OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Minggu, 01 April 2018

Dilema Indonesia di Tahun 2030

Dilema Indonesia di Tahun 2030

10Berita, Iklim perpolitikan Indonesia menjelang Pilkada serempak dan Pemilu raya sedang panas-panasnya. Bukan hanya karena kehadiran caleg-caleg yang mulai cari-cari perhatian warga di dunia nyata, juga karena ada satu pembicaraan yang tidak berhenti arusnya selama seminggu terakhir ini, yaitu tentang pidato Ketua Umum sebuah partai oposisi yang berusaha menggambarkan kondisi negeri kita pada tahun 2030 yang akan datang. Tidak tanggung-tanggung, kata ‘bubar’ menjadi viral hingga memantik berbagai komentar dari berbagai tokoh diseluruh penjuru negeri. Pro dan kontra pun berkembang. Ada yang menganggap lucu karna referensi yang dicatut hanya sebuah novel fiksi luar negeri, ada juga yang membenarkan kemungkinan tersebut dengan melihat fakta yang juga sempat dipaparkan dalam pidato tersebut.

Indonesia sebagai negara berkembang yang besar dengan segala potensinya, tidak dapat dipungkiri bahwa kita memiliki kesempatan untuk berdaya sebagaimana negara-negara maju saat ini. Usahanya saja yang mungkin perlu lebih ekstra, karna secara politik kita belum punya bargaining position layaknya negara tetangga. Baik secara geografis maupun demografis kita unggul dibanding negara ASEAN lainnya. Namun dari segi lainnya, Indonesia kesulitan menunjukkan taringnya. Sekedar untuk menolak impor saja Presiden kita masih sering berkilah, janji-janji kampanyenya 4 tahun lalu dibiarkan hilangditelan waktu, seakan-akan program kerja yang ia rancang dengan timnya dulu tak bisa berlaku, meski kekuasaan dalam genggamannya, meski kebijakan dapat disahkan berkat tandatangannya.

Lebih dari itu, ketimpangan yang terpampang secara nyata ini sangat mungkin untuk dijadikan penguat bagi pendapat akan bubarnya negara dalam waktu dekat. Kita rasakan sendiri bagaimana distribusi kekayaan hanya berputar dalam pusaran para kapital (pemilik modal) saja, kesenjangan semakin tinggi, harga bahan pokok meningkat tidak sejalan dengan pendapatan, aset negara diobral besar-besaran, hingga tenaga kerja asing semakin melenggang mudah dipasaran. Belum lagi masalah pergaulan yang makin kebablasan, pendidikan yang tak jelas arahan, keamanan warga yang tak ada jaminan, kesehatan yang semakin jauh dari jangkauan, juga keutuhan keluarga yang menjadi angan, hingga pada tataran individu generasi yang lelah mengarungi kehidupan. Entah mereka berakhir dalam kubangan lumpur peradaban atau mati dengan kesia-siaan.

Ketika mata sudah terbuka lebar, suka atau tidak suka, kondisi inilah yang sedang berjalan. Atas nama kebebasan, segala kebijakan menjadi halal seakan-akan. Kita harus sadar sejauh mana leher kedaulatan negara ini diberikan lewat konsesi hutang. Empat ribu dua ratus triliunan Rupiah bukanlah barang sedikit. Saking banyaknya, ada seorang profesor peneliti Badan Indo Geospasial yang menghitungkan luasan dimensi horizontal hutang sebanyak itu dengan mengkonversinya ke pecahan uang 1000 rupiah. Dengan ukuran uang 151 mm x 65 mm per lembar, uang ribuan triliun tersebut akan mampu mencapai 2 kali luas Pulau Jawa. Besaran hutang sefantastis itu bagaimana melunasinya?

Pepatah dalam bahasa Inggris mengatakan “there is no free lunch”, tidak ada makan siang gratis. Semua pemberian hutang itu tidak diberikan secara percuma. Bercokolnya sistem ekonomi kapitalis, meniscayakan setiap orang untuk berbuat atas dasar keuntungan semata. Apalagi dalam urusan negara. Tidak hanya wajib membayar bunga yang tidak sedikit, pemerintah Indonesia wajib menswastanisasi berbagai sektor yang disyaratkan oleh si pemberi hutang. Banyak juga dari kalangan pengamat yang melihat gelagat pemesanan undang-undang oleh para elit berduit. Indikasinya banyak, salah satunya adalah betapa mulus dan licinnya jalan mereka untuk menggemukkan bisnisnya. Juga terlihat dari banyaknya pemilik kursi terlibat kasus korupsi. Maka benar jika kondisi saat ini lebih tepat disebut korporatokrasi, dimana petinggi pemerintah dipimpin secara sistem afiliasi korporasi (perusahaan-perusahaan besar).

Parahnya lagi, hutang telah dipandang oleh negeri ini sebagai alat fiskal untuk menggerakkan roda perekonomian dansaat negara butuh dana untuk membangun pun, berhutang menjadi satu-satunya solusi instan yang diambil. Sistem keuangan seperti ini jelas tak akan kokoh. Selamanya kita akan didikte karna hutang kita yang semakin hari semakin mencekik. Gambaran Indonesia bubar menjadi semakin mudah dipahami, yang pasti adalah Indonesia ini bisa bubar kedaulatannya.

Berbeda dengan pengelolaan sistem keuangan dalam Islam. Dalam tatanan negara Islam (Khilafah), disyariatkan pos fai, kharaj, jizyah, pengelolaan aset kepemilikan umum (barang tambang, hasil hutan dan laut, dan lain-lain), zakat mal (zakat ternak, pertanian, perniagaan, emas dan perak) menjadi sumber penghasilan negarayang produktif dan selalu mengalir karna tidak terjerat hutang ribawi. Sistem pemungutan pajak dalam berbagai sektor akan ditidakan sehingga tidak akan membebani rakyat secara umum. Penerapannya pun sudah menorehkan tinta emas sejarah peradaban manusia, yakni di masa Khalifah Harun Al-Rasyid yang jumlah surplus pendapatan negaranya setara total penerimaan APBN Indonesia. Belum lagi pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatthab yang bebas hutang sepeser pun dari negara luar. Pembangunan kanal dari Fustat ke Laut Merah, pembangunan kota dagang Basrah (jalur dagang ke Romawi), pembangunan kota Kuffah (jalur dagang ke Persia) berhasil melancarkan aliran dana untuk memfasilitasi aktivitas negara dan rakyatnya.

Sistem keuangan inilah yang dibutuhkan Indonesia, bahkan negara lainnya untuk menghilangkan kebimbangan mengarungi masa depan. Revolusi sistem politik dan ekonomi kearah Islam secara Kaaffah akan menjadi acuan dalam menyetir dan menentukan nasib negara ke depannya. Jika konsep ini yang semakin digaungkan, wacana Indonesia bubar 12 tahun mendatang bisa dicegah, bahkan digantikan dengan keteraturan yang akan mendatangkan rahmat dan menjadikan negeri ini sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. WaLlaahu a’lam bi ash-Shawwab. 

Penulis, Salma Banin

Sumber : panjimas

Mayit Tahu Siapa Saja yang Memandikannya?

Mayit Tahu Siapa Saja yang Memandikannya?

10Berita, Kalau seorang yang meninggal apakah ia tahu siapa saja yang memandikan?

Ada keterangan yang menyebutkan bahwa perlakukan mayit seperti memperlakukan orang hidup.

Dari Jabir ra berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah SAW mengantar jenazah, beliau duduk di pinggir kuburan dan kami pun juga demikian. Lalu seorang penggali kubur mengeluarkan tulang (betis atau anggota) dan mematahkannya (menghancurkannya). Maka nabi SAW bersabda, “Jangan kamu patahkan tulang itu. Kamu patahkan meski sudah meninggal sama saja dengan kamu patahkan sewaktu masih hidup. Benamkanlah di samping kuburan. (HR Malik, Ibnu Majah, Abu Daud dengan isnad yang shahih)

Artinya orang hidup memiliki rasa malu, mayit pun memiliki rasa malu. Makanya walau pun ia mayit, saat mandi harus ditutup auratnya.

Mayit tidak dapat merespons tapi kita yakin dia punya rasa malu.

Para sahabat mengatakan ketika akan memandikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

لَا نَدْرِي أَنُجَرِّدُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ثِيَابه كَمَا تجرد مَوْتَانَا

“Kami tidak tahu, apakah kami melepas pakaian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana kami melepas pakaian orang yang meninggal dunia di antara kami ataukah tidak.” (H.R.Ahmad:6/267 dan Abu Dawud:3141).

Hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan yang berlaku di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika akan memandikan jenazah melepas pakaian yang melekat pada jasadnya

Lalu kenapa kalau meninggal kita tidak boleh mengomongkan keburukannya? Meski ia semasa hidup memiliki keburukan tapi tetap kita tetap tidak boleh membicarakan keburukan si mayit.

Ini sebuah isyarat bahwa yang meninggal ikut merasakan apa yang diperlakukan manusia kepadanya. Ekspresi cinta terakhir seorang anak kepada orangtuanya adalah memandikan jenazah orangtuanya. Sangat aneh jika orangtua memiliki empat anak, semuanya sarjana akan tetapi ketika ortu meninggal yang memandikan malah orang lain. Semasa kecil atau bayi padahal orangtua sering memandikan kita. Ini tentu sangat memprihatinkan. Lebih afdhal orangtua yang meninggal dimandikan anaknya.

Sebab itu, mayit itu kata Ustadz Aam Amiruddin tahu oleh siapa dia dimandikan. Kita harus beriktikad bisa memandikan jenazah, paling tidak jenazah orangtua.

Wallahua’lam. [@paramuda/]

Sumber : bersamaDakwah

JEBRET! Kepo Soal Pemimpin Planga-Plongo, Tsamara PSI DITANTANG Fadli Zon Debat Terbuka

JEBRET! Kepo Soal Pemimpin Planga-Plongo, Tsamara PSI DITANTANG Fadli Zon Debat Terbuka


10Berita, Pernyataan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang menyinggung RI butuh pemimpin seperti Vladimir Putin karena tak banyak hutang dan tak planga-plongo menjadi perhatian.

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany mempertanyakan maksud politikus Gerindra itu menggunakan kata planga-plongo.

Ia menilai, cuitan Fadli Zon melukai rakyat Indonesia yang mendukung Presiden Jokowi. Istilah planga-plongo dianggapnya menyinggung Jokowi.

"Menggambarkan Presiden yang didukung mayoritas rakyat sebagai planga-plongo pada dasarnya penghinaan yang sama sekali tidak pantas," kata Ketua DPP PSI, Tsamara Amany, dalam keterangannya, Sabtu, 31 Maret 2018.

Merespons keluhan Tsamara, Fadli pun meminta agar elite PSI menyediakan waktu untuk berdebat soal istilah planga plongo.

"Begini deh kumpulin semua pengurusnya kita ngopi sambil debat bebas. Sy datang sendirian sj. Nanti sy kasih tau apa itu planga plongo ????," ujar Fadli dikutip dari cuitan @fadlizon, Sabtu 31 Maret 2018.

Begini deh kumpulin semua pengurusnya kita ngopi sambil debat bebas. Sy datang sendirian sj. Nanti sy kasih tau apa itu planga plongo 😀 https://t.co/3f771hDGO8

— Fadli Zon (@fadlizon) March 31, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Ini Tiga Pujian Ustadz Abdul Somad untuk Aher di Depan Puluhan Ribu Jamaah Tabligh Akbar

Ini Tiga Pujian Ustadz Abdul Somad untuk Aher di Depan Puluhan Ribu Jamaah Tabligh Akbar


10Berita, Di depan puluhan ribu jamaah Tabligh Akbar di Masjid Raya Bandung, Jumat (30/3/2018), Ustadz Abdul Somad melontarkan tiga pujian untuk Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

1. Aher memberikan keteladanan

Ustadz Abdul Somad mengatakan, tabligh akbar di Masjid Raya Bandung merupakan jalan kaki terjauh menuju panggung. “Biasanya mobil berhenti, beberapa langkah sudah panggung. Ini saya harus jalan jauuh karena kiri kanan penuh dengan jamaah.”

Ia pun lantas memuji Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang memberikan contoh menghadiri tabligh akbar, bahkan hadir di awal waktu.

“Mengapa jamaah bisa sebanyak ini? Ternyata di dalam sudah ada Gubernur,” kata Ustadz Abdul Somad.



2. Aher cinta ilmu

Meskipun Aher juga bergelar Lc, ia cinta ilmu sehingga menghadiri Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad. Meskipun Aher seorang Gubernur, ia menghadiri tabligh akbar. Hal itu menunjukkan kecintaannya kepada ilmu.

Abdul Somad lantas mengingatkan, kadang di pengajiannya saat sambutan panitia menyebut, “Bapak Bupati atau yang mewakili. Bapak Camat atau yang mewakili, Bapak Kepala Desa atau yang mewakili.” Mengapa? Karena pejabat itu tidak hadir dan diwakili oleh bawahannya.

3. Aher memuliakan tamu

Di awal tabligh akbar bertema “Penyesalan Setelah Mati” itu, Ustadz Abdul Somad juga memuji Gubernur Aher memuliakan tamu.

“Sebelum Tabligh Akbar saya dijamu dengan daging kambing besar. Kalau saya tabligh Akbar di Jawa Barat tiga kali atau empat kali, mungkin badan saya jadi gemuk,” kata Ustadz Abdul Somad disambut tawa jamaah.

Ia lantas menjelaskan tentang keutamaan memuliakan tamu.

Baca juga: Masya Allah... Ini Doa Ustadz Abdul Somad untuk Aher

Sebelumnya, Ustadz Abdul Somad mendoakan Aher agar kebaikannya tidak hanya dirasakan oleh warga Jawa Barat tetapi juga dirasakan seluruh rakyat Indonesia. [Ibnu K/]

Sumber : Tarbiyah

Iwan Fals: Janji Jokowi Semoga Bukan Janji Kumpeni

Iwan Fals: Janji Jokowi Semoga Bukan Janji Kumpeni


10Berita – Lama tak terdengar kritikannya, Iwan Fals kembali menghadirkan lagu kritikannya. Kali ini, ia mengkritik pemerintahan Jokowi-JK.

Lagu ini diketahui lewat video berdurasi 6 menit 54 detik yang diunggah Youtube.

Namun, tidak diketahui kapan dan di mana Iwan Fals manggung dalam video yang diunggah pada 15 September 2017 oleh akun bernama Pace Bro itu.

Dalam video tersebut, Iwan Fals bernyanyi dengan memainkan gitar dan harmonika. Lagu tersebut merinci janji Jokowi yang terangkum dalam Nawacita.

“Saya kasih tahu ke anak saya tulisan ini, nangis dia. ‘Kenapa, Pah?’. Nanti kamu dibilang dukung Jokowi, enggak nanti papah dukug terus. Dia belum ngerti kan. Enggak ada dengan urusan dukung mendukung. Yang saya dukung, Indonesia lebih baik lagi ke depan,” kata Iwan disambut tepuk tangan meriah dari penonton.

Berikut lirik kritikan kepada pemerintahan Jokowi yang dinyanyikan Iwan Fals :

Janji-janji sudah kita telan, jadi obat kuat masa depan 
Ada sembilan janji yang sangat terkenal. Apakah ini janji surga atau janji kompeni
Temanku bilang nawacita namanya, agar Indonesia sejahtera, disegani dunia juga menggetarkan yang di surga
Dari kenaikan gaji sampai ke soal pendidikan, dari sektor informal sampai ke yang formal
Dari yang keliatan sampai yang enggak keliatan, sudah dijentrengkan
Hanya memang perlu waktu semoga kita sabar menunggu, semoga janjimu bukan janji palsu
Janji Jokowi semoga terbukti, janji Jokowi sungguh dinanti 
Desa dari ujung tombaknya, dapat dana Rp 1,4 miliar per tahunnya
Membagi satu juta rupiah bagi keluarga prasejahtera per bulan 
Kalau pertumbuhan di atas 7 persen katanya
Empat setengah juta kepala keluarga akan mendapatkan program kepemilikan tanah 
Pembangunan dan perbaikan irigasi di 3 juta hektare sawah 
Pembangun 25 bendungan, bank untuk petani, UMKM, dan penguatan Bulog 
Membuat satu juta hektare lahan baru di luar jawa. 
5 ribu pasar tradisional diperbaiki. Bangun pusat pelelangan dan pengolahan ikan
10 juta rupiah per tahun untuk UMKM dan koperasi 
Mendorong, memperkuat, mempromosikan, industri kreatif dan digital
Lalu Kartu Indonesia Sehat, agar kita sehat
Membangun puskesmas dengan fasilitas yang baik 
Meningkatkan mutu pendidikan umum dan pesantren
Dan kesejahteraan guru gurunya. dengan kartu indonesia pintar
Tentu saaja agar kita semua pintar. 
Akhir kata agar semua janji ini terwujud dengan benar 
Janji Jokowi , bukan janji sembarang janji, janji Jokowi, janji presiden RI 
Janji Jokowi bagi ibu pertiwi, janji Jokowi semoga bukan janji kompeni 

[kk/]

Sumber :aktual

Pria Dalit Dibunuh Kasta Ksatria karena Menunggang Kuda

Pria Dalit Dibunuh Kasta Ksatria karena Menunggang Kuda

10Berita —Seorang petani muda dari kasta terendah dalam masayarakat Hindu India, Dalit, dipukuli hingga mati karena memiliki dan mengendarai seekor kuda.

Polisi di negara bagian Gujarat mengatakan tiga orang dari kasta Ksatria telah ditahan untuk ditanyai.

Memiliki kuda dipandang sebagai simbol kekuasaan dan kekayaan di kalangan masyarakat India, dan merupakan hak istimewa bagi orang-orang berkasta tinggi.

Seorang anggota senior kepolisian mengatakan kemungkinan ada motif lain dari pembunuhan itu masih dicari, lapor BBC Sabtu (31/3/2018).

Pradeep Rathod, 21, ditemukan tewas bersimbah darah di dekat desa Timbi di Gujarat hari Kamis malam. Kudanya juga ditemukan dalam keadaan mati di dekatnya, kata ayahnya. Dalam laporannya kepada polisi, ayah Pradeep mengatakan putranya itu sangat menyukai kuda, karena itu dia membelikannya seekor.

“Kecintaan putra saya akan kuda mengakibatkannya terbunuh,” kata si ayah dalam sebuah pernyataan yang dilihat jurnalis AFP.

“Sekitar satu pekan lalu, ketika saya mengendarai kuda bersama putra saya, satu dari orang-orang komunitas kasta Ksatria memperingatkan kami agar tidak menunggang kuda di desa. Dia bilang orang-orang Dalit tidak boleh mengendarai kuda, hanya kalangan Ksatria yang boleh menunggang kuda. Dia juga mengancam akan membunuh kami jika tidak menjual kuda itu,” bunyi pernyataan dalam laporan ayah korban.

Tidak terhitung kasus pembunuhan atas orang-orang Dalit oleh orang dari kasta di atasnya di India.

Bulan oktober lalu juga di Gujarat, seorang pria Dalit dibunuh oleh sekelompok orang dari kasta lebih tinggi, karena menyaksikan pertunjukan tari tradisional Hindu.

Diskriminasi berdasarkan kasta sudah dinyatakan terlarang di India, tetapi dalam prakteknya hal itu masih umum diterapkan dalam masyarakat yang dominan memegang kepercayaan Hindu.*

Sumber : Hidayatullah.com

8+ Fakta Soal Pemilihan Warna Uang Republik Indonesia. Uang 2 Ribu & 20 Ribu Suka Tertukar Sih!

8+ Fakta Soal Pemilihan Warna Uang Republik Indonesia. Uang 2 Ribu & 20 Ribu Suka Tertukar Sih!


10Berita, Begitu seorang warganet memprotes desain uang kertas pecahan terbaru Rp2 ribu dengan Rp20 ribu yang nyaris mirip, netizen ramai-ramai ‘mengamini’ postingan itu dan mengaku juga mengalami hal yang sama. Postingan viral dari akun Facebook M Fajar Sulistiadi tersebut menceritakan bagaimana kebingungan soal uang ini sampai bikin orang rugi! Ia juga meminta pemerintah segera memperbaiki desain dan warna kedua uang kertas tersebut supaya nggak bikin orang bingung dan rugi.

Berangkat dari kontroversi ini, Hipwee jadi penasaran aja sih kok bisa ya kejadian seperti ini terjadi. Siapa juga yang bertugas memiilih warna atau desain uang-uang kertas negara kita ini? Masa nggak sadar kalau uang dua ribu dan dua puluh ribu mirip sekali? Mungkinkah terjadi kesalahan pemilihan warna sehingga banyak orang sulit membedakan dua uang yang jelas-jelas nominalnya berbeda. Padahal dulu-dulu sepertinya nggak pernah terjadi kebingungan seperti ini. Yuk lihat bareng perubahan warna uang-uang Republik Indonesia bareng Hipwee News & Feature, siapa tahu bisa dapat pencerahan!

Seakan-akan mewakili perasaan hampir semua warga Indonesia, postingan soal kemiripan uang Rp2.000 dan Rp20.000 ini langsung viral. Kamu termasuk golongan yang bingung juga nggak guys?

Advertisement

Ketika seri uang baru Republik Indonesia mulai diperkenalkan akhir tahun 2016 kemarin, mungkin belum banyak yang sadar akan kemiripan pecahan uang Rp2.000 dan Rp20.000 terbaru. Baru setelah banyak beredar dan digunakan setahun belakangan ini, masyarakat mulai menyadari betapa susahnya membedakan dua lembaran uang yang nilainya jauh berbeda itu.

Apalagi kalau sedang transaksi yang biasanya berlangsung dengan sangat cepat, seperti ketika membeli minuman botol di minimarket atau berbelanja sayur mayur di pasar. Kebanyakan orang mengandalkan insting cepat menarik uang dari dalam dompet atau saku, hanya berdasarkan warna. Nah dari kebiasaan itu deh, kayaknya banyak yang kebingungan karena salah mengira uang Rp2.000 sebagai Rp20.000 dan sebaliknya.

Tapi sebenarnya sejak dulu, warna uang Republik Indonesia udah didesain beda-beda tiap nominalnya. Kayak pecahan Rp1.000 ini

Sebagian besar mengandung corak biru kehijauan, kecuali keluaran terbaru

Uang pecahan Rp2.000 memang tergolong baru. Dulu banget justru ada pecahan Rp2.5000. Tapi semuanya punya corak warna yang cukup konsisten yaitu perak

Padahal perak, tapi uang Rp2.000 terbaru juga sering kelihatan agak hijau

Sejak kemunculannya pada tahun 1968, pecahan Rp5.000 sudah bercorak kehijauan. Versi setelahnya, lembaran uang ini lebih didominasi warna cokelat

Pecahan ‘goceng’ terbaru kembali ke corak yang mayoritas cokelat dan minim warna hijau

Selain edisi awal tahun 1968 & 1975, uang pecahan Rp10.000 mengadopsi unsur warna ungu-kemerahan

Pahlawan Papua terpilih sebagai gambar depan puang pecahan 10.000 ribu edisi terbaru

Hadir sebagai pembaharuan di awal tahun 1990-an, pecahan uang Rp20.000 selalu bercorak hijau dengan sedikit sepuhan perak

Hijau adalah warna ciri pecahan 20.000 ribu sejak awal diterbitkan

Pecahan Rp50.000 yang awalnya diterbitkan sebagai peringatan 25 tahun pembangunan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Suharto, selalu bercorak biru. Edisi-edisi anyar-nya malah semakin biru

Penerapan benang pengaman sudah diterapkan pada uang pecahan ini

Uang pecahan Rp100.000 rupiah edisi 1999 adalah uang polimer atau berbahan plastik pertama di Indonesia. Meski warnanya tetap kemerahan, kini uangnya tak lagi berbahan polimer

Berbahan kertas tapi punya fitur pengamanan tinggi

Sebenarnya di atas kertas, warna lembaran Rp2.000 dan Rp20.000 terbaru itu benar-benar berbeda. Tapi mungkin kalau warnanya sedikit pudar, memang terlihat mirip

Mungkin dari jauh, Mohammad Hoesni Thamrin di pecahan Rp2.000 & Dr. G.S.S.J. Ratulangi di Rp20.000, juga terlihat mirip

Emang dilematis sih masalah uang baru ini. Seri terbaru uang Republik Indonesia ini sebenarnya digadang-gadang memiliki fitur pengamanan paling canggih sedunia. Katanya bakal sulit banget untuk dipalsukan dan disalahgunakan. Namun jika realitanya uang-uang ‘canggih’ ini justru susah dibedakan oleh pengguna dan sering tertukar hanya karena warnanya, bisa jadi pemerintah memang harus segera merevisi warna atau desain uang yang baru berumur 2 tahun ini. Ya tapi sebagai warga negara yang baik, mulai sekarang kita mungkin harus lebih berhati-hati dan jeli melihat uang yang akan dipakai. Lihat betul-betul nominal atau angka nol-nya, bukan cuma sekilas melihat warnanya doang!

Sumber : Hipwee

Keputusan Matang Prabowo di Pilpres 2019

Keputusan Matang Prabowo di Pilpres 2019


10Berita, Teka-teki apakah Ketua Umum Partai Gerindra akan maju menjadi capres mulai terjawab. Seperti kata Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo, maju tidaknya Prabowo dalam pencapresan baru akan diputuskan setelah Pilkada.

Penjelasan yang hampir sama juga disampaikan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang sempat bertemu dengan Prabowo. Menurutnya sebagai prajurit tidak ada kata ragu, bagi Prabowo. Jadi tidak benar, maju mundurnya deklarasi pencapresan, karena Prabowo ragu, apalagi bimbang. “Sampai sekarang Pak Prabowo memang belum memutuskan untuk nyapres.”

Soal deklarasi pencapresan Prabowo dalam beberapa pekan terakhir menjadi isu paling hot. 34 DPD Gerindra se-Indonesia telah mendesak Prabowo untuk melakukan deklarasi. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon bahkan menyatakan awal April akan deklarasi.

Sejumlah nama juga telah disebut-sebut akan dipasangkan sebagai cawapres mendampingi Prabowo. Mereka antara lain Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Anis Matta dan Ahmad Heryawan.

Namun isu itu menjadi mentah kembali dengan penjelasan Hashim. Apalagi Prabowo dalam kampanye pasangan Sudradjat-Ahmad Syaicu (Asyik) di Bandung beberapa hari lalu menyatakan “Menangkan dulu pasangan Asyik, baru (setelah itu) bicara Pilpres.”

Perbedaan pernyataan antara Prabowo dengan para pendukungnya bukan berarti ada perpecahan. Ini hanya masalah sudut pandang dan perbedaan fokus serta prioritas.

Bagi para pengurus Gerindra, apalagi yang menjadi caleg, keputusan Prabowo untuk maju kembali akan berdampak positif bagi elektabilitas partai. Mereka akan mudah mengkomunikasikannya kepada para konstituen. Dari sejumlah survei jelas terlihat korelasinya. Salah satu alasan utama memilih Gerindra karena mereka menginginkan Prabowo menjadi presiden. Prabowo adalah political endorser dan vote getter terbaik Gerindra.

Sebaliknya bagi Prabowo persoalannya tidak sesederhana itu. Kalkulasinya harus benar-benar matang. Dia tidak boleh salah mengambil keputusan. Bila salah, bisa sangat fatal.

Bila dia memutuskan maju, Pilpres 2019 akan menjadi kali ketiga bagi Prabowo. Pada dua pilpres sebelumnya (2009, 2014) dia kalah. Pada 2014 dia kalah melawan Jokowi.

Tentu Prabowo tidak menginginkan kekalahan untuk ketiga kalinya. Itu akan menjadi kekalahan yang sangat menyakitkan dan kenangan buruk di sisa usianya. Dia akan dikenang sebagai tokoh politik yang mencatatkan rekor kekalahan terbanyak. Padahal dilihat dari perjalanan karir politiknya, banyak catatan-catatan lain yang tak kalah cemerlangnya.

Tidak banyak jenderal yang berhasil membangun partai politik seperti Prabowo berhasil membesarkan Gerindra. Untuk bidang ini namanya bisa disejajarkan dengan SBY yang berhasil membangun Demokrat. Prabowo berpotensi mengungguli SBY karena dalam Pileg 2019 Gerindra diprediksi akan menjadi salah satu pemenang pemilu. Suara Gerindra di berbagai survei berkejaran dengan PDIP.

Dari sisi kemampuan melahirkan tokoh (king maker), indra penciuman politik dan tangan dingin Prabowo sudah terbukti setidaknya dua kali. Dan itu terbukti di dua palagan besar Pilkada DKI.

Pada Pilkada DKI 2012 Prabowo berhasil meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati untuk mengusung pasangan Jokowi-Ahok. Padahal keduanya merupakan tokoh yang relatif tidak dikenal dan harus berhadapan dengan incumbent Fauzi Bowo yang elektabilitas sangat kuat.

Pada Pilkada 2017 Prabowo kembali menunjukkan “kesaktiannya.” Gerindra bersama PKS mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno menantang Ahok-Djarot. Padahal media dan lembaga survei sudah membuat framing Ahok tak mungkin dikalahkan.

Sejarah mencatat Jokowi-Ahok, dan Anies-Sandi menjadi pemenang. Andil
Prabowo sangat besar dan menentukan dalam proses lahirnya para figur yang kemudian ikut mewarnai peta politik nasional itu. Jokowi menjadi presiden, Ahok menjadi gubernur yang fenomenal sekaligus kontroversial, sementara Anies sudah mulai moncer dan digadang-gadang bisa menjadi penantang Jokowi.

Tiga syarat Hasim

Dengan background Prabowo yang diwarnai kalah dan menang, mana yang akan dipilih. Tetap maju sebagai capres dengan berbagai konsekuensinya, atau memilih peran sebagai King Maker?

Mari kita kalkulasi tiga syarat dari dari Hasim.

Pertama, memenangkan pilkada. Ada 17 pilkada yang diikuti Gerindra. Tiga diantaranya medan pertempuran penting yakni Jabar, Jateng, dan Jatim. Jumlah suara di tiga wilayah ini sangat besar dan bisa menjadi indikator peta pertarungan Pilpres 2019.

Dari tiga wilayah penting tersebut Gerindra menjadi pengusung utama di Jabar dan Jateng. Di Jabar Gerindra mengusung pasangan Sudrajat-Syaichu. Dari beberapa survei elekbilitasnya masih sangat rendah dan berada di urutan ketiga di bawah Ridwan-UU dan Deddy-Dedi.

Di Jateng Gerindra mengusung pasangan Sudirman Said- Ida Fauziah. Elektabilitasnya juga masih kalah dibanding pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin.

Untuk memenangkan dua wilayah penting ini Prabowo harus kerja keras, all out dan at all costs. Belum lagi 14 wilayah lainnya termasuk Sulsel dan Sumut.

Kedua, kesehatan Prabowo. Isu sensitif ini sungguh menarik mengapa sampai harus dimunculkan oleh Hasim. Prabowo lahir 17 Oktober 1951. Tahun ini usianya akan menginjak 67 tahun. Faktor usia dan kesehatan ini sangat erat hubungannya dengan beban berat sebagai presiden dan perubahan peta politik global.

Melihat trend para pemimpin dunia yang baru terpilih –dengan mengecualikan Trump– semuanya berusia muda.

Usianya rata-rata antara 40-50 tahun, bahkan beberapa diantaranya di bawah 40 tahun. PM Kanada Justine Trudeau ketika terpilih berusia 44 tahun. Presiden Prancis Emmanuel Macron (39), PM New Zealand Jacinda Arden (37) dan Kanselir Austria Sebastian Kurz malah masih berusia 31 tahun.

Ketiga, faktor logistik. Dengan mengangkat isu logistik Hasim bersikap realistis. Dia punya pengalaman mengelola pendanaan pada Pilpres 2014 ketika Prabowo berpasangan dengan Hatta. Jadi dia sangat tahu berapa dana yang dibutuhkan, dari mana dana berasal, bagaimana memperolehnya, dan bagaimana penggunaannya.

Faktor logistik ini sangat erat hubungannya dengan elektabilitas kandidat. Melihat elektabilitas Prabowo yang masih rendah dan kalah jauh dari Jokowi hampir dipastikan akan sulit melakukan penghimpunan dana.

Para “investor” politik yang terdiri dari para pengusaha besar, para taipan, tidak akan menaruh dananya pada kandidat yang tidak berpeluang menang.Jargon yang berlaku “money always follow the prospect.”

Secara bisnis dan politik mendukung kandidat yang bakal kalah, sangat tidak menguntungkan. Modal tidak akan kembali, return on investment rendah. Secara politik konskuensinya lebih berat lagi. Menjadi musuh penguasa. Sebuah situasi yang tidak favourable dan pasti sangat dihindari para pengusaha.

Dengan menyatakan tiga syarat di atas, dan beratnya peluang untuk terpenuhi, maka sebenarnya Hashim sudah menyampaikan sebuah isyarat yang sangat kuat. Namun seperti kata Hasim, dalam politik itu anything is possible. Tidak ada yang tidak mungkin.

31/3/18

(Hersubeno Arief)

Sumber :Portal Islam 

Banyak Pengangguran Tapi Pekerja Asing Menyerbu, Pemerintah Langgar Konstitusi!

Banyak Pengangguran Tapi Pekerja Asing Menyerbu, Pemerintah Langgar Konstitusi!


10Berita -Keadilan sosial seperti dalam sila kelima Pancasila akan cepat tercapai jika kedaulatan pangan sudah terpenuhi.

“Kalau hari ini kita masih impor daging, gula dan lain-lain, kalau pangan saja tidak berdaulat, sulit sekali untuk kita adil. Makanya kita harus berdaulat secara pangan dulu,” kata Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.

Demikian disampaikan Zulkifli saat memberi sambutan sambutan di acara Rapimnas I Ikatan Keluarga Alumni Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (IKA-BKPRMI), di Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/3).

Menurut dia, tercapainya kedaulatan pangan merupakan tanggungjawab dari pemerintah karena memang sudah diamanatkan oleh konstitusi.

Tugas pemerintah yang sudah diamanatkan oleh konstitusi menurutnya sangatlah banyak. Contoh lain, menjamin semua warga negara bisa mengenyam pendidikan yang layak.

“Kalau ada anak-anak kita di kampung dan di desa-desa, tiba-tiba di DO (drop out) karena tidak mampu membayar uang sekolah, yang salah negara. Itu negara melanggar konstitusi,” tegasnya.

Begitu juga dengan terciptanya lapangan tenaga kerja bagi semua warga negara, agar mendapat kehidupan yang layak.

“Kalau ada banyak pengangguran, tapi ada banyak tenaga kerja asing (TKA) dari Tiongkok masuk. Itu pelanggaran konstitusi,” tutup Zulkifli. []

Sumber : rakyatmerdeka

Gerakan Shalat Subuh Berjamaah Harus Digalakkan

Gerakan Shalat Subuh Berjamaah Harus Digalakkan

10BeritaBandung  - Ustaz Abdul Somad (UAS) mengimbau umat Islam agar memberdayakan masjid. Di Indonesia saat ini kata dia sudah hampir merata keberadaan masjid-masjid di setiap kampung. 

Hal itu menurut ulama asal Riau itu harus diberdayakan dengan cara meramaikan masjid dengan shalat berjamaah. 

"Masjid kalau sudah ada, tapi ternyata tidak dipakai untuk shalat berjamaah, maka satu kampung akan diganggu setan. Kepala desanya diganggu setan, pak RT, pak RW diganggu setan," kata Ustaz Abdul Somad saat mengisi tabligh akbar di Ciwidey, Rancabali, Kabupaten Bandung, Sabtu (31/3/2018) seperti dikutip Republika Online.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya di suatu daerah ketika hendak aksi menggalang bantuan untuk korban konflik Suriah. Saat itu, Ustaz Somad dan rombongan berangkat jam empat dini hari sebelum waktu shalat subuh. 

Ia berencana shalat begitu bertemu masjid di jalan. Tapi begitu bertemu dua masjid, rombongan Ustaz Somad sama-sama mendapati pagar masjid itu digembok. Tak ada yang melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid tersebut. 

Ustaz Somad sangat menyayangkan hal ini di mana masjid yang sudah dibangun begitu megah menggunakan dana dari wakaf dan dana umat, tapi umatnya malah tidak memanfaatkan masjid untuk melaksanakan ibadah wajib. 

"Pertama waktu di jalan terdengar azan yang indah. Saya kira dari masjid, eh ternyata azan dari HP (handphone, red). Kemudian nampak qubah masjid dari jauh, begitu sampai mau masuk masjid ternyata digembok. Ini sangat sayangkan," ujar Ustad Somad.

Harusnya gerakan shalat subuh berjamaah menurut Ustaz Somad harus digalakkan bersama-sama. Sebab nilai dari shalat subuh berjemaah sangat mulia di mata Allah Swt. Ganjaran untuk orang yang shalat subuh berjamaah di masjid adalah pahala yang besar, sama dengan melaksanakan shalat sepanjang malam. 

red: abu faza
sumber: republika.co.id