OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 29 Januari 2021

Puluhan Anggota Kongres AS Sebut Facebook Membahayakan Minoritas Muslim di Seluruh Dunia

Puluhan Anggota Kongres AS Sebut Facebook Membahayakan Minoritas Muslim di Seluruh Dunia


10Berita – Para penyelidik dan pengacara PBB, Pengadilan Kriminal Internasional, berbagai penyelidikan independen, hingga puluhan anggota Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat telah menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi salah satu media paling berbahaya di dunia bagi minoritas Muslim di seluruh dunia.

Selasa (26/1/2021), 30 anggota Kongres AS dari Partai Demokrat menandatangani surat bersama yang ditujukan ke Facebook.

Mereka meminta Facebook segera mengambil langkah konkret untuk “memberantas kefanatikan anti-Muslim” di platformnya. Mereka juga mengkritik perusahaan karena gagal melakukan apa pun sampai sekarang.

“Facebook tidak dapat merayakan keberhasilan platformnya sambil mengabaikan perannya dalam meningkatkan konten berbahaya dan mematikan yang menargetkan orang-orang Muslim,” kata anggota Kongres AS Debbie Dingell.

Tak hanya mengecam Facebook karena terlalu sedikit dan terlambat dalam menghentikan dan menghapus konten anti-Muslim dari halaman-halamannya, tetapi juga karena mereka mengizinkan kelompok ekstremis yang kejam untuk menghasut kekerasan terhadap Muslim.

“Dalam banyak kasus, halaman dan konten lainnya dilaporkan ke Facebook, tetapi lambat direspons bahkan diabaikan”.

“Reaksi platform yang lambat terhadap peringatan ini menggarisbawahi pola kelalaian dalam menanggapi atau menghapus konten yang mendorong kekerasan terhadap komunitas yang rentan ini dan telah memungkinkan konten anti-Muslim berkembang biak di Facebook dengan cara yang berbahaya,” kata para anggota Kongres.

Akan jauh lebih sulit bagi Facebook untuk mengelak dan menolak tuntutan kongres, sama halnya dengan mengelak dan menolak tuntutan yang dibuat di tempat lain.

Salah satu permintaan tersebut diajukan oleh Gambia di Pengadilan Distrik Amerika Serikat (AS) yang meminta Facebook untuk merilis semua dokumen dan komunikasi yang diproduksi, dirancang, diposting atau dipublikasikan oleh pejabat serdadu Myanmar, untuk mengevaluasi peran mereka dalam genosida dan membumihanguskan ratusan desa Muslim Rohingya selama bulan-bulan penutupan tahun 2016.

Kepala kebijakan keamanan siber Facebook, Nathaniel Gleicher, pun mengakui bahwa perusahaan telah menemukan “upaya yang jelas dan sengaja untuk menyebarkan propaganda secara diam-diam yang terkait langsung dengan serdadu Myanmar.”

Penyelidikan Wall Street Journal baru-baru ini juga menemukan bahwa Facebook menolak untuk menghukum politisi sayap kanan India karena menganjurkan kekerasan terhadap Muslim. Pasalnya, menghukum pelanggaran oleh politisi dari partai penguasa India akan merusak prospek bisnis perusahaan di India.

Yang jelas, Facebook telah memberlakukan standar ganda terhadap penggunanya. Seperti yang terungkap dalam investigasi ProPublica tahun 2017 yang menemukan bahwa perusahaan tersebut menerima keluhan atas meme yang menyertakan foto yang diduga militan ISIS yang telah meninggal dengan caption “satu-satunya Muslim yang baik adalah orang yang mati”.

Unggahan ini menuai kecaman deras. Namun, Facebook mengatakan bahwa “itu tidak melanggar standar komunitas tertentu, meskipun itu menyinggung Anda dan orang lain”.

Padahal, Facebook mendefinisikan ujaran kebencian sebagai “serangan langsung terhadap orang-orang berdasarkan karakteristik yang dilindungi – ras, etnis, asal kebangsaan, afiliasi agama, orientasi seksual, kasta, jenis kelamin, identitas gender, dan penyakit atau kecacatan serius”.

Tidak mungkin membayangkan Facebook akan menolerir diskriminasi dan ancaman serupa terhadap orang Kristen, Yahudi, homoseksual, atau lainnya. Perlu dicatat bahwa contoh yang dikutip oleh ProPublica tidak mencerminkan insiden yang terisolasi, melainkan pola perilaku.

Investigasi tahun 2019 oleh The Guardian mengungkapkan bahwa Facebook memberi tahu pengguna bahwa unggahan anti-Muslim yang didistribusikan melalui jaringan klandestin halaman sayap kanan telah memenuhi “standar komunitas”, meskipun terungkap bahwa konten itu digunakan sebagai upaya terorganisir; yang mengambil keuntungan dari kebencian dan disinformasi.

Karena alasan inilah, puluhan anggota Kongres AS merasa muak. Mereka menyebut Facebook tidak memiliki kemauan untuk secara efektif menangani kebencian dan kekerasan terhadap Muslim dan memprioritaskan penghapusan konten anti-Muslim di platformnya.

Pada intinya, para anggota Kongres menuntut Facebook untuk;

  1. Membentuk kelompok kerja yang terdiri dari staf senior yang berfokus pada masalah kefanatikan anti-Muslim dan bertanggung jawab untuk mengoordinasi pekerjaan di dalam perusahaan untuk menangani kelompok-kelompok pembenci, konten fanatik, dan melakukan pelatihan anti-diskriminasi.
  1. Soal konten kebencian dan kelompok pembenci, Facebook harus memastikan milisi dan supremasi kulit putih tidak dapat menggunakan halaman grup Facebook untuk meneror komunitas yang ditargetkan.
  2. Berkomitmen dan terbuka atas peninjauan pihak ketiga yang independen atas peran perusahaan dalam memungkinkan kekerasan anti-Muslim, genosida, dan penahanan.
  3. Berusaha keras dan berkomitmen untuk 100 persen proaktif dalam mendeteksi dan menghapus konten anti-Muslim dan semua bentuk ujaran kebencian, bahkan sebelum terlihat.
  4. Berkomitmen melaksanakan pelatihan anti-diskriminasi rutin untuk seluruh staf di seluruh dunia.
  5. Melatih staf kunci tentang masalah hak-hak sipil dan kata-kata umum, frasa, kiasan, atau visual yang digunakan oleh pelaku kebencian untuk merendahkan dan menjelekkan Muslim. (TRT World)

Sumber:Sahabat Al-Aqsha.


Related Posts: