OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 21 Mei 2018

TEGAS DAN ADEM! Sudirman Said: Jateng Itu Rumah Orang Beragama, Bukan Kandang Banteng

TEGAS DAN ADEM! Sudirman Said: Jateng Itu Rumah Orang Beragama, Bukan Kandang Banteng


10Berita, Calon Gubernur nomor urut dua Jawa Tengah, Sudirman Said, berharap ke depan Provinsi Jawa Tengah menjadi rumah bersama, salah satunya adalah rumah para santri.

Hal tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Pak Dirman ini saat bersilaturahmi dengan pengurus dan para santri Pondok Pesantren Al-Falah, Songgom, Kabupaten Brebes, Sabtu 19 Mei 2018.

“Saya ingin mengawali silaturahmi di sini dengan sebuah pertanyaan, apa betul Jateng ini kandang banteng? Karena faktanya, ternyata jumlah pesantrennya sangat banyak, ada 5800 pesantren, di mana-mana muncul simbol keagamaan,” katanya.

Dia menyebut bahwa dirinya bersama Calon Wakil Gubernur Ida Fauziyah berharap ke depan Jateng menjadi rumah santri.

“Mari kita menggeser stigma, pandangan, bahwa Jateng bukan kandang banteng. Ini adalah rumah bersama, rumah orang beriman, rumah santri dan rumah orang beragama,” ujar Pak Dirman.

Dikatakan Pak Dirman, ada beberapa alasan mengapa dia memiliki harapan tersebut, di antaranya jika umat dan para santri masih terpinggirkan, hal tersebut tidak baik bagi pembangunan di Jateng.

“Ini kesempatan baik, suasana ini bisa diubah, selama umat masih terpinggirkan, tidak mengontrol kebijakan tidak mengontrol anggaran, tidak mengontrol policy keputusan, itu tidak baik,” jelas Menteri ESDM RI periode 2014-2016 tersebut.

Salah satu hal yang disorot Pak Dirman, adalah perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini yang dinilai masih minim perhatian terhadap pendidikan Islam, salah satunya pesantren.

”Saat ini, perhatian pada pendidikan Islam terbatas, sehingga, kalau memimpin Jateng, dengan ridha Allah Swt, kami berkomitmen untuk memfokuskan pembangunan Jateng pada pembarungan manusia, cerdas, sehat, berakhlak mulia, salah satunya lewat pesantren dan pendidikan Islam,”jelasnya lagi.

Menurut mantan Direktur Utama PT PINDAD ini, perkara pembangunaun infrastruktur yang keras bisa dilakukan belakangan, karena yang utama adalah pembangunan manusia.

“Perkara semen, gorong-gorong jalan raya itu bisa dicapai belakangan, Kalau kita ngebut di urusan infrastruktur keras, tetapi manusianya buakn manusianya berdaya, bukan manusia yang punya akhlak, keterampilan, maka pembangunan fisik sebesar apapun akan hancur,” papar Pak Dirman.

Sebagai upaya untuk mewujudkan hal tersebut, imbuh Pak Dirman lagi, dirinya bersama Ida Fauziyah memiliki tiga misi utama pembangunan Jateng, yakni mengurangi kemiskinan, separo jumlahnya menjadi 6 persen, kemduian yang kedua menciptakan lima juta lapangan kerja, dan yang ketiga adalah membangun pemerintahan bersih.

“Salah satu yang menjadi problem kita saat ini adalah korupsi, tepat dikatakan di berbagai media korupsi adalah urusan gawat kita, itu yang akan kita selesaikan, membangun pemerintahan bersih dari korupsi, sehingga saya meminta doa restu, terus berjuang menuju hari penting Rabu 27 Juni 2018, ” pungkasnya.

Sumber: SuaraMerdeka

------
Pernyataan Sudirman disambut pujian warganet.

Ini cakep... suer jadikan “kandang” santri ...fakta di semua kabupaten banyak sekali ponpes bertebaran. Eks Karesidenan Kedu, Semarang , Pati , Brebes , Banyumas

— syarif hidayatullah (@syarifjogja) May 21, 2018


— Burhan86 (@Burhan862) May 21, 2018


Lebih manusiawi Om Sudirman

— Yana S (@YanaSup58396587) May 20, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

CATATAN Pertemuan AHY dan Sandiaga, Membaca Peluang Koalisi Dahsyat

CATATAN Pertemuan AHY dan Sandiaga, Membaca Peluang Koalisi Dahsyat


10Berita,  Jumat, 18 Mei 2018 lalu, diam-diam Komandan Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengadakan pertemuan dengan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Sandiaga Salahuddin Uno. Selain sebagai Wakil Ketua Umum Gerindra, Sandiaga juga tercatat sebagai Ketua Pemenangan Pemilu partai besutan Mantan Komandan Jenderal Kopasus Prabowo Subianto tersebut. Jadi kloplah, bahwa pertemuan antara AHY dan Sandi adalah pertemua dua komandan partai politik. AHY di kubu Demokrat, Sandi di kubu Gerindra.

Pertemuan keduanya menjadi pemberitaan hangat media masa karena dilakukan diam-diam dan tidak ada sinyal sebelumnya. Mendadak dan langsung terealisasi. Di sanalah seni poitik, AHY tanpa gembar gembor media, langsung menemui Sandi dan spekulasi terkait pelaksanaan Pemilihan Presiden dan rencana koalisi kedua partai yang sudah digadang-gadang sebelumnya semakin mengemuka.

Bagi para politisi pertemuan itu memunculkan opini berbeda. Mardani Ali Sera yang menjadi makin terkenal karena sukses memviralkan Hastag #2019GantiPresiden menyebut partainya merespon positif pertemuan tersebut. Bahkan Mardani mengatakan PKS siap bekerja sama dengan semua pihak, termasuk dengan Demokrat. PKS sendiri memang disebut sebut sudah bulat berkoalisi dengan Gerindra.

Memang belum ada penjelasan resmi baik dari AHY bahkan Sandi terkait apa yang keduanya bicarakan dalam pertemuan tersebut. Namun desas desus bahwa Partai Demokrat akan berkoalisi dengan Gerindra, PKS dan PAN untuk bertarung bersama di Pilpres 2019 mendatang menjadi tambahan isu baru disamping kemungkinan akan terbentuknya poros ketiga yang akan meningkahi persaingan Prabowo (Gerindra) dan Jokowi (Koalisi PDI-P)

Mungkinkah koalisi Demokrat dan Gerindra akan terjalin? Dalam politik semua mungkin saja terjadi. Siapa pernah menyangka Jokowi akan berhadapan dengan Prabowo di Pilpres 2014 lalu. Politik sejagtinya adalah seni mengelola komunikasi dan kemungkinan. Dalam politik tidak ada yang kaku.

Pun demikian dengan PKS, meski disebut sebut mengajukan sembilan nama kader utama mereka untuk menjadi kandidat Cawapres, partai tersebut juga dinilai sudah mulai tahu diri dan tidak memaksakan kehendak untuk menempatkan kadernya di posisi Cawapres dengan alasan ketertinggalan elektabilitas. PKS disebut sebut menerima berkoalisi dengan Gerindra dan siap menjalin kerjasama dengan partai lain termasuk Demokrat.

Munculnya nama AHY di jagat perpolitikan nasional tentu tidak bisa dilepaskan dari tajamnya analisis dan jitunya strategi Partai Demokrat dalam membaca peluang pemilih di Pilpres. AHY yang muncul sebagai ikon politik anak muda atau yang disebut sebagai generasi milenial dipandang patut dimajukan sebagai kandidat baru di kontestasi kepemimpinan nasional yang mulai surut dan kehabisan calon.

Anak muda ini menjadi ikon baru partainya dan juga kaum muda. Memang bukan hanya AHY yag menjadi ikon politisi muda, namun siapa yang bisa membantah bahwa saat ini, pandangan dan pilihan lebih tertuju pada peraih Adhi Makayasa itu.

Di beberapa kali pelaksanaan survey politik, nama AHY bahkan selalu menempati posisi teratas sebagai kandidat Calon Wakil Presiden. Ia menjadi rebutan karena dipandang akan mampu mengangkat raihan suara pendampingnya termasuk jika dipasangkan dengan Presiden Jokowi atau Prabowo.

Elektabilitas AHY bahkan melampaui angka yang bisa dicapai oleh seniornya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto atau bahkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang sudah lebih dahulu mengkampanyekan diri sebagai kandidat Cawapres.

Memang hingga hari ini, peta persaingan Pilpres masih berkutat pada dua nama diatas. Namun sekali lagi politik adalah seni kemungkinan dan dinamis. Ia bisa berubah bahkan dalam hitungan yang cepat.

Pertemuan, AHY dan Sandiaga boleh saja memunculkan spekulasi lain terhadap koalisi kedua partai. Namun apa yang dibicarakan keduanya di malam hari Jumat pekan lalu itu, publik sudah terlanjur menilai bahwa sudah terjalin komunikasi antar kedua “Panglima Perang” kedua partai.

Tinggal kini menunggu siapa yang akan mereka usung di Pilpres 2019 nanti. Namun patut dicatat, pada saat yang sama juga terbetik kabar bahwa koalisi pengusung Jokowi juga tengah menghitung potensi AHY untuk dipasangkan dengan Jokowi.

Jadi kalau Sekjend Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menyebut bahwa partainya dan AHY ibarat gadis cantik yang akan dipinang, benarlah kenyataanya hari ini.

Sumber: PolitikToday

Terungkap! Skandal Pemerkosaan Massal Etnis Cina Pada Kerusuhan Mei 1998 Ternyata HOAX

Terungkap! Skandal Pemerkosaan Massal Etnis Cina Pada Kerusuhan Mei 1998 Ternyata HOAX


Oleh: Selamat Ginting*
(Jurnalis Republika)

Usai meliput di Monumen Mahatma Gandhi dan Museum Jawaharlal Nehru di New Delhi, saya menuju Wisa Duta Kedutaan Besar Republik Indonesia di kawasan Chanakyapuri, New Delhi, India.

Petang itu pada akhir Mei 2011 lalu, saya diterima Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk India, Letnan Jenderal (Purn) Andi Muhammad Ghalib.

“Shubh sundhyaa. Aapka swaagat hai!” katanya dalam bahasa India.Ia tersenyum dan meminta saya membuka kamus bahasa India. Ungkapan itu berarti selamat malam dan selamat datang.

Salah satu obrolan malam itu seputar peristiwa kerusuhan Mei 1998. Ghalib pada Mei 1998 masih sebagai Kepala Badan Pembinaan Hukum (Kababinkum) ABRI, dengan pangkat mayor jenderal. Hampir tiga tahun ia menyandang pangkat mayor jenderal dalam usia menjelang 53 tahun. Jabatan sebelumnya adalah Oditur Jenderal ABRI istilah lain untuk jaksa agung militer.

Namun pertanyaan saya bukan dalam kapasitasnya sebagai Oditur Jenderal ABRI maupun Kababinkum ABRI, melainkan sebagai Jaksa Agung. Ia dilantik Presiden BJ Habibie sebagai Jaksa Agung pada 15 Juni 1998. Sekaligus dinaikkan pangkatnya menjadi letnan jenderal. Sebuah hadiah hari kelahirannya ke 53 tahun.

Salah satu pertayaan saya yang membuat dia harus bolak balik ke meja kerjanya, seputar isu perkosaan massal pada kerusuhan Mei 1998. “Bohong itu! Merusak citra Indonesia di mata dunia. Ada orang Cina yang kurangajar membuat cerita palsu di Amerika,” kata Ghalib. Ia meminta saya menghubungi Letnan Jenderal (Purn) Moetojib, jika sudah kembali ke Jakarta.

Ghalib pun menceritakan sebagai jaksa agung mendapatkan laporan tentang berita bohong (hoax dalam istilah sekarang) tersebut. Termasuk berkoordinasi dengan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), Letnan Jenderal (Purn) Moetojib dan Kepala Polri, Letnan Jenderal Polisi Roesmanhadi.

Ia kemudian memperlihatkan dokumen dari FBI, Biro Penyelidik Amerika. Lembaga itu menyatakan bahwa kasus perkosaan massal merupakan modus penipuan dari sejumlah warga keturunan Cina di Indonesia untuk mendapatkan suaka politik. Dokumen tersebut didapatnya saat menjadi anggota DPR RI pada 2004-2009.

Dokumen FBI 2004 itu, menurut Ghalib memperkuat hasil tim khusus yang dibuat pemerintah BJ Habibie pada 1999. Dalam laporan tim, tidak ditemukan data-data dan fakta-fakta, baik di rumah sakit, maupun apartemen yang disebutkan telah terjadi perkosaan massal itu.

Ya, FBI melaporkan dalam sebuah operasi dengan nama sandi Operation Jakarta. Mereka menangkap 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka. Operasi rahasia dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat.

"Pemimpin sindikat ini adalah Hans Guow, WNI keturunan Cina, " kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus ini.

Kami membaca dokumen rahasia itu di ruang makan keluarga, sambil makan malam ditemani Andi Murniati, istri Andi Muhammad Ghalib.

Itulah operasi yang dilakukan terhadap sejumlah WNI keturunan Cina yang meminta suaka politik dengan alasan menjadi korban perkosaan dalam peristiwa Mei 1998 di Jakarta dan sekitarnya.

Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi tersebut. Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suaka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen.

Awalnya, mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Setelah berhasil mengelabui pihak berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai menyiapkan aplikasi suaka politik palsu.

Menyiapkan skenario pengakuan palsu seperti diperkosa atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998.

"Cerita tentang penyiksaan itu sangat seragam, karena para pencari suaka menghafalkan kata demi kata secara persis seperti yang diajarkan," kata Jaksa McNulty.

Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis meraung-raung dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas. Banyak yang menceritakan kisahnya begitu sama persis. Misalnya, diperkosa sopir taksi. Pengakuan itu meluncur dari mulut 14 perempuan WNI keturunan Cina yang mengajukan permohonan suaka sejak 31 Oktober 2000 hingga 6 Januari 2002.

"Mereka mengaku diperkosa karena sebagai WNI keturunan Cina," kata Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia.

Voice of Amerika (VoA) juga membuat liputan investigatif tentang isu perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi yang dicurigai sebagai  tempat kejadian perkara perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil!

Memang ada kasus perkosaan, tetapi bukan massal. Bukan hanya pada Mei 1998. Hampir tiap bulan juga ada kasus perkosaan di sejumlah tempat di Jakarta dan lainnya. Kasus kriminal biasa. Hasil penyidikan FBI akhirnya membongkar kebohongan itu.

Itulah salah satu isu dahsyat tentang pemerkosaan massal atas para perempuan etnis Cina pada saat kerusuhan Mei 1998. Dengan sistematis mereka meniupkan isu tentang isu perkosaan itu, dengan berbagai cerita di berbagai media, dengan berbagai cara dan sarana, baik di dalam dan luar negeri.

Yang paling kontroversial adalah kisah hoaxyang diceritakan seorang gadis keturunan Cina bernama Vivian. Cerita palsu itu muncul pada pertengahan Juni 1998. Di situ ia mengaku tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara.

Saat penyerbuan itu mereka memperkosa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetangganya. Kisahnya ditulis secara deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Bahkan 'Majalah Jakarta-Jakarta' mengutip cerita perkosaan itu.

Sayang sekali majalah tersebut menyebarkan berita hoax yang mempermalukan bangsa Indonesia.

Di internet pun muncul foto-foto berisi gambar para korban kerusuhan Mei 1998. Sejumlah website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam, seolah-olah sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.

Tayangan tersebut mengundang emosi luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menuduh orang-orang Cina di Indonesia akan dibinasakan, seperti kasus The Rape of Nanking, saat pendudukan Jepang ke Cina, pada 1937.

Setelah pengakuan Vivian itu, para wartawan dalam dan luar negeri berupaya menelusuri petunjuk tersebut, Hasilnya nihil. Hal yang sama dialami aparat kepolisian dan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), hasilnya pun sama, nihil!

Warga di sekitar apartemen yang disebut sebagai tempat tinggal Vivian menjawab, tidak ada dan tidak pernah terdengar adanya remaja putri Cina yang diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Beberapa saksi malah menyebutkan, mereka sudah kabur ke luar negeri sebelum peristiwa kerusuhan itu.

Seperti saran Ghalib, saya pun menemui Moetojib saat kembali ke Jakarta. Ceritanya pun sama. Bangsa Indonesia dipermalukan WNI keturunan Cina yang membuat berita bohong.

Jadi, jika masih ada yang percaya tentang kasus perkosaan massal terhadap WNI keturunan Cina pada Mei 1998, segera beranguslah dari pikiran busuk itu.

Sumber: Republika.co.id, PI

Ikuti Saran Ulama, Pemprov DKI Batalkan Tarawih di Monas

Ikuti Saran Ulama, Pemprov DKI Batalkan Tarawih di Monas

10Berita , JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memastikan shalat Tarawih pada Sabtu, (26/5/2018) tidak digelar di Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Sandiaga mengatakan, ini merupakan hasil keputusannya dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan ulama-ulama.

“Tadi sudah kami koordinasikan juga dengan teman-teman di NU, Muhammadiyah, MUI, dan akhirnya setelah kami pertimbangkan kami akan ikuti saran ulama,” ujar Sandiaga di kawasan Kantor Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (21/5/2018) dikutip Kompas.

Sandiaga mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan pihak Masjid Istiqlal. Pemprov DKI berencana memindahkan acara itu ke Masjid Istiqlal. Kata Sandiaga, masalah lokasi shalat Tarawih berjamaah ini sudah masuk ke ranah fikih.

Oleh karena itu, Pemprov DKI memutuskan mengikuti para ulama. “Para ulama sudah menyampaikan bahwa lebih banyak manfaat shalat di masjid dan lebih banyak mudaratnya shalat di lapangan terbuka seperti itu,” kata Sandiaga. “Jadi itu yang kami akhirnya putuskan bahwa kami akan berusaha berkoordinasi dengan Masjid Istiqlal,” tambahnya. 

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Amirsyah Tambunan menilai, sebaiknya Pemprov DKI menggelar shalat Tarawih berjamaah di masjid.

Amirsyah mengatakan, shalat malam seperti shalat Tarawih pada bulan Ramadhan sebaiknya dilakukan di tempat yang sudah disediakan untuk beribadah. Menurut dia, Pemprov DKI bisa sekaligus bersilaturahim ke masjid-masjid jika menggelar tarawih berjemaah di sana.”Menurut saya sih lebih afdal di masjid. Memang tidak salah, tetapi lebih afdal di masjid,” ujar Amirsyah. 

Sumber : Ngelmu.co

VIRAL Aktivis Tionghoa BERANI BEDA: "Kamsia Pak Jokowi, Cukup Ampe 2019 Aja"

VIRAL Aktivis Tionghoa BERANI BEDA: "Kamsia Pak Jokowi, Cukup Ampe 2019 Aja"


10Berita,   Meme aktivis Lieus Sungkharisma beredar. Captionnya: "Kamsia Pak Jokowi, cukup ampe 2019 aja".

Dengan demikian, jadilah Lieus Sungkharisma sebagai orang Tionghoa pertama yang berani menolak kepemimpinan ulang Presiden Joko Widodo. He is the pioneer. Sementara mayoritas enggan keluar dari comfort zone, he speaks up.

"It is not easy to be a pioneer-but oh, it is fascinating," tulis Elizabeth Blackwell (British physician).

Jokowi punya chance berkuasa kembali. Bila tidak tumbang, dan terpilih kedua kali, maka dia bisa memerintah untuk ketiga kali. Tinggal ubah regulasi. Seperti Mr. Xi Jinping of China.

Tanpa basis massa, Jokowi kuat. Dia fenomena anomali. Paradoxnya, justru saking lemah, Jokowi jadi kuat. Di sekitarnya, ada banyak klik yang dapet jatah. Dibagi rata. Karena itu, semua klik punya kepentingan mempertahankan kekuasaan Jokowi.

Sumber lain kekuatan Jokowi adalah infiltrasi Beijing. Proxinya ya konglomerat. Dahulu, hanya ada satu kekuatan main di Indonesia, yaitu Amerika.

Media mainstream dikuasai. Lembaga survei dapet proyek dongkrak popularitas. Bikin kesan dicintai rakyat.

Sekali pun dollar naik, menteri negara asal ngomong, ada satu issue penyelamat: Islam radikal. Ketika issue ini dimainkan, minoritas dan moderat rame-rame kembali Pro Jokowi.

Ke empat faktor ini kunci kekuatan Jokowi. Bila rantai soliditas klik terurai, interupsi Amerika via Donald Trump, maximalisasi media alternatif dan konvensional, transformasi stigma terhadap muslim bisa dilakukan, maka Joko is in trouble. Dia bisa benar-benar pensiun di tahun 2019.

Penulis: Zeng Wei Jian

Sumber : PORTAL ISLAM

Era Presiden SBY PDIP Sebut Teror Bom Untuk Alihkan Isu, Saat PDIP Berkuasa Yang Bilang Pengalihan Isu Ditangkap

Era Presiden SBY PDIP Sebut Teror Bom Untuk Alihkan Isu, Saat PDIP Berkuasa Yang Bilang Pengalihan Isu Ditangkap


10Berita,  Sejelek-jeleknya era Presiden SBY, orang mau berpendapat, beropini, sah-sah saja tanpa ditangkap. Termasuk beropini terkait Bom Terorisme.

[16 Maret 2011]
PDIP: SBY Terpojok, Bom Pun Diledakkan untuk Alihkan Isu


"Ini pengalihan isu dari hiruk pikuk reshuffle yang sekarang ini sedang menjurus ke titik jenuh. Kelihatannya saja di permukaan tenang padahal di dalamnya tidak tenang. Kita khawatir hiruk pikuk seperti itulah membuat tiga kejadian terjadi dalam satu hari yakni teror bom itu, walaupun memang kelihatan daya ledaknya rendah," kata anggota Komisi III DPR dari PDIP Trimedya Panjaitan kepada wartawan di gedung DPR/MPR Jakarta (Rabu, 16/3).

Link: http://www.rmol.co/read/2011/03/16/21247/PDIP:-SBY-Terpojok,-Bom-Pun-Diledakkan-untuk-Alihkan-Isu-

PDIP: Teror Bom Pengalihan Isu Reshuffle Kabinet
http://m.tribunnews.com/nasional/2011/03/16/pdip-teror-bom-pengalihan-isu-reshuffle-kabinet

***

Bandingkan saat PDIP berkuasa, era Presiden Jokowi.

[20 Mei 2018]
Dipamerkan Polisi, Dosen USU 'Bom Surabaya Pengalihan Isu' Pingsan

Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) Himma Dewiyana Lubis alias Himma yang menyebut bom Surabaya pengalihan isu dipamerkan di Polda Sumut. Himma sempat pingsan usai dipamerkan.

Himma sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran hoax tentang tiga bom gereja di Surabaya merupakan pengalihan isu. Himma dijerat dengan pasal 28 ayat 2 UU ITE.

"Sudah jadi tersangka," kata Kombes Tatan.

Link: https://news.detik.com/berita/4029741/dipamerkan-polisi-dosen-usu-bom-surabaya-pengalihan-isu-pingsan


Sumber :Portal Islam 

Ratusan massa gelar aksi unjuk rasa dukung Palestina di markas PBB di Jenewa

Ratusan massa gelar aksi unjuk rasa dukung Palestina di markas PBB di Jenewa

10Berita, JENEWA – Ratusan orang berkumpul pada Sabtu (19/5/2018) untuk bergabung dalam demonstrasi damai yang digelar di luar kantor PBB di Jenewa sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina yang menderita agresi Israel di Jalur Gaza.

Demonstrasi ini diselenggarakan oleh organisasi non-pemerintah Aliansi Internasional untuk Hak Asasi Manusia dan Pembangunan (IAHRD) dan Association des Victimes de Torture en Tunisie (AVTT) dan didukung oleh lebih dari 20 organisasi nirlaba.

Para demonstran mengutuk pembantaian tersebut dan meminta PBB dan organisasi internasional lainnya untuk bertindak melawan Israel dan mengkritik negara-negara yang tetap diam atas pelanggaran hak asasi manusia.

Massa membawa plakat bertuliskan “Bebaskan Palestina” dan “Sang Teroris Israel”.

Para pengunjuk rasa juga menyerukan diakhirinya pendudukan Israel dan segera dilakukan investigasi independen terhadap pembunuhan di Gaza.

Jumlah orang Palestina yang gugur oleh tembakan Israel selama protes pada hari Senin di perbatasan timur Jalur Gaza meningkat menjadi 65 orang pada hari Sabtu.

Demonstrasi pada hari Senin bertepatan dengan hari Nabka [Bencana], dan pemindahan kedutaan AS di Israel ke Yerusalem.

Sejak demonstrasi Gaza dimulai pada 30 Maret, lebih dari 110 demonstran Palestina telah terbunuh oleh tembakan tentara Israel di perbatasan.

(ameera/)

Sumber :arrahmah.com

Pembahasan RUU Terorisme Molor, Politisi PKS Minta Presiden Tegur Menkumham

Pembahasan RUU Terorisme Molor, Politisi PKS Minta Presiden Tegur Menkumham

Hidayat Nur Wahid. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

10Berita — Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW), meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegur Menkumham Yasonna Laoly untuk menyelesaikan revisi undang-undang terkait terorisme. Sebab, Yasonna diketahui beberapa kali meminta penundaan pembahasan revisi UU nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sedang dibahas di DPR.

"Menkumham beberapa kali menyurati DPR untuk meminta penundaan pembahasan RUU Terorisme. Karena itu Presiden Jokowi harus menegur Menhumham," ujar HNW di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/5/2018).
HNW mengungkapkan, Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Ketua Pansus revisi UU Antiterorisme M Syafi'i sudah menjelaskan bahwa keterlambatan pembahasan revisi UU tersebut ada di sisi pemerintah. Karena itu, dia meminta internal pemerintah menyelesaikan masalah tersebut.
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS itu menjelaskan, penyelesaian internal itu seperti meminta Menkumham mencabut surat penundaan dan membuat surat baru yang menyatakan siap membahas revisi UU Antiterorisme. Di sisi lain, dia mengatakan, presiden juga jangan mengeluarkan pernyataan yang terkesan mengancam seperti ingin mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).
"Seharusnya Presiden Jokowi jangan mengancam akan mengeluarkan pernyataan akan membuat Perppu. Seharusnya menegur Menkumham, kenapa meminta penundaan," jelasnya.

Sumber : RILIS.ID

Fadli Zon Sebut Pertemuan AHY-Sandiaga Belum Temukan Titik Koalisi

Fadli Zon Sebut Pertemuan AHY-Sandiaga Belum Temukan Titik Koalisi

 

Fadli Zon

10Berita, Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu Ketua Pemenangan Pemilu Gerindra Sandiaga Uno. Namun begitu, pertemuan itu disebut belum menemui titik kesepakatan untuk berkoalisi.

"Ya nanti kita lihatlah namanya proses kan saya kira juga nanti ada. Memang sudah ada beberapa komunikasi tapi belum firmed, nanti kita lihat lah," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan (21/5).

Hal ini belum juga belum dipastikan apakah Gerindra - Demokrat akan berkoalisi di Pilpres 2019. Fadli mengatakan komunikasi kepada semua parpol terus mengalir. Terutama yang belum menentukan sikap.

"Sikap Gerindra kalau kita melihat semua adalah mitra dalam demokrasi, termasuk yang menjadi lawan politik. Saya kira wajar dalam politik dan apalagi yang belum menyatakan sikap. Saya kira itu berarti mempunyai peluang yang lebih besar untuk melakukan koalisi bersama," tuturnya.

Fadli juga enggan berkomentar jika AHY diusung oleh Demokrat sebagai capres maupun cawapres. Dia mengatakan, Gerindra fokus pada kesepahaman koalisi dulu.

"Kalau kami selalu mengatakan bahwa yang paling penting merajut koalisi dulu bersama kemudian kita dudukan bagaimana formasinya ke depan," ujar Fadli.

Gerindra juga masih mengutamakan mitra koalisinya yakni PKS yang telah menyodorkan sembilan nama cawapres. "Sejauh ini kita belum bicara nama-nama sih, kecuali yang cukup jauh kawan-kawan PKS karena itu kan lebih awal," ucapnya.

Fadli juga meyakini, pertemuan AHY dan Sandiaga Uno tak akan mengganggu koalisi antara Gerindra dan PKS. "Saya kira enggak. Kita tujuannya menang kok bukan sekadar mau berkoalisi tapi kita mau tujuannya menang," imbuh Fadli Zon.

Komunikasi Gerindra-PKS

[Bintang] Ahmad Dhani

Komunikasi Gerindra - PKS juga semakin intensif. Dalam waktu dekat, keduanya akan mengadakan buka bersama yang juga akan dihadiri petinggi PAN.

"Kalau PKS, PAN dan Gerindra sudah sama sama mengusung di berbagai daerah jadi komunikasi politik juga relatif sangat lancar. Jadi tinggal yang mendudukkan. Ibarat bermain catur gimana siapa dulu melangkah dan bagaimana," tandasnya.

Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Jumat 18 Mei malam, bertemu Ketua Pemenangan Pemilu 2019 Partai Gerindra Sandiaga Uno.

Sumber: Merdeka.com, Liputan6

Menyusup ke ISIS, Jurnalis Perancis Tidak Menemukan Islam

Menyusup ke ISIS, Jurnalis Perancis Tidak Menemukan Islam

ilustrasi

10Berita, JAKARTA - Seorang jurnalis asal Perancis berhasil menyusup dan berbaur bersama dengan para simpatisan ISIS dalam jaringan teror bawah tanah di Paris. Pengalaman jurnalis Muslim itu mengejutkan, karena menurut dia para simpatisan ISIS itu sama sekali tidak paham soal Islam.

Jurnalis yang menggunakan nama samaran Ramzi ini mengaku "tidak melihat Islam" selama enam bulan menyamar dalam jaringan tersebut. Dia hanya menemukan para pemuda yang "tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi."

Penyusupan Ramzi dilakukan antara musim panas 2015 hingga Januari 2016. Dia mengaku sangat mudah menghubungi kelompok yang menyebut diri sebagai "Tentara Allah" di Facebook itu.

Dia merekam banyak peristiwa dalam kelompok itu menggunakan kamera tersembunyi, termasuk rapat perencanaan serangan di sebuah kelab malam. Dikutip dari The Independent, Selasa (3/5), rekaman tersebut ditayangkan di stasiun televisi Canal+ pada Senin lalu dengan judul "Tentara Allah."

Ramzi mengatakan, jaringan itu terdiri dari 10 anggota yang dipimpin oleh pemuda berusia 20 tahun bernama Ossama.

Ossama sempat ditolak masuk angkatan bersenjata Perancis, pernah menjadi pemuja setan atau Satanis dan pecandu alkohol sebelum berkenalan dengan kelompok Islam radikal di internet.

Dia pernah dipenjara selama enam bulan setelah ketahuan mencoba bergabung dengan ISIS. Dia dibebaskan dan wajib lapor setiap hari ke pos polisi.

Pria keturunan Perancis-Turki ini adalah "emir" dari kelompok yang menggunakan aplikasi berbagi pesan Telegram untuk mengatur pertemuan.

Dalam sebuah rekaman tersembunyi, Ossama terlihat tersenyum saat membayangkan dirinya ditembak mati oleh polisi, seraya mengatakan "Syuhada tidak merasakan sakit."

"Kita harus menyerang pangkalan militer. Ketika mereka makan, mereka berbaris, atau jurnalis. BFM iTele, mereka berperang melawan Islam," kata Ossama dalam rapat itu.

"Seperti yang mereka lakukan kepada Charlie [Hebdo]. Kau harus menyerang mereka di jantungnya. Serang mereka tiba-tiba. Mereka tidak terlindungi. Ribuan warga Perancis harus mati," lanjut dia.

Ossama merencanakan serangan ke kelab malam dan bandara Paris–Le Bourget, yang menurutnya akan membuat Perancis trauma selama berabad-abad.

Namun rencana itu baru terlaksana setelah mendapatkan konfirmasi dari seorang militan bernama Abu Suleiman, veteran perang ISIS yang pernah bertempur di Raqqa, Suriah.

Ramzi pernah terlibat dalam sebuah rencana penyerangan. Dia diminta untuk berjalan ke stasiun kereta dan bertemu dengan seorang wanita yang memberikannya surat instruksi.

Dalam instruksi itu, dia harus menyerang kelab malam dan meledakkan diri menggunakan rompi bunuh diri setelah ada pasukan keamanan yang datang. Abu Suleiman dalam hal ini yang memberikan perintah menyiapkan peledak dan ranjau di mobil melalui Telegram.

Jaringan Ossama telah diawasi oleh badan intelijen Perancis, DCRI, dan mereka ditangkap pada Desember dan Januari lalu.

Ramzi, 29, mengatakan bahwa dia adalah Muslim yang "satu generasi dengan para pembunuh" di Paris November lalu yang menewaskan 130 orang.

"Tujuan saya adalah untuk memahami apa yang ada pikiran mereka," kata Ramzi saat diwawancara AFP.

"Salah satu pelajaran utama adalah, saya tidak pernah melihat Islam dalam masalah ini. Tidak ada niat mereka mengubah dunia. Hanya para pemuda yang tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi."

"Mereka tidak beruntung lahir di masa keberadaan ISIS. Sangat menyedihkan. Mereka adalah para pemuda yang mencari sesuatu, dan malah ini yang mereka temukan," lanjut dia.

Sumber: cnnindonesia.com