OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Minggu, 02 Juli 2017

Bagaimana Menyiapkan Anak-Anak Menjadi Pengusaha

Bagaimana Menyiapkan Anak-Anak Menjadi Pengusaha



SAAT ANAK-ANAK BERJUALAN

Selain rutinitas sekolah, menghafal Al Quran, disiplin membaca, ada kegiatan rutin anak-anak yaitu berjualan di sekolah. Untuk menanamkan bahwa seorang muslim juga harus berusaha bukan hanya ibadah saja, sebagaimana ucapan Umar bin Khattab kepada orang yang hanya duduk di masjid
أَنَ السَّمَاءَ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلاَ فِضَةً
“..bahwasanya langit itu tidak menurunkan hujan yang berupa emas dan tidak pula perak”.

Sudah lumayan lama anak-anak berjualan, saat pagi -pagi berangkat sudah disiapkan sama uminya perangkat jualannya (es yoghurt dsb, semua makanan sehat), 3 anak bergantian. Setiap siang dihitung keuntungannya lalu dimasukkan ke tabungan mereka. Awalnya malu-malu tetapi karena tidak dibebani hanya disemangati akhirnya anak-anak terbiasa dan melakukanya tanpa beban.

Dan bagusnya selama ini lebih banyak tanggapan positif, dan belum pernah dengar nada sumbang seperti “Bapaknya direktur kok anaknya suruh jualan”. Tapi jika pun ada dijamin akan dicuekkin; karena mundur dari hal positif gara-gara celaan itu benar-benar nggak keren banget dan rugi.

Zaman terus berubah, tugas orang tua selain mendidik menjadi sholeh juga melatih anak-anak agar bisa eksis menghadapi berbagai tantangan zaman.
Salah satunya tantangan ekonomi terlebih jika anak-anak nya laki laki.

Dalam masalah ekonomi minimal ada 2 hal yang perlu diajarkan :

1- Karakter Berusaha
Bagiannya anak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupannya, tidak malu berusaha yang halal, tidak mengandalkan orang tua, rajin & giat malakuakm kegiatan yang menghasilkan dsb.

Caranya membentuk karakter berusaha ini sangat banyak dan beragam. Tiap orang punya cara tersendiri. Melatih jualan hanya salah satu cara diantara ratusan cara lainnya, yang penting tertanam dalam jiwa mereka rada tanggung dan mau melakukan usaha nantinya.

2- Kemampuan Usaha.
Betapa banyak orang yang sudah mau bekerja tapi akhirnya kesulitan untuk eksis, terdesak oleh perubahan zaman.
Rajin tapi tidak bisa banyak berbuat karena banyak faktor, tetapi kesimpulannya adalah kemampuan usahanya lemah atau kurang bisa menyesuaikan perubahan keadaan.

Nomor dua ini jauh lebih rumit dibanding nomor pertama, karena terkait dengan zaman yang terus berubah. Tabiat usaha saat ini belum tentu sama dengan 10 tahun mendatang. Terasa sekali pergeseran tabiat dan kondisi usaha di sekitar kita, misalnya pertanian makin beekurang, pedagang di pasar-pasar tradisional tergusur mini & super market, Taksi dan angkutan konvensional nyali tersaingi transportasi berbasis aplikasi, dsb.

Maka diantara hal yang bisa dilakukan adalah dengan membekali anak-anak pengetahuan seluas mungkin, pendidikan formal maupun non formal sebaik mungkin, dan memperkenalkan mereka dengan perubahan – perubahan situasi ekonimi yang terjadi di sekitar mereka dari tahun ke tahun dengan bahasa yang sesuai usia mereka.

Juga bisa dengan membuat semacam program “Business Coaching” secara tidak formal dan terus menerus. Bisa oleh kita orangtuanya maupun melihat orang lain, karena syarat coach / pembimbing nya harus yang wawasan dan kemampuan usahanya “diatas” keadaan. Faqidus syaiin laa yu’thiih. . yang nggak punya nggak bisa pula memberi, begitu kata pepatah Arab bilang.

‘Ala kulli haal setiap zaman punya tantangan .. dan hendaknya kita menyiapkan anak-anak kita dengan bekal untuk menghadapi zamannya nanti yang tidak sama dengan zaman kita.

Iman, ilmu agama, kesalehan, kedekatan dengan Alquran itu pasti diperlukan.. Tapi kemampuan secara ekonomi juga sedikit banyaknya perlu dikasih perhatian.

(M Abu Abdillah)

Sumber: Ummat pos


Related Posts: