OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 24 April 2018

Setya Novanto Divonis 15 Tahun

Setya Novanto Divonis 15 Tahun

 

ANTARA/Sigid Kurniawan

10Berita, MANTAN Ketua DPR Setya Novanto divonis 15 tahun setelah terbukti bersalah dalam sidang koruosi kasus KTP-Elektronik, Selasa (24/4).

Vonis tersebut lebih ringan satu tahun dari tuntutan jaksa penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menuntut hukuman 16 tahun untuk politisi Partai Golkar itu karena terlibat dalam korupsi yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun itu.

Dalam tuntutan jaksa KPK, Novanto juga harus membayar uang pengganti sejumlah US$7.435.000 dikurangi Rp5 miliar yang sudah dikembalikan ke KPK. Pengembalian selambat-lambatnya satu bulan setelah hukuman berkekuatan hukum tetap.

Jaksa juga meminta supaya hak politik Novanto dicabut lima tahun setelah mantan ketua umum Partai Golkar itu menjalani masa hukuman.

Novanto dinilai terbukti bersalah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (OL-2)

Sumber : Mediaindonesia

Kritik Jokowi Bagi-bagi Sembako, Dosen di Malut Diperiksa Polisi

Kritik Jokowi Bagi-bagi Sembako, Dosen di Malut Diperiksa Polisi


10Berita, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Khairun, Ternate, Maluku Utara, Hasby Yusuf diperiksa Reskimsus Polda Malut setelah mengkritik Presiden Joko Widodo di media sosial, Twitter. Padahal, dirinya mengaku hanya sebatas menyampaikan kritik terkait Jokowi yang membagi-bagikan sembilan bahan pokok (sembako) ke masyarakat.

"Saya hanya melaksanakan hak menyatakan pendapat terhadap jalannya pemerintahan. Kritik saya bertujuan untuk meluruskan jalan rezim berkuasa dan semua elemen negara agar sesuai dengan harapan rakyat," kata Hasby kepada rilis.id, Senin (23/4/2018).

Meski begitu, Sekretaris Wilayah Korps Alumni HMI (KAHMI) Malut itu menegaskan, siap bila kritiknya terhadap Jokowi itu dianggap dosa. Dia juga siap menjalani proses hukum yang ada.

"Saya percaya serusak apapun penegakan hukum di negeri ini, saya masih percaya bahwa cahaya keadilan masih tetap bersinar pada para penegak hukum," ujarnya.

Hasby mengungkapkan, dia tidak merasa takut sedikit pun dengan kritiknya yang membuatnya diperiksa polisi. Menurutnya, nantinya pasti ada pertolongan berupa keadilan bagi orang-orang yang benar.

"Tidak ada kekuataan yang lebih hebat dan lebih kuat dari kekuataan Allah. Itu keyakinan saya dalam menghadapi masalah ini. Keperpihakan saya hanya pada agama, dan hingga kapan pun akan membela agama, para habaib dan para ulama," tegasnya.

Sebelumnya, Hasby menyampaikan kritikan kepada Jokowi soal bagi-bagi sembako melalui aku twitternya @HasbyYusuf3. Dia menyebut rendahnya kualitas kepala negara yang sampai turun langsung membagikan sembako menggunakan tas kresek.

"Bagi-bagi sembako menjelang pilpres menunjukkan rendahnya kualitas kepala negara. Cukup pak kades yg bagi-bagi sembako. Kepala negara urusnya stok pangan nasional bukan tas kresek," cuitnya pada 21 April 2018.

Bagi-bagi sembako menjelang pilpres menunjukan rendahnya kualitas Kepala Negara. Cukup pak kades yg bagi-bagi sembako. Kepala Negara urusnya stok pangan nasional bukan tas kresek. https://t.co/IkfT41NNTD

— Hasby Yusuf (@HasbyYusuf3) 21 April 2018


Sumber: Rilis.id

***

Apa kabar Wanda Hamidah???

"Jangan sampai nanti engga bisa ngeritik lagi... baru nyesel"

Sumber : PORTAL ISLAM

Masjid Quba Dibangun dengan Pengorbanan dan Perjuangan

Masjid Quba Dibangun dengan Pengorbanan dan Perjuangan

Nabi SAW terbiasa mengunjungi Masjid Quba dengan berjalan kaki.

10Berita , JAKARTA -- Masjid Quba adalah masjid pertama kali yang didirikan Rasulullah SAW, saat beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Beberapa kilometer sebelum memasuki Madinah, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar, membangun masjid di daerah Quba, yang sekarang dinamakan dengan Masjid Quba.

Masjid ini didirikan pada tahun 1 Hijriyah atau sekitar 622 M. Ketika itu, Rasul SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk segera berhijrah dan menghindari kekejaman kafir Quraisy.

Dalam upaya hijrah itu, lokasi pertama yang disinggahi Rasulullah SAW adalah gua Tsur. Di dalam gua ini, Rasulullah SAW bersembunyi bersama Abu Bakar dari kejaran kaum kafir Quraisy.

Setelah kondisinya dirasa aman, Nabi SAW kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. rasul memilih jalan yang berbeda dari jalan umum. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari pertemuan secara langsung dengan orang-orang kafir Quraisy.

Dan sebelum tiba di Madinah, Rasul sempat singgah di beberapa tempat dan salah satunya adalah Quba. Beliau tinggal di daerah ini selama beberapa hari, sambil menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib RA dari Makkah, bersama rombongan.

Ketika itu, saat akan berhijrah, Ali diperintahkan Rasulullah SAW untuk menggantikannya tidur di tempat tidur Rasul. Ini dimaksudkan untuk mengelabui perhatian kaum kafir Quraisy yang ingin membunuh Nabi SAW.

Quba adalah satu daerah yang terletak di wilayah Madinah. Jaraknya sekitar dua mil atau kurang lebih lima kilometer dari pusat kota Madinah.

Hanafi al-Malawi dalam bukunya Tempat Bersejarah yang dikunjungi Rasulullah SAW, menjelaskan, Nabi SAW tinggal di Desa Quba selama empat hari dan kemudian membangun sebuah masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Quba.

Inilah masjid yang dibangun dengan dasar ketaatan dan ketaqwaan Rasulullah SAW kepada Allah SWT.

''Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.'' (QS At-Taubah [9]: 108).

Menurut hadis yang diriwayatkan Tirmidzi RA, orang yang melakukan shalat di Masjid Quba sama pahalanya dengan melaksanakan umrah. Seperti disebutkan dalam Sahih Bukhari, Nabi SAW terbiasa mengunjungi Masjid Quba dengan berjalan kaki atau jika tidak seminggu sekali. Abdullah bin Umar biasa mengikuti sunnah ini.

Dalam riwayat lain disebutkan, masjid Quba ini adalah salah satu masjid yang paling disucikan (dimuliakan) oleh Allah setelah Masjid al-Haram (Makkah), Masjid Nabawi (Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina).

Selama berada di Quba, jelas Al-Mahlawi, Rasul SAW tinggal di rumah Kultsum bin al-Hadam bin Amr al-Qais, seorang lelaki tua yang masuk Islam sebelum Rasul hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah).

Para sejarawan menyebutkan, tanah yang menjadi lahan pembangunan Masjid ini mulanya adalah lapangan milik Kultsum bin Hadam, yang biasa digunakan untuk menjemur kurma.

Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Allah SWT menyebutnya dengan dasar takwa, sebagaimana diterangkan dalam ayat 108 diatas.

Hal ini dikarenakan perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Allah yang harus dilalui dengan penuh rintangan dan halangan. Kaum kafir quraisy hampir setiap saat selalu memantau dan mengawasi aktifitas Nabi SAW.

Dan ketika kesempatan berhijrah datang, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mendirikan masjid sebagai pusat perjuangan dan dakwah Islam. Ini pulalah yang dilakukan Rasulullah SAW begitu tiba di Madinah dengan mendirikan Masjid Nabawi, setelah sebelumnya membangun Masjid Quba.

Sumber :Republika.co.id 

Mengapa Sebaiknya Tidak Gunakan Pengering Tangan di Toilet Umum?

Mengapa Sebaiknya Tidak Gunakan Pengering Tangan di Toilet Umum?


10Berita – Saat pergi ke toilet umum, entah kamu hanya mencuci tangan atau baru saja buang air kecil, kamu bisa memanfaatkan tisu dan mesin pengering agar tangan segera kering. Tapi tahukah kamu bahwa sebaiknya kamu tidak menggunakan pengering tangan di toilet umum?

Dikutip News.com.au, penelitian yang dilakukan ilmuwan dari University of Connecticut, menemukan bahwa mesin pengering tangan ternyata bisa menjadi tempat berkumpulnya banyak bakteri dan kuman dari berbagai tangan manusia. Sedangkan udara yang keluar dari mesin pengering tangan ini akan semakin menyebarkan lebih banyak kuman atau partikel kotoran ke seluruh ruangan.

Dengan kata lain, tangan akan kembali kotor dan tidak steril padahal kamu telah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Applied And Environmental Microbiology ini mengungkapkan bahwa udara panas mesin akan menembakkan partikel kotoran yang sangat kecil ke telapak tangan sehingga tidak ada gunanya kamu mencuci tangan.

Salah satu bakteri yang bisa ditemukan pada alat pengering tangan di toilet umum adalah bakteri E coli, yang dapat memicu diare dan muntaber bahkan penyakit yang lebih berbahaya lainnya.

Bukan hanya pada telapak tangan, peneliti juga melihat ke mana saja udara dengan bakteri ini menyebar. Setelah menyalakan mesin pengering tangan di tiga toilet berbeda, para ilmuwan menempatkan piringan khusus di bawah memancarkan udara panas selama kurang lebih 30 detik. Hasilnya, terdapat sekitar 18 hingga 60 koloni bakteri di lempeng tersebut.

“Hasil ini membuktikan bahwa banyak jenis bakteri, termasuk patogen dan spora, yang bisa menempel di tangan. Bakteri-bakteri ini muncul akibat paparan mesin pengering tangan,” jelas para peneliti.

Sebagai pembanding hasil penelitian, tim penguji telah menyiapkan lempeng atau piringan yang terpapar udara toilet melalui kipas angin. Uji coba ini dilakukan selama 20 menit. Hasilnya, ada sekitar 15 hingga 20 koloni kuman pada piringan tersebut.

Peneliti menyarankan memasang penyaring HEPA pada mesin pengering tangan di toilet umum, karena bisa mengurangi jumlah bakteri dari udara panas yang dikeluarkannya. Atau kalau kamu tidak yakin apakah pengering tangan di toilet bersih atau tidak, tidak perlu menggunakannya setelah mencuci tangan.

Jadi, jika ingin tangan bersih bebas kuman dan bakteri setelah mencuci tangan di toilet, lebih baik cukup mengelap dengan tisu, akan lebih baik lagi jika membawa tisu sendiri ke mana-mana.(kl/lp6)

Sumber : Liputan6.com, EM 

NANCEP BANGET!! Sudjiwo Tedjo: #2019GantiPresiden Kok Dilawan Dengan #2019TetapJokowi, Nggak Ketemu!

NANCEP BANGET!! Sudjiwo Tedjo: #2019GantiPresiden Kok Dilawan Dengan #2019TetapJokowi, Nggak Ketemu!


10Berita,   Kehebohan tagar #2019GantiPresiden yang digagas oleh Mardani Ali Sera dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi viral dan booming di media sosial jelang tahun politik 2019.

Berbondong-bondong warganet pun turut memviralkan tagar tersebut.

Melihat kesuksesan tagar #2019GantiPresiden, kubu relawan Jokowi pun panas. Tak tinggal diam, relawan Jokowi membalas tagar #2019GantiPresiden dengan tagar #2019TetapJokowi.

Pertarungan kedua tagar itu akhirnya membuat Budayawan Sudjiwo Tedjo berkomentar. Melalui akun twitternya, beliau berkicau tentang logika dan matematika.

Dalam kicauannya tersebut Sudjiwo Tedjo menyinggung tentang penggunaan tagar #2019GantiPresiden dan tagar #2019TetapJokowi.

Menurutnya tagar tersebut tidak cocok secara matematis.

Sudjiwo Tedjo mengatakan jika tagar #2019GantiPresiden harusnya dilawan dengan #2019TetapPresiden.

"#2019GantiPresiden kok dilawan dgn #2019TetapJokowi ? Secara #Math ini nggak ketemu. Mestinya #2019GantiPresiden lawannya #2019TetapPresiden .. Kecuali kalau #2019GantiJokowi .. Baru vs-nya #2019TetapJokowi ... Kurikulum pendidikan #Math bangsamu perlu agak dianu," kicau Sudjiwo Tedjo, Selasa 24 April 2018 di akun @Sudjiwotedjo

— Jack Separo Gendeng (@sudjiwotedjo) April 24, 2018

Seperti sudah bisa ditebak, kicauan Sudijiwo Tedjo ini pun menjadi pusat perhatian para warganet.

Banyak yang memuji kicauan Sudjiwo Tedjo, namun ada juga yang mencaci.

Sumber :Portal Islam 

Keluargaku Dulu Cina Kafir, Seperti Kau Sering Teriakkan!

Keluargaku Dulu Cina Kafir, Seperti Kau Sering Teriakkan!

10Berita, TAK ada yang bisa memilih, kita akan lahir di rahim siapa, berkulit apa, dan dimana. Saya, 7 bersaudara:

6 Muslim, 1 Nasrani.

5 orang menikah dengan ‘pribumi’.

Ayah masuk Islam di usia 73 tahun, setahun sebelum meninggal.

Ibu masuk Islam tahun lalu, di usia 79 tahun.

Ayah dan Ibu suku Tionghoa atau Anda sering menyebut dengan ‘Cina’.

Saya dan keluarga tak pernah teriak, “Si Kafir itu…” kepada siapapun. Kenapa?

Mau nyimak cerita Ayah saya?

Ayah saya adalah sosok nasionalis dan idealis tulen yang saya kenal. Cita-citanya menjadi ABRI tak terpenuhi, karena orang tua tak mengijinkan. Kakak pertama saya melanjutkan cita-cita itu sebagai ABRI. Kakak ketiga gagal menjadi ABRI, karena mata sedikit minus. Jika ditanya, “Papah gak pengin jalan-jalan keluar negeri?” Jawabnya, “Ngapain? Indonesia aja bagus, gak habis keliling Indonesia”.

18 tahun kerja di bank swasta, dengan prestasi terakhir menaikkan revenue perusahaan 20 kali lipat dalam 5 tahun menjabat, ‘dipaksa’ mengundurkan diri karena membela seorang karyawan baru ‘pribumi’, yang akan digeser oleh titipan direksi (tionghoa) yang rasialis.

Kemudian beliau melanjutkan kerja di usia 50 an, sebagai manajer keuangan di suatu perkebunan di Lampung. Percakapan yang paling saya ingat saat berkunjung kesana, “Ya’ (panggilan saya), coba lihat, orang-orang (buruh) itu dibayar dibawah angka kebutuhannya (UMR). Kalau mereka punya anak 3 atau lebih, gak akan cukup untuk hidup, maka mereka akan ‘maling’. Suatu saat, kalau kamu jadi bos, jangan pernah bayar karyawanmu dibawah angka kebutuhannya.”

5 tahun bekerja sebagai manajer keuangan, membuat ayah saya dikeluarkan, karena membongkar sindikat koruptor yang melibatkan adik pemilik perusahaan. Saat malam terakhir di Lampung, saya mendampingi dan mendengar ta’mir (pengurus) masjid setempat berkata, “Kami sangat kehilangan Pak Untung (ayah saya). Selama Pak Untung disini, ibadah kami, Bapak permudah. Pak Untung sudah seperti orang tua kami.”, air mata saya pun berlinang. Saat itu ayah saya belum memiliki agama, masih Kong Hu Cu (tradisi).

Di usia 55 tahun lebih, ayah melanjutkan bekerja di Purbalingga. Memilih tinggal di rumah penduduk dan mengembalikan fasilitas mobil sedan. Saya pun bertanya, “Kenapa papah balikin mobil itu? Kan bisa dipakai buat transportasi?”. Beliau menjawab, “Gak ahh, malu. Lha wong mereka (buruh) masih dibayar dibawah UMR, koq papah orang baru, udah pakai mobil mewah. Gimana omongan papah akan didengar mereka?”.

Akankah Anda mengatakan “Cina Kafir” kepada ayah saya?

Sekarang kisah saya.

Di usia 7 tahun (1980), sejak pindah ke rumah yang ketiga, kami tinggal di lokasi yang berdekatan dengan kampung di kota Semarang. Sungguh kaget, saat keluar rumah, anak kampung setempat berteriak, “Cino..!!”, dan langsung mengejar kemudian memukuli saya bertubi-tubi. Bosan melarikan diri terus, saya mulai melawan. Mau gak mau belajar berkelahi. Saat SD, kami sekeluarga disekolahkan di SD Katholik, alasan ayah saya, karena disiplinnya bagus.

Namun ayah saya ingin anak-anaknya berbaur, maka saat SMP, kami semua masuk ke SMP negeri, dimana saat itu hanya 2 orang ‘keturunan’ satu angkatan. Kami tak pernah merasa sebagai seorang ‘keturunan’. Ayah kami mendidik kami anti rasialis. Hal itu dibuktikan, ayah saya mengasuh seorang suku Bali, bernama I Gusti Made Gede, kuliah dan tinggal bersama kami selama 8 tahun.

Sungguh kaget, saat kawan-kawan di SMP berteriak, “Cino..!”. Dan saya pun balas berteriak, “Cino matamuuu..!”. Perkelahian pun sering terjadi.

Sejarah masuk Islam

Karena di sekolah negeri, pelajaran ‘default’ agama adalah Islam, kakak pertama saya mempelajari dan tertarik untuk memeluk Islam saat kelas 2 SMP. Kami, adiknya, satu-persatu masuk Islam saat masuk SMP, kecuali kakak perempuan saya. Tentu saja ayah dan ibu saya belum Islam saat itu.

Lulus kuliah, saya merantau ke Batam dan berjumpa dengan istri saya, yang saat itu beragama nasrani. Kenapa istri saya mau mengikuti saya masuk Islam? Inilah perkataannya, “Aku dulu (saat kuliah di Jakarta) sama sekali antipati dengan orang Islam, karena orang-orang Islam yang kukenal, kasar dan rasialis. Waktu ketemu kamu dan kenal kawan-kawanmu (yang muslim), baru aku melihat bahwa Islam itu damai”.

Kakak kami tertua tak pernah meminta kami mengikutinya masuk Islam. Saya pun tertarik masuk Islam di usia 11 tahun, saat SD, karena melihat kakak-kakak saya sholat. Begitu juga, ayah dan ibu saya, tak ada keterpaksaan masuk Islam. Saya meyakini, agama itu adalah akhlaq yang harus ditunjukkan, bukan dalil yang digemborkan. Seandainya, ayah saya mencalonkan menjadi gubernur, saat sebelum masuk Islam, maka saya akan tetap memilih beliau, karena saya tahu, beliau adalah sosok pemimpin yang bijak.

Anda mungkin sudah menebak arah saya kemana. Ya, benar dan mungkin salah. Saya tak memihak Ahok, karena saya tak mengenal beliau dan saya tahu politik terlalu rumit untuk dipahami. Jika pun saya ber KTP Jakarta, maka saya akan memilih Bang Sandiaga Uno, karena beliau adalah mentor saya dan saya ‘lebih’ mengenal beliau. Tidak ada jaminan akan lebih baik dari Ahok.

Poin saya adalah.

Saya pernah kafir dan saya tak suka disebut kafir, juga Cina. Ayah, ibu, kakak, istri saya pernah kafir, dan mereka tak suka disebut kafir, juga Cina. Maka saya tak akan menggunakan kata-kata itu untuk Ahok atau siapapun.

Memaki dan menghujat tak membuat Islam lebih tinggi, justru Anda telah merendahkan Islam dan memecah belah bangsa ini. Kalau Anda yakin Islam “rahmatan lil ‘alamiin”, tunjukkan saja dengan akhlaq, bukan dengan beribu dalil. Hewan dan tumbuhan saja harus kita sayangi, apalagi manusia. Kalau Anda yakin (dan saya yakin), masih banyak pemimpin muslim yang pantas, tunjukkan saja siapa mereka dan apa prestasinya untuk umat.

Bagi Anda suku Tionghoa.

Kita sudah belajar pahitnya jaman rasialis. Jangan Anda mempertahankan rasialis Anda, dengan memilih Ahok karena suku atau agama. Pilihlah pemimpin yang adil, siapapun itu. Terbukti yang membebaskan kita dari rasialisme bukanlah Soeharto, namun seorang Kyai bernama Gusdur.

Bagi yang tak setuju.

Saya tahu perdamaian adalah hal yang mustahil, karena selalu akan ada yang berdalih dengan dalil untuk menyangkal. Benar dan salah itu nisbi di dunia ini, sampai kita tahu kebenaran hakiki di akhirat kelak. Andaikan kelahiran Anda bertukar rahim dengan saya, apakah sikap Anda akan seperti sekarang?

Bukan dalilmu yang membuatku berubah,

tapi kesantunan akhlaqmu yang ingin kutiru.

Kau tarik aku, maka aku melawan.

Kau rangkul aku, maka aku mengikutimu.

foto: keluarga Setiabudi, 1983 []

Sumber: Jaya Setiabudi, http://juraganforum.com/keluargaku-dulu-china-kafir-seperti-kau-sering-teriakkan/#sthash.LurlJp7Q.dpuf, Islampos.

Ketika Maut Intai Anies dan Sandi, Ada Apa Ini?

Ketika Maut Intai Anies dan Sandi, Ada Apa Ini?


10Berita – Bagi yang jeli dan kritis, dalam waktu yang tak begitu lama, ada dua peristiwa yang hampir merenggut nyawa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Inilah dua peristiwa yang tak biasa:

ANIES SELAMAT DARI KECELAKAAN LIFT YANG HAMPIR DIMASUKINYA

Maret 2017, Anies hampir saja menjadi salah satu korban lift jatuh di blok M. Beruntung beliau masih selamat, karena memilih jalur eskalator. Padahal pihak panitia sudah mengarahkan utk menggunakan lift tersebut. Tapi karena liftnya tetiba sudah terisi penuh oleh pengunjung lain, Anies memilih jalur lain. Cara Allah selamatkan beliau.

https://news.okezone.com/read/2017/03/17/338/1645837/ketika-anies-baswedan-selamat-dari-insiden-lift-jatuh-di-blok-m-square

SANDIAGA SELAMAT DARI PERAHU YANG HAMPIR DINAIKINYA

April 2018, Sandiaga Uno hampir saja menjadi salah satu korban kapal Dishub yang meledak di kepulauan Seribu. Tapi Allah masih selamatkan, padahal hampir saja Sandi dkk menaiki kapal tersebut, tapi ‘digerakkan’ kemudian oleh Allah utk naik kapal yang disebelahnya. Allahu Akbar!

https://www.viva.co.id/berita/metro/1029251-sandiaga-nyaris-jadi-korban-kapal-meledak-di-pulau-seribu

Doa dan simpati kita kepada para korban. Semoga segera pulih seperti sediakala. Tabah dalam musibah ini.

Utk pihak berwenang, diharapkan mampu melakukan investigasi yang mendalam dan tuntas terkait peristiwa di atas, sehingga tak ada tanya yg tersisa di tengah masyarakat.

Akhirnya, hanya kepada Allah sajalah kita berserah diri.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua. Aamiin [rd]

Sumber :Portal Islam 

NGAKAK! Metro TV TERCYDUK Tampilkan Grafik Terbalik Hasil Survei Litbang Kompas

NGAKAK! Metro TV TERCYDUK Tampilkan Grafik Terbalik Hasil Survei Litbang Kompas


10Berita, Rilis survei Litbang KOMPAS Senin 23 April 2018 mengenai kepuasan publik terhadap kinerja Joko Widodo-Jusuf Kalla menjadi sorotan warganet.

Dalam Litbang Kompas, tampak kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-JK meningkat dalam 3,5 tahun pemerintahan. Empat bulan jelang pendaftaran Pilpres 2019, sebanyak 72,2% publik puas terhadap Jokowi-JK.

Survei tersebut dilakukan pada 21 Maret hingga 1 April 2018 kepada 1.200 responden secara periodik.

Populasi survei adalah warga Indonesia berusia di atas 17 tahun. Responden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan margin of error plus minus 2,8 persen.

Hasilnya, apresiasi publik terhadap kinerja keseluruhan pemerintahan Jokowi mencapai angka 72,2%. Tingkat kepuasan ini naik dari hasil survei Litbang Kompas sebelumnya pada 2015, 2016, dan 2017.

Sebaliknya, hasil survei menyebutkan mereka yang merasa tidak puas dengan kinerja pemerintahan Jokowi cenderung menurun. Pada survei terbaru di 2018 ini, hanya 27,8% responden yang tidak puas terhadap pemerintahan Jokowi-JK.

Namun anehnya, dalam sebuah tayangan berita di sebuah stasiun TV, meski narasi sama dengan rilis litbang Kompas, grafis hasil survei tersebut justru menunjukkan kondisi yang terbalik.

Alhasil, grafik hasil survei tersebut pun ditertawakan warganet.

"Ha ha ha ha  ha. Ada tangan lain yg bermain," cuit akun @RestyCayah.

"Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri... *katabiawak," cuit @ZAEffendy.

"aslinya yg grafis nya jujur tuh res 😂...," sahut @nindoexo.

Hasil survei Litbang Kompas tersebut memang diragukan oleh beberapa kalangan mengingat kenyataan ada banyak ketidakpuasan rakyat dalam berbagai bidang.

Warganet juga mempertanyakan lokasi survei dan responden, karena kedua hal tersebut sangat berpengaruh pada hasil survei.

"Survei Kompas tidak mungkin abal-abal.

Hanya saja perlu diperdalam dengan beberapa pertanyaan seperti:
1. Di mana survei dilakukan?
2. Siapa peserta survei?

Jika dijawab lokasi di Istana dan peserta adalah pendukung Jokowi, hasilnya tidak mungkin seburuk itu. He he he," tulis akun @wartapolitik.

Berikut cuplikan video berita yang menampilkan grafik hasil survei yang terbalik.

— agus sriyanto (@swputra) April 24, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

5 Fenomena Aneh yang Pernah Muncul di Bumi, Salah Satunya di Indonesia

5 Fenomena Aneh yang Pernah Muncul di Bumi, Salah Satunya di Indonesia

Awan aneh yang menggulung di langit Richmond, Virginia. (Twitter/@amandacreger)

10Berita, Banyak orang berpendapat bahwa planet yang kita huni, Bumi, menyimpan sejuta misteri.

Ada banyak fenomena yang sejatinya lebih aneh dari apa yang manusia bisa bayangkan. Terkadang bahkan terasa tak masuk akal.

Meski demikian, fenomena tersebut tetap memiliki sisi menakjubkan, membuat orang-orang percaya bahwa Bumi punya kekuatan ajaib.

Meski terkadang indah, namun tak jarang juga ada fenomena alam yang menyeramkan, bahkan terbilang membahayakan kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Dikutip dari Brightside, Jumat (6/4/2018), inilah 5 fenomena aneh yang pernah terjadi di Bumi.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

1. Mata Raksasa di Sahara

The Eye of Sahara

Juga dikenal sebagai Richat Structure, "The Eye of Sahara" terlihat bagaikan mata raksasa yang muncul di Sahara, dekat Ouadane, Mauritania barat-tengah.

Setelah dilakukan penelitian, "The Eye of Sahara" berdiameter 40 km. Strukturnya seperti kubah (dome) yang terkikis. Pertama kali diketahui keberadaannya, fenomena ini ditafsirkan sebagai dampak asteroid.

Ahli geologi menyimpulkan, "The Eye of Sahara" terbentuk karena proses geologis. Sedangkan pusat kubah terdiri dari breksi silika.

2. Gunung Pelangi di China

Zhangye Danxia National Geological Park

Inilah lukisan alam yang dinilai luar biasa oleh sebagian besar orang di dunia: The Rainbow Mountains atau Pegunungan Pelangi. Terletak di Zhangye National Geopark, provinsi Zhangye Danxia, China, pemandangan di sana benar-benar menakjubkan.

Zhangye Danxia dikenal karena warna batu yang tidak biasa, halus, tajam dan menjulang beberapa ratus meter. Bebatuan ini adalah hasil dari endapan batu pasir, oksida besi, dan mineral lainnya yang terjadi selama 24 juta tahun. Hasilnya, mirip dengan kue lapis.

Seluruh batu-batu itu terhubung ke lempeng tektonik yang sama yang membentuk bagian-bagian pegunungan Himalaya. Angin, hujan, dan waktu menciptakan permukaan yang indah, termasuk menara, pilar, dan jurang, dengan berbagai warna, pola, dan ukuran.

3. Air Terjun Darah di Antartika

Air Terjun Darah

Banyak yang berpendapat bahwa Antartika adalah pusat dari kejadian misterius.

Ditemukan pada tahun 1911 oleh ahli geologi Australia, Griffith Taylor, warna merah Blood Falls atau Air Terjun Darah berasal dari besi yang teroksidasi di air laut. Besi menjadi merah ketika memiliki kontak dengan oksigen di udara.

Mulanya, warna merah pekat dianggap berasal dari ganggang merah. Tapi kemudian dikonfirmasi sebagai hasil dari oksidasi besi.

4. Api Biru Kawah Ijen di Indonesia

Menikmati Pagi di Kawasan Kawah Gunung Ijen

Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen, dengan tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut (mdpl), kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 hektar.

Danau kawah Ijen merupakan danau air asam terbesar di dunia. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Setiap dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga 04.00, di sekitar kawah dapat dijumpai fenomena blue fire atau api biru (dikenal juga sebagai api abadi), yang menjadi ciri khas Kawah Ijen.

Warna biru cerah api adalah hasil pembakaran gas sulfur pada suhu yang sangat tinggi, di atas 360 derajat Celcius. Ketika gas-gas ini bersentuhan dengan oksigen, partikel ini menjadi biru.

Pemandangan alami tersebut hanya terjadi di dua tempat di dunia, yaitu Islandia dan Ijen.

5. Air Terjun Bawah Laut di Mauritius

Air Terjun Bawah Laut

Mauritius adalah sebuah negara pulau yang terletak di Samudera Hindia, 2.000 kilometer dari bagian tenggara benua Afrika. Di ujung pulau ini, tepatnya di barat daya, Anda bisa menemukan fenomena ilusi optik yang mengagumkan.

Jika dilihat dari atas, terlihat seperti ada pusaran bawah laut yang muncul di pesisir pantai. Pemandangan "air terjun" ini diambil dari satelit Google Map.

Pola air terjun ini disebabkan karena ombak yang menerjang pasir pantai, mengakibatkan pasir-pasir tersebut membentuk alur dan garis yang menyerupai curahan air terjun.

Meskipun bukan air terjun bawah laut sungguhan, tetapi pemandangan tersebut sangat menakjubkan.

Sumber :Liputan6

Kuda Hitam Anies Baswedan

Kuda Hitam Anies Baswedan


Oleh: Hersubeno Arief
(Jurnalis senior, konsultan media)

10Berita, Hiruk pikuk bocoran dari Romahurmuzy (Romy) soal Prabowo ingin menjadi cawapres Jokowi, pertemuan dan telfon-telfonan antara Luhut Panjaitan dengan Prabowo, pertemuan Wiranto dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan berbagai pernik politik lainnya mengkonfirmasi pada satu hal penting : Bagaimana membuat peta jalan yang mulus bagi Jokowi untuk kembali menjadi presiden.

Ini memang merupakan permainan dan adu strategi yang pelik, rumit, dan penuh kalkulasi politik. Ada strategi pukul, dan rangkul. Tarik, dan dorong. Sandera politik, ada juga gerakan tanpa bola. Namun secara sederhana kita dapat membaca, bahwa tim di belakang Jokowi membuat beberapa skenario.

Pertama, Jokowi menjadi calon tunggal. Kedua, Jokowi berhadapan dengan Prabowo. Ketiga, jangan sampai muncul poros ketiga. Keempat, menutup peluang munculnya calon alternatif dalam hal ini Gatot Nurmantyo, atau Anies Baswedan.

Skenario pertama calon tunggal, bisa terlaksana bila Prabowo bersedia menjadi cawapres Jokowi. Namun kalau toh Prabowo bersedia menjadi cawapres, bukan berarti skenario tersebut bisa berjalan mulus. Para mitra koalisi yang lebih dahulu menyatakan mendukung Jokowi, belum tentu bersedia mengalah dan memberikan tempat kepada Prabowo.

Mereka pasti menginginkan ketua umum, atau setidaknya kader yang diusungnya yang akan dipilih menjadi cawapres. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romy, atau Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar jelas sangat menginginkan posisi tersebut.

Muhaimin secara terbuka menyatakan keinginan tersebut disertai sedikit ancaman. Balihonya juga tersebar dimana-mana. Romy selain berbagai manuvernya, balihonya juga sudah terpasang di berbagai penjuru tanah air. Sementara Airlangga juga melakukan branding “salam empat jari” dan memasang iklan setengah halaman penuh di media. Sementara Nasdem, dan Hanura cukup tahu diri.

Bagaimana dengan PDIP? Sebagai “pemilik” sah Jokowi dan pemilik suara terbesar, PDIP pasti juga menginginkan kadernya menjadi cawapres. Pilihannya antara Sang Putri Mahkota Puan Maharani, atau Kepala BIN Budi Gunawan.

Skenario calon tunggal ini juga hanya bisa tewujud bila Demokrat bersedia bergabung dalam poros Jokowi.

Jadi kesimpulannya skenario calon tunggal ini walaupun “sangat ideal” bagi Jokowi, namun dari kalkulasi secara politik tidak mungkin, atau setidaknya sangat sulit diwujudkan.

Skenario kedua melawan Prabowo. Opsi ini paling logis diwujudkan, dan sejauh ini sudah mulai terwujud. Prabowo sudah menerima mandat pencapresan dari Gerindra. Dalam pertemuan dengan pimpinan PKS di kantor DPP PKS, Sabtu (21/4) tampaknya juga sudah terdapat kesepakatan Prabowo akan menggandeng cawapres dari PKS.

Setelah pertemuan, Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani dengan wajah berbinar menyatakan Prabowo “pasti” maju sebagai capres. “Soal tiket, saya bisa tegaskan 99.9% sudah tersedia,” tegasnya. Sementara Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyebutnya “sudah 95%.”

Skenario ketiga, terbentuknya poros ketiga hanya mungkin terwujud bila Demokrat, PKB, dan PAN sepakat, dan berani. Pertemuan Wiranto dengan SBY, merebaknya kembali kasus Bank Century, merupakan langkah antisipasi dari kubu Jokowi agar poros ketiga tidak terwujud. Kendati secara kalkulasi poros ini sulit terwujud, namun bagi kubu Jokowi tetap saja harus diantisipasi.

Skenario keempat, tampilnya figur alternatif ini hanya dapat terwujud bila Prabowo urung maju, atau poros ketiga terbentuk. Hal itu harus dicegah.

Dari berbagai skenario tersebut sangat terlihat bahwa Prabowo menjadi peran kunci. Dia bisa menjadi faktor yang sangat menentukan, apakah skenario tim pendukung Jokowi bisa terwujud atau tidak. Tanpa disadari Prabowo bisa menjadi “king maker” bagi Jokowi.

Jokowi belum aman

Mengapa Jokowi dan timnya harus melakukan berbagai manuver dan rekayasa politik tersebut? Jawabannya cukup jelas. Elektabilitas Jokowi tidak aman.

Jangan terlalu serius dan percaya begitu saja dengan berbagai publikasi survei yang menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi masih tinggi. Sebab sejumlah survei juga menunjukkan data sebaliknya.

Sejauh ini publikasi survei yang masih selalu mengunggulkan Jokowi bisa dilihat sebagai usaha meyakinkan Jokowi, menumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi, dan mempengaruhi publik opini.

Bila elektabilitas Jokowi tinggi, dan tidak ada calon yang bisa menandinginya, Jokowi dan timnya tidak perlu lagi melakukan berbagai manuver. Cukup duduk manis. Mereka tidak perlu repot-repot merayu Prabowo menjadi cawapres, atau bila tidak berhasil, maka mendorong dan memastikan Prabowo maju sebagai capres seperti yang dilakukan Luhut.

Mereka juga tidak perlu bersusah payah melobi SBY, atau bahkan harus menyanderanya dengan kasus Bank Century seperti diduga oleh Waketum Gerindra Ferry Juliantono. Toh dengan dukungan Golkar, PDIP, PPP, Nasdem, Hanura, dan PKB tiket Jokowi sudah jauh lebih dari cukup.

Berbagai manuver kubu Jokowi bisa dilihat sebagai upaya menutup peluang terbentuknya poros ketiga, dan yang paling utama mencegah figur alternatif Gatot atau Anies mendapatkan tiket.

Benar bahwa Gatot dan Anies dari berbagai survei, elektabilitasnya masih sangat jauh dibandingkan Jokowi, bahkan Prabowo. Namun melihat mood publik yang sangat antusias menyambut gerakan #2019GantiPresiden, dan elektabilitas Prabowo yang stagnan dan cenderung menurun, hal itu mengkonfirmasi adanya keinginan publik akan munculnya figur baru. Bukan Jokowi, dan bukan juga Prabowo.

Prabowo adalah known devil. Secara politik dan finansial kekuatannya sudah bisa diukur. Sebaliknya Gatot dan Anies adalah unknown angel. Kekuatan sesungguhnya belum bisa diukur.

Gatot Nurmantyo kendati elektabilitasnya masih rendah, tapi trendnya terus naik. Rendahnya elektabilitas Gatot bisa dipahami karena sampai saat ini dia belum mendapat kepastian tiket. Jadi dapat dikatakan secara politik, dia belum bekerja. Mesin politiknya belum bergerak penuh.

Banyak simpul-simpul masyarakat dan keumatan yang menggadang-gadang Gatot. Dalam tubuh Gerindra dan PKS juga ada faksi yang mendukung Gatot dan menginginkannya sebagai capres.

Kelemahan Gatot adalah isu kedekatannya dengan taipan Tommy Winata yang juga diakuinya dalam sebuah wawancara dengan Tempo.

Sebagai kandidat potensial, operasi memotong Gatot sudah mulai berjalan. Kelemahannya karena.dekat dengan taipan Tommy Winata sudah mulai diekspose.

Isu ini sangat sensitif bagi umat, dan dipastikan akan dieksploitasi oleh para lawan-lawan politiknya. Banyak foto dan meme yang beredar di medsos.

Kuda Hitam Anies Baswedan

Bagaimana dengan Anies Baswedan? Elektabiltasnya juga masih sangat rendah, hal itu disebabkan karena tidak ada kepastian apakah dia akan maju atau tidak. Namun dengan posisinya sebagai Gubernur DKI, Anies merupakan figur yang dari sisi pemunculan di media (media appearance), dan pencitraan bisa menandingi Jokowi.

Di Pilkada DKI Anies yang berpasangan dengan Sandi bisa membuktikan bahwa dengan dukungan umat, elektabiltas yang rendah bisa didongkrak dalam waktu yang pendek. Lembaga survei banyak yang salah memprediksi Anies-Sandi.

Peluang Anies untuk memperoleh tiket capres dari Gerindra dan PKS juga cukup besar. Anies bagaimanapun menjadi Gubernur DKI karena dukungan kedua partai tersebut. Dengan begitu Anies bagi Gerindra dan PKS bisa disebut “orang dalam.” Untuk kembali membangun kerjasama, tentu tidak sulit.

Semuanya kini tampaknya sangat bergantung pada kepastian jadi atau tidaknya Prabowo maju sebagai capres. Pasca penerimaan mandat, dan adanya kepastian dukungan dari PKS, maka Prabowo akan bekerja keras mendongkrak elektabilitasnya.

Mampukah dia mengkonversi semangat #2019GantiPresiden menjadi dukungan yang massif kepadanya?

Bila elektabilitas Prabowo terus naik, dapat dipastikan dia akan percaya diri untuk maju menantang Jokowi. Sebaliknya bila tetap stagnan, bahkan cenderung turun, saat itulah waktunya untuk melakukan evaluasi. Gatot dan Anies menjadi pilihan dan alternatif yang menarik.

Sumber : PORTAL ISLAM