OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Minggu, 01 April 2018

Soal Eks Pegawai Alexis yang Nganggur, Sandi: Kita akan Bantu untuk Gabung OK OCE

Soal Eks Pegawai Alexis yang Nganggur, Sandi: Kita akan Bantu untuk Gabung OK OCE

10Berita, JAKARTA—Terkait penutupan total Hotel Alexis beberapa hari lalu, yang mengakibatkan sejumlah pegawai alexis menganggur usai dirumahkan ditanggapi oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Sandi mengatakan bahwa pihaknya akan membantu para eks pegawai alexis untuk bergabung dengan OK OCE.

“Jadi seperti pak Anies sampaikan, kalau karyawan-karyawan yang tidak terlibat apa yang, tentunya kan kita sudah sampaikan sebelumnya bahwa di Dinas Tenaga Kerja ada prosesnya yang bisa dilalui oleh mereka, tinggal mendaftar,” kata Sandi.

Sandi sebelumnya juga sudah mengingatkan karyawan Alexis bahwa Pemprov DKI bersedia menyalurkan mereka ke tempat pekerjaan lain. Namun, hingga penutupan dilakukan belum ada karyawan yang mendaftar.

“Waktu kemarin dari semenjak memulai pembicaraan (penutupan) di publik ini sampai sekarang belum ada yang mendaftar,” ujar Sandi.

Sandi menuturkan eks karyawan Alexis bisa mencari kerja lewat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta. Selain itu, gerakan OK OCE pun masih membuka pintu bagi eks karyawan Alexis yang ingin berusaha.

Sandi menekankan Pemprov DKI tidak akan membiarkan mantan pegawai Alexis tak punya pekerjaan.

“Masih juga, bisa gabung (ke OK OCE). Kita akan bantu juga. Ya, sekarang saya aktif, saya sampaikan silakan mendaftar. Karena kita tidak mau ada yang kehilangan pekerjaan,” pungkasnya. []

SUMBER: VIVA.CO.ID,  Islampos.

Ditanya Di Manakah Neraka, Jawaban Umar Bikin Yahudi Takjub

Ditanya Di Manakah Neraka, Jawaban Umar Bikin Yahudi Takjub


ilustrasi (Pinterest)

10Berita, “Jika surga itu seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka?” tanya seorang Yahudi kepada Umar bin Khattab seusai ia mendengar Surat Ali Imran ayat 133.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran: 133)

Umar tidak langsung menjawab. Ia melemparkan pertanyaan itu kepada sahabat lainnya.

“Wahai para Sahabat, jawablah pertanyaan itu” 

Melihat tidak seorang pun di antara para sahabat yang hadir di sana yang bisa menjawabnya, Umar balik bertanya kepada orang Yahudi tersebut.

“Tahukah engkau akan siang, apabila datang waktu malam menyelimuti bumi, lalu di manakah malam itu?”



Orang Yahudi itu itu terkejut. “Sesuai dengan kehendak Allah,” kalimat itulah yang akhirnya muncul dari lisannya.

“Demikian halnya dengan neraka,” lanjut Umar. “Tentunya juga sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Orang Yahudi itu takjub dengan jawaban Umar. “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya itu telah ada dalam Kitab Allah yang diturunkan, seperti yang Tuan katakan.”

Kisah yang dituturkan Syaikh Al Kandahlawi dalam Hayaatus Shahabat ini menunjukkan kejernihan hati Umar dan kecemerlangan akalnya. Dengan izin Allah, ia mampu menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti manusia; bukan hanya umat Islam, bahkan Yahudi sekalipun.

Kisah ini dan Kisah Umar bin Khattab lainnya merupakan kisah-kisah yang penuh dengan ibrah dan pelajaran berharga. Siapa yang mengambilnya, ia akan mendapatkan kebaikan demi kebaikan. Siapa yang merenungkannya, akan mendapati gambaran pemimpin legendaris yang dicintai umat. Tergambar kehidupan generasi terbaik umat ini. Dan terlukis satu kesimpulan besar; apabila para sahabat sehebat ini, terbayang betapa hebatnya Sang Murabbi mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [Muchlisin BK/]

Sumber :Tarbiyah.net

Walau Sudah Jadi Suami-Istri, Tapi Tetap Saja Zina Jika Melakukan Hal Ini

Walau Sudah Jadi Suami-Istri, Tapi Tetap Saja Zina Jika Melakukan Hal Ini


10Berita, Pernikahan merupkan salah satu ibadah yang harus diamalkan semua orang yang telah cukup umur membina rumah tangga.

Dengan menikah, hubungan lawan jenis pria dan wanita yang  tadinya bukan muhrim menjadi muhrim. Tapi ada pernikahan yang ternyata dianggap zina di mata Islam.

Apakah itu? Dikutip Radarislam.com dari laman Keluargacinta, walau sudah menjadi suami istri, pernikahan tetap tidak sah jika pasangannya beda agama, seperti pria non muslim menikahi wanita muslimah.

Pernikahan ini terlarang berdasarkan surat al-Baqarah [2] ayat 221.

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Dari ayat di atas, sangat jelas jika seorang muslimah haram dinikahi oleh laki-laki non muslim, sebab istri harus taat kepada suami sebagai pemimpinnya.

Larangan ini semakin kuat dengan banyaknya ayat yang melarang seorang muslim untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpinnya.

Target akhir dari pernikahan ini ternyata ada;ah proyek besar kaum-kaum kafir yang ingin melemahkan Islam dari dalam.

Mereka menikahi wanita-wanita muslimah, lalu mengajak sang istri masuk ke dalam agama mereka.

Jika ini terjadi, anak-anak yang lahir pun akan dimurtadkan. Diajak masuk ke dalam agama mereka, cepat atau lambat.

Jika pun tidak dimurtadkan, wanita-wanita muslimah akan dilemahkan gerak dakwah dan pengaruh keislamannya di dalam keluarga dan masyarakatnya. Alhasil, kekuatan kaum Muslimin menjadi dikerdilkan.

“Wanita muslim yang melanggar ketentuan ini berarti telah melakukan pernikahan yang tidak sah, walaupun menurut hukum negara pernikahannya sah,” terang pengamat Islam Drs Muhammad Thalib.

Drs Muhammad Thalib mengungkapkan berjima yang dilakukan pasangan suami istri beda agama tersebut dinilai sebagai perbuatan zina.

“Oleh karena itu, anak yang dilahirkan dari pernikahan ini merupakan anak zina,”sambungnya.

Selain itu, wanita-wanita muslimah yang mau dinikahi oleh laki-laki non muslim juga akan mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.

Tak hanya itu kecintaan kepada Islam menjadi pudar seiring berjalannya waktu. Di akhirat, jika mati sebelum bertaubat, mereka akan mengalami siksa yang pedih, dikumpulkan bersama penghuni neraka lain dan kekal selamanya dengan azab yang pedih.

Semoga bisa menjadi tambahan ilmu bagi siapa saja yang ingin menikah, jangan hanya sekedar untuk menuruti nafsu. Tetapi juga patut memperhatikan sisi agama demi tegaknya syariat Islam.

Sumber: radarislam.com

Nabi Adam Melihat Anak Cucu yang akan Hidup

Nabi Adam Melihat Anak Cucu yang akan Hidup

Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing-masing orang kilauan cahaya.

10Berita , JAKARTA — Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, pada saat menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa anak cucunya sampai Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing-masing orang kilauan cahaya. Kemudian terjadiah percakapan berikut ini.

Adam: Siapa mereka?

Allah: Mereka adalah anak cucumu.

Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memancar di antara kedua matanya.

Adam: Ya Rabbi siapa ini?

Allah: Ini adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang bernama Daud.

Adam: Ya Rabbi, berapa Engkau beri dia umur?

Allah: Enam puluh tahun

Adam: Ya Rabbi, ambil empat puluh tahun umurku untuk Daud.

Allah mengabulkan permintaan itu. Namun, di ujung usianya, Adam berkata kepada malaikat pencabut nyawa, bukankah umur dia masih tersisa empat puluh tahun. Malaikat kemudian mengingatkan, bahwa Adam telah memberikan umur sebanyak itu untuk Daud.

Adam masih tetap mengingkari perbuatannya. Ini merupakan penging karan yang diikuti manusia hingga saat ini. Nabi bersabda, Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi rahimahullah dalam Sunan-nya Kitab Tafsir bab surah Al-A'raf, 4/267.

Adam dikeluarkan dari Surga pun tak lepas dari sifat lupanya atas perin tah Allah SWT. Dan sesung guhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati pa danya kemauan yang kuat. (QS Thaa haa: 115). Kisah tersebut dikisah kan Dosen Fakultas Syariah Universitas Yordania Umar Sulaiman al- Asyqar dalam bukunya Kisah-Kisah Shahih dalam Alquran dan Hadis.

Sumber : Republika.co.id

Tiga Pilihan Sejarah

Tiga Pilihan Sejarah

Oleh: M Sohibul Iman, Ph.D (Presiden PKS)

10Berita, Ramalan Indonesia bubar 2030 menjadi isu yang hangat diperbincangkan di publik Tanah Air. Adalah Prabowo Subianto Ketua Umum Partai Gerindra yang memantik isu tersebut menjadi diskursus publik. Dalam pidatonya di hadapan kader-kadernya, dia mengingatkan bahwa ada pihak-pihak di luar negeri yang meramalkan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

Beberapa pihak menilai pandangan Prabowo Subianto tidak akurat karena hanya merujuk kepada sebuah Novel yang berjudul “Ghost Fleet: A Novel of The Next World War” yang merupakan karya fiksi-ilmiah. Di lain pihak, Prabowo Subianto menilai bahwa analisis intelijen tidak harus berupa laporan resmi dari sebuah institusi. Kajian intelijen juga bisa ditemukan dalam bentuk skenario writing di karya fiksi. Terlebih lagi jika melihat latar belakang kedua penulisnya memiliki reputasi internasional di bidang intelijen, pertahanan dan politik global, sehingga perlu menjadi perhatian.

Dalam disiplin ilmu kajian strategis, kita mengenal metode skenario planning sebagai instrumen untuk meramal masa depan. Jika kita membuat plausible scenarios Indonesia di masa depan, paling tidak ada tiga pilihan sejarah yang tersedia.

Pertama, Indonesia menjadi negara papan bawah atau negara gagal. Peringatan yang disampaikan oleh Prabowo Subianto bahwa Indonesia bisa bubar 2030 itu adalah salah satu kemungkinan yang bisa saja terjadi. Pilihan pertama ini adalah pilihan yang terburuk (worst scenario), pilihan yang tidak kita inginkan (unwanted scenario) dan sangat kecil kemungkinan terjadi (unlikely to happen). 

Meskipun tingkat probabilitasnya kecil, bukan berarti kita bisa mengabaikannya begitu saja. Siapa yang mengira bahwa Uni Soviet sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi dan militer terkuat di dunia ternyata bisa runtuh pada 26 Desember 1991? Jika kita membaca sejarah bangsa-bangsa di dunia, banyak imperium terkuat di dunia ini juga telah runtuh. Imperium Romawi, Persia, Ottoman, Britania Raya semua pernah menjadi penguasa dunia tapi akhirnya bubar.

Inilah yang oleh Nasim Nicholas Thaleb seorang penulis dan investor terkemuka Amerika Serikat sebut sebagai Teori Angsa Hitam (Black Swan Theory), yakni sebuah kejadian yang tak terduga yang datangnya tiba-tiba, di luar jangkauan pikiran kebanyakan orang dan berdampak luar biasa. Seringkali kita mengenal hanya ada satu jenis angsa, yakni angsa putih. Sehingga ketika ada muncul angsa hitam, semua terkejut.

Dua puluh tahun yang lalu Indonesia pernah mengalami ketakutan kolektif akan bubarnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu kita mengalami krisis ekonomi yang paling buruk dalam sejarah. Krisis ekonomi tersebut diikuti dengan krisis politik, krisis sosial, krisis kepemimpinan dan ancaman disintegrasi bangsa. Banyak kalangan, baik di dalam maupun luar negeri saat itu meragukan keberlangsungan Republik ini sebagai sebuah negara-bangsa yang bersatu: apakah akan tetap utuh ataukah justru akan menuju ke lembah kehancuran?

Thomas Friedman kolumnis New York Times pernah menyebut Indonesia sebagai ‘Messy State”, yakni negara yang amburadul. Too big to fail, too messy to work. Negara yang tak punya masa depan karena bertaburan konflik, perselisihan dan sengketa sesama anak bangsa. Bahkan ada beberapa kalangan yang memperkirakan bahwa Indonesia ini akan mengalami balkanisasi, terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil dimulai dengan Timor Leste terlebih dahulu, kemudian menyusul lainnya.

Namun, prediksi tersebut salah. Ketakutan-ketakutan itu tidak pernah terjadi. Fakta yang terjadi justru berkebalikan. Ketika reformasi bergulir, Indonesia mampu melewati krisis multimensi itu dengan selamat. Meskipun banyak keinginan reformasi yang belum terpenuhi hingga saat ini, Indonesia sebagai negara bangsa tetap tegak berdiri dan memiliki peran penting di dunia internasional.

Pilihan sejarah yang kedua adalah menjadi negara papan tengah atau medioker. Para ahli menyebutnya sebagai negara yang terjebak dalam pendapatan menengah atau Middle Income Trap yakni sebuah negara yang terjebak dalam pendapatan menengah bawah (2.000-7.250 USD) dalam waktu yang lama dan gagal naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas dan tinggi. Demokrasi negara tersebut juga belum mengalami konsolidasi, sistem politiknya masih terus mencari bentuk idealnya, stabilitas sosial politik masih mengalami volatilitas, dan penegakan hukum lemah. Skenario kedua inilah yang justru mengkhawatirkan karena realitas tersebut yang sedang kita alami saat ini. 

Pertumbuhanekonomi pasca commodity boom tahun 2013 sudah mulai melambat dan stagnan di angka 5 persen. Kesehatan fiskal yang buruk dengan semakin membengkaknya utang dan defisit keseimbangan primer. Defisit transaksi berjalan yang terus melebar dan deindustrialiasasi dini semakin nyata di depan mata. Tidak hanya mengalami defisit fiskal, Indonesia juga mengalami defisit perdagangan, pangan dan migas. Di saat yang sama, ketimpangan ekonomi meningkat dan kemiskinan masih tinggi. Pertumbuhan ekonomi pun tak mampu menciptakan lapangan-lapangan kerja baru (jobless growth).

Sejak tahun 1990, RI sebenarnya sudah masuk kategori negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income) dengan pendapatan per kapita 2.000 USD. Tidak heran pada tahun 1993 Bank Dunia memasukkan RI sebagai salah satu keajaiban Asia Timur. Namun setelah 28 tahun, pendapatan per kapita RI masih berkisar di angka 4.000 USD. Indonesia masih belum beranjak menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper middle income) yang pendapatan per kapitanya harus mencapai 7.250-11.250 USD.

Pengalaman negara-negara lain, jika sebuah negara berada dalam posisi lower middle income selama 28 tahun, maka negara tersebut akan jatuh dan terjebak dalam Middle Income Trap dalam waktu yang cukup lama dan gagal naik kelas ke tangga berikutnya sebagaimana dialami oleh negara-negara Amerika Latin saat ini.

Tentunya, sebagai bangsa kita menginginkan skenario yang lebih optimistis. Karena optimisme itulah yang akan membawa kita bergerak maju. Karena itu kita memilih skenario yang ketiga yakni menjadi negara papan atas atau berperadaban maju.

Menjadi yang berhasil menjamin terbentuknya masyarakat yang adil, demokratis, aman, memiliki martabat dan harga diri (dignity) di hadapan bangsa-bangsa lain. Bangsa yang memiliki peradaban materi yang maju dan pada saat yang sama juga memiliki kematangan religiusitas dalam hidup menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara (religious civilized society).

Dalam ukuran kemajuan materi, para ahli menyebutnya dengan istilah negara berpendapatan tinggi atau high income countries yakni sebuah negara yang memiliki pendapatan per kapita lebih dari 11.750 USD.

Kita bisa belajar dari negara-negara lain yang sudah cukup sukses membangun peradaban materi yang maju. Korea Selatan bisa menjadi rujukan terdekat. Di tahun 1960, RI dan Korea Selatan memiliki pendapatan per kapita yang tidak jauh berbeda. Di tahun 1970-2002, rata-rata pertumbuhan ekonomi Korsel secara konsisten tumbuh 7-9 persen per tahun. Pertumbuhan yang tinggi itu tercipta karena innovation-driven bukan natural-resources driven.

Di periode tersebut, Korsel juga sukses mengoptimalkan bonus demografinya. Krisis Asia 1998 memang sempat membuat Korsel terjatuh. Akan tapi dia dengan cepat bisa bangkit kembali (rebound) dan tumbuh tinggi lagi sehingga dia berhasil menjadi salah satu high income country. Saat ini pendapatan Korsel sudah mencapai sekitar 27 ribu USD. Indonesia masih sekitar 4.000 USD. Kita tertinggal cukup jauh dengan Korsel. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua.

Kunci keberhasilan Korea Selatan naik kelas dari negara berpendapatan menengah menjadi negara berpendapatan maju terletak pada kemampuannya dalam membangun daya saing industrinya. Mereka mampu melakukan transformasi ekonominya dari low-value added industry menjadi high-value added industry. Mereka mampu menciptakan innovation based economy sebagai mesin pertumbuhan ekonomi mereka.

Indonesia saat ini dalam persimpangan. Indonesia telah kalah bersaing dengan Vietnam, Bangladesh, Kamboja dalam menyediakan tenaga kerja yang murah sebagai daya saing industri. Tapi pada saat yang sama, Indonesia juga tertinggal dari Malaysia, India, dan Thailand dalam menyediakan tenaga kerja yang terampil dan terdidik. Indonesia harus mengejar ketertinggalan ini dengan melakukan transformasi struktural dengan membangkitkan kembali kebijakan industrial sektor-sektor strategis nasional dan membangun desain Sistem Inovasi Nasional yang mumpuni.

Di masa-masa mendatang, RI memiliki kesempatan emas dengan berlimpahnya jumlah penduduk usia produktif. Periode tahun 2010-2030 akan menikmati bonus demografi. RI memasuki window of opportunity. Ini momentum yang tepat bagi kita untuk mendorong perekonomian nasional naik kelas dari posisi yang sekarang.

Pasca 2030, Indonesia akan mulai memasuki fase maturity. Dan pasca 2045 tepat setelah 100 tahun Indonesia merdeka, kita akan memasuki fase masyarakat yang semakin menua atau aging society sebagaimana dialami negara-negara maju sekarang ini seperti Jepang, Eropa dan negara-negara Skandinavia. Permasalahan masyarakat yang semakin menua akan membawa kompleksitas permasalahan yang semakin sulit teratasi. Jangan sampai Indonesia terlanjur menua sebelum sejahtera.

Hal yang tidak kalah penting adalah terkait pembangunan modal sosial bangsa. Fukuyama (1995) mengatakan bahwa negara yang memiliki tingkat rasa saling percaya yang tinggi atau high trust society memiliki modal sosial yang tinggi akan lebih mampu menjadi bangsa yang maju. Dan sebaliknya, jika masyarakatnya memiliki rasa saling percaya yang rendah atau low trust society atau bahkan distrust society, maka potensi negara-negara tersebut untuk maju akan sulit berkembang.

Artinya, maju mundurnya sebuah negara-bangsa bukan hanya dilihat dari sisi ekonomi, tapi juga ditentukan oleh konstruksi sosial masyarakat. Dari sinilah pentingnya membangun modal sosial yang baik. Dalam konteks Indonesia, kita harus bisa membangun modal sosial pada rel yang benar. Takdir historis dan sosiologis bangsa Indonesia adalah hasil dari perjuangan kelompok Nasionalis-Religius/Islam dengan Kelompok Nasionalis-Sekuler.

Oleh karena itu, sebagai bangsa kita harus mampu membangun titik keseimbangan antara dua kelompok tersebut dengan takaran yang pas. Tidak boleh ada sikap yang merasa paling memiliki dan paling berhak menguasai bangsa ini dan menihilkan kelompok lainnya. Di saat yang sama tidak boleh ada sikap yang merasa tidak memiliki bangsa ini sehingga dia bebas berbuat apa saja sehingga membawa keburukan bagi bangsanya.

Sebagai penerus bangsa, kita memiliki lebih banyak alasan untuk optimis dibandingkan para pendiri bangsa. Jika para pendiri bangsa ini optimis bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju, berdaulat dan bermartabat, maka kita pun harus memiliki keyakinan yang lebih dibandingkan para pendiri bangsa. InsyaAllah.

Opini dimuat di Harian Republika edisi 31 Maret 2018

Islam Mengubah Tyson, dari Leher Beton Jadi Ayah yang Baik

Islam Mengubah Tyson, dari Leher Beton Jadi Ayah yang Baik

 

10Berita, DI tahun 80-an, tidak ada yang tidak mengenal Mike Tyson. Ia juara dunia tinju kelas berat. Ia sanggup melumpuhkan rivalnya di atas ring hanya dengan satu kali pukulan dalam satu ronde saja. Ia dijuluki “Leher Beton”. Ia kini seorang Muslim.

Tyson menjadi juara dunia tinju kelas berat termuda di usia 20 pada 1986 dengan mengalahkan Trevor Berbick di perebutan gelar juara dunia kelas berat WBC. Setahun kemudian, merebut gelar juara dunia kelas berat WBA dan IBF.

Pada 1992, karir Tyson mulai terpengaruh kehidupannya di luar ring. Saat itu Tyson harus hidup di balik jeruji selama tiga tahun karena melakukan pemerkosaan. Setelah dikalahkan Evander Holyfield pada November 1996, kehebatan Tyson di atas ring tinggal sejarah.

Setelah itu Tyson harus melewati masa sulit termasuk kebangkrutan dan hanya beberapa kali melakukan pertarungan sekadar mencari nafkah. Tyson pun mengungkapkan mengapa karir tinjunya rusak.

“Saat itu saya seorang bajingan, dan psikopat. Saya pikir saya juara dunia. Tidak akan ada petinju yang menelan obat-obatan lebih banyak daripada saya. Bahkan saya tidak menyangka bisa hidup lebih dari 30 tahun. Saya beruntung masih bisa hidup. Tinju telah membuat saya gila,” paparnya kepada Speigel.

Tyson memeluk Islam ketika masih dipenjara pada pertengahan tahun 1990. Secara resmi, tahun 1995, selepas dari penjara di Indiana, Tyson mengumumkan hijrah memeluk agama Islam yang telah dipelajarinya selama di dalam penjara, dengan nama baru Malik Abdul Aziz

Tyson kini tinggal di Las Vegas dengan istri ketiganya, Lakiha, dan dua putra-putri, Morocco serta Milan. Tyson mengaku senang dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini.

“Saya hanya ingin menjadi ayah yang baik. Saya ingin anak-anak memandang saya seorang ayah yang baik. Saya tidak minum alkohol, tidak merokok, tidak minum obat-obatan. Saya vegetarian, tidak makan daging dan telur.” [islampos/Spiegel]

 

Sumber : Islampos.

2019 adalah Politik Umat Islam Indonesia

2019 adalah Politik Umat Islam Indonesia



10Berita, JAKARTA  Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa tahun 2019 adalah tahun politik yang menentukan bagi umat Islam Indonesia. Tahun depan ini untuk pertama kalinya akan diadakan Pemilu serentak untuk nemilih Presiden dan Wakil Presiden, DPR, DPRD dan DPD.

“Karena itu, umat Islam tidak bisa bersikap pasif tetapi pro aktif agar perjalanan bangsa dan negara lima tahun ke depan sejalan dengan aspirasi umat Islam Indonesia,” kata Yusril, di akun fanpage FB-nya, belum lama ini. Hal di atas dikemukakan Yusril dalam acara pengajian ahad pagi di Desa  Tulungagung, Jawa Timur minggu pagi 25/3/2018.


Dalam pengajian yang dihadiri seribuan warga desa itu, nampak hadir calon Bupati Tulungagung Margiono, sejumlah kiyai dan tokoh-tokoh masyarakat. Dalam kesempatan itu, Yusril mengupas hubungan agama dengan negara dalam perspektif Islam dan dari sudut hukum tatanegara Indonesia.

“Para pendiri bangsa, sepakat untuk berkompromi bahwa Indonesia merdeka tidak menjadi negara sekular yang memisahkan agama dengan negara, dan tidak pula menjadikan Islam sebagai dasar dan falsafah negara.” Pancasila, menurut Yusril dengan mengutip pernyataan Mohammad Natsir, adalah “kalimatin sawa’in bainana wa bainahum” yakni kalimat yang sama yang menjadi titik temu atau common platform bernegara yang disepakati oleh golongan Islam dan golongan Kebangsaan. (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

Eksistensi Kutai Kertanegara Usai Kemerdekaan

Eksistensi Kutai Kertanegara Usai Kemerdekaan


Upaya menjaga identitas kultural terus dijaga hingga kini.

10Berita , JAKARTA — Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pada 1947, Kesultanan Kutai Kertanegara menjadi bagian dari Federasi Kalimantan Timur dengan status daerah swapraja.

Bersama dengan kerajaan-kerajaan sekitar, Kutai Kertanegara membentuk dewan kesultanan. Status ini berubah menjadi daerah istimewa setingkat kabupaten pada 1953 atau setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai hasil perundingan dengan Belanda.

Enam tahun kemudian, Kutai dibagi menjadi tiga daerah, yakni Kutai yang beribu kota di Tenggarong, Balikpapan, dan Samarinda.

Pada 21 Januari 1960, diadakan sidang khusus antara pihak kesultanan Kutai Kertanegara dan DPRD Daerah Istimewa Kutai. Hasilnya antara lain penyerahan pemerintahan dari pihak kesultanan, yakni Sultan Aji Muhammad Parikesit, kepada bupati setempat. Sejak saat itu, kekuasaan politik Kesultanan Kutai Kertanegara secara resmi berakhir.

Barulah pada 1999, ada inisiatif untuk memulihkan eksistensi Kesultanan Kutai Kertanegara, yakni sebatas identitas kultural. Usulan ini datang dari bupati Kutai Kertanegara kala itu, Syaukani Hasan Rais. Tujuannya bukan untuk membangkitkan feodalisme, tetapi lebih sebagai upaya pelestarian warisan budaya dan sejarah.

Pada 7 November 2000, Bupati Kutai Kartanegara dan keturunan sultan Kutai Kertanegara, H Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat, menghadiri undangan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jakarta. Mereka menyampaikan maksud untuk memulihkan eksistensi Kesultanan Kutai Kertanegara sebagai entitas budaya. Presiden pun menyetujuinya.

Sejak saat itu, Kesultanan Kutai Kartanegara bangkit kembali.
Kepemimpinannya diserahkan kepada Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat sebagai keturunan ningrat Kutai secara efektif mulai 22 September 2001. Dia menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Salihuddin II.

Sumber : Republika.co.id

Apa yang Engkau Cari

Apa yang Engkau Cari

Oleh: Ustadz Felix Siauw

10Berita, SEMENTARA dunia dan segala isinya akan musnah, tak ada yang abadi, jelas takkan dibawa mati. Harta, tahta dan cinta, yang keluar dari jalan ketaatan, hanya akan membawa kekhawatiran tambahan.

Popularitas yang engkau duga menjadi sumber kesenangan, tak lebih daripada beban yang akan engkau pertanggungkan. Minta dijunjung, minta dipuji, minta dikagumi, membengkakkan hati.

Mencitrakan diri lebih dari sebenarnya, berkata-kata melampaui pengetahuan, demi sanjungan yang justru akan kita sesali. Pada akhirnya yang kita dapat hanya kehampaan diri.

Kita sibuk memikirkan bagaimana orang memandang diri kita, tapi sedikit sekali usaha kita untuk menyiapkan diri kita berjumpa Allah, bagaimana bila Allah tak sudi memandang kita nanti.

Di masa semua hal bisa menjadi sebab pencitraan, sulit sekali membedakan mana yang tulus dan mana akal bulus. Jangankan menilai orang lain, menilai diri sendiri ikhlas saja sudah susah.

Apa yang engkau cari? Sesuatu yang menyusahkanmu saar berjumpa dengan Allah, ataukah sesuatu yang akan bisa menyelamatkan dirimu dari murka Allah? Yang sementara atau yang selamanya? []

Sumber :Islampos.

Sabtu, 31 Maret 2018

Bentuk Poros Ketiga, Demokrat beri Sinyal Berkoalisi dengan PAN dan PKB di Pilpres 2019

Bentuk Poros Ketiga, Demokrat beri Sinyal Berkoalisi dengan PAN dan PKB di Pilpres 2019



10Berita, JAKARTA  Partai Demokrat sepertinya memberikan sinyal akan berkoalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Pilpres 2019 mendatang. Sedangkan untuk kursi Wapres, Demokrat seakan menandakan bahwa telah ada untuk posisi RI-2.

“Poros ketiga  ideal adalah: (PAN-PKB) usung Presiden pilihan kedua partai itu dan wakilnya dari Partai Demokrat. Siapa orangnya, disurvey,” demikian kata politisi Demokrat, Andi Arief, Sabtu (31/3/2018), di akun Twitter pribadi miliknya.


Andi menyebutkan bahwa koalisi dengan posisi tersebut untuk bangun poros ketiga. “Kalau PAN dan PKB bergabung usung Capres maka pakem koalisi dengan Demokrat tepat. Suara Gabungan PAN-PKB lebih tinggi dibanding demokrat. Koalisi PAN-PKB menentukan Capres dengan menggandeng Demokrat sebagai Wapres adalah solusi demokratik terbentuknya poros ketiga.”

Menurut Andi, tentukan  Capres (PAN-PKB) dan siapa Cawapres dari demokrat dengan jalan demokratik melalui survey. Partai libatkan aspirasi publik. “Koalisi PAN-PKB dengan Demokrat selain pecah bipolar, juga bisa amankan suara partai dalam Pemilu 2019, Ketiganya punya basis suara berbeda. Pilpres 2019 jadi banyak alternatif dengan tiga kekuatan: 1, Gerindra-PKS 2. PDI-P-Golkar-Nasdem-PPP-Hanura 3. (PAN-PKB) - Demokrat.

Koalisi yang dibangun menurut dia harus punya pakem, suara partai atau gabungan partai yang terbesar mengusung Capres dan yang lebih kecil wapres. Koalisi PAN-PKB dengan Demokrat maka Cak Imin-Zulkifli Hasan dengan SBY sebagai Ketum Partai akan berdiri sama tinggi duduk sama rendah. “Bagi Demokrat, pilpres 2019 bukan seperti perang dunia. Segala opsi terbuka termasuk opsi AHY capres 2024 dijadikan tema kampanye pemilu 2019.” (Robi/)

Sumber :voa-islam.com