OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 04 April 2018

Ibu Indonesia Zaman Now, Tak Sempat Berkonde!

Ibu Indonesia Zaman Now, Tak Sempat Berkonde!



Oleh:

Emitha Thamrin

Anggota Komunitas Revowriter

10Berita, BULAN April dibuka dengan puisi nyangsang dan salah sasaran dari seorang anak bangsa. Katanya sih puisi itu sebagai wujud cinta dan rasa hormat pada Ibu Indonesia. Alih-alih hormat dan mendapatkan banjir pujian, hujatan dan kecaman pun dilayangkan padanya. Bahkan sejumlah pengacara akan mengajukan somasi penistaan agama Islam pada beliau. Ratusan ibu-ibu Indonesia membalas puisi sang pujanggawati dengan puisi-puisi yang tak kalah manis dan cadasnya. 

Di tengah suasana yang masih panas dengan kasus cadar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Bukittinggi, puisi ini malah menoreh luka lebih dalam. Selayaknya, seorang nasionalis anak proklamator bisa berfikir jernih dan melihat situasi dan kondisi psikologis sosial masyarakat pasca dua kasus cadar tersebut. Mestinya meredam bukan malah menebar minyak tanah di tengah api yang sedang menyala.   

Belum lagi ada pemberitaan miring tentang wanita bercadar yang hidup dengan belasan anjingnya, yang jelas-jelas tidak bisa diterima akal sehat. Bagaimana mungkin seorang akhwat yang taat syariat bercadar memelihara anjing dan bermesra dengan anjing-anjingnya padahal bersentuhan dan kecipratan air liur anjing saja adalah najis besar? Apakah pemberitaan ini sebuah rekayasa? Pencitraburukan terhadap cadar? Waktu akan menjawabnya. 

Kembali ke puisi sang pujanggawati, tidak masanya lagi ibu-ibu Indonesia dibuai dengan kidung dan berhias konde. Ga ada waktu Nek! Lihatlah ibu-ibu Indonesia yang telah berkuras tenaga, keringat dan air mata dari subuh ke subuh di pebukitan, di pegunungan, di padang penggembalaan, di pabrik-pabrik padat karya, di pasar-pasar tradisional, diriuhnya deru kereta dan sarana transportasi umum, di undukan sampah yang menggunung atau di pinggir jalan menadahkan tangan. 

Itulah wajah ibu Indonesia saat ini. Ibu yang termiskinkan, ibu yang tertindas, ibu yang tidak punya waktu lagi untuk berbedak apalagi berkonde. Sempitnya penghidupan dan  jauhnya jurang kaya dan miskin telah membuat ibu-ibu Indonesia ikut membanting tulang menjadi tulang punggung keluarga. 


Jika pun mau dilihat  sosok Ibu Indonesia zaman dulu, tidak lah seperti yang dipuisikan. Ada Cut Nyak Dien dan Cut Meutia di Aceh, Raden Ajeng Kartini di Jepara, Rahmah El Yunusiah dan Rankayo Rasuna Said di Padang dan banyak tokoh wanita lainnya, yang tidak “kepikiran” berkonde dan berkidung. Mereka adalah para pejuang untuk kemerdekaan bangsanya dan kaumnya dari penjajahan.  Hari-harinya adalah memikirkan kemajuan pendidikan dan sosial kaumnya. 

Bisa jadi sang pujangga memang pernah hidup di masa-masa konde berjaya era 1960an hingga 1980an, meski tidak semua ibu Indonesia menggunakannya. Tetapi di era 1990an, ketika nilai-nilai Islam semakin dipahami untuk diterapkan, maka mulai banyaklah muslimah yang menutup auratnya. Berjilbab, berkerudung, berkhimar, bergamis dan sekarang bercadar. Satu, sepuluh, seratus, seribu, sejuta dan berjuta muslimah menutup auratnya. Lalu apakah berarti mereka kehilangan identitas sebagai Ibu Indonesia?

Saya fikir tidak, tidak sama sekali. Bahkan muslimah-muslimah Indonesia, emak-emak jaman now, menjadikan ketaatan kepada agamanya sebagai bentuk cinta pada bangsa dan tanah airnya. Mereka tidak lagi terdampar di tempat-tempat hiburan malam dan di warung-warung remang-remang tetapi mereka sekarang berada di pusaran kajian-kajian ke-islaman. 

Di majelis taklim, di liqo-liqo, di halaqoh-halaqoh bersama komunitas-komunitas yang mendekatkan diri pada Allah. Dari situ mereka menyebarkan pemahaman Islam di tengah-tengah keluarga dan masyarakatnya. Bahkan keterlibatan ibu-ibu Indonesia pada aksi bela Islam pun tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah tenaga-tenaga ikhlas yangmenyediakan makanan dan minuman bagi para pejuang bela Islam. Merekalah barisan emak-emak militan. 

Jika sang pujangga merasa Islam itu asing, itu baginya, bukan bagi Ibu-Ibu Indonesia. Jika dia tidak merasa terjaga dan suci dengan kain penutup aurat, itu karena dia belum menggunakannnya, bukan bagi Ibu-Ibu Indonesia. Jika dia anggap lenggak lenggok gemulai tubuh dalam tarian adalah ibadah, itu baginya; bukan bagi ibu-ibu Indonesia. Asumsi tarian sebagai ibadah pun jelas salah total, jika aqidahnya benar, atau ketidaktahuan syariah itulah penyebabnya.

Jika pun mau dilihat sepak terjang ibu Indonesia saat ini, yuks! Lihatlah perjuangan ibu-ibu Indonesia mendidik dan membesarkan anak-anaknya, mengajarkan ayat demi ayat Alqur’an, menghantar jemput anak-anaknya di sekolah-sekolah tahfiz Qur’an, menyediakan makanan bergizi bagi anak-anaknya. 

Lihatlah pula upaya sekuat tenaga ibu-ibu Indonesia menangkal pengaruh buruh kaum LGBT yang makin menggila, narkoba yang menelusup masuk ke permen-permen jajanan anak-anaknya, menjaga anak gadis  dan anak bujangnya dari pergaulan bebas, di tengah-tengah abainya negara. 

Kesibukan itu sangatlah cukup untuk membuat Ibu-Ibu Indonesia tidaklagi  punya waktu untuk berkonde dan bahkan tidak memerlukan konde. Khimar dan hijab adalah perhiasannya, lantunan azan dan merdunya tilawah AlQur’an cukup sudah membasuhi raga dan jiwanya yang lelah, mereka tidak memerlukan kidung-kidung mistik yang merusak jiwa. Merekalah ibu, yang terus berjuang agar tidak meninggalkan generasi yang lemah setelahnya. 

Kepada seluruh Ibu-Ibu Indonesia, teruslah sampaikan ajaran Islam pada anak-anak kita; khimar, jilbab, cadar pakaikan pada tubuhmu dan anak-anak gadismu. Abaikan mimpi pujanggawati itu tentang sosok ideal Ibu Indonesia. Mungkin dia hidup di masa lalu, sedangkan kita hidup di zaman now. Semoga dia dapat hidayah dan taubat sebelum Allah memanggilnya.*

Sumber : Voa-islam.com

IRONI, Setelah Lobi dengan Zionis di AS, Pangeran Arab: Israel Punya Hak Tanah di Palestina

IRONI, Setelah Lobi dengan Zionis di AS, Pangeran Arab: Israel Punya Hak Tanah di Palestina

10Berita, WASHINGTON  – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menyatakan bahwa Israel memiliki hak atas tanahnya sendiri tidak hanya Palestina saja.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah The Atlantic yang berbasis di AS, pewaris tahta kerajaan berusia 32 tahun itu menyatakan: “Saya percaya bahwa setiap orang, di mana saja, memiliki hak untuk hidup di negara mereka yang damai,” lansir AljazeeraSelasa (4/4/2018).

Putra mahkota mengatakan bahwa “negaranya memiliki banyak kepentingan” dengan Israel.

“Israel adalah ekonomi besar dibandingkan dengan ukuran mereka dan itu adalah pertumbuhan ekonomi, dan tentu saja ada banyak kepentingan yang kita bagi dengan Israel dan jika ada perdamaian, akan ada banyak kepentingan antara Israel dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk dan negara-negara seperti Mesir dan Yordania.”

Bin Salman juga mengatakan bahwa walaupun negaranya memiliki “keprihatinan agama” tentang masjid suci di Yerusalem dan hak-hak warga Palestina, Arab saudi tidak memiliki keberatan “terhadap siapapun.”

“Saya yakin warga Palestina dan Israel memiliki hak untuk memiliki tanah mereka sendiri. Tetapi kita harus memiliki perjanjian damai untuk menjamin stabilitas bagi semua orang dan memiliki hubungan normal.”

Bin Salman juga mengatakan Arab Saudi “tidak punya masalah” dengan Yahudi, mengatakan bahwa Nabi Muhammad “menikahi seorang wanita Yahudi.”

Arab Saudi dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Riyadh telah lama menyatakan bahwa perjanjian damai dengan Israel harus didasarkan pada garis demarkasi 1967 yang ditetapkan sebelum tanah Palestina dirampas selama Perang Enam Hari.

Namun perkembangan terakhir di Riyadh mengindikasikan bahwa hubungan antara kedua negara mulai membaik.

Pada bulan Maret, Arab Saudi memberikan izin bagi operator nasional India menggunakan wilayah udaranya untuk mengoperasikan penerbangan langsung antara New Delhi dan Tel Aviv.

Langkah itu mengakhiri larangan satu dasawarsa oleh Arab Saudi atas penggunaan wilayah udaranya untuk penerbangan ke Israel.

Menteri Komunikasi Israel Ayoub Kara juga mengundang Mufti Besar Arab Saudi, Abdul Aziz Al Sheikh, untuk mengunjungi Israel.

Saat mengunjungi Amerika Serikat, bin Salman juga bertemu dengan beberapa kelompok zionis Yahudi dan lobi pro-Israel.

Sumber : Jurnalislamm.com

HEBOH... Sampul Majalah New York Menggambarkan Presiden Trump sebagai Babi

HEBOH... Sampul Majalah New York Menggambarkan Presiden Trump sebagai Babi


10Berita, New York Magazinemengambil langkah keras terhadap presiden Trump dengan sampul barunya yang memperlihatkan sang presiden sebagai babi.

Edisi bertanggal 2 April 2018 dari majalah tersebut menampilkan sebuah foto close-up dari presiden Trump dengan sebuah congor babi menggantikan hidungnya.

“Bukan kolusi,.. bukan ketidakkompetenan..bukan kekejaman..ini korupsi, bodoh,” isi tajuk berita majalah tersebut. “Mengapa Gaya Negosiasinya Merupakan Beban Politik Terberatnya.”

Isi cover majalah, “Korupsi, Bukan Rusia, adalah Beban Politik Trump yang Terbesar,” menghantam Trump untuk apa yang majalah itu klaim sebagai “korupsi” dan “keserakahan” dalam hampir segala aspek kepresidenannya, dari pemberian-pemberian jabatan politis hingga keputusannya untuk membiarkan anak-anaknya mengambil alih bisnisnya setelah ia menjabat.

“Sejak Trump menjabat, janjinya untuk mengabaikan kepentingan-kepentingannya sendiri telah hampir terlupakan, hilang dalam badai besar yang membuat bingung dari berita-berita tanpa akhir,” tulis Jonathan Chait dari majalah New York. “Ini bukan hanya sebuah lelucon aneh tapi sebuah masalah nyata bagi oposisi bahwa seluruh berita buruk tentang Trump terus tertutupi oleh berita buruk lainnya tentang Trump.”

“Tak hanya Trump tak membuat usaha apapun untuk meningkatkan standar etika tapi ia dan pemerintahannya juga secara flamboyant melanggar panduan-panduan yang ada,” tulis Chait. “Para pelobi ditanam di seluruh Agensi, ‘mengatur’ mantan bos-bos mereka dan mendesain aturan-aturan yang menguntungkan para bos dibanding para karyawan dan pemilik bisnis dibanding konsumen.”

Artikel ini muncul ditengah pergantian staff diantara beberapa pejabat Trump tingkat atas dan peningkatan penelitian atas tindakan bisnis-bisnis asing ia dan menantunya Jared Kushner.

Sebelumnya Trump telah menjadi target dari berbagai sampul majalah yang menyerangnya, termasuk penggambaran majalah TIME yang memperlihatkan rambutnya terbakar dan majalah Der Spiegel dari Jerman yang menggambarkan Trump sebagai seorang “pria terbelakang.”

Sumber: PORTAL ISLAM

Dari FPI Sampai NU Polisikan Sukmawati Soekarnoputri, PDIP dan Jokowi Bisa Kena Getahnya

Dari FPI Sampai NU Polisikan Sukmawati Soekarnoputri, PDIP dan Jokowi Bisa Kena Getahnya


10Berita, Puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 dinilai melecehkan Islam dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Tak ayal berbagai pihak melaporkan adik Ketum PDIP Megawati itu ke pihak kepolisian.

Tercatat dari FPI sampai NU melaporkan.

Badan Hukum Front DPP Front Pembela Islam (BHF-FPI) akan melaporkan Sukmawati ke aparat kepolisian terkait puisi diduga mencemarkan SARA yang dibacakannya.

"Kita mau laporkan Sukmawati soal penistaan agama, karena sudah memenuhi delik," kata Koordinator BHF FPI, Aziz Yanuar, SH, MH kepada voa-islam.com, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Aziz mengaku tidak habis pikir, mengapa di Republik Indonesia yang mayoritas beragama Islam, justru agama islam dinistakan terus berulang-ulang kali.

"Ini pertanda tidak jeranya orang-orang pemecah belah persatuan Indonesia dalam memecah belah Indonesia," tandasnya.

Begitupun dari pihak NU.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memerintahkan badan otonom yaitu Anshor untuk menyampaikan surat aduan ke Polda terkait puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. PWNU mengadukan Sukmawati lantaran puisi yang dibacakannya tersebut dianggap tidak menghormati agama Islam.

"Yang sangat kami sayangkan substansi daripada puisi itu. Di mana di situ menyebut idiom-idiom agama Islam seperti syariat, cadar, dan azan yang dibandingkan dengan budaya, terutama budaya Jawa. Dan isi daripada puisi itu tidak menghormati agama Islam," kata Ketua PWNU Jatim Hasan Mutawakkil Alallah, saat menggelar konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Rabu (3/4), seperti dilansir Republika.

Ulah Sukmawati ini oleh sebagian kalangan yang akan kena getah adalah PDIP.

"FPI melaporkan Sukmawati ke Polisi
PWNU Jatim melaporkan Sukmawati ke Polisi
Ansor Jatim melaporkan Sukmawati ke Polisi

Kubu yg bertolak belakang sama2 melaporkan Sukmawati ke Polisi ..
iki problem serius loh.. PDIP dan Jokowi akan menanggung collateral damage nya..," ujar @bambangelf di Twitter.

FPI melaporkan Sukmawati ke Polisi
PWNU Jatim melaporkan Sukmawati ke Polisi
Ansor Jatim melaporkan Sukmawati ke Polisi

Kubu yg bertolak belakang sama2 melaporkan Sukmawati ke Polisi ..
iki problem serius loh.. PDIP dan Jokowi akan menanggung collateral damage nya..

— ΛᄂIΣП MΣЯDΣKΛ 👽 (@bambangelf) 3 April 2018

Tak heran kalau pihak PDIP langsung minta Sukmawati untuk minta maaf.

Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari menyarankan Sukmawati Soekarnoputri segera meminta maaf dan mengklarifikasi soal puisinya yang menyatakan kidung lebih baik dari azan.

Hal itu perlu dilakukan agar polemik pernyataan tersebut tidak meluas dan menjadi isu politik jelang Pemilu tahun 2019.

"Saya harap Mbak Sukma segera menjelaskan, tabayun, sekaligus minta maaf karena ada sesuatu yang serius di situ," ujar Eva di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/4), seperti dilansir CNNIndonesia.

Sumber :CNN Indonesia, PI 

Warganet Soroti Puan Maharani Yang "Mendadak Islami"

Warganet Soroti Puan Maharani Yang "Mendadak Islami"


10Berita, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)  Puan Maharani mengunjungi Pondok Pesantren Tahfidz Yatim de Muttaqin di Desa Denokan, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, Selasa (3/4).

Menko PMK pun mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaannya karena berada di antara para penghafal Alquran yang usianya masih anak-anak. 

Link: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/04/03/p6m4ys453-puan-bangga-bisa-berada-di-antara-para-penghafal-alquran

— Republika.co.id (@republikaonline) 3 April 2018

***

Berita di Republika "Puan Bangga Bisa Berada di Antara Para Penghafal Alquran" sontak menjadi sorotan warganet.

Mereka menilai politisi PDIP ini "mendadak islami, religius" karena sudah dekat Pemilu/Pilpres untuk meraih simpati Umat Islam.

"Yg biasanya nyinyir ke Islam, kemudian mendadak islami, Itu pertanda Pilkada dan Pilpres sudah dekat 😀," komen netizen @Jongos2015.

"Semua serba indah kalo mau pilpres," sindir @malhamahkubro.

"Banyak politisi mendemonstrasikan perilaku munafik secara terang2an.. Letak permasalahan bukan kenapa mereka begitu, tetapi kenapa masyarakat masih saja memilih mereka yang jelas2 munafik..," ujar @budiwidagdo2.

"Dan puan bakal lebih bangga lagi apabila Umat Islam berhasil dikibuli saat kampanye #Pilpres2019 yad dengan modus mendadak religius ala kroni penista agama. #CukupSatuPeriode #2019PresidenBaru #AsalBukanJokowi #2019GantiPresiden #JokowiAhSudahlah," komen @SugiKawuloAlit.

Yg biasanya nyinyir ke Islam,kemudian mendadak islami,Itu pertanda Pilkada dan Pilpres sudah dekat .😀

— Brigade-TGB2019 (@Jongos2015) 3 April 2018


Semua serba indah kalo mau pilpres

— Al-Malhamah Al-Kubro (@malhamahkubro) 3 April 2018


Banyak politisi mendemonstrasikan perilaku munafik secara terang2an.. Letak permasalahan bukan kenapa mereka begitu, tetapi kenapa masyarakat masih saja memilih mereka yang jelas2 munafik..

— @budiwidagdo (@budiwidagdo2) 3 April 2018


Dan puan bakal lebih bangga lagi apabila Umat Islam berhasil dikibuli saat kampanye #Pilpres2019 yad dengan modus mendadak religius ala kroni penista agama.#CukupSatuPeriode #2019PresidenBaru #AsalBukanJokowi #2019GantiPresiden #JokowiAhSudahlahhttps://t.co/sL9ee6e8kW

— #MencariPenggantiJokowi (@SugiKawuloAlit) 3 April 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Terkait Pilpres 2019, PKS: Anies Berpeluang Besar Jadi Cawapres Prabowo

Terkait Pilpres 2019, PKS: Anies Berpeluang Besar Jadi Cawapres Prabowo

10Berita, JAKARTA—Memasuki Pemilihan Umum Presiden tahun 2019, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki peluang besar menjadi calon wakil presiden mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

“Kalau Mas Anies kan dekat sama PKS. Peluang untuk bersamanya lebih besar,” ujar Mardani, pada Selasa (3/4/2018) kemarin.

Namun, Mardani menegaskan posisi cawapres untuk mendampingi Prabowo harus dibahas bersama antara Gerindra dan PKS, serta parpol lain yang nantinya bergabung.

Ia beralasan pembahasan itu dilakukan lantaran PKS atau Gerindra tidak dapat mencalonkan capres atau cawapres sendiri dan juga harus mengedepankan mekanisme internal untuk mengambil keputusan.

“(Posisi cawapres) dibahas bareng-bareng dalam keadaan yang setara. Karena tiketnya itu tiket sharing. Jadi semuanya harus rendah hati menganggap semua pihak sama,” ujarnya.

Di sisi lain, Mardani menegaskan Anies bukan satu-satunya sosok yang diseleksi untuk menjadi cawapres. Sejumlah nama, seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo hingga kader internal PKS masuk dalam radar cawapres untuk Prabowo.

Namun, ia kembali menegaskan posisi cawapres harus dibahas bersama sebelum disepakati. []

SUMBER: CNN, Islampos.

Dari RIS Jadi NKRI karena ‘Mosi Integral Natsir’, PKS: Mestinya Negara Peduli Sejarah

Dari RIS Jadi NKRI karena ‘Mosi Integral Natsir’, PKS: Mestinya Negara Peduli Sejarah


Wakil Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid, MA (tengah) usai Diskusi Publik Memperingati ‘Mosi Integral Natsir’: 3 April 1950 di Gedung Nusantara I Komplek DPR, Senayan, Jakarta yang digelar Fraksi PKS, Selasa, 3 April 2018

10Berita, JAKARTA Wakil Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Dr Hidayat Nur Wahid, MA mengatakan mestinya negara peduli sejarah. Dalam hal ini seharusnya DPR dan Pemerintah menaruh perhatian dalam Peringatan hari penting ‘Mosi Integral Natsir’.

Hidayat mengemukakan hal ini dalam acara Diskusi Publik Memperingati ‘Mosi Integral Natsir’ ke-68 pada 3 April yang diselenggarakan Fraksi PKS DPR RI.

Menurut Hidayat, ‘Mosi Integral’, 3 April 1950, yang dilakukan pahlawan nasional sekaligus seorang Ulama, Dr Mohammad Natsir, adalah peristiwa penting yang harus diperingati setiap tahunnya.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah-daerah, dia formulasikan ke dalam dua kata ‘mosi Integral’. Dua kata ini disampaikannya ke Parlemen pada 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah. PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan ‘Mosi Integral’ ini sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

“Ini peristiwa yang amat luar biasa sangat penting. Makanya aneh jika negara tidak mementingkan itu,” kata Hidayat dalam acara Peringatan ‘Mosi Integral Natsir’ yang berlangsung di Gedung Nusantara I Komplek DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Hidayat juga mengatakan bahwa mestinya DPR melakukan sidang paripurna terkait peringatan ‘Mosi Integral Natsir’. Dia mengingatkan bahwa PKS pada tahun sebelumnya telah mengusulkan akan hal tersebut, namun belum juga direspons.

“Fraksi PKS menyentil DPR untuk menyelenggarakan hari bersejarah ini. Tapi DPR belum sadar juga. Karena hal itu, akhirnya PKS memperingati hari sejarah bersatunya Nusantara ke dalam NKRI itu sendirian,” terangnya.

‘Mosi Integral Natsir’ yang mempersatukan Indonesia dari negara Federal Republik Indonesia Serikat (RIS), menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), adalah karena jasa seorang ulama umat Islam. Hal itu membuktikan bahwa umat Islam sangatlah mencintai negaranya. NKRI lahir dari jasa seorang Ulama yang kemudian menjadi Perdana Menteri Republik ini.

Apalagi saat melakukan ‘Mosi Integral’, Mohammad Natsir adalah ketua Fraksi Partai Masjumi yang notabene adalah partai Islam terbesar. Tentunya, apa yang disuarakan Mohammad Natsir adalah representatif umat Islam kebanyakan kala itu.

“Indonesia (atas kehendak Allah) diselamatkan oleh tokoh-tokoh umat Islam. Karenanya jangan ada Islamofobia,” ungkap Hidayat.

Sebelum ‘Mosi Integral Natsir’ lahir, Irian Barat tidaklah masuk ke dalam RIS. Hidayat pun berseloroh bahwa jika tidak ada ‘Mosi Integral Natsir’, akan tidak ada lagu kebangsaan “Dari Sabang Sampai Merauke”.

“(Jika tak ada ‘Mosi Integral Natsir’), lagu itu tidak bisa diperdengarkan lagi. Sampai Maluku saja,” seloroh Hidayat. (MNM)

Sumber :Salam Online.

Detik-Detik Terbungkamnya Ruhut Sitompul karena Kutip Hoax di ILC

Detik-Detik Terbungkamnya Ruhut Sitompul karena Kutip Hoax di ILC


10Berita, Mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, terlihat terbungkam setelah kutipannya yang disebut fakta ternyata hoax dalam ILC Tahun Politik Memanas pada Selasa (3/4/18).

Dengan retorika yang terkesan memukau, Ruhut mulai bertanya kepada politisi PKS, Mardani Ali Sera yang berhasil membuat lawan diskusinya kepanasan.

"Kau partai Islam, kita mayoritas Islam. Cengeng bawa-bawa data, apalagi hoax." kata Ruhut, nadanya terdengar meninggi.

Ruhut mengaku melihat Mardani bersama bos Abu Travel yang menipu puluhan ribu calon jamaah umrah. "Ada yang namanya Ali Sera bersama Bos Abu Travel memegang seperti yang dia katakan tadi." kata Ruhut kian bersemangat.

"Bayangkan! Ganti Presiden. Itu fakta, tapi itulah. Aku gak mau begitu. Aku orang Hukum. Tapi ada itu di medsos." " lanjut Ruhut, suaranya semakin terdengar meninggi.

Tak hanya itu, Ruhut juga menyebutkan jumlah calon jamaah umrah yang dirugikan karena perbuatan Abu Travel. "Bayangkan! Gara-gara Abu Travel si penyandang dana itu, hampir 80000 jamaah dirugikan." pungkas Ruhut. (Baca: ILC (3/4/18) Adian Napitulu Panas)

Dengan rona kalem, Mardani bersiap mengambil microphone. Dia memulai dengan sedikit berbisik, seakan meminta izin kepada moderator.

Mardani menegaskan, ia tidak kenal dengan pemilih Abu Travel yang disebut oleh Ruhut. "Saya tidak kenal dengan Abu dan tidak pernah foto sama Abu." kata Mardani, kalem.

Ia juga menjelaskan, lelaki yang bersamanya dan beredar di media sosial adalah salah satu pejabat PKS DKI Jakarta.

"Foto saya itu dengan, namanya Zakariya. Dia Ketua Humas PKS DKI. Itu jelas." lanjut Mardani, terlihat kalem seraya tersenyum. (Baca: ILC (3/4/18) Adian Napitulu Ngotot)

Ruhut lekas meralat ucapannya. Ia mengucapkan terimakasih. Namun, Mardani sedikit bertanya kepada pengacara kondang ini.

"Yang hoax jadi siapa hayo?" goda Mardani kepada Ruhut.

Sumber : tarbawia.net

Koling, kopi cita rasa kafe dalam nuasa kaki lima di Maliboro

Koling, kopi cita rasa kafe dalam nuasa kaki lima di Maliboro

10Berita - Berbicara tentang Malioboro, mungkin semua orang tak mampu mendeskripsikannya dengan satu kalimat saja. Menjadi pusat Jogjakarta, Malioboro seperti tak pernah habis memberikan cerita baru kepada setiap pengunjungnya

Ya, tempat wisata yang panjangnya kira-kira dua kilometer ini memang memiliki pesona yang tiada habisnya. Bahkan semua pengunjungnya mungkin akan ingin kembali lagi setiap berkunjung ke lokasi ini.

Sejak awal memasuki kawasan ini, akan ada selalu penampakan sisi Malioboro yang dipenuhi pria paru baya yang sedang duduk bersantai di becak tuanya sembari menunggu pelanggannya. Kemudian pak kusir yang tengah asik memberi makan kudanya, hingga pedagang kaki lima yang sedang menawarkan dagangannya kepada wisatawan.

Dan satu lagi yang unik, setiap 250 meter sekali kaki melangkah ada sesuatu yang seakan tak mau lepas dari perhatian. Dua pria muda yang memakai sorjan dan blangkon khas Jogja dengan gerobak antiknya.

Di gerobak antik itu berjejer teko besar dan berbagai macam toples. Dengan bantuan mesin sederhana, keduanya tengah disibukkan menyajikan segelas kopi yang akan melepas dahaga pengunjungnya.

foto: dok. brilio.net

Gerobak sepeda antik tersebut mampu menghadirkan kopi rasa kafe. Koling. Begitu sebutan untuk penjaja kopi ini. Koling, akronim dari Kopi Keliling, ini menyulap sebuah kopi ala kafe dengan harga kaki lima.

Nicholas Deni Firma, pemilik bisnis ini, mengaku membuka usaha Koling dari sebuah kegemerannya mengelilingi perkebunan kopi dan mempelajari kopi sejak bekerja di sebuah kafe. "Kepikiran pengen buka kedai kopi, cuma waktu itu sewa kedai mahal," ungkapnya.

Bersama sang kakak, pria 22 tahun ini akhirnya membuka Koling pada tahun 2014. Dengan sepeda antik beroda tiga, keduanya membuat usaha yang mulanya bernama Coffee Road 26 ini. Usahanya dirintis bermodalkan uang tabungan dan uang bulanan dari orangtua yang ditotal sejumlah Rp 8 juta.

foto: dok. brilio.net

Saat itu gerobaknya tak sebagus sekarang. Hanya terbentuk dari papan pintu yang diberikan almarhum sang kakek dari Kulonprogo. Sedangkan kompor merupakan pemberian tantenya.

Menggunakan megaphone toa dan menggunakan style barista ala kekinian, keduanya mengelilingi jalanan sambil berjualan kopi. Namun sayangnya hasil dagangannya kadang tak sesuai ekspetasi.

Kemudian terlintas di benak kakak-adik ini untuk mencoba dengan konsep baru untuk menggunakan pakaian Jawa. Strategi ini sekaligus memasukkan unsur budaya dalam bisnis mereka.

foto: dok. brilio.net

Cara ini mampu menarik perhatian warga, meskipun awalnya ketertarikan itu hanya untuk sekadar minta foto bersama. Namun dengan kesabaran dan ketelatenan mereka, lama-lama banyak masyarakat yang akhirnya membeli.

Satu tahun merintis kopi keliling, banyak kejadian unik yang tak dapat dilupakan oleh keduanya sebagai padagang kaki lima. Kadang kala keduanya harus berurusan dengan Satpol PP, atau 'pajak kebersihan' dari oknum. "Mungkin kalau dihitung-hitung sudah kena Satpol PP 100 kali," kenangnya sambil tertawa.

Sukses berkeliling berjualan kopi bermodalkan baju Jawa, keduanya akhirnya memutuskan untuk menjadikan ini hak cipta. Coffee Road 26 pun berubah menjadi CV Kopi Keliling Nusantara. Pergantian nama ini karena aturan mengharuskan nama CV tak boleh menggunakan Bahasa Inggris.

foto: Instagram/@kolingjogja

Pada tahun 2017, keduanya mengajukan proposal kepada Dinas Pariwisata agar diizinkan berjualan di sepanjang jalanan Malioboro. Tentunya konsep Jawa sangat membantu mereka dalam meyakinkan pihak Dispar untuk memberi izin sebagai bentuk melestarikan budaya Jogja. Izin yang mereka kantongi membuatnya tak akan berurusan lagi dengan Satpol PP, sehingga juga memudahkan dalam melakukan promosi.

Kini Koling sudah memiliki enam gerobak yang beroperasi sepanjang Jalan Malioboro. Dalam satu hari, semua gerobak bahkan sudah dapat menghasilkan hingga 500 cup.

Semua produk yang disajikan pun juga berasal dari kopi yang berkualitas. Koling mengambil kopi dari petani yang tak sembarang dan dari berbagai daerah, seperti Temanggung, Bandung, hingga Lampung.

Untuk mengetahui kualitas kopi itu sendiri, setiap dua bulan sekali atau lebih keduanya mengunjungi salah satu pertanian dimana mereka mengambil kopi. "Kalau kopi yang paling laris disini kopi Robusta Temanggung," kata mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta ini.

foto: dok. brilio.net

Untuk menikmati segelas kopi berkualitas ini tentu tak membutuhkan uang yang banyak, kisaran belasan ribu rupiah saja. "Ya ibaratnya orang mau minum kopi di atas Rp 20 ribu kan mending buat makan," sambungnya.

Kini, kakak-adik ini tengah mengembangkan usahanya ke daerah lain. Sebutlah Magelang dan Semarang telah beroperasi tiga gerobak. Dan Jakarta menjadi target selanjutnya. "Mau buka cabang di Jakarta, tapi konsepnya pakai baju Betawi," tutupnya.

Sumber : Brilio.net

Bahaya Menyebarkan Berita Hoaks

Bahaya Menyebarkan Berita Hoaks

Umat Muslim diminta meneliti kebenaran suatu berita sebelum menyebarkannya.

10Berita , JAKARTA -- Kehadiran berita dusta hoaks yang tidak diketahui sumber dan kebenarannya semakin meresahkan. Tak jarang pula berita hoakstersebut menyasar umat Muslim sebagai objek pemberitaan.

Sejatinya bahaya berita hoaks telah disinggung melalui firman Allah SWT dalam surah Al Hujarat ayat enam. Artinya, "Hai orang orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al-Hujarat: 6).

Dalam ayat ini juga dijelaskan, pada dasarnya orang fasik akan berkata dusta meski terkadang mereka juga dapat berbicara benar. Maka dari itu, berita yang disampaikan tidak serta merta diterima atau ditolak, kecuali setelah melewati tahap tabayyun.

Dengan kemajuan teknologi, sebuah berita mampu dinikmati jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat. Maka sudah sepantasnya kita tidak turut serta dalam penyebaran berita yang belum diketahui secara jelas asal usulnya tersebut.

Perlu diingat, wajib bagi seluruh umat Muslim senantiasa waspada dan mewaspadai musuh karena sesungguhnya masih banyak orang-orang munafik yang bersembunyi di tengah kaum Muslim dan terus membuat rencana dan tipu daya untuk memecah kesatuan umat Islam.

Salah satu bencana yang pernah menimpa kaum Muslim akibat mengikuti perilaku orang munafik dalam menyebarkan berita dusta, tertulis dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 11.

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar salam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar." ( An-Nur: 11).

Adapun asal-muasal turunnya ayat tersebut, akibat berita dusta yang dibawa seorang munafik bernama Abdullah bin Ubay bin Salul yang menuduh Ummul Mukminin, Aisyah RA berselingkuh. Kemudian berita ini menyebar di kalangan umat Muslim yang pada saat itu turut serta menuduh Aisyah berselingkuh tanpa meneliti bukti dan kebenaran dari berita yang dibawa Abdullah bin Ubay.

Sumber : Republika.co.id