OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 04 Juni 2018

Ekspedisi Elteha Blitar jadikan Mushaf Qur'an sebagai nota pengiriman, Polisi: Tak ada unsur kesengajaan

Ekspedisi Elteha Blitar jadikan Mushaf Qur'an sebagai nota pengiriman, Polisi: Tak ada unsur kesengajaan

10Berita, BLITAR Video yang beredar secara viral di media sosial yang memperlihatkan bukti nota pengiriman yang dicetak di atas kertas yang dibelakangnya terdapat tulisan Al-Qur’an, membuat geger warganet.

Polisi setempat mengatakan telah memeriksa tiga orang dari PT Elteha Internasional Blitar, jasa ekspedisi, terkait insiden tersebut.

“Benar kami telah menerima video itu kemarin. Dan malam itu kami langsung mendatangi kantor Elteha Blitar. Kami lakukan olah TKP. Tiga orang dari kantor itu kami periksa sampai sekarang,” jelas Kapolresta Blitar AKBP Adewira Negara Siregar, Ahad (3/6/2018), seperti dilansir detik.com.

Ketiga orang tersebut, menurut Adewira, masing-masing berinisial U selaku penanggung jawab PT Elteha Internasional Blitar dan AI serta IAN selaku karyawan di kantor yang beralamat di Jalan Mastrip 18 Kota Blitar tersebut.

Selain meminta keterangan dari tiga orang itu, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti dari kantornya.

“Kami amankan sebagai barang bukti diantaranya satu buah komputer, satu mesin printer, empat lembar kertas bekas cetakan Alquran, satu label pengiriman yang akan ditempel di paket dan satu resi pengiriman dari kantor Elteha Blitar,” ungkapnya.

Menanggapi peristiwa tersebut, telah digelar Rapat Koordinasi antara berbagai pihak di Polresta Blitar. Rapat dihadiri unsur MUI, Kemenag, PBNU, Muhammadiyah, dan Takmir Masjid Agung Kota Blitar.

Menurut polisi, tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus tersebut. Disebutkan, kertas yang dipakai bukan mushaf Al-Qur’an, lansir Suara Islam Online.

Polisi membeberkan kronologi kasus tersebut. Elteha memiliki seorang karyawan yang juga seorang guru ngaji dan takmir masjid yang letaknya tidak jauh dari kantor Elteha. Karyawan ini bila bekerja menyiapkan bahan ajar atau ingin menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an mencetaknya di komputer kantor. Bila ada cetakan kerjanya yang salah atau tidak sempurna, diletakkan di laci meja kantor.

Kertas buram dari karyawan yang seorang guru ngaji tersebut, kemudian secara acak atau tidak sengaja di potong-potong oleh sekretaris Elteha dipakai untuk resi pengiriman barang.

Atas kasus ini, Ketua MUI Kota Blitar KH Subakir mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan mempercayakan masalah ini pada Polresta Blitar. Semua pihak yang mengikuti Rakor di Polresta Blitar juga mengajak seluruh warga masyarakat untuk memaafkan kejadian ini.

“Semua unsur yang mengikuti kegiatan baik MUI, Kemenag, LDII, PD Muhammadiyah, PC NU, dan Ta’mir Masjid Agung Kota Blitar berharap pihak Elteha bersedia meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi.” (haninmazaya/)

Sumber : arrahmah.com

Mahathir: “Malaysia Negara Islam Fundamentalis”

Mahathir: “Malaysia Negara Islam Fundamentalis”


Dr Mahathir Mohamad, Perdana Menteri ke-4 dan ke-7 Malaysia

10Berita,  Malaysia bukan negara “Islam Moderat” seperti yang umumnya dirasakan oleh banyak orang asing, tetapi sebuah negara Islam “fundamentalis”, demikian kalimat tegas Perdana Menteri Dr Mahathir Mohamad belasan tahun lalu itu dilansir kembali oleh malaysia-today.net, Ahad (3/6//2018).

“Banyak negara non-Muslim yang menganggap Malaysia sebagai negara ‘Islam moderat’. Saya harus menjelaskan kepada mereka bahwa kami tidak ‘moderat’. Kami adalah negara Islam fundamentalis,” tegas Mahathir, di Gedung Agustus.

Mahathir menyatakan itu, menanggapi pertanyaan tambahan dari Ahmad Zahid Hamidi di majelis rendah. Menurut Mahathir, orang-orang asing terkejut dengan penegasannya karena mereka berpikir “fundamentalis” adalah orang-orang yang melakukan kekerasan dan “terorisme”.

“Bagi saya, jika kita berpegang pada dasar-dasar Islam, kita tidak bisa menjadi buruk karena Islam menyeru kita untuk berbuat baik, untuk memperkuat persaudaraan di antara kita sendiri. Oleh karenanya, tidak salah jika menjadi Muslim fundamentalis,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dia bangga dianggap sebagai seorang Muslim fundamentalis.

“Saya telah mengatakan ini 15 tahun yang lalu (17 Juni 2002, red) dan diberitakan di surat kabar Amerika bahwa perdana menteri Malaysia adalah seorang fundamentalis. Saya tidak malu menjadi seorang fundamentalis. Saya seorang fundamentalis,” ungkap Mahathir yang pertama kali terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-4 pada 1981 hingga 2003.

Dia juga mengatakan bahwa Malaysia adalah negara yang mempraktikkan ajaran-ajaran dasar Islam dan bukan interpretasi Islam yang dibuat oleh ulama politik.

Perbedaan tidak penting

Sementara itu, wakil ketua Democratic Action Party (DAP—partai sekuler beraliran kiri dengan asas demokrasi sosialisme yang berbasis kaum urban dan non-Muslim dari etnis Cina dan India), Dr Tan Seng Giaw (DAP-Kepong) meminta perdana menteri untuk menunjukkan perbedaan antara negara Islam yang kontroversial dan negara Muslim.

“Perbedaan itu tidak penting. Yang penting adalah fakta bahwa dunia mengakui Malaysia sebagai negara Islam,” tegas Mahathir yang kembali terpilih sebagai perdana menteri ke-7 Malaysia dalam pemilu 9 Mei 2018 lalu dalam usia 92 tahun.

“Saya diundang oleh Paus (John) Paul II karena saya diakui sebagai pemimpin negara Islam. Jika DAP tidak dapat menerima itu, kami tidak peduli. Yang penting dunia menerima itu, termasuk Paus,” tambahnya.

Namun, bagaimanapun, Mahathir menjelaskan, non-Muslim tidak akan ditindas di bawah negara Islam.

Muslim di Malaysia tunduk pada hukum Syariah Islam

“Jika kita mengikuti prinsip-prinsip pemerintahan Islam, non-Muslim akan memiliki tempat (di negara Islam). Apa dasar yang dimiliki DAP karena merasa tertindas ketika saya mengumumkan bahwa Malaysia adalah negara Islam?”

Dia (DAP) bertanya bahwa konstitusi federal belum diubah.

Perdana menteri menjelaskan, Malaysia dianggap sebagai “model negara Islam” bahkan sebelum ia membuat pernyataan tahun lalu bahwa Malaysia adalah negara Islam.

Pengumuman perdana menteri itu menyebabkan kegelisahan di beberapa bagian komunitas non-Muslim.

DAP berada di garis depan kampanye menentang pengumuman soal negara Islam dari perdana menteri tersebut. DAP mengklaim bahwa itu adalah pelanggaran terhadap kontrak sosial Malaysia dan konstitusi federal.

Pemerintah telah menolak klaim tersebut dengan mengatakan bahwa konstitusi belum diubah. Ini menekankan bahwa Islam telah diterima sebagai agama resmi federasi, tetapi non-Muslim bebas untuk mempraktikkan agama masing-masing.

Awal bulan ini, Ketua DAP, Lim Kit Siang ditangkap karena dinilai menghasut dengan membagikan selebaran yang mengkritik pernyataan “negara Islam” dari Mahathir tersebut.

Sebenarnya apa yang diungkapkan Mahathir terkait ‘Malaysia Negara Islam Fundamentalis’, jauh sebelum ini sudah pernah disampaikannya. Utusan Online, 18 Juni 2002, sudah menulis bahwa sebagai Perdana Menteri Malaysia Mahathir menyatakan tak pernah merasa malu mengaku demikian.

Malah, katanya, dia gembira kerana jika diterangkan kepada masyarakat Barat definisi fundamentalis Islam dan asas-asas Islam, mereka setuju bahwa selama ini mereka berpegang kepada definisi yang tidak tepat.

“Jadi kita akan terus menjelaskan bahawa asas Islam memang baik dan siapa yang ikut akan jadi baik dan berjaya. Inilah hasrat saya di Malaysia dan saya amat gembira kerana dapat membuat penjelasan kepada pemimpin bukan Islam yang tidak paham mengenai Islam,” tutur Mahathir seperti dikutip Utusan Online, 18 Juni 2002.

Mahathir bahkan turut bersyukur karana selepas peristiwa 11 September tahun 2001 (Ambruknya menara kembar WTC di New York, red), banyak orang tertarik untuk mengetahui tentang Islam. Kata Mahathir, ini adalah penting bagi mereka untuk mendapatkan penjelasan yang tepat mengenai fundamentalis Islam.

“Dan jangan mereka anggap mereka yang baik adalah kerana menjadi Islam yang sederhana (moderat), karena orang yang baik adalah mereka yang memegang ajaran Islam yang  sebenarnya,” ujarnya.

Pandangan dan pendirian Malaysia mengenai Islam dan kekerasan, terang Mahathir, telah disampaikan dengan jelas dan disambut baik oleh Presiden Bush dan anggota kongres AS yang sempat ditemuinya saat itu.

Mahathir menekankan bahwa kekerasan tidak sepatutnya dikaitkan dengan Islam atau negara-negara Islam saja, karena penganut agama lain juga terlibat dengan kekerasan, tetapi aksi kekerasan mereka tidak dikaitkan dengan agama mereka.

“Saya telah menjelaskan bahwa kekerasan di Palestina disebabkan wilayah orang Palestina dirampas untuk mendirikan ‘negara Israel’ dan juga karena ‘Israel’ melanggar dan menduduki Wilayah Palestina secara tidak sah,” ujar Mahathir.

“Yang menentang ‘Israel’ bukanlah orang Islam semata, tetapi juga orang Arab Kristen,” imbuhnya.

Mahathir menegaskan, penindasan terhadap orang Palestina yang mayoritas Muslim menyebabkan orang Islam lainnya merasa marah dan membalas dengan serangan “berani mati” karena tidak ada jalan lain bagi mereka.

Malaysia, menurut Mahathir, prihatin terhadap nasib rakyat Palestin dan mengutuk sekeras-kerasnya segala kebiadaban yang dilakukan oleh penjajah “Israel” terhadap rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang jelas-jelas melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional.

Malaysia juga, katanya, akan terus menyeru masyarakat internasional supaya mendesak pihak “Israel” untuk menghentikan semua aksi militer dan mundur sepenuhnya dari kawasan Palestina yang diduduki serta mematuhi semua keputusan (PBB). (S)

Sumber: http://www.malaysia-today.net/2018/06/03/malaysia-a-fundamentalist-islamic-country-says-mahathir/ 

http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2002&dt=0618&pub=Utusan_Malaysia&sec=Muka_Hadapan&pg=mh_05.htm
, Salam Online.

Ramadhan Mengasah Intelektual

Ramadhan Mengasah Intelektual

Perintah membaca dari Allah ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu

10Berita , OLEH:  WISNU TANGGAP PRABOWO

Pada bulan Ramadhan sekitar tahun 610 M, Allah menurunkan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang berisi perintah untuk melakukan salah satu aktivitas dalam proses belajar yakni membaca, Iqra!

Perintah membaca dari Allah ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu sekaligus akan meninggikan derajat pemiliknya (QS 58: 11).Membaca berkaitan erat dengan menulis, menelaah, menganalisis, dan merangkum. Sejak turunnya wahyu itulah ilmu menjadi ruh dari Islam yang tidak akan terpisahkan.

Tradisi membaca dan menulis merupakan ciri khas umat ini. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat iqra di atas membawakan sebuah atsar salaf yang menyeru untuk mengikat ilmu dengan tulisan. Maka lahirlah peradaban ilmu umat manusia yang tidak ada tandingannya dalam sejarah manusia. Dari rahim Islam, lahirlah para ulama sekaligus para penulis produktif yang meletakkan fondasi keilmuan dan sains bagi umat manusia.

Aktivitas membaca pada bulan Ramadhan begitu mulia hingga Allah menjanjikan pahala dan kebaikan yang berlipat-lipat ganda. Rasulullah bersabda, Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh." (HR Tirmidzi).

Ketika menjalankan ibadah shaum, seseorang tidak disibukkan oleh syahwatnya sehingga proses belajar semisal membaca dan menulis semakin baik, insya Allah.An-Nadhr bin Syumail berkata, Seseorang tidak akan bisa merasakan nikmatnya belajar sampai dia lapar dan melupakan laparnya.

Dalam membaca dan menulis, para ulama terdahulu begitu bersemangat memanfaatkan waktu agar tidak ada satu menit pun terlewat tanpa manfaat dan faedah. Salah seorang murid senior Imam asy- Syafi'i bernama Imam al-Muzani pernah berkata, Aku membaca kitab ar-Risalahsebanyak 500 kali, setiap kali membacanya saya selalu menemukan ilmu yang baru.

Salah seorang dari guru Imam Bukhari bernama Ubaid bin Ya'isy pernah berkata, Diriku tidak pernah makan dengan tanganku di malam hari selama 30 tahun. Adalah saudara perempuanku yang menyuapkan makanan ke mulutku sementara aku sibuk menulis hadis Rasulullah.

Ramadhan bukan saja bulan saat shalat ditegakkan dan lisan basah oleh tilawah Alquran, melainkan ia juga momen mulia untuk memperdalam ilmu agama.

Syekh Albani pernah berkata kepada putranya, Adapun mengkhususkan bulan Ramadhan hanya untuk tilawah saja, tanpa mengerjakan ibadah yang lain, seperti menuntut ilmu agama atau mengajar hadis dan penjelasannya, maka ini tidak ada dasarnya.

Allah telah memberikan nikmat Ramadhan kepada hamba-Nya dengan seluruh kebaikannya, bukan saja ampunan dan limpahan pahala, tetapi juga kesempatan untuk mengasah intelektual sehingga selalu menggandengkan iman dengan ilmu. Wallahualam.

Sumber :Republika.co.id 

Kader PDIP Geruduk Kantor Radar Bogor, Pushami: Penuhi Unsur Terorisme

Kader PDIP Geruduk Kantor Radar Bogor, Pushami: Penuhi Unsur Terorisme

10Berita , Jakarta – Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia menyebut tindakan persekusi yang dilakukan kader PDIP terhadap media Radar Bogor adalah sebuah tindakan Terorisme. Menurutnya, tindakan tersebut sudah memenuhi unsur terorisme yang diatur dalam definisi terorisme yang baru.

Ia menjelaskan bahwa dalam undang-undang anti terorisme baru, disebutkan definisi terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal.

“Dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan,” ungkap anggota Pushami Pusat, M Kalono kepada Kiblat.net, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Kalono menyebut bahwa dalam definisi ini, tindakan penggerudukan kantor Radar Bogor oleh orang-orang dari Partai PDIP menyebabkan suasana yang menakutkan serta rasa takut yang meluas. Terlebih lagi, dengan adanya ucapan dari Sekretaris Fraksi PDIP di DPR Bambang Wuryanto, yang menyebut seandainya Radar Bogor ada di Jawa Tengah, bisa jadi kantornya sudah rata dengan tanah.

“Unsurnya kan perbuatan dengan kekerasan, atau ancaman kekerasan. Yang dilakukan di Bogor itu adalah ancaman kekerasan, perbuatan dalam bentuk fisik. Lalu ada motif politik,” ungkapnya.

Kalono menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan oleh media massa, dalam hal ini adalah Radar Bogor, sudah diatur dalam Undang-undang Pers. Dalam undang-undang itu, jika ada yang tidak berkenan dalam pemberitaan, maka bisa meminta hak jawab atau melaporkan pemberitaan terkait ke Dewan Pers.

“Jadi tidak harus melakukan hal seperti itu (penggerudukan),” ungkapnya.

Atas penggerudukan itu, Kalono menyebutkan bahwa insan pers merasa terancam untuk melakukan pekerjaannya, menyampaikan fakta secara tertulis.

“Unsur ancaman kekerasan menimbulkan rasa takut, dan itu kan bukan hanya satu dua orang, tapi semua orang, dan itu masuk ke unsur terorisme, dan apa yang dilakukan di Jawa barat dan di Jawa Tengah ada motif politik. Dengan demikian, unsur terorisme nya sudah terpenuhi,” ujarnya.

Kalono juga mengungkapkan, kasus PDIP ini adalah ujian kedua Polri yang dalam hal ini Densus 88 untuk mengatasi teror ini. Setelah sebelumnya kasus pertama adanya ucapan salah seorang penumpang pesawat di Pontianak yang bercanda soal bom.

“Ini ujian kedua bagi polri khususnya Densus 88, setelah kasus pertama adalah di Pontianak itu, yang kejadian di pesawat dan sudah minta maaf karena lelucon dan candaan saja. Meskipun dia minta maaf, maka harus tetap diproses itu, dan jika tidak diproses, yang sakit jiwa pelakunya atau yang memeriksanya,” tukasnya.

Sumber : Kiblat

Lagi-lagi Ahokers Kena Bumerang! Nyinyirin Tempat Sampah Jerman, Ternyata Sudah Dibeli Sejak Masa Ahok

Lagi-lagi Ahokers Kena Bumerang! Nyinyirin Tempat Sampah Jerman, Ternyata Sudah Dibeli Sejak Masa Ahok


10Berita,  Gak kapok-kapok nih ahokers bikin blunder sendiri yang akhirnya jadi bumerang.

Setelah nyinyirin plus fitnah Anies-Sandi soal 'Pohon Plastik' yang ternyata pengadaan era Ahok.

Kali ini soal pengadaan Tempat Sampah dari Jerman. Yang ternyata sejak masa Ahok sudah dibeli.

Hal ini berawal dari upaya Pemprov DKI mengatasi persoalan sampah.

Pada 2013 Ahok mendapat ide dan masukan dari Dubes Indonesia untuk Jerman Eddy Pratomo, untuk mengelola sampah mencontoh Jerman.

[Kompas, 4 April 2013]
DKI Jadi Contoh Pengelolaan Sampah ala Jerman

Jakarta akan menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah berteknologi Jerman. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Jerman Eddy Pratomo seusai pertemuannya dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Jerman akan mengajarkan bagaimana mengelola sampah rumah tangga, tahap pembuangan, bagaimana sampah itu kemudian menjadi energi alternatif, riset pengelolaan sampah industri, dan sebagainya.

"Tentunya juga melalui teknologi Jerman yang sudah maju, kita mencoba share dengan DKI yang wilayahnya cukup padat," kata Eddy.

https://internasional.kompas.com/read/2013/04/04/20532693/dki.jadi.contoh.pengelolaan.sampah.ala.jerman

Ahok minta ilmu cara pengolahan sampah ke Jerman
https://www.merdeka.com/jakarta/ahok-minta-ilmu-cara-pengolahan-sampah-ke-jerman.html

Salah satu realisasi percontohan adalah dengan memodernkan pengangkutan sampah menggunakan  tempat sampah beroda atau garbage bin dan truk compactor dari Jerman.

DKI Beli Tempat Sampah dari Jerman Sejak Masa Gubernur Ahok

Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta tahun ini membeli 2.640 unit tempat sampah dari Jerman dengan total anggaran Rp 9,581 miliar. Pemesanan tempat sampah beroda atau garbage bin ukuran 660 liter dari Jerman.

Kepala Dinas LH DKI, Isnawa Adji, mengatakan tempat sampah atau garbage bindibeli di Jerman sebagai upaya modernisasi proses pengolahan sampah di Ibu Kota. Selain itu, kata Isnawa, pemesanan garbage binmenjadi perlu lantaran berfungsi sebagai pelengkap truk compactor.


Dinas LH memesan 2.640 garbage bin merek Weber dari Jerman (situs: https://www.w-weber.com/en/). Perusahaan yang berlaku sebagai importir dalam pengadaan ini adalah PT Groen Indonesia yang berbasis di Surabaya.

Berdasarkan data Dinas LH, masing-masing garbage bin ini dibeli seharga Rp 3,5 juta, ditambah ongkos kirim dari Jerman sebesar Rp 79,2 juta (untuk 2640 unit), sehingga total dana yang dianggarkan dalam pengadaan ini sekitar Rp 9,581 miliar (atau Rp 3,6 juta/unit sudah plus ongkir).

Pembelian tempat sampah ke Jerman itu bukan yang pertama. Pada 2016, masa Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, kata dia, Dinas LH melakukan pengadaan 96 unit truk compactor. Kemudian pada 2017, Dinas LH melakukan pengadaan 1.500 garbage bin ukuran 120-140 liter dan 660 liter. 

"Kemudian pada 2017, pengadaan lagi 75 truk compactor, dan tahun ini kita beli lagi garbage bin. Jadi kalau tahun ini beli truk, tahun depannya beli garbage bin. Pengadaannya bertahap," ujar Isnawa kepada Tempo, Ahad, 3 Juni 2018.

Menurut Isnawa, DKI Jakarta masih membutuhkan sekitar 3.800 garbage bin lagi untuk dapat betul-betul memodernkan proses pengolahan sampahnya. Isnawa menjelaskan, satu garbage bin dapat menampung sampah yang dihasilkan kira-kira 330 orang atau setara dengan 70 keluarga. Jumlah tersebut didapat dengan asumsi sampah yang dihasilkan tiap keluarga 2-3 liter per harinya.

Dengan adanya garbage bin ini, Isnawa berharap pada masa depan proses pengumpulan sampah dengan cara tradisional dapat berkurang secara bertahap. Alasannya, proses pengumpulan sampah yang masih menggunakan gerobak sampah tidak efektif dan tidak efisien.

"Tukang gerobak mengumpulkan sampah dari permukiman, kemudian di-dumping di TPS. Setelah itu diangkat kembali ke truk sampah untuk dikirim ke TPST Bantargebang. Proses ini tidak efektif dan tidak efisien," kata Isnawa.

***

Dalam hal ini, warga DKI patut berterimakasih kepada Ahok yang telah merintis pengelolaan sampah modern ala Jerman.

Sumber :Portal Islam 

55 Wartawan Terluka oleh Teroris Israel di Jalur Gaza

55 Wartawan Terluka oleh Teroris Israel di Jalur Gaza

10Berita, GAZA – Sedikitnya 55 wartawan yang meliput aksi protes yang sedang berlangsung di Jalur Gaza terluka oleh tentara Israel, kata pemerintah Gaza pada hari Ahad (03/6/2018).

“Pelanggaran yang dilakukan oleh Israel terhadap jurnalis di tanah Palestina telah mencapai total 125, 55 di antaranya terjadi di Gaza,” kata pernyataan pers, lansir Anadolu Agency.

Menekankan bahwa pelanggaran Israel terhadap jurnalis meningkat pada bulan Mei, pernyataan itu menambahkan: “Sembilan dari wartawan terkena peluru tajam, delapan terkena pecahan peluru peledak, 17 menderita akibat bom gas yang langsung ditembakkan ke arah mereka, sementara 21 lainnya menderita sesak napas dan pingsan.”

Pasukan Israel merusak empat kendaraan siaran langsung dengan menembakkan bom gas dan tujuh wartawan ditahan di Tepi Barat. Selain itu, tentara Israel dituduh menembak dan memukul jurnalis.

Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina hari Ahad, jumlah martir Palestina dalam demonstrasi Great March of Returntelah mencapai 123, termasuk 12 anak-anak, dua petugas medis, dua wartawan sedangkan 13.672 warga Palestina – 7.451 di antaranya terkena amunisi hidup – dilukai oleh tentara Israel.

Warga Palestina mengadakan aksi demonstrasi damai bernama Great March of Return di perbatasan Israel di Jalur Gaza sejak 30 Maret. Tentara Israel menggunakan amunisi langsung terhadap Palestina yang menuntut “kembali ke tanah tempat mereka setelah diasingkan dan mengakhiri blokade Israel yang tidak sah yang telah diberlakukan di Gaza sejak 2006 “.

Sumber : Jurnal Islam 

RADIKALISME, Setelah ROHIS Kini Menyasar UNIVERSITAS

RADIKALISME, Setelah ROHIS Kini Menyasar UNIVERSITAS


RADIKALISME

Oleh: Agi Betha
(Jurnalis)

BNPT menuding Tujuh Perguruan Tinggi Negeri terpapar virus Radikalisme: "PTN dan PTS yang banyak kena itu di fakultas KEDOKTERAN dan EKSAKTA."

Sementara mantan Rektor UIN yang juga cendekiawan muslim pro liberal, Azyumardi Azra, malah bersaksi bahwa kampus sebagai tempat bersarang paham radikal. Ia menyebut: "Sarang terorisme itu justru di perguruan tinggi umum."

Mula-mula memang tuduhan seperti itu dapat dengan mudah dipercaya oleh masyarakat awam. Maklum, yang menuduh adalah orang-orang berilmu, juga pejabat-pejabat yang dibayar mahal oleh rakyat sendiri. Tapi ketika tudingan Radikalisme itu hanya disematkan kepada para pengkritisi pemerintah, kepada Universitas-universitas ternama tempat berkumpulnya kaum cendekiawan intelektual berkelas internasional, maka kebenarannya menjadi sumir. Rakyat yang sudah pintar pun jadi kian keras berpikir.

Apalagi ketika belakangan penyematan stigma Radikal itu mulai menyasar kepada SIAPAPUN Penentang Ketidakadilan. Maka tudingan Radikal menjadi tidak murni lagi. Jauh dari arti kata asal dan bisa dianggap mengada-ada. Tak heran jika ramai-ramai di medsos kini si penuding malah ditertawai.

DUNIA TERBALIK. Dunia pun menjadi 'terlobak-labik' ketika diksi 'Radikal' dijual murah. Mempertanyakan soal banjirnya TKA Aseng disebut Radikal Rasis. Mendesak berlakunya keadilan terhadap Bocah Kacung agar ditahan, disebut Radikal Intoleran. Merasa sedih karena sarung dan cadar dijadikan tersangka, dimasukkan Radikal Agama. Membela habib yang difitnah, dikatai Radikal Bela Ulama.

Sebaliknya, polah koruptor turunan aseng yang memiskinkan negara, para pejabat yang ingkar kepada janji di bawah Kitab Suci Agamanya, dan para Ulama Su'u yang mengejar nafsu, malah dijadikan pedoman. Mereka seperti dilindungi dan perkataannya dimuliakan.

TUDUHAN RADIKALISME yang diumbar dan dijual obral itu lama-lama akan menghasilkan makna baru. Jika Radikal biasanya memiliki arti 'tuntutan atau perubahan yang mendasar dan prinsip', maka sekarang bisa menjadi sebutan untuk apa saja. MISALNYA:

•Ketika pesan nasi goreng: "Bang, bikinin satu yg pedesnya Radikal ya!"
•Rayuan lelaki kpd kekasihnya: "Cemana hati abang tak khawatir kehilanganmu dek, cantekmu itu Radikal kali'..!"
•Pelanggan di barbershop: "Tolong cukur yg Radikal, pak. Biar plontos kepalaku."
•Guru kepada muridnya: "anak-anak, belajarlah yg Radikal. Jangan malas, agar kalian bisa diterima di sekolah yg diimpikan."
•Rakyat satu kpd rakyat lainnya yg menyamakan penampakan seorang pejabat dengan Nabi Yusuf: "Dia seperti Nabi Yusuf? Memang kelen nih Radikal betul dungunya..!"
•Komentar rakyat soal BBM: "Naeek saja terus diem2. Kupikir sudah macam Radikal bebas saja harga BBM..!"
•Petani padi tentang panennya: "Bagaimana kami bisa bernapas, jika terus dihantam beras2 Radikal dari luar."
•Jurnalis ekonomi dalam laporannya: "Nilai tukar rupiah terus merosot menghadapi tekanan dolar Amerika yg kian tak terbendung. Pelahan tapi Radikal, rupiah merangkak mendekati angka 15 ribu."

Begitulaah nasib stigma Radikal yang dipaksakan.

Makna kata Radikal sudah tidak suci lagi. Ia bisa bergeser menjadi pengganti diksi atas apa saja. Sesuai dengan kehendak pemakainya dan sangat subyektif.

Terlebih ketika kini Pejabat dan Cendekiawan Liberal pro rezim menyematkan kata Radikal kepada fakultas Kedokteran dan Eksakta. Maka bisa diprediksi, akan makin banyak pelajar yang ingin terdaftar sebagai Mahasiswa di Fakultas-fakultas Radikal. Begitu juga peminat yang ingin diterima di tujuh PTN yang terpapar Radikalisme, pasti jumlahnya akan kian MEMBANJIR. Karena disini, Radikal itu berkonotasi Pintar. Radikal itu Otak Tinggi dan Sexi.

Bagaimana tidak? Jika dalam beragama saja mereka Radikal, apalagi ketika belajar ilmu dunia. Tidak seperti liberal, yang agamanya hanya sampiran dan dunianya untuk mencari kenikmatan. Maka hanya mereka yang Cerdasnya Radikal yang bisa diterima di tujuh Universitas Terpapar Radikal.

"Kamu diterima di Universitas mana?" tanya seorang anak liberal bernilai pas-pasan kpd temannya yg cingkrang berprestasi.

"Di Universitas Sarang Radikal donk..!" jawabnya sambil mengibas celana dan memamerkan senyum Radikal.

Radikal itu Pintar.
Radikal itu berubah jadi Kebanggaan.
Radikal itu jauh di atas kemampuan si liberal dungu.

😎😎😎😎😎

Sumber: fb penulis

***

Hmmh....setelah Rohis, Pesantren, kini Perguruan Tinggi. Makin lama bukan makin berkurang. Malah makin banyak.

Solusinya Adalah:

A. Anggaran Dinaikin (Lagi)
B. Ormas Islam disuruh Instrospeksi
C. Orang Islam Harus Mawas Diri
D. Semua Elemen Harus Ikut Program Deradikalisasi. pic.twitter.com/W0ToWBruNX

— MUSTOFA NAHRAWARDAYA (@NetizenTofa) 3 Juni 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Ini Fatwa MUI Terkait Pemimpin Ingkar Janji dan yang Boleh Tak Ditaati

Ini Fatwa MUI Terkait Pemimpin Ingkar Janji dan yang Boleh Tak Ditaati

10Berita , JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengenai masalah strategis kebangsaan. Fatwa itu mengharamkan pemimpin yang mengingkari janji dan boleh mentaati pemimpin yang memerintahkan sesuatu yang dilarang agama. 

Berikut isi lengkap Fatwa MUI dari Keputusan Komisi A tentang Masalah Strategis Kebangsaan (Masail Asasiyah Wathaniyah) dalam Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia V tahun 2015 tentang Kedudukan Pemimpin yang Tidak Menepati Janjinya yang disampaikan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Shaleh:

1. Pada dasarnya, jabatan merupakan amanah yang pasti dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. Meminta dan/atau merebut jabatan merupakan hal yang tercela, apalagi bagi orang yang tidak mempunyai kapabilitas yang memadai dan/atau diketahui ada orang yang lebih kompeten. Dalam hal seseorang memiliki kompetensi, maka ia boleh mengusulkan diri dan berjuang untuk hal tersebut.

2. Setiap calon pemimpin publik, baik legislatif, yudikatif, maupun eksekutif harus memiliki kompetensi (ahliyyah) dan kemampuan dalam menjalankan amanah tersebut.

3. Dalam mencapai tujuannya, calon pemimpin publik tidak boleh mengumbar janji untuk melakukan perbuatan di luar kewenangannya.

4. Calon pemimpin yang berjanji untuk melaksanakan sesuatu kebijakan yang tidak dilarang oleh syariah, dan terdapat kemaslahatan, maka ia wajib menunaikannya. Mengingkari janji tersebut hukumnya haram.

5. Calon pemimpin publik dilarang berjanji untuk menetapkan kebijakan yang menyalahi ketentuan agama. Dan jika calon pemimpin tersebut berjanji yang menyalahi ketentuan agama maka haram dipilih, dan bila ternyata terpilih, maka janji tersebut untuk tidak ditunaikan. 

6. Calon pemimpin publik yang menjanjikan memberi sesuatu kepada orang lain sebagai imbalan untuk memilihnya maka hukumnya haram karena termasuk dalam ketegori risywah (suap).

7. Pemimpin publik yang melakukan kebijakan untuk melegalkan sesuatu yang dilarang agama dan atau melarang sesuatu yang diperintahkan agama maka kebijakannya itu tidak boleh ditaati.

8. Pemimpin publik yang melanggar sumpah dan/atau tidak melakukan tugas-tugasnya harus dimintai pertanggungjawaban melalui lembaga DPR dan diproses sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

9. Pemimpin publik yang tidak melaksanakan janji kampanyenya adalah berdosa, dan tidak boleh dipilih kembali.

10. MUI memberikan taushiyah bagi pemimpin yang mengingkari janji dan sumpahnya.

Sumber : Ngelmu.co

Ada Yang Panik! Instagram Hapus 3 Postingan Amien Rais Bertemu Habib Rizieq dan Prabowo

Ada Yang Panik! Instagram Hapus 3 Postingan Amien Rais Bertemu Habib Rizieq dan Prabowo


10Berita, Tampaknya ada panik melihat pertemuan Amien Rais dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto di Makkah.

Amien Rais --yang rutin mengupdate pertemuan itu melalui akun Instagramnya @amienraisofficial, sudah kehilangan 3 postingan yang kesemuanya menunjukkan pertemuannya dengan Habib Rizieq dan Prabowo.

Postingan pertama adalah foto perdana pertemuan yang dipublikasikan oleh Amien Rais pada Sabtu (2/6) sekitar pukul 20.30 WIB. Foto itu dikutip kumparan sebagaimana foto cover berita ini, lalu dituangkan dalam tulisan berjudul 'Gandengan Tangan Prabowo-Amien dengan Rizieq Syihab' di Makkah.


Dalam postingan itu Amien Rais menulis, "Mari kita bersatu, beramar ma'ruf nahi munkar, menegakkan keadilan untuk membangun Indonesia bersama-sama." Namun tak lama postingan itu hilang.

Postingan kedua adalah Minggu (3/6) sekitar pukul 02.56 WIB, bersi foto Amien Rais dan Habib Rizieq Syihab berpegangan tangan berdua sambil tersenyum. Amien menulis caption, "Mari kita bersatu padu, beramar ma'ruf nahi munkar, menegakkan keadilan untuk meyelamatkan Indonesia bersama-sama".

Sama seperti postingan pertama, postingan kedua juga dihapus. Kemudian postingan ketiga, Amien sudah menyadari bisa dihapus lagi sehingga meminta pengikutnya untuk menyebarluaskan. Berikut postingan ketiga yang akhirnya benar dihapus juga:

Setelah tiga postingan dihapus, Amien memposting lagi foto namun tanpa Habib Rizieq Syihab maupun Prabowo. Kali ini hanya foto Amien saat bersama anaknya di depan Kakbah. Lalu setidaknya telah 5 jam berlalu, postingan itu masih ada.

Amien Rais mengecam penghapusan tiga postingannya di Instagram. Dia menyebut kebebasan berekspresi telah dicederai. "IG akhirnya menghapus kembali berkali-berkali secara sepihak semua foto yang kami upload, yang berkaitan dengan tokoh tertentu," tulis Amien di aku  IG-nya.

"Ini bukti bahwa kebebasan berekspresi (yang bertanggung jawab) yang menjadi salah satu agenda reformasi kembali diciderai; mengembalikan kita pada era yang represif (order baru), di tengah-tengah kebijakan-kebijakan populis yang palsu (order lama). Kita semua menantikan terang setelah zaman-zaman gelap, bukan sebaliknya! Mari #selamatkanindonesia," lanjutnya.


Postingan di Instagram memang memungkingkan dihapus, selain karena otoritas Instagram, juga karena banyaknya akun yang melaporkan atau meminta postingan itu untuk dihapus.

Aktivis Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya menyebut penghapusan ini karena ada yang panik dengan pertemuan Amien Rais-Habib Rizieq-Prabowo.

"Mereka panik dan takut. Khawatir tidak bisa makan bila Umat Islam bersatu," kata Mustofa Nahrawardaya melalui akun twitternya @NetizenTofa.

— MUSTOFA NAHRAWARDAYA (@NetizenTofa) 3 Juni 2018


Sumber :Portal Islam 

'Bermodal' Hukum tentang Kejahatan Perang, Penembak Razan Al-Najjar Bisa 'Diseret' ke Tiang Gantungan

'Bermodal' Hukum tentang Kejahatan Perang, Penembak Razan Al-Najjar Bisa 'Diseret' ke Tiang Gantungan

 

10Berita, Najjar yang baru berusia 21 tahun ditembak saat sedang menolong seorang demonstran yang terluka di Khan Younes.

Intisari-Online.com - Kematian relawan medis perempuan Palestina Razan Al-Najjarsetelah ditembak oleh penembak runduk (sniperIsrael di Jalur Gaza, Palestina, ramai diperbincangkan.

Hampir semua mengutuk tindakan keji tentara Israel terhadap Najjar.

Apalagi, Najjar yang baru berusia 21 tahun tersebut ditembak saat sedang menolong seorang demonstran yang terluka di Khan Younes.

Selain itu, Najjar juga mengenakan seragam putih yang menandakan dirinya adalah petugas medis serta mengangkat tangannya yang menandakan dia bukanlah ancaman.

"Namun, mereka tetap menembaknya," ujar salah seorang saksi mata.

Selain Najjar ada empat paramedis lain yang dilaporkan mengalami luka-luka saat unjuk rasa berlangsung, Jumat (1/6/2018).

Menteri Kesehatan Palestina, Jawad Awwad, menyebut tindakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masuk dalam kategori kejahatan perang.

"Aksi pasukan Israel merupakan bentuk pelanggaran langsung konvensi internasional," kecam Awwad seperti dilansir Russian Today.

Sementara Menteri Kehakiman Palestina, Ali Abu Diak, mendesak agar Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengambil tindakan.

"Saya meminta ICC untuk mendokumentasikan kebrutalan Israel, dan menyeret mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan perang," kata Diak.

Kejahatan Perang

Kematian Najjar yang merupakan seorang paramedis di medan perang akibat tembakan dari tentara Israel secara jelas telah melanggar Konvensi Jenewa tahun 1949.

Sebab, salah satu poin penting dalam konvensi tersebut adalah bahwa paramedis mendapat perlindungan ketika berusaha menyelamatkan mereka yang terluka dalam konflik.

Pasal 24 dalam konvensi secara khusus menyebutkan "paramedis yang melakukan pencarian, pengumpulan, atau perawatan luka-luka harus mendapat perlindungan khusus".

Apalagi, Najjar secara jelas menggunakan seragam putih paramedis serta mengangkat tangannya saat akan menyelematkan salah seorang demonstran.

Jika pada akhirnya apa yang dilakukan penembak runduk Israel terhadap Najjar benar-benar terbukti sebagai kejahatan perang menurut Pengadilan Kriminal Internasional, maka hukuman yang akan dijatuhkan sangatlah berat.

Sebab, sampai saat ini, hanya ada dua jenis hukuman untuk penjahat perang: hukuman seumur hidup atau hukuman mati.

 

Sumber : Intisari