OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Minggu, 04 Maret 2018

Warganet Minta Pendukung Jokowi 'Wahyu Irawan' Ditangkap Atas Penghinaan kepada Habib Rizieq, Apakah Hukum Berlaku Untuk Semua?

Warganet Minta Pendukung Jokowi 'Wahyu Irawan' Ditangkap Atas Penghinaan kepada Habib Rizieq, Apakah Hukum Berlaku Untuk Semua?


10Berita, Salah seorang pendukung Jokowi dengan nama akun facebook WAHYU IRAWAN melakukan penghinaan kepada Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab.

Alamat akun fbnya: https://www.facebook.com/irwahyu.irawan


Banyak postingan WAHYU IRAWAN di akun fbnya yang menghina Habib Rizieq, juga penghinaan kepada Prabowo, Anies Baswedan, 212, dll.

Atas penghinaan, menebar kebencian (hate speech), provokasi SARA, aparat diminta untuk menindak tegas dan menangkap WAHYU IRAWAN, dan diperlakukan sama dalam penegakkan hukum seperti kepada yang lainnya.

"Mohon di ciduk orang yg telah menghina HRS, homo ini 👇bekerja di PLTGU muara tawar dan Lebak wangi residence mohon segera di ciduk👇
Viral kan agar cepat terciduk
Lebih cepat lebih baik!!" 

Demikian disampaikan akun Cinta Rasul di fbnya, yang membagikan BUKTI berupa screenshot status-status fb Wahyu Irawan.

(https://www.facebook.com/cintarasul.313999/posts/1994599044193558)

Saat redaksi portal-islam.id, Ahad (4/3/2018), mengecek langsung ke akun fb WAHYU IRAWAN memang status-status fbnya penuh ujaran kebencian dan penghinaan kepada Habib Rizieq, Prabowo, Anies Baswedan, dll.

APAKAH PENEGAKKAN HUKUM BERLAKU UNTUK SEMUA???

APAKAH PENDUKUNG PENGUASA JUGA AKAN DITINDAK???

VIRALKAN....

Berikut diantara sedikit BUKTI screenshot. Iya yang ini cuma sebagian kecil dari postingan WAHYU IRAWAN yang penuh ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi SARA. Selengkapnya bisa dilihat di akun fb ybs:






Sumber :Portal Islam 

Jakarta Dibayangi Gempa Dahsyat Megathrust 8,7 Skala Richter!

Jakarta Dibayangi Gempa Dahsyat Megathrust 8,7 Skala Richter!


10Berita -Dikepung patahan aktif dan tanahnya sangat lunak, Jakarta rentan terdampak gempa megathrust 8,7 skala Richter. Jakarta berisiko menghadapi gempa bumi yang bersumber dari zona megathrust subduksi dan sesar aktif.

“Tebalnya lapisan tanah lunak di Jakarta berpotensi memicu amplifikasi atau penguatan guncangan saat terjadi gempa kuat,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Jakarta.

Dia menuturkan, Jakarta dikelilingi patahan aktif, megathrust Jawa Barat dan Jawa Tengah, megathrust selat Sunda.

“Jakarta harus siap apabila terjadi gempa yang bersumber di selatan Jawa,” ucap dia.

Kapan Terjadi?

Dwikorita menegaskan persepsi bahwa Jakarta aman gempa adalah keliru. Dia memastikan gempa masih akan terus terjadi di Jakarta.

“Namun yang belum bisa dipastikan adalah kapan gempa itu terjadi dan berapa kekuatannya,” ujar dia.

Siap Siaga

Warga Jakarta, menurut Dwikorita, harus mulai memahami risiko bahaya gempa bumi, memahami mitigasi bencana gempa bumi, serta memerhatikan aspek keamanan bangunan terhadap gempa.

Ia menyarankan audit bangunan dan gedung bertingkat untuk memastikan keamanan bangunan dari gempa.(kl/l6)

Sumber : Eramuslim

PSI Dukung Ridwan Kamil, Tsamara Kena Skak Mat

PSI Dukung Ridwan Kamil, Tsamara Kena Skak Mat

10Berita Kemarin siang, Jumat, 2 Maret 2018, Ridwan Kamil mendatangi DPP Partai Solidaritas Indonesia. Selanjutnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) resmi mendukung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PSI, Grace Natalie mengatakan, Ridwan Kamil merupakan sosok yang memiliki beragam prestasi dan layak untuk memimpin Jawa Barat. Oleh karena itu, PSI akan mendukung Ridwan Kamil untuk bisa memimpin Jawa Barat.

“Kita yakin kalau pekerjaan Kang Emil di Bandung bisa diperluas sampai ke daerah-daerah lainnya di Jawa Barat, saya percaya Jawa Barat akan menjadi frame daerah yang maju, makmur, menjunjung tinggi toleransi, dan membenci korupsi,” papar Grace, seperti yang dilansir oleh Republika.

Grace Natalie, mengaku telah lama mengincar Ridwan Kamil ke dalam salah satu pemimpin yang kompeten.

“Kang Emil sudah kita incar-incar. Sejak dua tiga tahun lalu sudah ada di radar kita. Ketika Kang Emil mau maju, kita enggak ragu-ragu lagi, langsung kita sepakat,” kata Grace di Kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Jumat (2/3).

Namun ternyata, keputusan PSI untuk mendukung Ridwan Kamil justru menjadi tamparan keras bagi Ketua DPP PSI sendiri, Tsamara Amany.

Sebelumnya, melalui cuitan di media sosial, Tsamara pernah menyerang bahwa Ridwan Kamil dengan tulisan-tulisannya yang mengatakan bahwa Ridwan Kamil tidak pantas menjadi pemimpin tingkat nasional.

Berikut beberapa jejak digital terkait pernyataan-pernyataan Tsamara yang malah menohok dirinya sendiri saat ini:

Sumber : Ngelmu.co 

Siapa Muslim Cyber Army?

Siapa Muslim Cyber Army?


10Berita, Polisi baru saja merilis kasus hoax dan ujaran kebencian yang disebut-sebut dilakukan sebuah kelompok “terorganisir” bernama The Family Muslim Cyber Army (MCA).

Ini kali kedua polisi menangkap kelompok yang disebut memproduksi ujaran kebencian. Sebelumnya adalah Saracen sidangnya kini tengah berlangsung di Pengadilan.

Kalau menyimak apa yang disampaikan Direktorat Cyber Crime Mabes Polri, kelompok Family MCA ini sangat serius dalam memproduksi hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Mereka bahkan sudah membentuk divisi-divisi. Bahkan disebut mempunyai akademi tempur dan sniper alias penembak jitu.

Organisasi mereka juga sudah lama eksis, karena menurut polisi ada yang sudah menjadi anggota selama lima tahun? Penjelasan polisi ini cukup mengagetkan para pegiat medsos.

Aktivis Muhammadiyah dan juga pegiat medsos Mustofa Nahrarwadaya sampai kaget dan bingung dengan pengakuan ini. Sebab yang namanya MCA bukanlah sebuah organisasi resmi, namun sebuah fenomena sosial yang mencuat ke permukaan menjelang Pilkada DKI 2017.

Bila dihitung mulai hiruk pikuk saat jutaan umat Islam turun ke jalan pada saat terjadi penistaan agama oleh mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), maka MCA umurnya belum sampai dua tahun.

Ahok keseleo lidah pada saat menyampaikan pidato di Kepulauan Seribu 27 September 2016. Setelah itu jutaan umat Islam turun ke jalan dalam berbagai Aksi Bela Islam (ABI). Bersamaan dengan itu muncul fenomena gerakan sosial para aktivis medsos muslim yang menjadi backbone ABI.

Mereka ini kebanyakan generasi muda muslim perkotaan yang terdidik dan melek teknologi. Mereka adalah generasi native digital yang semangat (ghiroh) keagamaannya sedang tinggi-tingginya.

Para aktivis ini jumlah sangat besar dan membuat tim sosmed pendukung Ahok yang sebelumnya sangat digdaya menjadi tak berdaya. Mereka seperti gerombolan lebah yang mendengung, menyerbu dan menyengat akun-akun lain yang diidentifikasi sebagai musuh. Saking besarnya jumlahnya banyak yang menyebutnya sebagai Mega Muslim Cyber Army (MMCA).

Kendati besar, mereka sama sekali tidak terorganisir. Tidak ada yang namanya pengurus, struktur organisasi, kantor, apalagi markas komando. Nama MCA atau MMCA juga berasal dari para pengamat dan media.

Mereka hanya disatukan oleh sebuah concern bersama berupa advokasi terhadap umat. Khusus dalam Pilkada DKI adalah menangnya cagub dan cawagub muslim.

Kalau toh ada yang bisa disebut sebagai pimpinan dalam gerakan ini, mereka adalah para influencer. Pegiat medsos berpengaruh yang followernya puluhan sampai ratusan ribu, bahkan ada yang jutaan. Pasukannya adalah para netizen dan buzzer.

Figur-figur terkenal seperti duo pimpinan DPR Fahri Hamzah, Fadli Zon adalah politisi yang punya ratusan ribu follower.

Begitu juga tokoh agama seperti Aa Gym, Ustad Arifin Ilham, dan Ustad Yusuf Mansur adalah para influencer yang punya follower bahkan sampai jutaan.

Kalau toh mau disebut sebagai komandan atau pimpinan, para influencer inilah para “komandan,” MCA. Cuitan mereka biasanya langsung didengungkan (buzz) oleh para buzzer.

Sejumlah politisi maupun parpol diketahui mempunyai buzzer. Mereka bekerja secara profesional, atau atas dasar afiliasi politik, maupun keagamaan. Namun dalam kasus MCA, mereka tidak selalu terafiliasi secara politik maupun hubungan patron klien dengan influencer.

Mereka biasanya disatukan oleh suatu isu bersama. Misalnya gubernur muslim di DKI, atau dalam konteks Pilpres 2019 munculnya figur capres-cawapres yang lebih berpihak kepada umat. Namun dalam soal pilihan politik dalam hal ini parpol, pilihan mereka berbeda-beda. Jadi yang disebut MCA adalah kelompok yang cair.

Kendati cair, tidak terstruktur apalagi terorganisasi, kekuatan MCA ini memang sungguh dahsyat. Keberhasilan konsolidasi dan pengerahan jutaan orang dalam beberapa ABI, harus diakui dapat terwujud karena kekuatan medsos dan gigihnya para pegiat MCA.

Kedahsyatan mereka kembali terkonfirmasi dalam isu nonton bareng Film G30S/PKI, reuni Alumni 212, dan Aksi Bela Palestina. Serbuan ratusan ribu netizen terhadap akun medsos Presiden Jokowi pasca insiden Piala Presiden dapat diduga sebagian besar juga melibatkan MCA. Mereka yang menjadi pendukung Anies-Sandi sangat marah dan kecewa karena Anies dicegah Paspampres ketika akan mendampingi Jokowi menyerahkan piala ke Persija.

Berbagai fakta diatas menunjukkan MCA telah menjadi gerakan sosial yang mampu mendorong pembentukan publik opini dan perubahan peta kekuatan dalam pertarungan politik.

Polisi harus bisa mengungkap siapa sebenarnya kelompok yang mengaku sebagai family Muslim Cyber Army ini? Jangan sampai berkembang isu liar, kasus ini merupakan upaya membungkam kelompok-kelompok yang kritis dan berseberangan dengan pemerintah.

Benarkah mereka merupakan bagian dari kelompok-kelompok MCA, ataukah hanya mengaku-aku saja untuk meraih keuntungan secara finansial?

Apakah mereka kelompok kepentingan lain yang mengaku sebagai MCA sebagai strategi pembusukan dari dalam? Atau ada kelompok yang ingin mengadu domba antar umat beragama dengan menghembus-hembuskan isu SARA? Kalau mereka benar pegiat medsos, jejak digitalnya gampang dilacak.

Semua harus diungkap oleh polisi secara transparan. Semua kelompok penyebar hoax, ujaran kebencian, baik yang kritis maupun yang mendukung pemerintah harus diperlakukan sama. Perang melawan hoax dan ujaran kebencian harus menjadi komitmen dan concern kita bersama.

Penulis: Hersubeno Arief (Konsultan media dan pemerhati masalah sosial politik)

Sumber : PORTAL ISLAM

Kisah Mujahid Muda Setangguh Sahabat Abu Dujanah

Kisah Mujahid Muda Setangguh Sahabat Abu Dujanah

10Berita  – Umurnya masih belia, wajahnya tampan, cerah dan penuh senyuman. Memang muda umurnya, tapi karakternya seperti orang dewasa. Dia adalah seseorang yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk risalah Allah dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tidak seperti pemuda pada umumnya, kesehariannya berkutat dengan ribat dan operasi bersama mujahidin. Teman setianya adalah kalashnikov  yang selalu mendampinginya kemanapun pergi.

Ketika datang tawaran menikah, ia menolak karena merasa dengan menikah waktunya akan tersita untuk istrinya kelak. Maka, ia kembali ke medan jihad dan berharap dinikahkan dengan hurun’in di akhirat nanti. Pemuda tampan ini menjawab tanpa keraguan dan pada akhirnya ia menggapai impiannya menjadi syuhada. Pemuda itu adalah  Abu Sahl Al-Ansari.

Kisah Sebelum Kesyahidan

Beberapa bulan sebelum kesyahidannya, pasukan Nushairi beraktivitas cukup intens di suatu wilayah di Suriah. Para mujahid pun siap siaga dengan kemungkinan apapun yang terjadi. Seorang Abu Sahl jarang mengambil waktu istirahat di saat-saat seperti itu. Pernah suatu kali ia menghabiskan tiga hari tanpa istirahat, tidur, makan dan minum saat ribat di sebuah parit tanpa kembali ke kamp mujahidin. Hal itu dilakukan karena menjaga perbatasan wilayah sembari menunggu serangan musuh yang tidak bisa diprediski kapan datangnya.

Abu Sahl kembali ke kamp mujahidin hanya untuk berganti pakaian dan memenuhi hajat saja. Setelah itu ia kembali melanjutkan menjaga perbatasan. Ia selalu teringat pada firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200)

Minggu-minggu terakhir menjelang kesyahidannya, pasukan syiah Nushairi membombardir mujahidin dengan persenjataan berat. Seluruh teknologi persenjataan yang mereka miliki dikerahkan untuk melenyapkan para tentara Allah. Hingga digambarkan serangan ganas itu bisa mengubah rambut seseorang yang hitam mendadak menjadi beruban dan menaikkan jantung hingga ke tenggorokan. Abu Sahl tetap bersabar dan tenang, kematangan jiwanya membuat dirinya untuk tetap berada di tempat dia berdiri.

Serangan yang begitu ganas menghancurkan apapun yang ada. Peluru-peluru menembus tubuh mujahidin, satu per satu tumbang karena luka yang parah. Bangunan, tanah, pohon ikut rusak karena terjangan serangan yang membabi buta. Sebagian besar tubuh para mujahid berlumuran darah setelah serangan berjalan beberapa jam.

Setelah serangan agak mereda, komandan memerintahkan untuk mengevakuasi mujahid-mujahid yang terluka. Proses evakuasi tentu tidaklah berjalan mudah karena serangan tetap terjadi walau tak terlalu deras. Saat itu Abu Sahl berada di garis depan pertempuran. Dia pun segera memastikan para mujahidin lainnya di garis belakang yang masih mampu untuk bertempur untuk maju ke garis depan. Hal itu dilakukan untuk melindungi evakuasi para mujahidin yang terluka.

Maka, sontak seluruh mujahidin membalas serangan pasukan syiah Nushairi dengan kalashnikov, senapan mesin PK, granat tangan dan pekikan takbir yang membahana memecah langit. Tujuan mereka hanyalah mencapai hidup mulia atau menggapai mati syahid. Abu Sahl bertempur dengan semangat yang mengagumkan. Ia mengikat kepalanya dengan syal seperti sahabat Anshar Samak bin Kharasyah, atau lebih dikenal dengan nama Abu Dujanah ketika perang Uhud. Sebelum kontak senjata terjadi teman-temannya menyebut syal yang diikatkan di kepala Abu Sahl dengan “The Bandana of Death.”

Sumber : Kiblat.

Mantan Jubir Presiden Ini Ingatkan Rakyat untuk Catat Kelakuan Penguasa

Mantan Jubir Presiden Ini Ingatkan Rakyat untuk Catat Kelakuan Penguasa


10Berita, JAKARTA - Salah satu mantan Juru Bicara Kepresidenan RI berpesan bahwa dalam alam demokrasi ada aturan bilamana masyarakat ingin gantikan kursi kekuasaan. Masyarakat diminta sabar, walaupun kelakuan penguasa tidak sesuai dengan kenyataan saat kampanye.

“Dalam demokrasi ada mekanisme pergantian kekuasaan. Jadi jangan ngeluhkan perilaku penguasa,” pesan Adhie Massardi, melalui akun Twitter pribadi miliknya, Jumat (2/3/2018).


Resepnya, lanjutnya, ke depan masyarakat mesti sigap mengingat bahwa kelakuan itu tidak sesuai dengan apa adanya. Kalau perlu menurut Adhie, penguasa terdahulu itu bisa dipersoalkan secara hukum segala perbuatannya kala berkuasa.

“Cukup catat nama oknum-oknum yang nyalahgunakan kekuasaan. Nanti saat penguasa berganti, pelindungnya lengser, kita minta pertanggungjawaban hukum mereka. Sehingga tidak akan ada kegaduhan!” (Robi/)

Sumber : voa-islam.com

Citra Buruk Jokowi Jika Ustadz Abu Bakar Baasyir Tak Dirumahkan

Citra Buruk Jokowi Jika Ustadz Abu Bakar Baasyir Tak Dirumahkan

10Berita,Jakarta – Beredar berita tentang wacana Presiden yang akan mengubah status Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) menjadi tahanan rumah, meski saat ini masih menghuni Lapas Gunung Sindur. Wacana ini muncul usai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin mengadakan dialog dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara beberapa waktu lalu.

Menanggapi wacana itu putra Ustadz ABB, Abdul Rochim Baasyir mengatakan tak memikirkan niat Jokowi. “Kalau memang menjadikan ABB bagian dari pencitraan ya itu urusan dia, kami hanya fokus kepada kesehatan Ustadz,” ungkap Abdul Rochim Baasyir saat dihubungi Kiblat.net, Jumat (02/03/2018).

Ustadz Iim, sapaan Abdul Rochim Baasyir, mengatakan bahwa Ustadz ABB yang sudah tua kondisinya sudah tidak layak untuk dipenjara. Sehingga keluarga menilai Ustadz ABB harus dikembalikan kepada keluarga agar bisa diurus dengan lebih layak.

“Kami ingin fokus kapada upaya pemindahan Ustadz untuk dikembalikan kepada keluarga, tidak di lapas Gunung Sindur, karena penjara tidak layak bagi seorang yang sakit panjang seperti beliau,” ungkapnya.

Ustadz Iim tak terlalu memikirkan sikap pemerintah yang belakangan menunjukkan perhatian terhadap Ustadz Abu. Salah satunya dengan turut memberikan keterangan perihal kondisi kesehatan pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki itu.

Dia menilai masyarakat sudah cerdas dalam melihat sikap pemerintah terhadap Ustadz Abu. Sangat mudah bagi rakyat untuk memahami wacana yang hanya sebatas pencitraan atau memang benar-benar datang dari hati.

“Di satu sisi bahwa ketika presiden tidak memberikan atau tidak memperhatikan sisi kemanusiaan pada kondisi Ustadz Abu Bakar Baasyir ini maka citranya semakin buruk sekali,” ungkapnya.

“Karena jika sampai terjadi apa-apa terhadap beliau, karena beliau juga sudah tua dan kondisinya sudah seperti itu, dan jika qodarullah kemudian beliau meninggal dalam penjara, maka citra Jokowi akan menjadi buruk sekali,” tukasnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Imam S.

Sumber : Kiblat.

Ghouta Berdarah, Siapa Sang Pembela?

Ghouta Berdarah, Siapa Sang Pembela?


Oleh: Afaf Nurul Inayah

10Berita, Ghouta timur, daerah pinggiran Damaskus Suriah, kondisinya saat ini tak ubahnya seperti "Neraka" di muka bumi. Rezim Bassar Assad dengan dibantu dan didukung oleh sekutunya Rusia secara kejam menyerang membabi buta dengan menggunakan bom artileri dan jenis senjata lainnya.

Meskipun serangan itu dilakukan dan di klaim untuk menyerang dan menumpas kelompok pemberontak ternyata juga membunuh ratusan warga sipil di Ghouta. Bangunan- bangunan hancur, nyawa pun melayang tertimbun reruntuhan.

Kelompok observatorium suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM), kamis (22/2) mengatakan, serangan selama lima hari di Ghouta timur telah menyebabkan lebih dari 400 orang tewas. Jumlah tersebut tak hanya mencakup orang dewasa tetapi juga anak- anak, (Republika.co.id, 27/2/18).

Derita umat Islam di Ghouta, melayang nyawa di setiap detiknya, belum mampu menggerakkan para penguasa muslim untuk membela Ghuota. Kalau begitu, Kita patut bertanya, Siapa yang akan membela mereka?, Siapa yang akan memenuhi jeritan dan tangisan anak- anak Ghouta?. Apakah masih bisa berharap kepada lembaga Internasional PBB atau negara- negara Uni Eropa? Atau kepada para penguasa Arab di negeri- negeri muslim?

Uni Eropa meminta gencatan senjata dengan segera. PBB menyerukan semua pihak yang berperang agar menghentikan pertempuran, begitu pula dengan para penguasa-penguasa Arab di negeri muslim. Mereka tidak mempunyai sedikitpun keberanian kecuali sekedar mengutuk, mengecam dan meminta untuk segera dilakukan gencatan senjata. Para penguasa muslim tidak berani untuk melakukan tindakan nyata dengan mengerahkan pasukan militer dan menghentikan serangan brutal rezim Bassar Assad dan sekutunya.

Tragedi yang tak pernah sepi menimpa umat Islam, pembantaian yang senantiasa berulang dan berlanjut, bagaimana tragedi ini bisa dihentikan?. Sejatinya, solusi hakiki dari konflik yang terjadi di Suriah, juga di negeri- negeri Islam yang lain adalah dengan mewujudkan kembali kekuasaan Islam sebagai Perisai untuk menjaga dan melindungi kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda: " Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya" ( HR. Muslim)

Sejarah telah membuktikan, Adalah Kholifah al Mu' tashim Billah, dengan berani segera memenuhi panggilan dan jeritan seorang wanita mulia yang ditawan, disiksa dan dinistakan oleh raja Amuriyah. Sang Khalifah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum muslimin ke kota Amuriyah, Kota Amuriyah berhasil di takhlukkan dan wanita mulia yang di tahan berhasil di bebaskan.

Saat ini betapa umat Islam membutuhkan sosok pemimpin seperti Khalifah Al Mu' tashim Billah, umat membutuhkan Khilafah, karena hanya Khilafah yang mampu menyelamatkan umat Islam dimanapun berada, Khalifah yang akan menjadi perisai dan pelindung kaum muslimin.

Rasul SAW bersabda: "Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian" (HR. Muslim). Wallaahu a' lam. [syahid/]

Sumber : voa-islam.com

3 Pemimpin Dunia Segera Hukum Rezim Assad

3 Pemimpin Dunia Segera Hukum Rezim Assad


Foto: Asharq Al Awsat

10Berita, LONDON—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel telah menekan Rusia agar mematuhi Resolusi 2401 tentang gencatan senjata. Selain itu mereka juga mengancam untuk segera “Menghukum” rezim Suriah atas dugaan penggunaan bahan kimia di Ghouta Timut.

Hal ini terbukti sebuah kapal induk AS tiba di Laut Mediterania untuk berpartisipasi dalam latihan gabungan militer dengan Israel.

Melansir Asharq Al-Awsat, Jumat (2/3/2018) dari sumber-sumber Barat di New York bahwa AS bertekad untuk mempertahankan rezim Suriah dan bertanggung jawab atas Daesh setelah terbukti terlibat dalam penggunaan senjata kimia di Suriah.

Administrasi Trump “Masih berupaya mencapai tujuan ini melalui dua rancangan resolusi”, menurut sebuah sumber Barat.

Salah satu rancangan resolusi yang disampaikan ke Dewan Keamanan PBB sebelumnya akan membentuk Mekanisme Investigasi Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIMI) untuk jangka waktu satu tahun “untuk mengidentifikasi pelaku serangan senjata kimia ‘di Suriah.

Dalam hal ini, Trump berbicara dalam telepon terpisah dengan Merkel dan Presiden Macron.

Merkel dan Macron sama-sama sepakat dengan Trump bahwa rezim Suriah, dan pendukung Rusia dan Iran, harus segera dan sepenuhnya menerapkan Resolusi 2401 Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera di seluruh Suriah, kata Gedung Putih.

Para pemimpin meminta Rusia untuk menghentikan pengeboman Ghouta Timur, untuk memaksa rezim Assad menghentikan operasi ofensif terhadap wilayah sipil. Mereka juga untuk meminta Suriah bertanggung jawab atas memburuknya kondisi HAM di Ghouta Timur, yang disebabkan oleh penggunaan senjata kimia, serangan terhadap warga sipil, dan pemblokiran bantuan kemanusiaan.
rezim Assad yang terus berlanjut.

Komisioner Tinggi PBB untuk HAM Zeid Raad al-Hussein mengatakan pada hari Jumat (2/3/2018) bahwa rezim Suriah melakukan serangan udara di Ghouta timur yang terkepung “Mungkin merupakan kejahatan perang dan harus diadili.”
Hussein memulai pidatonya dengan mengatakan bahwa orang-orang dari Ghouta Timur telah dikepung selama lebih dari setengah dekade, di mana mereka telah mengalami serangan udara, penembakan dan beberapa kejadian, warga sipil dilaporkan meninggal dengan napas terengah-engah setelah agen beracun dilepaskan.

“Kami telah menerima laporan tentang serangan udara tanpa henti yang menimpa rumah sakit, sekolah dan pasar dalam beberapa pekan terakhir. Orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran kota biasa – manusia yang berbagi hak dan harapan kita semua di sini – terjebak dan dipukul oleh bom, dan dirampas dari setiap hak asasi manusia – terutama, hak untuk hidup, “kata Hussein kepada komisi tersebut.

Komisaris tersebut mengindikasikan bahwa Suriah harus dirujuk ke Pengadilan Pidana Internasional, menambahkan bahwa upaya untuk menggagalkan keadilan, dan melindungi para penjahat ini, adalah tindakan tercela.

Duta Besar Suriah di Jenewa, Hussam Aala menggambarkan laporan Hussein sebagai “selektif dan bias” dan bahwa perdebatan tersebut “dipolitisasi.” []

SUMBER: ALSHARQ AL AWSAT

Relawan 212 Jokowi Tak Diakui oleh Alumni Aksi Bela Islam 212

Relawan 212 Jokowi Tak Diakui oleh Alumni Aksi Bela Islam 212


10Berita, Pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginisiasi pembentukan Relawan Nasional 212 Jokowi Presiden Republik Indonesia (Renas 212 JPRI). Tujuannya mendukung pencalonan kembali Jokowi sebagai calon presiden di Pemilu 2019.

Penggunaan "212" mengundang reaksi sejumlah kelompok yang lebih dahulu menggunakan nama 212—para pihak yang terlibat Aksi Bela Islam 212 pada 2016. Mereka mempertanyakan soal apakah Renas 212 JPRI sebagai bagian dari alumni Aksi Bela Islam 212.

“Justru adanya 212 (Aksi Bela Islam 212) itu kan muncul gara-gara Jokowi. Enggak mungkin pula masa 212 dukung Jokowi. itu hampir mustahil,” kata Ketua Garda Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo kepada Tirto, Jumat (2/3/2018).

Idrus mengatakan Aksi Bela Islam 212 yang berlangsung di Jakarta pada 2 Desember 2016 justru dilatarbelakangi kekecewaan terhadap Pemerintahan Presiden Jokowi yang tidak bersikap tegas terhadap kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dalam konteks saat itu, para inisiator Aksi Bela Islam 212 Ahok telah menistakan Surat Al-Maidah 51 saat kunjungan kerja saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta di Kepulauan Seribu, Jakarta. Akhirnya, pada 9 Mei 2017 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis Ahok bersalah dengan hukuman 2 tahun penjara.

Sambo tidak tahu siapa sosok di balik pembentukan Renas 212 JPRI yang mengaku bernama Nasir. Ia meragukan ada alumni Aksi 212 yang bersedia mendukung Jokowi dan berkoordinasi dengan pihak Kepala Kantor Staf Presiden.

“Enggak mungkin menurut saya, bagaimana mungkin dia 212 dukung Jokowi? Berarti dia 212 yang mana ini?” tanya Sambo.

Sambo menduga nama "212" sengaja dipakai untuk mengganggu gerakan politik para alumni Aksi Bela Islam 212. Ia merasa Renas 212 JPRI tidak akan berpengaruh signifikan secara politik.

“Kalau tokoh-tokohnya hebat yang dikenal luas seperti tokoh 212 (Aksi Bela Islam 212) itu baru jadi masalah. Kalau cuma tokoh yang baru mengaku-ngaku 212 biarkan saja. Pasti orang juga enggak percaya kok,” kata Sambo.

Juru bicara Presidium Alumni 212 Aminudin mengatakan nama "212" tidak bisa dilepaskan dari konteks Aksi 212. Sehingga menurutnya penggunaan nama 212 sebagai identitas kelompok relawan Jokowi tidak relevan. “Dalam hal ini (Aksi Bela Islam 212) Pak Jokowi mendukung Pak Ahok maka tidak relevan menurut kami,” kata Aminudin.

Aminudin mengaku tidak mengenal pengurus Renas 212 JPRI. Ia memastikan Renas 212 JPRI bukan bagian Presidium Alumni 212. “Dia terpisah sama sekali. Kami sudah jelas pembelaan kami adalah pembelaan kepada aksi-aksi bela Islam,” ujarnya.

Pembentukan Renas 212 JPRI menurut Aminudin merupakan bagian dari manuver politik. Ia menilai ada upaya untuk merangkul massa peserta Aksi 212 yang berjumlah besar untuk kepentingan Pilkada 2018 maupun Pilpres 2019. Namun, Aminudin mengatakan tidak akan mempersoalkan pembentukan Renas 212 JPRI.

“Alam yang akan menyeleksi,” kata Aminudin.

Sebelumnya ada kelompok yang mendaku sebagai pendukung Presiden Jokowi membentuk Renas 212 JPRI. Organisasi ini bertujuan mendukung pencalonan kembali Jokowi sebagai Presiden RI 2019-2024.

"Pembentukan organisasi Renas 212 JPRI untuk mendukung pencalonan kembali Presiden Joko Widodo sebagai calon Presiden periode 2019-2024 di Pemilu Presiden 2019. Organisasi ini akan segera dideklarasikan bulan Maret ini," ujar Koordinator Nasional Renas 212 JPRI, Nasir, seperti diberitakan Antara, Kamis (2/3).

Nasir akan segera berkoordinasi dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko soal rencana pembentukan organisasi ini. Dia menargetkan jumlah anggota Renas 212 JPRI mencapai lima juta relawan inti yang tersebar di 34 provinsi. Jumlah relawan tersebut, menurut Nasir, cukup untuk memenangkan Jokowi sebagai Presiden RI untuk periode kedua pada Pilpres 2019.

Sumber : tirto.or.id, opini-bangsa.com