OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Minggu, 13 Agustus 2017

Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Oleh: Lukman Hakiem*

"PPP bisa naik suaranya," ujar staf pengajar Fisip-UGM,  Drs.  Afan Gaffar, M.A (kelak menjadi guru besar Fisipol UGM). yang berdiri di sebelah saya.

Di siang yang panas itu beberapa puluh tahun silam,  di antara ribuan massa di alun-alun utara Yogyakarta, tidak sengaja saya bertemu dengan senior yang saya sapa "Bang Afan" itu.

Hari itu,  menjelang pemilu 1982, PPP menggelar kampanye di alun-alun utara. Alun-alun penuh sesak,  jalan menuju tempat kampanye, tidak kurang sesaknya.  Bersusah payah,  saya dan Bang Afan --yang saat itu sedang pulang ke Tanah Air untuk penelitian lapangan bagi disertasi doktornya di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat-- menerobos padatnya massa.

Kampanye akan dimulai sekitar pukul dua siang, tapi massa sudah memadati alun-alun utara sejak pagi. Seorang peserta kampanye mengaku,  berangkat dari rumahnya di Wates,  sesudah shalat Subuh supaya kebagian tempat di depan. "Ternyata, sampai di sini sudah penuh," keluhnya.

Seorang peserta kampanye yang  mengaku berasal dari Magelang menceritakan perjuangannya untuk bisa sampai di alun-alun utara. "Saya harus bergerilya Mas," katanya.

Di zaman Orde Baru itu,  pemilu memang direkayasa untuk hanya dan selalu dimenangkan oleh Golkar, sebuah organisasi besutan penguasa yang tidak pernah mau disebut partai politik tetapi selalu ikut pemilu.

Salah satu bentuk rekayasanya, rakyat dari luar Yogya tidak boleh menghadiri kampanye partai politik (PPP dan PDI) di Yogya. Penjagaan di perbatasan provinsi di perketat. Kendaraan umum dan pribadi digeledah untuk mencari calon peserta kampanye.  Siapa saja yang diduga akan menghadiri kampanye partai politik, langsung dihalau,  disuruh balik kanan.

Seketat-ketat penjagaan aparat, rakyat selalu punya cara untuk menembus barikade. Maka,  di siang yang terik itu,  banyak saya temukan peserta kampanye PPP yang berasal dari Klaten, Muntilan,  dan Purworejo.

Melihat padatnya peserta kampanye,  Bang Afan kembali berkata: "Kalau pemilu berlangsung jujur dan adil,  suara PPP bakal naik tajam."

Massa PPP hari itu melimpah ruah, karena yang akan menjadi juru kampanye adalah Raja Dangdut Rhoma Irama.

Daya panggil Rhoma Irama yang bukan pengurus partai,  juga bukan caleg PPP, memang amat luar biasa.
Beberapa malam sebelumnya, jalan-jalan di Yogya tiba-tiba menjadi sepi.  Usut punya usut,  ternyata malam itu Rhoma Irama tampil menjadi juru kampanye PPP di RRI dan TVRI. Jauh sebelum jam tayang,  para penggemar Rhoma Irama dengan khusyuk sudah duduk di depan televisi untuk menyimak pidato kampanye Rhoma Irama.
Di alun-alun utara,  sekitar pukul tiga sore, Rhoma Irama yang ditunggu massa akhirnya datang juga. Dia langsung naik ke panggung, dan berpidato singkat:

"Saya datang di Yogya untuk mengalahkan Golkar. Kalau PPP menang di Yogya, saya dan Soneta akan show gratis di sini.  Allahu Akbar!" Sesudah pidato singkat itu,  Rhoma Irama pamit, dan massa bubar dengan tertib.

Sumber: Republika

[DULU] Gus Mus: Ulama Kok Pimpin Demo, Ini Aneh Sekali; [KINI] Ulama NU Siap Turun Aksi Sesuai Instruksi

[DULU] Gus Mus: Ulama Kok Pimpin Demo, Ini Aneh Sekali; [KINI] Ulama NU Siap Turun Aksi Sesuai Instruksi


Gus Mus: Ulama Kok Pimpin Demo, Ini Aneh Sekali
http://medan.tribunnews.com/2017/04/21/gus-mus-ulama-kok-pimpin-demo-ini-aneh-sekali

"Ulama kok mimpin demo. Ini aneh sekali," kritik Gus Mus waktu itu seperti dilansir Tribunnews.

"Jadi ada kepantasan... Dari nurani saja sudah cukup, cukup gak (mereka yang demo) dipanggil kiai," kata mantan Rais Am PBNU ini.

Itu "Fatwa" dulu... gak tahu Gus Mus lagi menyindir siapa. Siapa yang dimaksud ulama suka demo itu. Apa yang mimpin Aksi Bela Islam?

TAPI... sekarang PBNU malah instruksikan untuk aksi/demo menentang pemerlakuan Full Day School (FDS).

PBNU Instruksikan Gelar Aksi Penolakan Lima Hari Sekolah
https://www.nu.or.id/post/read/80258/pbnu-instruksikan-gelar-aksi-penolakan-lima-hari-sekolah

Ulama NU Siap Turun ke Jalan Jika FDS Tetap Diberlakukan
http://jambi.tribunnews.com/2017/08/10/ulama-nu-siap-turun-ke-jalan-jika-fds-tetap-diberlakukan

“Ulama NU siap turun ke jalan di Jakarta. Insya Allah lebih besar dari aksi 212. Itu pun jika aspirasi ini tidak ada tindak lanjut,” kata Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah.

***

Ulama kok pimpin Demo, Ini Aneh Sekali -- ITU DULU

SEKARANG dah gak aneh lagi. Sudah ada "Fatwa" baru.

Ulama yg pimpin aksi 411dan 212 demo bela agamanya krn di hina,klo yg skrg demo bela klompoknya yg merasa di rugikan.https://t.co/jPopkluyHF

— alie78.m (@AlieRobin) 12 Agustus 2017

Kan fatwa bisa disesuaikan dgn kepentingan mas,ntar kalo NU demo di hari Jumat, boleh jg sholat Jumat di jalan.Gitu aja sih.�� @ronavioletahttps://t.co/ZrxJrnFo8q

— Abdi Syah (@abdigreen) 12 Agustus 2017

Sumber: Portal Islam

AHY-GIBRAN & SBY-JKW "Like Father Like Son"

AHY-GIBRAN & SBY-JKW "Like Father Like Son"


10Berita~ Kemarin netizen heboh saat putra mantan Presiden SBY, mas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berkunjung ke Istana Negara dan ditemui oleh putra presiden Jokowi, mas Gibran.

Banyak netizen berkomentar gaya Gibran yang kurang tata krama dibanding AHY mengingatkan dengan bapaknya. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya... kata netizen.

Ternyata ada benarnya.

Dulu pada 9 Maret 2017, mantan Presiden SBY berkunjung ke Istana Negara bertemu dengan Presiden Jokowi.

Dan ada momen yang terekam video, saat acara minum teh. Bagaimana mantan Presiden "mengajari" tata cara minum teh kenegaraan yang baik.

Terimakasih SBY, pelajaran ini takkan terlupakan :)

[Berikut videonya]

Beda kelas ya � pic.twitter.com/97MVmy4nK9

— ULAMA LOVER ! (@benni_hidayat) 12 Agustus 2017


Sumber: Portal Islam

Saat Lantunan Alquran Mampu Menjadi 'Bius'

Saat Lantunan Alquran Mampu Menjadi 'Bius'

10Berita, JAKARTA -- Kisah tentag kelembutan hati para salaf saat membaca dan mendengarkan lantuan Alquran banyak menghiasi lembaran sejarah. Ayat-ayat indah Alquran mampu menaklukkan hati Umar bin Khatab yang dikenal dengan karakter yang keras. Tak hanya tokoh yang berjuluk al-Faruq itu, menurut catatan Dr Abdurrahman Ra'at Basya dalam bukunya, Mereka adalah Para Tabiin, kedahsyatan Alquran mampu menjadi “bius” bagi  Rufai bin Mihraan.

Tokoh yang berjuluk Abu al-Aliyah itu menggunakan bacaan Alquran saat hendak menjalani operasi akibat luka dalam perang. Kisah itu berawal ketika Rufai hendak turut serta berjihad. Seperti biasanya, segala persiapan dan perbekalan telah direncanakan dengan baik. Ia mengikat semuanya di atas kendaraannya.

Namun, tanpa ia sadari, tatkala terbit waktu subuh, terdapat luka yang parah pada salah satu telapak kakinya. Kemudian, rasa sakit tersebut semakin bertambah sedikit demi sedikit. Seorang dokter yang menjenguknya memvonis sosok berdarah Persia itu terkena penyakit aklah. Penyakit yang akan mematikan sel-sel dan merambat sedikit demi sedikit hingga mengenai seluruh tubuh. Kemudian, sang tabib tersebut meminta persetujuannya untuk memotong kakinya hingga setengah betis, maka beliau pun menyetujuinya.

Sang tabib menyiapkan perlengkapan amputasi, pisau untuk menyayat daging, dan gergaji untuk memotong tulang. Kemudian tabib berkata, “Maukah Anda minum bius agar Anda tidak merasa kesakitan tatkala disayat dan dipotong kakinya?”

Rufai menjawab, “Bolehkah engkau carikan yang lebih baik ketimbang solusi bius itu?” Tabib bertanya, “Apa itu?”

“Carilah untukku seorang qari yang membacakan Alquran, mintalah dia membacakan untukku ayat-ayat yang mudah dan jelas. Jika kalian melihat wajahku telah memerah, pandanganku mengarah ke langit, maka berbuatlah sesukamu,” ujar Rufai.  Mereka pun melaksanakan permintaan tersebut dan memotong kakinya.

Tatkala selesai amputasi, tabib berkata kepada Abu al-Aliyah, “Seakan Anda tidak merasakan sakit tatkala diamputasi.” Lalu beliau menjawab, “Karena saya tersibukkan oleh sejuknya kecintaan kepada Allah, merasakan kelezatan apa yang aku dengar dari Alquran sehingga melupakan panasnya gergaji.”

Di saat itulah, Rufai memegang kaki yang telah diamputasi dengan tangannya, sembari memandangi kaki tersebut, Rufai bergumam, “Jika aku bertemu dengan Rabb-ku pada hari kiamat nanti dan bertanya apakah aku telah berjalan dengan engkau (kaki yang telah dipotong) ke tempat yang haram sejak 40 tahun, atau aku telah berjalan denganmu pada tempat yang tidak diperbolehkan? Niscaya aku akan menjawab, 'Belum pernah' dan aku jujur terhadap kata-kataku, insya Allah.”

Setelah itu, karena ketakwaan Abu al-Aliyah dan karena merasa dekatnya dengan hari kiamat serta persiapannya bertemu dengan Rabb-nya, ia telah menyiapkan kain kafan untuk dirinya.

Kain tersebut dipakai sebulan sekali lalu disimpan di tempat semula, begitu terus secara rutin. Dalam catatan riwayatnya selama hidup, ia telah berwasiat 17 kali, padahal masih dalam keadaan sehat dan segar dengan memberikan batasan pada masing-masing wasiat. Jika batasan waktu telah habis ia melihatnya lagi, mungkin beliau menggantinya atau mengundurkannya. Rutinitas ini ia lakukan sepanjang hidup, hingga ajal menjemputnya pada Syawal 93 Hijriyah.

Sumber: Republika

Hamurabi dan Praktik Hukuman Mati di Masa Modern

Hamurabi dan Praktik Hukuman Mati di Masa Modern

10Berita, JAKARTA --  Hukuman mati yang secara resmi disebut-sebut mulai diperkenalkan pada masa Raja Hamurabi di Babilonia abad ke-18 sebelum Masehi (SM) itu sebenarnya memiliki akar sejarah yang kuat sepanjang peradaban manusia. Hingga saat ini pun eksekusi mati menjadi sanksi atas beragam tindak kejahatan.  

Metode:
Metode hukuman mati cukup beragam. Beberapa yang masyhur digunakan dalam catatan sejarah ialah:
•    Pancung dengan cara potong kepala
•    Sengatan listrik 
•    Gantung
•    Suntik mati melalui penyuntikan terpidana mengguakan obat mematikan.
•    Tembak
•    Rajam atau dilempari batu hingga mati

Sikap Dunia Internasional

Dunia internasional beda sikap menyikapi penerapan hukuman mati. Sebagian negara memberlakukannya dan sebagian lainnya telah menghapuskan. Perinciannya sebagai beriku: 

Ø    Penghapusan hukuman mati (abolisonis)
    Terdapat 100 negara yang menghapuskan hukuman mati untuk seluruh jenis kejatahan. Di antaranya:
    Australia, Argentina, Armenia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bolivia, Belanda, Kamboja, Costa Rica, Denmark, Ekuador, Finlandia, Prancis,     Georgia, Italia, Jerman, Paraguay, Filipina, Polandia, Portugal, Romania, Turki, Turkmenistan, Ukrania, Inggris. 

Ø    Penghapusan untuk kejahatan biasa:
    Terdapat tujuh negara yang menghapuskan hukuman mati untuk kejahatan biasa. Sedangkan, untuk kejahatan tingkat berat masih diberlakukan. Negara itu ialah: 
    Brasil, Cili, El Salvador, Fiji, Israel, Kazakhstan, dan Peru.

Ø    Aboisionis secara de facto
    Terdapat 42 negara yang tidak melaksanakan eksekusi mati, setidaknya dalam 10 tahun terakhir meski konstitusi mereka tetap mempertahankannya. Di antaranya:
o    Brunei Darussulam (1957)   
o    Afrika Tengah (1981)
o    Kongo (1982)
o    Burkina Faso (1988)
o    Kamerun (1988)
o    Gana (1993) 
o    Laos (1989)
o    Maroko (1993)
o    Myanmar (1988)
o    Tunisia (1991)

Ø    Moratorium Hukuman Mati
    Ada setidaknya lima negara yang memutuskan untuk moratorium eksekusi mati, yaitu sebagai berikut:
    Aljazair, Guatemala, Mali, Rusia, dan Tajikistan.

Ø    Pelaksana Hukuman Mati
    Menurut data dari Hands off Cain, terdapat 44 negara yang masih memberlakukan eksekusi mati. Di antaranya sebagai berikut:
    Amerika Serikat, Afghanistan, Bahrain, Bangladesh, Chad, Cina, Kuba, Mesir, India, Indonesia, Iran, Irak, Jepang, Yordania, Kuwait, Libanon, Libya, Malaysia, Nigeria, Korea Utara, Pakistan, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Singapuran, Sudan, Suriah, Somalia, Thailand, Taiwan, dan Uganda.

Efektivitas
Survei PBB pada 1998 dan 2002 menyebutkan pemberlakuan hukuman mati efektif menekan angka kejahatan. Eksekusi mati dinilai lebih efektif memberikan efek jera ketimbang penjara seumur hidup.  

Sumber: trbun islam

Menohok, Penulis Terkenal Tere Liye Paparkan Data Menarik Pemerintah Lebih Peduli Diskotek Ketimbang Buat Buku Murah

Menohok, Penulis Terkenal Tere Liye Paparkan Data Menarik Pemerintah Lebih Peduli Diskotek Ketimbang Buat Buku Murah


*10 JUTA BUKU GRATIS

Pemerintah sekarang itu tidak peduli sama sekali dengan buku.

Omong kosong kalau mereka peduli. Coba lihat, pajak PPN untuk tontonan film, diskotek, klub malam, sirkus, pertandingan olahraga, kontes kecantikan, mereka hapus. Tidak ada lagi. Tapi buku? Ewww, kalian suka protes kenapa buku mahal? Simpel, ada kemunduran yang luar biasa dalam memahami betapa pentingnya literasi itu harus didukung habis2an. Ini malah sebaliknya, yang mereka dukung diskotek. Mungkin peradaban sebuah bangsa kayaknya diukur dari jumlah klub malam, bukan lagi dari berapa banyak buku berkualitas yang dihasilkan negara tersebut. Harga buku bisa 10-40% lebih murah jika PPN-nya tidak ada lagi, termasuk jika insentif pajak lainnya diberikan kepada industri penerbit, bisa turun signifikan harganya.

Dan omong-omong soal penulis, ewww, mending kalian jadi artis, pajaknya hanya separuh dari penulis. Artis, bahkan bisa tidak lapor, karena jika tidak ada bukti potong, dll, dia hanya lapor sukarela. Namanya sukarela, gampang mah kalau mau nyelipin laporan pajaknya. Penulis buku? Tidak bisa. Semua penghasilan dia otomatis ada bukti potong dari penerbit, dan pajaknya 2x lebih tinggi dibanding artis, pengacara, akuntan, dokter, dan profesi lainnya. Tahu pemerintah soal fakta ini? KAGAK! Mereka cuma sibuk pegang2 buku, jepret, posting di media sosialnya, "Ayo mari membaca!" Ampun dah, dan orang2 bilang owww betapa agung dan mulianya pemimpin kita, dia mendukung literasi. Tidak tahu fakta betapa sengsaranya jadi penulis buku di negeri ini kalau sudah berurusan dengan pajak.

Tahu mereka soal fakta ini? Tergerak dia untuk memperbaikinya?

Jika ada yang bilang rezim pemerintahan sekarang mendukung literasi? Omong kosong. Paling hanya 1-2 saja kebijakan mereka yg terkait soal literasi, itupun hanya untuk polesan, populis, biar bagus untuk diposting di medsos, biar terlihat bagus nampak dilihat dari kulit luar. TAPI sama sekali kagak menyentuh inti permasalahannya.

Padahal apa susanya, misalkan sisihkan 1 trilyun untuk industri perbukuan nasional, kita bisa mengirima sepuluh juta buku2 terbaik ke seluruh negeri secara gratis. Banjiri setiap perpustakaan sekolah dengan buku2 terbaik. Berikan insentif pajak bagi penerbit dan industri buku. Berikan keadilan pajak bagi profesi penulis. Lahirkan ribuan penulis2 baru dengan program yg baik. Dukung komunitas dan aktivis literasi. Kecil sekali 1 trilyun itu, duit untuk subsidi BBM dan listrik saja ratusan trilyun. Kita itu masih menganggap literasi itu penting nggak sih? Atau cuma penuh kebohongan belaka.

Saya pesimis ini akan terjadi dalam waktu dekat. Maka sebelum itu betulan ada, mari kita singsingkan lengan untuk ikut berpartisasi. Dengan daya upaya sendiri meski terbatas. Saya memulainya dengan membagikan naskah novel2 saya di page facebook ini. Gratis. Itu salah-satu cara untuk menumbuhkan minat membaca generasi berikutnya. Jika mereka bilang buku mahal, toko buku jauh, baca saja naskah novel Tere Liye di page ini. Free. Jika mereka bilang malas baca buku, lebih suka main gagdet, wah kebetulan toh, baca naskahnya sekalian main gagdet. Semoga besok2 jadi tergerak untuk mulai membaca buku2 lain, minat bacanya jadi tinggi.

*Tere Liye[] 

Sumber : fanspage Tere Liye, www.tribunislam.com

Menelusuri Jejak Nabi Daud

Menelusuri Jejak Nabi Daud

10Berita, JAKARTA -- Dawud AS adalah keturunan dari Ya'qub. Garis keturunannya menyambung hingga Ibrahim AS dari jalur Ishaq. Dawud diangkat sebagai nabi diperkirakan pada 1010 Sebelum Masehi. Kisah-kisah Nabi Dawud diabadikan dalam Alquran seperti cerita peperangan dengan Jalut dan mukjizat menaklukkan besi. Alquran menyebut nama Dawud AS sebanyak 16 kali.    

Allah SWT memberikan wahyu berupa Zabur. Bacaannya yang merdu terabadikan oleh sejarah. Hingga muncul iztilah mazamir atau nyanyian Dawud. Alam pun seraya bertasbih mengikuti senandung Sang Nabi ketika melantunkan Kitab Suci itu. Nabi Dawud adalah nabi bagi tiga agama Samawi, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ia meninggal pada usia 100 tahun lebih. Risalahnya diteruskan oleh putranya, Sulaiman AS. Berikut beberapa jejak Nabi Dawud AS yang bisa ditelusuri hingga kini:  

Makam

Makam Nabi Dawud terletak di Bukit Zion, Yerusalem, yang menyatu dengan sebuah masjid. Makam ini kini tengah diklaim sebagai situs suci umat Yahudi. Namun, berdasarkan kesepakatan otoritas setempat, baik dari Lembaga Islam Tertinggi maupun Majelis Wakaf dan Urusan Islam Palestina serta keluarga besar ad-Dajani, bahwa kesepakatan yang menganeksasi situs ini antara Vatikan dan Zionis Israel tidak bisa dibenarkan. Situs ini, menurut catatan sejarah yang kuat adalah wakaf umat Islam, karena itu harus dipertahankan.
 
Mihrab

Mihrab merupakan tempat berdoa dan berzikir yang diabadikan dalam Alquran. Sedangkan, Mihrab Dawud AS adalah salah satu mihrab yang terkenal di Yerusalem dan konon pernah digunakan oleh Nabi Dawud. Mihrab ini pernah dibangun kembali oleh Sultan Hisamuddin Lasyin pada rentang waktu 696-698 M/1298-1296 H. Lokasinya di luar Masjid al-Aqsha. Berada di benteng gerbang Kota Yerussalem, hingga pada masa itu gerbang ini dikenal denga sebutan Gerbang Mihrab.

Tambang Besi

Nabi Dawud AS dikenal memiliki keahlian sebagai pandai besi yang andal. Mengutip nationalgeographic.com pada 28 Oktober 2008, ditemukan lokasi yang diduga sebagai pusat tambang besi pada masa Dawud dan anaknya, Sulaiman, di Yordania bagian Selatan. Tidak hanya besi, tetapi juga berbagai jenis barang tambang meliputi emas, perak, tembaga, dan perunggu. Konon, bahan-bahan inilah yang dijadikan sebagai material pembangunan Kuil Sulaiman.

Sumber: Republika

Sabtu, 12 Agustus 2017

Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh?

Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh?


AMAT banyak  hadits-hadits yang dibukukan oleh para huffadz hadits yang di dalamnya berisi doa-doa dan dzikir, baik derajatnya shahih, hasan, maupun dhaif. Memang tidak bisa dipungkiri ada sebagian dari saudara muslim menolak mengamalkan doa-doa dan dzikir yang derajatnya dhaif, bahkan menyeru untuk meninggalkannya

Tindakan demikian, tentu mengundang respon pihak lain dan mengundang polemik di tengah umat. Sehingga perlu dicari duduk permasalahannya dalam masalah ini, yakni apa hukumnya menggunakan dzikir dan doa dari hadits-hadits yang derajatnya dhaif, tentunya dari para ulama mu’tabar.

Pendapat Imam Al Baihaqi

Sebenarnya, jauh-jauh para ulama sudah membahas persoalan ini. Adalah Al Hafidz Al Mujtahid Al Imam Al Baihaqi telah menyampaikan Imam Al Baihaqi setelah menjelaskan tingkatan derajat hadits yang disepakati kedhaifannya oleh para ulama ahlul hadits, yakni dimana perawinya tidak termasuk yang dituduh sebagai pemalsu hadits, akan tetapi dikenal buruk hafalannya dan banyak kesalahan dalam periwayatannya, atau majhul yang tidak diketahui adalahnya serta syarat-syarat diterimannya khabar darinya, ia berkata,”Maka hadits dalam kategori ini tidak dipakai dalam hukum-hukum sebagimana kesaksiannya ditolak oleh pemerintah. Namun terkadang dipakai (haditsnya-pent) yang mengenai doa-doa, motifasi, ancaman, tafsir dan riwayat peperangan yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum.”  (Lihat, Dalail An Nubuwwah, 1/32-37)

Pendapat Imam An Nawawi

Demikian juga Imam An Nawawi, setelah menyampaikan hadits Umamah Al Bahili, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah meletakkan jenazah Ummu Kultsum dalam kubur, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan, yang artinya, ”Darinya Kami menciptakan kalian. Dan kepadanya Kami mengembalikan kalian. Dan darinya Kami mengeluarkan kalian kembali.”

Kemudian Imam An Nawawi berkata,”Telah meriwayatkannya Ahmad dari Ubaidullah bin Zahr dari Ali bin Zaid bi Jad`an dari Al Qasim, dan ketiganya merupakan para perawi dhaif. Akan tetapi hadits-hadits fadhail tidak ditinggalkan, meskipun isnadnya dhaif. Dan hadits ini adalah salah satunya. (Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/293,294)

Bisa diambil kesimpulan bahwa dzikir yang diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat meletakkan jenazah Ummu Kultsum meski datang dengan sanad dhaif, namun tidak ditinggalkan, karena ia merupakan bagian  fadhail a`mal.

Pendapat Ibnu Rajab Al Hanbali

Al Hafidz Ibnu Rajab pengikut madzhab Imam Ahmad pun memiliki pendapat selaras. Setelah menyampaikan hadits dari Anas Radhiyallahu An’hu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jika memasuki bulan Rajab berkata, yang artinya,” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Al Hafidz memberi komentشr terhadap hadits ini,”Diriwayatkan dari Abu Isma’il Al Anshari bahwasannya ia berkata,’Tidak shahih keutamaan Rajab, kecuali hadits ini.’ Perkataannya perlu dikaji, karena isnad ini terdapat perawi dhaif.”

Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab berkata,”Dalam hadits ini dalil mengenai (istihbab) kesunnahan doa agar disampaikan pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan, agar bisa melakukan amalan-amalan shalih di dalamnya…” (Lathai’if Al Ma’arif, hal. 239)

Al Hafidz Ibnu Rajab meski telah menegaskan bahwa sanadnya dhaif, namun menyatakan terang-terangan bahwa hadits itu bisa dijadikan dalil mengenai doa-doa agar disampaikan kepada waktu-waktu yang memiliki keutamaan. Sehingga jika seorang berdoa dengan hadits tersebut tidak bermasalah meski dhaif, tidak masalah, ia mengandung permintaan untuk disampikan pada waktu-waktu yang mengandung keutamaan.

Pernyataan di atas adalah perkataan para ulama mu’tabar mengenai bolehnya pengamalan doa-doa dari hadits.

Doa Bagian dari Fadhail A’mal yang Boleh Gunakan Hadits Dhaif

Dan perlu diketahui bahwasannya doa adalah bagian dari fadhai’il al a’mal sebagaimana dipaparkan Imam An Nawawi sebelumnya, yang mana para ulama menyatahkan bolehnya menggunakan hadits dalam hal ini, meski dhaif.

Adalah Syeikh Abu Muhammad Al Maqdisi telah berkata,”Tidak mengapa dengan hal itu (yakni shalat tasbih), sesungguhnya dalam fadhail tidak disyaratkan shahihnya khabar.” (Al Ihtiyarat Al Ilmiyyah li Ibni Taimiyyah, hal. 100)

Demikian juga yang disampaikan Ibnu Qudamah, salah satu ulama besar dalam madzhab Hanbali,”Amalan-amalan nafilah dan fadhai’il tidak disyaratkan padanya keshahihan hadits.” (Al Mughni, 1/1044).

Imam An Nawawi menyatakan,”Dan telah bersepakat para ulama bahwa mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaifdalam fadha’il al a’mal.” (Al Arba’un An Nawawiyah, hal. 3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.  (lihat, Fathu Al Mubin, hal. 32)

Ijma’ bolehnya penggunaan hadits dhaif dalam fadha’il juga ikut ditegaskan oleh Al Allamah Ali Al Qari Al Hanafi, ”Hadits dhaif digunakan untuk fadhail a’mal sesuai kesepakatan.” (lihat, Al Maudhu’at,hal.73).

Demikian juga diikuti pendapat ini diikuti  oleh Imam Imam Al Laknawi Al Hanafi. (lihat, Ajwibah Al Fadhilah, hal. 37)

Sedangkan untuk ulama hadits mu’ashirin  Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Para huffadz hadits sepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif dalam fadha’il a’mal. (lihat, Al Qaul Al Muqni’, hal.2,3).

Adapun pendapat yang menyatakan bahwasannya Imam Al Bukhari, Yahya bin Ma’in, Muslim dan Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif secara mutlak adalah pendapat yang lemah setelah ditahqiq (silahkan baca Jangan Remehkan Hadits Dhaif).

Dengan demikian, doa dan dzikir menggunakan hadits dhaif adalah perkara yang dibolehkan menurut para ulama mu’tabar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Sumber: Hidayatullah


Kejernihan Hati Menjadi Lentera

Kejernihan Hati Menjadi Lentera

10Berita, JAKARTA -- Kisah keteladanan banyak dicontohkan oleh tokoh sufi berikut ini. Ia adalah Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi. Tokoh yang lahir di Kota Merv pada 767 M/150 H ini dikenal banyak memiliki karamah. Masa kelamnya sebagai seorang berandal dijadikan sebagai stimulan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui berbagai olah spiritual inilah, ia kepada para sahabat karibnya menceritakan banyak kejadian-kejadian yang mengisyaratkan kebersihan hatinya.

Suatu ketika, Bisyr pernah berkunjung ke saudara perempuannya. Tetapi, kali ini kedatangannya tidak menampakkan keceriaan. Ia limbung seperti halnya orang yang tengah kebingungan. Belum lagi duduk atau berkata sepatah kata pun untuk basa-basi, Bisyir malah melenggang meninggalkan ruang tamu, “Saya akan naik ke atas,” begitu kata Bisyr tanpa basa-basi, membuat saudara perempuannya heran.

Keheranan saudara perempuan Bisyr kian bertambah. Pasalnya, setelah melewati beberapa anak tangga menuju ke loteng, Bisyr berhenti. Ia terdiam di sana sampai saat Subuh tiba.

“Mengapa sepanjang malam tadi engkau hanya berdiri di tangga itu?” tanya saudara perempuan Bisyr sesaat setelah Bisyr selesai melaksanakan shalat Subuh.

“Ketika saya baru naik, tiba-tiba muncul pemikiran dalam otakku. Di Baghdad ini banyak orang yang memiliki nama Bisyr, ada yang Yahudi, Kristen, Majusi. Aku sendiri seorang Muslim yang bernama Bisyr. Saat ini aku mendapat kebahagiaan yang besar.

Aku bertanya dalam diriku: Apakah yang telah aku lakukan ini sehingga mendapat kebahagiaan sedemikian besar, dan apa pula yang selama ini mereka kerjakan sehingga tidak mendapat kebahagiaan seperti yang kudapat? Itulah yang membuatku berdiri di tangga itu sepanjang malam tadi,” kata Bisyr kepada suadara perempuannya.

Peristiwa lainnya juga menunjukkan derajat kewaliannya. Suatu ketika cuaca sangat dingin, orang-orang yang tidak kuat dengan cuaca itu merangkap bajunya beberapa lembar, tapi Bisyr malah melepas bajunya yang dipakai sehingga menggigil kedinginan.

“Mengapa engkau melepas bajumu wahai Abu Nashr, bukankah engkau menggigil kedinginan. Lihatlah orang-orang itu, mereka mengenakan baju berlapis-lapis,” kata salah seorang sahabat yang merasa aneh dengan tingkah Bisyr.

“Aku teringat pada orang-orang miskin, betapa menderitanya mereka saat ini, sementara aku tidak punya uang untuk membantu mereka. Karena itu, aku turut merasakan penderitaan seperti yang mereka rasakan saat ini,” kata Bisyr. Sahabatnya tidak bisa berkata-kata.

Pada waktu yang lain, Bisyr berjanji hendak mengunjungi Ma'ruf, salah satu sahabatnya. Mendapati janji tersebut Ma'ruf dibuat girang. Dengan sabar Ma'ruf menunggu kedatangan Bisyr hingga waktu Zhuhur tiba, Bisyr belum juga tiba hingga usai shalat Ashar.

Bahkan, setelah menunaikan salat Isya pun, Bisyr belum juga tiba. Ma'ruf tetap bersabar menunggu kedatangan Bisyr, Ia yakin Bisyr tidak mungkin mengkhianati janjinya. Harapan dan kesabaran Ma'ruf tidak sia-sia. Ketika malam semakin larut, ia melihat Bisyr dari kejauhan, tangannya mengapit sebuah sajadah.

Saat sampai di Sungai Tigris, Bisyr menyeberang sungai itu dengan cara berjalan di atas air. Hal sama dilakukannya ketika hendak pulang saat waktu Subuh tiba setelah mereka berbincang sepanjang malam. Seorang sahabat, Ma'ruf, yang menyaksikan kejadian itu mencoba mengejar Bisyr, kepadanya ia minta didoakan. Setelah mendoakan sahabatnya Ma'ruf sesuai yang dimintanya, Bisyr berpesan agar apa yang dilihatnya itu tidak diceritakan kepada siapa pun. Dan orang itu tetap menjaga rahasia tersebut sepanjang masa hidup Bisyr.

Sumber: Republika

Beratnya Menapaki Jalan Perjuangan, Tapi, Jangan Pernah Berhenti Kawan

Beratnya Menapaki Jalan Perjuangan, Tapi, Jangan Pernah Berhenti Kawan

Ilustrasi

10Berita - *BERATNYA MENAPAKI JALAN PERJUANGAN*
_Tapi, Jangan Pernah Berhenti Kawan_

[c] Ahmad Sastra

Jalan perjuangan ini masih panjang kawan
Tengoklah bagaimana para kekasih Tuhan
Menempuh jalan terjal bebatuan
Mendaki tebing licin mematikan
Ditimpa fitnah menyakitkan
Mengarungi samudra ujian
Darah dan keringat bercucuran
Bahkan banyak yang nyawanya harus melayang

Jalan perjuangan ini masih panjang sobat
Tengoklah bagaimana kondisi umat
Masih banyak yang tahu hidup dan hakekat
Masih banyak terjerumus kubangan maksiat
Tenggak miras hingga sekarat
Tak merasa salah makan uang rakyat
Hidup semau nafsu lepaskan ikat
Seolah hidup tak aka nada kiamat

Jalan perjuangan ini masih panjang saudara
Tengoklah bagaimana kondisi bangsa
Masih belum beranjak dari miskin papa
Bahkan hutang menggunung tak terkira
Sumber daya alam habis tak tersisa
Anak cucu hanya akan menjadi penonton saja
Dirampok habis oleh penjajah tertata
Atas nama investasi padahal tipuan semata

Jalan perjuangan ini masih panjang akhi
Tengoklah rapuhnya kedaulatan negeri
Sebab tunduk dibawah ketiak ideologi kiri
Kapitalisme penjajahan hakiki
Komunisme penjajah tiada henti
Jadilah bangsa ini negeri kuli
Terhina tiada lagi harga diri
Sampai batas waktu yang masih misteri
Mungkin hingga anak cucu kita mati

Jalan perjuangan ini masih panjang
Duhai para pejuang
Jangan kalian merasa sudah menang
Hanya karena kondisi senang
Padahal musuh Allah tidak pernah tidur tenang
Mereka akan terus menghadang
Mereka terus akan menantang
Mereka akan terus menghalang
Mereka akan terus mencari ruang
Mereka akan terus mencari peluang
Hingga umat ini binasa dan ditendang
Hingga agama ini musnah dan hilang

Jalan perjuangan ini masih panjang akhi
Duhai para pejuang dan mujahid sejati
Hingga pertolongan Allah datang menghampiri
Hingga agama ini tegak berdiri
Dalam daulah Islam yang dinanti
Dalam ridho Allah yang hakiki
Pemberi rahmat hidup dan mati
Inilah kemenangan hakiki
Bukan kemenangan demokrasi

Mari kita rawat terus aura kebangkitan ini
Mari kita tuntaskan perjuangan ini
Usir segala penjajah dari negeri
Tegakkan Islam di bumi pertiwi
Menyebar  ke seluruh penjuru bumi
Rajut persatuan sejati
Seluruh umat sedunia raga dan hati
Dalam naungan panji tauhid imani
Dalam arahan konstitusi qur`ani
Dalam satu kepemimpinan khalifah tertinggi
Dalam lindungan ridho Allah ilahi robbi
Sejahtera dunia dan akherat nanti

Jalan perjuangan ini masih panjang
Duhai para pejuang
Jangan sampai ghiroh hilang
Teruslah berdiri tegak untuk berjuang
Siap menghadang musuh datang
Tiada pernah mundur untuk pulang
Hingga agama ini tegak menjulang 
Mengukir masa keemasan yang pernah gemilang
Atau hembusan nafas ini harus menghilang
Berakhir syahid di medan perang

Buka hati dan jiwa
Siapkan pengorbanan jiwa dan raga
Siapkan harta dan keluarga
Sebab di jalan perjuangan ini saudara
Jika karena Allah semata
Allah akan bukakan pintu-pintu surga
Jadi, tunggu apa ?

#PuisiAhmadSastra
#KotaHujan, 12/08/17 : 10.00

Sumber: www.beritaislamterbaru.org