang yang bersedekah sering mendapat keajaiban dan pertolongan tak terduga.

Bersedekah bisa jadi cara kita bersyukur pada rejeki yang diberikan Yang Maha Kuasa. Rezeki itu bukan sebatas pada harta atau materi semata.

Lebih dari itu, rezeki yang kita dapat bisa jadi bentuknya dalam kesehatan dan kenyamanan yang kita miliki saat ini.

Semakin kita mensyukuri yang sedikit dan sudah kita punya, keberkahan yang kita rasa pun akan semakin besar.

Dan tahukah Kita bahwa Allah menjanjikan ganti yang berlipat ganda.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 265)

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ [34] : 39)

Nah, sekarang kita sudah lebih mengerti mengapa ketika Kita bersedekah, rezeki Kita semakin bertambah banyak.

Sumber: ummi-online.com