OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Kamis, 28 Juni 2018

Gerindra: Jagoan PDIP Banyak Yang Tumbang, 2019 Ganti Presiden!

Gerindra: Jagoan PDIP Banyak Yang Tumbang, 2019 Ganti Presiden!


10Berita – Calon kepala daerah yang diusung oleh PDIP di Pilkada serentak 2018 banyak yang tumbang, sosok Jokowi dinilai tidak ampuh untuk menarik suara.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengatakanPDIP sudah seharusnya mencari sosok pengganti Megawati Soekarnoputri.

Ia mengingatkan, sebaiknya Megawati dan Jokowi harus menyadari kalau tahun 2019 pasti ganti presiden.

“Makanya aneh hasil-hasil Survei yang masih terus hasilnya menang Joko Widodo,” kata Arief saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (27/6).

Selain itu, tambah Arief, melihat fenomena ini PDIP dilematis lantaran sudah tidak bisa jauh dari Jokowi untuk dicalonkan sebagai capres.

Ia berpendapat, tumbangnya beberapa jagoan PDIP di Sumatera Utara, Jawa Timur dan Jawa Barat akibat Joko Widodo yang sekarang lebih jadi simbol PDI Perjuangan.

“Ini harusnya jadi evaluasi menyeluruh PDIP,” pungkasnya []

Sumber : rmol

Hijrah Itu Bukan Selfie dan Sibuk Tik Tok, Ya Ukhti

Hijrah Itu Bukan Selfie dan Sibuk Tik Tok, Ya Ukhti



Oleh: Minah, S.Pd.I*

Belakangan ini kita disuguhi tontonan yang seharusnya kita malu jika melihatnya. Tontotan yang rela melakukan apapun tanpa melihat aturan Islam. Mereka hanya mengejar sesuatu yang instan untuk popularitas, lebih mementingkan eksistensi daripada isi, beradu goyang, memperlihatkan mimik wajah aneh, serasa tidak ada lagi etika dan rasa malu.  

Mereka yang katanya hijrah, namun sangat disayangkan ketika etika dan sikap masih belum berubah. Selfie sana sini, baik di media maupun aplikasi video yang diunggah ke media (sebut saja tik tok), memamerkan wajah cantiknya dengan berhias, ada juga yang sengaja wajah dijelek-jelekkan agar viral. Semua berlomba eksis baik yang sudah menutup aurat dengan sempurna atau belum, narsis abis di media sosial. Mereka beradu goyang di aplikasi tik tok, padahal banyak mata yang melihatnya.

Muslimah berhijab bahkan bercadar pun ramai memenuhi wall sosial media kita. Entah demi pamer atau secuil popularitas, mereka berbuat tanpa melihat apakah itu boleh dalam Islam ataukah sebaliknya. Mereka tak peduli lagi apakah itu sesuatu yang mendidik atau tidak, memiliki etika atau tidak, menjaga harga diri dan wibawanya nya sebagai seorang muslimah atau tidak. Mereka melakukan itu seolah tanpa ada rasa malu. 

Sesungguhnya, bagaimanakah seharusnya sikap seseorang yang telah mengazamkan diri untuk berhijrah?

Hakekat Hijrah

Hijrah yakni berpindah dari suatu keadaan yang satu ke keadaan yang lain. Hijrah  adalah taubat untuk meninggalkan segala dosa-dosa, meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Berhijrah untuk menjadi pribadi yang lebih taat yakni menjadi sholeh dan sholehah.

“Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lain selamat dari lisan dan tangannya. Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Hakim, Ibn Hibban & Humaidi)

Jika sudah berhijrah, berniatlah semata-mata ingin mendapatkan ridho Allah dan bertaubat atas perbuatan yang telah melanggar aturan Allah. Kemudian diniatkan yang serius untuk berusaha tidak mengulangi lagi dan senantiasa istiqomah dalam hijrahnya. Hal ini bisa diraih dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah, menjaga akidah dan pergaulan, menutup aurat, rajin salat, rajin menuntut ilmu Islam dan amalan-amalan yang lain.

Ketika seorang Muslimah sudah berhijrah, maka dia harus totalitas dalam berhijrah. Jika dulunya dia tidak menutup aurat, bersikap kurang baik, suka selfie dan narsis yang berlebihan di media sosial serta suka bermain tiktok, maka ketika dia berhijrah menutup aurat, maka kebiasaanya yang suka selfie berlebihan, mainan tiktok, beradu goyang, wajah yang dibuat aneh dll, itu semua harus dihilangkan. Karena sejatinya, berhijrah harus totalitas. Niat ikhlas, caranya benar, dan hendaklah memiliki rasa malu. Malu saat memamerkan diri di depan yang bukan mahramnya, dan menjauhi tingkah laku yang aneh.

Sabda Nabi saw: “Malu dan iman senantiasa bersamaan, jika salah satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” ( Al Mustadrak).

“Sesungguhnya dari apa yang telah diikuti manusia dari kata-kata kenabian yang pertama adalah ‘jika engkau tidak malu maka perbuatlah sesukamu'.” (HR. Bukhari)

Saatnya Muslimah Menjaga Kehormatan 

Perempuan diibaratkan sebagai mutiara. Berharganya sebuah mutiara, harganya tentu sangatlah mahal. Islam menjaga kaum perempuan dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa, dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk mulia yang harus dijaga.

Oleh karena itu, wahai muslimah jagalah dirimu dengan menutup aurat. Menutup aurat adalah kewajiban. Dengan begitu tubuh kita akan terlindungi. Apapun yang Allah perintahkan pasti itu baik untuk hambaNya.

Rasulullah SAW kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu, apabila telah baligh (haid) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud).

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab:59)

Kemudian, selain menutup aurat, perempuan juga tidak tabarruj atau berhias diri. Tidak dandan menor dan tidak menggunakan parfum, “.... Dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabbaruj jahiliyyah terdahulu.” (QS. Al-Ahzab:33).

Sederhanalah dalam menghiasi diri, kemudian hendaklah berteman dengan orang-orang yang baik dan salihah, mengkaji Islam, dan menjaga diri untuk tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Insyaallah dengan begini kita mampu untuk menjaga diri. Selain itu, sikap seorang Muslimah haruslah baik, tidak bersikap aneh di depan orang yang bukan mahrom, tidak upload foto narsis di media, atau beradu goyang di aplikasi video yang diunggah ke media sosial. Karena sejatinya seorang Muslimah harus menjaga dirinya baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

So, Islam telah menempatkan wanita  pada posisi yang mulia dan tidak mudah dieksploitasi para lelaki. Dalam pandangan Islam setiap larangan Allah terdapat keburukan jika dilakukan dan sebaliknya setiap perintah Allah itu pasti terdapat manfaat bagi manusia. Allah SWT mengatur seluruh sisi kehidupan bukan dalam rangka mempersulit manusia tetapi untuk menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, yuk Muslimah, berhijrah total dan jaga kesucianmu! (rf/voa-islam.com)

*Penulis adalah aktivis di Lingkar Studi Perempuan Dan Peradaban

 Ilustrasi: Google

Sumber :Voa-islam.com 

Rabu, 27 Juni 2018

Berantas Teroris OPM, ISAC Desak Pemerintah Turunkan Densus 88 ke Papua

Berantas Teroris OPM, ISAC Desak Pemerintah Turunkan Densus 88 ke Papua


OPM

10Berita, SOLO  – Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono mendesak pemerintah untuk menurunkan Detasemen Khusus (Densus) 88 ke Papua guna menangkap pelaku penembakan pesawat Trigana Air.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi penembakan pesawat Trigana Air oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menewaskan 3 orang beberapa waktu lalu.

“Pelibatan Densus 88 dan TNI harus segera disinergikan untuk penegakan hukum terhadap semua pelaku dan aktor intelektualnya,” paparnya.

Menurut Endro, tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan OPM sudah termasuk tindakan terorisme dan melawan pemerintahan Indonesia.

“Pemerintah harus tegas, jangan terkesan membiarkan, menolerir perilaku OPM sebagai tindakan kriminal biasa, namun harus ditindak sebagai organisasi separatis dan terorisme,” katanya kepada Jurnalislam.com, Rabu (27/6/2018).

Endro mempertanyakan sikap BNPT yang seolah tidak berdaya menangani kasus terorisme di Papua. Sudah seharusnya, pemerintah menjadikan kasus ini sebagai prioritas agar kedaulatan Indonesia di tanah Papua tetap terjaga.

“Kasus ini seharusnya menjadi operasi prioritas pemerintah, jika membandingkan dengan kasus bom di Surabaya aparat mampu menangkap ratusan orang dan menembak mati beberapa orang, maka ISAC menunggu langkah dan sikap aparat penegak hukum dalam kasus terorisme dan separatisme di bumi Papua,” pungkasnya.

Sumber : Jurnalislam.com

Djarot Kalah, Wanita Ini Sebut Warga Sumut Tolol, Tifatul Sembiring Bikin Ia Minta Maaf

Djarot Kalah, Wanita Ini Sebut Warga Sumut Tolol, Tifatul Sembiring Bikin Ia Minta Maaf


10Berita, Ada yang tidak terima kekalahan dengan Djarot di Pilgub Sumut hari ini. Ia bahkan menghina orang-orang Sumut tolol. Hal itu dilampiaskannya di Twitter.

“Ini Sumut orang-orangnya tolol sih. Pantesan mama bapakku ga pernah ngasi kuliah di Medan, gak akan maju. So, selamat jadi Jakarta kedua ya. Semoga cepat-cepat masuk penjara kader-kader yang korupsi dan makan uang rakyat,” kata @flaurencias, Rabu (27/6/2018), mengomentari twit Tifatul Sembiring berisi quick count Pilgub Sumut yang dimenangkan pasangan Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah (ERAMAS).

Ini Sumut orang2nya tolol sih. Pantesan mama bapakku ga pernah ngasi kuliah di Medan, gak akan maju. So, selamat jadi Jakarta kedua ya. Semoga cepat2 masuk penjara kader2 yg korupsi dn makan uang rakyat.

— I'm (@flaurencias) 27 Juni 2018


Tifatul Sembiring pun kemudian mengingatkannya.



“Ini kan hasil pilihan masyarakat Sumut mbak, kok dibilang tolol sih...” kata Tifatul Sembiring melalui akun Twitter pribadinya, @tifsembiring.

Akhirnya wanita itu pun minta maaf.

“Just my opinion Pak. Terima kasih sudah di-comment.”

“Lain kali hati2 mbak, menyampaikan komentar, pilih2 lagi kalimatnya...”

“Tentu saja. Terima kasih masukannya, mention saya ramai sekali malam ini. Mohon maaf jadi memenuhi mention Bapak juga karena beberapa ikut tag kepada Bapak.”

Sumber :Tarbiyah 

Quick Count Pilkada Jabar dari 2 Lembaga, Pemenangnya Asyik

Quick Count Pilkada Jabar dari 2 Lembaga, Pemenangnya Asyik


10Berita, Hitung cepat (Quick count) hasil Pilkada Jabar yang dilakukan dua lembaga menunjukkan perolehan Sudrajat - Ahmad Syaikhu (Asyik) berada di posisi teratas, mengalahkan Ridwan Kamil Uu Ruzhunul Ulum (Rindu).

Kedua lembaga survey dimaksud adalah Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) dan Indonesia Development Monitoring (IDM).

Direktur LKPI Arifin Nur Cahyono mengatakan quick count yang dilakukan lembaganya di 2.780 TPS di Jabar dengan data yang masuk 100 persen.

Hasilnya, Ridwan Kamil - UU Ruzhanul (30,41 persen), TB Hasanuddin -Anton Charliyan (11,17 persen), Sudrajat -Ahmad Syaikhu (30,93 persen) , Deddy Mizwar- Dedi Mulyadi (27,49).

Dia menyebutkan bahwa LKPI melakukan quick count di TPS yang ada desa-desa di Jawa barat. Sedangkan lembaga lain terpantau hanya di kota-kota kabupaten dan kota madya.

"Jumlah TPS yang di jadikan objek quick count oleh LKPI 67,3 persen berada di desa-desa," ucap Arifin di Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018.

Sementara hasil quick count IDM di PIlkada Jabar, mengambil data dari 3.573 TPS di Jabar, dengan margin error +/- 1,6 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Direktur Eksekutif IDM Bin Firman Tresnadi mengatakan data yang telah masuk 100 persen pada Pukul 20.14 WIB. Lembaga ini mengambil data dari 57,3 persen TPS di pedesaan dan 42,7 persen di kota.

Hasilnya pasangan Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum (32,67 persen), TB Hasanuddin - Anton Charliyan (9,43), Sudrajat - Syaikhu (33,12), Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi (24,78).

Sumber : PORTAL ISLAM

Ustadz Arifin Ilham: Yang Menang Jangan Sombong, Yang Kalah Muhasabah

Ustadz Arifin Ilham: Yang Menang Jangan Sombong, Yang Kalah Muhasabah


Ustadz Arifin Ilham

10Berita, JAKARTA – Pemilihan Kepala daerah (pilkada) serentak 2018 baru saja dilangsungkan. Sejumlah lembaga survey pun telah mengumumkan para pemenangnya. Pimpinan Majelis Adzikra Bogor, Ustadz Muhammad Arifin Ilham berpesan kepada pemenang untuk tidak sombong dan membuktikan janji-janjinya semasa kampanye.

“Sikap mu’min : yang menang bersyukur tanpa sombong. Ingat kemenangan sebenarnya membuktikan janji-janjinya,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (27/6/2018).

Ia pun bersyukur pilkada berlangsung dengan aman dan damai. “Alhamdulilah Pilkada kita lalui dengan aman dan damai,” tuturnya.

Namun siapapun pemenangnya, kata diam, adalah kemenangan bersama karena berangkat dari niat yang sama yaitu untuk membangun negeri.

Ustadz Arifin juga berpesan kepada paslon yang kalah untuk bermuhasabah dan bersikap ksatria.

“”Yang kalah bersabar dan tentu muhasabah diri. Dan silakan menunggu pengumuman resmi real count KPU. Dengan ksatria sebagai anak bangsa dan hamba Allah yang beriman, maka ucapkan selamat dan doa bagi yang menang,” katanya.

“Semua wajib berjuang, tidak wajib hasil. Hasil serahkan pada Allah SWT. Keep istiqomah, semakin bertaqwa. Inilah kemenangan haikiki menuju kebahagian dunia akhirat’Faqod faaza’,” sambungnya

Ustadz Arifin pun mengutip salah satu firman Allah SWT: “Sungguh menanglah hamba-hamba yang bertakwa itu.”(QS Ali Imron 185).

“Allahumma ya Allah berkahilah negeri kami tercinta dengan kemuliaan akhlak para pemimpin kami dan rakyat negeri kami tercinta, aamiin,”  pungkasnya.

Sumber : Jurnal Islam

Hasil Quick Count Pilgub KALBAR: Karolin PDIP Yang Pernah Heboh Kasus Video Akhirnya Kalah

Hasil Quick Count Pilgub KALBAR: Karolin PDIP Yang Pernah Heboh Kasus Video Akhirnya Kalah


10Berita,  Pilgub Kalimantan Barat yang digelar hari ini, Rabu (27/6/2018), diikuti tiga pasangan.

Milton Crosby-Boyman Harun (Partai Gerindra dan PAN)
Karolin Margret Natasa-Suryadman Gidot (PDIP, Partai Demokrat, PKPI)
Sutarmidji-Ria Norsan (Partai Golkar, Nasdem, PKB, PKS, Hanura)


Berdasar hasil hitung cepat (quick count) yang dirilis berbagai lembaga survei, pasangan Sutarmidji-Ria Norsan menang.

Rilis quick count Poltracking dengan 93,80% suara masuk, Sutarmidji-Ria Norsan meraih 51,61%. Disusul Karolin Margret Natasa-Suryadman Gidot 40,82%. Dan Milton Crosby-Boyman Harun 7,58%.

Hasil quick count Pilgub Jabar ini cukup mengejutkan. Karena sebelumnya diprediksi calon yang diusung PDIP (Karolin-Gidot) yang akan menang.

Karolin Margret Natasa merupakan anak dari Drs. Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat dari PDIP dua periode (2008-2013 2013–2018).

Wanita kelahiran 12 Maret 1982 ini pernah mendadak tenar pada 2012 lalu, ketika masih menjabat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDIP. Namun, bukan prestasi yang membuat Karolin terkenal. Ia saat itu menjadi sorotan publik karena terseret kasus video porno. Dalam sebuah video porno yang beredar di dunia maya, Karolin disebut sebagai salah satu pemeran.


Namun, ia membantah keras tudingan ini. Ia menyebut skandal itu muncul karena ayahnya hendak maju di Pilgub Kalbar di tahun 2013.

Atas kasus tersebut, Karolin berurusan dengan Badan Kehormatan (BK) DPR. Meski kasusnya sempat menghilang, namun pada 2013 kasus tersebut kembali muncul setelah BK membentuk tim untuk memastikan kebenaran video tersebut.

Sumber: Kumparan

Lonjakan Suara Asyik dan Lampu Kuning Jokowi

Lonjakan Suara Asyik dan Lampu Kuning Jokowi

10Berita, Penghitungan suara Pilkada Jabar 2018 di TPS sudah dilakukan. Lembaga-lembaga survei juga telah menginformasikan hasil quick countnya. Ada lonjakan drastis suara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), sekaligus jadi lampu kuning bagi Jokowi. Mengapa demikian?

Berdasarkan data quick count Pilkada Jabar versi LSI hingga pukul 16.16 WIB dengan data masuk 92,89%, tercatat:

Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,87%.
Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 12,97%<br>
Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 28,11%.
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 26,05%.

Berbagai lembaga survei juga mencatat hasil tak jauh berbeda. Jarak antara Rindu dan Asyik selisih 1-3% sehingga masih terlalu dini untuk mendeklarasikan kemenangan. Karena dengan margin of error yang ada, bisa jadi posisinya bisa berbalik.

Tulisan ini bukan untuk membahas siapa yang menang karena memang belum ada pihak yang jadi pemenang. Yang ingin dianalisis adalah meningkatnya suara Asyik. Satu bulan menjelang pencoblosan, “Rindu”masih unggul di papan survei berbagai lembaga.

Survei Indo Barometer menempatkan elektabilitas pasangan Rindu sebesar 36,9% atau terpaut 6,8% dari pasangan Duo DM yang mengantongi 30,1%.

Lembaga Lingkaran Survei Indonesia Network Denny JA menyebut elektabilitas pasangan Asyik hanya sebesar 8,2 persen. Terpaut jauh dari “Rindu” 38,3 persen dan Deddy-Dedi 36,2 persen.

“Jika melihat hasil survei, Hasanah dan Asyik hampir enggak mungkin menang,” ujar Direktur Eksekutif LSI Denny JA, Toto Izul Fatah saat ditemui usai merilis survei di kawasan Jalan Citarum, Kota Bandung, Kamis (21/6).

Tapi jika mengacu pada hasil quick count, prediksi lembaga survei ternama itu tak terbukti. Asyik yang mereka sebut tak lebih dari angka dua digit elektabilitasnya, ternyata hampir mencapai 30%, selisih sangat tipis dari “Rindu”.
Suara Asyik versi quick count ini bahkan mendekati raihan Aher-Deddy Mizwar pada Pilkada Jabar 2013 lalu. Pasangan Aher-Deddy menang dengan perolehan suara sah 6.515.313 atau 32,39 persen.

Ini jelas sebuah sinyal bahaya bagi Jokowi. Karena “Rindu”sudah kadung diketahui salah satu proxy Jokowi. Istana belajar dari Pilkada DKI Jakarta 2017. Jika head to head, maka jadi pecundang. Lalu disiapkanlah sebanyak mungkin kandidat yang berpotensi menang dan bisa dikendalikan dengan mengikat kontrak politik mendukung Jokowi jadi capres pada 2019. Sosok Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar ada pada titik ini.

Dengan popularitas dan elektabilitas “Rindu” juga Deddy Mizwar ternyata tak mampu membuat Istana menang telak. Salah satu sebabnya bisa diduga karena positioning Asyik yang sejak awal dengan tegas akan mengganti presiden. Jargonnya: #2018AsyikMenang, #2019GantiPresiden. Debat putaran kedua saat Asyik mempertontonkan kaus ganti presiden, dipercaya jadi momentum meningkatnya elektabilitas.

Di sisi lain, waktu yang dimiliki Asyik relatif terbatas. Pasangan ini dibentuk pada akhir Desember 2017, dan baru pada awal Januari 2018 dideklarasikan. Tak banyak publik Jabar yang tahu siapa Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Tapi dalam rentang enam bulan, mereka bisa melejit.

Mesin partai dalam hal ini kader PKS jadi salah satu kuncinya. Jabar dikenal sebagai basis PKS. Dua kali Aher menang tersebab militansi yang dimiliki kader PKS, selain soal ketokohan pasangan Aher yakni Dede Yusuf pada 2008 dan Deddy Mizwar pada 2013. Dan ini kembali diulangi pada Pilkada Jabar 2018.

Ingat, pilpres masih ada sekitar 10 bulan lagi. Agustus nanti akan diketahui siapa capres dan cawapres. Jika kader PKS jadi salah satu kontestan dan waktu yang dimiliki masih cukup panjang, maka Jokowi patut risau. Apalagi tagar #2019GantiPresiden akan terus bergema

Jadi, hasil Pilkada Jabar versi quick count ini, sambil menunggu pengumuman resmi KPU, jadi lampu kuning bagi Jokowi yang bisa menggusurnya dari kursi presiden.

Sumber : Ngelmu.co

JEBREET!! Elisa HAJAR KOMPAS yang Tak Akurat Soal Kinerja Positif Anies Baswedan di Kampung Akuarium

JEBREET!! Elisa HAJAR KOMPAS yang Tak Akurat Soal Kinerja Positif Anies Baswedan di Kampung Akuarium


10Berita, Warga Kampung Akuarium berencana mencabut gugatan kelompok atau class action yang ditujukan terhadap Gubernur DKI Jakarta, Wali Kota Jakarta Utara,  Kapolri, Panglima TNI dan Kepala Badan Pertahanan Nasional, Selasa 26 Juni 2018.

Sebelumnya, gugatan tersebut diajukan terkait penertiban permukiman warga Kampung Akuarium yang dilakukan oleh Pemprov DKI April 2016 yang saat itu masih dipimpin Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Kuasa hukum warga Kampung Akuarium dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Nelson, mengatakan, keputusan mencabut gugatan itu diambil setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 878 Tahun 2018 tentang Gugus Tugas Pelaksanakan Penataan Kampung dan Masyarakat.

"Warga Kampung Akuarium mencabut gugatan karena gubernur sudah mengeluarkan Kepgub. Ini hasil diskusi dengan warga," ujar Nelson di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Nelson mengatakan, pencabutan gugatan tersebut juga melihat niat Anies yang ingin membangun kembali perkampungan warga.

Tak hanya itu, Anies juga berencana mengaktifkan kembali kartu tanda penduduk (KTP), membangun tempat tinggal sementara (shelter), dan membuat community action plan secara partisipatif untuk menata Kampung Akuarium.

Pencabutan gugatan tersebut juga untuk menghindari perbedaan putusan pengadilan.

"Untuk menghindari perbedaan keputusan pengadilan dengan rencana yang diawali dengan Kepgub tersebut, warga memutuskan untuk mencabut gugatan," ujar Nelson.

Sumber: KOMPAS

----------

Menanggapi isi berita Kompas, seorang aktivis ahli tata kota Elisa Sutanudjaja merevisi pernyataan tersebut.

"Wahai @kompascom saya revisi ya beritanya:
1. KTP warga Kp Akuarium sudah diaktifkan kembali sejak awal tahun 2018. RT sdh dibentuk kembali
2. Shelter / Hunian Sementara sdh selesai dibangun pd April 2018
3. Community Action Planning sedang berlangsung," tulis Elisa, Selasa, 26 Juni 2018.

Wahai @kompascom saya revisi ya beritanya:
1. KTP warga Kp Akuarium sudah diaktifkan kembali sejak awal tahun 2018. RT sdh dibentuk kembali
2. Shelter / Hunian Sementara sdh selesai dibangun pd April 2018
3. Community Action Planning sedang berlangsung. https://t.co/TwIrmBZFKW

— Elisa Sutanudjaja (@elisa_jkt) June 26, 2018


Melihat revisi dari Elisa, warganet kagum dan membandingkan Elisa dengan Kompas .



Sumber :Portal Islam 

PDIP Dimana-mana KEOK

PDIP Dimana-mana KEOK

(Ketum PDIP Megawati dan Sekjen. Foto: Google)

10Berita, Pilkada Serentak 2018 digelar hari ini, Rabu (27/6/2048), di 171 wilayah, termasuk 17 pemilihan gubernur (pilgub).

Dari hasil quick count yang dirilis berbagai lembaga survei yang disiarkan secara LIVE oleh beberapa stasiun TV swasta nasional, ada fenomena beberapa calon kepala daerah yang diusung PDIP kalah.

Di Pilgub Sumatera Utara, pasangan Djarot-Sihar yang diusung PDIP kalah dari pasangan ERA-MAS.

Di Pilgub Jawa Barat, pasangan yang diusung PDIP Tubagus Hasanuddin - Anthon Charliyan (HASANAH) bukan hanya kalah tapi menduduki posisi buncit dari empat pasangan.

Di Pilgub Kalimantan Barat, PDIP yang merupakan petahana gubernur selama dua periode, pasangan yang diusung Karolin Margret Natasa-Suryadman Gidot kalah dari Sutarmidji-Ria Norsan yang diusung Golkar, PKS, PKB, Nasdem, Hanura.

Di Pilgub Kalimantan Timur, pasangan yang diusung PDIP Rusmadi Wongso dan Irjen Safaruddin kalah dari pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi yang diusung Gerindra, PKS dan PAN.

Di Pilgub Jawa Timur, pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang diusung PDIP kalah dari pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.

Di Pilgub Jawa Tengah, PDIP masih meraih kemenangan. Namun perolehan petahana Ganjar tak sesuai prediksi lembaga survei yang bakal menang sangat telak. Justru yang mengejutkan pasangan Sudirman-Ida mampu melejit meraih lebih dari 40%. Padahal Jateng basis kuat PDIP dan hanya ada dua calon yang maju. Artinya basis PDIP di Jateng ikut tergerus.

Merlihat beberapa fenomena keoknya PDIP di Pilkada Serentak 2018, bahkan di beberapa wilayah kunci PDIP, maka akan berdampak signifikan melorotnya Jokowi dan semakin melajunya #2019GantiPresiden.

Sumber : PORTAL ISLAM