OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 19 Februari 2018

Jamil Azzaini: Politik dan Sepakbola

Jamil Azzaini: Politik dan Sepakbola

10Berita Kemarin, Minggu (18/2), video Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dihadang Paspampres dan tidak diajak mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat penyerahan Piala Presiden untuk Persija, viral di media sosial. Sedangkan menurut Maruarar Sirait yang merupakan Ketua Panitia (SC) Piala Presiden menegaskan bahwa hal tersebut dikarenakan memang tidak semua pejabat negara harus ikut saat penyerahan piala oleh Presiden Jokowi.

Padahal berdasarkan Pasal 13 UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, jelas Anies berhak maju ke podium karena Anies merupakan tuan rumah dan gubernur dari kesebelasan yang menang di Piala Presiden.

Tentu saja perlakuan yang didapatkan Anies saat dihadang membuat masyarakat marah dan kecewa. Salah satu bentuk kekecewaan masyarakat dituangkan dalam sebuah tulisan.

Berikut adalah salah satu tulisan yang mengungkapkan kekecewaan atas perlakukan yang didapatkan Anies dan sebagai bentuk support untuk Anies:

Politik dan Sepakbola

Saya adalah penggemar sepakbola, setiap ada final sepakbola saya berusaha menonton di televisi, begitu juga tadi malam (Sabtu malam). Meski “jagoan” saya Persib sudah tersisih dan tidak masuk final, tadi malam saya tetap menonton pertandingan final Piala Presiden antara Persija dan Bali United.

Stadion baru Gelora Bung Karno, gemuruh 72 ribu lebih penonton, kehadiran beberapa pejabat tinggi, menteri dan gubernur DKI Jakarta membuat aura pertandingan begitu bergairah.  Saat pembawa acara mempersilakan Panitia memberikan sambutan dan yang muncul adalah Maruarar Sirait (Ara) saya sudah membatin “wuih ketua panitianya Bang Ara, politisi PDIP, semoga kejuaraan ini murni olah raga tidak ada nuansa politis. Kalau murni olah raga pasti Bang Ara menyebut Gubernur DKI Jakarta, tetapi bila ada muatan politisnya pasti nama Gubernur DKI tidak disebut saat ia memberikan sambutan”

Dan ternyata, jeder…nama gubernur DKI Jakarta tidak disebutkan dalam sambutan Bang Ara. Saya berpikir positif “mungkin dia lupa, atau untuk menjaga netralitas karena kesebelasan sang Gubernur DKI sedang hendak bertanding di babak final”. Apalagi selama pertandingan, saat pemain Persija mencetak gol, Presiden Jokowi terlihat menyalami Gubernur DKI. Saya semakin yakin bahwa pikiran positif saya benar. Saya pun menikmati pertandingan final tadi malam.

Namun, saat Paspampres menghalangi Gubernur DKI untuk ikut turun podium memberikan selamat kepada sang juara, pikiran positif saya buyar. Mengapa? Ada beberapa alasan, Pertama, dalam UU 9 tahun 2010 setahu saya Gubernur wajib mendampingi Presiden di acara di wilayahnya. Bukankah Gelora Bung Karno itu di wilayah DKI Jakarta?

Kedua, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, memang bukan pemilik Persija tetapi para pendukung Macan Kemayoran sebagian besar adalah warga Jakarta, nama klub juga mencantumkan kata Jakarta. Bahkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno konon sudah menganggarkan 18 milyar untuk menyiapkan markas Persija. Boleh dong sebagai gubernur ia memberi selamat kepada klub yang identik dengan Jakarta ini.

Saat melihat video Paspampres menghadang Gubernur DKI, Anies Baswedan, pikiran saya berkecamuk antara sedih dan bangga. Sedih karena sepakbola sepertinya sudah dimasuki virus politik. Bangga karena sang gubernur tetap tenang, tidak emosi dan tetap menghormati keputusan sang Paspampres. Beliau pun tidak mengomentari negatif tentang kejadian itu.

Salut pak Anies Baswedan, apalagi prediksi Anda bahwa Persija menang dengan selisih tiga gol yang Anda sampaikan dua hari sebelumnya, ternyata terbukti akurat. Semoga derajat Anda terus meningkat, manfaat Anda semakin berlipat dan bisa terus menjadi teladan bagi banyak masyarakat. Teruslah menjadi pemimpin yang benar-benar memimpin.

Jamil Azzaini
Pendukung: Garuda, Persib, MU dan Barca

Sumber : Ngelmu.co

Postingan akun FB Presiden Jokowi malah dibanjiri ucapan simpatik untuk Anies dan Ganti Presiden 2019

Postingan akun FB Presiden Jokowi malah dibanjiri ucapan simpatik untuk Anies dan Ganti Presiden 2019


10Berita, Pagelaran Piala Presiden 2018 menjadi titik balik bagi Persija Jakarta yang berhasil menaklukan Bali United. Namun sayang, laga final dicoreng dengan sikap berbau politis.

Bagaimana tidak, Anies Baswedan yang notabene sebagai gubernur Jakarta dan “Bapaknya” Persija dilarang turun saat hendak ke podium. Padahal di Piala Presiden sebelum-sebelumnya gubernur ikut bersama Presiden saat penyerahan tropi kepada juara.

Namun seperti kata pepatah "Musibah membawa Berkah".

Anies yang diperlakukan tak terhormat malah menuai simpati luas publik.

Bahkan simpati kepada Anies ditumpahkan publik di kolom komentar status facebook Presiden Jokowi yang memposting gelaran Final Piala Presiden 2018. Padahal pada postingan tsb foto yang ditampilkan tidak ada foto Anies Baswedan, hanya foto Presiden Jokowi saat menyerahkan tropi kepada Persija dan didampingi Maruarar Sirait (politisi PDIP yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana).

Postingan di fb Presiden Jokowi benar-benar dibanjiri komentar warganet yang dipenuhi pujian untuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan seruan 2019 presiden baru.

Oencoe: "Selamat kepada Persija dan Pak Anies Baswedan...Kerendahan Hati akan mengalahkan kesombongan...."

Titin Minarni: "Allah akan memuliakan siapa yg dikehendakinya. Dan Allah akan menghinakan siapa yg dikehendakinya. Manusia boleh berencana tp Allah maha memutuskan. Selamat persija...selamat bang Anies-Sandi. Gubernur rasa presiden 😍😍"

Zacky Putra Furindo: "Selamat buat Persija dan Pak Anies baswedan.. Salam Satu periode buat pak jokowi."

Halilintar Odhe: "Semoga Bang Anies menjadi Presiden dan bisa mengangkat persepakbolaan Indonesia."

Tendy Winata: "Ganti gubernur persija juara apalagiu nanti kl ganti presiden PSSI JUARA 😂😂😂😂"

T Noval Harid: "Pak Anies calon presiden yg akan datang. Insha Allah Amin!!"

Haidar Al Jazirah: "Semoga Pak Wi cepet lengserrrrrr... Aamiinnn.."

Akhmad Firman: "Anies presiden 2019 😍"

Sigit Azzam: "Mari kita angkat Pak Anies jd Presiden Persija di 2018 ini.... Dan Presiden sesungguhnya di 2019 nanti 😁"

Upik Holita Manday: "Jakarta punya GUBERNUR BARU PERSIJA MENANG... Jadi INDONESIA harus punya PRESIDEN BARU 2018 biar TIMNAS juga jadi JUARA... 👍🏻👍🏻💪💪"

Hingga pagi ini, Senin (19/2/2018), ada setidaknya 34 ribu komentar warganet yang membanjiri postingan fb Presiden Jokowi.

Sumber: https://www.facebook.com/Jokowi/posts/840592939462890

Warganet Terharu... Foto Siluet Anies dari Kejauhan Memandangi Podium Perayaan Piala Presiden 2018

Warganet Terharu... Foto Siluet Anies dari Kejauhan Memandangi Podium Perayaan Piala Presiden 2018


10Berita, Persija Jakarta menjadi juara Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan Bali United di babak final yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu, 17 Februari 2018.

Namun Gubernur DKI Anies Baswedan tidak diizinkan naik ke podium saat penyerahan trofi juara ke Persija Jakarta. Padahal sesuai UU, semestinya Gubernur Anies mendampingi Presiden Joko Widodo menyerahkan Piala Presiden 2018.

Hak pejabat tuan rumah mendampingi Presiden diatur dalam Undang-undang Nomor 9 tahun 2010 soal Keprotokolan.

Maka Gubernur Anies hanya bisa duduk di tribun stadion, dari jauh cuma bisa memandangi perayaan penyerahan trofi juara Piala Presiden 2018.

Foto siluet Anies dari kejauhan memandangi Podium Perayaan Piala Presiden 2018 tak pelak bikin haru.

"Foto silhuette Anies yg hanya ditinggal dikursi dan tak diajak naik ke podium penghargaan. Foto yg jadi simbol perlawanan terhadap kedengkian," kata Mahmudah Ratna Suminaryang turut menshare foto itu di akun fbnya.

"Saya ngenes.... 😭," komen Inggit Kuntari.

"Gpp gak di kenal sama *pas-pampers* asal dikenal di langit...," timpal Prawoto S. Har.

"MasyaAllah semua pasti ada waktunya bwt pak anies, sombongnya mereka, ikut nyesek dada ini😥," kata Yulinda Noorita.

KEHORMATAN DAN JIWA BESAR
AKAN SELALU NAMPAK
WALAU NUN JAUH
BAHKAN DALAM KESUNYIAN PUN

We Love You Pak Anies

Sumber : PORTAL ISLAM

PM Polandia: Yahudi Juga Merupakan Pelaku Kejahatan dalam Perang Dunia II

PM Polandia: Yahudi Juga Merupakan Pelaku Kejahatan dalam Perang Dunia II


pm polandia Foto: google Images

10Berita, POLANDIA— Perdana Menteri Polandia, Mateusz Morawiecki menyebut bahwa, orang-orang Yahudi juga merupakan pelaku kejahatan dalam Perang Dunia II. Pernyataan tersebut ia utarakan saat melakukan wawancara dengan jurnalis asal Israel, Ronen Bergman.

Pertanyaan jurnalis Israel yakni, Morawiecki ditanya apakah undang-undang baru di Polandia akan menghukum mereka yang bercerita tentang kekejaman Nazi terhadap Yahudi dan Khususnya bila bercerita orang-orang Polandia yang bekerja sama dengan rezim Nazi dan memberikan informasi mengenai lokasi orang-orang Yahudi selama Perang Dunia II.

Morawiecki menuturkan, bahwa tidak akan ilegal jika ada orang yang menceritakan mengenai kejahatan yang dilakukan oleh orang Polandia, karena menurutnya hampir semua pihak memiliki sosok yang jahat, termasuk dari sisi Yahudi.

“Tidak akan ilegal untuk mengatakan cerita seperti ada pelaku kejahatan dari Polandia, karena ada pelaku kejahatan dari sisi Yahudi. Karena ada pelaku dari Rusia dan juga pelaku dari Ukraina, tidak hanya mereka yang berasal dari Jerman,” ujarnya, pada Ahad (18/02/2018) kemarin.

Hal ini diprediksi akan semakin meningkatkan ketegangan dengan Israel. Ketegangan antara Polandia dan Israel muncul dikarenakan undang-undang kontroversial, yang mengkriminalkan pernyataan yang menuduh Polandia terlibat dalam Holocaust dan propaganda ideologi nasionalis Ukraina. []

SUMBER: SPUTNIK

Yusril: PBB Dikerjai

Yusril: PBB Dikerjai

Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra

Itu mungkin sebabnya PBB tidak disenangi oleh kelompok sekular dan kiri anti-Islam.

10Berita , JAKARTA -- Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menduga ada konspirasi menggagalkan PBB ikut pemilu legislatif 2019. Ia mengatakan, akan menggugat bahkan memidanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pemerintah Tetapkan 5 Pasar Utama Wisatawan Mancanegara

Sponsored

Yusril mengungkapkan, pihaknya mengetahui KPU Papua telah mengumumkan kepada publik bahwa PBB di sana memenuhi syarat pada 11 Februari. Namun, pada 14 Februari, tanpa diketahui PBB Papua, KPU Papua mengubah status PBB menjadi tidak lolos dan hasil verifikasi itulah yang dilaporkan ke KPU Pusat. 

"Semuanya bukan saja akan kami gugat secara perdata, tapi juga akan kami lawan secara pidana,” kata Yusril dalam keterangannya, Ahad (18/2).

Ia merasa ada permainan guna menggagalkan PBB untuk mengikuti pemilu. Ia mengklaim, berbagai elemen ormas Islam, cendekiawan, dan ulama moderat memberikan dukungan kuat agar partai Islam modernis seperti PBB tetap eksis di negara ini. 

"PBB tetap kritis dan tidak mudah diombang-ambingkan kekuasaan. Itu mungkin sebabnya kehadiran PBB tidak disenangi oleh kelompok sekular dan kiri anti-Islam," ujar Yusril menambahkan.

Yusril mengatakan, PBB akan mempercepat pengajuan sengketa ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada Senin (19/2). Ia berharap Bawaslu bisa melakukan mediasi dengan adil. "Tapi, kalau terpaksa, apa boleh buat, saya akan lakukan (melawan di pengadilan)," kata dia.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, pihaknya siap menghadapi gugatan yang akan dilayangkan parpol terkait hasil verifikasi parpol calon peserta pemilu legistlatif 2019.

Arief melanjutkan, dua parpol, yakni PBB dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), tidak memenuhi syarat sebagai peserta pemilu 2019. "Penyebabnya, sebagian besar dikarenakan keanggotaan. Di beberapa tempat karena tidak ada pengurusnya atau pengurusnya tidak bisa bertemu dengan verifikator KPU," kata dia, Sabtu (17/2).

Bagi dua parpol ini, jika tidak puas dengan putusan KPU, Arief mempersilakan parpol menempuh jalur gugatan ke Bawaslu. "KPU siap mempertanggungjawabkan apa yang sudah kami kerjakan," kata Arief.

PBB mengklaim, hanya tak lolos di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Hal itu, kata pihak PBB, karena enam anggota parpol telat datang ke kantor KPU setempat guna membuktikan kesertaan sebagai anggota PBB.

Sekretaris Jenderal PKPI Imam Anshori juga menilai KPU mendapatkan masukan dari data yang tak akurat hingga partainya tak lolos verifikasi. Pihaknya akan segera mengajukan gugatan ke Bawaslu selepasnya.

Menurut dia, karena pelanggaran-pelanggaran itulah yang kemudian menyebabkan PKPI tak memenuhi syarat (TMS) di tiga provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Sedangkan anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar menuturkan, pihaknya tentu siap menyelesaikan persoalan sengketa kepemiluan yang akan diajukan PBB dan PKPI. “Kapanpun ada permohonan yang diajukan dari PBB ataupun PKPI, kami siap saja. Cuma ya kami tegaskan batas waktunya sampai Rabu (21/2), tiga hari kerja sejak (keputusan verifikasi KPU) dibacakan," kata dia, Ahad (18/2).

Fritz menjelaskan, setelah permohonan sengketan terdaftar, Bawaslu punya 12 hari kalender untuk menghasilkan keputusan. Artinya, keputusan akhir lolos-tidaknya PBB akan dikeluarkan paling lambat pada 5 Maret mendatang.

Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menekankan, seluruh aturan main kepemiluan yang ada harus diterapkan secara sama tanpa kecuali ke semua parpol. Tidak boleh ada perlakuan berbeda terhadap parpol-parpol tertentu dalam menerapkan ketentuan yang berlaku.

Titi mengatakan, nantinya Bawaslu akan menguji apakah KPU Papua Barat sudah bekerja sesuai prosedur atau tidak ketika memutuskan bahwa PBB tidak memenuhi syarat di Manokwari Selatan. "Pemilu demokratis itu harus diselenggarakan dengan prosedur yang memberikan kepastian hukum," ujarnya, kemarin. 

(ronggo astungkoro/umar mukhtar/dian erika nugraheny, Pengolah: fitriyan zamzami).

Sumber : Republika.co.id

Tanggapi Kejadian Dicegat Pasmapres, Anies: Yang Penting Persija Menang

Tanggapi Kejadian Dicegat Pasmapres, Anies: Yang Penting Persija Menang


Foto: Suara

10Berita, JAKARTA—Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan menanggapi pencegatan yang dilakukan Paspampres ketika berlangsung final Piala Presiden 2018 di Stadion Gelora Utama Bung Karno (SUGBK), Sabtu (17/2/2018).

“Kelihatannya bagaimana? Pokoknya yang penting Persija menang,” kata Anies usai menerima Persija di Balai Kota, Jakarta, Ahad (18/2/2018).

“Begini, dari tadi malam itu saya di mana nggak penting, yang penting Persija menang, saya merasa bangga. Pak Presiden itu berikan ucapan selamat setiap goal, karena begitu masuk, Pak pokoknya Jakarta menang ya Pak, bilang ke saya,” ujar Anies seperti dikutip Suara.com.

Peristiwa tersebut terekam oleh salah satu penonton, pemilik akun Facebook Ali Ghuraisah, yang kemudian mengunggahnya. Dalam video singkat itu tampak jelas Anies dicegat Paspampres ketika berada di belakang rombongan sejumlah Menteri.

Saat itu Presiden Jokowi turun ke panggung untuk memberikan hadiah kepada Persija Jakarta yang menang melawan Bali United 3-0. []

SUMBER: SUARA

Shalahuddin Al Ayyubi Pimpin Jihad Para Ulama

Shalahuddin Al Ayyubi Pimpin Jihad Para Ulama

10Berita, DALAM gerakan jihad yang berada di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi, para ulama dan tokoh-tokoh sufi memiliki andil besar dalam hal ini.

Ulama yang memiliki andil besar dalam jihad Shalahuddin Al Ayyubi salah satunya adalah Qadhi Al Fadhil, seorang faqih Asy Syafi’i yang juga memiliki andil besar dalam pemerintahannya. Dimana surat-surat diplomasi yang ditulis Qadhi Al Fadhil memiliki peran besar dalam perjalanan jihad. Tidaklah heran jika Shalahuddin Al Ayyubi sampai mengatakan,”Janganlah kalian mengira bahwa aku membebaskan negeri-negeri dengan pedang-pedang kalian, akan tetapi aku membebaskannya dengan pena Al Fadhil”. (Al A’lam li Az Zirakli, 3/346)

Adanya Qadhi Al Fadhil memperkuat posisi Shalahuddin dalam gerakan jihadnya. Tatkala pengepungan terhadap pasukan Salib di kota Akka memakan waktu yang amat lama Qadhi Al Fadhil mengirim nasihat kepada Shalahuddin, bahwasannya hal itu terjadi karena banyaknya maksiat, maka hendaklah umat Islam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dan tidak perlu terkecoh dengan besarnya kekuatan pasukan, karena kemenangan hanya dari Allah Ta’ala. (Al Bidayah wa An Nihayah, 12/413)

Qadhi Al Fadhil sendiri murid dari Al Hafidz As Silafi dan Al Hafidz Ibnu Asakir. (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/ 68)

Selain Qadhi Al Fadhil, ada Ibnu Syaddad, seorang faqih madzhab Asy Syafi’i yang menjadi qadhi militer, yang selalu bersama Shalahuddin, termasuk ketika berada di medan pertempuran. Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu Syaddad sendiri telah menulis kitab Al Jihad untuk Shalahuddin.

Pendapat dan fatwa-fatwa Ibnu Syaddad juga menguatkan Shalahuddin Al Ayyubi dalam jihad. Dimana suatu saat, Shalahuddin memiliki harapan, kalau ia selesai menghancurkan pasukan pasukan Salib di seluruh Syam maka ia akan berlayar di laut tengah untuk sampai ke Eropa dengan pasukannya membawa bendera Islam, hingga tidak ada orang yang kufur, atau ia yang mati. Kemudian ia meminta fatwa kepada Ibnu Syaddad mengenai sebaik-baik kematian. Ibnu Syaddad pun menjawab bahwa ia sebaik-baik kematian adalah mati di jalan Allah Ta’ala. Shalahuddin pun menjawab,”Aku bercita-cita demikian agar aku mati dalam keadaan paling mulia”. (An Nawadir Ash Shulthaniya wa Al Mahasin Al Yusufiyah, hal. 55-56)

Ibnu Syaddad juga menjadi penasehat yang menguatkan posisi Shalahuddin ketika berada di posisi sulit dalam jihad. Ketika pasukan Salib hendak menyerang Al Quds dengan jumlah besar sedangkan Shalahuddin melihat bahwa pasukannya tidak solid bahkan mereka meminta agar Shalahuhddin meninggalkan Al Quds demi keselamatannya. Saat itu Shalahuddin merasa risau. Akhirnya Ibnu Syaddad meminta Shalahuddin untuk bertaqarrub dan bermunajat di Al Aqsha dan ia pun mengajarkan doanya yang hendak dipanjatkan dan Shalahuddin pun melaksanakan nasihat itu. Setelah hal itu dilakukan, keesokan harinya terdengar kabar bahwa pasukan Salib membatalkan pengepungannya. (An Nawadir Ash Shulthaniya wa Al Mahasin Al Yusufiyah, hal. 38-41)

Ada pula para ulama dan orang-orang shalih yang diminta doa oleh Shalahuddin tatkala hendak berangkat bersama pasukannya. Diantara mereka adalah Hayat bin Qais bin Rahhal seorang sufi tinggal di zawiyahnya di Haran, dimana Shalahuddin mendatanginya ketika hendak menyerang Mosul. Sebelumnya, Nuruddin Zanki juga selalu meminta nasehat dan doa kepada ahli ibadah ini sebelum menyerang pasukan Salib. (Tarikh Al Islam li Adz Dzahabi, 41/104)

Selain Hayat bin Qais, ada Najmuddin Al Khubusyani, seorang faqih juga sufi yang amat berpengaruh terhadap diri Shalahuddin Al Ayyubi. Ketika Shalahuddin Al Ayyubi hendak berangkat bersama pasukannya ke Ramallah untuk menyerang pasukan Salib, Syeikh Al Khubusyani menegurnya, agar menghapus pajak terlebih dahulu, namun Shalahuddin tetap berangkat, lalu Syeikh Al Khubusyani berkata,”Engkau tidak akan meraih kemenangan!” Akhirnya Shalahuddin memperoleh kekalahan, dan ia kembali kepada Al Kubusyani, meminta ma’af dan mencium tangannya. (Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 7/16)

Diantara para fuqaha’, adapula yang menjadi pajabat militer Shalahuddin Al Ayyubi, ia adalah Dziya’uddin Isa Al Hakari, seorang faqih Asy Syafi’i yang pernah ditawan oleh pasukan Salib, hingga Shalahuddin Al Ayyubi menebusnya dengan 60 ribu dinar.

Al Hakari adalah seorang pribadi yang terkumpul padanya ilmu, keshalihan dan keberanian yang perkataannya didengar oleh Shalahuddin. Al Hakari juga dalam hadits berguru kepada Al Hafidz As Silafi dan Al Hafidz Ibnu Asakir. (Al Kamil fi At Tarikh, 10/82)

Para Ulama Satu “Perguruan” Bersama Shalahuddin

Begitu banyak para ulama yang berada di barisan Shalahuddin Al Ayyubi pada saat berjihad, diantaranya adalah, An Nashih Abdurrahman bin Najm, seorang ulama madzhab Hanbali yang menjadi rujukan setelah Ibnu Qudamah Al Maqdisi ini ikut serta dalam pembebasan Bait Al Maqdis. (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 2/55)

Adapula Abdul Muhsin Al Khafifi, seorang faqih sufi bermadzhab Asy Syafi’i yang ikut serta Shalahuddin Al Ayyubi dalam mengepung kota Akka, ia sendiri merupakan murid As Silafi dan Ibnu Asakir. (Tarikh Al Islam li Adz Dzahabi, 45/201)

Adapula Syeikh Abu Umar Al Maqdisi saudara dari Syeikh Al Muwaffaq Ibnu Qudamah Al Maqdisi, juga bersama dengan sepupunya Al Hafidz Abdul Ghani Al Maqdisi serta saudaranya, Syeikh Imad Al Maqdisi. 4 ulama bersaudara itu selalu ikut serta dalam barisan Shalahuddin Al Ayubi dalam berjihad melawan pasukan Salib.

Dan Al Hafidz Abdul Ghani Al Maqdisi sendiri juga merupakan murid dari Al Hafidz As Silafi dalam hadits. (Al Bidayah wa An Nihayah, 13/71)

Selain itu ada Ibnu Munajjih, seorang fuqaha’ madzhab Hanbali yang mana Shalahuddin menghadiri majelisnya dan nasihatnya selalu didengar. Ibnu Munajjih ikut serta dalam pembebasan Bait Al Maqdis bersama Shalahuddin Al Ayubi. (Al Uns wa Al Jalil fi Tarikh Al Quds wa Al Khalil, 2/256)

Sebagaimana ikut dalam pembebasan Bait Al Maqdis, Syeikh Ahmad Al Maqdisi, seorang tokoh sufi besar yang digelari “Abu Tsaur”, yakni ayah banteng, yang ikut berjihad dengan menunggangi banteng. (Al Uns wa Al Jalil fi Tarikh Al Quds wa Al Khalil, 2/256)

Dengan demikian, para ulama yang bergabung dalam barisan jihad bersama Shalahuddin Al Ayyubi, meski tidak semua, namun  banyak dari mereka yang memiliki hubungan dengan Shalahuddin dalam tradisi keilmuan, sebagai guru, atau sebagai murid yang satu guru dengan Shalahuddin Al Ayyubi.

Sumber : Hidayatullah.com

Saatnya Media Bongkar Pencitraan

Saatnya Media Bongkar Pencitraan



Oleh:Yons Achmad*

10Berita, Salah satu tugas media adalah membongkar pencitraan, bukan malah melulu menjadi agen pencitraan. Itulah yang seharusnya terjadi di negeri ini.  Terlebih media mainstream (arus utama).   Sayangnya, yang terjadi sebaliknya.   Beberapa media  arus utama malah sibuk  menjadi rezim pencitraan itu sendiri. Media , sadar atau tidak malah (maaf) “melacurkan”  diri  sekadar menjadi media partisan.  Tentu saja, publik tak ingin media memainkan peran seperti ini.

Apa akibatnya ketika media malah berperan sebagai partisan? Kita akan melihat potensi media sekadar menjadi sarana pembenaran penguasa, tidak hadir fungsi kontrol di dalamnya.

Kritik tak hadir, yang ada hanya puja pujian.  Pada titik ini, media terjebak untuk malah menjadi semacam humas pemerintah? Tentu saja pemandangan ini menjadi wajah buruk media kita.

Media, seperti kata Eriyanto (2007) dalam “Analisis Framing”,  terjebak melakukan framing untuk membentuk konstruksi yang manipulatif.

Pencitraan yang Membosankan

Di level kekuasaan,  saya melihat,  semakin mendekati tahun politik, pencitraan yang dihadirkan semakin membosankan. Hanya seputar “kulit”, tak ada “isi”.  Contoh nyatanya bagaimana media heboh memberitakan Jokowi yang menginap di hotel murah, saat berkunjung ke tempat tertentu memayungi dirinya sendiri saat gerimis datang, berkunjung ke daerah hanya minta suguhan tahu tempe.

Singkat kata, pencitraan yang ingin ditampilkan masih seputar sosoknya yang dinilainya sederhana dan merakyat.  Yang menjadi persoalan, sang tokoh sudah berkuasa Bung, bukan kampanye lagi. Pencitraan demikian, sungguh membosankan.  Sederhana dan merakyat itu penting. Tapi terus menerus dikesankan sederhana dan merakyat, sementara kebijakan politiknya  banyak yang bertolak belakang, tentu saja  sangat membosankan.

Pencitraan yang paling menonjol, yang mungkin boleh dikatakan “isi” misalnya soal infrastruktur. Tapi, tetap saja, hal ini tidak konsisten dengan janji dan jargon kampanye yang mengusung “Revolusi Mental”.

Jelas,  sesuai jargonnya, meminjam istilah Rocky Gerung (Dosen Filsafat UI), kita membutuhkan “Jalan Pikiran” daripada “Jalan Tol”. Pembangunan fisik  yang digembar-gemborkan bahkan  sangat kontraproduktif dengan janji kampanye yang menekankan pada pembangunan  mental atau Sumber Daya Manusia (SDM). Sayangnya, media seolah tutup mata dengan beragam pencitraan demikian.

Pukulan Balik

Para perancang pencitraan presiden mungkin bekerja siang malam . Mencitrakan tuan presiden yang sederhana dan merakyat. Tapi, kalau sampai “Overdosis”, yang terjadi justru sebaliknya. Bisa menjadi pukulan balik.

Apa gunanya citra merakyat dan sederhana. Suka blusukan di sawah, sementara beras masih impor, BBM terus naik, listrik terus naik, sementara daya beli masyarakat tak pernah ada usaha perbaikan menjadi lebih baik?

Dalam kajian media, kondisi demikian bisa dijelaskan lewat konsep Simulakra.  Konsep lawas tapi masih cukup relevan. Diperkenalkan oleh Jean Baudrilard dalam Simulations (1983), dikatakan bahwa simulakra, ia semacam  mesin yang memproduksi segala yang palsu, menyimpang dari rujukan dengan menciptakan tanda sebagai topeng, tabir, kamuflase atau fatamorgana. Menggiring dunia politik ke arah “Penopengan realitas”. 

Memperbarui konsepnya, Baudrillard dalam  “Simulacra and Simulations” (1994) menyebut simulasi bukan lagi cermin atau representasi, tetapi pembangkitan melalui model real tanpa asal usul atau realitas.

Inilah yang terjadi saat ini.  Pertanyaannya,  apakah pencitraan Jokowi dengan model demikian akan berhasil? Jawabannya adalah tidak.  Pencitraan demikian akan runtuh, asalkan muncul narasi yang kuat dan meyakinkan  sebagai kontra (tandingan).

Di level ini, tugas media yang kritis, bukan media yang partisan menjadi sangat penting. Media, alih-alih menjadi humas pemerintah, seharusnya bertugas membongkar topeng dan pencitraan yang sudah sangat jauh dari realitas.  Itulah tugas media.

Tahun politik  seharusnya menjadi  momentum media membongkar pencitraan.  Tujuannya, menghadirkan publik yang kritis, membangun kesadaran warga (pemilih) untuk tak lagi tertipu dengan janji dan citra palsu. Di ranah kajian media Islam, inilah tugas profetik media yang perlu terus digairahkan.

Depok, 17 Februari 2018

*Kolumnis. Pengamat media. Founder Kanet Indonesia

Sumber :Voa-islam.com 

Sudahkah Cek Saldo Dosa Anda? (1)

Sudahkah Cek Saldo Dosa Anda? (1)


Foto: Aldi/Islampos



10Berita, Sudah cek berapa saldo dosa kita? Untuk sekarang ini saldo dosa-dosa kita tidak tapat kita cek. Sebab belum waktunya untuk diprint. Akan tetapi telah dicatat oleh teller Allah SWT yaitu malaikat Rakib dan Atid.

Ya, tak perlu kita bersudah payah mengantri untuk menabung kebank amal berapa dosa yang akn kita setorkan. Akan tetapi, ia akan tercatat dengan otomatis tanpa kita sadari, yaitu oleh para teller Allah SWT yang dua puluh empat jam mengawasi.

Dan sebaliknya, kita juga tak perlu repot-repot untuk menyetorkan berapa amal baik perbuatan kita hari ini. Semua itu akan langsung tercatat oleh Allah SWT melalui telleryang telah Allah SWT sediakan menampingi kita selama satu hari full.

Lantas, jika saldo dosa kita telah banyak, apakah kita bisa angsur atau cicil agar ia berkurang? Caranya bagaimana? Salah satu cara mengansur dosa-dosa yang kita perbuat ialah dengan taubat. Ya, taubat. Allah SWT tawarkan sebuah program yang menguntungkan nasabah. Bagi yang memiliki dosa besar ingin terhapuskan, maka harus bertaubat.

Lantas, bagaimana dengan dosa kecil, apakah harus bertaubat juga? Apakah sama wajib taubat atas dosa kecil seperti atas dosa-dosa besar?

Ada dua pendapat yang berbeda. Pertama,saldo dosa kecil kita akan terhapus secara otomatis dengan melakukan taubat atas dosa-dosa besar.

Allah SWT berfirman, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke dalam tempat yang mulia (surga),”  (QS an-Nisa: 31).

Kedua, tetap harus bertaubat atas saldo dosa kecil yang ada pada tabungan amal kita. Karena Allah SWT memerintahkan untuk bertaubat setelah menyebut dosa-dosa kecil dan besar.

Allah SWT berifirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-lai mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yagn mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang berima supaya kamu beruntung,” (QS an-Nur: 30-31). []

BERSAMBUNG

Referensi: Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT/DR. Yusuf Al-Qardhawi/

Sumber :Islampos 

Minggu, 18 Februari 2018

Hari Ini Persija Arak Anies di Balaikota, 2019 Rakyat Antar Anies ke Istana

Hari Ini Persija Arak Anies di Balaikota, 2019 Rakyat Antar Anies ke Istana

(Foto: Sindonews)

10Berita,  JAKARTA - Dihadang naik podium, Anies Baswedan malah makin melambung.

Saat penyerahan Piala Presiden 2018 atas kemenangan Persija kemarin malam (17/2/2018) di Gelora Bung Karno Senayan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak dipanggil dan tak disertakan naik ke podium, bahkan Anies dihadang Paspampres.
Anies tak berkecil hati, "Yang penting Persija menang, saya di mana enggak penting yang penting Persija menang saya merasa bangga," kata Anies.

Dan hari ini, Minggu (18/2/2018), ribuan Jakmania mendatangi Balai Kota DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun diangkat dan di arak beramai-ramai oleh ribuan suporter Persija.

Sebelumnya, ribuan Jakmania yang mengendarai kendaraan bermotor berkonvoi dari Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) mendatangi di Balai Kota DKI Jakarta. Mereka melakukan konvoi mengantar para pemain Persija Jakarta dan Piala Presiden 2018 ke Balaikota.

Setibanya di Balai Kota, rombongan pemain Persija Jakarta disambut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Anies pun diangkat ribuan Jakmania yang masih bereuforia atas keberhasilan Persija meraih juara Piala Presiden. Anies yang diangkat ribuan Jakmania tampak semringan sambil menunjukkan salam jari telunjuk yang menjadi ciri khas Jakmania.

Hari ini Persija arak Anies ke Balaikota
2019 giliran Rakyat antar Anies ke Istana

Sbg Gub DKI Jakarta, Anies punya hak protokoler kenegaraan. Dia setingkat menteri. Dlm acr resmi daerah yg dihadiri Presiden, posisi Anies di samping Presiden, tak terkecuali Final Piala Presiden. Perlakuan tak sehat thd Anies hanya akan membesarkannya sbg penantang terkuat 2019. pic.twitter.com/PhPWrSE3Ds

— Pius Lustrilanang (@Lustrilanang) 18 Februari 2018


— Mustofa Nahrawardaya (@NetizenTofa) February 18, 2018


Pak Anies diminta tetap diatas, tidak boleh turun. Jokowi dan kroconya aja yang turun. Ini kode alam brothers. Siapa yg akan diatas dan siapa yang akan sebentar lagi turun???#NgawurKalian

— Kang Suhe (@agus_suhendar) 18 Februari 2018


Sumber : PORTAL ISLAM