OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 16 Februari 2018

Dinilai Mencurigakan, Komnas HAM SIAP Investigasi Kematian M. Jefri

Dinilai Mencurigakan, Komnas HAM SIAP Investigasi Kematian M. Jefri


10Berita, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ahmad Taufan Damanik mengatakan timnya akan turun ke Indramayu untuk menginvestigasi kasus kematian terduga teroris Muhammad Jefri (MJ) oleh Densus 88.

“Kita akan turun ke Indramayu untuk mengecek kasus ini, apakah ada pelanggaran HAM di sana,” ungkapnya di Komnas HAM, Jakarta Selatan, Kamis 15 Februari 2018.

Karenanya, ia tidak mau berkomentar banyak perihal kasus tersebut. Namun yang pasti, meninggalnya MJ akan diselidiki, apakah dalam penangkapan hingga meninggalnya terduga teroris ini ada kesalahan prosedur oleh kepolisian atau tidak.

“Komnas HAM belum dapat bicara terkait hal ini, karenanya Komnas HAM akan kirimkan tim ke Indramayu untuk mengecek ke sana, jadi sementara kami belum bisa mengatakan apa-apa sebelum dapat data yang lebih lengkap, kami tidak bisa mengatakan ini a atau b,” ungkapnya.

“Untuk kasus ini, kami kirimkan tim untuk mendeteksi, mempelajari, kalaupun ada pelanggaran HAM, nantinya akan kita bicarakan (dengan kepolisian, red),” ungkapnya.

Atas rencana itu, Ahmad mengungkapkan Komnas HAM belum menentukan siapa tim dan berapa orang yang akan diturunkan terkait investigasi kasus MJ.

“Akan segera turun, dalam satu dua hari ini akan kirim tim. Jadi untuk kesana kami belum menunjuk siapa yang akan pergi, tapi segera,” tukasnya.

Sumber: SwaMedium

Pria Pembawa Senjata Tajam yang Ingin Menganiaya Polisi Bukan 'Orang Gila' Tapi Diduga Teribat Jaringan Terorisme

Pria Pembawa Senjata Tajam yang Ingin Menganiaya Polisi Bukan 'Orang Gila' Tapi Diduga Teribat Jaringan Terorisme

 
10Berita , PROBOLINGGO - Hingga siang ini Muhammad Lutfianto (ML) alias Lutfi alias Lut bin Munal Al Musari alias Musari (23) masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Probolinggo Kota.

ML masih diperiksaan terkait kasus kepemilikan senjata tajam (sajam) dan dugaan keterlibatannya dalam jaringan terorisme.

Informasi di internal kepolisian, ML masih menjalani serangkaian pemeriksaan.

Untuk kasus kepemilikan sajam, polisi sedang menyelesaikan pemeriksaan dan pemberkasan berkas perkaranya.

Sedangkan untuk kasus dugaan keterlibatan dalam aksi terorisme, polisi masih menyelidikinya.

Bahkan, sejak kemarin, polisi sudah memeriksa kembali rumah masa kecil ML dan kontrakan ML bersama istrinya.

Di penggeledahan ulang itu, polisi berusaha mencari bukti - bukti yang bisa memperkuat dugaan keterlibatan ML dalam jaringan terorisme.

Dugaan itu muncul setelah niatan ML ini ingin melukai polisi.

Di hadapan penyidik, ML menganggap polisi itu sebagai pimpinan thagut, golongan yang suka membanggakan hukum buatan manusia dibandingkan hukum agama islam.

Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alvian Nurrizal mengatakan, untuk keterlibatannya dalam dugaan jaringan terorisme masih penyelidikan.

Saat ini, pihaknya sedang mendalami kasus ini. Belum ada kepastian, apakah ML akan dibawa Densus 88 atau tidak.

"Kami akan tunggu prosesnya. Tapi kalau mau dibawa densus syaratnya harus selesai dulu berkas kepemilikan sajam ini," tandasnya.

Sumber : Tribun News 

Muhammadiyah Minta Polri Jujur Soal Kematian Jefri

Muhammadiyah Minta Polri Jujur Soal Kematian Jefri


10Berita, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah meminta pihak kepolisian dapat menjelaskan secara terbuka ke publik, khususnya keluarga Muhammad Jefri (MJ). Sebab keluarga punya hak untuk mengetahui sebab kematian anggota keluarganya.

Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Maneger Nasution mengatakan belum tuntas penyelesaian kasus kematian Siyono, kembali muncul kasus Siyono jilid kedua. Kali ini dialami Jefri. Seperti Siyono, terduga teroris yang tewas setelah ditangkap Densus 88.

"Narasi publiknya juga hampir sama. Sriyono mati dengan narasi akibat berkelahi dengan dua orang oknum Densus 88. Sedang MJ tewas dinarasikan akibat penyakit dalam," ujarnya kepada Republika.co.id, Jakarta, Jumat (16/2).

Menurutnya, terorisme adalah musuh kemanusiaan. Hanya penanganannya harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip HAM. Kepolisian tidak diberikan mandat oleh konstitusi dan UU untuk membunuh warga negara meskipun untuk menangani terorisme.

"Dalam sistem hukum Indonesia, terduga pelaku kejahatan sekalipun harus diberi ruang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum," ucapnya.

Ia menjelaskan, kasus Siyono lebih beruntung. Komnas HAM saat itu masih berani menunaikan mandatnya. Meskipun dalam pelaksanaan mandatnya Komnas HAM membangun kemitraan strategis dengan masyarakat sipil, dalam hal ini PP Muhammadiyah.

Akhirnya, dokter forensik Muhammadiyah memastikan secara ilmiah bahwa kematian Siyono bukan akibat perkelahian. Ia mati karena kesakitan akibat beberapa tulang rusuknya patah karena benturan benda tumpul.

Sejauh ini nasib MJ kelihatannya belum seberuntung Siyono. Keluarga MJ belum dapat sinyal bahwa Komnas HAM berani menunaikan mandatnya menginvestigasi kasus yang terindikasi kuat terjadi pelanggaran HAM itu, ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta presiden sebaiknya memerintahkan kapolri untuk menginvestigasi kasus tersebut. Komnas HAM sejatinya menunaikan mandatnya menginvestigasi kematian MJ yang terindikasi kuat sebagai pelanggaran HAM.

"Jika dibutuhkan Komnas HAM dapat membentuk tim adhoc dengan melibatkan masyarakat sipil," ungkapnya.

Sumber : opini-bangsa.com, republika.co.id

Ganjar Pranowo, Antara Senyum dan Kasus E-KTP

Ganjar Pranowo, Antara Senyum dan Kasus E-KTP


10Berita,   Pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin di atas angin. Elektabilitas Ganjar 46,1 nampaknya akan bertambah dengan hadirnya Taj Yasin, putra Kiyai kharismatik Sarang, K.H. Maemoen Zubair.

Kehadiran Taj Yasin seolah melengkapi Ganjar selama ini. Pertama, Ganjar dari kelompok nasionalis, Taj Yasin dari kalangan relijius. Kedua, jika Ganjar kuat di wilayah selatan, maka Taj Yasin mengakar di wilayah pantura. Ketiga, PDIP sebagai partai pengusung Ganjar yang akhir-akhir ini dihantam isu agama, telah berproses mengalami recovery setelah Taj Yasin mendampingi Ganjar.

Pasangan Ganjar-Taj Yasin menjadi pasangan yang “pas” dalam pengertian pragmatisme politik. Mengingat keduanya saling melengkapi.

Formasi nasionalis-relijius pasangan Ganjar-Taj Yasin diprediksi akan cukup merepotkan bagi pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah ini adalah dua tokoh yang merepresentasikan Muhammadiyan-NU dan kesempurnaan gender (laki-perempuan). Disamping kapabilitas dan pengalaman pasangan ini yang tak lagi diragukan

Kendati demikian, pemilih Indonesia, khususnya Jawa Tengah tidak terlalu paham soal kapabilitas dan prestasi. Apalagi jika prestasi itu tak mampu dikenalkan secara baik untuk menjadi “branding” yang berpengaruh.

Para pemilih umumnya memilih karena faktor kedekatan sosiologis dan psikologis. Mengapa Ganjar kuat di wilayah selatan? Diantara faktornya karena wilayah selatan itu basis PDIP. Ganjar beserta istrinya juga lahir dan besar di daerah selatan yaitu Purworejo dan Purbalingga.

Demikian juga dengan Taj Yasin, anak muda penuh harapan ini lahir di pesisir pesantren Sarang Rembang. Di pesantren inilah lahir banyak ulama di Jawa Tengah, umumnya di wilayah pantura. Mereka banyak yang mendirikan pesantren dan punya pengaruh.

Faktor psikologis juga berpengaruh kuat. Ganjar misalnya, jangan tanya soal prestasi. Banyak pihak menyangsikan prestasi Ganjar selama memimpin Jateng. Tapi senyum Ganjar itu menggoda. Dibanding senyum Sudirman Said, senyum Ganjar lebih renyah. Wajah dan senyum Ganjar ini sangat potensial menarik simpatik para pemilih. Senyum Ganjar membuat pemilih gampang kepincut.

Senyum adalah simbol keramahan, kesantunan dan kepedulian. Bila dikemas dalam blusukan, maka akan dahsyat pengaruhnya.

Sementara Sudirman Said, meski lahir di Brebes, wilayah pantura Jateng, tetapi besar dan berkarir di Jakarta. Basis Sudirman Said sebagai birokrat dan profesional kurang begitu dikenal. Karena itu, dibutuhkan kerja keras untuk mengkapitalisasi kehebatan Sudirman Said sebagai seorang birokrat yang sukses dan berintegritas. Masih perlu promosi besar-besaran untuk ini.

Pasangan nomor dua ini lebih bisa mengandalkan Ida Fauzihah yang kiprahnya lebih mengakar sebagai ketua muslimat NU Jateng. Jika jaringan Ida Fauziyah di grassroot muslimat NU ini kuat, maka akan signifikan untuk melawan Ganjar-Taj Yasin. Mengingat pemilih perempuan yang signifikan, isu gender bisa dimainkan ole Ida Fauziyah.

Selain jaringan muslimat NU, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah bisa menggunakan strategi menyerang, atau “negatif campaign”. Bukan “black campaign”. Negatif campaign itu punya data. Kalau black campaign itu fitnah. Sasaran serangan itu bisa menyasar pertama, janji politik Ganjar. Setiap incumbent punya janji. Komitmen janji itu bisa dibuka kembali di KPUD dan diukur tingkat keberhasilannya. Kedua, masalah-masalah kinerja pemprov Jateng yang tidak terselesaikan. Ketiga, membidik pada jantung PDIP yang selama ini dipersepsi dan punya kesan anti umat. Menyerang PDIP untuk menyatukan kekuatan umat, terutama Muhammadiyah-NU, berpotensi menjadi pilihan yang strategis.

Namun, masalah yang paling sexy untuk menyerang Ganjar adalah soal isu e-KTP. Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah hampir dipastikan akan menggunakan isu KTP ini untuk men-downgrade suara Ganjar. Sebab, nama Ganjar di persidangan disebut-sebut sebagai penerima uang. Langkah Ganjar mengembalikan sejumlah uang ke KPK bisa menjadi peluang pasangan nomor dua ini menggempur pertahanan Ganjar.

Bagaimana kemampuan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah ini mengangkat isu e-KTP untuk melawan senyum menawan Ganjar, akan sangat berpengaruh pada kontestasi merebut suara pemilih di Jateng. Jika gagal, alias isu ini tidak mampu tersampaikan dengan meyakinkan ke pemilik suara, hampir dipastikan pasangan tokoh Muhammadiyah-NU ini akan sulit mengalahkan pasangan Ganjar-Taj Yasin.

Penulis: Tony Rasyid

Sumber :Portal Islam 

Diam-diam Ahok Ajukan PK ke MA

Diam-diam Ahok Ajukan PK ke MA

Ahok dalam sidang di PN Jakarta Utara divonis bersalah atas kasus penodaan agama dengan hukuman 2 tahun penjara

10Berita, JAKARTA Ternyata benar. Mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dulu menolak banding atas vonis dua tahun penjara karena lebih memilih Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Aging (MA).

Keputusan kuasa hukum Ahok mencabut permohonan banding kasus penodaan agama disebut sebagai strategi untuk mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.

Setelah Ahok urung mengajukan permohonan bandingnya saat itu, pakar hukum pidana Abdul Fickar Fajar mengatakan, Ahok sangat mungkin sengaja mencabut permohonan banding dan memilih mengajukan peninjauan kembali. Sebab, proses pengajuan PK jauh lebih singkat ketimbang menjalani proses banding.

“Kalau banding mereka harus mengajukan banding, diproses, kalau ditolak ada kasasi, baru proses selanjutnya PK. Sebaliknya, kalau PK langsung dikaji Mahkamah Agung. Ahok hanya butuh menjalani vonis dari pengadilan. Karena PK hanya diperbolehkan setelah ada kekuatan hukum tetap,” kata Fickar seperti dikutip CNNIndonesia.com, Senin (22/5/2017).

Kini, diam-diam Ahok telah mengajukan PK ke Mahkamah Agung. Foto surat memori PK Ahok seperti diberitakan RMOL.co, Jumat (16/2/18) beredar di kalangan terbatas melalui aplikasi WhatsApp. Upaya hukum PK diajukan ke MA pada 2 Februari 2018.

PK diajukan kantor pengacara Lety Indra & Partner melalui PN Jakarta Utara.

“Memori Peninjauan Kembali Dalam Rangka Upaya Hukum Peninjauan Kembali Atas Putusan Pengadilan Jakarta Utara  tanggal 09-05-2017 Nomor: 1537/Pi.B/2016/PN.Jkt.Utr. Dalam Rangka Perkara Pidana Atas Nama IR Basuki Tjahaja Purnama, MM alias Ahok,” demikian tertulis dalam dokumen tersebut.

Ahok dihukum 2 tahun penjara oleh majelis hakim PN Jakarta Utara karena dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama atas pernyataan soal Surat Al-Maidah 51.

Hakim menyebut penodaan agama dengan penyebutan Surat Al-Maidah dalam sambutan Ahok saat bertemu dengan warga di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Kalimat Ahok yang dinyatakan menodai agama adalah “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa.”

Sejak 9 Mei 217, Ahok mendekam di balik jeruji. Sehari di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, kemudian dipindah sampai sekrang ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. (*)

Sumber: RMOL.co

Cristiano Ronaldo Suarakan Dukungan untuk Anak-anak Rohingya

Cristiano Ronaldo Suarakan Dukungan untuk Anak-anak Rohingya


10BeritaLISBON – Striker Real Madrid asal Portugal, Cristiano Ronaldo pada Kamis (915/2/2018) berbagi foto di Twitter untuk mendukung anak-anak Rohingya.

“Satu dunia di mana kita semua mencintai anak-anak kita. Tolong bantu #Rohingya #Refugee,” tulisnya, dan menambahkan tautan ke halaman Save the Children di mana orang dapat memberikan sumbangan online untuk tujuan tersebut.

Gambar tersebut menunjukkan seorang ayah dan anak di sebuah klinik kesehatan yang dikelola oleh badan amal di sebuah kamp pengungsi di Bangladesh.

Dana Bantuan Kemanusiaan Rohingya akan membantu anak-anak pengungsi dan keluarga memenuhi kebutuhan air bersih, makanan dan tempat tinggal.

Selain itu, ia memasang foto dirinya dengan keempat anaknya.

Ronaldo aktif di lembaga yang memperhatikan hak anak-anak. Sebelumnya, dia telah menyumbangkan makanan, pakaian dan bantuan medis kepada keluarga yang terkena dampak konflik di Suriah.

Sejak 25 Agustus, menurut data PBB, lebih dari 656.000 orang Rohingya telah mengungsi dari negara bagian Rakhine, Myanmar, menuju negara tetangga Bangladesh.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari sebuah operasi militer di mana pasukan keamanan dan gerombolan Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa-desa Rohingya.

(ameera/arrahmah.com)

Sumber : Arrahmah.com.

“Kasus Siyono Jilid II”, DPR Akan Panggil Polri dan BNPT

“Kasus Siyono Jilid II”, DPR Akan Panggil Polri dan BNPT


10Berita – Terduga teroris MJ (31) Kecamatan Haurgelis, Indramayu, Jawa Barat meregang nyawa saat menjalani pemeriksan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Dia ditangkap bersama istrinya ASN (17).

Anggota Komisi III DPR RI Erma Suryani Ranik memastikn pihaknya akan mendalami kasus tewasnya terduga teroris asal Lampung itu. DPR, kata dia, ingin investasi ini dilakukan secara terbuka.‎‎

“Ini saya ingin ada investigasi terbuka ya terhadap teman-teman di BNPT. Untuk melihat kenapa sih? Ini kok bisa terjadi berulang kali,” ujar Erma kepada wartawan, Kamis (15/2/2018).

Ia mengatakan, DPR berencana akan menanggil BNPT dan Polri untuk meminta penjelasan terkait kasus ini usai melaksanakan reses pada 5 Maret 2018. “Orang ditangkap sehat, pulangnya tinggal mayat. Nah berarti ada yang salah disitu. Komisi III ingin ada investigasi terbuka soal ini. Nanti di masa sidang selanjutnya,” urainya.

Erna menegaskan, penegak hukum tak boleh semena-mena kepada terduga teroris dalam mengusut kasus ter‎orisme. Sehingga, Densus 88 Antiteror harus mengedepankan HAM.

“Karena orang yang terduga ini, artinya dia belum divonis secara hukum, dia harus melewati proses hukum. Tidak boleh kita menegasikan hak asasi dia. Nah ini jangankan memenuhi hak dia untuk diadili di persidangan, memastikan hidup saya tidak bisa. Datang hidup, pulangnya jadi mayat,” tandasnya.

Seperti diketahui, Densus 88 Antiteror menangkap MJ di Kecamatan Haurgelis, Indramayu, Jawa Barat, Rabu 7 Februari 2018 lalu. Naas, terduga yang diketahui sebagai anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) tewas sesaat setelah menjalani pemeriksaan. Padahal ketika dijemput MJ sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit apa-apa.

Berdasarkan informsi yang dihimpun, kini jenazah MJ telah dipulangkan ke daerah asalnya dan dikebumikan di Tanggamus, Lampung, pada Sabtu, 10 Februari 2018 lalu.(kk/okz)

Sumber : Eramuslim

Anies vs Jokowi 2019, "Pertarungan" Yang Ditunggu Dunia

Anies vs Jokowi 2019, "Pertarungan" Yang Ditunggu Dunia


Oleh: Tony Rosyid
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Anies Rasyid Baswedan, penantang terkuat Jokowi. Itulah analisis hasil survey CSIS dan LSI. Elektabilitas Jokowi tak aman. Di bawah 50%. Dengan catatan, belum ada lawan. Jika muncul lawan yang kuat, elektabilitas Jokowi bisa ambruk.

Tiga faktor yang menjadi ancaman elektabilitas Jokowi (Survey LSI Denny JA). Pertama, memburuknya kondisi ekonomi. Harga kebutuhan pokok makin mahal (52,6%). Lapangan pekerjaan makin sulit (54%). Tingkat pengangguran bertambah (48%). Sepuluh juta tenaga kerja baru yang dijanjikan Jokowi saat kampanye 2014 belum juga terbukti.

Kedua, isu primordial. rakyat menganggap Jokowi berpihak. Isu kriminalisasi dan pencekalan ulama, dicurigai publik sebagai bagian dari sikap tidak fair kepada mereka yang berbeda politik dengan istana.

Ketiga, banjir pekerja Cina. 58,3% rakyat mempersoalkan banyaknya tenaga asing (tenaga kasar Cina) yang datang ke Indonesia. Kelonggaran ini dianggap oleh sejumlah pihak sebagai ancaman terhadap dasar dan prinsip kedaulatan negara. Pilihan kerjasama pembangunan infrastruktur dengan Cina, bukan dengan Jepang atau Korea Selatan misalnya, menyisakan banyak pertanyaan. Ada apa? Tidakkah Cina dikenal kurang/tidak kredibel soal komitmen kerja dan integritas. Di aspek inilah tulisan berjudul “widodo”s smoke and mirrors hide hard truth” oleh wartawan senior Australia John Mcbeth menggoda dan ramai pembaca di Indonesia. Seolah tulisan itu telah mengkonfirmasi temuan survei itu.

Menurut LSI, tiga faktor di atas menjadi ancaman serius elektabilitas Jokowi. Jika ini tidak cepat dan cerdas diatasi, Jokowi besar peluangnya untuk dikalahkan. Siapa yang paling potensial mengalahkan Jokowi? Anies Rasyid Baswedan. Gubernur DKI ini diprediksi paling besar dan kuat peluangnya.

Anies adalah satu-satunya tokoh yang direkomendasikan CSIS untuk bertanding melawan Jokowi di pilpres 2019. Kenapa bukan Prabowo? Prabowo sudah selesai masanya. Ia adalah seorang negarawan yang sudah tidak waktunya lagi untuk turun langsung. Lebih pas dan cocok jadi ‘King Maker”. Layaknya dunia sepak bola, Prabowo adalah Maradona. Dia lebih layak menjadi pelatih di luar lapangan. Dan satu-satunya pemain, masih menurut CSIS, yang layak dipasang Prabowo adalah Anies Rasyid. Baswedan. Orang kepercayaan Prabowo.

Sebagai gubernur DKI, Anies punya panggung. Banyak momentum yang memberi keberuntungan kepada Anies untuk selalu diperhitungkan publik. Berbagai program DKI yang diljalankan Anies akan terus membayangi -dan menjadi ancaman terhadap- elektabilitas Jokowi. Terlebih jika setiap program dan kebijakan Anies dibully dan dikritik. Ini malah justru mendatangkan berkah bagi Anies. Makin dikritik, nama Anies makin naik (Tempo).

Jokowi vs Anies adalah pertarungan politik yang sudah ditunggu-tunggu. Tidak saja oleh rakyat Indonesia, tapi juga masyarakat dunia. Ibarat tinju, ini pertarungan satu kelas. Selevel. Pertama, sama-sama tokoh nasional. Yang satu presiden, satunya lagi mantan menteri. Kedua, sama-sama pernah menjadi gubernur DKI. Ketiga, tingkat popularitasnya berimbang. Keempat, Jokowi lebih dekat dengan Cina, Anies lulusan Amerika. Sama-sama punya jaringan internasional.

Jika Anies vs Jokowi jadi digelar, keduanya akan menjadi rival yang seimbang. Pertarungannya akan sangat ketat. Lalu, siapa pasangan mereka?

Soal wakil, Jokowi bergerak lebih cepat. Bahkan sangat gesit. Sejumlah tokoh kabarnya sudah mulai dijajagi. Mulai dari Gatot Nurmantyo, Muhaimin Iskandar sampai Zulkifli Hasan diajak komunikasi. Ketiganya nampak bersemangat. Ada yang pasang baliho. Ada juga yang coba melakukan manuver untuk dapat simpati Jokowi. Ketiganya bersaing.

Selain ketiga tokoh di atas ada Agus Harimurti Yudhoyono dan Romuharmuzy. Tokoh yang terakhir ini nampak mengikuti jejak Muhaimin. Terlihat sama-sama genit. Ikutan memasang sejumlah baliho “cawapres” di sejumlah sudut jalan.

J. Kristiadi, pentolan CSIS menyarankan Jokowi untuk tetap maju bersama Jusuf Kalla. Seorang negarawan dan dianggap merepresentasikan Islam moderat. Pilihan lain adalah Said Agil Siraj, Ma’ruf Amin atau Mustofa Bisri. Ketiga ulama ini dianggap merepresentasikan kelompok Islam moderat dan mampu manghadang isu primordial Jokowi.

Rekomendasi ini seolah menjelaskan pertama, faktor primordial dianggap sebagai ancaman serius. Kedua, sejumlah bakal cawapres dari unsur partai koalisi diasumsikan tidak mampu mengurai isu primordial yang sedang memblokade Jokowi.

Anehnya, J. Kristiadi tidak merekomendasikan Puan Maharani atau Budi Gunawan yang notabene “confirmed” bisa mendapatkan rekomendasi atau tiket dari PDIP. Partai terbesar saat ini dan memiliki mesin politik cukup baik. Di sini nampak bahwa hasil survey dan ekspektasi partai belum sejalan. Tetapi, peluang tak tertutup sebelum pasangan caores-cawapres itu didaftakan resmi di KPU.

Lalu, siapa yang cocok berpasangan dengan Anies? Ada sejumlah nama yang diperkirakan bisa memperkuat posisi elektabilitas Anies. Ini prediksi yang bisa dijadikan rekomendasi survey. Pertama, Gatot Nurmantyo. Unsur tentara dan antitesa Jokowi. Hadirnya Gatot bisa mengimbangi pengaruh lima jenderal purnawirawan AD yang mengelilingi istana.

Kedua, Kiyai Ma’ruf Amin. Tokoh NU dan ketua majlis ulama ini bisa diterima banyak pihak. Jika Anies berhasil digandengkan dengan Ma’ruf Amin, pasangan ini diprediksi akan mendapatkan dukungan dari mayoritas kekuatan Umat Islam. Tidak hanya kelompok ABJ (Asal Bukan Jokowi) dan kelompok Islam perkotaan, tapi juga Islam tradisional.

Ketiga, Tuan Guru Bajang (TGB). Luar jawa dan tokoh Islam moderat (NU). Anies yang nasionalis akan menguat jika didampingi TGB dari kelompok islamis.

Keempat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Anak muda yang potensial mengambil suara dari kelompok milenial dan “kaum hawa”. Punya partai kelas menengah dan bisa mengambil pengaruh SBY.

Kelima, Ahmad Heryawan. Dua kali jadi gubernur dan mengakar jaringannya di Jawa Barat. Sebuah wilayah dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia.

Dengan siapa capres akan berpasangan biasanya diputuskan injury time. Hasil survei dan lobi partai paling besar pengaruhnya dalam membuat keputusan. Di titik inilah “branding cawapres” sejumlah tokoh menemukan logikanya. Langkah ini akan mendorong survei elektabilitas dan bisa membuka peluang yang lebih besar untuk masuk nominasi cawapres. Kenapa tidak branding capres? Jawabnya: “mesti tahu diri”. Kendati sebagian tokoh ada yang melakukan branding capres, tapi tujuan sesungguhnya untuk membidik posisi cawapres.

Formasi bakal capres bisa berubah-rubah. Bisa dua, bisa juga tiga. Begitu pula dengan prediksi pasangan. Yang jelas, dengan siapa capres itu berpasangan, akan punya pengaruh suara yang signifikan. Inilah faktor yang mendorong “bursa cawapres” menjadi ramai menjelang 2019.

Jakarta, 14/2/2018

Sumber :Portal Islam 

JK Gandeng BG Dan Anies 2019, Jokowi Makin Tak Nyaman

JK Gandeng BG Dan Anies 2019, Jokowi Makin Tak Nyaman


by ALDI GULTOM*

Tidak ada yang menyangka kalau saat ini Wakil Presiden Jusuf Kalla memegang "kartu as" yang menentukan skenario di panggung Pilpres 2019.

Pandangan ini mulai mengemuka sejak JK, panggilan akrabnya, terang-terangan membangun komunikasi politik dengan dua tokoh penting dalam percaturan politik nasional.

Dua tokoh yang "digarap" JK adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan.

Dukungan JK baru-baru ini kepada Joko Widodo untuk maju kembali dalam pemilihan presiden dianggap tidak seserius yang diucapkannya. Apalagi, level senioritas JK dalam perpolitikan nasional jauh lebih tinggi ketimbang Jokowi.

Perlu diingat, pernah muncul isu bahwa perkawinan JK dengan Jokowi pada 2014 tidak dibangun dengan harmonis. Bahkan, rekaman wawancara JK yang meramalkan "negara akan hancur jika dipimpin Jokowi" pernah beredar luas dan menjadi pergunjingan sebelum Pilpres empat tahun lalu. Jauh sebelumnya, JK tercatat sempat mengungkapkan ambisi menjadi presiden satu periode untuk memakmurkan Indonesia.

Isu politik yang menyeruak baru-baru ini mengindikasikan persaingan politik JK dengan Jokowi makin kental. Tapi, JK memang lihai.

JK dikabarkan menjalin komunikasi politik yang cukup intens dengan Anies Baswedan jelang Pilpres tahun mendatang.

Sampai saat ini, Anies masih menjadi sosok yang paling memungkinan untuk menjadi lawan tanding sepadan bagi Jokowi di 2019. Langkah-langkah populisnya dalam mengelola pemerintahan Jakarta menjadi batu loncatan untuk secara perlahan melambungkan elektabilitas dan popularitasnya.

Namun, JK-lah yang berani mengklaim bahwa dirinya "dalang" di balik pencalonan Anies di Pilgub DKI Jakarta, dengan menyodorkan nama eks Menteri Pendidikan itu ke Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. JK juga yang memberikan pandangan khusus kepada Anies mengenai isu kontroversial reklamasi pantai utara Jakarta.

Sedangkan kedekatan JK dengan Budi Gunawan alias BG tercermin lewat penempatan bos intel itu pada jabatan Wakil Ketua Majelis Pakar Dewan Masjid Indonesia. JK sendiri yang mendudukkan dan melantik BG di Masjid Istiqlal pada Januari lalu. Menurut JK, arahan-arahan purnawirawan polisi bintang empat itu kepada DMI sangat dibutuhkan agar masjid tidak menjadi lahan subur baRMOL. Tidak ada yang menyangka kalau saat ini Wakil Presiden Jusuf Kalla memegang "kartu as" yang menentukan skenario di panggung Pilpres 2019.

Pandangan ini mulai mengemuka sejak JK, panggilan akrabnya, terang-terangan membangun komunikasi politik dengan dua tokoh penting dalam percaturan politik nasional.

Dua tokoh yang "digarap" JK adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan.

Dukungan JK baru-baru ini kepada Joko Widodo untuk maju kembali dalam pemilihan presiden dianggap tidak seserius yang diucapkannya. Apalagi, level senioritas JK dalam perpolitikan nasional jauh lebih tinggi ketimbang Jokowi.

Perlu diingat, pernah muncul isu bahwa perkawinan JK dengan Jokowi pada 2014 tidak dibangun dengan harmonis. Bahkan, rekaman wawancara JK yang meramalkan "negara akan hancur jika dipimpin Jokowi" pernah beredar luas dan menjadi pergunjingan sebelum Pilpres empat tahun lalu. Jauh sebelumnya, JK tercatat sempat mengungkapkan ambisi menjadi presiden satu periode untuk memakmurkan Indonesia.

Isu politik yang menyeruak baru-baru ini mengindikasikan persaingan politik JK dengan Jokowi makin kental. Dan, JK memang lihai.

JK dikabarkan menjalin komunikasi politik yang cukup intens dengan Anies Baswedan jelang Pilpres tahun mendatang.

Sampai saat ini, Anies masih menjadi sosok yang paling memungkinan untuk menjadi lawan tanding sepadan bagi Jokowi di 2019. Langkah-langkah populisnya dalam mengelola pemerintahan Jakarta menjadi batu loncatan untuk secara perlahan melambungkan elektabilitas dan popularitasnya.

Namun, JK-lah yang berani mengklaim bahwa dirinya "dalang" di balik pencalonan Anies di Pilgub DKI Jakarta, dengan menyodorkan nama eks Menteri Pendidikan itu ke Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. JK juga yang memberikan pandangan khusus kepada Anies mengenai isu kontroversial reklamasi pantai utara Jakarta.

Sedangkan kedekatan JK dengan Budi Gunawan alias BG tercermin lewat penempatan bos intel itu pada jabatan Wakil Ketua Majelis Pakar Dewan Masjid Indonesia. JK sendiri yang mendudukkan dan melantik BG di Masjid Istiqlal pada Januari lalu. Menurut JK, arahan-arahan purnawirawan polisi bintang empat itu kepada DMI sangat dibutuhkan agar masjid tidak menjadi lahan subur bagi radikalisme.

Kabarnya, Jokowi sangat tidak nyaman melihat kedekatan JK dengan Anies dan BG. Kaitannya dengan 2019, JK berpotensi menggandeng dua nama itu untuk memuluskan langkahnya jika berlaga di Pilpres. JK-BG atau JK-Anies?

Walaupun memutuskan untuk tidak maju lagi, JK akan percaya diri menyodorkan Anies dan BG sebagai calon pendamping Jokowi.

Sang incumbent sangat tidak nyaman dengan opsi-opsi tersebut.***

Sumber: RMOL (15/2/2018)

Survei: Jika Prabowo Batal Maju Capres, Anies Jadi Lawan Terberat Jokowi

Survei: Jika Prabowo Batal Maju Capres, Anies Jadi Lawan Terberat Jokowi

10Berita, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan menjadi lawan terberat Presiden Jokowi jika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tidak maju sebagai calon presiden di Pemilu 2019.

Hal itu disampaikan dalam rilis survei Indo Barometer, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Anies menjadi lawan terberat Jokowi dengan elektabilitas 12,1 persen. Di bawah Anies ada nama mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (7,8 persen).

Kemudian putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (5,3 persen).

Selain itu, ada pula nama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (2,5 persen) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (3,6 persen).

Meski demikian, jika dihadapkan dengan lima nama tadi, rata-rata elektabilitas Jokowi jauh mengungguli mereka, yakni 55,4 persen.

Namun, jika dihadapkan dengan Anies, elektabilitas Jokowi turun menjadi di bawah rata-rata, yakni 49,9 persen.

“Jadi potensi kuda hitam ada di Anies,” kata Qodari mengomentari hasil survei.

Ia menganggap wajar bila Anies menjadi kuda hitam penantang Jokowi sebab sebagai Gubernur DKI banyak disorot media.

“Karena sekarang dia megang jabatan strategis. Media massanya banyak (yang menyorot). PR-nya juga banyak. Jadi kalau Anies buat kebijakan, kemungkinan besar jadi sorotan. Diskusi soal itu jadi bahasan berhari-hari,” lanjut dia.

Survei ini dilakukan Indo Barometer pada 23-30 Januari di seluruh provinsi di Indonesia dengan melibatkan 1.200 responden.

Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar 2,83 persen serta tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

sumber http://nasional.kompas.com/read/2018/02/15/17030651/survei-indo-barometer-jika-prabowo-batal-maju-capres-anies-jadi-lawan