OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 08 Juni 2018

Kementerian ATR/BPN Diminta Tanggung Jawab Menyangkut Terbitnya Sertifikat Pulau Reklamasi

Kementerian ATR/BPN Diminta Tanggung Jawab Menyangkut Terbitnya Sertifikat Pulau Reklamasi

Reklamasi pulau D.

10Berita, JAKARTA,  _ Anhar Nasution Ketua Umum LSM FAKTA menilai langkah yang diambil pemprov DKI dibawah perintah Gubernur Anis mengenai menyegel pulau D di kawasan pulau reklamasi sudah tepat.

“Seharusnya, aparat terkait ,kejaksaan dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) juga harus mulai terjun untuk melakukan penyidikan mengenai terbitnya sertifikat HGB seluas 31,2 ha atas nama PT Kapuk Naga Indah yang diterbitkan BPN Jakarta Utara, karena sudah jelas-jelas telah melanggar aturan, ada apa? Melanggar aturan tetapi tetap bisa terbit. Jangan nanggung-nanggung donk”, ujar Anhar Nasution saat dihubungi redaksi Lintas Sumsel.

Anhar Nasution menerangkan bahwa penerbitan HGB di atas 5.000 meter persegi harus terlebih dahulu mendapatkan SIPPT (Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah) dari Pemda DKI yang dilengkapi dengan hasil pengukuran dari Kantor Pertanahan setempat.

Lanjut Anhar, sertifikat juga wajib dilengkapi berbagai persyaratan ketat dengan advice planning/RUTR/RT-RW dari Pemda DKI dan dilampiri dengan akta Perjanjian Pemberian HGB di atas HPL dengan investor serta persyaratan lain yang berlaku. Karena tidak memenuhi syarat, Anhar menilai penerbitan HGB 31,2 Ha di pulau D jelas ilegal.

Dalam Kasus ini ia menilai buruknya koordinasi para pembantu Presiden, menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya sudah mengeluarkan moratorium, sementara Kementerian ATR/BPN justru menerbitkan sertifikat pulau reklamasi. Anhar mencurigai ada kongkalingkong di balik penerbitan sertifikat tak wajar itu.

“Jika saja kita kalikan harga permeternya mencapai 100 juta rupiah permeter persegi maka angka yang didapat oleh developer mencapai Rp31,2 triliun,” terangnya.

Tambahnya, Anhar meminta Menteri Agraria & Tata Ruang/Kepala BPN dapat menjelaskan ke publik secara transparan bagaimana pertanggung jawaban atas penerbitan sertifikat terutama penerbitan sertifikat HGB seluas 31,2 hektar di pulau reklamasi karena sangat jelas telah melanggar hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Sumber :Tigapilar.com 

Gerindra Dekati PDIP, Awal Kejatuhan Jokowi?

Gerindra Dekati PDIP, Awal Kejatuhan Jokowi?

Ilustrasi Via Titiknol

10Berita  - Partai Gerindra sudah sejak lama memiliki kedekatan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Dua petinggi mereka, Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri adalah dua sosok yang akrab. Hingga saat ini, hubungan keduanya masih berjalan baik.

Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Arief Poyuono Kamis (7/6) malam mengatakan bahwa dalam waktu dekat kedua pimpinan akan melakukan pertemuan.

"Pak Prabowo dan Bu Mega juga hubungannya baik-baik saja kok. Hanya tinggal tunggu waktu dan momen yang tepat kedua pemimpin nasional ini akan ketemu," katanya.

Arief juga menambahkan bahwa hubungan ayah Mega, Soekarno dan ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo juga baik. Silaturahim ini kemudian berlanjut ke Prabowo-Mega.

Saat ditanya apa yang akan dibahas pada pertemuan nanti, Arief mengatakan bahwa tidak menuntup kemungkinan akan membahas soal Pilpres 2019. Bisa saja silaturahmi tersebut berujung menjadi koalisi. Alasannya, hingga saat ini PDIP sendiri belum menentukan pilihan siapa calon yang akan diusung.

Meski Gerindra sudah memastikan telah menunjuk Prabowo.

"Sangat terbuka untuk kita koalisi juga dong. Karena saya yakin kok PDIP belum tentu mengusung Joko Widodo, apalagi belum ada SK rekomendasi dari Bu Mega,"lanjutnya.

Sementara itu, menurut politikus Partai Gerindra Desmond Junaidi Mahesa menilai pertemuan tersebut akan menghasilkan gelombang positif untuk kedua partai. Pertemuan tersebut akan mengikis perbedaan yang ada di kedua partai.

"Tentunya saya bersyukur kalau memang jadi ketemu urusan-urusan yang mungkin hari ini ada perbedaan. Jadi tidak ada lagi perbedaan itu," kata Desmond di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (7/6).

Dasmond juga berharap keduanya akan kembali menjalin koalisi seperti apa yang pernah terjadi pada tahun 2009 sehingga akan menghasilkan satu kekuatan baru yang layak diperhitungkan. Pasalnya, di Jawa keduanya adalah partai dengan elektabilias urutan teratas.

"PDIP nomor satu, dan Gerindra nomor dua. Ini yang tentunya ke depan kami bisa bersama-sama lagi seperti 2009 ya," lanjutnya.

Koalisi Gerindra - PDIP juga kemungkinan akan membuat PDIP meninggalkan Jokowi. Menurut Desmond, saat ini PDIP sudah merasa gerah akibat tarik ulur yang dilakukan Jokowi dalam penunjukan cawapres. Bisa saja pada akhirnya cawapres tidak berasal dari PDIP melainkan partai lain.

"Ini kan satu pertanyaan besar bagi saya orang politik. Kalau diambil Airlangga Golkar, mau nggak PDIP? Kalau diambil dari PDIP, mau nggak Golkar? Ini kan fenomena yang akan bisa kita lihat mendekati Agustus," tegasnya.

Untuk diketahui, jalan menuju pertemuan Gerindra - PDIP terbuka lebar. Ketua DPP PDIP nonaktif Puan Maharani menyebut, akan melakukan pertemuan dengan Prabowo dalam waktu dekat ini. Pertemuan itu pun dijadwalkan menunggu waktu yang tepat dari kedua belah pihak.

Sumber : Sumber.com

Jokower Minta Bantuan Pendukung Oposisi Bantu Promosikan Asian Games, Warganet: Pret..!!

Jokower Minta Bantuan Pendukung Oposisi Bantu Promosikan Asian Games, Warganet: Pret..!!


10Berita,   Sejak Jokowi mulai digadang-gadang sebagai calon gubernur di DKI Jakarta, media sosial dipenuhi kegaduhan para relawan Jokowi  yang dibentuk untuk menjadi die-hard Jokowi (dan juga Ahok) di berbagai jejaring media sosial. Mulai dari twitter hingga youtube.

Kegaduhan terus berlanjut hingga Jokowi dilantik sebagai Presiden RI tahun 2014, saat para relawan tersebut mulai mendapatkan kursi empuk jabatan sebagai hadiah dari Jokowi. Para relawan pun resmi menyandang status sebagai pendengung (buzzer).

Polarisasi massa tak terelakkan lagi. Bahkan, kondisi ini terus diperparah oleh sikap arogan para pendengung dan polah tingkah para pemimpin yang terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan dengan kelompok oposisi.

Eskalasi kemarahan massa terus terakumulasi dan mencapai puncaknya saat Ahok dianggap menistakan agama Islam. Untung saja Ahok kalah dalam pertarungan Pilgub DKI tahun 2017 dan konon mendekam di tahanan Mako Brimob setelah mendapat vonis 2 tahun penjara.

Sudah selesai? Belum!

Hingga saat ini, relawan yang tersisa dan kocar kacir karena belum menyicipi kursi empuk, masih melakukan serangan sporadis yang nyaris tak berarti. Beberapa dari mereka bahkan melakukan blunder parah yang akhirnya menyebabkan elektabilitas Jokowi justru melorot.

Di tengah kondisi seperti ini, tiba-tiba seorang pendukung Jokowi menginginkan agar seluruh elemen bangsa bersatu untuk mempromosikan kegiatan Asian Games.

Sayangnya sebagian orang menganggap hajatan #AsianGames2018 milik Pemerintah Jokowi, sehingga yang memposisikan sebagai lawan jadi enggan bahkan nyinyir. Mestinya semua turun mempromosikan. Ini hajatan besar bangsa sendiri. Cebong, sapi, onta, kecoak, kebo, kaum dungu bersatu !

— Iman Brotoseno (@imanbr) June 7, 2018

Tak ada yang salah dengan permintaan tersebut. Namun, beberapa warganet secara jujur menyampaikan keberatan mereka.

Kalau baca twitmu udah jelas ajakan persatuanmu itu palsu. Mana ada orang ngajak bersatu kok ngumpat yg diajak ? Baca komen2 ke twitmu jg jelas, yg pro pemerintah pun nggak ada itikad baik unt ngajak bersatu. Belum2 isinya bully & tuduhan. Yg netral & bener2 itikad baik 1-2 saja

— #Wuooh Mantab Jkw48# (@tensai_tetsu) June 7, 2018

Telat ngajaknya. Pemerintah jika membutuhkan persatuan rakyat ya gesturnya harus begitu sepanjang waktu. Jgn memecah belah rakyat lalu memintanya bersatu ketika butuh persatuan. Pemerintah selama ini terkesan lebih menyukai perpecahan. Jadi kau yg pecahkan kau pula yg satukan.

— Alang Naugie (@AlangNaugie) June 8, 2018

...Fans JokowiAhok, ketika APBN:

1. Dihamburin Triliunan demi acara IMF
🎅: *hening*

2. Dihamburin u/ impor beras padahal stok cukup
🎅: *hening*

3. Dihamburin u/ lembaga penjaga Pancasila
🎅: *hening*

4. Dihamburin u/ AsianGames
🎅: MARI KITA BERSATU...!!

Kita? Pret (``,)

— Buruh, jangan takut berserikat...!!! (@iyutVB) June 8, 2018

Sumber : PORTAL ISLAM

Perlawanan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bikin Pusing Rezim Jokowi

Perlawanan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bikin Pusing Rezim Jokowi


Oleh: Hersubeno Arief
(Wartawan senior)

10Berita, Walikota Surabaya Tri Rismaharini sedang membuat kesal dan panik Mendagri Tjahjo Kumolo, dan Menkeu Sri Mulyani. Secara terbuka Risma menolak membayar THR dan gaji ke-13 seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Alasannya hal itu tidak dianggarkan, dan akan membebani anggaran Pemkot Surabaya.

[video]

Walikota Surabaya Tri Risma pastikan bahwa PNS Pemkot Surabaya tidak mendapatkan THR pada lebaran tahun ini krn tidak ada alokasi dana dari APBD.

Bisa membayangkan betapa kecewanya mereka krn sudah terlanjur senang, harusnya yg teken Perpres THR tanggung jawab#2019GantiPresiden pic.twitter.com/bondXB3cdF

— 🅼. 🅺🅷🆄🅼🅰🅸🅽🅸 (@mkhumaini) 7 Juni 2018

Bagi yang kenal Risma, penolakan ini tidak mengagetkan. Bila tidak sesuai dengan aturan dan prinsipnya, Risma berani menolak perintah siapapun, termasuk perintah Ketua Umum PDIP Megawati. Jadi kalau cuma Tjahjo, apalagi Sri Mulyani, bagi Risma itu soal kecil. Sri Mulyani mengaku sudah menelepon Risma, dan sudah confirmed akan membayar. Tapi menurut Risma, dia yang menelepon Sri Mulyani. Sikapnya tegas. Tetap keberatan.

Kita tentu belum lupa ketika Risma berani menolak perintah Ketua Umum PDIP Megawati untuk menjadi calon Gubernur Jawa Timur. Rasanya sangat jarang, atau bahkan malah tidak ada kader PDIP yang berani menolak titah Megawati.

Kasusnya menjadi lebih langka karena Risma menolak jabatan yang lebih tinggi. Dia menolak jadi gubernur dan memilih bertahan sebagai walikota. Sementara banyak kader yang berebut, bahkan bersedia melakukan apapun untuk mendapat restu Sang Ketum, demi sebuah jabatan. “opo tumon?” kata orang Jawa. Tapi itulah Risma.

Perlawanan Risma ini menarik untuk kita amati. Bagaimana endingnya. Sebagai kader PDIP, pemerintah pasti tidak ingin dipermalukan dengan munculnya perlawanan dari internal. Sikap Risma sangat menohok. Menyodok ulu hati. Dipastikan akan terjadi lobi-lobi internal partai, dan bukan tidak mungkin Presiden Jokowi, atau bahkan Megawati sendiri yang akan turun tangan.

Perlawanan Risma bila dibiarkan berpotensi memicu keberanian kepala daerah lain. Jadi bukan tidak mungkin akan ramai-ramai muncul penolakan. Selain Risma sejumlah kepala daerah juga sudah menyatakan keberatan untuk membayar THR dan gaji ke-13 itu. Kabupaten Purwakarta, Jabar, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau (Kepri), dan Provinsi Kepri juga menyatakan keberatan.

Pemprov Riau juga kelabakan karena harus mengeluarkan anggaran tambahan sebesar Rp 315 miliar. Padahal mereka sendiri sedang menghadapi masalah anggaran. APBD mereka harus dirasionalisasi, alias dipangkas sebesar Rp 1.7 triliun. Dengan THR dan gaji ke-13, bebannya akan bertambah.

Sarat dengan kepentingan politik

Sejak awal keputusan pemerintah untuk memberi THR dan gaji ke-13 ini memang mengagetkan dan menimbulkan tandatanya. Ketua MPR Zulkifli Hasan yang pertamakali mengungkap dan mempertanyakan, “dari mana sumber dana untuk pembayarannya?” Zulhasan mengaku mendapat banyak keluhan dari sejumlah kepala daerah. Dia khawatir hal ini menjadi blunder Menkeu dan bisa mempermalukan Jokowi.


Sri Mulyani berkeras bahwa semuanya telah direncanakan dan anggarannya telah diberikan ke pemerintah daerah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). Namun dalam DAU tersebut yang dianggarkan hanya berupa gaji pokok. Sementara dalam Peraturan Pemerintah (PP) tentang THR dan gaji ke-13 meliputi gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, tunjangan kinerja atau tambahan penghasilan lainnya. Jumlahnya sangat besar. Tidak cukup hanya mengandalkan DAU. Pemerintah daerah harus jungkir balik mencari dan menambal kekurangannya.

Pemprov Jabar misalnya mengaku akan melakukan pemutihan pajak kendaraan. Mereka membebaskan bea balik nama kendaraan bermotor, dan menghapuskan denda pajak kendaraan bermotor. Hal itu dilakukan untuk memenuhi anggaran pembayaran THR dan gaji ke-13 sebesar Rp 200 miliar. Namun tidak semua daerah punya kemampuan seperti Pemprov Jabar.

Kasus ini menjadi tambah ramai ketika muncul surat edaran dari Mendagri yang memberi petunjuk kepada kepala daerah, bahwa sumber dana pembayarannya bisa berasal dari dana tak terduga. Bila tidak mencukupi, bisa diambil dari penjadwalan ulang kegiatan. Namun bila memang masih tidak mencukupi juga, bisa diambil dari kas daerah.

Artinya pemerintah daerah diminta melakukan akrobat dengan penggeseran mata anggaran, atau upaya apapun termasuk melanggar dan menabrak berbagai aturan. Surat edaran ini juga sekaligus membuka kedok kebohongan publik yang dilakukan Menkeu.

Sungguh dahsyat! Inti dari surat edaran tersebut menunjukkan bahwa pemberian THR dan gaji ke-13 adalah program yang sangat-sangat penting. Apapun harus terlaksana. Yang lebih luar biasa, Mendagri memberi petunjuk agar perubahan anggaran tersebut tidak perlu mendapat persetujuan DPRD. Cukup dilaporkan paling lambat satu bulan setelah dilaksanakan.

Surat Mendagri ini memicu kekagetan banyak pihak. Mantan Menteri Otonomi Daerah Ryaas Rasyid khawatir hal itu akan menjerumuskan para kepala daerah ke penjara. Sebab menggeser anggaran tanpa persetujuan DPRD menurut pakar hukum tata negara Margarito Kamis bisa terkena delik pidana korupsi. Anggota Ombudsman RI Alvin Lie menilai ada mal administrasi. Pemerintah daerah banyak yang gelagapan, dan terkaget-kaget. “Apa ini mau menjerat kepala daerah supaya masuk sel?” tanya Wakil Ketua DPRD Riau Noviwaldi Jusman.

Mengapa pemerintah sangat bersemangat dan bersedia menabrak berbagai aturan? Sebab bila melihat dana yang harus dikeluarkan sangat besar. Jumlahnya mencapai Rp 35.76 triliun. Jadi pasti akan menambah beban baru yang tidak perlu. Padahal pemerintah juga sedang menghadapi persoalan anggaran yang berat. Utang terus menggunung. Realisasi penerimaan pajak meleset, nilai rupiah terus melemah, pertumbuhan ekonomi di bawah proyeksi, dan banyak persoalan ekonomi lainnya?

Kemenkeu dalam penjelasannya menyatakan, THR dan gaji ke-13 diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan pelayanan masyarakat aparatur sipil negara (ASN) alias para pegawai negeri sipil. Selain itu diharapkan daya beli ASN menghadapi hari raya, tahun baru, dan tahun ajaran baru juga bisa meningkat. Sehingga juga ikut menggerakkan perekonomian nasional.

Benarkah alasannya hanya sesederhana itu? Sebuah alasan yang sangat bisa diperdebatkan, utamanya berkaitan dengan peningkatan kinerja. Lantas untuk para pensiunan, kinerja apa lagi yang harus ditingkatkan?

Banyak yang curiga ini semacam gula-gula bagi ASN, Polri, TNI, dan pensiunan menjelang Pilpres 2019. Jumlah mereka sangat besar dan bisa ikut menentukan jalannya Pileg dan Pilpres 2019. Total ASN pusat daerah lebih kurang sebanyak 4.4 juta. Polri sebanyak 440 ribu personil, TNI 430 ribu personil, dan pensiunan 2.89 juta jiwa. Jadi total ada sebanyak 8.2 juta orang. Kalau masing-masing anggota keluarga dihitung 4 orang, maka total ada 32.8 juta orang. Bila dikonversi sebagai pemilih jumlahnya sangat signifikan.

Jumlah pemilih pada pemilu 2019 tercatat ada sebanyak 196.5 juta orang. Dengan begitu total pemilih ASN, Polri, TNI, dan pensiunan termasuk keluarganya sebanyak 16.7%. Jumlah yang sangat signifikan dan menentukan, bila bisa dikapitalisasi oleh incumbent secara baik.

Kesan bahwa pemerintah sedang mencoba mengambil hati aparat negara dengan cara mengobral anggaran sulit untuk dihindari. Beberapa hari lalu (5/6) Jokowi baru mengumumkan kenaikan tunjangan dan pendapatan untuk Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI. Jumlahnya mencapai 771%. Sebuah angka yang fantastis!

Saat ini jumlah Babinsa di seluruh Indonesia sebanyak 56.000 personil. Satu orang Babinsa menangani sekitar lima desa. Kepala Staf Presiden Moeldoko berencana akan menambah jumlah Babinsa, hingga setiap desa/kelurahan bisa ditangani satu orang Babinsa. Berdasarkan data tahun 2015 jumlah desa dan kelurahan sebanyak 82.353. Terdiri dari 74.053 desa, dan 8.300 kelurahan.

Di masa Orde Baru peran Babinsa ini sangat penting. Dengan peran teritorial dan sosial politik TNI, Babinsa menjadi alat kekuasaan yang efektif, termasuk memenangkan Golkar sebagai partai penguasa. Namun peran tersebut secara perlahan surut, seiring dengan reformasi TNI dan mengembalikan mereka ke barak. Peran mereka diambilalih oleh personil Polri, yakni bintara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Babinkamtibmas).

Mabes TNI sudah menepis kekhawatiran bahwa kenaikan tunjangan dan operasional Babinsa merupakan upaya kooptasi dan menarik mereka kembali ke ranah politik. Namun kekhawatiran dan kecurigaan semacam itu sulit dihindari.

Sejauh ini netralitas TNI sudah berjalan sangat baik. Bahkan dalam Pilkada DKI 2017 TNI punya peran sangat besar. Kehadiran personil TNI di sejumlah TPS pada putaran kedua ditengarai menjadi salah satu faktor lancar dan amannya Pilkada DKI 2017. Mereka berhasil mencegah adanya potensi kerusuhan, dan kecurangan di TPS. Tentu sangat disayangkan bila karena kepentingan politik jangka pendek, profesionalisme dan netralitas politik TNI kembali dikorbankan.

Mari kita tunggu siapa yang akan kembali mendapat gula-gula, dan anggaran apalagi yang akan digelontorkan pemerintah. Tidak perlu kaget dan heran. Tak perlu sebal, apalagi marah-marah. Cara berpikir politisi, seperti dikatakan seorang penulis terkenal AS James Freeman Clarke, hanya bersifat jangka pendek, yakni pemilu berikutnya. Mereka tidak akan pernah berpikir, apalagi peduli bagaimana masa depan negara dan generasi berikutnya.

“The difference between a politician and a statesman is that a politician thinks about the next election while the statesman think about the next generation.”

Sumber: https://www.hersubenoarief.com/artikel/perlawanan-walikota-surabaya-tri-rismaharini/

Video Clip Lagu #2019GantiPresiden Tiba-tiba RAIB dari Youtube, Sama Lagu Aja Kok TAKUT?

Video Clip Lagu #2019GantiPresiden Tiba-tiba RAIB dari Youtube, Sama Lagu Aja Kok TAKUT?


10Berita, Lagu yang paling heboh dan mengguncang istana, lagu #2019GantiPresiden akhirnya dirilis resmi video clipnya di Jakarta hari Rabu 6 Juni 2018 kemarin tepat 21 Ramadhan 1439 H.

Lagu ciptaan Sang Alang bernuansa Rock ini dinyanyikan berramai-ramai.

Dari mulai Sang Alang, pentolan Dewa 19 Ahmad Dhani, Bapak Reformasi Amien Rais, mantan artis Neno Warisman, Aktivis sosmed Mustofa Nahrawardaya, Eks Gitaris Betrayer 'Ustadz' Derry Sulaiman, penggagas #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera, Waketum Gerindra Fadli Zon, aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma dan Zeng Wei Jian, aktor dan model Fauzi Baadilla, DLL.

Penggagas gerakan #2019GantiPresiden, Mardani Ali Sera pada Kamis (7/6) menyampaikan link Youtube video clip lagu #2019GantiPresiden dalam format High-Resolution (HD), karena yang beredar sebelumnya kualitas bukan HD (resolusi rendah gambar tidak jernih).

— Mardani Ali Sera (@MardaniAliSera) 7 Juni 2018


Namun, baru sehari diupload di Youtube, hari ini (Jumat 8/6), video clip lagu #2019GantiPresiden dalam format High-Resolution tiba-tiba raib alias hilang padahal sudah ditonton ratusan ribu.

"Banyak yang tanya video lagu #2019GantiPresiden hilang dari link youtube. Saya juga baru tau pagi ini, padahal sudah di tonton ratusan ribu. Kami tidak merasa menghapus dan tidak tau kenapa hilang," kata Mardani di akun twitternya, Jumat (8/6/2018).

Warganet yang lain rame menanggapi. Sama lagu aja takut?

@siskasyarif: Oh Pantesan pak, kemarin udah di download eh tiba2 ngilang.  Udeh kek sendal jepit kalo abis tarawih. Sedih pak sedih 😢

@MashudiTb: Iya barusan sy mau liat viewernya di youtube ternyata sdh hilang video tdk tersedia. Untung sy sdh download. Cebong kepanasan, panasnya tinggi sekali..

@ati_Gerindra: Naaah kann kejadian, sy sdh cek dari kemarin2.. sama lagu aja takutt. Segerakanlah YaaRabb.. #2019GantiPresiden

Banyak yang tanya video lagu #2019GantiPresiden hilang dari link youtube. Saya juga baru tau pagi ini, padahal sudah di tonton ratusan ribu. Kami tidak merasa menghapus dan tidak tau kenapa hilang.

— Mardani Ali Sera (@MardaniAliSera) 8 Juni 2018


Oh Pantesan pak, kemarin udah di download eh tiba2 ngilang. Udeh kek sendal jepit kalo abis tarawih. Sedih pak sedih 😢

— Cikka (@siskasyarif) 8 Juni 2018


Iya barusan sy mau liat viewernya di youtube ternyata sdh hilang video tdk tersedia. Untung sy sdh download. Cebong kepanasan, panasnya tinggi sekali..

— #2019GantiPresiden (@MashudiTb) 8 Juni 2018


Naaah kann kejadian, sy sdh cek dari kemarin2.. sama lagu aja takutt. Segerakanlah YaaRabb..#2019GantiPresiden

— Suria Ati Kusumah (@ati_Gerindra) 8 Juni 2018

NB: Ini video clip lagu #2019GantiPresidenHigh-Resolution yang baru di UPLOAD. Gak tahu akan bertahan berapa lama... Buruan di download.

Sumber : PORTAL ISLAM

Korupsi, Persekusi ke Umat Islam, dan Peran Negara

Korupsi, Persekusi ke Umat Islam, dan Peran Negara



10Berita, JAKARTA  Tentang Pancasila, saat ini DPR sedang bahas KUHP yang memasukkan pasal korupsi. KPK menolak, karena diangga bisa menghambat pemberantasan korupsi.

“Menurut saya, lembaga yg saat ini menetapkan working ideology adalah @KPK_RI, salah satu institusi yang paling Pancasilais, namun akan ‘dibunuh’ via KUHP. Kami di PKS sejak awal menolak adanya pansus KPK, tidak boleh menghambat pemberantasan korupsi, justru saat ini KPK harus diperbanyak dan diperkuat, contoh working ideology seperti KPK,” kata Mardani Ali Sera, baru-baru ini, di akun Twitter pribadi miliknya.

Menurut dia, KPU saat ini sedang menerapkan working ideology Pancasila dengan menolak napi koruptor jadi caleg. “Kami dukung penuh karena ini penerapan Pancasila. Tapi anehnya, mohon maaf pemimpin negara protes @KPU_ID, sampai pimpinan KPU Arief Budiman minta izin menjadi lembaga mandiri. KPU menjalankan penerapan Pancasila.”


Dimulai pendidikan harus terapkan working ideology untuk mencari guru-guru yang sesuai dan terbaik. Ini penerapan ideology Pancasila. “

Bukan menerapkan ideologi yang memecah belah kita. BPIP silahkan jalan, bagi dia tidak masalah. Masalah ada pada kepemimpinan yang masih terus mempunyai isu hubungan Pusat-Provinsi -kota. Pemimpin tidak melihat masalah pada fundamentalnya.

“Mestinya presiden beresin, contohnya mengenai konsep ekonomi Pancasila, sampai saat ini koperasi tidak hidup, padahal disini ada penerapan Pancasila. Penerapan Pancasila dalam ketimpangan dan tenaga kerja.”


Ketika punya masalah pengangguran, harusnya gunakan tenaga kerja lokal, ini penerapan Pancasila bukan mendatangkan TKA. “Pembiaran geruduk persekusi dan merusak kantor media, pembiaran intimidasi kasus idul Fitri di Tolikara, kasus-kasus RMS, OPM. Dimana fungsi Negara ber Pancasila?” Problem berbangsa ini bukan ada di BPIP tapi dipengelolaan negara, problem ada dipemimpin negeri. “Karena itu jika selalu bermasalah terus maka #2019GantiPresiden.” (Robi/) 

Sumber : voa-islam.com

Koar-koar JANGAN POLITISASI MASJID, Ternyata PDIP Yang TERCYDUK Politisasi Masjid

Koar-koar JANGAN POLITISASI MASJID, Ternyata PDIP Yang TERCYDUK Politisasi Masjid


10Berita,  Sebuah video viral di sosial media. Video BUKTI terjadinya politisasi di Masjid.

Mereka koar-koar teriak kencang jangan jadikan MESJID AJANG POLITIK!

Tapi nih Parpol justru bagi-bagi Sembako di Mesjid di SUMUT!! Mau menang PILKADA kok gini amat ??

Aksi politisasi masjid ini berhasil tercyduk oleh mahasiswa dan masyarakat.

Berikut videonya yang diunggah akun @tapak_tuan di jejaring twitter, Kamis (7/6/2018).

#MesjidAjangKampanye ??

Mereka teriak kencang jgn jadikan MESJID AJANG POLITIK!

Tapi nih Parpol justru bagi2 Sembako di Mesjid di SUMUT!! Mau menang PILKADA kok gini amat ??

Tercyduk deh nih yg Lagi Bagi” Beras oleh Warga & Mahasiswa... pic.twitter.com/DJy5BvUsl2

— Tapaktuan (@tapak_tuan) 7 Juni 2018


Sumber :Portal Islam 

Fahri Hamzah: Bukan Tugas Pemerintah Mengawasi Rakyat, Tapi Tugas Rakyat Mengawasi Pemerintah, Jangan Dibalik!

Fahri Hamzah: Bukan Tugas Pemerintah Mengawasi Rakyat, Tapi Tugas Rakyat Mengawasi Pemerintah, Jangan Dibalik!


10Berita,  Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah tak bisa menyembunyikan kekesalannya dengan tingkah polah rezim Jokowi yang makin represif.

Terbaru, Pemerintah akan Awasi Nomor HP dan Akun Medsos Mahasiswa, dengan dalih mencegah Radikalisme.

Cegah Radikalisme, Menristekdikti Akan Data Medsos Mahasiswa
https://nasional.tempo.co/read/1096049/cegah-radikalisme-menristekdikti-akan-data-medsos-mahasiswa

Pemerintah Awasi Nomor HP dan Akun Medsos Mahasiswa
http://republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/06/04/p9sfty430-pemerintah-awasi-nomor-hp-dan-akun-medsos-mahasiswa

Cegah radikalisme di kampus, medsos mahasiswa hingga dosen bakal diawasi
https://www.merdeka.com/peristiwa/cegah-radikalisme-di-kampus-medsos-mahasiswa-hingga-dosen-bakal-diawasi.html

Menyikapi hal ini, Fahri Hamzah menyebut pemerintah sudah kebalik.

"Hak rakyat untuk mengatakan misalnya:
KEMENTERIAN YANG BANYAK KORUPTORNYA ADALAH KEMENDIKNAS.

Tapi bukan hak Kemendiknas untuk menuduh masjid atau kampus radikal.

BUKAN TUGAS PEMERINTAH MENGAWASI RAKYAT TAPI TUGAS RAKYAT MENGAWASI PEMERINTAH.

Jangan dibalik!" kata Fahri Hamzah melalui akun twitternya, Jumat (8/6/2018).

Mantan aktivis mahasiswa yang turut menumbangkan Orde Baru ini mengingatkan dulu yang tidak suka kaum RADIKAL adalah penjajah.

"Semua pejuang kemerdekaan kita itu radikal. Mulai dari yang berunding sampai yang mengangkat senjata. Kalau mereka tunduk seperti maunya penjajah dan menjadi biasa-biasa saja mungkin sampai hari ini kita masih kerja rodi atau menjadi buruh romusha," ujar Fahri dengan menambahi tagar #2019PresidenRadikal.

Hak rakyat untuk mengatakan misalnya:

KEMENTERIAN YANG BANYAK KORUPTORNYA ADALAH KEMENDIKNAS.

Tapi bukan hak Kemendiknas untuk menuduh masjid atau kampus radikal.

BUKAN TUGAS PEMERINTAH MENGAWASI RAKYAT TAPI TUGAS RAKYAT MENGAWASI PEMERINTAH.

Jangan dibalik!

— #2019HayyaAlalFalah (@Fahrihamzah) 7 Juni 2018

Semua pejuang kemerdekaan kita itu radikal. Mulai dari yang berunding sampai yang mengangkat senjata. . Kalau mereka tunduk seperti maunya penjajah dan menjadi biasa2 saja mungkin sampai hari ini kita masih kerja rodi atau menjadi buruh romusha. #2019PresidenRadikal

— #2019HayyaAlalFalah (@Fahrihamzah) 7 Juni 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Yudi Latif Mundur dari Kepala BPIP, Refly Harun: Langkah Tepat, Tak Perlu Ada BPIP Untuk Ngurusi Pancasila

Yudi Latif Mundur dari Kepala BPIP, Refly Harun: Langkah Tepat, Tak Perlu Ada BPIP Untuk Ngurusi Pancasila


10Berita,  Kepala Pelaksana Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudi Latif, secara mengejutkan mundur dari jabatannya pada Kamis, 7 Juni 2018.

Ihwal pengunduran diri dari Kepala BPIP itu disampaikan Yudi Latif melalui akun Facebooknya. Belum diketahui alasan mundurnya Yudi Latif dari BPIP.

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun menyambut baik mundurnya Yudi Latif dari lembaga BPIP. Menurutnya lembaga semacam BPIP memang tidak dibutuhkan.

"Yudi Latief mundur? Saya tak kaget. Seorang moralis seperti dia tak akan betah berlama-lama di suatu lembaga semacam BPIP, yang bagi saya sendiri memang tak dibutuhkan. Pancasila harus hidup dari masyarakat secara bottom up, tidak top down dari negara. Negara cukup memberi contoh baik. Salut Yudi🙏," kata Refly Harun melalui akun twitternya @ReflyHZ, Jumat (8/6/2018).

Dalam tulisan yang dia unggah di Facebook, Yudi memberikan judul 'Terima Kasih, Mohon Pamit'. Di bagian akhir tulisannya, Ia mengatakan, transformasi UKP Pancasila menjadi BPIP telah membawa perubahan besar pada struktur organisasi, peran dan fungsi lembaga.

Seperti diketahui, setahun lalu 7 Juni 2017, Yudi Latif dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala (Pelaksana) Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Pada Februari 2018 UKP-PIP bertransformasi menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dimana Yudi Latif  tetap menjabat sebagai Kepala BPIP.

Pada 23 Mei 2018, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 42/2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Pejabat BPIP. Perpres ini bikin heboh publik tanah air lantaran gaji Ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati, mencapai Rp 112 juta/bulan. Juga Anggota Dewan Pengarah BPIP seperti Prof Mahfud MD digaji total Rp 100 juta/bulan.

Di tengah hiruk pikuk BPIP ini, tiba-tiba Yudi Latif mengucapkan pamit untuk mundur dari jabatan Kepala BPIP dengan gaji yang lumayan besar walau tak sebesar Mahfud MD dkk.

Yudi Latief mundur? Sy tak kaget. Seorang moralis sprt dia tak akan betah berlama-lama di suatu lembaga semacam BPIP, yg bagi sy sendiri memang tak dibutuhkan. Pancasila hrs hidup dr masy scr bottom up, tdk top down dr negara. Negara cukup memberi contoh baik. Salut Yudi🙏

— Refly Harun (@ReflyHZ) 7 Juni 2018


Sumber :Portal Islam 

Utang Bertambah, Bukti Jokowi Tak Pandai Kelola Keuangan Negara

Utang Bertambah, Bukti Jokowi Tak Pandai Kelola Keuangan Negara


10Berita, JAKARTA  Sebagaimana diketahui, bahwa telah terjadi pengajuan pinjaman 300 juta dolar Amerika Serikat untuk Indonesia oleh Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia. Pemerintah Jokowi beralasan bahwa pinjaman tersebut untuk meningkatkan prasarana dan pelayanan dasar yang relevan dengan pariwisata, memperkuat hubungan ekonomi lokal dengan kepariwisataan dan menarik investasi swasta ke Indonesia.

“Tapi kita semua juga harus sadar, bahwa pemimpin yang hebat itu harus satu kata dengan perbuatannya. Pada saat kampanye Pilpres 2014 salah satu janji Jokowi adalah menolak hutang luar negeri,” kritisi DPP Gerindra, belum lama ini di akun Twitter resminya. Rekam digital soal menolak utang luar negeri masih bisa dibaca hingga kini. Tapi Jokowi menurut Gerindra terus melanggar janjinya sendiri.

“Jokowi selalu mengatakan 'duitnya ada, anggarannya ada, apa lagi hanya 40 Triliun, bisa dicari, gampang sekali'. Ternyata?”


Menurut Gerindra, utang luar negeri selama ini bukanlah untuk memperbaiki ekonomi bangsa. Yang ada, ekonomi rakyat malah semakin susah karena harus membayar pajak yang besar agar pemerintah mampu mencicil utang.

“Jokowi seharusnya hati-hati dalam mengambil opsi pinjaman luar ngeri. Sebab, keuangan negara ini masih dibayang-bayangi oleh beban pembayaran jatuh tempo utang yang terbilang besar.”

Pada 2018 ini saja, Gerindra mencatat sebesar Rp390 triliun, di 2019 mencapai sekitar Rp420 triliun. “Bagaimana dengan tenangnya bisa terus mengambil opsi untuk utang lagi? 

Kondisi saat ini terlihat bahwa Jokowi tidak mampu mengelola utang luar ngeri dengan baik, seharusnya utang yang didapat bisa lebih produktif.”

Konkretnya yakni perekonomian bangsa lebih menggeliat karena adanya pembukaan lapangan kerja baru. “Kita akui, sektor pariwisata kalau meminjam ke perbankan, ekuitasnya mesti tinggi karena cashflow untuk membayar bunga itu terbatas sekali dan dalam jangka pendek.

Biasanya ekuitas yang diminta di atas 40 persen karena memang kemampuan membayar dari pembayaran khususnya kamar hotel, akan dibandingkan dengan biaya konstruksi.”

Pada pelaksanaannya, sektor pariwisata sangat terkait dengan banyak sektor lainnya. Sebab itu koordinasi menjadi langkah yang sangat penting untuk dijalankan sebagai sebuah sistem.

“Jika koordinasi tidak dilakukan dengan baik, maka birokrasi rumit yang menjadi salah satu kelemahan dari pariwisata Indonesia bakalan sulit dihilangkan. Adapun kelemahan lain dari sektor pariwisata Indonesia adalah perencanaan dan implementasinya di lapangan yang minim.”

Jika Jokowi, lanjut Gerindra, memang tidak ada opsi lagi selain berutang, opsi pinjaman itu tak terhindarkan lagi, maka pemerintah harus memastikan master plan atau road map pengelolaan utang yang bagus, termasuk di dalamnya terkait reformasi birokrasi. “Master plan harus memuat dampaknya terhadap tenaga kerja lokal, peningkatan SDM yang lebih profesional, pembukaan lapangan kerja baru, hingga proyeksi pemasukan sumber devisa yang lebih besar dan kontribusi dalam neraca pembayaran.” (Robi/)

Sumber :voa-islam.com