OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 22 Mei 2018

Achmad Michdan: 18 Tahun Saya Dampingi Pelaku Terorisme, Tak Ada Motivasi Mereka Rebut Kekuasaan

Achmad Michdan: 18 Tahun Saya Dampingi Pelaku Terorisme, Tak Ada Motivasi Mereka Rebut Kekuasaan


10Berita, JAKARTA —Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) Achmad Michdan mengungkapkan bahwa sejauh ini pelaku-pelaku teroris dalam melakukan aksinya karena termotivasi dengan peristiwa ketidakadilan dan penzaliman umat Islam yang marak terjadi. Seperti di Palestina, Rohingya dan di belahan dunia lainnya.

Menurut Michdan, pelaku teroris tidak memiliki motivasi untuk merebut kekuasaan atau mendirikan negara Islam.

“Selama saya mendampingi tersangka terorisme selama hampir 18 tahun, motivasi mereka melakukan hal itu karena melihat saudara muslimnya dizalimi. Lebih pada itu. Bukan merebut kekuasaan, menganti negara ini dengan negara Islam. Tidak ke sana arahnya. Lebih terpengaruh dengan kondisi saudaranya yang terzalimi dan tidak mendapat keadilan,” ujar Michdan dalam diskusi The Newsmaker Forum bertajuk “Mengurai Benang Kusut Terorisme” yang diselenggarakan Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Jalan Juanda, Jakarta Pusat pekan lalu.

Karena motivasinya perlawanan atas penzaliman umat Islam maka, jelas Michdan, sasaran pelaku teror ini adalah objek-objek milik asing. “Kita ketahui sasaran obyek teror itu obyek-obyek vitalnya orang asing. Kedutaan asing, hotel-hotel milik orang asing. Kan mereka tidak menarget obyek-obyek vital negara. Belakangan polisi menjadi target, karena dinilai bagian dari war on teror,” terang Michdan.

Untuk itu, Michdan berharap pemerintah harus lebih pentingkan dialog dalam meminimalisir kasus terorisme. "Penanganan terorisme ini harus soft approach. Pendekatan-pendekatan dialog, khususnya kepada para pelaku terorisme," demikian Michdan. * [Syaf/]

Sumber :voa-islam.com

Ketua DPR Yakin Aparat Penyobek Alquran di Sumut Tidak Gila

Ketua DPR Yakin Aparat Penyobek Alquran di Sumut Tidak Gila

10Berita – Pelaku penyobekan Al-Quran yang dilakukan oleh salah satu anggota kepolisian di Sumatera Utara dinyatakan gangguan jiwa alias gila.

Aksi penyobekan Al-Quran ini sempat menimbulkan masalah di tengah-tengah masyarakat. Setelah mendapat tekanan dari publik, polisi dengan cepat merespon masyarakat dengan mengklaim pelaku penyobekan Al-Quran tersebut gangguan jiwa.

Namun, respon polisi itu tak serta merta diterima oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Menurut politisi Partai Golkar itu, aksi penyobekan Al-Quran tersebut adalah satu langkah untuk mengadu domba masyarakat. “Itu upaya adu domba yang perlu diwaspadai,” kata Bambang Soesatyo di Gedung DPR RI, Senin (21/5).

Untuk itu, politisi yang biasa disapa Bamsoet itu meminta Komisi III DPR RI untuk mendorong Polri mencari pelaku penyobekan Al-Quran. “Saya meminta Komisi III DPR RI untuk mendorong dan mendesak Polri mencari pelaku dari yang menyebarkan sobekan Al-Quran itu. Itu adalah upaya adu domba antar umat beragama,” akuinya.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini meminta agar masyarakat tidak terpancing dengan aksi adu domba ini. Karena menurut politisi yang biasa disapa Bamsoet ini, aksi penyobekan Al-Quran ini sengaja dilakukan untuk mengadu domba umat beragama.

“Jangan terpancing oleh adu domba. Orang gila mana yang menyobek, menyebarkan, kemudian memvideokan? Justru saya curiga itu adalah upaya-upaya untuk mengadu domba dalam situasi yang seperti ini,” jelasnya.

Diketahui, oknum anggota polisi di Sumatera Utara diketahui menyobek Al-Quran. Usai foto dan video penyobekan itu viral, Polri dengan cepat menyampaikan klarifikasi bahwa sang anggota polisi tersebut mengalami gangguan jiwa alias gila. (fj)

Sumber : Eramuslim

Yusril : Pak Amien Sudah Kritis Sejak 1990-an, Bukan Mendompleng Mahasiswa

Yusril : Pak Amien Sudah Kritis Sejak 1990-an, Bukan Mendompleng Mahasiswa

10Berita, Amien Rais (74) melangkah pelan dari kamar menuju ke ruang tengah di kediamannya di Perumahan Taman Gandaria, Jakarta, Jumat (19/4). Ia menyambut uluran tangan sejumlah anggota tim CNN Indonesia dengan jabat tangan sekadarnya. Matanya menerawang ke sekeliling. Senyumnya tertahan.

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini kemudian duduk di kursi di salah satu sudut yang disiapkan untuk pengambilan gambar. Di belakangnya, terhampar buku-buku tebal yang memenuhi lemari panjang terbuka yang menutupi sisi dinding itu.

Saat itu, ia, yang memakai peci hitam dan batik abu-abu berlengan panjang, mengakui usia memberi sejumlah konsekuensi kepadanya.

“Saya merasa makin tua juga, makin banyak kekurangan, tak sekuat dulu, makin cepat ngantuk. Kadang-kadang baru baca buku 10 halaman sudah ngantuk. Ada pemerosotan kemampuan fisik, maupun mungkin juga mental. Tapi so far so good, alhamdulillah,” aku dia.

Amien, yang kini menjabat Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini, juga mengaku masih terus membaca buku. Yang terakhir dibacanya adalah ‘How Democracies Die‘ (2018) karya dua profesor dari Harvard University, Steven Levitsky and Daniel Ziblatt.

Menurut dia, isinya, relevan dengan kondisi saat ini. Bahwa, jika tak hati-hati lembaga-lembaga demokrasi akan perlahan berubah menjadi lembaga otoriter, bahkan totaliter, jika mentalnya belum cukup demokratis.

“Mungkin DPR, pemerintahnya, bahkan opini publiknya, bisa mendorong demokrasi kejebur, termasuk ke jurang. Dan sekarang kita akan ke sana kalau tidak hati-hati. Misalnya, pemikiran soal calon tunggal di Pilpres,” kata Amien. Kritis.

Amien belakangan kerap mengkritik berbagai kebijakan Presiden Jokowi dan partai pendukung pemerintah. Di antaranya, menyebut pembagian sertifikat oleh Jokowi sebagai ‘pengibulan’.

Dia juga menantang Jokowi untuk tak mendiskreditkan umat Islam, selain menyerukan gerakan ganti presiden, hingga dikotomi ‘partai setan-partai Allah’.

Kritis Sejak Lama

Mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (27/3), menyebut bahwa Amien memang sudah vokal sejak dekade 90-an.

Ketika itu, Amien sudah ceramah dari kampus ke kampus untuk bicara soal beberapa dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh Rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Ia pun menepis anggapan bahwa Amien mendompleng gerakan mahasiswa di era 1998.

“Enggak, beliau memang, sebelum mahasiswa turun ke jalan, sudah sering mengkritik Pemerintah dimana-mana,” ungkap Yusril, yang kini menjabat Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB).

Louise Williams, koresponden The Sydney Morning Herald, dalam tulisannya bertajuk ‘Amien Rais: Garis Depan Adalah Sebuah Wilayah Yang Beresiko‘, 22 Mei 1998, menyebut bahwa profesor ilmu politik UGM itu sudah memperingatkan soal potensi kekacauan dalam suksesi Soeharto jika itu makin lama dilakukan sejak sekitar 1993.

Sejak itu, aparat intelijen disebut sudah mencoba menekan Rektor UGM untuk menekan dan mengekang Amien.

Saat kritik terhadap penguasa sama dengan pengkhianatan, tulis Williams, Amien sudah memperingatkan Soeharto agar bisa membaca situasi di masyarakat. “Jangan meremehkan kemarahan dan kekuatan rakyat.”

“Saya sangat tidak sepakat bahwa Indonesia harus memiliki figur pemimpin seumur hidup dan hanya Soeharto yang dapat mempertahankan keseimbangan. Ia tak akan hidup selamanya, dan apa yang akan terjadi, chaos,” cetus Amien, dikutip dari tulisan Williams.

Pernah sekali waktu Amien masuk lingkaran yang dekat dengan kekuasaan, yakni Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di bawah kepemimpinan BJ Habibie. Namun, Amien didesak keluar karena mengungkap soal nepotisme dan ketamakan elite dalam mengontrol tambang emas Busang yang ternyata bodong.

Ia kemudian merintis jalan menuju kepemimpinan di Muhammadiyah sambil tetap menyarakan dorongan suksesi Soeharto. Pada Muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh, 1995, ia terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dengan raihan suara 98 persen, meski sempat dihantui ketiadaan restu dari Istana.

Saat proses Reformasi akan memasuki puncaknya, Amien, yang saat itu juga menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah, berada di garis depan berhadapan langsung dengan Soeharto.

Ketika itu ia sudah mengumumkan rencana untuk membawa ribuan pengunjuk rasa yang menduduki gedung DPR/MPR ke lapangan Monumen Nasional, Jakarta, dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/5/1998).

Namun, hal itu dicegah oleh Yusril dan Pangkostrad Prabowo Subianto, pada Selasa (19/5/1998) malam. Bahwa, ada potensi militer tak segan untuk bertindak keras jika Soeharto merasa kekuasaannya terusik. Terlebih, sekitar 150 ribu tentara sudah bersiaga di sekitar Jakarta Pusat.

“Pak Harto ini semingguan ini masih enak diajak ngobrol, masih tenang. Khawatirnya, beliau kehilangan kesabaran dan memerintahkan tentaran bertindak. Saya bilang ‘ini bisa jadi [seperti tragedi lapangan] Tiananmen [China], Pak Amien. Besar sekali [potensi korbannya]’,” ucap Yusril, sambil meyakinkan bahwa Soeharto akan mundur.

Amien kemudian membatalkan niatnya. Ia mengajak massa untuk ke gedung DPR/MPR, Jakarta, yang sudah diduduki mahasiswa sejak Senin (18/5/1998).

Sejumlah tokoh sudah hadir lebih dulu di lokasi itu, Rabu (20/5/1998). Di antaranya, Adnan Buyung Nasution, Permadi, AM Fatwa, Emil Salim. Mereka kemudian menelpon Amien bahwa massa menunggunya. Amien, yang saat itu tengah di Masjid Al-Azhar, Jakarta, dijemput dengan mobil.

Tiba di kompleks parlemen, kata Amien, “Ratusan ribu mahasiswa itu bersorak-sorai, ‘Amien, Amien, Amien’. Terus teman sayang megangin saya. ‘Mas Amien, istighfar, jangan jadi sombong’.”

Sejak saat itu, julukan ‘Bapak Reformasi’ melekat padanya. Soeharto kemudian menyatakan berhenti pada Kamis (21/5/1998).

Amien sendiri tak risau dengan sebutan ‘Bapak Reformasi’ atau sebaliknya, tudingan-tudingan miring terhadapnya di seputar Reformasi 1998. Baginya, saat itu ia hanya bekerja untuk menjalankan ajaran Tuhannya.

“Itu terserah, jadi saya enggak pernah sedikit pun ingin seperti itu, karena saya ini bekerja bukan untuk manusia,” aku dia.

Jadi Anda tidak berharap mendapat gelar ‘Bapak Reformasi’? “Enggak. Saya dikatakan brengsek, diejek, ditipu, saya ketawa aja. Kalau kamu suka, alhamdulillah, enggak suka, ya enggak apa-apa,” timpal Amien.(cnn)

Sumber :Sangpencerah 

Amien Minta Pemerintah Tak Usah Lebay Dalam Tangani Terorisme

Amien Minta Pemerintah Tak Usah Lebay Dalam Tangani Terorisme


10Berita – Politikus senior PAN Amien Rais mengkritik cara pemerintah dalam menanggulangi peristiwa teroris yang belakangan marak terjadi. Hal ini disampaikan Amien terkait penangkapan seorang dosen yang menyebut tiga bom gereja di Surabaya merupakan pengalihan isu.

Amien mengatakan pemerintah tak perlu berlebihan menghadapi hal itu.

“Menurut saya sekarang ini yang penting pemerintah jangan overacting. Tidak usah mengatakan misalnya, ada guru mengatakan jangan-jangan teroris itu bikinan. Nah itu kan (ditangkap),” kata Amien di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Amien mengimbau agar pemerintah tak menciptakan ketakutan di tengah masyarakat. Menurut Amien, penangkapan-penangkapan semacam itu hanya akan menimbulkan kerepotan bagi pemerintah sendiri.

“Mungkin betul mungkin nggak. Kalau nggak, ya sudah biarkan saja. Jangan ditangkap-tangkap. Jangan sampai ada psychology of fear, ketakutan itu makin meledak dimana-mana. Nanti repot,” ujar dia.

“Itu pengalaman di seluruh negara. Jika rezim beri ketakutan pada rakyatnya, rakyat diam, begitu di titik tertentu akan meledak. Jadi kita jaga jangan sampai grusa-grusu. Biarlah anak muda, orang tua ngomong segala macem,” imbuh Amien. []

Sumber :detik, Eramuslim.com 

DSKS : Ada Syiah dan Liberal dalam 200 Mubaligh Rekomendasi Kemenag

DSKS : Ada Syiah dan Liberal dalam 200 Mubaligh Rekomendasi Kemenag

10Berita, SOLO —Ketua Dewan Syariah Kota Solo (DSKS) Dr. Muinudinillah Basri menilai bahwa sebenarnya masih banyak nama selain 200 orang rekomendasi dai Kemenag yang kini menimbulkan polemik.

“Kemudian bahwa orang yang di luar itu jauh lebih bagus, banyak yang lebih bagus atau sama bagusnya, dengan apa yang disampaikan pada list itu,” katanya kepada Jurnalislam, Senin (22/5/2018).

Lebih lanjut, ustaz Muin mengkritik adanya sejumlah nama yang terindikasi berpaham Syiah dan Liberal dalam rekomendasi Kemenag tersebut.

“Yang kedua bahwa orang orang yang disebutkan itu adalah legitimasi, sementara di dalamnya ada orang Syiah, ada orang orang liberal yang sangat-sangat tidak layak disebut sebagai da’i, maka kami menentang keras pencantuman dalam list tersebut,” tambahnya.

Ustaz Muin juga menilai, keputusan Kemenag yang hanya mencantumkan 200 nama itu akan menjadikan multitafsir di kalangan umat Islam, Sebab, katanya, seoalah-olah hanya 200 nama tersebut yang layak untuk berceramah.

“Sebetulnya menjadikan 200 orang itu, itu memiliki arti yang sangat negatif, karena seakan akan, selain itu tidak direkomendasikan,” tambahnya. Hal itu, menurutnya dapat menimbulkan syak wasangka di antara para dai dan juga berpotensi menimbulkan perpecahan.

Seperti diketahui, Kementerian Agama merekomendasikan 200 dai atau mubaligh beberapa waktu lalu. Beberapa nama terdaftar dalam rekomendasi tersebut seperti KH Abdullah Gymnastiar, KH Didin Hafidhuddin, Dr. Hidayat Nur Wahid, Yusuf Mansur, dll.

Namun, sebagian tokoh mengaku tidak tahu dan menolak dimasukkan namanya dalam daftar 200 dai rekomendasi Kemenag. Beberapa pihak seperti Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Bambang Soesatyo dan tokoh-tokoh lainnya mempertanyakan kriteria dan metode Kemenag merilis 200 mubaligh.

Sumber :Jurnal Islam 

Penahanan Dosen USU, Romo: Kalau Pelakunya Islam, Cepat Diproses

Penahanan Dosen USU, Romo: Kalau Pelakunya Islam, Cepat Diproses

10Berita,  Seorang dosen PNS yang bertugas di Ilmu Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Himma Dewiana Lubis, ditangkap Polda Sumut karena memosting sebuah tulisan "skenario pengalihan yang sempurna...#2019gantipresiden".

Postingan itu diduga berkaitan dengan rangkaian peristiwa bom di Surabaya pada 13 Mei 2018 lalu, sehingga dianggap sebagai ujaran kebencian.

Namun penangkapan dan penahanan terhadap Himma itu, mendapat kecaman dari anggota DPR RI Komisi III, H. Raden Muhammad Syafii.

Pria yang akrab disapa Romo ini menilai, penangkapan tersebut menambah daftar kasus penegakan hukum yang hanya ditujukan kepada umat Islam.

"Itulah fakta yang terjadi saat ini, hukum itu hanya bisa ditegakkan dan selalu menyasar ke Umat Islam, sekalipun kasus yang menjeratnya masih samar atau imajiner. Sama seperti kasus Himma ini, polisi menjeratnya dengan kasus imajiner, karena sangat menyimpang dengan isi statusnya di dinding facebook yang dibuatnya. Karena jelas si dosen tidak ada menyinggung bom gereja di Surabaya, tapi kok langsung disimpulkan status itu mengarah kesana dan dia langsung ditangkap dan dengan cepat diproses" katanya saat diwawancarai RMOLSumut, Senin (21/5).

Jika pelanggar hukum itu bukan umat Islam atau yang pro kepada pemerintah, lanjut Romo, kasus bisa tiba-tiba hilang tanpa proses hukum yang jelas.

"Banyak contoh. Misalnya ucapan Ketua Umum PDIP Megawati dalam pidato di ulangtahun partainya yang ke 44. Dia mengatakan tidak usah mempercayai akhirat karena itu hanya ramalan masa depan. Ini sudah dilaporkan karena jelas penistaan agama, tapi sampai sekarang kasusnya tidak pernah diproses. Begitu juga dengan kasus adiknya Sukmawati Soekarno Putri yang menistakan hijab dan azan saat dia membandingkannya dengan tusuk konde dan kidung. Banyak laporan yang masuk ke polisi, tapi proses hukumnya tak berjalan," ungkapnya.

Dalam kasus lain, jika benar-benar ditindaklanjuti, sambung Romo, pihak kepolisian kerap memvonis pelaku sebagai orang gila.

"Banyak kasus seperti penyerangan ulama dan perusakan Alquran. Polisi dengan cepat mengatakan bahwa pelakunya orang gila. Tapi kalau pelakunya orang Islam yang sebeneranya kasusnya masih samar dan masih diterjemahkan lebih jauh, pasti langsung ditindak secara hukum," ujarnya.

Romo melihat, saat ini hukum seakan sudah menjadi alat penguasa.

"Inilah dampak dari hukum itu Government Oriented, bukan State Oriented" tandasnya.

Sementara terkait kasus Himma, Romo memberikan dukungan penuh kepada Himma.

"Saya dukung apa yang dibuat Himma terkait hastag 2019 Ganti Presiden yang dibuatnya. Karena presiden saat ini tidak mampu memberikan perlindungan hukum bagi rakyatnya secara menyeluruh. Karena presiden saat ini hanya mampu menegakkan hukum pada lawan politiknya khususnya Umat Islam yang tidak mendukung kebijakan pemerintah" pungkasnya. [sfj]

Sumber : Rmolsumut

Halo Pak Jokowi, Masih Ingat Janji Pilpres Ini? "Jokowi Janji Ke Netizen Tak Akan Berangus Kebebasan Berekspresi"

Halo Pak Jokowi, Masih Ingat Janji Pilpres Ini? "Jokowi Janji Ke Netizen Tak Akan Berangus Kebebasan Berekspresi"


10Berita, Pada saat Pilpres 2014 lalu, Calon Presiden pasangan nomor urut 2, Joko Widodo (Jokowi), "ngobrol" bareng dengan ratusan penggiat dunia maya atau Netizen di Kaskus, Twitter, Facebook, Kompasiana dan JASMEV, di hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Obrolan ini pun saat itu disiarkan oleh stasiun METRO TV yang masih ada rekaman videonya di Youtube.

Di hadapan 1.000-an netizen yang memenuhi acara "Jokowi Ngobrol Bareng Netizen" di Ballroom Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis 26 Juni 2014, calon presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan sikapnya untuk terus menumbuhkan kebebasan berekspresi, tak terkecuali kebebasan berpendapat dan berekspresi di dunia maya. Jokowi tidak akan melakukan tidakan represif kendati para netizen mengkritiknya secara keras.

Diantara cuplikan video ini ada dialog Jokowi dengan seorang penulis blogger politik yang menyuarakan ketakutannya pada pemerintah yang represif dan minta bagaimana tanggapan Jokowi nanti kalau jadi Presiden.

Berikut kutipan dialog (video dibawah):

Blogger (cewek): "Saya sebagai blogger politik sangat takut sama pemerintah yang bisa represif pada blogger-blogger yang berani menyuarakan pendapatnya mengenai pemerintah. Saya ingin tahu bagaimana bapak membuat kita merasa aman kalau bapak nanti menjadi presiden. Dan bagaimana bapak menanggapi para masyarakat netizen yang mengkritisi bapak, karena saya yakin nanti bapak pasti tidak sempurna, nanti banyak kebijakan yang kita tidak setuju tapi kita akan terus mengkritisi bapak, bagaimana bapak menghadapi itu?"

Jokowi: "Kritikan pedas tidak ada masalah. Saya pun juga biasa, saya di masyarakat juga ada yang teriak-teriak seperti itu biasa saja. Apalagi di sosial media gak ada masalah buat saya. Mau ngomong sekasar apapun kepada saya.. gak akan marah saya. Saya akan pakai sebagai koreksi."

Saat itu mendengar tanggapan Jokowi langsung tepuk tangan membahana...

Saat pilpres memang salah satu tema yang jadi sorotan terutama netizen adalah terkait "Kebebasan Berekspresi" dan ketakutan pemimpin yang "Otoriter/Represif".

Saat itu capres Prabowo Subianto yang dari militer dicitrakan sebagai pemimpin yang otoriter, represif, akan mengembalikan ke orba, dll.

Pendukung Jokowi seperti Wanda Hamidah terus memprovokasi publik untuk tidak mendukung capres yang OTORITER...

"Nanti punya media dibredel... baru nyesel
Nanti engga bisa bikin film lagi... baru nyesel
Jgn sampai nanti engga bisa ngeritik lagi... baru nyesel
Gerakan hari ini sekedar mengingatkan.. kita pernah menentang sistim otoriter.." cuit artis pendukung Jokowi, Wanda Hamidah.


KINI SETELAH BERKUASA, APA YANG TERJADI???

SEKARANG... SAAT JOKOWI SUDAH BERKUASA malah terjadi penangkapan terhadap netizen, seperti Jonru, Asma Dewi, dan terbaru seorang ibu-ibu dosen USU ditangkap gara-gara postingan di sosial media terkait peristiwa Teror Bom.


Dulu PDIP tuding SBY pengalihan isu dengan Teror Bom juga gak ditangkap. Itu cuma pendapat yang sah-sah saja di alam demokrasi.


berpendapat bhw teror untuk mengalihkan isu bisa jd salah klo gak didukung fakta2. Tp kesalahan itu belum tentu kejahatan.

Jangan anggap semua kesalahan adalah kejahatan sampe seenaknya main tangkap.

— Kak DuL 🔞 (@dulatips) 21 Mei 2018


setuju.. hrs dibuktikan dulu klo itu bukan pengalihan isu.. mslhnya siapa yg bs membuktikan itu.. siapa yg dituduh mengalihkan isu.. klo mnrt ane mslh gini cukup dibantah dikolom komentar postingan ybs.. biar ybs mengoreksi postingannya.. hadew.. xixixi

— baru_gabung (@ba_rugabung) 21 Mei 2018

Perlu bagi Pak Jokowi untuk menonton ulang video di atas, saat dulu "merayu" netizen sehingga mereka kepincut memilih Pemimpin Yang Tidak Otoriter atau Represif.

Atau jangan-jangan yang sekarang Jadi Presiden adalah Prabowo yang otoriter? Dolar juga terpuruk?

Berikut videonya:

Sumber :Portal Islam 

Mengejutkan! Kata Gus Dur DIBALIK TERORISME: Bisa Saja Pelakunya Aparat, Bukan Fundamentalis, Ada Dalangnya

Mengejutkan! Kata Gus Dur DIBALIK TERORISME: Bisa Saja Pelakunya Aparat, Bukan Fundamentalis, Ada Dalangnya


10Berita, Presiden RI ke-4 K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam satu wawancara dengan media asing (Australia) mengingatkan tentang di balik aksi Terorisme.

"Bisa saja pelakunya justru aparat kami sendiri... bukan yang selama ini dianggap sebagai pelakunya yaitu dari kelompok fundamentalis," kata Gus Dur dalam wawancara bahasa Inggris.

"Ya siapa yang tahu bahwa semua ini ada dalangnya...," ujar Gus Dur.

Berikut rekaman VIDEO Gus Dur yang viral di sosial media.

[video]

salut sama Gusdur, yang berani membongkar konspirasi dalang teroris di Indonesia jujur gua sih gak berani ngomong begini..bisa di tuduh diduga teroris terus gua ditembak mati deh..sadar gak kalian .. wahai teroris yg kalian bunuh adalah anak bangsa tak berdosa pic.twitter.com/MVSDQo85io

— Kol. JalalHusin TCA 🌀 (@JalalHusin) 20 Mei 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Layang-layang ‘Perang’ Gaza Bakar Ladang Yahudi di 4 Wilayah

Layang-layang ‘Perang’ Gaza Bakar Ladang Yahudi di 4 Wilayah

10Berita, PALESTINA—Layang-layang ‘perang’ Gaza dilaporkan telah memicu kebakaran ladang di sejumlah kawasan permukiman Yahudi di seberang Gaza. Layang-layang pemicu kebakaran ini diterbangkan para pemuda Palestina di Gaza.

Api membakar ladang-ladang di empat kawasan milik penjajah Israel, di kawasan Abu Shafiya, perlintasan Bet Hanun, permukiman Kfar Izah, Jabalia Timur dan wilayah Kesuvim militer, Khanyunis Timur.

Para pemuda perlawanan dalam beberapa hari lalu berhasil memicu kebakaran puluhan hektar di permukiman Yahudi di seberang Gaza, menggunakan layang-layang kertas, sebagai respon atas kejahatan Yahudi terhadap hak warga Gaza.

Salah satu kebakaran terjadi terjadi di ladang milik para pemukim Yahudi di wilayah Mavlusem, wilayah permukiman Saer Hanegev, sebelah timur kota Jabalia, Jalur Gaza utara.

Menurut media Ibrani, ini adalah yang kelima kalinya terjadi kebakaran di ladang Mevlusim milik Yahudi akibat layang-layang yang diterbangkan para pemuda Palestina yang sebelumnya dilengkapi dengan bahan bakar dalam aksi kepulangan selama sebulan terakhir. []

SUMBER: PIC ,  Islampos.

Ternyata Mereka Ini yang Berencana Bunuh Erdogan

Ternyata Mereka Ini yang Berencana Bunuh Erdogan


Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Yenisafak)

10Berita – Sarajevo. Badan Intelijen Turki terus melakukan penyidikan terkait informasi tentan rencana pembunuhan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Seperti diwartakan sebelumnya, informasi ini didapat intelijen sesaat sebelum kunjungan Erdogan ke ibu kota Bosnia-Herzegovina, Sarajevo.

Informasi rencana pembunuhan Erdogan diterima dari warga Turki yang tinggal di Makedonia. Selain itu, intelijen Barat juga menginformasikan kepada Turki tentang adanya “kesiapan sekelompok orang Turki untuk melakukan pembunuhan pada Erdogan.”

Hingga tulisan ini dibuat, intelijen Turki belum menemukan kapan dan dimana rencana itu disusun. Namun terungkap bahwa dua dari perencana adalah anggota dari Jamaah Fethullah Gulen.

Selain itu, media juga menyebut adanya keterkaitan antara pelaku dengan Israel. Seperti diketahui, Israel acap kali menyebar kelompok untuk melakukan pembunuhan terhadap sejumlah target yang dianggap ‘membahayakan’.

Menurut analisis dari laman militer Veteran Today, pemerintah Amerika meyakini langkah awal untuk melawan Iran adalah menyingkirkan Erdogan terlebih dahulu.

Bahkan disebut bahwa Presiden Rusia akan menghentikan dukungan pada Rezim Suriah dan penjualan senjata pada Iran jika tak ada Erdogan di sampingnya.

Namun di tengah informasi upaya pembunuhan dirinya, Erdogan tetap melakukan kunjungan ke Sarajevo. Bahkan hal semacam itu disebut sebagai suatu yang tidak mengejutkan.(whc/)

Sumber : dakwatuna