OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ketika Bob Sadino Dikira Tukang Sampah di Gedung Kantor Miliknya

Ketika Bob Sadino Dikira Tukang Sampah di Gedung Kantor Miliknya


Suatu pagi, terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40an membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.Karena pagi itu masih sangat sepi, mereka pun duduk-duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati taman yang hijau nan asri.Sesekali si wanita membuang sembarangan tisu yang bekas dipakainya.

Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana dengan mengenakan celana pendek sedang memegang gunting untuk memotong ranting. Si kakek menghampiri dan memungut sampah tisu yang dibuang si wanita itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang sampah lagi tanpa rasa sungkan sedikit pun. Kakek tua itu pun dengan sabar memungut kembali dan membuangnya ke tempat sampah.

Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantas berkata kepada anaknya,”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia, jelas ya?”

Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?”

Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”

Pada waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri si kakek sambil berkata, ”Pak Presdir, hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”

Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”

Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat, “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”

Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati orang lain, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".

Si wanita tertunduk malu, tanpa berani memandang si kakek.

Kakek itu adalahBob Sadino, yang kedudukannya adalah Presiden Direktur di perusahaantersebut.

*****

Bob Sadino dikenal sebagai pengusaha sukses yang berpenampilan sangat sederhana dan mempunyai ciri khas selalu mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek, bahkan ketika bertemu dengan presiden maupun pejabat negara sekalipun.

Beliau lahir pada tanggal 9 Maret 1933, dan telah meninggal dunia karena sakit pada 19 Januari 2015.

Gayanya yang nyentrik dengan pola pikir unik dan cenderung keluar dari pakem teori maupun buku teks ekonomi menjadikan Bob Sadino sebagai entreprenuer sejati, yang memberikan inspirasi hebat bagi para generasi penerus bangsa yang ingin menjadi pengusaha sukses.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas Hargailah setiap orang yang anda temui, walaupun penampilan mereka biasa-biasa saja. Penampilan seseorang belum tentu (bahkan seringkali) menggambarkan kedudukan sosialnya.

Sumber: inmotivasi.blogspot.com


Kurban Mengajarkan 5 Pengalaman Spiritual

Kurban Mengajarkan 5 Pengalaman Spiritual

10Berita, JAKARTA – Idul Adha atau Idul Kurban sebentar lagi tiba. Banyak hikmah yang bisa dipetik oleh Muslim yang menunaikan kurban pada momentum Idul Adha tersebut.

“Kurban mengajarkan kita bukan saja soal menaklukkan ketakutan dan rasa pelit, tetapi secara unik mencerahkan pengurban untuk merasakan pengalaman spiritual yg lain,” kata Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Ustaz Nurul Huda dalam pesan instan yang diterima Republika.co.id, Jumat (11/8).

Pertama, kata da’i yang akrab dipanggil Ustaz Enha itu, kurban mengajarkan keberserahan secara total kepada Allah (surender).

Kedua, kurban mengajarkan ketaatan tanpa tapi (obey).

Ketiga, kurban mengajarkan berpikir bahagia, lepas, damai (peace of mind).

Keempat, kurban mengajarkan kita kebebasan dan kemerdekaan, keteraturan hanyalah penghambaan kepada Sang Pencipta (freedom).

Kelima, kurban bukan hanya mengajarkan kita rasa syukur,  tetapi ia memberikan kita berkelimpahan (abundance).

Sumber: Republika

ICMI: Umat Muslim Harus Gerakkan Perekonomian Nasional

ICMI: Umat Muslim Harus Gerakkan Perekonomian Nasional

10Berita, JAKARTA -- Ketua Umun Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie menyerukan umat Muslim di Indonesia untuk bersama-sama menggerakan sektor perekonomian nasional agar tidak jatuh ke orang lain. Dia menilai sektor perekonomian perlu menjadi perhatian yang serius di kalangan intelektual Muslim karena kesenjangan ekonomi saat ini makin melebar.

"Ini tanggung jawab intelektual kita, yaitu bagaimana infrastruktur umat ini menggerakan sektor ekonomi," kata dia dalam agenda Halal Bihalal ICMI di Jakarta, Jumat (11/8).

Jimly mengungkapkan, saat ini pengusaha Muslim sangat sedikit. Dari 100 pengusaha terkaya di Indonesia, hanya 10 orang dari kalangan Muslim. Karena itu, menurut dia, dunia perguruan tinggi, riset dan ilmu pengetahuan, tidak hanya harus menyatu dengan kesadaran iman dan taqwa, tapi juga dengan kesadaran ekonomi.

Jimly menambahkan, gerakan ekonomi umat saat ini perlu dipahami sebagai sunnah Rasul yang harus terus digelorakan. Bahkan, perlu ada dukungan agar di tiap masjid ada pengajian yang membahas soal pengembangan ekonomi nasional. "Karena tadi, 100 orang terkaya hanya 10 orang yang Muslim," ujar dia.

Selain itu, kata Jimly, ICMI juga mendorong agar ekonomi syariah bisa terbangun secara masif di kalangan masyarakat. Termasuk juga pengembangan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) yang menjadi infrastruktur bagi perusahaan mikro dan Badan Usaha Milik Desa. "Jadi harus pada penguasaan ekonomi supaya tidak dikuasai oleh orang lain," kata dia.

Jimly juga memaparkan pandangannya soal kondisi bangsa Indonesia saat ini. Menurut dia, bangsa ini sedang terporosok ke dalam jurang kebebasan yang sangat dalam. Dengan keragaman cara pandang, sejarah dan etnis, maka kebebasan tersebut rawan jika tidak dikontrol.

"Yang menikmati kebebasan itu hanya elit. Kesenjangan 25 tahun terakhir melebar. Maka kita harus promosikan sila kelima itu yang dilupakan orang. Jadi ICMI mengusahakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata dia.

Sumber: Republika

(Video) Ini Penjelasan Ustadz Daud Rasyid Terkait Diubahnya Arah Kiblat di Masjid Al-Hikmah New York

(Video) Ini Penjelasan Ustadz Daud Rasyid Terkait Diubahnya Arah Kiblat di Masjid Al-Hikmah New York


10Berita-JAKARTA  - Beberapa waktu yang lalu masyarakat Muslim di Amerika dan Indonesia dihebohkan dengan berita terjadinya konflik di masjid Al-Hikmah New York. Konflik yang sebenarnya berawal dari pertikaian sesama pengurus masjid sejak belasan tahun yang lalu itu, dalam beberapa bulan belakangan semakin memanas.

Salah satu pangkal masalah yang memantik semakin memanasnya konflik di masjid Al-Hikmah New York adalah diubahnya arah kiblat di masjid tersebut oleh imam masjid, ustadz Dr Daud Rasyid.

Akibat diubahnya arah kiblat membuat imam masjid resmi, ustadz Daud Rasyid dianggap sebagai sosok bermasalah yang berujung 'terusirnya' beliau dari masjid tersebut.

Alhamdulillah, Kamis sore kemarin (10/8/2017), Voaislam berkesempatan bersilaturahim dengan beliau sekaligus meminta penjelasan dari beliau tentang perubahan arah kiblat di masjid Al-Hikmah New York.

Berikut video penjelasannya:

[fq]

Sumber: voa-islam

Lynne Penasaran dengan Keistimewaan Shalat

Lynne Penasaran dengan Keistimewaan Shalat

10Berita, JAKARTA -- Sebelum menerima hidayah Islam, Lynne M Mcglynn-Aisha menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang ateis dan agnostik. Pengalaman masa lalu yang kelam sekaligus pahitlah yang membuat perempuan itu menolak keberadaan Tuhan.

Dia berkisah, ketika masih kecil, aku kerap pergi ke gereja. Tetapi aku justru dilecehkan dengan sangat buruk oleh pimpinan gereja setempat selama bertahun-tahun, hingga akhirnya aku lari dari rumah ketika berusia 13 tahun. “Sejak saat itu, aku menjalani hidup sendirian,” tutur Lynne membuka kisah hidupnya.

Awalnya, dia menjalani masa kanak-kanaknya dengan baik. Seperti teman-teman sebayanya kala itu, hari-hari Lynne kecil diisi dengan bermain dan suasana penuh tawa. Namun, semuanya berubah ketika dia menginjak umur enam tahun.

Berbagai peristiwa buruk mulai menimpa hidupnya. Mulai dari pelecahan seksual, hingga berbagai penyiksaan fisik dan verbal yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Semua kenangan mengerikan itu terus membekas dalam ingatan Lynne sampai hari ini. Malang betul nasibnya, belakangan dia mengetahui jika dirinya ternyata anak hasil korban perkosaan. “Kenyataan ini lebih menyakitkan lagi,” katanya memaparkan. 

Sejak lari dari rumah, mulailah Lynne menjalani kerasnya kehidupan jalanan secara berpindah-pindah dari Kanada, Amerika Serikat, sampai ke Meksiko. Semua pekerjaan buruk pun dilakukannya, mulai dari mencuri, menipu, melacur, mengedarkan narkoba, hingga menjadi pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Kehidupan semacam itu dilaluinya selama kurang lebih 10 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, batin Lynne selalu diliputi kegundahan. Nasib buruk seolah-olah tidak mau lepas dari hidupnya. Ketika berada di Meksiko, Lynne sempat masuk bui. Di dalam penjara, dia diperkosa beramai-ramai (gang rape) oleh sejumlah oknum polisi federal setempat.

Dalam keterpurukan, ia mengutuk Tuhan dan tak lagi memercayai keberadaannya. “Selama hidup di jalanan, aku mencapai titik nadir paling rendah dalam hidupku,” ungkapnya. 

Sumber: Republika

Ribuan Santri, Ulama, dan Kiai Aswaja Sambangi DPRD Jatim Tolak Perppu Ormas

Ribuan Santri, Ulama, dan Kiai Aswaja Sambangi DPRD Jatim Tolak Perppu Ormas

10Berita-SURABAYA –Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama Aswaja (FKU) Jawa Timur mendatangi gedung DPRD Jatim menolak Perppu Ormas, Jumat (11/8/2017).

Aksi yang dipimpin oleh KH Joko Santoso dari Ponpes di Mojokerto ini mendesak DPRD Jatim segera meneruskan aspirasi para ulama dan Kiai Jawa Timur pada pemerintah agar segera mencabut Perppu Ormas no 2 tahun 2017.

Para ulama dan kiai Aswaja menilai, Perppu ini akan mengancam kegiatan dakwah Islam dan memberanggus orang-orang yang kritis. Hal ini telah dibuktikan dengan sikap pemerintah yang represif dan otoriter menangkap ulama dan tokoh kritis serta membubarkan Ormas yang berseberangan dengan pemerintah.

KH Qoyyum, biasa dipanggil Abah Qoyum dari Malang menegaskan bahwa Islam memiliki peran besar dalam kemerdekaan bangsa ini, sehingga tak pantas Perppu diarahkan ke ormas Islam.

“Mereka telah berjuang mengusir penjajah di bawah komandan ulama dan kiai. Jangan lupakan sejarah dengan meminggirkan mereka, perannya sangat besar dalam menjaga keberagaman di negeri ini, dan sudah berlangsung puluhan tahun,” pungkasnya.

Aksi yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.00 ini berjalan tertib dan lancar. Aksi diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap dan doa yang disampaikan oleh Kyai Abdul Karim dari Ponpes Baron Nganjuk.

Sumber: Jurnal Islam 

Johannes Marliem, Saksi Kunci Kasus E-KTP Tewas Di Los Angeles, Bunuh Diri Atau .....

Johannes Marliem, Saksi Kunci Kasus E-KTP Tewas Di Los Angeles, Bunuh Diri Atau .....

10Berita - Saksi kunci kasus korupsi e-KTP, Johannes Marliem, tewas di kediamannya di Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS). Marliem diduga menembak dirinya sendiri.

Dilansir CBS Los Angeles, Jumat (11/8/2017), kawasan Beverly Grove di Los Angeles ditutup sekitar pukul 05.00 sore waktu setempat sekitar 600 blok dari North Edinburgh Avenue. Reporter media lokal melaporkan seluruh area di sekitar Melrose dan Crescent Heights ditutup.

Peristiwa itu awalnya dari laporan telepon ke FBI yang kemungkinan diteruskan LAPD (Los Angeles Police Department) pada Rabu (9/8) malam. Para petugas yang tiba di lokasi menduga ada seorang anak kecil dan seorang wanita di dalam rumah bersama seorang pria.

Para petugas pun melakukan negosiasi. Pada akhirnya, wanita dan anak kecil itu dibawa keluar oleh laki-laki itu sekitar pukul 07.30 malam.

Sementara, laki-laki itu ditemukan tewas di dalam rumah sekitar 02.00, Kamis (10/8) dini hari. Namun belum diketahui pasti apa penyebab laki-laki itu tewas, diduga kemungkinan besar dia menembak dirinya sendiri.

Dari penelusuran, laki-laki itu diduga adalah Johannes Marliem. Kabar tersebut mengonfirmasi postingan di Instagram dari dengan akun mir_at_lgc. Dia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Marliem.
Dia memposting foto bersama Marliem dan seseorang yang disebutnya CEO of Lamborghini. Dalam kolom komentar, ada akun citywhips yang menyebutkan soal insiden The Beverly Grove di mana Marliem tinggal dan diamini oleh akun mir_at_lgc tersebut.

Sebelumnya Ketua KPK Agus Rahardjo juga mengamini kabar tersebut. Agus mengatakan bila saat ini terus mengecek kabar itu.

"Sudah kemarin (dapat kabar Johannes Marliem meninggal dunia), kita juga sedang cari kepastian," ucap Agus ketika dikonfirmasi detikcom, Jumat (11/8/2017).

Marliem merupakan provider produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1 yang akan digunakan dalam proyek e-KTP. Dia disebut merupakan saksi kunci dalam kasus itu. (dtk)

Sumber: www.beritaislamterbaru.org

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

10Berita, Bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan tidak takut dianggap mengkritik orang. Kalau sesuatu diyakininya sebagai kebenaran, ia akan mengungkapkannya kepada siapa pun. Tanpa kecuali. Beberapa pejabat pernah kena 'semprot' kritik tajamnya menyangkut kebijakan yang mereka keluarkan. Sikapnya yang terbuka ini pula yang menyebabkan ia banyak mengkritik umat Islam Indonesia. ''Umat Islam masih menyimpan ajarannya di kantong,'' kata Prof dr Chehab Rukni Hilmy kepada Republika, kala itu.

Maksudnya, ajaran agung yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW hanya jadi pembicaraan saja, namun sulit terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ajaran Islam demikian mudahnya untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru besar FKUI ini juga banyak berbicara tentang kelangkaan rumah sakit Islam, kedokteran Islam hingga pengajian dokter. "Maaf, menurut saya keimanan umat Islam kita masih di kantong baju. Mereka masih terlalu mengutamakan ibadah. Jeleknya mereka demonstratif. Tak sedikit yang berhaji sampai tujuh kali. Hanya orang Indonesia yang pergi haji sampai tujuh kali, tapi jarang menyumbang ke rumah sakit demi kepentingan orang," ujarnya (8/9/1996).

Karena itu, jangan heran rumah sakit Islam yang ada di Indonesia masih sedikit. Mestinya rumah sakit Islam paling banyak ada di Indonesia mengingat jumlah penduduk kita mayoritas Islam. Ini yang sangat disayangkan. Katanya, jumlah umat Islam mencapai 165 juta lebih, tapi mana kepedulian mereka untuk kesehatan?

Padahal, Islam sangat menganjurkan memperhatikan kesehatan. Bukan hanya sekadar menganjurkan, tapi sudah dengan tegas mengatakan bahwa kesehatan merupakan bagian dari iman.

Lantas bagaimana peran para ulama? Dia  mengatakan, kenyataannya kepedulian umat Islam terhadap kesehatan masih kurang. Ini artinya para ulama belum berperan dengan baik. Mestinya, mereka mampu mendorong umat untuk lebih peduli terhadap kesehatan, karena Islam itu bukan sekadar ibadah ritual semata, tapi juga seluruh kehidupan manusia.

Umat Islam saat ini boleh dibilang masih terbelakang dalam banyak hal. Maafkan, masyarakat Islam di Indonesia masih dianggap bodoh. Contoh, saya belum lama mengajak anak saya yang pulang dari pesantren dan terkena penyakit kulit. Dokter terkenal yang beragama Nasrani itu berkomentar, ''Ah, biasa Hab. Semua yang dari pesantren pasti kena penyakit seperti ini.''

Sebagai kolega tentunya dia tidak akan mengatakan seperti itu kalau tidak dari lubuk hatinya punya anggapan pesantren itu punya orang kampung. Saya tidak marah, karena kenyataannya memang demikian. Tapi, hal itu sepertinya jadi trade mark yang digunakan orang yang tidak simpatik kepada Islam untuk menjelek-jelekkan.

Di masa lalu kedokteran Islam terkenal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Kenapa para dokter Muslim saat ini masih berkiblat pada kedokteran Barat yang seringkali mengabaikan masalah agama?

Masalahnya, apakah di setiap fakultas kedokteran kita diajarkan mata kuliah sejarah kedokteran Islam. Jawabnya, tidak. Sama sekali tidak. Hanya dulu di FKUI pernah disampaikan sekali kuliah umum tentang kedokteran Islam. Ketika itu dekannya Prof dr Asri Rasyad. Kebetulan yang diserahi untuk memberi kuliah saya. Jadi, bagaimana mereka mau mengetahui kalau sejarahnya tidak pernah diberikan. Jangankan yang mahasiswa, yang sudah dokter sekalipun jarang sekali yang tahu tentang itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Galen (Galenicus), tokoh yang dianggap dewa ilmu kedokteran. Pahamnya tentang banyak hal dianut oleh kalangan kedokteran Barat sampai abad 15-16 M. Salah satu penyebab terlambatnya perkembangan ilmu bedah tangan adalah karena pahamnya yang mengatakan bila urat dioperasi maka akan mati. Sampai abad 16 paham ini menguasai otak para dokter ketika itu sehingga tidak ada yang berani melanggar.

Namun, Ibnu Sina pada 1138 M justru mengatakan, bahwa tendon (urat) yang putus harus dijahit kembali. Dan ternyata pandangan Ibnu Sina yang kini dianut para dokter modern. Ironisnya, saya justru mengetahui dari Journal of Hand Surgery, Juli 1991.

Saya juga membaca laporan perjalanan seorang pujangga besar Inggris ke Timur Tengah saat Perang Salib. Ia melihat di Damaskus pabrik alkohol bekerja siang malam. Padahal minuman keras dilarang. Ternyata salah satu fungsi alkohol tersebut adalah untuk sterilisasi sebelum melakukan pembedahan.

Kota Damaskus itu sendiri berasal dari nama seorang dokter, namanya Ibnu Damsyik. Ketika itu, khalifah berkeinginan mendirikan sebuah kota. Ibnu Damsyik meminta empat potongan daging yang diletakkan di empat penjuru dalam radius 10 Km. Di tempat daging yang paling lama membusuk itulah kota harus dibangun. Artinya, meski kuman baru ditemukan pada tahun 1500-an, namun secara akal Ibnu Damsyik mampu melihat bahwa di tempat pembusukan daging paling cepat, tidak layak secara kesehatan sebagai tempat tinggal manusia.

Kabarnya di FKUI ada forum kajian para dokter muslim? Betul dan saya pernah menjadi ketua pelindungnya. Namanya Forum Studi Islam. Semua persoalan tentang Islam kita bahas dalam forum itu mulai dari kedokteran Islam sampai kajian tentang pemikiran Ali Syariati.

Sumber: Republika

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

10Berita, Bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan tidak takut dianggap mengkritik orang. Kalau sesuatu diyakininya sebagai kebenaran, ia akan mengungkapkannya kepada siapa pun. Tanpa kecuali. Beberapa pejabat pernah kena 'semprot' kritik tajamnya menyangkut kebijakan yang mereka keluarkan. Sikapnya yang terbuka ini pula yang menyebabkan ia banyak mengkritik umat Islam Indonesia. ''Umat Islam masih menyimpan ajarannya di kantong,'' kata Prof dr Chehab Rukni Hilmy kepada Republika, kala itu.

Maksudnya, ajaran agung yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW hanya jadi pembicaraan saja, namun sulit terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ajaran Islam demikian mudahnya untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru besar FKUI ini juga banyak berbicara tentang kelangkaan rumah sakit Islam, kedokteran Islam hingga pengajian dokter. "Maaf, menurut saya keimanan umat Islam kita masih di kantong baju. Mereka masih terlalu mengutamakan ibadah. Jeleknya mereka demonstratif. Tak sedikit yang berhaji sampai tujuh kali. Hanya orang Indonesia yang pergi haji sampai tujuh kali, tapi jarang menyumbang ke rumah sakit demi kepentingan orang," ujarnya (8/9/1996).

Karena itu, jangan heran rumah sakit Islam yang ada di Indonesia masih sedikit. Mestinya rumah sakit Islam paling banyak ada di Indonesia mengingat jumlah penduduk kita mayoritas Islam. Ini yang sangat disayangkan. Katanya, jumlah umat Islam mencapai 165 juta lebih, tapi mana kepedulian mereka untuk kesehatan?

Padahal, Islam sangat menganjurkan memperhatikan kesehatan. Bukan hanya sekadar menganjurkan, tapi sudah dengan tegas mengatakan bahwa kesehatan merupakan bagian dari iman.

Lantas bagaimana peran para ulama? Dia  mengatakan, kenyataannya kepedulian umat Islam terhadap kesehatan masih kurang. Ini artinya para ulama belum berperan dengan baik. Mestinya, mereka mampu mendorong umat untuk lebih peduli terhadap kesehatan, karena Islam itu bukan sekadar ibadah ritual semata, tapi juga seluruh kehidupan manusia.

Umat Islam saat ini boleh dibilang masih terbelakang dalam banyak hal. Maafkan, masyarakat Islam di Indonesia masih dianggap bodoh. Contoh, saya belum lama mengajak anak saya yang pulang dari pesantren dan terkena penyakit kulit. Dokter terkenal yang beragama Nasrani itu berkomentar, ''Ah, biasa Hab. Semua yang dari pesantren pasti kena penyakit seperti ini.''

Sebagai kolega tentunya dia tidak akan mengatakan seperti itu kalau tidak dari lubuk hatinya punya anggapan pesantren itu punya orang kampung. Saya tidak marah, karena kenyataannya memang demikian. Tapi, hal itu sepertinya jadi trade mark yang digunakan orang yang tidak simpatik kepada Islam untuk menjelek-jelekkan.

Di masa lalu kedokteran Islam terkenal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Kenapa para dokter Muslim saat ini masih berkiblat pada kedokteran Barat yang seringkali mengabaikan masalah agama?

Masalahnya, apakah di setiap fakultas kedokteran kita diajarkan mata kuliah sejarah kedokteran Islam. Jawabnya, tidak. Sama sekali tidak. Hanya dulu di FKUI pernah disampaikan sekali kuliah umum tentang kedokteran Islam. Ketika itu dekannya Prof dr Asri Rasyad. Kebetulan yang diserahi untuk memberi kuliah saya. Jadi, bagaimana mereka mau mengetahui kalau sejarahnya tidak pernah diberikan. Jangankan yang mahasiswa, yang sudah dokter sekalipun jarang sekali yang tahu tentang itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Galen (Galenicus), tokoh yang dianggap dewa ilmu kedokteran. Pahamnya tentang banyak hal dianut oleh kalangan kedokteran Barat sampai abad 15-16 M. Salah satu penyebab terlambatnya perkembangan ilmu bedah tangan adalah karena pahamnya yang mengatakan bila urat dioperasi maka akan mati. Sampai abad 16 paham ini menguasai otak para dokter ketika itu sehingga tidak ada yang berani melanggar.

Namun, Ibnu Sina pada 1138 M justru mengatakan, bahwa tendon (urat) yang putus harus dijahit kembali. Dan ternyata pandangan Ibnu Sina yang kini dianut para dokter modern. Ironisnya, saya justru mengetahui dari Journal of Hand Surgery, Juli 1991.

Saya juga membaca laporan perjalanan seorang pujangga besar Inggris ke Timur Tengah saat Perang Salib. Ia melihat di Damaskus pabrik alkohol bekerja siang malam. Padahal minuman keras dilarang. Ternyata salah satu fungsi alkohol tersebut adalah untuk sterilisasi sebelum melakukan pembedahan.

Kota Damaskus itu sendiri berasal dari nama seorang dokter, namanya Ibnu Damsyik. Ketika itu, khalifah berkeinginan mendirikan sebuah kota. Ibnu Damsyik meminta empat potongan daging yang diletakkan di empat penjuru dalam radius 10 Km. Di tempat daging yang paling lama membusuk itulah kota harus dibangun. Artinya, meski kuman baru ditemukan pada tahun 1500-an, namun secara akal Ibnu Damsyik mampu melihat bahwa di tempat pembusukan daging paling cepat, tidak layak secara kesehatan sebagai tempat tinggal manusia.

Kabarnya di FKUI ada forum kajian para dokter muslim? Betul dan saya pernah menjadi ketua pelindungnya. Namanya Forum Studi Islam. Semua persoalan tentang Islam kita bahas dalam forum itu mulai dari kedokteran Islam sampai kajian tentang pemikiran Ali Syariati.

Sumber: Republika

Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad

10Berita,  ''Sungguh jika Nabi tak mencium batu ini, aku tak akan melakukannya.'' (Umar bin Khatthab RA)

Mencium Hajar Aswad selalu menjadi pembicaraan serius, karena dipandang sebagai prestasi tersendiri di kalangan jamaah haji. Juga di kloter tempat saya bergabung dan jamaah Indonesia pada umumnya, ketika saya(Wartawan Republika, Siti Darojah Sri Wahyuni) mengunjungi Tanah Suci pada 1995. Mencium Hajar Aswad telah menjadi keinginan, bahkan obsesi tersendiri sebagian jamaah haji. Maka tak heran jika segala cara diupayakan untuk bisa melakukannya. Ada yang mencobanya tengah malam. Tapi ada juga yang mencobanya tengah hari bolong.

Saya tidak demikian. Sejak berangkat dari rumah, saya tak terlalu berambisi mencium Hajar Aswad karena ingat hadis di atas. Lagi pula orang-orang di rumah selalu berpesan agar selalu menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Pesan yang wajar karena saya berangkat haji sendirian. Saya tak mau hanya karena mencoba mencium Hajar Aswad, badan saya menjadi sakit dan tak bisa mengikuti wukuf dan ibadah wajib lainnya.

Apalagi ketika mendengar seorang gadis dari Bandung dan sepasang suami istri meninggal di dekat Hajar Aswad karena terinjak. Untuk memulai tawaf, saya hanya mengangkat tangan kanan dan mengecupnya. Tawaf sunnah pun saya lakukan siang hari atau menjelang salat Ashar. Panas memang. Tapi cukup lengang dibandingkan melakukannya pada waktu Subuh atau selepas Magrib.

Saya bungkus kepala dengan handuk basah dengan semprotan air tergantung di badan. Kaca mata hitam tak pernah lepas karena jika tidak, buku doa yang saya bawa tak bisa terbaca. Silau. Saya berangkat dengan Kloter 71/86 HLP. Kloter saya sesungguhnya adalah Kloter 71 HLP. Tapi ketika masuk asrama berdasar Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA), ternyata visa saya dan puluhan calhaj lainnya belum siap. Saya pun menginap selama tiga hari dan akhirnya berangkat dengan Kloter 86 HLP bersama jamaah dari Lampung, Semarang, Timor Timur, dan Kalimantan Barat yang rata-rata menginap di Pondok Gede lebih dari tiga hari, kecuali jamaah dari Timor Timur.

Situasi di Madinah sudah ramai ketika saya datang. Untuk menginjakkan kaki di Raudah, tempat antara Mimbar dan rumah Nabi yang dibatasi oleh tiang putih dan lantai putih, sulit bukan main. Ini dikarenakan perempuan baru bisa masuk pada jam-jam tertentu yakni pukul 08.00 dan pukul 13.30 waktu setempat atau selepas salat Zuhur. Tidak demikian dengan jamaah pria. Maka setiap kali pintu menuju Raudah dibuka, ratusan orang berhamburan dari masjid bagian dalam dan bagian luar agar bisa sekadar salat dan berdoa di tempat mulia itu. Padahal aturan yang ada bukan demikian.

Berdasar hadis nabi, masuk Masjid Nabawi dari pintu Babussalam. Kemudian menuju Raudah untuk melakukan salat tahiyyatul masjid. Satu kali saya pun berhasil menginjakkan kaki di Raudah. Itu karena tubuh saya terdorong dari belakang, tapi tak bisa bergeser atau mundur karena di depan saya papan pembatas antara lelaki dan perempuan sedang di belakang saya jamaah wanita berhimpit.

Seorang wanita Arab menyuruh saya shalat. Dia bilang akan menjaga saya dan ia juga minta saya melindunginya saat ia shalat. Kami pun salat bergantian. Padahal semula saya ragu karena tak tahu salat apa yang saya lakukan mengingat tahiyatul masjid sudah saya kerjakan ketika masuk untuk salat Zuhur dan belum selangkah pun keluar dari masjid. Maka dalam hati saya niatkan untuk salat sunnah. Agar bisa shalat Subuh di dalam Masjid Nabawi, saya harus antre sejak pukul 03.00 waktu setempat.

Pintu Masjid Nabawi dibuka pukul 03.30. Maka, saya mengikuti teman-teman melakukan salat malam di masjid menjelang fajar. Masuk sulit, keluar pun demikian. Mekkah juga sudah padat ketika saya tiba di sana. Saya melakukan tawaf umrah bersama dengan teman-teman satu rombongan, sekitar 45 orang. Tapi kami terpencar karena situasi sangat crowded.

Saya merasa kaki ini melangkah tidak sewajarnya melainkan karena terdorong dari belakang. Saat berhenti untuk mengangkat tangan setiap kali awal putaran, saya sempat melirik tempat Hajar Aswad diletakkan. Di atasnya ada seorang askar, polisi Arab, bergantung pada seutas tali untuk menjaga agar tidak ada yang celaka karena terinjak atau terhimpit meski kerap terjadi juga. Ratusan orang mencoba mendekat.

Hasrat saya untuk turut memasukkan wajah ke lubang batu yang dibawa Malaikat Jibril dari surga itu hilang seketika. Selain karena hadis tadi, saya lihat situasi tak memungkinkan bahkan sekadar mendekat untuk melihat bagaimana bentuk Hajar Aswad itu. Saya sudah cukup senang ketika bisa bersujud di Hijir Ismail, sebuah tempat yang jika kita salat di situ menurut Nabi sama dengan salat di dalam Ka'bah. Sembari menunggu pelaksanaan wukuf, saya menjalankan salat di Masjid Al Haram.

Semakin hari kenalan saya semakin banyak. Dari Aceh yang tak mengerti betul bahasa Indonesia sampai orang India yang membujuk saya agar memberinya mukena buatan ibu saya. Belum lagi sepekan berada di Mekkah, tiga orang gadis dari Ujung Pandang menyapa saya. Saya ingat waktu itu kami baru saja melaksanakan salat Zuhur. Setelah bertanya dari mana asal saya, mereka langsung bertanya,''sudah berhasil mencium Hajar Aswad?.'' Saya menggelengkan kepala.

Mereka bercerita bahwa mereka sudah lebih dari tiga kali melakukannya. ''Bagaimana bisa?'' saya bertanya. Bagi saya, melihat dari dekat saja sulit apalagi menciumnya. ''Siang hari lebih mudah. Dekati Askar dan katakan bahwa kita dari Indonesia. Mereka pasti mengulurkan tangan dan membantu kita,'' katanya.

Tiba-tiba mereka bangkit. ''Mau kemana, hendak tawaf?'' tanya saya. ''Tidak, mau mencium Hajar Aswad.'' Saya sempat bingung karena setahu saya mencium Hajar Aswad itu dilakukan saat hendak memulai tawaf. Tapi itu tidak saya pikirkan karena saya ingin segera tidur dan mencari tiang untuk bersandar sembari menunggu waktu Ashar. Matahari sangat terik dan saya enggan pulang. Saya berada di masjid sejak Zuhur hingga Isya karena pemondokan saya jauh. Saya enggan tidur di pemondokan karena menurut saya tidak nyaman. Kamar yang kecil dihuni tujuh orang.

Jika siang, para suami berkumpul di kamar sempit itu untuk makan, minum dan ngobrol sembari merokok di kamar. Buat saya, lebih baik berdiam di masjid kecuali malam hari. Tiba-tiba belum satu jam, mereka sudah kembali dengan wajah memerah. ''Kami bisa melakukannya lagi.'' Menurut mereka, setelah menunggu lama askar mengulurkan tangan dan menariknya hingga ke depan Hajar Aswad.

Saya diam saja. Tapi dalam hati saya berkata, ''Saya hanya akan melakukannya jika hendak tawaf. Itu pun jika memungkinkan.'' Tapi saya juga bergumam, beruntung sekali jamaah kloter awal, bisa shalat di dalam masjid dengan leluasa karena belum banyak jamaah lain. Suatu kali usai melakukan tawaf, saya mencoba masuk ke Multazam, tampat antara pintu Ka'bah dan Hajar Aswad. Saya ingin bisa berdoa di tempat itu karena menurut hadis, tempat itu mulia untuk berdoa. Tiba-tiba bahu saya disentuh orang. Saya menoleh dan dia bilang apakah saya mau mencium Hajar Aswad. 'Ya,' kata saya.

Entah, mengapa logika saya tentang batu yang saya pegang itu hilang. Saya pun menurut ketika dia mendorong saya mendekat ke Hajar Aswad. Saya sempat menyerah karena nafas saya sesak karena terhimpit orang banyak. ''Sudah, sudah. Tidak usah saja,'' kata saya. Tapi dia tak mau menyerah dan terus mendorong. ''Ini sudah di depan Hajar Aswad.'' Saya melihat batu itu. Dari luar batu hitam itu terbungkus besi berwarna perak dan di dalamnya tampak sudah retak-retak dan harum. Saya pun menciumnya.

Tak ada rasa apa-apa kecuali sedikit rasa haru dan sesak nafas karena terdesak oleh jamaah lain. Saya pun cepat-cepat mundur. Saya mengucapkan terima kasih kepada pria yang menolong saya. Dia hanya tersenyum dan berkata sesama orang Indonesia harus saling membantu. Saya tidak tawaf setelah itu sebagaimana seharusnya.

Rupanya saya sama saja dengan yang lain. Ingin melakukannya lagi. Saya coba sekali lagi beberapa hari menjelang pulang. Waktu itu menurut penglihatan saya, situasi agak senggang. Saya berniat kali ini saya menciumnya untuk memulai tawaf. Posisi saya sudah di depan sampai saya merasa ada orang yang berdiri di atas bahu. Saya melihat dia melompat dari pilar di dekat Hajar Aswad sembari tangannya berpegang entah pada apa. Secepat kilat saya mundur tapi baju saya yang panjang tertahan. Saya tarik keras-keras sembari mundur. Saya berhasil mundur, tapi beberapa buah kancing baju saya lepas.

Akhirnya saya hanya bergumam, ''Itu memang batu biasa, kecuali didatangkan dari surga.'' Di rumah, saya katakan saya tak berhasil mencium Hajar Aswad tapi minus cerita kancing baju yang lepas itu. Padahal, dalam hati senang juga melakukannya kendati bukan pada ajaran yang seharusnya, mencium Hajar Aswad untuk memulai tawaf.

Sumber: Ihram