OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 16 Februari 2018

Hina Buya Syafii Pemilik Akun Facebook Asyhadu Amrin Dibekuk, Kok Yang Hina Habib Rizieq Tidak Dicyduk?

Hina Buya Syafii Pemilik Akun Facebook Asyhadu Amrin Dibekuk, Kok Yang Hina Habib Rizieq Tidak Dicyduk?

[15-2-2018]
Hina Buya Syafii Pemilik Akun Facebook Asyhadu Amrin Dibekuk

10Berita, VIVA – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membekuk seorang pemilik akun facebook Asyhadu Amrin atas dugaan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik melalui media sosial. Penangkapan ini dilakukan Satgas Patroli Medsos Dittipidsiber pada Rabu 14 Februari 2018, pukul 02.30 WIB.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Pol Fadil Imran, mengatakan pelaku berinisial AA (34). Dia ditangkap karena melakukan penghinaan terhadap Presiden, Polri bahkan tokoh agama Buya Syafii Ma’arif.

"Banyaknya komplain dari netizen yang mana dapat mengakibatkan permusuhan, serta memposting gambar memegang senjata laras panjang yang diposting melalui akun FB milik pelaku," kata Fadil dalam keterangan tertulisnya, Kamis 15 Februari 2018.

Fadil menjelaskan, motif pelaku menyebarkan konten hate speech dengan alasan spontanitas atas ungkapan rasa kecewa terhadap tokoh ulama Buya Syafii dan Polri.

"Menyebarkan konten hate speech dengan alasan spontanitas atas ungkapan rasa kecewa," katanya.

Dalam penangkapan ini, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit handphone Xiaomi Redmi3S, SIM card Telkomsel, akun Facebook AA dan satu unit senjata laras panjang air softgun.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 45 ayat (3) Jo pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik dan atau pasal 310 KUHP dan atau pasal 311 KUHP dan atau Pasal 207 KUHP.

"Pesan kepada masyarakat dan netizen diharapkan lebih bijak dalam menggunakan media sosial," ujarnya.

Sumber: https://www.viva.co.id/berita/metro/1007544-hina-buya-syafii-pemilik-akun-facebook-asyhadu-amrin-dibekuk

***

Kenapa yang hina Habib Rizieq tidak dicyduk? Padahal di medsos banyak sekali penghinaan yang luar biasa terhadap Habib Rizieq, baik dengan tulisan maupun gambar-gambar yang tak pantas.

Bahkan saat FPI membawa pelaku yang menghina Habib Rizieq ke pihak kepolisian malah dipulangkan, disebutnya tidak bisa diproses karena delik aduan.

Polisi Pulangkan Warga yang Diduga Hina Habib Rizieq

VIVA – Polisi telah memulangkan seorang pria warga Kemayoran, Jakarta Pusat, berinisial AS yang diduga menghina pimpinan Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab.

AS tidak bisa dipidana mengingat hal yang dituduhkan kepadanya adalah delik aduan sehingga korban harus melaporkannya terlebih dahulu ke polisi. Sementara dalam kasus ini, Habib Rizieq yang dianggap menjadi korban tidak melaporkan AS ke polisi.

"Iya sudah pulang. Jadi intinya bahwa dia menulis, dia diinterogasi di RT dan RW, karena banyak orang datang dibawa ke polisi buat diamankan. Biar aman. Di polsek karena semakin banyak orang datang kemudian dibawa ke polres," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Markas Polda Metro Jaya, Selasa, 5 Desember 2017.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrea Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Polisi Tahan Marpaung, setelah menghubungi keluarganya, AS pun dipulangkan kembali karena tak bisa dipidana. "Kemarin kami pulangkan. Dia warga Kemayoran sudah pulang ke rumahnya," ujar Tahan.

Sebelumnya, pria berinisial AS itu sempat diburu anggota Lembaga Bantuan Hukum Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar) dan FPI di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu, 3 Desember 2017 malam. Dia diduga menghina Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab melalui akun media sosial Facebook bernama 'Ukky Thiam'.

Sumber: https://www.viva.co.id/berita/metro/984596-polisi-pulangkan-warga-yang-diduga-hina-habib-rizieq

***

- Kasus A bisa langsung dibekuk, tanpa aduan dari korban penghinaan.
- Kasus B sudah dibawa tapi malah dilepaskan, alasan delik aduan, korban penghinaan harus lapor dulu baru bisa diproses.

INI MENJADI TANDA TANYA. Eta terangkanlah...

Sumber : Republika.co.id

Agar Korupsi tidak Mengakar

Agar Korupsi tidak Mengakar

peran serta tokoh masyarakat dan agamawan untuk mendorong kesadaran.

10Berita , JAKARTA — Syekh Ihsab Ali Abd al-Husain dalam bukunya yang berjudul an-Nahj al-Islami fi Mukafahat ar-Risywah memberi solusi terkait mengakarnya korupsi di dunia Islam.

Langkah pertama, yakni peran serta tokoh masyarakat dan agamawan untuk mendorong kesadaran segenap lapisan supaya menjauhi praktik korupsi. Bila kesadaran individu muncul, akan memicu kontrol kolektif di lingkaran birokrasi. Mereka yang sadar akan memahami betul bahwa tiap tingkah laku dan gerak-geriknya selalu mendapat pengawasan dari-Nya.

Kedua, peningkatan kesejahtaraan pegawai. Tingginya kebu tuhan pegawai kerap tak seban ding dengan besaran gaji yang diterima. Berawal dari ke terdesakan, lalu perlahan terbiasa dan menganggap remeh. Da lam hal ini, bila terkait pega wai negeri sipil (PNS) ma ka negaralah yang berkewajiban mencukupi dan meningkatkan kesejahteraan tersebut.

Bila karyawan swasta, kewa jib an ditanggung oleh perusahaan tempatnya bernaung. Arahan serupa pernah di sam paikan Ali bin Abi Thalib kepada Malik al-Asytar yang dipercaya memimpin Mesir. Ali menginstruksikan agar Malik mencukupi gaji para pegawai. Ini untuk memperkuat mentalitas mereka sekaligus mencegah abdi negara tersebut mengambil di luar hak mereka. Pencukupan ga ji ini pula sebagai kontrak profesionalisme bila mereka abai terhadap amanat.

Lalu, pilihlah pegawai yang berkompeten dan berdedikasi tinggi serta berintegritas. Pegawai yang tak berkompeten cenderung menyalahgunakan jabatan. Ini tak bisa dibenarkan. Islam mengajarkan agar memprioritaskan pegawai yang unggul. “Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (kepada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS al-Qashash [28]:26).

Selanjutnya, perketat pengawasan. Kontrol berkala dan me nye luruh terhadap kinerja pegawai dan adiministrasi penting dilaksanakan dengan ketat. Ini untuk mempersempit ruang gerak koruptor. Pengawasan yang sama dicontohkan Rasulullah SAW. Rasul tak pernah melewatkan untuk mengawasi para pemegang kebijakan.

Pentingnya pengawasan ini juga mengilhami Ali bin Abi Tha lib. Masih dalam surat yang ditulis untuk Malik, menantu Rasulullah dan suami Fatimah tersebut memerintahkan agar Malik mengawasi para pegawai. Bila diperlukan, tunjuk sejum lah perwakilan dari orang jujur dan tepercaya untuk mengemban tugas pengawasan. Tak lu pa, beri sanksi yang tegas dan disesuaikan dengan tingkat kejahatan dan besaran kerugian yang diakibatkan. Dan, tentunya hindari birokrasi yang rumit. 

Sumber :Republika.co.id 

Sandiaga Sambut Usulan Pariwisata Halal Jakarta

Sandiaga Sambut Usulan Pariwisata Halal Jakarta

Rencana besar untuk menjadikan Jakarta sebagai kawasan wisata halal terpadu kelas dun

10Berita , JAKARTA -- Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Taufan Rahmadi, memaparkan usulan dan konsep tentang Pariwisata Halal untuk rencana pengembangan Pariwisata Halal di Jakarta. Pemaparan Taufan dilakukan langsung di Balai Kota DKI Jakarta, di hadapan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.

Usulan dalam pemaparan itu diantaranya adalah rencana Jakarta 2021 "Integrated World Class Halal Tourism Destination". Yaitu sebuah rencana besar untuk menjadikan Jakarta sebagai kawasan wisata halal terpadu kelas dunia.

"Sebagai pengembangan pasar pariwisata dan positioning Jakarta sebagai ikon baru pariwisata halal dunia," terang Taufan Rahmadi, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/2).

Taufan Rahmadi mengklaim usulannya disambut baik oleh Sandiaga Uno, dengan setuju untuk mempercepat setidaknya tiga prioritas pengembangan Pariwisata untuk Jakarta. Ketiganya adalah pengembangan Kepulauan Seribu sebagai solusi pariwisata bahari, mewujudkan Halal Shopping Mall dan Culinary, serta menjadikan 1000 Halal Certified Guide sebagai standar baru pariwisata Jakarta.

Menurut Taufan, Sandiaga menyampaikan bahwa mewujudkan Pariwisata Halal Jakarta 2021 itu sangat realistis. Apalagi di Jakarta memiliki momentum untuk mewujudkannya karena bakal mempunyai sejumlah festival budaya. Bahkan kata dia, Sandiaga juga mengatakan jika perlu, Pariwisata Halal Jakarta diwujudkan lebih cepat sebelum 2021.

Selanjutnya, Taufan berharap sambutan baik dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas usulannya untuk wujudkan Jakarta 2021 "Integrated World Class Halal Tourism Destination ini menjadi langkah besar untuk majukan pariwisata Indonesia. "Karena saya percaya, Pariwisata adalah Indonesia," tutup Taufan.

Sumber :Republika.co.id 

Pesan Cendikiawan: Ruh Masjid harus semakin Aktif Beri Pengaruh ke Pasar Politik dan Ekonomi

Pesan Cendikiawan: Ruh Masjid harus semakin Aktif Beri Pengaruh ke Pasar Politik dan Ekonomi


10Berita, JAKARTA - Ada pesan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam soal kondisi saat ini, di mana dalam memilih pemimpin masyarakat muslim nampak tidak lagi memperhatikan jejak rekam sang calonnya. Nabi dalam pesannya ini seperti ingin mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat diatasi jika umat Islam jika saja masjid dijadikan tempat terbaik sebagai salah satu proses untuk membangun ruh perubahan peradaban.

“Ruh masjid itu harus makin aktif memberi pengaruh kepada pasar politik maupun kepada pasar ekonomi. Hadits nabi mengatakan: ‘Sebaik-baik tempat adalah masjid. Seburuk-buruk tempat adalah pasar.’ Sekarang pasar itu apa? Bukan hanya ekonomi tapi juga politik,” ucap Jimly Asshiddiqie, Rabu (14/02/2018), di Jakarta.


Menurutnya, semua yang terkait dengan “pasar” tersebut kini sudah nampak dijadikan komuditi tersendiri untuk meraih jabatan tertentu. “Semua jabatan sudah dijadikan komuditas di Pilkada. Mulai dari Presiden hingga Kepala Desa.

Apa pernah saudara mengikuti kampanye pemilihan Kepala Desa serentak? Saya beberapa kali. Sama saja seperti Pilkada. Maka tiba-tiba semua jabatan diperebutkan. Terjadilah itu pasar jabatan,” ia menambahkan.

Jimly memberikan resep untuk, misalnya sebagai salah satu jalan agar kejar jabatan tidak ingkar terhadap moralitas dari diri. “Tugas kita sekarang bagaimana masjid, bagaimana keulamaan, kecendikiwanan sebagai ideas, bukan sebagai orang tapi sebagai nilai itu memberi bimbingan moral  intelektual bagi perkembangan pasar politik dan pasar ekonomi.

Itulah sebabnya konsolidasi masjid-masjid kita, para ulama kita, mari kita bersatu tampillah bagi rahmat semua. Jangan mudah bertengkar gara-gara medsos (media sosial). Jangan hanya bersikap gara-gara berita medsos yang tidak jelas,” tutupnya mengingatkan. (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

Walau Banyak Iblis Bertengger di Medsos, Tokoh Ini Urungkan Marah & Lebih Pilih Menikmatinya

Walau Banyak Iblis Bertengger di Medsos, Tokoh Ini Urungkan Marah & Lebih Pilih Menikmatinya


10Berita, JAKARTA - Kita dihimbau mesti hari-hati di zaman sekarang yang serba distruktif. Jika tidak maka kacau semuanya. “Saya kalau mau mengikuti rasa marah, yang menghina nabi Muhammad sampai ke saya itu banyak sekali. Menghina Islam itu banyak sekali. Tapi kalau kita harus marah, langsung bereaksi tapi kita juga tidak tahu di sana itu sama menerima informasi itu,” pesan Jimly Asshiddiqie, Rabu (14/02/2018), di Jakarta.  Hal tersebut ia sampaikan di kala kita harus membenci hanya gara-gara medsos, maka menurutnya itu adalah sikap salah.

“Sama, kita tidak boleh juga mencintai orang gara-gara medsos. Sebab medsos ini tidak jelas. Semua orang bisa menyembunyikan identitas yang seenaknya dengan kalimat pendek. Kita tidak tahu apakah yang menulis ini malaikat, atau setan. Bisa saja itu malaikat, menguji kita,” selorohnya.


Ia menghimbau juga akan alangkah baiknya jika menikmati hidup ini dengan melihat di medsos itu banyak malaikat, di samping banyak pula setannya. Banyak iblisnya.

“Jadi kita lebih mengawal kerukunan kebangsaan kita. Yang penting memberi nilai-nilai substansial, ide tentang keadilan, ide kejujuran dalam sistem pasar politik dan pasar ekonomi yang tidak terkendali saat ini. Maka itulah butuh kepemimpinan masjid,” tutupnya harap. (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

Teladan Dalam Tawadhu Dan Memuliakan Ulama

Teladan Dalam Tawadhu Dan Memuliakan Ulama

10Berita, © Imam Asy-Sya’bi berkata, “Suatu saat Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu (sahabat senior, ulama dan penghafal Al-Quran) melakukan shalat jenazah. Setelah selesai, dibawakan kepadanya keledai untuk dia kendarai. Maka datanglah Ibnu Abas untuk memegang tempat pijakan kakinya. Zaid berkata, “Biarkanlah wahai anak paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Ibnu Abbas berkata, هكذا نفعل بالعلماء “Demikianlah (yang seharusnya) kami lakukan terhadap ulama.” Maka Zaid bin Tsabit segera mencium tangan Ibnu Abas seraya berkata, هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا “Demikianlah kami diperintahkan untuk bersikap terhadap ahlul bait (keluarga) Nabi kami.” (Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir, 19/326) ® Muhamad bin Abi Bisyr mendatangi Imam Ahmad untuk bertanya suatu masalah. Maka beliau berkata, “Datanglah kepada Abu Ubaid, yaitu Al-Qasim bin Sallam, karena dia memiliki penjelasan yang tidak dapat kamu dengarkan dari selain dia." Maka dia mendatanginya dan ternyata mendapatkan jawaban yang jelas dari beliau. Lalu dia memberitahu bahwa Imam Ahmad yang menyuruhnya bertanya kepadanya seraya memujinya. Maka dia (Abu Ubaid) berkata, “Beliau merupakan pembela Allah. Allah perlihatkan kebaikannya di tengah masyarakat, walapun dia menyembunyikannya, lalu Allah jadikan simpanan untuknya meraih kemuliaan. Tidakkah engkau lihat beliau menjadi orang yang dicintai masyarkat? Kedua mata saya belum pernah melihat seseorang di Irak yang berkumpul sifat-sifat yang ada padanya; Santun, berilmu dan paham.” (Siyar A’lam Nubala, 11/201) © Saat putera Imam Ahmad wafat, Ibrahim Al-Harbi, seorang ulama besar mendatangi bertakziah dan menemui Abdullah bin Ahmad bin Hambal, putera Imam Ahmad ini juga merupakan ulama besar. Saat melihat kedatangan Ibrahim Al-Harbi, Abdullah bin Ahmad segera berdiri menyambutnya. Maka berkatalah Ibrahim Al-Harbi, “Kamu berdiri untukku?” Abdullah bin Ahmad berkata, والله لو رآك أبي لقام إليك “Demi Allah, seandainya bapakku melihatmu, diapun akan bediri untuk menyambutmu.” Lalu Ibrahim Al-Harbi berkata, والله لو رأى ابن عيينة أباك لقام إليه “Wallahi, seandainya Ibnu Uyaynah melihat bapakmu, niscaya diapun akan berdiri untuk menyambutnya.” ▪Ibnu Uyaynah adalah ulama besar yang hidup sebelum masa Imam Ahmad. (Manaqib Imam Ahmad, hal. 202) ® Imam Bukhari berkisah, "Saat aku ke negeri Bashrah (irak), lalu dia menghadiri majelis seorang ulama di sana yang bernama Bundaar. Saat melihatnya, ulama tersebut bertanya (dia belum mengenali wajah Imam Bukhari), “Saudara dari mana?” Beliau menjawab, “Dari Bukhara.” (Bukhara adalah negeri tempat Imam Bukhari tinggal yang dari situlah namanya lebih dikenal). Maka sang ulama tadi berkata, “Mengapa engkau tidak datangi majelis Abu Abdillah (kunyah Imam Bukhari).” Imam Bukhari diam saja. Lalu orang-orang di situ yang mengenali Imam Bukhari berkata, “Beliaulah Abu Abdillah.” Maka sang ulama tadi berkata, “Selamat datang wahai orang yang selama ini bertahun-tahun aku kagumi.” Sambil beliau mengambil tangannya lalu memeluknya. (Tarikh Baghdad, 2/17) Wallahu A'lam

Sumber : Majelis Iman Islam

'Penganiayaan Tokoh Agama Perlu Dapat Perhatian Serius'

'Penganiayaan Tokoh Agama Perlu Dapat Perhatian Serius'

Masyarakat diminta tak berasumsi

10Berita , JAKARTA - Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Pesantren Indonesia menilai fenomena penganiayaan yang dilakukan oleh orang gila terhadap tokoh-tokoh agama perlu mendapat perhatian serius. Sehingga masalah tersebut tidak menimbulkan kecurigaan publik.

Wakil Ketua Umum DPP Ikatan Pesantren Indonesia KH Ahmad Imron menghimbau masyarakat agar tidak berasumsi dan kasus tersebut perlu ditangani secara komprehensif.

"Kita serahkan ke penegak hukum untuk menyelidiki semua kejadian ini dan saya harap agar masyarakat tidak mudah terpancing. Lakukan koordinasi dengan pihak terkait jika ada gelagat tidak baik," tuturnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika di Jakarta, Kamis (15/2).

Ia berharap agar semua pihak tidak saling tuduh menuduh terkait fenomena ini, berikan kedamaian dan kenyamanan dalam memberikan pemahaman terhadap masyarakat sehingga masyarakat aman dan tentram.

"Semua tokoh agama baik dari Islam, Kristin, Hindu dan Budha mari jaga kedamaian di antara kita, jangan saling kecam-mengecam kita satu bangsa, satu negara dan satu tujuan, mari kita sebarkan kedamaian sesama manusia Indonesia demi menuju ke arah yang lebih baik," katanya.

Sumber : Republika.co.id

Tak terciptanya Keadilan pada Pemuka Agama

Tak terciptanya Keadilan pada Pemuka Agama

Ketidakadilan sengaja diciptakan untuk membuat umat Islam sakit hati dan marah.

10Berita ,  JAKARTA -- Ustaz Fadlan Garamatan menyebut kekerasan terhadap pemuka agama bukan hal baru di Indonesia. Menurut dia, hal serupa pernah dilakukan oleh komunis di Indonesia.

Ia beranggapan, yang menjadi permasalahan kekerasan terhadap pemuka agama, yakni tak terciptanya keadilan. "Sekarang ini terulang lagi. Yang jadi persoalan, tak terciptanya keadilan," kata dia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia menilai tak adanya keadilan yang merata, sengaja diciptakan untuk membuat umat Islam sakit hati dan marah. Ia mencontohkan, saat ada ulama dibunuh, tak ada aparat penegak hukum yang dibayar negara, mengambil sikap menjaga warga negara yang berprofesi sebagai ulama.

Padahal, Uztaz Fadlan mengingatkan, tugas negara adalah menciptakan ketertiban umum pada siapa saja tanpa memandang status sosial. Ia beranggapan kondisi tersebut sengaja diciptakan, justru untuk membuat umat ketakutan.

"Karena di politik ini, sehingga ini bagimana cara mengalihkan perhatian sehingga umat merasa ketakutan," tutur dia.

Ia mengingatkan sebagai orang Indonesia, maka semua orang harus menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pun pada aparat penegak hukum, mereka harus menunjukkan fungsinya agar warga merasa terlindungi di negaranya sendiri.

"Kalau tidak, umat akan mengambil sikap sendiri pada ketidakpercayaan akibat ketidakadilan itu," ujar dia.

Ustaz Fadlan menegaskan menciptakan keamanan dan keadilan bertujuan memberi semangat menjaga dan menata bangsa Indonesia dengan kekurangan yang sudah terjadi.

"Jangan terulang lagi. Ini yang perlu dijaga oleh kita. Apa yang sudah terjadi, mari jadi pelajaran," kata dia.

Sumber :Republika.co.id 

Bawaslu tak Perlu Buat Materi Dakwah dan Ceramah

Bawaslu tak Perlu Buat Materi Dakwah dan Ceramah

Bawaslu enggak pantas mengurusi khotbah dan ceramah

10Berita , JAKARTA -- Ustaz Fadlan Gamaratan menilai Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) tak perlu membuat materi dakwah dan ceramah bagi pemuka agama. "Nggak usahlah (membuat materi dakwah dan ceramah), mengawasi pemilu saja nggak benar, ini mau ngawasi kutbah," kata dia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ustaz Fadlan menegaskan Bawaslu memiliki tugas mengawasi pemilu dengan benar. Sehingga, menurut dia, Bawaslu tak memiliki kepentingan mengurusi materi dakwah dan ceramah.

Sebab, Ustaz Fadlan mengatakan Islam sudah mengatur kehidupan politik, ekonomi, dan peradaban di dalam Alquran. Ia menegaskan, Islam memiliki panduan cara hidup yang benar sesuai ajaran agama.

"Nggak perlu Bawaslu, nggak pantas mengurusi itu. Bawaslu tugasnya urusi kecurangan pemilu. (Khotbah dan ceramah) itu urusan MUI," tutur dia.

Dengan demikian, Ustaz Fadlan mengatakan, materi dakwah dan ceramah buatan Bawaslu tak penting untuk diikuti. Ia mengatakan, Islam tak bisa memisahkan agama dan politik. Sebab, politik bicara tentang Islam yang menjadi bagian dari keadaan umat.

Sumber : Republika.co.id

Jejak Sejarah Islam di Negeri Pizza

Jejak Sejarah Islam di Negeri Pizza

Kehadiran Muslim telah ada sejak 872 M saat penaklukan pertama di Mazara hingga 1300.

10Berita , JAKARTA — Sejarah Islam di Italia diawali pada abad kesembilan saat Sisilia ditaklukkan penguasa Islam. Kehadiran Muslim telah ada sejak 872 M saat penaklukan pertama di Mazara hingga 1300 M. Sejak saat itu hingga 1970-an, Islam bisa dibilang absen di Italia.

Pulau Pantelleria yang berada antara ujung barat Sisilia dan Afrika Utara ditaklukkan bangsa Arab pada 700 M. Sebelumnya, bangsa Arab telah menguasai wilayah Sisilia yang dikuasai Romawi pada 652 M, 667 M, dan 720 M.

Hakim dari Sisilia yang memberontak terhadap Kekaisaran Bizantium meminta bantuan Muslim. Hakim Aghlabid dari Ifriqiyah mengirim Arab, Berber, dan Andalusia untuk menaklukkan Sisilia pada 827 M, 830 M, dan 875 M. Pasukan tersebut dipimpin, antara lain, oleh Asad ibn al-Furat.

Palermo jatuh ke tangan Muslim pada 831 M, diikuti Messina pada 843 M, dan Syracuse pada 878 M. Pada 902 M, Aghlabid sendiri yang memimpin pasukan merebut Taormina. Reggio Calabria jatuh pada 918 M dan Rometta pada 964 M.

Di bawah kepemimpinan Muslim, sektor agrikultural maju pesat dan berorientasi ekspor. Seni dan kerajinan berkembang di kota-kota. Palermo sebagai ibu kota kaum Muslim saat itu memiliki 300 ribu penduduk. Jumlah tersebut melebihi jumlah seluruh penduduk di Jerman.

Penduduk setempat yang ditaklukkan Muslim sebagian besar beragama Katolik di Sisilia barat. Di bagian timur pulau itu ada juga sejumlah besar orang Yahudi. Mereka diberikan kebebasan menganut agama mereka dengan sejumlah pembatasan.

Mereka diharuskan membayar jizyah atau pajak pendapatan dan kharaj atau pajak tanah. Mereka tidak harus membayar zakat. Jizyah dibayarkan sebagai tanda tunduk pada kekuasaan Islam. Sebagai gantinya, penduduk dilindungi dari agresi asing dan internal.

Mereka bisa menghindari status ini. Caranya, dengan memeluk Islam. Sebagian besar warga Sisilia akhirnya banyak yang memeluk Islam. Hingga pertengahan abad ke-11, Muslim menjadi mayoritas di Sisilia.

Sumber : Republika.co.id