OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Minggu, 13 Agustus 2017

Pembubaran Ormas, FPI Menjadi Target Berikutnya

Pembubaran Ormas,  FPI Menjadi Target Berikutnya


Relawan FPI dalam musibah banjir bandang Garut

10Berita~JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengaku sudah dua tahun mengawasi aktivitas Front Pembela Islam (FPI). Hasil pengawasan dan pengamatan itu akan diserahkan kepada Kejaksaan Agung, kepolisian, serta tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat di daerah.

“Sebab, kami memutuskan apakah ormas ini layak dibubarkan atau tidak, harus memiliki bukti kuat. HTI sebelum dibubarkan sudah 10 tahun pembuktiannya,” kata dia usai diskusi Undang-Undang Pemilihan Umum (Pemilu) di Hotel Century, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (12/8/2017) dilansir Republika.

Menurutnya, pembuktian selama dua tahun masih kurang maksimal. Oleh karena itu, Kemendagri akan melakukan klarifikasi data menggunakan sejumlah foto dan video serta alat bukti lain.

Kendati demikian, Tjahjo tidak memberikan tanggapan pasti apakah FPI akan dibubarkan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun dia membenarkan ada ormas yang segera dibubarkan oleh pemerintah, selain HTI.

Menurut Tjahjo, ormas yang akan dibubarkan itu ormas kecil. Meski terbilang kecil, dia menilai, ormas tersebut mengganggu ketertiban masyarakat. Dia juga berpendapat ormas itu juga melakukan kegiatan yang anarkis.

Ormas yang masih belum diungkapkan identitasnya ini melakukan kegiatan di sejumlah daerah. Tjahjo menyebut ormas ini cukup punya nama di daerah.

“Tunggu tanggal mainnya saja (pembubaran). Itu ormas kecil kok,” ujar Tjahjo.

Dia menambahkan pembubaran ormas tidak terkait pada agama. “Ormas yang dibubarkan tidak terbatas ormas agama. Ormas umum dan sosial pun jika radikal tetap bisa (dibubarkan),” kata Tjahjo.

Pada 19 Juli lalu, Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Dirjen AHU Kemenkumham) Freddy Harris telah mencabut Surat Keterangan Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pencabutan ini menindaklanjuti Perppu No 2 tahun 2017 tentang Ormas yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sumber: Jurnalislam.com

Ketika Islam Jadi Corak Masyarakat Cham

Ketika Islam Jadi Corak Masyarakat Cham

10Berita, JAKARTA -- Menurut catatan sejarah, Kerajaan Campa didirikan pada 192. Negara ini mencapai puncak kejayaannya sekitar tujuh abad kemudian. Pada masa itu, perekonomian Kerajaan Campa termasuk paling makmur di Asia Tenggara lantaran ditopang oleh perdagangan maritimnya yang kuat.

“Sejak abad ke-9, kekuatan politik dan kebudayaan orang Campa praktis mendominasi Vietnam Selatan selama seribu tahun,” tulis sejarawan asal AS, Ernest C Bolt Jr, dalam salah satu jurnal yang diterbitkan Universitas Richmond, Virginia, pada 1997.

Hampir separuh dari usia Kerajaan Campa dipengaruhi oleh corak Hindu. Namun, sejak abad ke-10 hingga seterusnya, perdagangan maritim bangsa Arab membawa pengaruh budaya dan agama Islam yang kuat di negeri tersebut.

Ilmuwan geografi asal Arab yang hidup antara abad ke-13 dan ke-14, Syamsuddin al-Dimasyqi, menuturkan, Islam mulai masuk ke Campa sejak dunia Arab berada di bawah pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib RA.

Pada masa-masa selanjutnya, banyak pula kaum Muslimin yang melarikan diri ke Negeri Cham karena merasa tidak cocok dengan penguasa Dinasti Umayyah. Para pelarian itu kemudian membangun interaksi yang baik dengan penduduk setempat. “Sejak itulah masyarakat Campa berbondong-bondong memeluk Islam,” tutur al-Dimasyqi.

Arkeolog dari Universitas Miami AS, Robert S Wicks, menuturkan, salah seorang dari raja Campa menyatakan masuk Islam antara 1607 dan 1676. Selama periode ini, Islam pun menjadi corak dominan masyarakat Cham.

Sumber: Republika

Pengaruh Budaya Cham di Indonesia

Pengaruh Budaya Cham di Indonesia

10Berita, JAKARTA -- Beberapa bukti yang diperoleh dari penelitian linguistik di sekitar Aceh menunjukkan, pengaruh budaya Campa di Indonesia sangatlah kuat. Fakta tersebut dapat dilihat dari penggunaan bahasa Aceh-Chamik sebagai bahasa utama di daerah-daerah pesisir, seperti Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Aceh Jaya.

Naskah Indonesia dari abad ke-15 menunjukkan, salah seorang Putri Campa beragama Islam bernama Darawati menikah dengan penguasa ketujuh Majapahit yang merupakan penganut ajaran Siwa-Budha, Prabu Brawijaya.

Tujuan pernikahan itu sendiri adalah untuk mengislamkan Kerajaan Majapahit. Hari ini, makam Darawati dapat ditemukan di Trowulan, Jawa Timur, yang dianggap sebagai bekas ibu kota Majapahit. 

Sementara, orang-orang Minangkabau di Sumatra Barat meyakini bahwa salah satu nenek moyang mereka yang bergelar Harimau Campo berasal dari negeri Campa. Menurut Tambo, Harimau Campo bersama-sama dengan Datuak Suri Dirajo (salah satu pendiri Minangkabau), Kambiang Hutan, dan Anjiang Mualim menciptakan konsep dasar dari bela diri tradisional Minangkabau yang disebut silek (silat).

Sumber: Republika

Masjid al-Haram Padat, Perhatikan Tips Berikut

Masjid al-Haram Padat, Perhatikan Tips Berikut



10Berita, MAKKAH— Masjid al-Haram sudah mulai dipenuhi olah jamaah dari berbagai negara. Kepadatan pun tak terhindari terutama di jam-jam tertentu terutama dari sejak shalat ashar hingga tengah malam waktu Arab Saudi. 

Berdasarkan pantauan wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah Arab Saudi, Sabtu (12/8), jamaah meluber hingga di pelataran jelang shalat Maghrib. Begitu juga di tiap lantainya hingga lantai tiga. Jamah padat, apalagi di area thawaf di depan Ka’bah. Berikut ini sejumlah tips dari redaksi untuk mengantisipasi kepadatan di sekitar Masjid al-Haram, semoga bermanfaat:  

Berangkatlah lebih awal. Direkomendasikan jika ingin beribadah di Masjid al-Haram, bergegaslah setelah shalat Ashar. Rentang waktu ini paling digemari oleh para jamaah haji, tak terkecuali jamaah Indonesia, untuk berumrah atau sekadar beribadah di Masjid al-Haram adalah waktu ashar hingga tengah malam waktu Arab Saudi. Seperti penuturan jamaah asal Tulungagung, Yazid Busthami. “Enak mas kalau jam segini tidak panas,” kata dia di temui di bus shalawat jurusan Shisha-Syaib Amir, Sabtu (12/8). 
Pertahakankan wudhu Anda. Ini penting lantaran jarak jarak antara ruangan masjid dan tempat berwudhu cukup jauh. Di jam-jam tersebut, seringkali pula terjadi penumpukan di toilet dan tempat wudhu. Dan di saat padat seperti sekarang, pihak keamanan Masjid al-Haram memberlukan buka tutup. Jelang shalat Maghrib dan ‘Isya, mereka munutup akses menuju masjid bagian dalam. Kita hanya akan diperbolehkan shalat dipelataran. Peraturanini untuk menghindari penumpukan jamaah di bagian dalam masjid. Tapi jangan khawatir, jika memang Anda berada di luar, kipas pendingin lengkap dengan semprotan air membuat sejuk.Jangan sesekali membawa uang, perhiasan, atau barang-barang berharga selama beribadah di Masjid al-Haram. Ini sangat rawan, tidak hanya karena tindak criminal, tetapi juga rentan terlupa. Sudah banyak laporan masuk ke perlindungan jamaah (linjam) terkait barang yang tertinggal karena lupa. Jika Anda berombongan, sepakatilah titik temu untuk berjaga-jaga jika Anda berpisah. Tempat paling mudah ada di depan Tower Zamzam, tepat di depan Pintu King Abdul Aziz. Atau bisa juga di pintu keluar Marwah, melalui Gerbang Bab as-Salam (baca, Babussalam). Gerbang ini lebih memudahkan lagi bagi Anda menuju dua terminal bus jemputan yaitu Terminal Bab Ali dan Terminal Syaib Amir.  
Bawalah selalu identitas dan kartu bus jemputan (shalawat Anda). Identitas itu meliputi kartu tanda pengenal, kartu hotel, gelang, dan atribut lain yang selama ini melekat. Identitas tersebut memudahkan petugas untuk mengenali Anda jika dalam kondisi tersesat. Bawalah selalu botol air minum. Jika Anda ingin beribadah wajib dan sunat berlama-lama di Masjid al-Haram ini sangat membantu. Isilah dengan air zamzam yang tersedia di sejumlah titik. Dan tentu jangan lupa, perbanyaklah beribadah, zikir, dan beristighfar selalu.   

Sumber: Ihram

Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Oleh: Lukman Hakiem*

"PPP bisa naik suaranya," ujar staf pengajar Fisip-UGM,  Drs.  Afan Gaffar, M.A (kelak menjadi guru besar Fisipol UGM). yang berdiri di sebelah saya.

Di siang yang panas itu beberapa puluh tahun silam,  di antara ribuan massa di alun-alun utara Yogyakarta, tidak sengaja saya bertemu dengan senior yang saya sapa "Bang Afan" itu.

Hari itu,  menjelang pemilu 1982, PPP menggelar kampanye di alun-alun utara. Alun-alun penuh sesak,  jalan menuju tempat kampanye, tidak kurang sesaknya.  Bersusah payah,  saya dan Bang Afan --yang saat itu sedang pulang ke Tanah Air untuk penelitian lapangan bagi disertasi doktornya di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat-- menerobos padatnya massa.

Kampanye akan dimulai sekitar pukul dua siang, tapi massa sudah memadati alun-alun utara sejak pagi. Seorang peserta kampanye mengaku,  berangkat dari rumahnya di Wates,  sesudah shalat Subuh supaya kebagian tempat di depan. "Ternyata, sampai di sini sudah penuh," keluhnya.

Seorang peserta kampanye yang  mengaku berasal dari Magelang menceritakan perjuangannya untuk bisa sampai di alun-alun utara. "Saya harus bergerilya Mas," katanya.

Di zaman Orde Baru itu,  pemilu memang direkayasa untuk hanya dan selalu dimenangkan oleh Golkar, sebuah organisasi besutan penguasa yang tidak pernah mau disebut partai politik tetapi selalu ikut pemilu.

Salah satu bentuk rekayasanya, rakyat dari luar Yogya tidak boleh menghadiri kampanye partai politik (PPP dan PDI) di Yogya. Penjagaan di perbatasan provinsi di perketat. Kendaraan umum dan pribadi digeledah untuk mencari calon peserta kampanye.  Siapa saja yang diduga akan menghadiri kampanye partai politik, langsung dihalau,  disuruh balik kanan.

Seketat-ketat penjagaan aparat, rakyat selalu punya cara untuk menembus barikade. Maka,  di siang yang terik itu,  banyak saya temukan peserta kampanye PPP yang berasal dari Klaten, Muntilan,  dan Purworejo.

Melihat padatnya peserta kampanye,  Bang Afan kembali berkata: "Kalau pemilu berlangsung jujur dan adil,  suara PPP bakal naik tajam."

Massa PPP hari itu melimpah ruah, karena yang akan menjadi juru kampanye adalah Raja Dangdut Rhoma Irama.

Daya panggil Rhoma Irama yang bukan pengurus partai,  juga bukan caleg PPP, memang amat luar biasa.
Beberapa malam sebelumnya, jalan-jalan di Yogya tiba-tiba menjadi sepi.  Usut punya usut,  ternyata malam itu Rhoma Irama tampil menjadi juru kampanye PPP di RRI dan TVRI. Jauh sebelum jam tayang,  para penggemar Rhoma Irama dengan khusyuk sudah duduk di depan televisi untuk menyimak pidato kampanye Rhoma Irama.
Di alun-alun utara,  sekitar pukul tiga sore, Rhoma Irama yang ditunggu massa akhirnya datang juga. Dia langsung naik ke panggung, dan berpidato singkat:

"Saya datang di Yogya untuk mengalahkan Golkar. Kalau PPP menang di Yogya, saya dan Soneta akan show gratis di sini.  Allahu Akbar!" Sesudah pidato singkat itu,  Rhoma Irama pamit, dan massa bubar dengan tertib.

Sumber: Republika

[DULU] Gus Mus: Ulama Kok Pimpin Demo, Ini Aneh Sekali; [KINI] Ulama NU Siap Turun Aksi Sesuai Instruksi

[DULU] Gus Mus: Ulama Kok Pimpin Demo, Ini Aneh Sekali; [KINI] Ulama NU Siap Turun Aksi Sesuai Instruksi


Gus Mus: Ulama Kok Pimpin Demo, Ini Aneh Sekali
http://medan.tribunnews.com/2017/04/21/gus-mus-ulama-kok-pimpin-demo-ini-aneh-sekali

"Ulama kok mimpin demo. Ini aneh sekali," kritik Gus Mus waktu itu seperti dilansir Tribunnews.

"Jadi ada kepantasan... Dari nurani saja sudah cukup, cukup gak (mereka yang demo) dipanggil kiai," kata mantan Rais Am PBNU ini.

Itu "Fatwa" dulu... gak tahu Gus Mus lagi menyindir siapa. Siapa yang dimaksud ulama suka demo itu. Apa yang mimpin Aksi Bela Islam?

TAPI... sekarang PBNU malah instruksikan untuk aksi/demo menentang pemerlakuan Full Day School (FDS).

PBNU Instruksikan Gelar Aksi Penolakan Lima Hari Sekolah
https://www.nu.or.id/post/read/80258/pbnu-instruksikan-gelar-aksi-penolakan-lima-hari-sekolah

Ulama NU Siap Turun ke Jalan Jika FDS Tetap Diberlakukan
http://jambi.tribunnews.com/2017/08/10/ulama-nu-siap-turun-ke-jalan-jika-fds-tetap-diberlakukan

“Ulama NU siap turun ke jalan di Jakarta. Insya Allah lebih besar dari aksi 212. Itu pun jika aspirasi ini tidak ada tindak lanjut,” kata Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah.

***

Ulama kok pimpin Demo, Ini Aneh Sekali -- ITU DULU

SEKARANG dah gak aneh lagi. Sudah ada "Fatwa" baru.

Ulama yg pimpin aksi 411dan 212 demo bela agamanya krn di hina,klo yg skrg demo bela klompoknya yg merasa di rugikan.https://t.co/jPopkluyHF

— alie78.m (@AlieRobin) 12 Agustus 2017

Kan fatwa bisa disesuaikan dgn kepentingan mas,ntar kalo NU demo di hari Jumat, boleh jg sholat Jumat di jalan.Gitu aja sih.�� @ronavioletahttps://t.co/ZrxJrnFo8q

— Abdi Syah (@abdigreen) 12 Agustus 2017

Sumber: Portal Islam

AHY-GIBRAN & SBY-JKW "Like Father Like Son"

AHY-GIBRAN & SBY-JKW "Like Father Like Son"


10Berita~ Kemarin netizen heboh saat putra mantan Presiden SBY, mas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berkunjung ke Istana Negara dan ditemui oleh putra presiden Jokowi, mas Gibran.

Banyak netizen berkomentar gaya Gibran yang kurang tata krama dibanding AHY mengingatkan dengan bapaknya. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya... kata netizen.

Ternyata ada benarnya.

Dulu pada 9 Maret 2017, mantan Presiden SBY berkunjung ke Istana Negara bertemu dengan Presiden Jokowi.

Dan ada momen yang terekam video, saat acara minum teh. Bagaimana mantan Presiden "mengajari" tata cara minum teh kenegaraan yang baik.

Terimakasih SBY, pelajaran ini takkan terlupakan :)

[Berikut videonya]

Beda kelas ya � pic.twitter.com/97MVmy4nK9

— ULAMA LOVER ! (@benni_hidayat) 12 Agustus 2017


Sumber: Portal Islam

Saat Lantunan Alquran Mampu Menjadi 'Bius'

Saat Lantunan Alquran Mampu Menjadi 'Bius'

10Berita, JAKARTA -- Kisah tentag kelembutan hati para salaf saat membaca dan mendengarkan lantuan Alquran banyak menghiasi lembaran sejarah. Ayat-ayat indah Alquran mampu menaklukkan hati Umar bin Khatab yang dikenal dengan karakter yang keras. Tak hanya tokoh yang berjuluk al-Faruq itu, menurut catatan Dr Abdurrahman Ra'at Basya dalam bukunya, Mereka adalah Para Tabiin, kedahsyatan Alquran mampu menjadi “bius” bagi  Rufai bin Mihraan.

Tokoh yang berjuluk Abu al-Aliyah itu menggunakan bacaan Alquran saat hendak menjalani operasi akibat luka dalam perang. Kisah itu berawal ketika Rufai hendak turut serta berjihad. Seperti biasanya, segala persiapan dan perbekalan telah direncanakan dengan baik. Ia mengikat semuanya di atas kendaraannya.

Namun, tanpa ia sadari, tatkala terbit waktu subuh, terdapat luka yang parah pada salah satu telapak kakinya. Kemudian, rasa sakit tersebut semakin bertambah sedikit demi sedikit. Seorang dokter yang menjenguknya memvonis sosok berdarah Persia itu terkena penyakit aklah. Penyakit yang akan mematikan sel-sel dan merambat sedikit demi sedikit hingga mengenai seluruh tubuh. Kemudian, sang tabib tersebut meminta persetujuannya untuk memotong kakinya hingga setengah betis, maka beliau pun menyetujuinya.

Sang tabib menyiapkan perlengkapan amputasi, pisau untuk menyayat daging, dan gergaji untuk memotong tulang. Kemudian tabib berkata, “Maukah Anda minum bius agar Anda tidak merasa kesakitan tatkala disayat dan dipotong kakinya?”

Rufai menjawab, “Bolehkah engkau carikan yang lebih baik ketimbang solusi bius itu?” Tabib bertanya, “Apa itu?”

“Carilah untukku seorang qari yang membacakan Alquran, mintalah dia membacakan untukku ayat-ayat yang mudah dan jelas. Jika kalian melihat wajahku telah memerah, pandanganku mengarah ke langit, maka berbuatlah sesukamu,” ujar Rufai.  Mereka pun melaksanakan permintaan tersebut dan memotong kakinya.

Tatkala selesai amputasi, tabib berkata kepada Abu al-Aliyah, “Seakan Anda tidak merasakan sakit tatkala diamputasi.” Lalu beliau menjawab, “Karena saya tersibukkan oleh sejuknya kecintaan kepada Allah, merasakan kelezatan apa yang aku dengar dari Alquran sehingga melupakan panasnya gergaji.”

Di saat itulah, Rufai memegang kaki yang telah diamputasi dengan tangannya, sembari memandangi kaki tersebut, Rufai bergumam, “Jika aku bertemu dengan Rabb-ku pada hari kiamat nanti dan bertanya apakah aku telah berjalan dengan engkau (kaki yang telah dipotong) ke tempat yang haram sejak 40 tahun, atau aku telah berjalan denganmu pada tempat yang tidak diperbolehkan? Niscaya aku akan menjawab, 'Belum pernah' dan aku jujur terhadap kata-kataku, insya Allah.”

Setelah itu, karena ketakwaan Abu al-Aliyah dan karena merasa dekatnya dengan hari kiamat serta persiapannya bertemu dengan Rabb-nya, ia telah menyiapkan kain kafan untuk dirinya.

Kain tersebut dipakai sebulan sekali lalu disimpan di tempat semula, begitu terus secara rutin. Dalam catatan riwayatnya selama hidup, ia telah berwasiat 17 kali, padahal masih dalam keadaan sehat dan segar dengan memberikan batasan pada masing-masing wasiat. Jika batasan waktu telah habis ia melihatnya lagi, mungkin beliau menggantinya atau mengundurkannya. Rutinitas ini ia lakukan sepanjang hidup, hingga ajal menjemputnya pada Syawal 93 Hijriyah.

Sumber: Republika

Hamurabi dan Praktik Hukuman Mati di Masa Modern

Hamurabi dan Praktik Hukuman Mati di Masa Modern

10Berita, JAKARTA --  Hukuman mati yang secara resmi disebut-sebut mulai diperkenalkan pada masa Raja Hamurabi di Babilonia abad ke-18 sebelum Masehi (SM) itu sebenarnya memiliki akar sejarah yang kuat sepanjang peradaban manusia. Hingga saat ini pun eksekusi mati menjadi sanksi atas beragam tindak kejahatan.  

Metode:
Metode hukuman mati cukup beragam. Beberapa yang masyhur digunakan dalam catatan sejarah ialah:
•    Pancung dengan cara potong kepala
•    Sengatan listrik 
•    Gantung
•    Suntik mati melalui penyuntikan terpidana mengguakan obat mematikan.
•    Tembak
•    Rajam atau dilempari batu hingga mati

Sikap Dunia Internasional

Dunia internasional beda sikap menyikapi penerapan hukuman mati. Sebagian negara memberlakukannya dan sebagian lainnya telah menghapuskan. Perinciannya sebagai beriku: 

Ø    Penghapusan hukuman mati (abolisonis)
    Terdapat 100 negara yang menghapuskan hukuman mati untuk seluruh jenis kejatahan. Di antaranya:
    Australia, Argentina, Armenia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bolivia, Belanda, Kamboja, Costa Rica, Denmark, Ekuador, Finlandia, Prancis,     Georgia, Italia, Jerman, Paraguay, Filipina, Polandia, Portugal, Romania, Turki, Turkmenistan, Ukrania, Inggris. 

Ø    Penghapusan untuk kejahatan biasa:
    Terdapat tujuh negara yang menghapuskan hukuman mati untuk kejahatan biasa. Sedangkan, untuk kejahatan tingkat berat masih diberlakukan. Negara itu ialah: 
    Brasil, Cili, El Salvador, Fiji, Israel, Kazakhstan, dan Peru.

Ø    Aboisionis secara de facto
    Terdapat 42 negara yang tidak melaksanakan eksekusi mati, setidaknya dalam 10 tahun terakhir meski konstitusi mereka tetap mempertahankannya. Di antaranya:
o    Brunei Darussulam (1957)   
o    Afrika Tengah (1981)
o    Kongo (1982)
o    Burkina Faso (1988)
o    Kamerun (1988)
o    Gana (1993) 
o    Laos (1989)
o    Maroko (1993)
o    Myanmar (1988)
o    Tunisia (1991)

Ø    Moratorium Hukuman Mati
    Ada setidaknya lima negara yang memutuskan untuk moratorium eksekusi mati, yaitu sebagai berikut:
    Aljazair, Guatemala, Mali, Rusia, dan Tajikistan.

Ø    Pelaksana Hukuman Mati
    Menurut data dari Hands off Cain, terdapat 44 negara yang masih memberlakukan eksekusi mati. Di antaranya sebagai berikut:
    Amerika Serikat, Afghanistan, Bahrain, Bangladesh, Chad, Cina, Kuba, Mesir, India, Indonesia, Iran, Irak, Jepang, Yordania, Kuwait, Libanon, Libya, Malaysia, Nigeria, Korea Utara, Pakistan, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Singapuran, Sudan, Suriah, Somalia, Thailand, Taiwan, dan Uganda.

Efektivitas
Survei PBB pada 1998 dan 2002 menyebutkan pemberlakuan hukuman mati efektif menekan angka kejahatan. Eksekusi mati dinilai lebih efektif memberikan efek jera ketimbang penjara seumur hidup.  

Sumber: trbun islam

Menohok, Penulis Terkenal Tere Liye Paparkan Data Menarik Pemerintah Lebih Peduli Diskotek Ketimbang Buat Buku Murah

Menohok, Penulis Terkenal Tere Liye Paparkan Data Menarik Pemerintah Lebih Peduli Diskotek Ketimbang Buat Buku Murah


*10 JUTA BUKU GRATIS

Pemerintah sekarang itu tidak peduli sama sekali dengan buku.

Omong kosong kalau mereka peduli. Coba lihat, pajak PPN untuk tontonan film, diskotek, klub malam, sirkus, pertandingan olahraga, kontes kecantikan, mereka hapus. Tidak ada lagi. Tapi buku? Ewww, kalian suka protes kenapa buku mahal? Simpel, ada kemunduran yang luar biasa dalam memahami betapa pentingnya literasi itu harus didukung habis2an. Ini malah sebaliknya, yang mereka dukung diskotek. Mungkin peradaban sebuah bangsa kayaknya diukur dari jumlah klub malam, bukan lagi dari berapa banyak buku berkualitas yang dihasilkan negara tersebut. Harga buku bisa 10-40% lebih murah jika PPN-nya tidak ada lagi, termasuk jika insentif pajak lainnya diberikan kepada industri penerbit, bisa turun signifikan harganya.

Dan omong-omong soal penulis, ewww, mending kalian jadi artis, pajaknya hanya separuh dari penulis. Artis, bahkan bisa tidak lapor, karena jika tidak ada bukti potong, dll, dia hanya lapor sukarela. Namanya sukarela, gampang mah kalau mau nyelipin laporan pajaknya. Penulis buku? Tidak bisa. Semua penghasilan dia otomatis ada bukti potong dari penerbit, dan pajaknya 2x lebih tinggi dibanding artis, pengacara, akuntan, dokter, dan profesi lainnya. Tahu pemerintah soal fakta ini? KAGAK! Mereka cuma sibuk pegang2 buku, jepret, posting di media sosialnya, "Ayo mari membaca!" Ampun dah, dan orang2 bilang owww betapa agung dan mulianya pemimpin kita, dia mendukung literasi. Tidak tahu fakta betapa sengsaranya jadi penulis buku di negeri ini kalau sudah berurusan dengan pajak.

Tahu mereka soal fakta ini? Tergerak dia untuk memperbaikinya?

Jika ada yang bilang rezim pemerintahan sekarang mendukung literasi? Omong kosong. Paling hanya 1-2 saja kebijakan mereka yg terkait soal literasi, itupun hanya untuk polesan, populis, biar bagus untuk diposting di medsos, biar terlihat bagus nampak dilihat dari kulit luar. TAPI sama sekali kagak menyentuh inti permasalahannya.

Padahal apa susanya, misalkan sisihkan 1 trilyun untuk industri perbukuan nasional, kita bisa mengirima sepuluh juta buku2 terbaik ke seluruh negeri secara gratis. Banjiri setiap perpustakaan sekolah dengan buku2 terbaik. Berikan insentif pajak bagi penerbit dan industri buku. Berikan keadilan pajak bagi profesi penulis. Lahirkan ribuan penulis2 baru dengan program yg baik. Dukung komunitas dan aktivis literasi. Kecil sekali 1 trilyun itu, duit untuk subsidi BBM dan listrik saja ratusan trilyun. Kita itu masih menganggap literasi itu penting nggak sih? Atau cuma penuh kebohongan belaka.

Saya pesimis ini akan terjadi dalam waktu dekat. Maka sebelum itu betulan ada, mari kita singsingkan lengan untuk ikut berpartisasi. Dengan daya upaya sendiri meski terbatas. Saya memulainya dengan membagikan naskah novel2 saya di page facebook ini. Gratis. Itu salah-satu cara untuk menumbuhkan minat membaca generasi berikutnya. Jika mereka bilang buku mahal, toko buku jauh, baca saja naskah novel Tere Liye di page ini. Free. Jika mereka bilang malas baca buku, lebih suka main gagdet, wah kebetulan toh, baca naskahnya sekalian main gagdet. Semoga besok2 jadi tergerak untuk mulai membaca buku2 lain, minat bacanya jadi tinggi.

*Tere Liye[] 

Sumber : fanspage Tere Liye, www.tribunislam.com