OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Johannes Marliem, Saksi Kunci Kasus E-KTP Tewas Di Los Angeles, Bunuh Diri Atau .....

Johannes Marliem, Saksi Kunci Kasus E-KTP Tewas Di Los Angeles, Bunuh Diri Atau .....

10Berita - Saksi kunci kasus korupsi e-KTP, Johannes Marliem, tewas di kediamannya di Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS). Marliem diduga menembak dirinya sendiri.

Dilansir CBS Los Angeles, Jumat (11/8/2017), kawasan Beverly Grove di Los Angeles ditutup sekitar pukul 05.00 sore waktu setempat sekitar 600 blok dari North Edinburgh Avenue. Reporter media lokal melaporkan seluruh area di sekitar Melrose dan Crescent Heights ditutup.

Peristiwa itu awalnya dari laporan telepon ke FBI yang kemungkinan diteruskan LAPD (Los Angeles Police Department) pada Rabu (9/8) malam. Para petugas yang tiba di lokasi menduga ada seorang anak kecil dan seorang wanita di dalam rumah bersama seorang pria.

Para petugas pun melakukan negosiasi. Pada akhirnya, wanita dan anak kecil itu dibawa keluar oleh laki-laki itu sekitar pukul 07.30 malam.

Sementara, laki-laki itu ditemukan tewas di dalam rumah sekitar 02.00, Kamis (10/8) dini hari. Namun belum diketahui pasti apa penyebab laki-laki itu tewas, diduga kemungkinan besar dia menembak dirinya sendiri.

Dari penelusuran, laki-laki itu diduga adalah Johannes Marliem. Kabar tersebut mengonfirmasi postingan di Instagram dari dengan akun mir_at_lgc. Dia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Marliem.
Dia memposting foto bersama Marliem dan seseorang yang disebutnya CEO of Lamborghini. Dalam kolom komentar, ada akun citywhips yang menyebutkan soal insiden The Beverly Grove di mana Marliem tinggal dan diamini oleh akun mir_at_lgc tersebut.

Sebelumnya Ketua KPK Agus Rahardjo juga mengamini kabar tersebut. Agus mengatakan bila saat ini terus mengecek kabar itu.

"Sudah kemarin (dapat kabar Johannes Marliem meninggal dunia), kita juga sedang cari kepastian," ucap Agus ketika dikonfirmasi detikcom, Jumat (11/8/2017).

Marliem merupakan provider produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1 yang akan digunakan dalam proyek e-KTP. Dia disebut merupakan saksi kunci dalam kasus itu. (dtk)

Sumber: www.beritaislamterbaru.org

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

10Berita, Bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan tidak takut dianggap mengkritik orang. Kalau sesuatu diyakininya sebagai kebenaran, ia akan mengungkapkannya kepada siapa pun. Tanpa kecuali. Beberapa pejabat pernah kena 'semprot' kritik tajamnya menyangkut kebijakan yang mereka keluarkan. Sikapnya yang terbuka ini pula yang menyebabkan ia banyak mengkritik umat Islam Indonesia. ''Umat Islam masih menyimpan ajarannya di kantong,'' kata Prof dr Chehab Rukni Hilmy kepada Republika, kala itu.

Maksudnya, ajaran agung yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW hanya jadi pembicaraan saja, namun sulit terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ajaran Islam demikian mudahnya untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru besar FKUI ini juga banyak berbicara tentang kelangkaan rumah sakit Islam, kedokteran Islam hingga pengajian dokter. "Maaf, menurut saya keimanan umat Islam kita masih di kantong baju. Mereka masih terlalu mengutamakan ibadah. Jeleknya mereka demonstratif. Tak sedikit yang berhaji sampai tujuh kali. Hanya orang Indonesia yang pergi haji sampai tujuh kali, tapi jarang menyumbang ke rumah sakit demi kepentingan orang," ujarnya (8/9/1996).

Karena itu, jangan heran rumah sakit Islam yang ada di Indonesia masih sedikit. Mestinya rumah sakit Islam paling banyak ada di Indonesia mengingat jumlah penduduk kita mayoritas Islam. Ini yang sangat disayangkan. Katanya, jumlah umat Islam mencapai 165 juta lebih, tapi mana kepedulian mereka untuk kesehatan?

Padahal, Islam sangat menganjurkan memperhatikan kesehatan. Bukan hanya sekadar menganjurkan, tapi sudah dengan tegas mengatakan bahwa kesehatan merupakan bagian dari iman.

Lantas bagaimana peran para ulama? Dia  mengatakan, kenyataannya kepedulian umat Islam terhadap kesehatan masih kurang. Ini artinya para ulama belum berperan dengan baik. Mestinya, mereka mampu mendorong umat untuk lebih peduli terhadap kesehatan, karena Islam itu bukan sekadar ibadah ritual semata, tapi juga seluruh kehidupan manusia.

Umat Islam saat ini boleh dibilang masih terbelakang dalam banyak hal. Maafkan, masyarakat Islam di Indonesia masih dianggap bodoh. Contoh, saya belum lama mengajak anak saya yang pulang dari pesantren dan terkena penyakit kulit. Dokter terkenal yang beragama Nasrani itu berkomentar, ''Ah, biasa Hab. Semua yang dari pesantren pasti kena penyakit seperti ini.''

Sebagai kolega tentunya dia tidak akan mengatakan seperti itu kalau tidak dari lubuk hatinya punya anggapan pesantren itu punya orang kampung. Saya tidak marah, karena kenyataannya memang demikian. Tapi, hal itu sepertinya jadi trade mark yang digunakan orang yang tidak simpatik kepada Islam untuk menjelek-jelekkan.

Di masa lalu kedokteran Islam terkenal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Kenapa para dokter Muslim saat ini masih berkiblat pada kedokteran Barat yang seringkali mengabaikan masalah agama?

Masalahnya, apakah di setiap fakultas kedokteran kita diajarkan mata kuliah sejarah kedokteran Islam. Jawabnya, tidak. Sama sekali tidak. Hanya dulu di FKUI pernah disampaikan sekali kuliah umum tentang kedokteran Islam. Ketika itu dekannya Prof dr Asri Rasyad. Kebetulan yang diserahi untuk memberi kuliah saya. Jadi, bagaimana mereka mau mengetahui kalau sejarahnya tidak pernah diberikan. Jangankan yang mahasiswa, yang sudah dokter sekalipun jarang sekali yang tahu tentang itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Galen (Galenicus), tokoh yang dianggap dewa ilmu kedokteran. Pahamnya tentang banyak hal dianut oleh kalangan kedokteran Barat sampai abad 15-16 M. Salah satu penyebab terlambatnya perkembangan ilmu bedah tangan adalah karena pahamnya yang mengatakan bila urat dioperasi maka akan mati. Sampai abad 16 paham ini menguasai otak para dokter ketika itu sehingga tidak ada yang berani melanggar.

Namun, Ibnu Sina pada 1138 M justru mengatakan, bahwa tendon (urat) yang putus harus dijahit kembali. Dan ternyata pandangan Ibnu Sina yang kini dianut para dokter modern. Ironisnya, saya justru mengetahui dari Journal of Hand Surgery, Juli 1991.

Saya juga membaca laporan perjalanan seorang pujangga besar Inggris ke Timur Tengah saat Perang Salib. Ia melihat di Damaskus pabrik alkohol bekerja siang malam. Padahal minuman keras dilarang. Ternyata salah satu fungsi alkohol tersebut adalah untuk sterilisasi sebelum melakukan pembedahan.

Kota Damaskus itu sendiri berasal dari nama seorang dokter, namanya Ibnu Damsyik. Ketika itu, khalifah berkeinginan mendirikan sebuah kota. Ibnu Damsyik meminta empat potongan daging yang diletakkan di empat penjuru dalam radius 10 Km. Di tempat daging yang paling lama membusuk itulah kota harus dibangun. Artinya, meski kuman baru ditemukan pada tahun 1500-an, namun secara akal Ibnu Damsyik mampu melihat bahwa di tempat pembusukan daging paling cepat, tidak layak secara kesehatan sebagai tempat tinggal manusia.

Kabarnya di FKUI ada forum kajian para dokter muslim? Betul dan saya pernah menjadi ketua pelindungnya. Namanya Forum Studi Islam. Semua persoalan tentang Islam kita bahas dalam forum itu mulai dari kedokteran Islam sampai kajian tentang pemikiran Ali Syariati.

Sumber: Republika

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali

10Berita, Bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan tidak takut dianggap mengkritik orang. Kalau sesuatu diyakininya sebagai kebenaran, ia akan mengungkapkannya kepada siapa pun. Tanpa kecuali. Beberapa pejabat pernah kena 'semprot' kritik tajamnya menyangkut kebijakan yang mereka keluarkan. Sikapnya yang terbuka ini pula yang menyebabkan ia banyak mengkritik umat Islam Indonesia. ''Umat Islam masih menyimpan ajarannya di kantong,'' kata Prof dr Chehab Rukni Hilmy kepada Republika, kala itu.

Maksudnya, ajaran agung yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW hanya jadi pembicaraan saja, namun sulit terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ajaran Islam demikian mudahnya untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru besar FKUI ini juga banyak berbicara tentang kelangkaan rumah sakit Islam, kedokteran Islam hingga pengajian dokter. "Maaf, menurut saya keimanan umat Islam kita masih di kantong baju. Mereka masih terlalu mengutamakan ibadah. Jeleknya mereka demonstratif. Tak sedikit yang berhaji sampai tujuh kali. Hanya orang Indonesia yang pergi haji sampai tujuh kali, tapi jarang menyumbang ke rumah sakit demi kepentingan orang," ujarnya (8/9/1996).

Karena itu, jangan heran rumah sakit Islam yang ada di Indonesia masih sedikit. Mestinya rumah sakit Islam paling banyak ada di Indonesia mengingat jumlah penduduk kita mayoritas Islam. Ini yang sangat disayangkan. Katanya, jumlah umat Islam mencapai 165 juta lebih, tapi mana kepedulian mereka untuk kesehatan?

Padahal, Islam sangat menganjurkan memperhatikan kesehatan. Bukan hanya sekadar menganjurkan, tapi sudah dengan tegas mengatakan bahwa kesehatan merupakan bagian dari iman.

Lantas bagaimana peran para ulama? Dia  mengatakan, kenyataannya kepedulian umat Islam terhadap kesehatan masih kurang. Ini artinya para ulama belum berperan dengan baik. Mestinya, mereka mampu mendorong umat untuk lebih peduli terhadap kesehatan, karena Islam itu bukan sekadar ibadah ritual semata, tapi juga seluruh kehidupan manusia.

Umat Islam saat ini boleh dibilang masih terbelakang dalam banyak hal. Maafkan, masyarakat Islam di Indonesia masih dianggap bodoh. Contoh, saya belum lama mengajak anak saya yang pulang dari pesantren dan terkena penyakit kulit. Dokter terkenal yang beragama Nasrani itu berkomentar, ''Ah, biasa Hab. Semua yang dari pesantren pasti kena penyakit seperti ini.''

Sebagai kolega tentunya dia tidak akan mengatakan seperti itu kalau tidak dari lubuk hatinya punya anggapan pesantren itu punya orang kampung. Saya tidak marah, karena kenyataannya memang demikian. Tapi, hal itu sepertinya jadi trade mark yang digunakan orang yang tidak simpatik kepada Islam untuk menjelek-jelekkan.

Di masa lalu kedokteran Islam terkenal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Kenapa para dokter Muslim saat ini masih berkiblat pada kedokteran Barat yang seringkali mengabaikan masalah agama?

Masalahnya, apakah di setiap fakultas kedokteran kita diajarkan mata kuliah sejarah kedokteran Islam. Jawabnya, tidak. Sama sekali tidak. Hanya dulu di FKUI pernah disampaikan sekali kuliah umum tentang kedokteran Islam. Ketika itu dekannya Prof dr Asri Rasyad. Kebetulan yang diserahi untuk memberi kuliah saya. Jadi, bagaimana mereka mau mengetahui kalau sejarahnya tidak pernah diberikan. Jangankan yang mahasiswa, yang sudah dokter sekalipun jarang sekali yang tahu tentang itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Galen (Galenicus), tokoh yang dianggap dewa ilmu kedokteran. Pahamnya tentang banyak hal dianut oleh kalangan kedokteran Barat sampai abad 15-16 M. Salah satu penyebab terlambatnya perkembangan ilmu bedah tangan adalah karena pahamnya yang mengatakan bila urat dioperasi maka akan mati. Sampai abad 16 paham ini menguasai otak para dokter ketika itu sehingga tidak ada yang berani melanggar.

Namun, Ibnu Sina pada 1138 M justru mengatakan, bahwa tendon (urat) yang putus harus dijahit kembali. Dan ternyata pandangan Ibnu Sina yang kini dianut para dokter modern. Ironisnya, saya justru mengetahui dari Journal of Hand Surgery, Juli 1991.

Saya juga membaca laporan perjalanan seorang pujangga besar Inggris ke Timur Tengah saat Perang Salib. Ia melihat di Damaskus pabrik alkohol bekerja siang malam. Padahal minuman keras dilarang. Ternyata salah satu fungsi alkohol tersebut adalah untuk sterilisasi sebelum melakukan pembedahan.

Kota Damaskus itu sendiri berasal dari nama seorang dokter, namanya Ibnu Damsyik. Ketika itu, khalifah berkeinginan mendirikan sebuah kota. Ibnu Damsyik meminta empat potongan daging yang diletakkan di empat penjuru dalam radius 10 Km. Di tempat daging yang paling lama membusuk itulah kota harus dibangun. Artinya, meski kuman baru ditemukan pada tahun 1500-an, namun secara akal Ibnu Damsyik mampu melihat bahwa di tempat pembusukan daging paling cepat, tidak layak secara kesehatan sebagai tempat tinggal manusia.

Kabarnya di FKUI ada forum kajian para dokter muslim? Betul dan saya pernah menjadi ketua pelindungnya. Namanya Forum Studi Islam. Semua persoalan tentang Islam kita bahas dalam forum itu mulai dari kedokteran Islam sampai kajian tentang pemikiran Ali Syariati.

Sumber: Republika

Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad

10Berita,  ''Sungguh jika Nabi tak mencium batu ini, aku tak akan melakukannya.'' (Umar bin Khatthab RA)

Mencium Hajar Aswad selalu menjadi pembicaraan serius, karena dipandang sebagai prestasi tersendiri di kalangan jamaah haji. Juga di kloter tempat saya bergabung dan jamaah Indonesia pada umumnya, ketika saya(Wartawan Republika, Siti Darojah Sri Wahyuni) mengunjungi Tanah Suci pada 1995. Mencium Hajar Aswad telah menjadi keinginan, bahkan obsesi tersendiri sebagian jamaah haji. Maka tak heran jika segala cara diupayakan untuk bisa melakukannya. Ada yang mencobanya tengah malam. Tapi ada juga yang mencobanya tengah hari bolong.

Saya tidak demikian. Sejak berangkat dari rumah, saya tak terlalu berambisi mencium Hajar Aswad karena ingat hadis di atas. Lagi pula orang-orang di rumah selalu berpesan agar selalu menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Pesan yang wajar karena saya berangkat haji sendirian. Saya tak mau hanya karena mencoba mencium Hajar Aswad, badan saya menjadi sakit dan tak bisa mengikuti wukuf dan ibadah wajib lainnya.

Apalagi ketika mendengar seorang gadis dari Bandung dan sepasang suami istri meninggal di dekat Hajar Aswad karena terinjak. Untuk memulai tawaf, saya hanya mengangkat tangan kanan dan mengecupnya. Tawaf sunnah pun saya lakukan siang hari atau menjelang salat Ashar. Panas memang. Tapi cukup lengang dibandingkan melakukannya pada waktu Subuh atau selepas Magrib.

Saya bungkus kepala dengan handuk basah dengan semprotan air tergantung di badan. Kaca mata hitam tak pernah lepas karena jika tidak, buku doa yang saya bawa tak bisa terbaca. Silau. Saya berangkat dengan Kloter 71/86 HLP. Kloter saya sesungguhnya adalah Kloter 71 HLP. Tapi ketika masuk asrama berdasar Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA), ternyata visa saya dan puluhan calhaj lainnya belum siap. Saya pun menginap selama tiga hari dan akhirnya berangkat dengan Kloter 86 HLP bersama jamaah dari Lampung, Semarang, Timor Timur, dan Kalimantan Barat yang rata-rata menginap di Pondok Gede lebih dari tiga hari, kecuali jamaah dari Timor Timur.

Situasi di Madinah sudah ramai ketika saya datang. Untuk menginjakkan kaki di Raudah, tempat antara Mimbar dan rumah Nabi yang dibatasi oleh tiang putih dan lantai putih, sulit bukan main. Ini dikarenakan perempuan baru bisa masuk pada jam-jam tertentu yakni pukul 08.00 dan pukul 13.30 waktu setempat atau selepas salat Zuhur. Tidak demikian dengan jamaah pria. Maka setiap kali pintu menuju Raudah dibuka, ratusan orang berhamburan dari masjid bagian dalam dan bagian luar agar bisa sekadar salat dan berdoa di tempat mulia itu. Padahal aturan yang ada bukan demikian.

Berdasar hadis nabi, masuk Masjid Nabawi dari pintu Babussalam. Kemudian menuju Raudah untuk melakukan salat tahiyyatul masjid. Satu kali saya pun berhasil menginjakkan kaki di Raudah. Itu karena tubuh saya terdorong dari belakang, tapi tak bisa bergeser atau mundur karena di depan saya papan pembatas antara lelaki dan perempuan sedang di belakang saya jamaah wanita berhimpit.

Seorang wanita Arab menyuruh saya shalat. Dia bilang akan menjaga saya dan ia juga minta saya melindunginya saat ia shalat. Kami pun salat bergantian. Padahal semula saya ragu karena tak tahu salat apa yang saya lakukan mengingat tahiyatul masjid sudah saya kerjakan ketika masuk untuk salat Zuhur dan belum selangkah pun keluar dari masjid. Maka dalam hati saya niatkan untuk salat sunnah. Agar bisa shalat Subuh di dalam Masjid Nabawi, saya harus antre sejak pukul 03.00 waktu setempat.

Pintu Masjid Nabawi dibuka pukul 03.30. Maka, saya mengikuti teman-teman melakukan salat malam di masjid menjelang fajar. Masuk sulit, keluar pun demikian. Mekkah juga sudah padat ketika saya tiba di sana. Saya melakukan tawaf umrah bersama dengan teman-teman satu rombongan, sekitar 45 orang. Tapi kami terpencar karena situasi sangat crowded.

Saya merasa kaki ini melangkah tidak sewajarnya melainkan karena terdorong dari belakang. Saat berhenti untuk mengangkat tangan setiap kali awal putaran, saya sempat melirik tempat Hajar Aswad diletakkan. Di atasnya ada seorang askar, polisi Arab, bergantung pada seutas tali untuk menjaga agar tidak ada yang celaka karena terinjak atau terhimpit meski kerap terjadi juga. Ratusan orang mencoba mendekat.

Hasrat saya untuk turut memasukkan wajah ke lubang batu yang dibawa Malaikat Jibril dari surga itu hilang seketika. Selain karena hadis tadi, saya lihat situasi tak memungkinkan bahkan sekadar mendekat untuk melihat bagaimana bentuk Hajar Aswad itu. Saya sudah cukup senang ketika bisa bersujud di Hijir Ismail, sebuah tempat yang jika kita salat di situ menurut Nabi sama dengan salat di dalam Ka'bah. Sembari menunggu pelaksanaan wukuf, saya menjalankan salat di Masjid Al Haram.

Semakin hari kenalan saya semakin banyak. Dari Aceh yang tak mengerti betul bahasa Indonesia sampai orang India yang membujuk saya agar memberinya mukena buatan ibu saya. Belum lagi sepekan berada di Mekkah, tiga orang gadis dari Ujung Pandang menyapa saya. Saya ingat waktu itu kami baru saja melaksanakan salat Zuhur. Setelah bertanya dari mana asal saya, mereka langsung bertanya,''sudah berhasil mencium Hajar Aswad?.'' Saya menggelengkan kepala.

Mereka bercerita bahwa mereka sudah lebih dari tiga kali melakukannya. ''Bagaimana bisa?'' saya bertanya. Bagi saya, melihat dari dekat saja sulit apalagi menciumnya. ''Siang hari lebih mudah. Dekati Askar dan katakan bahwa kita dari Indonesia. Mereka pasti mengulurkan tangan dan membantu kita,'' katanya.

Tiba-tiba mereka bangkit. ''Mau kemana, hendak tawaf?'' tanya saya. ''Tidak, mau mencium Hajar Aswad.'' Saya sempat bingung karena setahu saya mencium Hajar Aswad itu dilakukan saat hendak memulai tawaf. Tapi itu tidak saya pikirkan karena saya ingin segera tidur dan mencari tiang untuk bersandar sembari menunggu waktu Ashar. Matahari sangat terik dan saya enggan pulang. Saya berada di masjid sejak Zuhur hingga Isya karena pemondokan saya jauh. Saya enggan tidur di pemondokan karena menurut saya tidak nyaman. Kamar yang kecil dihuni tujuh orang.

Jika siang, para suami berkumpul di kamar sempit itu untuk makan, minum dan ngobrol sembari merokok di kamar. Buat saya, lebih baik berdiam di masjid kecuali malam hari. Tiba-tiba belum satu jam, mereka sudah kembali dengan wajah memerah. ''Kami bisa melakukannya lagi.'' Menurut mereka, setelah menunggu lama askar mengulurkan tangan dan menariknya hingga ke depan Hajar Aswad.

Saya diam saja. Tapi dalam hati saya berkata, ''Saya hanya akan melakukannya jika hendak tawaf. Itu pun jika memungkinkan.'' Tapi saya juga bergumam, beruntung sekali jamaah kloter awal, bisa shalat di dalam masjid dengan leluasa karena belum banyak jamaah lain. Suatu kali usai melakukan tawaf, saya mencoba masuk ke Multazam, tampat antara pintu Ka'bah dan Hajar Aswad. Saya ingin bisa berdoa di tempat itu karena menurut hadis, tempat itu mulia untuk berdoa. Tiba-tiba bahu saya disentuh orang. Saya menoleh dan dia bilang apakah saya mau mencium Hajar Aswad. 'Ya,' kata saya.

Entah, mengapa logika saya tentang batu yang saya pegang itu hilang. Saya pun menurut ketika dia mendorong saya mendekat ke Hajar Aswad. Saya sempat menyerah karena nafas saya sesak karena terhimpit orang banyak. ''Sudah, sudah. Tidak usah saja,'' kata saya. Tapi dia tak mau menyerah dan terus mendorong. ''Ini sudah di depan Hajar Aswad.'' Saya melihat batu itu. Dari luar batu hitam itu terbungkus besi berwarna perak dan di dalamnya tampak sudah retak-retak dan harum. Saya pun menciumnya.

Tak ada rasa apa-apa kecuali sedikit rasa haru dan sesak nafas karena terdesak oleh jamaah lain. Saya pun cepat-cepat mundur. Saya mengucapkan terima kasih kepada pria yang menolong saya. Dia hanya tersenyum dan berkata sesama orang Indonesia harus saling membantu. Saya tidak tawaf setelah itu sebagaimana seharusnya.

Rupanya saya sama saja dengan yang lain. Ingin melakukannya lagi. Saya coba sekali lagi beberapa hari menjelang pulang. Waktu itu menurut penglihatan saya, situasi agak senggang. Saya berniat kali ini saya menciumnya untuk memulai tawaf. Posisi saya sudah di depan sampai saya merasa ada orang yang berdiri di atas bahu. Saya melihat dia melompat dari pilar di dekat Hajar Aswad sembari tangannya berpegang entah pada apa. Secepat kilat saya mundur tapi baju saya yang panjang tertahan. Saya tarik keras-keras sembari mundur. Saya berhasil mundur, tapi beberapa buah kancing baju saya lepas.

Akhirnya saya hanya bergumam, ''Itu memang batu biasa, kecuali didatangkan dari surga.'' Di rumah, saya katakan saya tak berhasil mencium Hajar Aswad tapi minus cerita kancing baju yang lepas itu. Padahal, dalam hati senang juga melakukannya kendati bukan pada ajaran yang seharusnya, mencium Hajar Aswad untuk memulai tawaf.

Sumber: Ihram

Jumat, 11 Agustus 2017

Ngeri, Pengamat Ini Bongkar Data Perpanjangan Kontrak Migas Asing Menjelang Pilpres 2019

Ngeri, Pengamat Ini Bongkar Data Perpanjangan Kontrak Migas Asing Menjelang Pilpres 2019


Negara Bangkrut Penguasa Kaya Raya, Kok Bisa?

Bagaimana ini bisa terjadi? Sampai dengan akhir masa pemerintahan Jokowi 2019 mendatang, ada 32 kontrak migas yang akan mengalami perpanjangan karena kontraknya (PSC) berakhir.

Nilainya kontrak migas sangat besar. Karena kontrak yang akan diperpanjang tersebut meliputi perusahaan besar penghasil minyak yang menyumbangkan 75%- 80% produksi minyak nasional.

Kalau kontrak migas ini berakhir maka seharusnya diserahkan kepada SKK migas, untuk selanjutnya pengelolaannya diserahkan kepada PT. Pertamina selaku perusahaan milik negara.

Namun, berhubung menjelang pemilu 2019 maka perpanjangan kontrak migas yang bernilai ratusan triliun tersebut adalah lahan bancakan yang sangat empuk.

Jika kontrak kontrak migas ini kembali diperpanjang atau pengelolaannya diserahkan kepada swasta, taipan dan asing, maka ini tidak akan terjadi secara gratis. Hampir dapat dipastikan perpanjangan kontrak yang luar biasa besar nilainya ini akan menghasilkan uang besar bagi penguasa.

Presiden Jokowi memang beruntung. Ignatius Jonan tengah menggarap lahan basah yang dapat membuatnya bermandikan uang. Pertanyaanya siapa yang tengah mengelilingi menteri ESDM? Dia yang akan menentukan kebijakan ini nanti menghasilkan uang untuk penguasa atau untuk negara?

Jadi, meskipun negara tengah sekarat karena utang jatuh tempo yang menggunung, namun jangan salah, penguasa sekarang tengah menggarap lahan basah yakni perpanjangan kontrak migas.

Perlu dicatat mengapa negara akan bangkrut karena pada 2018 nanti sedikitnya Rp. 400 triliun, sampai 2019 Rp. 800 triliun. Jumlah yang tidak mungkin terbayarkan. Jumlah tersebut belum termasuk bunga dan cicilan pokok utang luar negeri.

Dari pada urus negara bangkrut, mending curi kesempatan untuk nyolong demi kepentingan pribadi. Karena dengan uang itu bisa membeli suara untuk memenangkan pemilu 2019 mendatang. Benarkah demikian?

Penulis: Salamuddin Daeng, Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia[] 

Sumber : nusantaranews.co

Beredar Nota Dinas Penawaran Apartemen, Kementerian ESDM Jadi Makelar Meikarta?

Beredar Nota Dinas Penawaran Apartemen, Kementerian ESDM Jadi Makelar Meikarta?


Disaat Pemerintah Provinsi Jawa Barat menginstruksikan penghentian pembangunan proyek prestisius “kota baru” di Cikarang karena langgar ketentuan perizinan, Kementerian ESDM malah terkesan berperan sebagai makelar penjualan appartemen Meikarta lewat penerbitan surat nota dinasnya.

Di jejaring dunia maya, Selasa (7/8) kemarin dikejutkan dengan beredarnya Nota Dinas resmi Kementerian ESDM Nomor 1017/05/SDBUP/2017 yang meminta para pegawai di lingkungan kementerian ESDM menghadiri acara penawaran apartemen di Aula Gedung C Direktorat Jenderal dan Batubara sekitar pukul 10:00 sampai selesai pada Selasa 15 Agustus 2017 yang akan datang.

“Sehubungan dengan surat dari PT. Mahkota Santosa Utama Tunggal 4 Agustus 2017 hal Perkenalan dan Penawaran Apartemen Meikarta-Cikarang, bahwa bersama ini kami sampaikan bahwa PT. Mehkota Santosa Utama akan mengadakan sosialisasi Penawaran Apartemen Meikarta-Cikarang,” tulis Nota Dinas Kementerian ESDM yang ditandatangani oleh a.n Sekretaris, Kepala Bagian Umum, Kepegawaian dan Organisasi, Yuli Wahono.

Meski masih diragukan keasliannya, terlihat pemerintah turut membantu bisnis swasta lewat Nota Dinas Kementerian ESDM yang dengan terang benderang menawarkan apartemen Meikarta.

“Diharapkan Pegawai di Lingkingan Unit Kerja, khususnya yang berminat untuk mengikuti sosialisasi tersebut,” Yuli Wahono dalam nota dinas yang ditandatanganinya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar memperingatkan pengembang proyek Meikarta untuk menghentikan pembangunan dan pemasaran proyeknya.

“Mohon Meikarta menghentikan pembangunan dulu dan juga pemasaran. Ini warning dari saya,” kata dia belum lama ini.

Deddy juga dalam pernyataannya kepada sejumlah media menyebutkan bahwa Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Pemprov Jabar sudah memutuskan untuk mengirim surat peringatan kepada pengembang.

Sumber : telusur.co.id

 

Wajib Militer di Masa Ummayah

Wajib Militer di Masa Ummayah

10Berita,  JAKARTA -- Pada masa Dinasti Umayyah, kantor tentara yang sebelumnya telah diprakarsai oleh Umar bin Khattab terus mengalami pengorganisasian dan perkembangan. Institusi militer pun dibagi menjadi tiga, yakni angkatan darat (al-Jund), angkatan laut (al-Bahriyah), dan kepolisian (as-Syurthah).

Angkatan bersenjata awalnya masih diisi oleh orang-orang Arab. Namun, setelah wilayah kekuasaan Islam meluas sampai ke Afrika Utara, orang-orang luar Arab (termasuk bangsa Barbar) juga ikut direkrut menjadi tentara.

Ketika akhirnya banyak tentara Muslim yang pensiun dari jihad dan perang, Pemerintah Umayyah pun mulai memperkenalkan sistem wamil menyusul diterbitkannya Nidham at-Tajnid al-Ijbari (Undang-Undang Wajib Militer). “Aturan tersebut dikeluarkan semasa pimpinan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (yang memerintah pada 685-705),” ujar Abu Zayd Shalaby.

Sistem perbudakan militer secara luas diterapkan di Timur Tengah pada masa Dinasti Abbasiyah. Praktik tersebut berawal dari pembentukan korps budak prajurit (yang juga dikenal dengan istilah ghulam atau mamluk) oleh Khalifah al-Mu'tasim pada abad ke-9. Oleh beberapa kalangan, sistem ini dianggap sebagai varian lain dari wajib militer.

“Korps budak-prajurit pada masa Abbasiyah diisi oleh orang-orang Turki. Namun, budak-budak itu pada akhirnya justru mendominasi pemerintahan dan membangun pola di seluruh kelas militer dunia Islam. Pengaruh mereka terus berlanjut hingga masa Dinasti Ottoman,” ujar sejarawan Barat, Bernard Lewis, dalam buku Race and Slavery in the Middle East.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Tewas di Los Angeles, Ada Luka Tembak di Saksi e-KTP Johannes

Tewas di Los Angeles, Ada Luka Tembak di Saksi e-KTP Johannes



10Berita~Saksi kunci kasus korupsi e-KTP, Johannes Marliem, tewas di kediamannya di Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS). Marliem diduga menembak dirinya sendiri.

Dilansir CBS Los Angeles, Jumat (11/8/2017), kawasan Beverly Grove di Los Angeles ditutup sekitar pukul 05.00 sore waktu setempat sekitar 600 blok dari North Edinburgh Avenue. Reporter media lokal melaporkan seluruh area di sekitar Melrose dan Crescent Heights ditutup.

Peristiwa itu awalnya dari laporan telepon ke FBI yang kemungkinan diteruskan LAPD (Los Angeles Police Department) pada Rabu (9/8) malam. Para petugas yang tiba di lokasi menduga ada seorang anak kecil dan seorang wanita di dalam rumah bersama seorang pria.

Para petugas pun melakukan negosiasi. Pada akhirnya, wanita dan anak kecil itu dibawa keluar oleh laki-laki itu sekitar pukul 07.30 malam.

Sementara, laki-laki itu ditemukan tewas di dalam rumah sekitar 02.00, Kamis (10/8) dini hari. Namun belum diketahui pasti apa penyebab laki-laki itu tewas, diduga kemungkinan besar dia menembak dirinya sendiri.

Dari penelusuran, laki-laki itu diduga adalah Johannes Marliem. Kabar tersebut mengonfirmasi postingan di Instagram dari dengan akun mir_at_lgc. Dia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Marliem.

Dia memposting foto bersama Marliem dan seseorang yang disebutnya CEO of Lamborghini. Dalam kolom komentar, ada akun citywhips yang menyebutkan soal insiden The Beverly Grove di mana Marliem tinggal dan diamini oleh akun mir_at_lgc tersebut.

Sebelumnya Ketua KPK Agus Rahardjo juga mengamini kabar tersebut. Agus mengatakan bila saat ini terus mengecek kabar itu.

"Sudah kemarin (dapat kabar Johannes Marliem meninggal dunia), kita juga sedang cari kepastian," ucap Agus ketika dikonfirmasi detikcom, Jumat (11/8/2017).

Marliem merupakan provider produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1 yang akan digunakan dalam proyek e-KTP. Dia disebut merupakan saksi kunci dalam kasus itu.[] 

Sumber : detik.com

 


Tokyo Camii, Simbol Keterbukaan Jepang Terhadap Islam

Tokyo Camii, Simbol Keterbukaan Jepang Terhadap Islam

10Berita,  JAKARTA -- Tokyo Camii atau Masjid Tokyo dianggap menjadi salah satu pemandangan yang cukup unik di ibu kota Jepang itu. Pasalnya, meski dirancang dengan gaya arsitektur khas Turki, keberadaan bangunan ibadah nan megah itu tampak sedikit tersuruk di antara belantara gedung pencakar langit dan blok-blok apartemen yang tenang di kawasan Yoyogi Uehara.

Pemugaran Tokyo Camii secara resmi rampung pada 2000 lalu. Namun, pembangunan awal masjid itu sesungguhnya mempunyai sejarah yang panjang.

Sekira dekade 1930-an, ketika populasi Muslim di Jepang mengalami peningkatan yang signifikan, mulailah beberapa masjid didirikan di negeri sakura itu untuk pertama kalinya.

Di antaranya Masjid Nagoya yang dibangun pada 1931, lalu disusul Masjid Kobe empat tahun berikutnya. Kedua masjid tersebut dibangun oleh komunitas Muslim pendatang asal India.

Selanjutnya, para imigran Tatar yang melarikan diri dari Revolusi Bolshevik Rusia membentuk kelompok etnis Muslim terbesar di Jepang. Mereka lalu mendirikan Masjid Tokyo dalam bentuk aslinya pada 1938. Inilah titik awal dari pembangunan Tokyo Camii yang ada sekarang.

Salah seorang guru besar studi Jepang dari Universitas Heidelberg, Hans Martin Kramer, menganggap pendirian Tokyo Camii sebagai simbol keterbukaan Jepang terhadap Islam ketika itu.

Sebagai bukti, pembangunan awal masjid itu tidak hanya didukung oleh pemerintah Jepang, tetapi juga didanai oleh perusahaan-perusahaan swasta di negeri matahari terbit, terutama Mitsubishi.

“Bahkan, upacara pembukaannya dihadiri pula oleh sejumlah pejabat dan diplomat dari Jepang dan Dunia Islam,” kata Kramer seperti dikutip majalah bulanan Muslim Ink dalam artikel “From Two Mosques to 200: Growth of Islam in Japan”.

Pengelola Islamic Center of Japan (ICJ) Dr Musa Omer menuturkan, hingga 1970, hanya ada dua bangunan masjid di Tokyo. Kini, di kota itu terdapat 200 masjid, mushala, dan tempat-tempat lainnya yang secara temporer dapat digunakan sebagai tempat shalat. “Jumlah bangunan ibadah ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah umat Islam di Tokyo,” ujarnya.

Pernikahan
Menurut Omer, pernikahan termasuk faktor penyumbang peningkatan populasi Muslim di Jepang. Seperti yang terjadi pada November tahun lalu, misalnya, ketika Omer dipercaya membantu menyelenggarakan pernikahan seorang pria Muslim asal Arab Saudi dengan perempuan asli Jepang. Si pengantin wanita akhirnya memilih untuk masuk Islam setelah dua tahun menjalin hubungan dengan laki-laki tersebut.

Saat ini, kata Omer, jumlah warga Muslim yang tinggal di Jepang diperkirakan mencapai 120 ribu jiwa. Sekira sepuluh persen dari mereka adalah orang Jepang asli. Angka tersebut memang masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total penduduk Jepang yang sekarang berjumlah 127 juta jiwa.

Sumber: Republika

Jokowi Boleh Bertindak Diktator asalkan....

Jokowi Boleh Bertindak Diktator asalkan....


10Berita~JAKARTA - Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Indonesia (APMI) melalui salah satu oratornya menyampaikan bahwa Joko Widodo sebagai pimpinan Negara tidak mengapa berlaku/bertindak dengan ditktator. Jokowi bahkan diwajibkan untuk berlaku dictator dalam memimpin bangsa untuk maju.

“Kira-kira Pak Jokowi boleh berlaku dictator atau tidak? Boleh atau tidak?

Boleh! Pak Jokowi boleh berlaku dictator, kepada koruptur, kepada Freeport, yang puluhan tahun sudah menjarah emas di Papua, kepada Asing dan Aseng yang telah kuasai 80 persen kekayaan Indonesia, kepada penumpuk utang, kepada penyebar video porno, itulah dictator sesungguhnya. Dan itulah dictator sebenernya,” sampai salah satu orator, Jum’at (11/08/2017), di depan gedung DPR RI, Jakarta.


Namun demikian, sikap dan tindakan Jokowi tidak demikian. Justru menurutnya sikap dan kebijakan Jokowi terbalik dengan munculnya atau diterbitkannya Perppu Ormas Nomor 2 Tahun 2017 beberapa waktu yang lalu.

“Bukan malah ke ormas, pergerakkan Islam dan suara mahasiswa Jokowi bersikap dictator, yang nyatanya hanya menyampaikan ajaran Islam. Inilah yang kita lawan. Dan apabila Jokowi tetap bersikap demikian, maka ia sebenarnya akan menghadapi Allah SWT. Dan dia akan berhadapan dengan waliyullah yang siap mati,” tambahnya berapi-api.

Jokowi, melalui pemerintahannya juga dituding seperti mengkhianati perjuangan mahasiswa saat tahun 1998 lalu. “Kita tahu tragedy 98, bukan. Itu yang membebaskan adalah mahasiswa.

Makanya hari ini saya serukan kepada selurun elemen mahasiswa untuk tetap menolak Perppu Ormas ini dengan sekuat tenaga. Perppu ini telah mengkhianati perjuangan mahasiswa yang selama ini telah membebaskan rakyat Indonesia dari pemimpin dictator,” tutupnya. (Robi/)

Sumber: voa-islam.com