OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 26 Januari 2018

Mobile Masjid Hadir di Acara Komunitas Bike to Work

Mobile Masjid Hadir di Acara Komunitas Bike to Work

Mobile Masjid Nusantara. (Dian.E/RZ)

10Berita – Bandung. Mobile Masjid Nusantara hadir di acara Tour De Zero to Zero yang diselenggarakan oleh Komunitas Pekerja Bersepeda (Bike to work) pada Sabtu, (20/1/2018). Mobile Masjid hadir untuk memberikan fasilitas wudhu bagi ratusan peserta yang datang.

”Kami  melakukan persiapan sejak pukul 08.00 pagi dengan menyiapkan 4 air kran untuk wudhu dan puluhan gulung karpet untuk sholat. Posisi Mobile Masjid sendiri dekat dengan panggung utama, sehingga memudahkan para peserta untuk segera menunaikan sholat ketika waktunya sudah tiba,” ujar Dani, relawan Mobile Masjid.

Dani menambahkan, ia sangat bersyukur karena kegiatan tersebut berjalan dengan lancar. Mulai dari cuaca yang cerah, dan para jamaah tertib mengantri menunggu giliran shalat.

“Saya sebagai warga Bandung sangat bersyukur dengan adanya Mobile Masjid, ini merupakan fasilitas yang dapat mempermudah kita untuk beribadah. Intinya, ketika kita sedang berada di keramaian, sekarang gak perlu khawatir tidak mendapatkan mushola atau masjid, karena sudah difasilitasi oleh Mobile Masjid. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan beribadah.” ujar Ahmad, salah satu  peserta.

Dengan adanya fasilitas Mobile Masjid ini diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi umat Muslim yang akan melaksanakan ibadah di tempat keramaian. Masyarakat umum pun bisa menggunakan fasilitas Mobile Masjid untuk berbagai acara.  (SaBah/)

Sumber:dakwatuna

Gunakan Ekstrak Buah Kepel, Doktor UI Temukan Penghilang Bau Mulut

Gunakan Ekstrak Buah Kepel, Doktor UI Temukan Penghilang Bau Mulut


Buah Kepel

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Doktor Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Dr Asni Amin, M.Farm, Apt, berhasil menguji tingkat keefektifan ekstrak buah kepel (Stelechocarpus burahol) sebagai penghilang bau mulut.

“Hasil penelitian terbukti ekstrak buah kepel memiliki manfaat antibakteri penyebab bau mulut dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri P. gingivalis dan F. nucleatum,” kata Asni dalam Disertasinya pada sidang promosi doktor di Ruang Sidang Besar Gedung Profesi dan Pascasarjana Fakultas Farmasi UI Depok, Kamis (25/1/18).

Ia mengatakan ekstrak buah kepel juga dapat menyerap bau mulut dengan menurunkan nilai metil merkaptan dan dimetil sulfida penyebab bau mulut. Sebagai info tambahan, berdasarkan data bioaktivitas, buah kepel juga memiliki aktivitas antioksidan serta dapat memperbaiki kualitas sperma pada objek kelinci.

Buah kepel adalah salah satu jenis buah langka Indonesia dan sampai saat ini belum dibudidayakan. Namun, manfaat buah ini telah lama dikenal kalangan keraton Yogyakarta dan Surakarta sebagai deodoran, pengharum napas dan pengharum air seni.

Keingintahuan tentang mekanisme aksi senyawa dalam buah kepel yang bertanggungjawab dalam proses menghilangkan bau mulut inilah yang melatarbelakangi penelitian Dr Asni membuat disertasi dengan judul ‘Studi Aktivitas, Identifikasi dan Prediksi Mekanisme Senyawa dari Ekstrak Buah Kepel Sebagai Penghilang Bau Mulut?’

Bau mulut yang tidak sedap, meskipun dipandang sebagai masalah yang umum, ternyata tidak bisa diremehkan, karena permasalahan ini terjadi pada sekitar 30% populasi dunia (Hughes & McNab, 2008).


Dr Asni Amin, M.farm, Apt

Metode yang banyak dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan (1) mekanis dengan cara penyikatan lidah dan gigi, (2) kimiawi melalui obat kumur, pasta gigi, tablet hisap, ataupun mouthspray.

Selain dari metode-metode ini, sekarang berkembang penggunaan bahan aktif dari tanaman sebagai alternatif penghilang bau mulut seperti penggunaan daun sirih, teh, cengkeh dan kemangi. Salah satu bahan alternatif penghilang bau mulut yang belum banyak dibahas dalam dunia kesehatan Indonesia, adalah kandungan senyawa dalam buah kepel. (*)

Sumber: Antara,  Salam Online.

JEBRET! Soal Lift di Rumah Dinas Anies, Gerindra UNGKAP: Itu Rancangan era Djarot

JEBRET! Soal Lift di Rumah Dinas Anies, Gerindra UNGKAP: Itu Rancangan era Djarot


10Berita, Pengadaan lift untuk rumah dinas gubernur menjadi polemik. Mengenai hal ini, Wakil Ketua DPRD Fraksi Gerindra M Taufik mengatakan terkait polemik pengadaan elevator atau lift di rumah dinas gubernur DKI Jakarta dalam APBD 2018 itu di luar keinginan Anies Baswedan selaku Gubernur DKI.

Taufik mengatakan, APBD 2018 tersebut sudah dirancang jauh sebelum Anies dilantik. Menurut Taufik, pihak yang paling bertanggung jawab terkait hal ini adalah Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) DKI Jakarta.

"Ini APBD kan dari sejak sebelum Agustus, kan sebelum Agustus dimasukkan. Saya kira itu ya Citata. Kalau menurut saya batalin aja. Yang begitu kan banyak yang enggak tahu," kata Taufik Kamis, 25 Januari 2018.

Menurut Taufik, saat dalam pembahasan mengenai renovasi rumah dinas gubernur DKI, tidak dibahas satu persatu apa saja yang akan direnovasi atau ditambahkan. Sehingga saat Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI, hal tersebut luput dari pembahasan. "Di banggar itu kan dibahas besaran saja. Enggak sampai detail," ujarnya.

Untuk masalah pengadaan lift ini, Taufik meminta jangan menyalahkan Anies. Karena rancangan anggaran telah ada jauh sebelum Anies dilantik. "Ya enggak bisa begitu gubernur. Ya udah kamu salahin aja Citata. APBD itu dimasukkan sebelum Pak Anies dilantik, bulan Juni itu," ujarnya.

Bahkan menurut Taufik, rencana tersebut sudah dibuat saat zaman Djarot Saeful Hidayat menjadi Gubernur. "Itemnya kan puluhan ribu. Ini zamannya Djarot, salahin, (rencana lift) sebelum Anies dilantik," ujarnya.

Sumber: Viva

---------

Menanggapi pernyataan Taufik, netizen pun menjadi heboh. Pasalnya, setelah wacana pemasangan lift di rumah dinas gubernur viral di media sosial, haters Anies mulai memcaci maki dan mencari-cari kesalahannya.

Pernyataan Taufik bagaikan menampar telak wajah para haters yang berniat jahat.

Niat hati mau menghajar Anies, eh yang kena Djarot lagi, Djarot lagi.

Berikut komentar netizen.




Sumber : PORTAL ISLAM

100 Hari Anies-Sandi di mata Haters

100 Hari Anies-Sandi di mata Haters


10Berita,  Berbagai capaian mengesankan yang diraih Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswaden dan Sandiaga Uno selama 100 hari memimpin ibukota berhasil membuat kecewa kaum pesimis yang selama ini selalu menganggap janji-janji kampanye Anies-Sandi tidak mungkin direalisasikan.

Mereka harus menelan kenyataan pahit karena ternyata dalam 100 hari memimpin Jakarta, Anies-Sandi berhasil menjalankan program-program unggulannya.

“Bahkan program DP Rumah Nol Rupiah yang selalu dilecehkan oleh kaum pesimis ini, berhasil di-groundbreaking. Mereka semakin ‘frustasi’ saat 21 Pengembang besar mendukung program ini dan segera membangun hunian DP Nol Rupiah. Mungkin mereka belum terbiasa menyaksikan pemimpin yang begitu cepat merealisasikan janji-janjinya,” sindir Senator Jakarta Fahira Idris, di sela-sela kunjungan kerja DPD RI, di Manado, Kamis 25 Januari 2018.

Fahira yang juga Ketua Komite III DPD ini mengungkapkan, dari sekitar 29 capaian Anies-Sandi selama 100 hari kerja, perubahan paling besar yang terjadi dan mempunyai dampak luas adalah Anies-Sandi merubah paradigma pembangunan Kota Jakarta yang selama ini hanya menjadikan warga sebagai obyek, kini menjadi subyek atau bagian integral dan penting dari pembangunan kota.

“Hakekat pembangunan di mana warga sebagai subyek sudah dikembalikan di kota ini. Lihat saja program Community Action Plan atau program peningkatan kualitas kawasan permukiman kampung-kampung di Jakarta di mana warga diberi peran utama membangun kampung tempat mereka tinggal,” ujarnya.

Oleh pemimpin terdahulu, lanjut Fahira, warga kampung masih dianggap dan distigmakan sebagai masalah pembangunan sehingga kebijakan yang terkait kehidupan mereka semuanya top down. Tidak heran warga harus berjuang sendiri mempertahankan kehidupan dan kampungnya bahkan hingga melakukan perlawanan hukum kepada pemimpin daerah yang seharusnya menyokong mereka.

“Era top down itu sekarang sudah berakhir. Sekarang warga dijadikan bagian utama dan solusi pembangunan kota. Itu perubahan fundamental yang saat lihat saat turun ke warga,” tukas Fahira.

Seratus hari kerja Anies-Sandi bagi Fahira cukup mengesankan bukan hanya karena program-program unggulan berhasil direalisasikan tetapi keduanya mampu bekerja dengan cepat dan tepat walaupun dengan kondisi yang tidak sepenuhnya kondusif terutama di dua bulan pertama.

“Kenapa saya sebut 100 hari ini mengesankan. Karena sebenarnya Anies-Sandi baru bisa leluasa bekerja menunaikan program-program mereka di Januari 2018 saat APBD sudah mengakomodir visi misi mereka. Dua bulan pertama, APBD sama sekali tidak mengakomodir program-program Anies Sandi karena disusun oleh gubernur terdahulu. Namun mereka tetap bisa bekerja optimal,” pungkas Fahira.

Sumber :Portal Islam 

Kamis, 25 Januari 2018

Anies-Sandi, Najwa, dan Upaya Pembusukan

Anies-Sandi, Najwa, dan Upaya Pembusukan

Youtube

Gubernur DKI Anies Baswedan di acara Mata Najwa

Oleh: Ady Amar

 

10Berita, SEMALAM (24 Januari 2018) pemirsa televisi swasta nasional disuguhi “rapor” Anies-Sandi dalam 100 Hari kepemimpinannya di DKI Jaya. Apa saja yang telah dibuatnya dari 23 janji kampanye yang sudah dilaksanakannya?

Seratus hari memimpin pemerintahan di level apa pun itu bukanlah untuk mengukur kepemimpinan seseorang, berhasil atau tidak. Tapi seratus hari itu bolehlah jika untuk mengukur pemerintahan berjalan di jalur yang tepat atau tidak.

Media mainstream di republik ini melakukan penilaian seratus hari kepemimpinan Anies-Sandi sebagai pemimpin DKI Jaya dengan beragam tapi sealur. Bagaimana membuat opini bahwa Anies-Sandi gagal dalam menepati janji-janji kampanye.

Semalam kita disuguhi acara Mata Najwa, yang mewawancarai Anies dalam seratus hari kepemimpinannya. Anies berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan Najwa Shihab dengan jawaban sebaik mungkin. Ada hal yang tidak biasa yang dipertontonkan Najwa, memotong-motong saat memberikan jawaban atas pertanyaannya. Sehingga pemirsa dibuat tidak dapat menerima jawaban narasumber (narsum) secara utuh. Bahkan Najwa terkesan membuat opini sendiri yang berujung pada kesimpulan bahwa seratus hari memimpin DKI, Anies-Sandi kurang berhasil bahkan gagal.

Baca: Adu Tegas Anies, Jokowi dan Ahok


Karenanya, banyak pemirsa kecewa dan bertanya-tanya, ada apa dengan Najwa. Apakah sinyalemen bahwa yang bersangkutan belum move on dengan kemenangan Anies-Sandi benar adanya? Sehingga yang tampak adalah semacam “pengadilan” buat Anies-Sandi. Tapi semalam kita dipertontonkan kematangan Anies yang tampil dengan tenang, tidak terjebak dalam suasana yang dibangun oleh Najwa. Ketenangan Anies itu layaknya seorang Ayah yang menghadapi anaknya yang kebetulan cerewet.

Ada empat tema besar pertanyaan yang menjadi andalan Najwa pada Anies, PKL Tanah Abang, Reklamasi, DP 0 persen, dan Pengoperasian Ijin Becak di DKI. Anies mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan begitu baiknya, tapi lagi-lagi Najwa tidak bersikap selayaknya. Memotong pembicaraan narsum dengan semaunya. Kita disuguhi tontonan dimana pembawa acara sekaligus merangkap sebagai narsum. Menggelikan …

Wawancara jadi asyik jika pertanyaan lalu dijawab oleh narsum, dan jika dirasa jawaban kurang responsif maka pertanyaan oleh si penanya dipertajam dengan pertanyaan yang lebih menukik. Tapi sayang, semalam itu tidak kita jumpai. Gaya Najwa dengan mata yang melotot-lotot, seolah ingin menampakkan kecerdasannya. Tapi yang tampak justru sikap arogan yang sebenarnya bukan kapasitasnya.

Baca: Anies: Tidak Ada Kompromi untuk Prostitusi


Dan, maaf, suara Najwa yang parau, suara khas Najwa itu, semalam terdengar bagaikan kumpulan burung gereja yang berkicau tak menentu, sehingga nada yang keluar cuma suara berisik yang tidak nyaman di telinga. Bukan nada indah menyejukkan hati, tapi nada tak beraturan yang membuat hati malah menjadi suntuk.

Pemirsa tidak tahu, apakah gaya yang dipakai Najwa memotong-motong pembicaraan itu bagian dari framing media. Tapi yang jelas framing media saat ini berkembang bermetamorfosa tidak hanya pada hal-hal membesar dan mengecilkan sebuah berita, tapi lebih jauh dari itu, yaitu membuat opini, dan itu bisa dengan segala cara dimainkan.

Dominasi media memelintir fakta atau bahkan membuat opini, akan terus kita jumpai jika seorang pemimpin berada di area zona tidak nyaman. Anies-Sandi adalah pemimpin yang memilih berada di zona tidak nyaman itu. Tidak nyaman bagi konglomerasi yang memaksakan kehendak agar bisnis mereka tidak terganjal pada aturan-aturan baku. Merekalah konglomerasi yang menguasai jaringan bisnis dari hulu hingga hilir, termasuk penguasaan atas media.

Maka media yang ada, yang memang milik jaringan konglomerasi, itu bekerja untuk “membabat” siapa saja yang coba menghalangi “jalan” mereka. Reklamasi yang “diganjal” Anies-Sandi, karena dianggap menyalahi berbagai aturan teknis prosedural, membuat mereka meradang, melakukan upaya sistemik untuk menggoyang Anies-Sandi terus-menerus.

Karenanya, media hari-hari ini menampilkan pemberitaan minor terhadap kerja-kerja Anies-Sandi. Mengkritisi sampai pada hal-hal yang absurd. DP 0 persen, belum-belum sudah distigma tidak akan berhasil. Anies-Sandi “membalas” stigma itu dengan melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan proyek itu.

Uang yang sudah ditanam oleh konglomerasi pada proyek reklamasi itu, oleh Anies-Sandi dibatalkan. Adagium “semua bisa diatur” menghadapi pejabat-pejabat negeri yang doyan sogokan, mati kutu menghadapi Anies-Sandi. Adagium itu menjadi tumpul, tidak bisa bekerja dengan baik.  Maka, adagium “pembusukan” pada Anies-Sandi dilakukan. Dan media adalah cara efektif untuk membuat opini di tengah-tengah masyarakat dengan pemberitaan yang sebaliknya.

Pertarungan ini akan terus berlangsung, dan sejarah akan mencatat siapa yang unggul dalam pertarungan itu. Warga DKI Jaya khususnya, mestilah cermat melihat itu semua, jika tidak ingin semuanya berhenti dengan kekalahan absolut.*

Pemerhati Sosial dan Keagamaan

Sumber :Hidayatullah.com 

Anies Momok Yang Menakutkan

Anies Momok Yang Menakutkan



by Darwis*

10Berita, Sosok Anies memang mengejutkan lawan maupun kawan.

Saat Prabowo mencalonkan Anies menjadi cagub DKI, banyak pihak yang meragukan kemampuannya.

Tapi apa mau dikata Allah masih menyayangi warga Jakarta dengan terpilihnya Anies sebagai gubernur.

Pihak lawan "tidak terima" dengan kemenangan Anies, berbagai cara dilakukan untuk mengganggu kerja Anies-Sandi.

Nampaknya pihak lawan juga mulai khawatir terhadap Anies yang bisa menjadi RI 1 yang berarti menggagalkan jagoan mereka sekaligus menggagalkan mimpi para taipan mengeruk kekayaan nusantara.

Belum lama dilantik masalah TGUPP dicari-cari kesalahannya.

Celah-celah untuk mendelegitimasi Anies-Sandi dilakukan, terakhir adalah kebijakan menata Tanah Abang.

Pihak lawan berupaya keras menggagalkan rencana ini, tak tanggung-tanggung semua dikerahkan dalam upaya penggagalan penataan Tanah Abang ala Anies. Bahkan sudah digulirkan interpelasi.

Mereka sangat khawatir bila penataan berhasil maka mitos pembela wong cilik akan menjadi milik Anies dan ini menjadi modal besar untuk dukungannya menjadi RI-1.

Ditambah lagi dengan ketegasannya dengan menutup Alexis dan menghentikan reklamasi.

Semoga Indonesia diberi anugrah pemimpin pembela rakyat kecil dan takut kepada Allah.

__
*Sumber: fb, PI

"Menunggang" Becak, PDI P Nafsu Interpelasi Anies

"Menunggang" Becak, PDI P Nafsu Interpelasi Anies


10Berita, Fraksi PDI P mau interpelasi Anies-Sandi. Muaranya bisa berakhir pada impeachment. OMG, Anies-Sandi mau dimakzulkan.

Anies nyantai hadapi serangan ini. Desas-desus Anies-Sandi mau ditumbangkan di tengah jalan sudah tersiar sejak hari pertama mereka dilantik. Jadi, publik ngga kaget lagi dengan skenario ini.

Gembong Warsono menyatakan Anies langgar banyak aturan. Salah satunya soal becak. Anies melanggar Perda No. 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Utamanya Pasal 29 ayat (1) huruf a,b,c yang melarang operasi becak.

Itu kata Gembong Warsono. Tampaknya dia mau mengambil peran sebagai "Hakim Konstitusi".

Tapi alas, Gembong dan kroni-kroninya ngga baca Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi:

"Kendaraan bermotor/tidak bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (c) dapat dijadikan sebagai sarana angkutan umum setelah mendapat ijin dari gubernur atau pejabat yang ditunjuk."

Jadi tidak melanggar perda bila Gubernur atau Kadishub mengizinkan suatu kendaraan tidak bermotor sebagai sarana angkutan umum.

Tapi, seperti biasa, text aturan bisa dicocok-cocokan. Kepentingan politik lebih utama. Targetnya ya itu tadi, makzulkan Anies-Sandi. Salah ngga salah, Anies-Sandi harus salah. Mereka sudah ciptakan istilah "gabener". Padahal, yang "ga-beres" itu otak haters. Terlalu perih kalahnya. Sampe 2 digit.

Lagipula, rencana policy becak Anies bersifat limited. Menyertakan partisipasi publik. Syaratnya mesti ada persetujuan dari masyarakat di lingkungan tersebut. Becak difungsikan sebagai angkutan lingkungan. Bukan Angkot.

Bila harus ada pergub, maka Anies bisa merujuk pada Perundang-undangan yang lebih tinggi atau berdasarkan kewenangan seorang gubernur (Pasal 8 ayat (2) UU No. 12/2001).

Rujukan tertingginya UUD 45 Pasal 27 ayat (2) yang berbunyi:

"Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan".

Seandainya pemakzulan Anies-Sandi hanya didasari politik balas dendam, maka itu hanya akan memantik amarah para pendukung Anies-Sandi yang terdiri dari 58% warga Jakarta, partai pendukung, para ulama, relawan dan Anieser Die-Hard.

Saya kira mereka ngga akan berdiam diri bila Anies-Sandi dizolimi permainan politik.

THE END

Penulis: Zeng Wei Jian

Sumber : PORTAL ISLAM

Pakar Komunikasi: Merasa Berkuasa Penuh atas Negara RI, LBP Rendahkan Wibawa Presiden Jokowi

Pakar Komunikasi: Merasa Berkuasa Penuh atas Negara RI, LBP Rendahkan Wibawa Presiden Jokowi


10Berita, Pakar komunikasi dari UIN Syarif Hidayatullah, Edy Effendi, mengingatkan Presiden Joko Widodo soal sepak terjang “orang dekatnya”‏ yang justru merendahkan wibawa Jokowi sebagai Presiden RI.

“Pak @Jokowi tegurlah LBP. Orang ini amat arogan. Tak punya adab sebagai pejabat negara. @Puspen_TNI @DivHumasPolri,” tulis Edy di akun Twitter @eae18.

Menurut Edy, LBP merasa berkuasa penuh atas negara Indonesia. Di mana, kemauan LBP tidak boleh dibendung oleh siapapun bahkan oleh Jokowi.

“LBP ini merasa berkuasa penuh atas negara Indonesia. Apa yang dia mau, tak boleh dibendung oleh siapapun bahkan oleh Pak Jokowi. Sepak terjang dia merendahkan wibawa Pak @Jokowi sebagai Presiden Indonesia. @Puspen_TNI @DivHumasPolri,” tegas @eae18.

Siapa sosok berinisial “LBP” yang dimaksud wartawan senior ini? Apakah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan?

Sejumlah catatan soal Luhut Binsar Panjaitan telah direkam media massa. Yang paling baru, Luhut bersilang pendapat dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait kapal pencuri ikan di lautan Indonesia, utamanya penenggelaman kapal ilegal.

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan sempat menegaskan, langkah Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang melarang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menenggelamkan kapal pencuri ikan di lautan Indonesia, tidak perlu terjadi.

“Jadi seyogyanya kita kembalikan kepada kebijakan presiden. Karena apapun pemegang mandatori daripada kaitan elektoral yang kemarin adalah presiden,” kata wakil ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini ((10/01).

Sebelumnya, banyak pihak menyesalkan sikap Luhut yang “menantang” pihak-pihak anti reklamasi Teluk Jakarta.

Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO) Bastian P. Simanjun‎tak meminta Luhut untuk menghormati keputusan pengadilan dan taat hukum.

‎”Masa seorang Menko secara terang-terangan ingin mengintervensi Gubernur yang baru terpilih agar tetap meneruskan proyek reklamasi. Padahal proyek tersebut sudah diputuskan berhenti oleh PTUN,” tegas Bastian seperti dikutip rmol (08/05).

Sumber : http://dakwahmedia.co

Nasdem Usul Pasangan L68T yang Digerebek Tidak Bisa Dipidana

Nasdem Usul Pasangan L68T yang Digerebek Tidak Bisa Dipidana


10Berita, Fenomena Lesbian, G4y, Biseksual, dan Transgender (L68T) kini menjadi pembahasan di DPR. Kini, DPR tengah berupaya memperluas pemidanaan L68T dalam revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KHUP).

Anggota Komisi III dari Fraksi Nasdem Taufiqulhadi berharap pembahasan mengenai L68T dilakukan secara hati-hati. Sebab, sensitivitas masyarakat Indonesia tinggi jika membahas isu ini.

"Jadi begini, persoalan L68T ini harus hati-hati untuk menjaga sensitivitas banyak pihak. Masyarakat Indonesia secara umum, kemudian umat Islam dan umat agama lain," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/1)

Menurutnya, sementara ini ada pihak yang menghendaki agar masalah L68T masuk ke KUHP dan itu menjadi pidana umum. Kemudian ada pihak berseberangan yang menghendaki persoalan L68T itu sebaiknya tidak masuk ranah pidana umum, karena termasuk ranah pribadi.

Taufiq mengatakan, siapapun yang berbuat cabul terhadap anak-anak di bawah umur 18 tahun ke bawah, baik sejenis maupun lawan jenis, dikenakan pidana pasal pencabulan. Perluasannya, untuk usia di atas 18 tahun juga bisa dikenakan pidana dan juga untuk pasangan sesama jenis.

Imbasnya, apabila pasal pencabulan itu diperluas, maka masuk ke dalam delik aduan. Termasuk yang berkaitan dengan L68T, baik itu lesbian atau homoseksual.

"Nah, ini kita lagi bicarakan hal itu secara hati-hati di panitia kerja (Panja). Banyak fraksi yang mengatakan pertama adalah kalau pasal pencabulan itu diperluas itu masuk delik aduan, bukan umum. Nah, demikian juga berkaitan dengan L68T atau homoseksual delik aduan," ucapnya.

Untuk pemidanaan L68T itu, Nasdem menilai hanya bisa dijerat jika perbuatan itu dilakukan di muka umum dan disebarluaskan atau diviralkan ke masyarakat, dengan hukuman maksimal 9 tahun. Kemudian, apabila pasangan L68T berbuat tidak di depan umum, menurutnya tidak bisa dijerat pidana.

"Dan kalau (homoseksual) dilakukan tidak di depan umum atau di kamarnya, artinya secara tidak terang-terangan. Ya maka itu tidak bisa dipidana walaupun dia ini adalah disergap di kamarnya misalnya, diketahui di dalam kamarnya. Itu tidak bisa dipidana," tuturnya.

"Tetapi kan belum final," tambahnya.

Dengan demikian, sebelum memutuskan aturan tersebut, sebaiknya semua pihak berkepentingan di DPR mengkaji dan mempertimbangkan hal itu secara seksama.

"Jadi itu berkaitan dengan hal yang harus hati-hati mengenai hal ini, jangan menyakitkan bangsa Indonesia dan umat beragama, dan kita juga selalu memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di konteks HAM, itu kita pertimbangkan semuanya," pungkasnya.

Sumber : musber.net

 

Mata Najwa Ditantang Undang Jokowi-JK Evaluasi 3 Tahun Pemerintahan, Berani Garang atau Mlempem?

Mata Najwa Ditantang Undang Jokowi-JK Evaluasi 3 Tahun Pemerintahan, Berani Garang atau Mlempem?


10Berita, Berharap Najwa Shihab seperti Karni Ilyas? itu sama saja berharap Zaskia Gotic nyanyi "tenor".... :D bisa 'sih bisa, tapi akan sulit sepadan dengan Luciano Pavarotti.

Gaya Talkshow dia yang lebih mirip Penyidik daripada Jurnalis JUSTRU semakin mengangkat pamor Anies-Sandi sebagai Pemimpin yang Berilmu... Beradab.... dengan Kematangan Emosi yang Terkelola dan itu terwujudkan dalam runtut kata bijak yang terkendali.

Penyidik = Fokus Menggali dan Mengkonfirmasi Bukti.
Jurnalis = Memberikan Kesempatan Nara Sumber untuk Mengeksplore Pendapat secara merdeka (tidak mencecar secara bertubi-tubi)

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana jika yang duduk di depan Nana semalem adalah si Bapak satu itu, yang diwawancara oleh Host kalem sekelas Aiman Witjaksono, saja.... sudah meledak-ledak hingga mengeluarkan kata-kata kasar tai* tai* dan lain sebagainya. Sementara,

SEMENTARA, tata cara Nana interview itu adalah lebih sadis daripada Emak-Emak yang lagi ngelabrak Pelakor.....

Semua bukti-bukti masa lalu dijembeng dan dipaparin secara bertubi-tubi... (ibarat, 'tuh Emak ngelabrak sambil jambak-jambak rambut pelakor)

TAPI APA RESPON? Anies dan Sandi tetep cool dan elegan dalam menjawab..

Soal Anies sempat ada intonasi tinggi dan terkesan muter-muter... Pribadi sekalem dan setenang Pak Harto saja masih bisa terprovokasi oleh pertanyaan pancingan dari wartawan (ingat yang wawancara di Pesawat saat Pak Harto kunjungan ke Mesir). JADI saya melihat Anies masih dalam kewajaran untuk ukuran model interview Nana "YANG TIDAK WAJAR" !

DAN PUNCAK PEMBUKTIAN KEHEBATAN DARI ANIES+SANDI adalah KETIKA Nana memutar video Pak LBP yang provokatif tentang reklamasi.

Alih-alih terpancing untuk ikut emosional, Anies-Sandi malah kalem menjawab bahwa yang dijadikan acuan itu adalah hukum yang ada, yang intinya Anies-Sandi selalu mempunyai dasar pijakan hukum di setiap tindakannya. Ini Pernyataan Cetar Membahana !!!

BTW, maaf ya... untuk teman-teman semua, pada status kali ini saya tidak membedah topik diskusinya, karena menurut saya MEMANG ABSURD!

Yang terjadi semalem bukanlah kelas talkshow ala ILC (Karni Ilyas) yang menyajikan fakta dan atau opini secara berdampingan (dari kedua belah kubu) dan lantas membiarkan pemirsa untuk menilai sendiri secara independen.

TAPI semalem, Nana sudah bertindak dan memposisikan diri sebagai Juru Bicara dari pihak oposisi Anies-Sandi, YANG SIBUK MENGKONFIRMASI DAN SEKALIGUS SAMBIL NUMPANGI DENGAN OPINI PRIBADI !

Untung saja Duo Lulusan Amerika itu bukan anak kemarin sore yang tergagap-gagap jika menghadapi cecaran wartawan dan lantas lepas kendali. GOOD JOB, ANIES-SANDI !

KARENA Nana Mata Najwa Trans7 TELAH TERBUKTI SUKSES DAN HEBAT DALAM TALKSHOW DENGAN ANIES-SANDI, MAKA.....

Kita tantang Mata Najwa undang JKW-JK untuk "Evaluasi 3 Tahun Pemerintahan! Menagih Janji Kampanye Jokowi 2014" (Tentu lebih banyak bahan untuk menghajar, dibanding yang baru 100 hari).


SETUJU ?????!

Kita lihat, apakah Nana masih mampu untuk segalak Emak-Emak melabrak Pelakor, atau melempem kayak Emak-Emak Galau lihat cucian dan setrikaan numpuk seabrek-abrek 'he.he..he...

(Tara Palasara)

kalo @NajwaShihab berani cecar jokowi-jk seperti tadi malem dia dgn "hebatnya" dia mencecar dan menyela pembicaraan @aniesbaswedan dan @sandiuno , saya berani sumpah seumur hidup gak akan pegang Hp lagi...

— Mas Fer (@wonk_peank) 25 Januari 2018


Sumber :Portal Islam