OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 16 Maret 2018

Gapensi; Gegara Pemimpin Bercita Rasa Neoliberal, Puluhan Ribu Kontraktor Kecil dan Menengah Bangkrut

Gapensi; Gegara Pemimpin Bercita Rasa Neoliberal, Puluhan Ribu Kontraktor Kecil dan Menengah Bangkrut

10Berita – Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) melaporkan sebanyak 37.000 perusahaan kontraktor swasta bangkrut. Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi menyatakan ini tidak mengherankan karena pemimpin negeri ini dan jajarannya adalah orang-orang yang berpaham neoliberalis.

“Karena kalau neoliberal seperti yang dijalankan sekarang ini memang hanya akan menguntungkan pemilik modal besar, sementara pemilik modal menengah kayak kontraktor kelas menengah ya mati aja,” ujarnya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum III Gapensi, Bambang Rahmadi menguraikan bahwa catatan itu diperolehnya dari data penurunan jumlah anggota Gapensi dari sebelumnya sekitar 80.000 menjadi 43.000 anggota.

Bambang bilang hal itu terjadi karena pemerintah hanya memberikan 45 persen dari keseluruhan proyek infrastruktur kepada pihak swasta. Di sisi lain pemerintah memberikan 65 persen dari keseluruhan proyek infrastruktur kepada delapan kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Kalau ekonomi ini kebijakannya hanya dua. Ikut pemilik modal atau berpihak kepada rakyat. Kalau ikut pemilik modal pasti lebih banyak keuntungan dinikmati yang di atas, investor luar negeri. Tapi kalau berpihak ke rakyat ya pasti akan untung banyak ya rakyatnya,” lanjut Adhie.

Adhie menekankan negeri ini butuh sosok pemimpin yang lebih pro masyarakat kelas menengah ke bawah. 

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

“Jadi menurut saya sih kalau jalan ekonominya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rizal Ramli ya rakyat kita yang menengah ke bawah pasti akan lebih sejahtera lah dibandingkan dengan ekonomi yang neoliberal ya,” terangnya.

Jiwa aktivis yang melekat pada diri menteri koordinator bidang perekonomian era Presiden Gus Dur itulah yang diyakininya bakal mampu menaikkan derajat hidup rakyat Indonesia. Karena sejak usia belia, pria yang akrab disapa RR itu selalu menentang kebijakan pemerintahan orde baru yang dinilainya tak berpihak kepada rakyat.

“Kebetulan yang memiliki keberpihakan itu kan lebih banyak aktivis. Orang pergerakan seperti Soekarno berpihak kepada rakyat, Gus Dur berpihak kepada rakyat, kemudian Rizal Ramli. Ketika bukan orang pergerakan, keberpihakannya kepada rakyat kan nggak ada,” urainya.

Namun demikian, Adhie mengingatkan bukan berarti setiap orang pergerakan memiliki naluri keberpihakan kepada rakyat kecil. Karenanya masyarakat tak boleh salah memilih aktivis sebagai pemimpin.

Adhie menyindir tidak mungkin keberpihakan itu muncul dalam waktu yang tiba-tiba. “Paling kan Pemilu berpihak kepada rakyat, setelah Pemilu ngga lagi,” tutup Adhie. (rmol/ram)

Sumber : Eramuslim

Nabi dan Khadijah, Kisah Cinta Paling Indah di Muka Bumi

Nabi dan Khadijah, Kisah Cinta Paling Indah di Muka Bumi

10Berita, DIA adalah salah satu wanita paling mulia waktu itu, berasal dari keluarga yang sangat terhormat dan terpandang. Dia juga wanita yang cantik dan memiliki kekayaan yang cukup banyak, menjadi wanita pengusaha terkemuka. Menikahinya akan menjadi prestasi yang hebat bagi siapa pun, dan memang, beberapa pria paling menonjol dan kaya di masyarakat Arab ketika telah meminta tangannya. Namun, dia menolak semuanya; Sudah menjadi janda, dia sudah kehilangan hasrat untuk menikah lagi.

Sampai seorang lelaki kemudian masuk ke dalam hidupnya. Dia adalah pemuda berusia 25 tahun, dan meskipun dia juga adalah keluarga yang sangat mulia, dia adalah anak yatim dan bukan lelaki yang banyak gaya.

Lelaki muda itu biasa mengurus seekor domba kurus menjadi sangat gemuk di perbukitan yang mengelilingi kota. Namun, dia memiliki karakter moral yang sempurna, dan dia dikenal luas sebagai salah satu orang paling jujur. Itulah yang menariknya dari lelaki muda itu: dia mencari seseorang yang jujur yang bisa menjalankan bisnisnya, karena dia—seorang wanita dalam masyarakat patriarki—tidak dapat melakukannya sendiri. Jadi, dia mulai berpikir bagaimana mendekatinya dengan cara yang santun, benar dan terhormat.

Setelah kembali dari perjalanan bisnis pertamanya kepada lelaki muda itu, dia bertanya kepada pelayannya, yang dia utus bersamanya, tentang dia dan tingkah lakunya. Pelayannya sangat takjub: pemuda ini adalah pria paling baik dan paling lembut yang pernah dia temui. Tidak pernah dia memperlakukan sang pelayan dengan kasar, seperti yang dilakukan orang lain. Namun, ada lebih banyak lagi: saat mereka berjalan di tengah gurun yang panas, sang pelayan memperhatikan bahwa awan terus mengikuti mereka sepanjang waktu, melindungi mereka dari terik matahari. Pengusaha wanita itu cukup terkesan dengan pegawai barunya.

Tidak hanya itu, karyawan baru ini terbukti menjadi pengusaha yang cerdik. Dia mengambil barang dagangannya, menjualnya, dan dengan keuntungan membeli barang dagangan lain yang dijualnya lagi, sehingga menguntungkan dua kali lipat. Semua ini sudah cukup baginya: bara cinta di hatinya yang sempat padam, kembali dinyalakan lagi, dan dia memutuskan untuk menikahi pemuda ini, yang 15 tahun lebih muda daripadanya.

Jadi, dia mengirim saudara laki-lakinya kepada pemuda ini. Sang saudara bertanya kepada pemuda itu, “Kenapa kamu belum menikah?”

“Karena kurang modal,” jawab sang pemuda.

“Bagaimana jika aku menawarimu calon istri yang merupakan seorang bangsawan, cantik, dan ia juga kaya? Apakah kau tertarik?” tanya sang saudara perempuan itu.

Sang lelaki muda menjawab dengan tegas, tapi ketika si saudara menyebutkan saudara perempuannya, pegawai muda itu terkekeh takjub.

“Bagaimana aku bisa menikahinya? Dia telah menolak orang-orang paling mulia di kota ini, jauh lebih kaya dan lebih menonjol daripada aku, seorang gembala yang miskin,” katanya.

“Jangan khawatir,” saudara perempuan itu menjawab, “Aku akan mengurusnya.”

Tidak lama kemudian, wanita pengusaha kaya menikahi pegawainya yang masih muda, dan ini adalah awal dari salah satu pernikahan paling penuh cinta, bahagia, dan sakral dalam semua sejarah manusia: Nabi Muhammad SAW dan Khadijah (RA), anak perempuan dari Khuwaylid ketika mereka menikah, Nabi Muhammad SAW berusia 25 tahun, dan Khadijah berusia 40 tahun. Namun, hal itu sama sekali bukan masalah bagi Nabi (SAW). Dia sangat mencintainya, dan Khadijah sangat mencintainya.

Mereka menikah selama 25 tahun, dan dia melahirkan tujuh anaknya: 3 putra dan 4 anak perempuan. Semua anak laki-laki mereka meninggal di usia muda. Khadijah (RA) adalah sumber cinta, kekuatan, dan kenyamanan yang sangat besar bagi Nabi Muhammad SAW, dan dia sangat bersandar pada cinta dan dukungan ini pada malam terpenting dalam hidupnya.

Ketika dia sedang bermeditasi di gua Hira, Malaikat Jibril (AS) mendatangi Nabi Muhammad SAW dan mengungkapkan kepadanya ayat-ayat pertama Quran dan menyatakan kepadanya bahwa dia akan menjadi seorang Nabi. Pengalaman itu menakutkan Nabi Muhammad SAW, dan dia berlari pulang, melompat ke tangan Khadijah (RA) sambil menangis, “Selimuti aku! Selimuti aku!”

Khadijah sangat terkejut oleh gemetarnya Muhammad, dan setelah menenangkan dan menghiburnya untuk sementara waktu, Nabi mampu menenangkan diri dan menceritakan pengalamannya.

Nabi (SAW) takut dia kehilangan akal atau kesurupan. Khadijah (RA) memupus semua ketakutannya dan menyuruhnya untuk beristirahat.

“Jangan khawatir,” kata Khadijah, “Demi Dia yang menguasai jiwa Khadijah, aku harap engkau akan menjadi nabi bagi umat ini. Allah tidak akan pernah mempermalukanmu, karena engkau baik kepada keluargamu, engkau selalubenar terhadap kata-katamu, engkau membantu mereka yang membutuhkan, engkau mendukung yang lemah, engkau memberi makan tamu dan engkau menjawab panggilan mereka yang dalam kesulitan. ”

Dia kemudian membawanya ke sepupunya, Waraqah ibn Naufal—seorang alim yang sangat paham kitab suci Injil—dan Waraqah menegaskan kepada Nabi SAW bahwa pengalamannya adalah Ilahi dan dia adalah Nabi Terakhir.

Setelah kenabiannya dimulai, dan orang-orang menjadi keras dan brutal, Khadijah (RA) selalu ada untuk mendukung Nabi Muhammad SAW, mengorbankan semua kekayaannya untuk mendukung Islam. Ketika Nabi Muhammad SAW dan keluarganya dibuang ke perbukitan di luar kota Mekah, dia pergi ke sana bersamanya, selama tiga tahun penderitaan. Khadijah meninggalkan Nabi pada periode ini. Nabi Muhammad SAW sangat kehilangan dia, dan bahkan setelah kepergiannya, Nabi Muhammad SAW akan mengirim makanan dan dukungan kepada teman dan kerabat Khadijah, karena cinta untuk istri pertamanya.

Suatu ketika, bertahun-tahun setelah Khadijah (RA) meninggal, dia menemukan sebuah kalung yang pernah dikenakan oleh Khadijah. Ketika melihatnya, Nabi mengingatnya dan mulai menangis dan berduka. Cintanya padanya tidak pernah mati, sehingga Aisyah pernah merasa cemburu padanya. Pernah Aisyah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW apakah Khadijah (RA) adalah satu-satunya wanita yang layak dicintai.

Nabi menjawab: “Dia percaya padaku ketika tidak ada orang lain yang melakukannya; dia menerima Islam ketika orang menolakku; dan dia membantu dan menghiburku saat tidak ada orang lain yang bisa membantuku.”

Selama Khadijah bersamanya, Nabi tidak pernah menikahi wanita lain. []

Sumber: jalansirah.com,  Islampos.

Para PKL Tenabang Bela Kebijakan Anies

Para PKL Tenabang Bela Kebijakan Anies


10Berita – Wakil Ketua DPRD Jakarta Abraham ‘Lulung’ Lunggana siap pasang badan untuk Gubernur DKI Anies Baswedan.

Hal ini terkait dilaporkannya Anies oleh Cyber Indonesia atas penutupan Jalan Raya Jati Baru, yang mengalihfungsikan untuk para Pedagang Kaki Lima (PKL) Tanah Abang.

Bahkan, Haji Lulung, panggilan akrabnya, mengaku akan mengajak para PKL untuk melaporkan balik Cyber Indonesia ke Polda Metro Jaya atas tudingan pencemaran nama baik.

“Jangan salah loh, PKL Tanah Abang tidak akan tinggal diam. Mereka akan ramai-ramai balik melapor dalam waktu dekat ini,” ujar Lulung kepada wartawan di ruang kerjanya di Gedung DPRD Jakarta, Kamis (15/3/2018).

Senada dengan apa yang pernah dikatakan Anies, Haji Lulung pun menyebut kalau penolakan terhadap kebijakan Anies soal penataan PKL Tanah Abang sudah bermuatan politis.

Padahal, kata dia, menurut para PKL kebijakan Anies tersebut jelas-jelas berdampak kepada kesejahteraan PKL dengan meningkatnya pendapatan mereka.

“Konsep penataan PKL yang dilakukan Anies saat ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para PKL. Mereka semuanya fokus untuk cari duit karena tidak khawatir lagi dikejar-kejar aparat SatPol PP,” terangnya.

Karena itu, Haji Lulung meminta kepada pihak-pihak yang mengusik PKL tanah Abang agar berhenti menggangu pemerintahan Anies-Sandi.

“Jangan sampai para PKL Tanah Abang marah, mereka pindah berjualan di Jalan Jati Baru dan menjajakan dagangannya didepan rumah yang telah melaporkan Anies ke Polda,” katanya berseloroh.

“Jadi, saya hanya kasih tahu janganlah ganggu PKL Tanah Abang yang saat ini sudah tenang berjualan. Perlu diketahui juga mereka berjualan si Jalan Jati Baru bukan kemauan mereka tapi mengikuti kebijakan gubernur,” pungkas Haji Lulung.‎[tsc]

Sumber : Eramuslim

17 Potret Anak-Anak dari Berbagai Penjuru Dunia Saat Ikut ke Masjid. Lucu sih, Selama Nggak Ganggu Ibadah

17 Potret Anak-Anak dari Berbagai Penjuru Dunia Saat Ikut ke Masjid. Lucu sih, Selama Nggak Ganggu Ibadah

10Berita, Bagi umat muslim, beribadah di mesjid memang memiliki keistimewaan sendiri. Jadi nggak heran kalau banyak yang memilih beribadah seperti salat lima waktu berjemaah ke masjid. Bahkan pada ibadah-ibadah tertentu, seperti salat Id, masyarakat berbondong-bondong salat ke masjid. Selain untuk menjalankan ibadah, momen tersebut juga dijadikan sebagai ajang bersilaturahmi dengan sesama.

Oleh karena itulah para orang tua ikut serta membawa anak mereka, meskipun masih balita. Selain karena nggak bisa ditinggalkan, mereka tentu juga pengen membiasakan anak-anak mereka untuk beribadah di masjid. Dan suatu saat nanti mereka diharapkan menjadi anak saleh yang mengisi saf-saf salat jemaah.

Advertisement

Tapi, ya, namanya juga anak-anak, kadang di masjid pun tetap berperilaku sebagaimana anak-anak. Nggak cuma di Indonesia, di luar negeri pun ada anak-anak yang heboh berlarian ke sana ke sini. Selagi nggak mengganggu ibadah sih tentu bukan masalah. Kalau pun iya, nanti orang tua mereka pasti bakal memberikan pengertian agar nanti ketika ikut ke masjid lagi, mereka nggak berisik. Nah, kira-kira bagaimana, ya, perilaku anak-anak dari berbagai belahan dunia ketika ikut orang tuanya salat ke masjid?

1. Iseng banget nih. Ayahnya lagi salat malah naik ke pundaknya. Untung sabar~

harus sabar via netizenindonesia.com

2. Apa anak-anak memang suka naik-naik kayak gini, ya, kalau orang tuanya lagi salat?

hati-hati jatuh via www.shughal.com

3. Kesempatan buat lari-larian di masjid pas pada salat jemaah kayak gini nih

nggak ikut salat via www.religion.dk

4. Sadar kamera banget sih, Dek :*

sadar kamera via www.katibin.fr

5. Kayaknya anak mana pun memang suka heboh, ya, kalau lagi salat jemaah. Tapi jangan sampai ganggu, ya 🙂

lari-lari via www.bik.gov.tr

6. Anak-anak kalau pakai baju muslim kayak gini lucu banget. Apalagi pakai peci, melorot lagi!

pecinya sampai melorot gitu via zonekebumen.blogspot.co.id

7. Pinter banget sih, Dek, mau jagain adik bayinya saat orang tua lagi salat :*

pinter banget via www.sukasaya.com

8. Gerakan salatnya sudah hampir bener sih, tapi kiblatnya kebalik 😀

kiblatnya terbalik via www.masjed.ir

9. Untung nggak rewel, ya, anaknya cuma duduk manis sambil lihatin ayahnya salat

lucu banget via www.pinterest.co.uk

10. Anaknya anteng aja digendoh ibunya salat. Duh, gemas banget sih, Dek :*

digendong sambil salat via www.rumah-benqi.net

12. Antara doanya khusyuk atau ketiduran~

jangan-jangan ketiduran nih via pxhere.com

13. Bebas mau berantakin isi tas juga, yang penting nggak nangis, ya~

untung nggak rewel via muslimmatters.org

14. Semoga nanti jadi anak yang saleh, ya. Sekarang niruin gerakannya aja dulu 🙂

diam-diam meniru via www.masjed.ir

15. Kayaknya ada yang mau kabur nih dari saf 😀

cuma ikut saf via islam.babe.news

16. Memang sudah dasarnya anak-anak itu suka meniru. Meski sekarang mungkin belum mengerti, tapi nggak ada salahnya diajarkan sejak dini

meniru via islam.babe.news

17. Tuh, sampai digendong gitu lho anaknya, biar bisa ikutan salat jemaah. Salut deh!

minta gendong via simomot.com

Ternyata, dari daerah mana pun, yang namanya anak-anak tetaplah berperilaku sebagai anak-anak. Mereka lucu, menggemaskan, dan masih suka main. Mereka belum mengerti situasi dan kondisi. Jadinya, masjid pun dianggap sebagai tempat bermain. Apalagi kalau masjidnya luas. Pasti bakal lari-larian ke sana-sini. Tapi nggak semuanya yang kayak gitu. Ada juga yang ikut salat meski nggak mengerti apa yang mereka lakukan. Semoga anak-anak ini nanti menjadi anak yang saleh, ya. Rajin ikut ke masjid saja dulu sama orang tua 🙂

Sumber : Hipwee 

Warganet: Mohon pak @Jokowi luangkan waktu 25 detik untuk menonton video ini

Warganet: Mohon pak @Jokowi luangkan waktu 25 detik untuk menonton video ini


10Berita, Salah seorang warganet, Eko Widodo (@ekowBoy) melalui akun twitternya mengharapan Presiden Jokowi untuk meluangkan waktu sejenak, cuma 25 detik, untuk menonton video.

Bukan sembarang video.

Tapi ini video omongan Jokowi sendiri yang disampaikan saat ingin meraih simpati rakyat dalam Pilpres 2014.

Jokowi bicara dengan sangat meyakinkan, sehingga rakyat kecil terutama petani terpikat (baca: terbuai) dengan janji-janji manis.

“Negara ini harus menjadi negara Produksi, bukan negara Konsumsi. Yang sekarang ini kita berpijaknya pada konsumsi sehingga dikit-dikit impor, karena harganya lebih murah,” kata Jokowi saat itu.

“Mohon pak @Jokowi luangkan waktu 25 detik untuk menonton video ini 🙏🏻

Semoga tercerahkan..,” ujar Eko Widodo.

Berikut videonya…. Silahkan tonton Yth Pak Presiden Jokowi…

VIDEO PALING DAHSYATTT….

MENONTON DIRI SENDIRI

Mohon pak @Jokowi luangkan waktu 25 detik untuk menonton video ini 🙏🏻

Semoga tercerahkan.. pic.twitter.com/ZXvCLrbURA

— Eko Widodo (@ekowBoy) March 15, 2018


Sumber : Dakwah media 

HEBOH Tabungan Nasabah BRI tiba-tiba RAIB, Ternyata INI Pelakunya!

HEBOH Tabungan Nasabah BRI tiba-tiba RAIB, Ternyata INI Pelakunya!


10Berita, Kepolisian Daerah Metro Jaya, berhasil menguak misteri raibnya dana tabungan nasabah Bank Rakyat Indonesia. Ternyata, pelakunya adalah pembobol bank bermodus skimming.

Yang paling mengejutkan ialah, dari lima pembobol dana nasabah BRI, hanya satu orang yang tercatat sebagai warga Indonesia, karena empat lainnya merupakan warga negara asing (WNA).
Menurut Kepala Unit IV Subdit Resmob dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKP Rovan Richard Mahenu, empat WNA itu masing-masing berasal dari Rumania sebanyak tiga pelaku dan asal Hungaria satu pelaku.

“Iya, ada warga negara asing. Hanya satu WNI,” kata Rovan, Jumat 16 Maret 2018.

Lima pembobol bank ditangkap, setelah polisi melakukan perburuan selama sepekan. Kelima pelaku ditangkap di sejumlah lokasi berbeda di Indonesia.

Kelimanya ditangkap di DE PARK Cluster Kayu Putih Blok AB 6 No.3, Serpong, Tanggerang, Bohemia Vilage 1 No.57, Serpong Tanggerang, Hotel Grand Serpong, Tangerang, dan Hotel De’ Max Lombok tengah, Nusa Tenggara Barat.

Untuk sementara ini, polisi belum mau menjelaskan secara rinci tentang kasus ini hingga ditangkapnya lima pembobol bank itu.

“Besok (Sabtu, 17 Maret 2018) kita rilis ya, untuk lebih jelasnya,” kata dia.

Sumber: Beritaterkini

“Jum’at Keramat”, KPK Tetapkan Ganjar Pranowo Sebagai Tersangka?

“Jum’at Keramat”, KPK Tetapkan Ganjar Pranowo Sebagai Tersangka?

10Berita – Istilah Jum’at Keramat, sebutan bagi penetapan hari yang biasanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ketika menetapkan tersangka kasus korupsi. Termasuk penetapan tersangka dugaan korupsi Mega proyek e-KTP yang melibatkan banyak pesohor negeri ini. Santer terdengar KPK akan menjadikan Ganjar Pranowo sebagai tersangka.

Dilansir oleh Tajuk, Ganjar memang kerap disebut dalam berbagai sidang korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Ganjar diduga menerima uang sebesar US$ 520 ribu. Akankah Ganjar Pranowo menyusul koleganya Setyo Novanto, mantan Ketua DPR RI dan Ketua Umum Partai Golkar sebagai tersangka kasus e-KTP?

Ketua KPK Agus Raharjo memyerabakkan sinyal dengan menyebut bahwa dalam Minggu ini akan ada calon kepala daerah dari Jawa sebagai tersangka korupsi. Kita tunggu saja. Hari ini Jum’at (16/3/2018) apakah istilah Jum’at Keramat masih berlaku di lembaga antirasuah tersebut.

Apakah politisi PDI Perjuangan yang juga merupakan calon gubernur Jawa Tengah tersebut bakal menjadi pesakitan KPK dan memakai rompi “oranye” kebesaran.

Sumber : Ngelmu.co

Anggaran Pemerintah Paling Besar Ternyata untuk Bayar Utang


Anggaran Pemerintah Paling Besar Ternyata untuk Bayar Utang


10Berita -Pernyataan pemerintah yang menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai program andalan, ternyata tidak sesuai dengan alokasi anggarannya. Bujet untuk membayar utang ternyata lebih besar daripada untuk mendanai infrastruktur.

Ekonom INDEF (Institute for Development of Economic & Finance) Drajad Wibowo mengatakan, pemerintah menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai program andalan, namun anggarannya kecil. Penerimaan negara terbesar justru untuk bayar utang.

“Di situlah letak masalahnya,” kata Drajad, Rabu (14/3) yang dirilis republika.co.id.

Dia mencontohkan, pada 2017, realisasi penerimaan negara pajak dan bukan pajak itu Rp 1.660 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 31 persen habis untuk membayar pokok dan jumlah utang.

Lebih ironis lagi, kata Dradjad, pemerintah menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai program andalan. Pada 2018, anggaran infrastruktur dinaikkan menjadi Rp 409 triliun.

Meski anggaran infrastruktur itu kelihatan besar, ternyata anggaran ini jauh lebih kecil jika dibanding untuk pembayaran utang. Tahun 2017, kata Dradjad, pemerintah harus membayar pokok dan bunga utang lebih dari Rp 510 triliun.

“Artinya, program andalan itu bukan infrastruktur, tapi pembayaran utang dengan anggaran Rp 100 triliun di atas infrastruktur. Jadi, ada ketimpangan besar dalam alokasi anggaran,” kata ekonom senior ini.

Yang lebih serius lagi, lanjut Dradjad, beban pembayaran utang di atas itu adalah untuk membayar utang yang dibuat pemerintah sebelumnya. Padahal sebelum ini, GDR Indonesia hanya sekitar 23 persen. Dengan GDR yang makin tinggi, pemerintah sekarang memberikan beban yang lebih berat kepada pemerintah mendatang.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3


Dradjad menilai utang Pemerintah Indonesia tidak aman, jika dilihat dari sudut penerimaan negara. Namun, utang pemerintah ini aman kalau dilihat secara ekonomi makro.

Amankah utang?

Menurut Dradjad, masyarakat sering rancu membedakan antara utang pemerintah dan utang negara. Utang pemerintah adalah utang yang dilakukan pemerintah, sedangkan utang negara adalah utang pemerintah ditambah dengan utang korporasi, termasuk BUMN.

“Tolok ukurnya yang klasik dalam ekonomi makro adalah ‘rasio utang pemerintah terhadap PDB’. Istilahnya public-atau government-debt ratio(GDR),” kata dia.

Jika ukurannya GDR, kata Dradjad, posisi GDR tahun 2017 itu 29,2 persen atau sangat rendah. Bahkan, di antara negara G20, Indonesia adalah negara kedua yang paling rendah GDR-nya. “Yang paling rendah itu Rusia, hanya 12,6 persen pada tahun 2017,” ungkap anggota Dewan Kehormatan PAN ini.

Yang paling tinggi adalah Jepang (250,4 persen), Italia (131,5 persen), dan Amerika Serikat (105,4 persen).
GDR Indonesia juga masih jauh di bawah India (69,5 persen) dan China (46,2 persen).
Apakah aman? Dradjad mengatakan, ini agak lebih njlimet melihatnya. Aman itu artinya pemerintah mampu membayar utang yang jatuh tempo, baik pokok maupun bunganya.

“Sumbernya (untuk membayar–Red) ada tiga, yaitu aset dan tabungan pemerintah, penerimaan pemerintah, dan utang baru. Di Indonesia, penerimaan pemerintah ini dalam APBN disebut penerimaan negara, baik pajak maupun bukan pajak,” papar Dradjad.

Jepang dan AS dengan tingkat GDR yang supertinggi itu, kata Dradjad, tergolong masih aman. Hal ini karena, pertama, rasio penerimaan pajak Jepang terhadap PDB (rasio pajak) tinggi. Rasio pajak Jepang sekitar 36 persen dan AS 26 persen.

Kedua, investor dunia memiliki kepercayaan yang sangat tinggi kepada kedua negara ini sehingga cenderung terus membeli surat utang baru mereka. Padahal, bunga surat utang mereka relatif sangat rendah.

“Faktor kedua ini, yaitu kepercayaan, sangatlah krusial,” kata Dradjad. Jadi, GDR Jepang dan AS aman karena penerimaan pajaknya tinggi dan mereka dipercaya investor.

Sementara itu, lanjut Dradjad, rasio pajak Indonesia terus berkutat di level 11-12 persen. Ini yang terendah di G20. Bahkan, tergolong rendah di dunia. “Padahal, pajak penghasilan di Indonesia tergolong tinggi di dunia, lumayan memberatkan perusahaan dan orang pribadi,” ungkapnya.

Artinya, penghasilan pemerintah sendiri dalam membayar utang itu sangat rendah untuk ukuran dunia. Mau tidak mau, Indonesia harus mengandalkan investor membeli surat utang baru.(kl/sw)

Sumber : Eramuslim

Hasil Polling MetroTV: Sudirman-Ida Unggul Melawan Ganjar-Yasin

Hasil Polling MetroTV: Sudirman-Ida Unggul Melawan Ganjar-Yasin


10Berita,  Debat kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah digelar tadi malam, Kamis (15/3/2018).

Pilkada Jateng diikuti oleh dua pasang. Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah didukung oleh koalisi Partai Gerindra, PKS, PAN, dan PKB.

Sedangkan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin diusung PDIP, PPP, Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Golkar.

Dalam debat tadi malam, MetroTV menggelar polling:

"Siapa pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Tengah yang menurut anda paling unggul dalam debat "Kandidat Bicara Spesial" malam ini?"

Hasilnya, dari 10.992 pemilih ternyata pasangan Sudirman-Ida yang unggul dengan 54%. Mengalahkan pasangan Ganjar-Yasin yang meraih 46%.

Sumber: https://twitter.com/Metro_TV/status/974263213318578176

Siapa pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Tengah yang menurut anda paling unggul dalam debat "Kandidat Bicara Spesial" malam ini?

— METRO TV (@Metro_TV) 15 Maret 2018


Sumber :Portal Islam 

Revolusi Mental, Janji Mangkrak yang Menanti Bukti

Revolusi Mental, Janji Mangkrak yang Menanti Bukti


10Berita, Kali ini tulisan agak serius. Bener serius. Karena menyangkut kosa kata “Revolusi Mental”. Ada kata “Revolusi”. Agak ngeri. Ngeri-ngeri sedap. Mesti disambung dan jangan dibaca terpisah: “Revolusi Mental”. Kalau terpaksa dipisah hanya untuk memudahkan otak membaca dan memahami definisi serta maknanya.

Revolusi mental dipopulerkan Jokowi tahun 2014. Apa maksudnya? Bagaimana prosesnya? Dan sejauhmana realisasinya? Kita analisis satu persatu.

Kata “Revolusi Mental” terdiri dari dua suku kata. “Revolusi” dan “Mental”. Harus dijelaskan satu persatu. Memang agak teknis dan teoritis. Sedikit membosankan. Siap-siap aja. Supaya gak salah paham.

Kata “Revolusi” pertama kali muncul abad 14 oleh Nicolaus Copernicus. Seorang ahli astronomi yang ingin mendiskripsikan benda-benda langit. Revolusi artinya “gerakan berputar” atau “gerakan sirkular”. Abad ke-17, istilah revolusi digunakan dalam filsafat politik. Revolusi lalu punya arti pergantian dan perputaran elit kekuasaan pada negara-negara baru.

Definisi ini lalu menjadi praktis di sejumlah negara. Tahun 1789 terjadi revolusi di Perancis. Tahun 1917 di Rusia. Tahun 1919 di Mexico. Tahun 1949 di Cina. Tahun 1959 di Kuba. Tahun 1979 di Iran. Tahun 1985 di Philipina. Tahun 1989 di Eropa Timur. Nah, rasa ngeri mulai terasa.

Bagaimana perubahan Orde Lama ke Orde Baru, dan jatuhnya Orde Baru itu apakah bagian dari revolusi? Tidak. Itu konstitusional, kata pendukung Pak Harto. Ada supersemar, yang tanggal 11 maret kemarin sudah dilupakan. Jatuhnya Pak Harto juga bukan revolusi? Pak Harto bukan jatuh, tapi legowo mengundurkan diri. Kata para pejabat penggantinya. Tidak, Pak Harto dipaksa mundur, dan kamilah yang memaksanya mundur, alias menjatuhkannya, kata aktifis 98. Terserahlah.

Yang pasti itu bukan revolusi. Menganut teorinya Sztompka, ada 5 ciri revolusi. Pertama, dampaknya luas. Kedua, radikal dan fundamental, karena sampai ke akar budaya, sistem dan cara berpikir. Ketiga, terjadi tiba-tiba dan mendadak. Sangat cepat dan tak terprediksi, apalagi direncanakan. Keempat, melibatkan emosi dan intelektual rakyat secara menyeluruh. Kelima, kentara dan akan sangat dikenang.

Dengan lima syarat ini, maka kejatuhan Orde Lama, Orde Baru, bahkan Gusdur bukan akibat revolusi. Kasus pertama, ada yang menyebutnya “putsch” pengambil alihan oleh tentara. Untuk tragedi kedua, ada yang menyebut coup, atau kudeta istana oleh sejumlah orang yang memanfaatkan gerakan mahasiswa 98. Sah-sah saja. Namanya juga berteori. Khusus Gusdur, mungkin lebih pas disebut perlawanan kelompok subordinat. Apapun itu, yang jelas bukan revolusi. Berarti di Indonesia belum pernah terjadi revolusi? Sedang diupayakan: namanya “Revolusi Mental”. Sampai di sini jangan sekali-kali berani memisahkan dua kata ini. Karena akan jauh beda arti dan konsekuensinya.

Revolusi mental itu artinya perubahan mental secara fundamental, cepat dan berpengaruh secara luas terhadap sendi-sendi kehidupan berbangsa. Secara teoritis, kira-kira begitu. Gak tahu, sama tidak dengan apa yang dimaksudkan Pak Jokowi.

“Revolusi Mental” adalah sebuah slogan yang di tahun 2014 benar-benar memberi harapan rakyat. Rakyat menunggu. Presiden baru, harapan baru. Sebuah harapan akan terjadinya ledakan perubahan yang luar biasa untuk bangsa ini. Apalagi setelah dijanjikan akan dibentuk kabinet kerja, kedaulatan pangan, tidak hutang luar negeri, lapangan kerja berlimpah, subsidi untuk rakyat ditambah dan lain-lain, dan lain-lain. Banyak sekali. Setidaknya ada 66 janji politik yang luar biasa dan aduhai. Itulah ikhtiar program untuk mensukseskan “Revolusi Mental”

Apa yang dijanjikan presiden betul-betul sangat menggiurkan. Harapan rakyat membumbung tinggi. Langkah awal Jokowi membentuk kabinet kerja yang mayoritas diisi dari orang-orang profesional semakin meyakinkan. Simpati rakyat naik. Pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, khususnya daerah tertinggal menjadi kabar gembira.

Namun semua berubah ketika satu persatu menteri dari kalangan profesional diganti dan diisi oleh orang-orang partai. Rakyak mulai was-was. Tidakkah orang-orang partai juga profesional. Tidak perlu didikotomikan antara orang partai dan non partai. Yang penting mereka bisa bekerja secara profesional. Alasan klise para politisi.

Yang jelas, kabinet kerja telah berubah jadi kabinet koalisi. Intinya, terjadi bagi-bagi kursi untuk memperkuat posisi bergaining pemerintah. Realitas memaksa penguasa menghadapi banyak tekanan. Dalam situasi ini, keadaan berubah tanpa mampu lagi dikontrol dan diantisipasi. Memang tak mudah menghadapi lingkaran mafia berpengalaman dan punya celah menekan. Situasi ini akan dihadapi oleh semua kepala negara, dimanapun berada.

Seiring berjalannya waktu, hutang negara semakin besar, subsidi untuk rakyat terus dipangkas, impor bahan pangan tak berhenti, lapangan kerja diambil asing dan aseng dengan gaji jauh lebih besar dari penduduk. Menyisakan para pengangguran penduduk negeri yang semakin kesulitan hidup. Penguasa diduga malah asyik terlibat aktif dalam pesta demokrasi di daerah-daerah. Aparatpun dicurigai tidak netral. Sampai publik sempat menanyakan mengapa istana menjadi tempat persiapan pilpres. Sarana publik digunakan untuk urusan privat.

Akhirnya, rakyat bertanya: dimana revolusi mental itu berada? Banyak yang mulai apatis. Lalu muncul gerakan: “2019 Ganti Presiden”. Ide Mardani Ali Sera ini disambut kelompok ABJ (Asal Bukan Jokowi) yang semakin besar jumlahnya. 65-68% rakyat Indonesia ingin presiden baru. Mereka kecewa dan tidak percaya lagi, karena “Revolusi Mental” tak kunjung datang membawa bukti.

Penulis: Tony Rasyid

Sumber :Portal Islam