OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 07 Mei 2018

Belajar dari Pengalaman, Ini Skenario yang harus Diantisipasi oleh Relawan #2019GantiPresiden

Belajar dari Pengalaman, Ini Skenario yang harus Diantisipasi oleh Relawan #2019GantiPresiden



10Berita, JAKARTA - Di acara CFD pekan lalu, Mustafa Nahrawardaga mengakui sebetulnya sudah mengantisipasi adanya pihak-pihak yang tidak ingin gerakan #2019GantiPresiden ini berlangsung lancar maupun berhasil. “Jadi kami sudah pantai-pantau itu, adanya kelompok-kelompok yang ingin mengacaukan dari dalam. 

Misalkan, mengaku sebagai koordinator aksi lapangan. Ternyata membatalkannya ke polisi, katanya, Sabtu (5/5/2018), di Jakarta. Padahal menurutnya tidak ada yang menunjuk dia. “Itu tidak ada. Itu tujuannya menggembosi acara. Lalu ada yang mengaku sebagai koordinator nasional. 

Itu siapa yang menunjuk? Itu tidak ada. Jadi, memang banyak sekali pihak-pihak yang memakai nama kami itu dalam rangka kepentingan yang lain, bukan kepentingan kami,” ia menambahkan.

Jadi menurut dia itu kemarin sangat berbahaya. Oleh karena itu, ia katakan diantisipasi betul.  “Misalkan adanya potensi penyusupan-penyusupan. Potensi kerusuhan-kerusuhan. Potensi pembelokan opini. Sudah kita siapkan itu semua dalam sebuah tim yang tidak kami sebutkan. 

Dan ini dalam rangka meluruskan supaya nantinya gerakan ini gerakan murni masyarakat, yang alhamdulillah dukungannya sudah banyak sekali,” katanya lagi menekankan.


Antisipasi tersebut ia katakan karena sudah berpengalaman (jika dilihat kasus sebelumnya). “Misalnya, kasus Saracen tidak terbukti. MCA tidak terbukti. Nanti pun, labeling gerakan #2019GantiPresiden2019 akan dilabeling sebagai gerakan para penjahat, para pemakar, dan seterusnya. Itu sudah kami antisipasi,” demikian ia menjelaskan.

Maka deklarasi (besok, red) itu menurut dia akan menjadi bukti bahwa ini adalah gerakan masyarakat secara ikhlas, secara umum. “Menjadi bukti, ya bahwa sebagian masyarakat memang menginkan untuk pergantian presiden pada 2019,” ia menutupnya. (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

Ini Alasan Yusril Yakin HTI Bisa Menangkan Gugatan di Sidang PTUN

Ini Alasan Yusril Yakin HTI Bisa Menangkan Gugatan di Sidang PTUN

10Berita , JAKARTA—Kuasa hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yusril Ihza Mahendra yakin pihaknya akan memenangkan gugatan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tentang Pembubaran HTI di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Senin (7/5/2018).

Yusril beralasan, selama persidangan berlangsung, pemerintah dianggap tak dapat memberikan alasan yang logis untuk membubarkan HTI.

“Pemerintah tidak bisa membuktikan bahwa HTI anti Pancasila, membahayakan NKRI dan memecah belah bangsa,” kata Yusril di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Yusril mengatakan, selama persidangan pemerintah hanya menghadirkan 2 saksi dari kalangan mahasiswa yang pernah bergabung dengan HTI. Dalam persidangan itu, mahasiswa tersebut mengatakan dalam pengajian yang diselenggarakan HTI tak pernah menghasut.

“Pemerintah gagal membuktikan, apa dasarnya pemerintah membubarkan HTI?” ujar Yusril.

Oleh karena itu, Yusril yakin HTI akan memenangkan gugatannya di PTUN.

“Dari segi materi gugatan 100 persen yakin menang,” kata dia.

Namun, jika gugatan ditolak di pengadilan, Yusril mengaku akan mengajukan banding.

“Saya akan ajukan banding, dan saya rasa pemerintah juga akan banding,” tandas Yusril. []

SUMBER: Liputan6.com,  Islampos.

PKS Tentukan Capres-Cawapres Agustus Ini, Yang Pasti Bukan Jokowi

PKS Tentukan Capres-Cawapres Agustus Ini, Yang Pasti Bukan Jokowi


10Berita – Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menegaskan, sampai saat ini pihaknya berkeyakinan 2019 harus ganti presiden agar Indonesia lebih baik.

Maka itu, pihaknya akan menentukan sikap soal capres dan cawapres pada Agustus 2018 mendatang.

“Sampai sekarang kami yakin 2019 ganti presiden. Kita akan tentukan sikap 4-10 Agustus 2018,” kata Mardani saat dihubungi di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini pun mengungkapkan soal kriteria calon presiden dan calon wakil presiden yang akan diusung oleh partai dakwah tersebut.

Dimana, calon tersebut harus memperjuangkan nilai Pancasila agar masyarakat bisa hidup dengan sejahtera, adil, dan aman.

“Paling memperjuangkan pancasila di negeri ini. Pancasila di negeri ini hanya lip service,” imbuhnya.[]

Sumber :teropongsenayan

Cara Cerdas Ali bin Abi Thalib Selesaikan Kasus Ibu Menolak Anaknya

Cara Cerdas Ali bin Abi Thalib Selesaikan Kasus Ibu Menolak Anaknya


ilustrasi ibu dan anak (Pinterest)

10Berita, Seorang pemuda dari kalangan Anshor mengadukan ibunya kepada Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Namun, wanita itu menolak mengakui pemuda tersebut sebagai anaknya. Ia justru menuduh pemuda itu berdusta dan menuduhnya berzina.

Amirul mukminin meminta pemuda itu membawakan bukti, namun ia tak memilikinya. Sementara wanita yang diakui sebagai ibunya itu membawa beberapa saksi wanita. “Wanita itu belum menikah, pemuda itulah yang berdusta dan secara tidak langsung menuduh wanita baik-baik telah berzina,” kata mereka hampir seragam.

Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu yang kebetulan lewat, menyaksikan peristiwa itu. “Apa yang terjadi?” tanyanya.

Setelah orang-orang menceritakan peristiwa itu, Ali kemudian memanggil semua saksi wanita. Ia meminta klarifikasi kepada mereka. Namun, wanita itu tetap menolak mengakui pemuda tersebut sebagai anaknya.

Lantas Ali memanggil pemuda itu. “Ingkarilah ia sebagai ibumu sebagaimana ia mengingkarimu sebagai anaknya.”

“Wahai putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia itu benar-benar ibuku.”

“Ingkarilah ia sebagai ibumu. Aku akan menjadi ayahmu, Al Hasan dan Al Husain akan menjadi saudaramu.”

“Baiklah kalau begitu, aku mengingkarinya sebagai ibuku.”

Ali mendekati wali wanita itu. “Bolehkah aku memutuskan terkait wanita ini?”

“Boleh, putuskan saja wahai menantu Rasulullah.”

“Wahai seluruh yang hadir di sini, bersaksilah. Sesungguhnya aku menikahkan pemuda ini dengan wanita tersebut. Keduanya adalah orang lain, bukan mahramnya,” kata Ali lantang.

Lalu Ali memanggil pelayannya, Qanbar, disuruhnya membawa sekantong dirham. Setelah dihitung, jumlahnya 480 dirham. Uang itu menjadi mahar pernikahan mereka.

“Gandenglah tangan istrimu, jangan kau kembali kepada kami sampai ada bekas pernikahan,” kata Ali sebelum meninggalkan mereka.

“Wahai ayah Al Hasan,” kata wanita itu. “Demi Allah, ini adalah dosa. Aku tidak bisa menikah dengannya. Dia itu sebenarnya anakku.”

Semua orang kaget mendengar pengakuan wanita tersebut. Sejak tadi ia menolak mengakui pemuda tersebut anaknya bahkan bersikeras mengatakan pemuda itu berdusta.

“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Ali.

Wanita itu pun membuka rahasianya. “Aku dinikahkan dengan pria negro, lalu mengandung anak ini. Ketika pergi berperang, suamiku terbunuh. Lalu kubawa anak ini ke Bani Fulan hingga ia tumbuh besar di sana. Sejak itu aku tak mengakuinya sebagai anak.”

“Aku adalah ayahnya Al Hasan. Pertemukan pemuda ini dengan ibunya, sambungkan garis nasabnya,” demikian kecerdasan Ali mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Kisah cara cerdas Ali bin Abi Thalib ini diabadikan Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam buknya Ath Thuruq al Hukmiyyah fi as Siyasay asy Syar’iyyah.

Dan bukan kali ini saja Ali membantu Khalifah Umar. Saat ada wanita yang mengaku berzina dengan seorang pemuda tampan dan membawa bukti bekas perzinaan, semua orang tidak bisa tidak untuk mengakui perkataan wanita tersebut. Namun, dengan kecerdasan yang dianugerahkan Allah, Ali bisa mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi dan menyelesaikan kasus itu. Semoga kita bisa mengetengahkan kisahnya pada kesempatan yang akan datang. [Muchlisin BK/]

Sumber :BersamaDakwah

Catatan Jurnalis Senior: Brimob Tanyakan Kaus #2019GantiPresiden, Demokrasi Telah Diintimidasi

Catatan Jurnalis Senior: Brimob Tanyakan Kaus #2019GantiPresiden, Demokrasi Telah Diintimidasi


10Berita, Baru-baru ini beberapa anggota Brimob Polda Jawa Tengah melakukan patroli ke salah satu kantor partai politik di Semarang, Jawa Tengah. Anggota Brimob tersebut datang ke kantor partai politik dengan pakaian lengkap dan senjata laras panjang. Sontak, penghuni kantor partai tersebut panik.

Kedatangan beberapa personil Brimob tersebut tidak disertai surat tugas dan diduga menanyakan kaos bertagar #2019GantiPresiden. Bila memang benar kedatangan Brimob tersebut ke kantor partai politik hanya menanyakan kaos bertagar #2019GantiPresiden, tentu ada sesuatu di balik itu.

Brimob memang bertugas untuk mengatasi gangguan keamanan dalam negeri, tapi yang berintensitas tinggi, seperti kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata api, bom, bahan kimia, biologi dan radioaktif, serta bersama unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya untuk mewujudkan rasa aman dan tenteram masyarakat di seluruh wilayah yurisdiksi nasional RI. Tapi apakah pantas jika datang ke kantor partai politik hanya menanyakan kaos bertagar #2019GantiPresiden?

Tentu rasanya tidak layak dan pantas jika personil Brimob diturunkan hanya untuk menanyakan ada atau tidaknya kaos bertagar #2019GantiPresiden di kantor partai politik tersebut. Sebab, kaos bertagar #2019GantiPresiden bukan teroris, bukan kejahatan terorganisir atau menggangu keamanan masyarakat dengan intensitas tinggi. Entahlah kalau mengganggu penguasa? Silakan dijawab sendiri.

Motto Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, tidak terlihat dengan kedatangan satuan Brimob ke sebuah kantor partai politik. Dengan kedatangan Brimob tersebut, seolah-olah ingin memberi kesan bahwa partai politik tersebut adalah sarang teroris, menakutkan dan patut diwaspadai. Aparat Kepolisian harus netral dan memperlakukan masyarakat sama kedudukannya di depan hukum.

Kedatangan Brimob tersebut sudah masuk kategori intimidasi. Intimidasi terhadap orang atau masyarakat dan terhadap partai politik. Sementara partai politik adalah bagian dari demokrasi yang dilindungi UUD 1945. Dengan demikian aparat keamanan telah merusak dan mengintimidasi demokrasi yang selama ini diharapkan berjalan baik.

Adanya kaos bertagar #2019GantiPresiden merupakan sesuatu yang lumrah. Hal itu merupakan bentuk kebebasan menyatakan aspirasi dan pendapat yang dikemukan oleh masyarakat. Dalam alam demokrasi sekarang ini, kebebasan menyatakan aspirasi dan kebebasan menyatakan pendapat dapat dituangkan dalam berbagai bentuk seperti tulisan, dalam bentuk benda, dalam bentuk kartun dan sebagainya. Tinggal masyarakat menanggapinya.

Tentu ada alasan kuat ketika kaos bertagar #2019GantiPresiden merasuk ke jiwa masyarakat. Bisa karena faktor sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Akumulasi dari ketidakpuasan masyarakat itu diwujudkan dalam bentuk #2019GantiPresiden. Dari tagar tersebut jelas tertulis bahwa ganti presiden dilakukan tahun 2019, bukan tahun 2018 ini. Bila dilakukan tahun 2018, bisa dikatakan melanggar konstitusi dan bisa berakibat hukum atau pidana.

Secara kasat mata, maksud dan tujuan kedatangan Brimob ke kantor sebuah partai politik mudah ditebak arahnya. Tak perlu banyak tafsir. Apalagi masyarakat sekarang ini sudah cerdas membaca tanda-tanda bila ada perlakuan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Yang bisa memperbaiki keadaan adalah Presiden. Presiden Jokowi harus bisa mengendalikan bawahannya agar tetap menjaga demokrasi sebagaimana yang dicita-citakan saat reformasi tahun 1998. Bila Presiden Jokowi tak mampu mengatasi, atau membiarkan perlakuan aparat keamanan terhadap partai politik, maka demokrasi akan bernasib tragis di tangan Jokowi.

Penulis: Zul Sikumbang

Sumber : PORTAL ISLAM 

Penelitian Terbaru, ini 10 Cara Mudah Agar Kamu Tak Kena Kanker

Penelitian Terbaru, ini 10 Cara Mudah Agar Kamu Tak Kena Kanker

10Berita - Kanker terjadi karena pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Kanker bisa terjadi di beberapa bagian tubuh. Biasanya penyakit ini akan mematikan jika tidak segera diobati. Dilansir brilio.net dari depkes.go.id pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh kanker.

Penyebab kanker pun beragam. Kasus kanker 30% disebabkan oleh lima faktor risiko perilaku dan pola makan, yaitu indeks massa tubuh tinggi, kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, penggunaan rokok, dan konsumsi alkohol berlebihan.

Dilansir brilio.net dari yayasankankerindonesia.org ada beberapa tanda-tanda kanker. Tanda-tanda tersebut antara lain waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan, alat pencernaan terganggu dan susah menelan, suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh, payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor), andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya menjadi semakin besar dan gatal, darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh, dan adanya koreng atau borok yang tak kunjung sembuh.

Nah, lalu bagaimana cara agar terhindar dari kanker? Yuk simak tipsnya berikut sebagaimana dilansir brilio.net dari Cheatsheet, Minggu (6/5).

1. Kurangi konsumsi daging olahan.

Daging olahan memang lezat. Namun ternyata daging merah olahan mempertinggi risiko kanker lho. Jadi jangan berlebihan ya makannya.

2. Perbanyak makan sayur dan buah.

Sayur dan buah mengandung vitamin dan mineral yang memperkuat imun tubuh. Selain itu sayur dan buah mengandung nutrisi yang membuat sel kanker susah berkembang.

3. Diet mediterania.

Diet Mediterania ialah diet yang menggabungkan kebiasaan hidup sehat tradisional orang dari negara-negara yang berbatasan dengan Laut Mediterania. Mereka mengonsumi makanan sehat seperti sayur dan kacang-kacangan yang dapat mengurangi risiko kanker.

4. Kurangi kebiasaan makan manis di masa kecil.

Makanan manis memang lezat dan paling disukai di masa kanak-kanak. Namun seiring pertumbuhan menjadi dewasa, sangat penting mengurangi konsumsi gula. Tubuh orang dewasa tidak butuh terlalu banyak gula.

5. Berhenti makan ketika kenyang.

Salah satu penyebab kanker ialah obesitas. Untuk menghindari obesitas, maka harus membiasakan berhenti makan setelah kenyang.

6. Makan beragam makanan.

Jangan terlalu sering makan satu jenis makanan. Tubuh kita perlu berbagai nutrisi yang didapatkan dari beragam makanan.

7. Kurangi penggunaan suplemen.

Suplemen memang baik bagi tubuh. Namun jika terlalu banyak suplemen, dapat meningkatkan risiko kanker. Seperti contoh kanker paru-paru.

8. Kurangi konsumsi alkohol dan rokok.

Banyak penelitian yan mengungkapkan bahwa rokok dan alkohol merupakan penyebab utama kanker. Jadi kurangi, ya.

9. Cari sumber protein lain.

Sumber protein tidak hanya datang dari daging merah. Bisa saja mengganti sumber protein lain seperti kacang, biji-bijian, buncis dan seafood. Lebih sehat lho.

10. Masak makanan dengan benar.

Persiapkan makanan dengan benar dan masaklah sesuai batas yang dianjurkan dalam kesehatan. Jagan terlalu gosong dan lain sebagainya.

Sumber : Brilio.net

'Sudah Jatuh Tertimpa Tangga', Elektabilitas Paling Bawah, Kini Ketum PSI Terancam Hukuman Pidana Satu Tahun

'Sudah Jatuh Tertimpa Tangga', Elektabilitas Paling Bawah, Kini Ketum PSI Terancam Hukuman Pidana Satu Tahun


10Berita, JAKARTA - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie terancama hukuman pidana satu tahun dan denda Rp 12 juta. Hal itu diungkapkan komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI Mochammad Afifuddin.

PSI diduga melakukan pelanggaran Pemilu berupa kampanye sebelum waktunya dengan memasang iklan dan mencantumkan logo serta nomor urut di salah satu media massa. Hal itu melanggar Pasal 492 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Bunyi Pasal 492:
"Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Kampanye Pemilu di luar jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota untuk setiap Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)"

Bawaslu tetap menganggap iklan jajak pendapat yang dipasang Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di salah satu surat kabar (Jawa Pos) dua pekan lalu sebagai suatu bentuk kampanye.

Komisioner Bawaslu Mochammad Afifuddin berpendapat PSI telah mencantumkan nama, lambang serta nomor urutnya dalam iklan tersebut. Hal itu dianggap sebagai citra diri partai politik. Afif mengungkap pencantuman lambang dan nomor urut di surat kabar tergolong sebagai bentuk kampanye.

"Jadi clear itu. Menurut kami ini sesuatu yang kena dalam definisi citra diri partai politik peserta pemilu," ucap Komisioner Bawaslu Mochammad Afifuddin di kantor Bawaslu, Jakarta, Jumat (4/5/2018), seperti dilansir CNNIndonesia.

Afif mengatakan bahwa definisi citra diri yang tercantum dalam Undang-Undang No.7 tahun 2017 tentang Pemilu sudah disepakati dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bawaslu dan KPU telah menyepakati bahwa nama, lambang, serta nomor urut partai politik sebagai citra diri dalam forum konsultasi pembahasan peraturan KPU (PKPU) tentang kampanye.

"Soal citra diri itu adalah kalau ada logo dan atau nama partai, dan itu ada," ucap Afif.

Afif mengatakan pihaknya akan melakukan kajian mendalam mengenai iklan PSI. Salah satunya dengan mendengar klarifikasi dari PSI selaku pemasang iklan.

Pihak media massa yang memuat pun akan turut dimintai keterangan. Bahkan, Bawaslu pun bakal meminta keterangan ahli pidana dan bahasa. Kesimpulan mengenai kasus ini akan diberikan pada 16 Mei mendatang.

Jika memang terbukti PSI memasang iklan bermuatan kampanye dalam surat kabar, maka akan ada sanksi yang diberikan akibat melakukan kampanye di luar jadwal. Sebab, masa kampanye Pemilu 2019 baru akan dimulai pada September mendatang.

"Kalau terbuktu yang pasti masuk pidana di Undang-Undang No. 7 tahun 2017 Pasal 492 dengan tuntutan 1 tahun dan denda Rp12 juta," imbuh Afif.

Pada 23 April, PSI memasang iklan di salah satu surat kabar yang memuat jajak pendapat tokoh yang potensial menjadi cawapres dan menteri dalam kabinet Joko Widodo periode selanjutnya.

Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Kalau nantinya PSI dinyatakan terbukti melanggar UU Pemilu karena kampanye sebelum waktunya, dan ketua umumnya dipidana, maka ini ibarat pepatah 'sudah jatuh, tertimpa tangga'.

Sebelumnya, seperti dilansir Kompas, hasil survei terbaru yang dirilis Lembaga Survei Indikator menunjukkan PSI partai paling tidak dipilih alias urutan paling bawah yang hanya 0,2% dan tidak akan lolos syarat ambang batas parlemen 4%.

Sumber :Portal Islam 

Jeritan Dari Alam Kubur ( Pinjamkan Aku Satu Hari Lagi ) Merinding Bacanya

Jeritan Dari Alam Kubur ( Pinjamkan Aku Satu Hari Lagi ) Merinding Bacanya

Referensi pihak ketiga

Perlahan tubuhku diturunkan ke dalam lubang yang sempit, namum dengan cepat badanku ditimbun dengan tanah lalu semua orang meninggalkan aku, masih terdengar jelas langkah mereka. kali ini aku sendirian di tempat yang gelap tak terbayangkan, sekarang aku sendirian menunggu ujian, suami, istri, belahan jiwa, kawan, tetangga, sahabat karib, jabatan, harta, ketenaran, anak semuanya pergi meninggalkanku, yang ditubuhku mengalir darah meninggalkanku, apalagi sahabatku, kawan dekat, rekan bisnis semua meninggalkan aku kini tinggal aku sendirian tiada kawan maupun teman.

Kini aku sendirian ditempat yang gelap, ternyata aku bukan siapa - siapa lagi bagi mereka. menyesal pun tiada berguna taubat tak lagi diterima, minta maaf tak lagi didengar. Kini aku sendiri mempertanggung jawabkan apa yang pernah aku lakukan.

Ya Alloh, kalau boleh tolong pinjamkan satu hari saja milik - MU, aku akan berkeliling mohon maaf kepada mereka, yang telah merasa aku dzalimi yang susah dan sedih karena ulahku, yang sakit hati yang aku bohongi. Ya Alloh berikan satu hari saja, untuk memberi seluruh baktiku kepada ayah ibuku tercinta, unutk memohon maaf karena kata - kataku yang keras lagi tak sopan kepada mereka. Maafkan aku ayah dan ibu, aku sungguh ingin sujud memohon ridho mereka, Maafkan aku, aku ingin mengatakan aku ingin berterimakasih atas apa yang mereka korbankan untukku.

Ya Alloh pinjamkan aku satu hari lagi yang aku gunakan untuk bersujud, ruku' kepada - Mu beramal shalih dengan tulus serta menyedekahkan seluruh harta bendaku di jalan - MU ya Alloh. Menyesal sekali rasanya, waktu - waktuku berlalu dengan sia - sia, bahka al - Qur'an firman-Mu malas - malasan aku baca, seandainya waktu bisa aku putar kembali aku akan bertaubat, tetapi aku telah dimakan waktu hari ini dan tidak akan bisa kembali.

Sakitnya sakaratul maut ini masih menancap pada setiap sendi tubuhku yang kini kaku, tenggorokanku serasa ditancapkan dahan yang sangat besar yang penuh duri dan tajam. Lalu dahan itu ditarik dengan sekuat tenaga oleh malakul maut, sakit....sakit....sakit... sekali, walaupun seribu tahun tak akan sembuh sakitnya. Kulit dan tulangku seperti digergaji lalu direbus dengan belanga, nyeri panas masih terasa dagingku pun terasa terlepas dari tulangku, sungguh keras tarikan dari malakul maut itu.seandainya aku masih bisa bercerita tentu tak akan tenang tidur teman - temanku yang masih hidup, seumur hidup mereka taka akan pernah tidur nyenyak, andaikan saja mereka tahu yang aku rasakan.

Baru beberapa saat dalam gelap, masih terdengar sayup - sayup suara sandal orang - orang yang meninggalkanku, tanah kuburku masih gembur baru saja ditidurkan sendirian, aku lihat tanah kuburku masih gembur, makin lama makin menyempit, dari kiri kanan, atas bawah, makin mendekat aku ngeri, mereka terus menghimpitku dengan kejam.

Aku ingin berteriak tapi tak mampu, tubuhku remuk, rusukku tertindih, organ - organ dalamku hancur. inilah yang dijanjikan Alloh pada semua mayat, termasuk orang yang shalih. Akankah diluaskan lagi kuburku yang semakin menyempit ini, bagaimanakan aku nanti menjawab pertanyaan ujian setelah ini ? seandainya aku bisa keluar aku akan segera bertaubat dan memohon ampun atas semua kesalahanku. Sahabatku, masihkan kita ingin menambah dosa - dosa kita setelah membaca jerita dari kubur ini. ingat ajal tidak menunggu tobat kita, dan akan datang tanpa permisi. semoga kita bisa mengubah sikap dan perilaku kita...dan semoga Alloh senantiasa memgampuni dosa - dosa kita yang telah lalu.

Referensi pihak ketiga

Sumber referensi : www.kerisfotopic.net

Survei: Tak Puas Kinerja Jokowi-JK, Masyarakat Berpaling ke Prabowo

Survei: Tak Puas Kinerja Jokowi-JK, Masyarakat Berpaling ke Prabowo

 

10Berita - Hasil Survei yang digelar Indonesia Network Election Survei (INES) menunjukkan masyarakat tidak puas dengan kinerja pemerintahan di bawah kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Dikatakan Direktur INES, Oskar Vitriano, dari hasil survei, untuk kepuasan terhadap kepemimpinan Jokowi-JK masyarakat menyatakan tidak puas.

Dari 2.180 responden hanya 19,5% yang menyatakan janji Jokowi-JK dipenuhi. Sedangkan sebanyak 68,2% mengatakan Jokowi tidak menepati janji. Sisanya 12,3% tidak menjawab.

"Dari kinerja pemerintahan Jokowi-JK sudah barang tentu akan punya pengaruh dengan pilihan masyarakat terhadap Parpol yang akan berlaga di Pileg 2019 dan tingkat keterpilihan Jokowi jika mencalonkan diri kembali sebagai Capres di Pilpres 2019," kata Oskar Vitriano, di Jakarta Minggu (6/5).

Dalam survei ini, lanjut dia, pihaknya menguji tokoh-tokoh nasional dan Jokowi sebagai bakal calon Presiden pada Pilpres 2019.

Salah satu pertanyaan yang diajukan, dengan adanya Hastag Ganti Presiden 2019 yang akhir-akhir ini ramai di media sosial, 67,3% responden menginginkan Presiden Baru pada 2019. Sementara 21,3% responden menjawab dilanjutkan kepemimpinan sekarang dan sisanya sebesar 811,4% menjawab Tidak Tahu.

Dalam survei tersebut, INES juga menempatkan partai Gerindra di posisi teratas dengan raihan 26,2%. Sedangkan PDIP di posisi kedua dengan 14,3%.

"Golkar di posisi ketiga 8,2%, PKS 7,1%, Perindo 5,8%, PKB 5,7%. Disusul PAN 5,3%, Demokrat 4,6%, PPP 3,1%, NasDem 3,1%, Hanura 2,3%, PBB 2,1%, PKPI 0,9%, Berkarya 0,7%, Garuda 0,4%, dan PSI 0,1%. Sedangkan tak menjawab 10,1%," ujarnya.

Sementara itu, untuk calon Presiden jika menggunakan Top Of Mind, nama Ketua Umum Gerindra Prabowo bisa mengalahkan Joko Widodo.

"Prabowo Subianto 50,1%, Joko Widodo 27,7%, Gatot Nurmantyo 7,4%, dan tokoh lain 14 %," jelasnya.

Bahkan, jika dilakukan secara tertutup, Prabowo masih mengungguli Jokowi. Prabowo meraih 54,5%.

"Sedangkan Joko Widodo meraih 26,1%, Gatot Nurmantyo 9,1%, dan tokoh lain 10,3%," katanya.

Sementara itu, untuk tokoh pilihan publik sebagai Cawapres pada Pemilu 2019 yang dipilih jika berpasangan dengan Jokowi atau Prabowo, yang dinilai memiliki kemampuan adalah Agus Harimurti Yudhoyono 2,1%, Zulkifli Hasan 2,6%, Rohmahurmuzy 2,2%, Airlangga Hartanto, 17,4%, Muhaimin Iskandar, 20,2%, Gatot Nurmantyo, 9,2%, Said Agil Siroj 5,1%, Puan Maharani 7,5%, Anies Baswedan 9,7%, TGB Muhammad Zainul Majdi 4,8% dan tiidak memilih19,2 %.

"Anjloknya Tingkat keterpilihan (Elektabilitas) Joko Widodo oleh Masyarakat hingga dibawah (30 %), atau hanya 27,7% menunjukan jawaban responden tidak berubah, artinya mereka menginginkan Presiden Baru pada 2019," ulasnya.

Anjloknya Tingkat Elektabilitas Joko Widodo dianggap tidak memenuhi janji-janjinya semasa kampanye. Padahal salah satu alasan responden memilih Joko Widodo adalah janji-janji kampanyenya. Dalam hal pemenuhan janji, Joko Widodo dianggap gagal.

Alih-alih menaikan tingkat kesejahteraan masyarakat, yang terjadi justru sebaliknya. Trend menurunnya daya beli masyarakat ini akan semakin dirasakan masyarakat seiring dengan laju kenaikan harga-harga yang tak terbendung, apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran yang tak lama lagi. Sedangkan penghasilan masyarakat justru stagnan bahkan menurun.

"Ditengah tekanan akan kenaikan TDL dan BBM. Sehingga masyarakat harus mengurangi konsumsi untuk kebutuhan hidup sehari-harinya. Proyek-proyek infrastruktur pemerintahan Jokowi-JK tidak membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Justru yang ada keresahan di masyarakat akan isu membanjirnya tenaga kerja asing (TKA) yang akan mengambil porsi kerja masyarakat," paparnya.

Buruknya kinerja pemerintah membuat masyarakat berpaling kepada Prabowo Subianto. Dimana sebanyak 50,2 persen masyarakat Indonesia yang diwakili oleh 2.180 responden. "Dan saat diajukan pertanyaan yang sama, Tingkat Elektabilitas Prabowo Subianto justru meningkat hingga 54,5% ," ungkapnya.

Survei INES dilakukan untuk menguji kepuasaan masyarakat terhadap kepemimpinan Jokowi-JK, serta peluang Jokowi kembali menjadi calon Presiden 2019 mendatang.

Penelitian INES ini dilakukan di 33 Provinsi di Indonesia pada 12 -28 April 2018. Jumlah responden yang dilibatkan adalah sebanyak 2.180 orang.

Para responden pada penelitian ini tersebar secara proposional di 408 kabupaten/kota. Dengan Margin of error ± 2,1% pada tingkat kepercayaan 95%.

Penelitian ini menggunakan instrumen data berupa angket yang bersifat terbuka dan tertutup.

"Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan responden menggunakan kuesioner yang sebelumnya sudah dirumuskan oleh para peneliti," ujar Oskar.(Deddi Bayu/dbs)

Sumber : Skalanews

Wartawan Senior: Jokowi dan Para Pendukungnya "Mati Angin" Kewalahan Menghadapi #2019GantiPresiden

Wartawan Senior: Jokowi dan Para Pendukungnya "Mati Angin" Kewalahan Menghadapi #2019GantiPresiden


Catatan: Hersubeno Arief
(Wartawan senior, konsultan media)

Polda Metro Jaya melarang relawan #2019GantiPresiden melakukan kegiatan di arena car free day. Langkah yang sama juga diambil oleh polisi di beberapa kota besar di Indonesia. Alasan mereka, kegiatan car free day tidak boleh digunakan untuk kegiatan yang bersifat SARA, dan politik.

Larangan tersebut muncul bersamaan dengan Deklarasi Relawan #2019GantiPresiden yang digelar di kawasan Patung Kuda, Ahad pagi (6/5). Lokasinya tak jauh dari kawasan car free day di sepanjang jalan MH Thamrin dan Sudirman, Jakarta.

Apapun alasan yang disampaikan polisi, pesan yang sampai kepada publik sangat berbeda. Ada kepanikan di kubu pemerintah. Kegiatan yang semula dianggap sekedar main-main, diremehkan, atau dalam bahasa Presiden Jokowi “Masak kaos sampai bisa ganti Presiden,” telah menjadi gerakan yang mengkhawatirkan, bahkan sangat menakutkan.

Polisi sekali lagi menunjukkan jati dirinya sebagai alat kekuasaan yang tidak imparsial. Berpihak pada satu golongan. Seharusnya polisi bisa lebih rileks, dan tidak perlu melakukan tindakan represif. Kalau Presiden Jokowi saja “santai,” mengapa polisi harus tegang?

Belajar dari kasus Aksi Bela Islam (ABI) 212, gerakan semacam ini semakin dilarang, akan semakin membesar. Publik akan semakin simpati, dan jatuh hati. Polisi harusnya belajar dari bintang basket terkenal Michael Jordan “enjoy this game”.

Dilihat dari perspektif komunikasi pemasaran politik, Pilpres 2019 sebenarnya memasuki tahapan menarik. Adu ide, kreativitas dalam menawarkan gagasan, dan menjual para jagoannya. Sebagai incumbent dan market leader, harus diakui Presiden Jokowi dan para pendukungnya, saat ini sedang kewalahan menghadapi munculnya “produk” baru yang mengusung hestek #2019GantiPresiden.

Walaupun “produknya” belum jelas dan spesifik, dalam artian belum mengacu pada figur tertentu, #2019GantiPresiden terus merangsek. Berbagai produk turunanannya sangat mudah ditemui di pasaran. Mulai dari kaus, topi, pin, gelang, syal, mug, sampai spanduk.

Industri sablon, dan para pedagang kaos eceran meraup berkah. Mereka kebanjiran order. Di luar penjualan eceran, banyak donatur yang memesan berbagai pernik merchandise tadi dalam jumlah besar, untuk dibagikan secara gratis.

Energi kreatif para pendukung #2019GantiPresiden seperti tak ada habisnya. Secara cerdas mereka memanfaatkan berbagai fitur yang selama ini tidak pernah terbayangkan bisa digunakan sebagai medium kampanye.

Beberapa hari lalu viral bukti transfer via ATM BCA yang berisi pesan #2019GantiPresiden. Fitur penilaian pelanggan tehadap driver ojek online (rating) tak luput dari sisipan pesan #2019GantiPresiden. Kampanye politik, mereka kemas menjadi sesuatu yang lucu, menggembirakan.

Kuatnya hestek #2019GantiPresiden bisa terlihat dari gerakan massif di berbagai kota yang dikemas dalam kegiatan car free day. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar masyarakat secara sukarela bergerak melakukan pawai. Secara natural gerakan ini tumbuh dimana-mana sebagai bentuk kesadaran perlunya figur seorang presiden baru.

Sebagai market leader para pendukung Presiden Jokowi tentu saja tak mau tinggal diam. Mereka mencoba meluncurkan hestek tandingan #2019TetapJokowi. Namun hestek ini tak bertahan lama. Oleh para pendukung #2019GantiPresiden hestek tersebut secara cerdas dan nakal diplesetkan menjadi #2019TetapGantiPresidenJokowi.

Pendukung Jokowi kemudian memunculkan hestek baru #DiaSibukKerja. Hestek ini dari sisi pemasaran politik bisa dilihat sebagai bentuk rebranding dari tagline yang diusung oleh Jokowi “Kerja….Kerja…Kerja…”

Seolah mati angin

Dalam strategi marketing, rebranding biasanya dilakukan berkaitan dengan penetrasi/ekspansi pasar baru, atau munculnya produk pesaing. Rebranding dimaksudkan untuk penguatan produk, pembeda atas produk pesaing/lawan. Dalam kasus #DiaSibukBekerja jelas dimaksudkan untuk menandingi gerakan #2019GantiPresiden.

Namun melihat kemasan dan frasa yang dipilih, #DiaSibukKerja juga tidak akan bertahan lama. Frasa ini kurang kuat dan tidak mampu menggerakkan publik. Tagline #DiaSibukKerja ini lebih terkesan hanya sebuah klaim dan tidak sejalan dengan “produk” yang coba dipasarkan, yakni Presiden Jokowi.

Dalam upayanya merebut pasar milenial, Jokowi belakangan ini banyak bergaya bak anak muda. Selfie menjadi sesuatu yang wajib dalam berbagai kegiatan, membuat vlog, naik sepeda motor, latihan tinju, beternak kodok, dan berbagai kegiatan lain yang terkesan “kurang kerjaan.” Jadi secara komunikasi pemasaran politik, antara produk, kemasan, dan brandingnya tidak nyambung.

Pada kampanye Pilpres 2014, Jokowi mempunyai tagline kampanye yang sangat kuat, “Jokowi Adalah Kita.” Tagline ini sangat berdaya karena dibarengi dengan kemasan Jokowi yang sederhana, gemar blusukan. Dalam bahasa anak muda, “Jokowi gue banget.” Mampu menggerakkan publik untuk bekerja, seolah memenangkan diri sendiri.

Namun melihat apa yang dilakukan oleh Jokowi belakangan ini, jualan kemasan “sederhana” tampaknya sudah tidak laku. Mengendarai sepeda motor chooper seharga Rp 140 juta, bukanlah bentuk kesederhanaan. Istri dan putrinya kedapatan mengenakan beberapa tas branded, tidak bisa lagi disebut sederhana. Diperlukan branding baru yang lebih sesuai dengan citra diri Jokowi dan keluarganya saat ini. Merek, brand, atau tagline tersebut tidak bisa asal comot.

Menghadapi gerakan #2019GantiPresiden, Jokowi dan para pakar brandingnya, seolah mati angin. Kabarnya sejumlah relawan sedang menyiapkan hestek baru #DILAN-jutkan. Hestek ini mengadopsi pada judul sebuah film yang sempat meledak di pasaran “Dilan.” Lagi-lagi yang menjadi sasaran bidik adalah pasar milenial.

Apakah hestek #DILAN-jutkan bisa mengalahkan hestek #209GantiPresiden seperti sengatan kalajengking yang mematikan? Masih kita tunggu.

Yang sudah terbukti keampuhannya justru ucapan Presiden Jokowi soal kalajengking. Pernyataan Presiden kalau mau kaya silakan beternak kalajengking, menjadi blunder yang hampir menenggelamkan hestek #2019GantiPresiden.

Media mainstream, maupun media sosial ramai-ramai membicarakan soal kalajengking. Suasananya sungguh heboh, dan riuh rendah. Hewan menakutkan itu tiba-tiba terangkat derajatnya menjadi trending topic. Hanya saja nada pembicaraan (tone) publik sangat negatif. Alih-alih membuat kaya, dan mensejahterakan bangsa, bisa “kalajengking” menyengat balik Jokowi dan mematikan hestek #DiaSibukKerja. End

6/5/18

Sumber: https://www.hersubenoarief.com/artikel/diasibukbekerja-vs-2019gantipresiden/, PI