OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Kamis, 27 April 2017

Pemerintah Dinilai Bela Ahok, DPR: “Mereka Sudah Tergadai”

Pemerintah Dinilai Bela Ahok, DPR: “Mereka Sudah Tergadai”


10Berita-JAKARTA – Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi’i mengatakan, jangan korbankan seluruh tatanan hukum, hanya karena ada keinginan dari elit pemerintah hari ini untuk membela Ahok. Syafi’i mengaku heran terhadap pemerintah, dan menanyakan ada apa di balik pembelaan terhadap terdakwa kasus dugaan penistaan agama itu.

“Saya ingin katakan, mereka sudah tergadai, mereka sudah diorder, apa pun mereka akan lakukan, bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk membela Ahok, dan ini menurut saya ini sangat sangat memalukan,” ujarnya di Gedung Nusantara I, Kamis (27/4/2017) seperti dilansir Republika.

Syafi’i menegaskan, jangan jadikan Ahok sebagai standar hukum di Indonesia. “Standar hukum kita tertinggi adalah UU 1945 kemudian UU yang mengatur hal itu adalah KUHPidana, hormati itu, karena itu adalah produk bangsa kita,” katanya.

Syafi’i juga menilai, jika Jaksa Agung Prasetyo tidak menegur Jaksa yang mengajukan tuntutan terhadap Ahok, Prasetyo selayaknya harus diganti. Dari dulu, kata Syafi’i, dirinya sudah menjelaskan penegakkan hukum di negeri ini tidak akan becus jika Jaksa Agungnya Prasetyo.

“Sekarang penegakan hukum kita beralih pada independensi peradilan, bagaimana mungkin peradilan bisa independen, kalau aparatnya kader partai? itu bulshit, dan ini sudah terbukti,” tegasnya.

Sumber: Republika


Sandiaga Tegas, Tetap Akan Stop Reklamasi

Sandiaga Tegas, Tetap Akan Stop Reklamasi

10Berita-Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno memastikan akan menunaikan janjinya selama kampanye di Pilgub DKI 2017. Salah satunya janji untuk memberhentikan proses reklamasi di Teluk Jakarta.

“Posisi janji kita sudah clear. Kita akan hentikan reklamasi sebagai salah satu janji kerja kita,” ujarnya di Hotel Mandarin, Jakarta Pusat, Kamis (27/4).

Sandi menyebut pembatalan reklamasi akan langsung dibicarakan selepas dirinya dinyatakan resmi menang di Pilgub DKI oleh KPU.

“Setelah tanggal 4 (Mei), kita akan bicarakan. Kita tunggu penetapan dan kita tidak mau terburu-buru,” sambungnya.

Lebih lanjut, Sandi menjelaskan bahwa dirinya akan membentuk tim transisi untuk membuat formulasi mengenai reklamasi tersebut.

“Nanti formulasi tim yang akan menghadirkan suatu kebijakan yang bisa adopsi janji kita dan memastikan kebijakan yang lebih berpihak pada nelayan,” pungkasnya. (jk/rmol)

Sumber: rmol, eramuslim

Tiap Tahun, 7.000 Tentara Zionis Kena Stres

Tiap Tahun, 7.000 Tentara Zionis Kena Stres

10Berita – Israel Defence Force (IDF) melaporkan bahwa setiap tahunnya ada sekitar 7 ribu tentara Yahudi yang gagal menyelesaikan layanan wajib militer, seperti diterbitkan surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz hari Selasa (25/04).

Mereka yang gagal menyelesaikan layanan militer sebagian besar dikarenakan alasan medis dan psikologis. Jumlah ini setara dengan 22 persen tentara meninggalkan kesatuannya, termasuk diantaranya 14,6 persen laki-laki dan 7,4 persen perempuan.

Sumber IDF mengatakan bahwa jumlah sebenarnya tentara yang melarikan diri atau tidak melanjutkan wajib militer lebih tinggi, akan tetapi ini tidak dilaporkan secara lengkap dan rinci.

Untuk menghindari pelayanan wajib militer, biasanya banyak keluarga Yahudi mengirimkan anak-anak mereka ke luar negeri.
Kondisi sebaliknya justru dirasakan warga Palestina yang menjadi korban penjajahan Zionis Israel. Di Jalur Gaza saja minat untuk bergabung dengan kelompok perjuangan Palestina seperti Hamas, Jihad Islam dan lainnya terus membludak.

Rakyat Palestina sadar bahwa kemerdekaan mereka tidak dapat diraih kecuali dengan jalan perjuangan dan pertumpahan darah melawan pendudukan entitas Zionis Israel. (Memo/Ram)

Sumber: Eramuslim

Amandemen UUD 45 Kebablasan, MPR Ingin Kembalikan Pasal Presiden Harus Orang INDONESIA ASLI

Amandemen UUD 45 Kebablasan, MPR Ingin Kembalikan Pasal Presiden Harus Orang INDONESIA ASLI

10Berita– Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menyatakan ada baiknya persyaratan untuk menjadi Presiden RI harus dikembalikan ke persyaratan sebelum adanya perubahan UUD Tahun 1945, yaitu harus orang Indonesia asli.

Orang Indonesia asli itu, jelas Mahyudin, bisa orang Ambon, Papua dan lainnya. Dan, yang jelas bukan orang Indonesia keturunan.

Mahyudin menyampaikan hal itu ketika berbincang-bincang santai dengan wartawan di sebuah kafe di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/4), seperti rilis Humas MPR.

Mahyudin punya alasan kenapa persyaratan untuk Presiden harus dikembalikan ke yang lama, karena amandemen yang lalu itu sudah kebablasan, melebar kemana-mana.

Mestinya, menurut tokoh nasional asal Kalimantan Timur ini, perubahan UUD Tahun 1945 itu hanya terbatas pada pembatasan masa jabatan Presiden, memasukkan pasal-pasal tentang hak-hak asasi manusia, dan bertujuan untuk memberantas korupsi.

Tapi, nyatanya amandemen UUD Tahun 1945 sekali dalam empat tahap 1999 s/d 2002 itu melebar kemana-kemana. Termasuk persyaratan untuk menjadi Presiden pun ikut diubah, dengan menghilangkan kata orang Indonesia asli diubah.

Jadi, kata politisi Partai Golkar ini, terlalu liberal dan terlalu terbuka.

Untuk itu, Mahyudin setuju kalau kata orang Indonesia asli dikembalikan menjadi persyaratan untuk Presiden di dalam UUD NRI Tahun 1945. Kalau tidak ada persyaratan itu orang keturunan Prancis bisa saja menjadi Presiden RI.

“Bisa saja orang yang rambutnya pirang jadi Presiden Republik Indonesia,” pungkasnya.(jk/rmol)

Sumber: rmol, eramuslim

Guru Besar UII: Steven Layak Diberi Red-Notice sebagai Buronan Jaringan Internasional

Guru Besar UII: Steven Layak Diberi Red-Notice sebagai Buronan Jaringan Internasional

WANTED!

10Berita– Pengamat hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof Mudzakir mengatakan, kepolisian layak mencantumkan Steven Hadisurya Sulistyo pelaku penghinaan pada Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi, yang melarikan diri ke luar negeri, ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Lebih baik jika diberikan red notice atau permintaan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap sebagai buronan pada jaringan internasional.

“Kalau dilihat dari materi kasusnya, saya kira diberi red notice lebih bagus, karena internasional juga mempunyai perhatian yang sama terhadap kejahatan tindakan diskriminasi, yang di dalamnya terdapat unsur pelanggaran HAM,” kata Mudzakir saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (27/4).

Mudzakir mengatakan, penghinaan yang dilakukan Steven bukan saja menghina pribadi perseorangan. Tapi juga menghina bangsa, menghina kelompok masyarakat secara luas di Indonesia. Sehingga dalam konteks tersebut, Muzakir mengatakan, penghinaan tersebut dikategorikan pada pelanggaran konsitusi, dan dalam konteks internasional juga melanggar HAM.

“Ya begitu, seperti halnya pemain sepak bola juga dilakukan tindakan yang keras kalau melakukan tindakan diskriminatif,” tegas Muzakir.

Mudzakir juga menyayangkan tidak adanya tindakan pencegahan dari awal oleh penyidik. Karena, kata dia, jika sejak awal pelaporan orang tersebut ada upaya untuk melarikan diri ke luar negeri, sejak saat itu pula penyidik harus melakukan pencegahan.

Sebelumnya, berdasarkan data yang dicatat Mapolda NTB, Steven sudah pergi ke luar negeri menggunakan pesawat dengan tujuan singapura. Adapun pencegahan yang dilakukan imigrasi pada tanggal 18 April, sudah terlambat.(jk/rol)

Sumber: rol, eramuslim

DPR: Jangan Sampai Tatanan Hukum Dikorbankan

DPR: Jangan Sampai Tatanan Hukum Dikorbankan


10Berita-JAKARTA—Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi’i mengatakan jangan korbankan seluruh tatanan hukum, hanya karena ada keinginan untuk membela Ahok.

“Standar hukum kita tertinggi adalah UU 1945 kemudian UU yang mengatur hal itu adalah KUHP hormati itu, karena itu adalah produk bangsa kita,” katanya seperti dilansir Republika, Kamis (27/4/2017).

Syafi’i mengaku heran terhadap pemerintah, dan menanyakan ada apa di balik pembelaan terhadap terdakwa kasus dugaan penistaan agama oleh Basukit Tjahaja Purnama (Ahok).

“Tapi saya ingin katakan, mereka sudah tergadai, mereka sudah diorder, apa pun mereka akan lakukan, bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk membela Ahok, dan ini menurut saya sangat sangat memalukan,” ujarnya.

Lebih lanjut Syafi’i juga menilai penegakkan hukum saat ini sudah beralih pada independensi peradilan.

“Bagaimana mungkin peradilan bisa independen, kalau aparatnya kader partai? itu bul shit, dan ini sudah terbukti,” pungkasnya. []

Sumber: Islampos


Turki Ungkap Bible yang Sebut Yesus Tidak Pernah Disalib

Turki Ungkap Bible yang Sebut Yesus Tidak Pernah Disalib

10Berita - Turki memindahkan teks keagamaan yang terbuat dari kulit, yang diklaim sebagai Injil Barnabas yang hilang, di bawah pengawalan militer ke Museum Etnografi, yang mengungkapkan bahwa Yesus Kristus tidak pernah disalib, sebagaimana dilansir AboutIslam.net, Rabu (26/4/2017).

Barnabas diyakini sebagai salah satu murid Yesus Kristus, dan Injil Barnabas adalah Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah disalib.

Sebaliknya, Alkitab itu menyatakan bahwa Yesus naik ke surga saat hidup dan Yudas adalah orang yang disalib.

Selain itu, Alkitab kuno ini menyatakan bahwa Yesus bukanlah Anak Allah, namun hanya seorang nabi yang mengucapkan firman Allah.

Teks yang ditulis dengan tinta dan ditulis dalam bahasa Aramaic asli yang diperkirakan merupakan bahasa Yesus Kristus, disebut mengandung ajaran awal Yesus Kristus dan sebuah ramalan tentang Nabi Muhammad SAW.

Alkitab rahasia itu pertama kali disita oleh polisi dari sebuah geng penyelundupan pada tahun 2000 di wilayah Mediterania Turki dan sejak itu Alkitab tersebut ditempatkan di Balai Keadilan Ankara.

Alkitab tersebut berada ditempat itu selama delapan tahun sebelum kemudian dipindahkan ke Museum Etnografi dengan seorang escort polisi, ugkap Hurriyet Daily News dalam sebuah laporan pada tahun 2012.

Namun, sebuah laporan terbaru yang diterbitkan oleh Daily Star pada 23 April 2017, menyebutan bahwa para pendukung teks tersebut mengklaim bahwa teks tersebut bisa “menghancurkan kekristenan”.

Muslim meyakini Yesus merupakan salah satu nabi Allah dan dia adalah anak maryam, tapi bukan Putra Allah. Dia dikandung dan lahir secara ajaib.

Dalam Al Quran, Yesus disebut “Isa”. Dia juga dikenal sebagai Al-Masih (Kristus) dan Ibnu Maryam (Putra Maryam).

Adapun penyalibannya, umat Islam percaya bahwa Yesus tidak disalib namun diangkat ke langit.

Umat Islam meyakini bahwa Yesus (Nabi Isa ‘alihis salam) akan kembali ke bumi sebelum akhir zaman untuk memulihkan kedamaian dan melawan Al-Masih Dajjal (Anti-Kristus) atau Mesias Palsu dan membawa kemenangan bagi kebenaran.

Sumber: arrahmah

Gak Laku di Bali, Muncul Ahok For Sumut, Netizen: Buzzer Takut Nganggur

Gak Laku di Bali, Muncul Ahok For Sumut, Netizen: Buzzer Takut Nganggur

Ahok (menunduk) (ilustrasi)
10Berita-Setelah kalah dalam Pilkada Jakarta berdasarkan hitungan KPUD DKI Jakarta, muncul isu agar Ahok dicalonkan dalam bursa Pilkada Bali. Setelah warga Bali menegaskan akan memilih calon yang merupakan anak daerah, muncul lagi petisi Ahok untuk Sumatera Utara.

Sama-sama tidak laku, di petisi Ahok untuk Sumut ini justru mendapatkan penentangan dari netizen. Bahkan ada yang berkomentar bahwa isu itu dimunculkan oleh buzzer Ahok yang takut menganggur ketika junjungannya itu tidak memiliki jabatan.

"Yang bikin petisi orang stress. Orang Ahok sudah gak diterima dimana-mana kok masih bikin petisi. Kalau dibuat petisi "hanya penjara cocok buat Ahok" Saya jamin pasti langsung ditandatangani ratusan ribu orang." tulis Juari Abdullah.

"Pendukungnya pada stres! Mau dikemanain junjunganya ini."  kata Riyan To. 

"Hahaha... anak Medan pasti gak bakalan milih si mulut comberan. Sumut terkenal dengan miniaturnya Indonesia. Toleransi dan kebersamaan sudah terjalin dengan baik di Sumut. Jangan digangu oleh si Penista Agama. Sudahlah. Gak usah maksain Ahok jadi cagub daerah inilah, daerah itulah. Ke laut aja." ujar Muhammad Iqbal.

Sementara itu, akun bernama Warteg Sukses menyampaikan komentar bernada pertanyaan, apakah Ahok yang ingin berkuasa atau buzzernya yang taku menganggur jika Ahok tidak menjabat.

"Sebenarnya ini Ahoknya yang ingin berkuasa atau buzzernya yang pada takut nganggur sih?" ungkap Warteg Sukses.

Pertanyaan Warteg Sukses ini dibenarkan juga oleh Nana Riana. Katanya, para buzzer itu takut gak dipekerjakan lagi.

"Bener juga. Mereka pada takut gak dipake lagi jadi bikin isu-isu baru." kata Nana.

"Hahaha. Saya orang Medan. Saya dan keluarga yang pertama akan menolaknya. Ahok itu sudah tak laku di daerah mana pun. Ingat!! Kesamaan suku, agama, dan ideologi menjadi dasar penting seseorang memilih pemimpinnya." tegas  Anthoja Lang.

"Alaaa... orang Batak aja sulit jadi Gubernur Sumatera Utara, apalagi yang seperti Ahok. Jangan haraplah!" kata  Zulfan Siregar yang menuliskan Pematang Siantar sebagai daerah asalnya. [Om Pir]

Sumber:Tarbawia

Duh Kasihan.. Sangat Inginkan Ahok Jadi Gubernur Papua, Warga Manokwari Malah Ditegur Satpam Balaikota

Duh Kasihan.. Sangat Inginkan Ahok Jadi Gubernur Papua, Warga Manokwari Malah Ditegur Satpam Balaikota


10Berita- Tujuh orang yang mengenakan sali-sali, rok tradisional Papua, meramaikan antrean pengunjung di Balai Kota DKI, pada Kamis, 27 April 2017. Mereka menamakan diri sebagai kelompok masyarakat Papua.

"Tujuan kami dari Papua ke Balai Kota DKI untuk mengapresiasi kinerja Pak Ahok," kata penduduk Manokwari, Papua Barat, Alex Yenusi.

Alex mengaku datang bersama 14 temannya yang sama-sama berasal dari Papua. Ia tiba di Jakarta sejak tadi malam. Menurut dia, banyak masyarakat Papua yang kagum kepada Ahok. Salah satunya Yuliana Armey, teman Alex, yang terlihat begitu antusias saat bertemu Ahok.

"Kalau warga DKI enggak mau Ahok, Papua siap terima Ahok jadi gubernur," kata Yuliana yang berdiri di samping Alex.

Alex menegaskan dukungannya terhadap Ahok yang sudah kalah dalam pemilihan kepala daerah DKI 2017.

"Semoga sehat, sukses, dilindungi selalu. Maju terus Pak Ahok," tuturnya.

Setelah bertemu dan berfoto dengan Ahok, Alex keluar dari ruangan khusus foto sambil menepuk gendang dan membuat irama.

Empat orang perempuan yang mengenakan sali-sali dan tank-top menyanyikan lagu Sajojo. Mereka menggoyangkan kaki dan menyanyikan lagu penyambutan untuk tamu itu.

Wajah dan tubuh mereka dilukis dengan cat putih. Selain lagu Sajojo, mereka juga menyanyikan Yamko Rambe Yamko.

Di ruang tengah itu, mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya yang baru bertemu Ahok. Sebab, penampilan mereka sangat mencolok. Pengunjung juga ikut berjoget bersama mereka. Musik baru berhenti ketika petugas keamanan menegur mereka karena membuat kebisingan di ruangan itu.

Sumber: https://m.tempo.co/read/news/2017/04/27/348869951/warga-papua-di-balai-kota-kami-siap-terima-ahok-jadi-gubernur

Rasa Pahit Dibalik Ratusan Karangan Bunga Di Kantor Balikota

Rasa Pahit Dibalik Ratusan Karangan Bunga Di Kantor Balikota


Sumber foto : LINE.id
10Berita Jakarta – Akhir-akhir ini banyak media mainstream yang memberitakan tentang banjir-nya karangan bunda di kantor balaikota, baik itu yang berisi ucapan terima kasih, maupun berisi ucapan penyemangat bagi petahana. Ini menarik untuk diperhatikan, sebab ketika Ahok menjabat Gubernur dari lengseran Gubernur sebelum-nya, karangan bunga yang datang tidak sebanyak saat ini.
Momentum pemberitaan ini terlihat seperti sebuah hiperbola. Jika memang pendukung dan pencinta Ahok sebanyak yang tergambar pada karangan bunga yang diterima, serta banyaknya kunjungan warga yang datang ke balikota belakangan ini, mengapa Ahok bisa sampai kalah dengan kekalahan yang cukup telak di PILKADA kemarin? Bukankan kiriman karangan bunga tersebut representasi kecintaan warga kepada Ahok? Lalu apa kehadiran karangan bunga dan kunjungan warga ini hanya basa-basi simpati warga untuk sekedar membesarkan hati Ahok karena kekalahan PILKADA kemarin?
Rasa simpati boleh saja disampaikan kepada pihak yang mengalami kegagalan, karena pada dasarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun dan penuh unggah-ungguh. Rasa simpati juga dibutuhkan oleh seseorang yang sedang mengalami kekalahan, untuk mereduksi rasa kecewa. Namun pertunjukkan rasa simpati yang berlebihan juga tidak baik, terutama bagi yang merasakannya langsung, dalam hal ini Ahok dan tim sukses-nya.
Contoh penyampaian rasa simpati yang berlebihan – namun seseungguhnya pahit – pernah dirasakan oleh skuad kesebelasan Itally tahun 2000. Kesebelasan Itally yang sepanjang turnamen Piala Eropa 2000, selalu menerima kritikan dari penggemar dan pengamat sepakbola karena penampilannya yang selalu menerapkan strategicatenaccio, tiba-tiba mendapat sanjungan, pujian dan simpati sesaat mereka menerima kekalahan dari Prancis di final. Pahitnya adalah mereka kalah ketika mereka menerapkan strategi sepak bola menyerang, strategi yang belum pernah mereka terapkan dibabak sebelumnya, demi menjawab kritikan. “You may gave all your symphaty to Us, but still We are the loser“, ucapan tersebut sempat dilontarkan oleh salah satu pemain yang merasa begitu terpukul dengan sikap pendukung dan kritikus sepak bola itally yang penuh basa-basi. Mungkin makna yang tersirat pada ucapan itu adalah ; Jika kalian memang mendukung kami, dukunglah kami sejak awal, jangan ketika kami mengalami kekalahan, kalian baru memberikan simpati.
Sampaikan rasa simpati yang wajar, sebab apapun bentuk rasa simpati, tidak akan mengubah yang pahit menjadi manis.
ADITYAWARMAN
Sumber: Lingkarannews