OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 21 Maret 2018

Frasa ‘Paham Lain’ pada UU Ormas Dinilai Kemunduran Melebihi Orde Baru

Frasa ‘Paham Lain’ pada UU Ormas Dinilai Kemunduran Melebihi Orde Baru

"Dalam praktik pemerintahan Orde Baru frasa 'ideologi paham lain' adalah senjata ampuh yang dapat digunakan memberangus ormas-ormas tertentu yang berbeda suaranya dengan pemerintah."

yahya g nasrullah/hidayatullah.com

Sidang Gugatan UU Ormas di Gedung MK, Jakarta, Selasa (20/03/2018).

10Berita – Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang terakhir gugatan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas) yang sebelumnya berupa Perppu dari UU Nomor 17 Tahun 2013 pada Selasa di Gedung MK, Jakarta, Selasa (20/03/2018).

Agenda persidangan tersebut yakni mendengarkan keterangan ahli dari pemohon yang juga Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Dr Indra Perwira SH MH.

Dalam keterangannya, Indra menyampaikan, NKRI telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia demi menjaga kelangsungan hidup sesuai jati dirinya. Sehingga wajar mengidentifikasi paham lain yang bertentangan sebagai ancaman yang harus dilawan.

Adapun ajaran yang bertentangan dengan Pancasila sebagaimana dimaksud, dijelaskan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 secara spesifik adalah atheisme, komunisme, marxisme, dan leninisme.

“Semuanya jelas bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Sampai di situ, Indra menegaskan, ia sepakat sampai seutuhnya. Namun, dalam UU Nomor 17 Tahun 2013 yang telah diganti menjadi UU Nomor 16 Tahun 2017 ada hal kecil yang diubah tetapi memiliki konsekuensi besar yang dapat merapuhkan sendi-sendi negara hukum. Yakni adanya frasa ‘paham lain’.

Baca: MK Gelar Sidang Perdana Uji Materi UU Ormas Baru


Aturan ini, sebut Indra, hampir sama dengan rumusan Pasal 16 UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang keormasan yang berlaku pada Orde Baru.

“Tapi tentu kita mafhum dalam praktik pemerintahan Orde Baru frasa ‘ideologi paham lain’ adalah senjata ampuh yang dapat digunakan memberangus ormas-ormas tertentu yang berbeda suaranya dengan pemerintah,” jelasnya.

“Sungguh pun penjelasan itu bukan norma, melainkan hanya penafsiran otentik. Namun hukum seharusnya menentukan batas dan rambu-rambu bagi kekuasaan. Dan tidak memberi peluang sekecil apapun bagi kekuasaan tersebut untuk melampaui batas,” tambahnya

Hal kecil itu, terang Indra, sangat berbahaya karena batas-batas hak konstitusional seperti kebebasan berpikir, berbicara, menyatakan pendapat, dan ekspresi lain jadi tidak jelas dan tergantung penilaian pemerintah.

“Situasi seperti ini adalah ciri dari otoritarian dan bukan demokrasi. Jelas ini suatu kemunduran, setback ke masa Orde Baru. Bahkan jauh lebih mundur, sebab di masa Orde Baru sekalipun dalam UU Nomor 8 Tahun 1985 tidak ada ancaman pidana,” pungkasnya.

Diketahui, sejumlah ormas dan perorangan yaitu Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Yayasan Forum Silaturahim Antar Pengajian Indonesia, Perkumpulan Pemuda Muslimin Indonesia, Perkumpulan Hidayatullah, dan Munarman SH mengajukan gugatan terhadap UU yang baru-baru ini disahkan tersebut. Para pemohon didampingi kuasa hukum dari Tim Advokasi GNPF.*

Sumber :Hidayatullah.com
:

Wow, Media Ini Tulis Artikel Berjudul Dusta Yasonna & Jokowi Tentang UU MD3

Wow, Media Ini Tulis Artikel Berjudul Dusta Yasonna & Jokowi Tentang UU MD3


10Berita, Situs berita tirto.id hari ini (21/3) menurunkan sebuah artikel yang berjudul "Dusta Yasonna & Jokowi Tentang UU MD3". Berikut tulisan lengkapnya:

Presiden Joko Widodo berkata "kaget" atas pasal-pasal kontroversial dalam UU MD3. Risalah rapat di DPR menunjukkan sebaliknya: Jokowi tahu.

tirto.id - “Setuju, Ketua.”

Dua kata itu keluar dari mulut Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly saat hadir dalam pengambilan keputusan RUU tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2104 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), di Senayan, 7 Februari 2018.

Saat itu Yasonna menyetujui poin perubahan pasal 260 ayat 1 tentang penambahan unsur pimpinan DPD menjadi 1 orang ketua dan 3 wakil ketua. Padahal, sebelumnya, Yasonna menolak. Namun, Yasonna berubah pikiran setelah lobi-lobi yang digelar sebelum rapat pengambilan keputusan itu.

Yasonna tak hanya menyetujui penambahan pimpinan DPD. Ia juga menyetujui penambahan jumlah pimpinan DPR. Penambahan jumlah pimpinan DPR ini terkait upaya PDI Perjuangan sebagai partai pemenang pemilu untuk mendapatkan kursi pimpinan. Sebagai kader PDIP, Yasonna turut memperjuangkan itu.

“Tadi setelah kami berbicara, dan membaca dinamika politik atau perdebatan-perdebatan yang disampaikan di fraksi-fraksi, kami dapat menyetujui tambahan 1 orang ketua dan 7 orang wakil ketua, dan minta disepakati sebelumnya di DPR RI penambahan 1 wakil ketua,” ujar Yasonna.

Begitu UU ini selesai dibahas oleh Yasonna dan DPR, Presiden Joko Widodo mewanti-wanti bahwa ia tidak akan menandatangani revisi UU MD3 meski sudah ada di mejanya.

Pernyataan Jokowi bukan omong kosong. Sebulan setelah UU MD3 disahkan DPR, Jokowi tak kunjung menekennya.

“Soal UU MD3 ... saya sampaikan saya tidak menandatangani UU tersebut,” ujar Presiden Jokowi di Serang, 14 Maret lalu.

Meski menolak, Jokowi tidak menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang menganulir regulasi tersebut.

Langkah itu berbeda dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014 yang merespons dengan Perppu saat ia ogah meneken UU Pemilihan Kepada Daerah. SBY mengeluarkan dua Perppu dengan alasan masyarakat tak setuju UU Pilkada .

Saat itu SBY mengeluarkan Perppu 1/2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Perppu ini sekaligus mencabut Undang-undang 22/2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota. Perppu lain adalah menghapus kewenangan DPR memilih kepala daerah.

Jokowi dan Yasonna Laoly Bersandiwara

Penolakan itu, kata Presiden Jokowi, didasarkan “keresahan” masyarakat terhadap sejumlah pasal kontroversial dalam revisi UU MD3. Di antaranya hak pemanggilan paksa DPR (pasal 73), wewenang Majelis Kehormatan Dewan (pasal 122), dan hak imunitas DPR (pasal 245).

Jokowi mengaku kaget karena selama ini Yasonna Laoly tak pernah melapor perkembangan pembahasan UU MD3. Hal ini diakui Yasonna. Namun, Yasonna enggan memberikan alasan mengapa ia mengabaikan atasannya.

“Sudahlah. Kalian tidak perlu tahu itu. Dinamikanya sangat alot pada waktu itu,” kata Yasonna di depan para wartawan.

Belakangan, Jokowi yang semula kaget atas pasal-pasal kontroversial itu membela Yasonna. Ia mengatakan Yasonna sempat meneleponnya, tapi saat itu tak memungkinkannya menjawab telepon.

“Dan pada saat itu memang berusaha untuk telepon, tapi saya tidak tahu. Saya pada posisi tidak mungkin menerima itu," ujar Jokowi di Serang.

Kendati kaget, Jokowi menjelaskan bahwa 75 persen usulan dari DPR soal UU MD3 sudah ditolak oleh menteri Yasonna.

Tapi di situlah soalnya: Jokowi dan Yasonna bersandiwara.

Sejak pembahasan UU MD3, tidak terlihat ada penolakan dari pemerintah, dalam hal ini diwakili Yasonna. Yang terjadi justru kompromi-kompromi dan kata “setuju”.

Yasonna berkali-kali menyinggung mengenai dinamika yang “alot” selama proses pembahasan UU MD3. Namun, kealotan itu tak muncul selama pembahasan. Misalnya soal jatah pimpinan DPR untuk partai pemenang pemilu, penolakan justru datang dari PPP dan NasDem.

Kesepakatan soal penambahan jumlah pimpinan DPR, berupa “jatah” untuk PDIP (Parpol tempat Yasonna bergabung) justru menjadi kesepakatan paling awal dalam rapat oleh Yasonna. Ini terbaca dari risalah rapat kerja pengambilan keputusan UU MD3 pada Rabu malam, 7 Februari 2018.

Dalam risalah yang dibuat oleh Sekretariat Badan Legislasi DPR RI itu, yang dokumennya disimpan redaksi Tirto dan menjadi tulang punggung artikel ini, Yasonna tak banyak bicara. Ia hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketua rapat Dossy Iskandar Prasetyo, politikus dari Fraksi Hanura.

Selama rapat, Yasonna hanya bicara selama enam kali kesempatan. Tidak ada nada penolakan dari dia.

Misalnya, Yasonna setuju atas pasal 245 tentang hak imunitas anggota DPR (memanggil anggota DPR yang terlibat kasus pidana harus melalui persetujuan tertulis presiden dan Mahkamah Kehormatan Dewan).

Begitu pula saat pembahasan pasal 73 tentang hak DPR dapat memanggil setiap orang untuk hadir dalam rapat DPR. Yasonna hanya meralat pemanggilan paksa itu tidak hanya berlaku untuk pejabat negara, badan hukum, dan pejabat pemerintah, melainkan untuk semuanya. Frasa “Pejabat negara dll” diganti dengan “setiap orang”.

“Jadi supaya tidak ada diskriminasi, jadi ‘setiap orang’, Pak Ketua,” usul Yasonna.

Dalam rapat selama sekitar satu jam itu, nyaris tidak ada penolakan terhadap pembahasan pasal-pasal kontroversial, yang menguatkan anggota DPR bak lembaga penegak hukum selain penambahan jatah kursi pimpinan.

Dalam risalah, fraksi NasDem menolak secara menyeluruh, sementara PPP menolak sebagian pasal-pasal kontroversial.

Fakta ini berkebalikan dari omongan Jokowi bahwa 75 persen usulan DPR ditolak oleh Yasonna. Nyatanya, tidak ada satu poin pun yang ditolak pemerintah.


Ada Sambutan Jokowi dalam Risalah Rapat UU MD3

Dalam rapat pada Rabu malam, 7 Februari di Senayan, Yasonna Laoly membacakan sambutan singkat dari Jokowi. Artinya, Jokowi sudah tahu soal pasal-pasal UU MD3.

Dalam sambutan itu cuma dibahas satu hal, yakni ucapan terima kasih Jokowi atas perubahan MD3 terutama penambahan jumlah pimpinan jatah partai pemenang pemilu.

“... dengan cara menambah jumlah wakil ketua Pimpinan MPR, DPR dan DPD, yang memberikan cerminan penguatan kelembagaan dan tugas serta fungsi konstitusional MPR, DPR dan DPD,” kata Yasonna mewakili Jokowi.

Sambutan itu sejalan keinginan PDIP atas perubahan regulasi tersebut.

Junimart Girsang, politikus dari Fraksi PDIP yang terlibat dalam pembahasan UU MD3, mengatakan partainya memang fokus pada penambahan pimpinan DPR.

Soal pasal kontroversial, kata dia, bukan masukan dari PDIP, melainkan usulan dari fraksi lain saat pembahasan.

“Sejak awal niatan kami cuma menambah pimpinan DPR dan MPR yang memang hak kami. Tapi kami tidak bisa menolak keinginan fraksi-fraksi lain. Kami harus berkompromi supaya tujuan kami tercapai,” kata Junimart.

Soal sambutan Presiden dalam rapat kerja itu, juru bicara presiden, Johan Budi, mengatakan sudah dijelaskan oleh Yasonna.

"Pertanyaan kamu sebetulnya sudah ada jawabannya minggu lalu. Pak Yasonna juga sudah menjelaskan terkait hal itu," kata Budi.

Reni Marlinawati, politikus dari fraksi PPP yang hadir dalam rapat, mengklaim "tidak mengetahui" ada sambutan dari Presiden Jokowi yang dibacakan Yasonna. Ia menilai janggal ketika dalam rapat kerja, ada sambutan dari presiden.

“Itu risalah apa? Rapat pleno atau rapat kerja? Kalau rapat kerja, saya tidak yakin. Bisa jadi ada, mungkin pas saya sedang ke toilet atau gimana. Tapi ini tidak wajar,” ujar Reni.

Pasal Lain yang Seharusnya Dikritisi tapi Berjalan Mulus

Hampir semua usulan perubahan yang diajukan DPR ditanyakan oleh ketua rapat Dossy Iskandar Prasetyo kepada Yasonna Laoly. Namun, ada yang terlewat dari dia, bahkan tak muncul dalam pembahasan. Isu itu mengenai penambahan wewenang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Penambahan wewenang MKD hanya disinggung sedikit oleh Supratman Andi Agtas, politikus dari Fraksi Gerindra, saat menyampaikan hasil kerja panitia kerja.

Dalam laporan itu, Supratman hanya menyinggung soal “perumusan ulang terkait tugas dan fungsi Mahkamah Kehormatan Dewan”. Tanpa ada pembahasan, pasal 122 ini pun lolos begitu saja, padahal isinya krusial.

Pasal 122 huruf l menyebutkan, “Mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan DPR dan anggota DPR.”

Wewenang baru MKD ini membuka celah kriminalisasi kepada siapa saja yang merendahkan kehormatan anggota DPR dan DPR sebagai lembaga.

Ketua MKD, Sufmi Dasco Ahmad dari Fraksi Gerindra, mengatakan penambahan wewenang itu sudah direspons oleh MKD. Mereka sudah merumuskan aturan turunan dari UU MD3 dan memastikan wewenang baru itu tidak membuat masyarakat khawatir.

“Justru dengan undang-undang ini, anggota DPR tidak bisa seenaknya saja melapor ke polisi, karena yang berhak melapor itu sekarang MKD. Anggota DPR melapor ke MKD lebih dulu. Sekarang kami susun mekanisme, supaya tidak ada abuse of power,” kata Sufmi.

Selain kewenangan MKD, hal yang tidak diuraikan dalam rapat pada 7 Februari adalah menghidupkan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN). Pada 2014, badan ini sudah dihapus.

Menurut pasal 112D, tugas dari BAKN adalah: pertama, melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan kepada DPR; kedua, menyampaikan hasil penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf a kepada komisi; ketiga, menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK atas permintaan komisi; dan keempat, memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan, hambatan pemeriksaan, serta penyajian dan kualitas laporan.

Tugas BAKN menjadi janggal karena badan ini bisa dipakai untuk mengaudit setiap temuan Badan Pemeriksaan Keuangan—lembaga negara yang menyoroti dan mengawasi akuntabilitas serta transparansi pemerintahan.

Namun, kejanggalan itu dibantah oleh Reni Marlinawati dari Fraksi PPP yang terlibat dalam pembahasan UU MD3. Katanya, BAKN justru dihidupkan lagi dengan "semangat mewujudkan transparansi."

“Kami seluruh anggota DPR ini belum bisa mencermati setiap laporan dari BPK. Kan banyak yang tidak mengerti. Saya sendiri saja tidak mengerti. Jadi yang bertugas itu nanti, yang men-judge bahwa laporan BPK ini kira-kira memadai atau tidak, ya badan itu,” ujar Reni.[]

Sumber : tirto.id, www.tribunislam.com

 

Kabar Gembira Bagi Para Penggenggam Bara Di Akhir Zaman

Kabar Gembira Bagi Para Penggenggam Bara Di Akhir Zaman

Oleh: Abu Fatiah Al-Adnani | Pakar Kajian Akhir Zaman

10Berita  – Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang pada manusia suatu zaman di mana orang yang bersabar dalam agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengabarkan bahwa akhir zaman adalah fase fitnah yang kebaikan berkurang dan keburukan meningkat. Hakikat fitnah adalah terbaliknya suatu kondisi dari yang semestinya; yang haq dianggap batil dan yang hitam dianggap putih. Kejujuran akan dimusuhi dan kedustaan dijadikan tradisi. Sunnah dianggap bid’ah sedang bid’ah dijadikan sunnah. Lawan dianggap kawan sedang kawan dijadikan lawan.

Itulah saat orang-orang yang berpegang dengan ajaran Islam yang haq sangat sedikit. Kesulitan dan kepayahan mereka berpegang dengan agama seperti orang yang menggenggam bara api, dipegang tangan terbakar dan jika dilepas api akan padam. Orang-orang yang berpegang dengan agama ketika itu demikian terasing, sendiri di tengah kebanyakan manusia, juga sedikit yang mau menolong dan membantu mereka. Orang jawa bilang saiki zaman edan, nek ora melu edan ora kumanan (sekarang zaman edan, yang tidak ikut ikutan edan pasti tidak akan kebagian). Ya, manusia waras pasti akan tersiksa manakala orang-orang di sekitarnya telah menjadi gila. Namun demikian Rasulullah saw menghibur umatnya yang kelak akan memasuki zaman ini, dimana mereka akan dijanjikan pahala yang sangat besar bila mau bersabar. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat:

Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,

بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ

‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.” (Kemudian, Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami kami atau generasi mereka?’ Rasulullah saw, ‘Untuk mereka’.”)[2]

Kedua hadits ini secara jelas mengindikasikan adanya perubahan zaman, kerusakan penduduknya, banyaknya fitnah yang membinasakan, berbagai macam musibah serta ujian yang akan ditimpakan di akhir zaman kepada para kekasih Allah. Saat itu tiada lagi orang yang teguh dalam memegang agama dan ajaran agamanya melainkan orang-orang yang diberi kesabaran yang tinggi. Seperti orang yang tidak kuat memegang bara api, seperti itulah sulitnya berpegang teguh kepada ajaran agama.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Tsa‘labah ra jelas sekali bahwasanya di ayyamush shabr (hari-hari kesabaran) tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah At-Thaifah Al-Manshurah yang hidup dalam keterasingan yang kedua.[3] Dan mereka ini tetap bersungguh-sungguh dalam memegang agama Allah sehingga sempurna janji Allah yang telah Dia tetapkan bagi mereka. Mereka itu orang-orang yang akan mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah swt sebagai balasan atas keteguhan mereka dalam memegang agamanya, sampai pada batas dilipatgandakan pahala mereka di ayyamush shabr (hari-hari kesabaran) 50 kali lipat dari pahalanya para sahabat.

Mengenai keunggulan mereka ini, dalam atsar yang lain disebutkan bahwasanya para sahabat itu mempunyai berbagai faktor pendukung dalam kebaikan. Sedangkan At-Thaifah Al-Manshurah tidak mempunyai berbagai sarana pendukung dalam kebaikan. Maksud sarana pendukung di sini adalah keberadaan Rasulullah saw di tengah-tengah para sahabat dan wahyu pun masih turun. Inilah sarana pendukung paling urgent yang menjadi kekhususan para sahabat sebagaimana yang diisyaratkan Nabi saw dalam sabda beliau:

طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي

Beruntunglah orang yang pernah bertemu denganku kemudian dia beriman.Kemudian beruntunglah.beruntunglah, dan beruntunglah orang yang belum pernah melihatku tetapi dia tetap beriman kepadaku.[4]

Duhai, nubuat di atas memang bernada ancaman dan peringatan, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah / kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir zaman.

[1] HR. At-Tirmidzi, Al-Fitan, hadits no. 2361.

[2] HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319.

[3]Keterasingan yang pertama adalah di saat awal risalah Islam.

[4] HR. Ahmad, hadits no. 11679. [Al-Musnad(3/87)].

Sumber :arrahmah.com

Syafii Maarif : 80 Persen Tanah Indonesia Dikuasai Asing

Syafii Maarif : 80 Persen Tanah Indonesia Dikuasai Asing


Buya Syafii Ma'arif

10Berita – Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menanggapi pernyataan Amien Rais yang mengkritik pemerintah terkait penguasaan tanah oleh asing. Ternyata Buya Syafii Maarif pernah mengeluarkan statement yang lebih menggemparkan lagi. Berita tahun lalu yang bersumber dari antara mengungkap bahwa 80 persen tanah Indonesia dikuasai oleh asing.

Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif mengaku prihatin karena keadaan ekonomi di Indonesia yang sebagian besar asetnya dikuasai oleh asing.

“Yang cukup mengharukan adalah tanah kita ternyata 80 persen dikuasai oleh asing, 13 persen dikuasai konglomerat, sisanya tujuh dibagi untuk 250 juta jiwa,” kata Syafii Maarif dalam tulisannya yang dibacakan takmir masjid setempat saat menerima silaturahim Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sleman di Nogotirto, Gamping Sleman, Rabu (5/7).

Syafii menyampaikan hal tersebut dalam tulisannya yang dibacakan oleh takmir masjid setempat di hadapan Forkompimda yang dipimpin langsung Bupati Sleman Sri Purnomo.

Syafii berharap Kabupaten Sleman bisa meningkatkan ketenteraman dan keamanan di wilayah Kabupaten Sleman. Kabupaten Sleman juga harus mampu menjadi contoh nasional sebagai kabupaten yang mampu mengendalikan ketertiban dan keamanan di wilayahnya.

“Masih banyak terjadi perampokan, penipuan, klithih juga masih ada. Saya harap Kabupaten Sleman bisa meningkatkan keamanannya,” katanya.

Syafii juga berharap Kabupaten Sleman bisa mengurangi angka kemiskinan sehingga bisa menjadi contoh di tingkat nasional dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Sumber :Sangpencerah 

PAN: Pak Luhut Kan ke Gereja, Bagaimana Bisa Mengecek Dosanya Pak Amien yang Orang Muslim

PAN: Pak Luhut Kan ke Gereja, Bagaimana Bisa Mengecek Dosanya Pak Amien yang Orang Muslim



10Berita, Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Taufik Kurniawan, geram dengan pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, yang menyebut akan membuka dosa-dosa yang dimiliki oleh Pembina PAN, Amien Rais.

Diketahui sebelumnya, Luhut marah ketika ada pihak yang terus mengkritik pemerintah yang dinilainya tak berdasar.

Termasuk pada politikus senior PAN, Amien Rais, yang belum lama ini mengkritik Presiden Jokowi.

Kala itu, dengan nada tinggi, Luhut balik menyindir Amien Rais yang menyebut bagi-bagi sertifikat yang dilakukan Jokowi adalah pembohongan.

Luhut menyebut, yang dilontarkan Amien asal bunyi (asbun).

“Jadi menurut saya tidak perlu baper dan jangan kemudian saling mengancam kalau akan dibuka dosa-dosanya, kan kita manusia biasa, bagaimana sesama manusia biasa saling membuka dosa orang, kan kita bukan malaikat mungkar dan nangkir,” ujar Taufik di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (20/3).

“Apalagi Pak Luhut juga kan nggak salat, Pak Amien kan salat, Pak Luhut kan ke gereja, kita hormati. Bagaimana Pak Luhut bisa mengecek dosanya pak Amien yang orang muslim. Kan susah nanti,” tambahnya.

Taufik mengatakan bahwa kritikan tajam yang selalu dilontarkan Amien Rais tidak hanya pada pemerintahan Joko Widodo saja, namun sudah sejak jaman orde baru hal tersebut dilakukannya.

“Pak Amien Rais menyampaikan kritikan yang tajam itu dari dulu, Pak Amien kan karakternya jangankan yang sekarang yang orde baru pun tumbang karena kritikan pak Amien untuk kepentingam konsitusi kita,” tambahnya.

Dalam hal ini, Taufik menilai, seharusnya pernyataan Amien Rais yang mengkritisi pemerintah itu dijadikan cambuk. Pasalnya, Amien Rais adalah salah satu tokoh bangsa di negeri ini.

“Beliau kan tokoh bangsa, milik masyarakat anggaplah itu sebagai cambuk bahwa pemerintah siapapun pemerintahnya tidak saja pak jokowi saja, beliau juga selalu mengkritisi sejak jaman Gusdur, Megawati, SBY dan Jokowi. Hal-hal yang kemudian diingatkan dalam kontek konsitusi selalu diingatkan,” pungkasnya.

Sumber : jitunews.com

Nah Loh… Yang Hobi Teriak Toleran Pada Kemana saat Kasus Masjid Papua?

Nah Loh… Yang Hobi Teriak Toleran Pada Kemana saat Kasus Masjid Papua?

10Berita, Sikap Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ) yang mempersoalkan pembangunan Masjid Al Aqsha di Sentani, Papua masih terus jadi pembicaraan hangat para netizen.

Pro Kontra masyarakat netizen menjadi liar karena menyangkut hal yang sensitif. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap masalah pembong­karan menara Masjid Al-Aqsha di Sentani segera diselesaikan dengan musyawarah.

“Selesaikan dengan musyawarah. Kami mendukung penuh langkah-langkah pemuka agama, tokoh masyarakat, dan Pemda yang akan melakukan musyawarah antar mereka,” ujar Lukman di Jakarta.

Menteri asal Partai Persatuan Pembangunan itu mengingatkan regulasi sebagai hukum positif dan hukum adat beserta nilai-nilai lokal agar menjadi acuan bersama.

“Saya minta Kakanwil dan Kakankemenag proaktif dan terus melaporkan progress pe­nyelesaian masalah di sana,” tuturnya.

Sebelumnya, PGGJ menuntut pembangunan menara Masjid Al-Aqsha Sentani dibongkar. PGGJ meminta agar tinggi gedung masjid diturunkan sehingga sejajar dengan tinggi bangunan gedung gereja di sekitarnya.

Warganet dengan akun Supriatna Pribadi @supriatna_priba mendukung pemerintah. “Hendaknya musyawarah terkait pembangunan Masjid Al Aqsha di Jayapura dilakukan dengan damai, jangan sampai terprovokasi,” ujarnya.

Senada, akun @arwidodo juga men­dukung penyelesaian dengan cara-cara damai. “Semestinya kasus pelarangan pembangunan Masjid di Papua tidak perlu terjadi. Mengingat selama ini antara Umat Islam dan Kristen telah terjalin hubungan toleransi yang baik.”

“Sudahlah. Cukup berbeda kelamin aja yang membuat kita tegang, berbeda agama, suku dan ras, jangan.!” ujar @BekasKantor.

Namun, ada juga netizen yang men­ganggap sikap pemerintah tidak tegas. Fathor Rohman @FathorR86635244 mempertanyakan sikap banser yang tidak membela.

“Soal menara masjid Al Aqsha yang dituntut untuk dibongkar bagaimana sikap banser, sebagai wujud bela agama dan keutuhan bangsa,” katanya.

Bahkan, akun arabyan @kaysi_khitaro menyindir sikap pihak yang teriak intoler­ansi kepada umat Islam tetapi diam ketika menyerang Islam. “Yang teriak-teriak paling toleransi mendadak bungkam,” sindirnya.

Sama dengan @maspiyuuu yang menga­takan persekutuan Gereja di Papua tuntut bongkar menara sasjid, Menag Berharap Diselesaikan Lewat Musyawarah Gak ada cap intoleransi? radikal?

Akun Haszbullah @haszbullah bilang di Papua masjid minta dibongkar. Di Lembata NTT madrasah disuruh bongkar!! Anak anak muslim di lokasi setempat “terpaksa” sekolah di Sekolah Dasar Katolik.

Lalu @pakealul303 mengatakan percay­alah Gusti Allah mboten sare. Jelas sudah siapa mereka yang selama ini berteriak-teriak mengatakan umat Islam intoleran.

Akun SaveNKRI_SaveUlama @ahfau1 menuturkan mentang-mentang mereka mayoritas di Papua, terus mau memaksakan kehendak. Okelah. Ingat Muslim mayoritas di NKRI berarti boleh dong “paksakan” penetapan syariat Islam di NKRI.

Terakhir, akun Rezimhobihutang @ utangmeroket mengaku aneh dengan pelarangan pembangunan masjid yang tidak boleh lebih tinggi dari gereja.

“Aheh kan, ada pelarangan pemban­gunan menara masjid, tidak boleh lebih tinggi dari bangunan gereja yang ada di sekitarnya.! Apa masalahnya? Ini tindakan teror! apa urusannya mengatur-ngatur tempat ibadah orang lain! Bikin aja gereja sendiri yang lebih tinggi,” tandasnya.

Menteri Lukman mendukung rencana tokoh agama menggelar dialog yang produktif dengan para tokoh agama dan masyarakat mengenai masalah pembangunan masjid. Lukman menginginkan masing-masing pihak mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai, serta tidak memaksakan kehendak dan pandangan masing-masing.

Sumber : moslemcommunity.net

Allahuakbar, Usai Dengar Tausiah Yusuf Estes, 5 Orang Ikrarkan Syahadat

Allahuakbar, Usai Dengar Tausiah Yusuf Estes, 5 Orang Ikrarkan Syahadat

10Berita, Kunjungan Syekh Yusuf Estes, pendakwah asal Amerika Serikat, ke Jakarta menyisakan kenangan mendalam, khususnya bagi jamaah yang menghadiri ceramahnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Ahad (18/3). Bukan hanya menjelaskan tentang indahnya Islam dan pentingnya Alquran bagi kehidupan dunia dan akhirat, ceramah yang dihadiri ratusan Muslim dan non-Muslim ini juga berkesan dengan adanya sesi pembacaan syahadat.

Sesi ini mungkin sudah tak asing terjadi saat Syekh Yusuf menggelar ceramah, baik di Amerika maupun negara-negara lain yang pernah disambanginya. Di Jakarta, setelah menyelesaikan ceramahnya, Syekh Yusuf menuntun lima orang bersyahadat setelah menanyakan alasan mereka memilih Islam.

Leni Suryani, salah satu dari lima orang yang mengucapkan syahadat hari itu. Wanita yang sebelumnya beragama Kristen ini tak mampu membendung air matanya saat berhasil menyelesaikan dua kalimat syahadat. Disaksikan ratusan jamaah Masjid Agung Sunda Kelapa, Leni mengaku mendapatkan hidayah dan memutuskan memeluk Islam saat dirinya mengalami pendarahan akibat penyakit yang dideritanya.

Sementara itu, Chandra mengaku memantapkan diri memeluk Islam karena takjub dengan ajaran Islam yang dia tahu dari beberapa rekan kerjanya. Pria yang sebelumnya penganut Kristen Protestan ini mengatakan telah lama mengagumi Islam. Dia tertarik mempelajari lebih dalam tentang agama Islam.

“Saya bekerja di lingkungan Muslim dan saya banyak belajar soal cara memecahkan masalah dengan cara Islam maka saya merasa juga ingin memahami lebih banyak soal Islam,” kata Chandra saat ditanya Syekh Yusuf tentang alasannya memeluk Islam.

Setelah selesai menuntun kelima keluarga baru umat Muslim itu, Syekh Yusuf menjelaskan beberapa hal yang perlu dipahami dan dijalankan sebagai Muslim, yakni rukun Islam dan rukun iman. Syekh asal Texas ini juga menjelaskan, dengan mengucap kalimat syahadat dan memeluk Islam maka sama halnya dengan terlahir kembali dan segala dosa yang telah diperbuat akan sekejap terhapuskan.

“Sekarang jika kamu merasa kamu ingin menangis itu karena Allah telah memaafkan segala kesalahanmu,” kata dia.

Syekh Yusuf juga mengingatkan, dengan memeluk Islam, bukan berarti segala cobaan hidup akan berakhir. Sebaliknya, ujian keimanan akan datang silih berganti yang tak lain adalah bukti kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Dia juga berharap Chandra dan mualaf lain mampu istiqamah dan memaksimalkan diri dalam mempelajari agama Islam.

“Keputusanmu memilih Islam adalah keputusan yang terbaik dan bersyukurlah Anda ada di negara yang dihuni mayoritas Islam, yang dapat membantu mengajarkan untuk lebih mengenal Islam,” kata Syekh Yusuf.

Dia juga mengaku sangat senang dapat berkunjung ke Jakarta dan mendapatkan penyambutan yang sangat ramah. Dia juga mengatakan sangat ingin berkunjung kembali dan berbagi lebih banyak ilmu.

“Saya sangat ingin kembali ke sini dan semoga kunjungan yang singkat ini dapat bermanfaat untuk semuanya,” ujar dia.

Syekh Yusuf Estes akan melakukan safari dakwah di Indonesia pada 17-21 Maret 2018. Dia mengunjungi Jakarta, Surabaya (Jawa Timur), dan Balikpapan (Kalimantan Timur). Pada lokasi tertentu, dakwah Syekh Yusuf Estes terbuka untuk umum, termasuk umat non-Muslim. Dia juga mengajak masyarakat Indonesia dari segala latar belakang agama untuk berdialog secara terbuka guna mendapatkan kebenaran yang hakiki.

Sumber : dakwahmedia.co

 

Soal Ancaman Luhut. Dradjad: Ada Waktunya Kita yang Bongkar

Soal Ancaman Luhut. Dradjad: Ada Waktunya Kita yang Bongkar

Drajad Wibowo

Reaksi Luhut dengan mengancam menjadi iklan yang buruk bagi pemerintahan Jokowi

10Berita , JAKARTA -- Ancaman Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan akan membongkar dosa dan kesalahan para pengkritik pemerintah disambut oleh politisi PAN Dradjad Wibowo. Luhut mengarahkan ancamannya tersebut kepada mantan ketua MPR sekaligus mantan ketua umum PAN Amien Rais.

Anggota Dewan Kehormatan PAN ini menilai reaksi Luhut terhadap kritik dari tokoh nasional Amien Rais menunjukkan ada personel-personel kunci dalam pemerintahan Presiden Jokowi yang antikritik. Kalau Luhut bermain ancaman seperti itu, Dradjad menyebut, ada waktunya juga "dosa" dan kesalahannya ikut dibongkar ke publik.

"Tapi nantilah pada saatnya kita akan ke sana," kata Dradjad kepada wartawan, Selasa (20/3).

Kalau memang Luhut sudah memulai, menurut dia, akan banyak pihak yang akan membongkar kesalahannya. "Kita lihat dulu saja apa langkah dia selanjutnya. Timing-nya harus pas," kata Dradjad menegaskan.

Menurut dia, reaksi Luhut dengan mengancam-ancam itu menjadi iklan yang buruk bagi pemerintahan Jokowi. Mengapa? Karena bisa dipakai sebagai pembenaran bahwa pemerintahan Jokowi terkesan senang mencari kesalahan dari pihak yang berbeda pandangan dan atau berseberangan.

"Saya jadi bertanya-tanya jangan-jangan perpecahan di Golkar dan PPP dulu juga karena pendekatan 'cari-cari kesalahan dan balas dendam'? Jangan-jangan kasus yang menimpa sebagian ulama, bahkan hingga ada yang wafat, juga karena hal yang sama? Masih banyak jangan-jangan yang lainnya," ungkapnya.

Selain itu, cara Luhut ini menimbulkan kesan pemerintah juga suka main ancam dan tidak ragu memakai segala cara untuk membalas dendam. Dradjad hanya berpesan kalau sampai nanti terjadi apa-apa terhadap Pak Amien, PAN punya bukti kuat untuk menuding siapa aktor intelektualnya.

Sumber : Republika.co.id

Dear Suami, Terima Kasih Sudah Mau Melakukan 20 Hal Kecil Ini. Terkesan Sepele, Tapi Sebenarnya Begitu Berarti

Dear Suami, Terima Kasih Sudah Mau Melakukan 20 Hal Kecil Ini. Terkesan Sepele, Tapi Sebenarnya Begitu Berarti

10Berita, Dalam kehidupan berumah tangga, akan selalu ada momen suka duka yang dilalui bersama. Nggak mungkin selamanya kamu akan merasakan hal yang manis-manis saja, begitupun sebaliknya. Terkadang, ada hari-hari di mana kamu menjadi istri yang begitu lemah, perasa dan mudah marah. Ya, terkadang sikap para istri memang sulit ditebak, dan para suami sering dibuat merasa bersalah.

Namun, di hari-hari yang yang kurang menyenangkan, ada hal-hal kecil yang suami lakukan, terkesan sepele tapi diam-diam membuat para istri senang. Hal ini mungkin tak disadari para suami, tapi justru ketulusan itu yang membuat cinta dalam bentuk sederhana itu terasa indah. Untukmu para suami, terima kasih ya sudah melakukan hal-hal kecil namun sungguh berarti ini demi kami, para istri yang kalian cintai~

1. Kami tahu, beberes rumah adalah kewajiban para istri. Itulah yang membuat kami tersentuh, saat kamu melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa disuruh

Cowok yang suka membantu pekerjaan rumah tangga itu seksi! via www.sheknows.com

2. Terima kasih karena sudah rela mengantarkan kami saat kami butuh diantar, dan mengerti saat kami para istri bilang kami bisa berangkat sendiri, tanpa ditemani

Diantar jemput meski bukan sopir pribadi via cewequat.com

3. Ya, kadang kami suka kalap membeli benda-benda ajaib yang mungkin sudah banyak kami miliki. Terima kasih karena sudah menahan komentarmu

Suami langka via www.dreamstime.com

4. Terkadang kami ceroboh, dan terkadang kami melakukan hal yang mungkin membuatmu jengkel. Terima kasih karena sudah nggak marah dan tetap diam

Suami penyayang <3 via www.pexels.com

5. Terkadang kami menuntut banyak hal, dan kami lupa kamu pun sudah berjuang seharian mencari nafkah untuk keluarga. Terima kasih karena tetap sabar

Suami kerja keras buat keluarga itu romantisnya nggak ada obat! via www.pexels.com

6. Ada kalanya kami begitu sensitif, ada waktunya kami merasa begitu kesal tanpa sebab. Terima kasih kamu sudah menanggapinya dengan begitu santai

Saat kami cerewet dan marah, peluk saja kami dengan hangat via www.pexels.com

7. Kami kadang butuh waktu untuk melepas penat dan jalan-jalan bersama sahabat. Terima kasih sudah mengizinkan dan mengurus rumah saat kami pergi

Repot ‘kan Mas, ngurus rumah apalagi sambil jaga anak? via www.scarymommy.com

8.  Minta maaf adalah hal yang sulit, terlebih untukmu. Terima kasih sudah meminta maaf saat kamu membuatku marah. Aku tahu itu nggak mudah

Jangan sok gengsi ya buat minta maaf! via www.pexels.com

9. Kadang kami para istri terlalu lelah dan sibuk untuk memasak. Terima kasih sudah berinisiatif memasak meski aku tahu hal itu kadang merepotkan

Suami lagi masak itu seksinya meningkat 1000% via handiramy.wordpress.com

10. Percayalah, terkadang mendengarkan dengan penuh perhatian itu lebih berarti daripada apapun saat kami sedang berkeluh kesah. Kami kadang nggak butuh solusi, tapi hanya butuh didengarkan

Cukup dengarkan saja dengan penuh perhatian! via contentodays.com

11. Kami tahu ini kacangan, tapi terima kasih sudah sesekali mengirimkan pesan mesra di ponsel kami saat kamu sedang sibuk bekerja atau jauh

Pesan teks yang kamu kirimkan mengisyaratkan kamu yang merindukan kami via www.rebelcircus.com

12. Hal sesepele membantu mengisi daya baterai ponsel kami sebelum kami tidur mungkin kamu anggap biasa. Tapi sebenarnya perhatian kecil itu begitu manis~

Sepele tapi kami sering lupa melakukannya via nymag.com

13. Membersihkan tempat tidur saat kami sedang sibuk mandi atau beres-beres rumah? Sering-sering deh melakukannya karena itu selalu membuat kami senang :p

Manisnya si suami pas lagi beres-beres itu bikin gemas >,< via www.gettyimages.com

14. Kami, para istri selalu senang saat suami selalu kekeuh untuk memeluk atau mengecup kening kami SETIAP kamu akan berangkat kerja atau meninggalkan rumah

Jangan lupa kecup kening kami setiap pagi ya! via unica.md

15. Terima kasih sudah membiarkan kami bangun agak siang, atau tidur siang agak lama saat kami sangat kelelahan

Kadang kami terlalu capek atau merasa nggak enak badan via www.shutterstock.com

16. Saat kamu mengirimkan pesan ‘Kamu mau dibawakan makanan apa?’, itu lebih romantis dari pesan teks apapun (kecuali pesan ‘I love you’!)

Karena kami gampang mager dan kelaparan 🙂 via www.pexels.com

17. Memijat pundak atau kaki kami. Saat kamu melakukannya tanpa banyak bicara, di situ kami tahu bahwa kami nggak memilih partner hidup :))

Siapa tahu habis dipijat, bisa berlanjut ke sesi panas ‘kan? via thehumbledhomemaker.com

18. Terima kasih sudah mendukung keputusan-keputusan kami, bahkan memuji kami di depan orang lain. Terima kasih sudah merasa bangga memiliki kami

Siapa sih yang nggak senang dibanggakan? via www.pexels.com

19. Terima kasih sudah menawarkan membuatkan minum susu, teh atau kopi

Makin sedap kalau ditambah senyum manis via www.shutterstock.com

20. Terima kasih karena sudah rela membatalkan janji dengan teman-teman saat kami merasa butuh ditemani. Terima kasih sudah memprioritaskan kami di atas kepentinganmu

Lebih suka menghabiskan waktu bersama kami, itu romantisnya unch banget! via www.lovepanky.com

Advertisement

Masih banyak lagi hal kecil yang ingin kami ungkapkan pada kalian para suami bertanggung jawab yang memberikan segalanya untuk keluarga. Ya, materi juga penting untuk hidup. Tapi  hal-hal non materi yang sederhanalah yang terkadang menjadikan pernikahan langgeng dan bahagia. Terima kasih suami, terima kasih sudah mencintai partner hidupmu!

Sumber : Hipwee

Percaya Hanya Ada 2 Jenis Kelamin di Dunia, Mahasiswa Ini Diusir karena Beda Pendapat dengan Dosen

Percaya Hanya Ada 2 Jenis Kelamin di Dunia, Mahasiswa Ini Diusir karena Beda Pendapat dengan Dosen

Kolase TribunStyle.com

10Berita - Seorang mahasiswa di Indiana University of Pennsylvania diminta keluar dari kelas setelah dia memberi tahu profesornya bahwa dia percaya ada dua jenis kelamin.

Melansir Unilad, laki-laki bernama Lake Ingle ini mengambil jurusan pendidikan agama.

Ia mengaku bahwa profesornya, Dr. Allison Downie, mengusirnya keluar dari kelas dan berusaha untuk mengeluarkannya secara seterusnya dari kuliahnya.

Menurut The Washington Examiner, keributan tersebut terjadi setelah kelas tersebut menonton Ted Talk selama 15 menit bersama seorang transgender Paula Stone Williams tentang 'mansplaining', 'sexism from man', dan 'male privilege'.

Setelah pembicaraan selesai, sang profesor meminta para wanita di kelas untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan tentang pembicaraan yang muncul di dalam Ted Talk.

Para mahasiswa wanita itu juga diminta berpendapat secara rinci tentang apa yang ingin mereka bagikan.

Tapi tak ada satupun wanita yang bersuara di kelas itu.

Ketika tidak ada wanita yang berbagi pikiran mereka, Ingle sontak berbicara.

Ingle mengklaim bahwa ahli biologi menyatakan hanya ada dua jenis kelamin di dunia ini.

Sumber : TRIBUNNEWS.COM