OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 02 Juni 2018

Jokowi Minta Maaf ke Mega, PKS Bingung Siapa Pemimpin Sebenarnya

Jokowi Minta Maaf ke Mega, PKS Bingung Siapa Pemimpin Sebenarnya

10Berita, Jakarta – Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri mengungkapkan Presiden Jokowi telah meminta maaf kepada dirinya. Mendengar kabar itu, politikus PKS bingung soal siapa pemimpin sebenarnya, Jokowi atau Megawati.

“Kadang agak bingung siapa pemimpin atau siapa yang dipimpin,” kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera kepada detikcom, Jumat (1/6/2018).

Bisa jadi Jokowi minta maaf ke Megawati didasari oleh tradisi sopan santun yang dipahami Jokowi. Namun penerapan sopan santun dalam konteks politik seperti ini malah bisa problematis. Memang Megawati lebih tua ketimbang Jokowi, namun kenyataannya Jokowi adalah Presiden RI.

“Presiden orang Jawa, jadi hormat pada yang tua. Tapi pernyataan ini dapat menurunkan wibawa Presiden. Mestinya dijaga bersama marwah Presiden,” kata Mardani.

Kewibawaan Jokowi perlu dijaga bersama-sama. Peristiwa privat semacam praktik sopan santun yang diungkap Megawati seharusnya tak perlu diungkap ke publik.

“Kalaupun benar, cukup untuk internal saja, tidak perlu diumbar keluar. Kasihan kalau Presiden dipersepsi publik bersikap tidak patut,” kata Mardani.

Megawati mengungkapkan bahwa Jokowi telah meminta maaf kepadanya perihal kritikan yang merundung Megawati akibat isu ‘gaji’ BPIP. Namun Megawati merespons dengan imbauan agar Jokowi tenang saja, kontroversi ini tak perlu ‘dimasukkan ke hati’.

“Tadi saya pun ditanya oleh Bapak Presiden, dan beliau pun minta maaf,” kata Megawati dalam acara Peluncuran Buku dan Peluncuran Perangko Bung Karno di Gedung Filateli, Jl Pos Besar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (31/5).

Kontroversi itu bermula saat Perpres Nomor 42 Tahun 2018 yang memuat gaji untuk penggawa BPIP dibuka ke publik. Berikut daftar hak keuangan sesuai dengan lampiran Perpres Nomor 42/2018 yang ditandatangani Jokowi pada 23 Mei 2018:

Ketua Dewan Pengarah mendapat hak keuangan Rp 112.548.000
Anggota Dewan Pengarah mendapat hak keuangan Rp 100.811.000
Kepala BPIP mendapatkan hak keuangan Rp 76.500.000
Wakil Kepala BPIP mendapatkan hak keuangan Rp 63.750.000
Deputi BPIP mendapatkan hak keuangan Rp 51.000.000
Staf Khusus BPIP mendapatkan hak keuangan Rp 36.500.000
(dnu/nvl)

Sumber : UC News 

Menolak Impor Beras Demi Bela Petani, Dirut Bulog Terancam Dipecat

Menolak Impor Beras Demi Bela Petani, Dirut Bulog Terancam Dipecat

 

Buwas-tolak-tambahan-impor-beras-500-000-ton (foto: detik.com)

10Berita, Sosok Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso kembali menunjukkan ketegasannya menolak rencana impor beras yang justru dinilai memberikan citra buruk bagi kinerja Pemerintah Jokowi, selain itu juga beresiko membuat harga beras melambung di pasaran.

Langkah tegas Buwas ini, dikhawatirkan memunculkan ketidak stabilan di Masyarakat akibat kelangkaan beras yang bisa membuat harga beras melambung tinggi jika menolak Impor, hal ini disampaikan Sekjen FSP BUMN Bersatu, Trisasono.

"Ini sudah tahun politik dan kampanye jangan sampai stok beras nasional kurang yang kemudian menyebabkan kelangkaan beras dan harga beras menjadi mahal," ujar Trisasono, seperti dilansir laman rmol.co (01/06/2018).

Sekjen FSP BUMN Bersatu, Trisasono (foto; netralnews.com)

Kemudian Trisasono mempertanyakan strategi manajemen logistik Mantan Kabareskrim Polri tersebut, yang nekat menolak impor beras hanya lantaran gudang gudang Bulog sudah penuh

"Apa Budi Waseso enggak tahu kalau swasembada beras tahun 2017 yang dicanangkan Pak Joko Widodo Gagal sehingga perlu stock buffer nasional untuk komoditi beras dengan cara melakukan impor beras," jelas Tri.

Selanjutnya Tri menegaskan kembali langkah Impor beras Pemerintahan Jokowi merupakan upaya Pemerintah mengantisipasi kelangkaan beras Nasional, apalagi menghadapi fenomena gagal panen akibat cuaca ekstrim tahun ini.

Tri mengimbau Buwas bisa memanfaatkan gudang-gudang milik BUMN seperti milik PT Pos Indonesia untuk mengisinya dengan beras Impor, atau bisa juga dengan menyewa gudang milik swasta.

"Jangan dirut Bulog bertameng pada nasib petanilah kalau impor beras nasional dilakukan, harus realistis selama ini Indonesia sudah jadi negara pengimpor beras kok " ungkap Tri.

kepentingan-ekonomi-politik-di-balik impor-beras (foto: forumkeadilan.com)

Ia menilai tindakan Buwas bisa membahayakan elektabilitas Jokowi di Pilpres nanti, untuk itu Tri mengimbau kepada Presiden Jokowi agar menindak tegas dengan cara menonaktifkan dirut Bulog tersebut.

Sumber:

rmol.co/amp/2018/06/01/342346/Bela-Petani-Tolak-Impor-Beras,-Dirut-Bulog-Pantas-Dipecat-

Tentang Pohon Palsu Warisan Ahok

Tentang Pohon Palsu Warisan Ahok

Foto: Garda Umat

10Berita – Anies: Enggak tau itu idenya siapa! Sandiaga: Kok bentuknya seperti itu?

Ternyata pohon imitasi yg terpasang di sepanjang Jalan Thamrin Jakarta, adalah warisan Ahok. Pohon itu sudah pernah dipasang untuk memeriahkan Natal dan Tahun Baru 2017. Jadi sejak itu, menurut media, sudah pernah dipasang 3 kali di tempat yg sama, persis dengan lokasi sekarang. Tak heran Anies mengatakan: Mereka suka PURA-PURA KAGET.

Lho kok dulu gak diprotes? Gak dianggap menghalangi para pejalan kaki?
Ya jelas donk! Kan dulu untuk merayakan Natal, mosok umat muslim mau protes? Intoleran itu namanya. Apalagi itu kerjaan Gubernur Ahok, kalau protes bisa dianggap Rasis. Radikal dan intoleran.

Tapi kok sekarang dipasang dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Ulang Tahun Jakarta, diprotes dan dibully?
Ya kan sekarang Gubernurnya Muslim, Anies dan Sandiaga. Wajar kalau diprotes Ahokers. Dan sepertinya kudu terus dicarikan bahan biar bisa protes. Apalagi Pemda DKI di bawah pemerintahan mereka berdua baru saja meraih predikat WTP. Wajar Tanpa Pengecualian. Status yg hanya IMPIAN bagi Ahok! Sakitnya tuh bertubi-tubi. Sakitnya radikal sekali. Seperti ditonjok. Ditendang. Dan dikepret. Jadi timbullah ide: Skenario Ahoker ingin balas dendam lewat FITNAH POHON IMITASI.

Eeh tapiii… lagi asik2 nya ngebully Anies-Sandi, keburu ketauan kalau Pohon Plastik, alias Pohon Imitasi yg berupa lilitan untaian lampu itu adalah PENINGGALAN AHOK. Hiasan pohon lampu warna-warni yg menyerupai hiasan pada Pohon2 Natal itu memang sudah pernah dipasang dan menumpuk di gudang Sudin Perindustrian dan Energi.

Menurut Goodbener Anies, dia tidak tau siapa yg punya ide memasang pohon2 itu. Jelas Anies tidak pernah mengajukan anggaran untuk itu. Wong anggarannya diajukan dan disetujui di masa Ahok.

Ternyata karena sudah terbiasa dipasang di era Ahok, maka Kepala Sudin Perindustrian dan Energilah yg berinisiatif memasang kembali barang2 yg tersimpan di gudang itu. Tanpa konsultasi dan sosialisasi kepada Gubernur baru.

Bahkan saking takjubnya akan bentuk Pohon Palsu itu, Wagubener Sandiaga sampai menyatakan keheranan: “Kok bentuknya seperti itu?” Yaa, itulah selera Ahok. Itulah style Gakbener Ahok yg dibully oleh para Ahokers sendiri.


Ini adalah salah satu pelajaran besar bagi Anies-Sandi. Yaitu agar segera mengganti orang2 Ahok yg masih tersisa di Pemda DKI. Harus tega menyapu bersih anasir2 lama yg tersisa. Yaitu orang2 yg terus menerapkan kebijakan2 lama tanpa berkonsultasi kepada pemerintahan baru.

Sebetulnya Anies-Sandi sudah mengganti pejabat2 peninggalan Ahok yg tidak kompeten. Tapi masih kurang cepat. Seperti penggantian Dirut Dharma Jaya, itu sudah bagus. Dirut yg sebelumnya pengusaha salon, kemudian menyambi jualan daging kepada tetangga dan berkembang jadi pemasok ke supermarket itu, adalah teman Ahok di gereja yg ditawari jadi Dirut BUMD. Di mata karyawan dia terkenal sebagai kesayangan Ahok. Dirut lama yg pernah didemo gara2 memberlakukan Sholat Jumat 2 shift kepada para karyawannya itu, kini sudah lengser. Di dunia ini mana ada Sholat Jumat dilakukan bergantian? Kecuali krn uzur tempat yg sangat sempit, misalnya. Sementara jumlah masjid di Indonesia banyak dan saling berdekatan.


SEMOGA GUBERNUR ANIES DAN WAGUB SANDIAGA TERUS ISTIQOMAH MEMPERBAIKI PEMERINTAHAN DKI JAKARTA. MAMPU MELETAKKAN PONDASI YG BENAR, AGAR TIDAK MENYULITKAN PARA PENGGANTI MEREKA KELAK.

Abaikan mereka yg nyinyir dan fitnah. Karena mereka akan terus selamanya seperti itu. Meski selamanya pula fitnah2 itu akan selalu terjawab dengan telak. Meninju muka mereka sendiri. Dan menelanjangi kedunguan para Ahokers yg dipelihara dengan sebungkus nasi. []

Penulis: Agi Bertha, Pegiat Media Sosial

Sumber : Eramuslim

PDIP VS FPI, Siapa 'Premanisme' Sesungguhnya?

PDIP VS FPI, Siapa 'Premanisme' Sesungguhnya?

10Berita, Aksi protes dari partai PDIP yang dilayangkan kepada Radar Bogor semakin panas, akibat judul pemberitaan yang diterbitkan Radar Bogor yakni 'Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta' berbuntut panjang. Kader PDIP tidak terima karena judul tersebut menyudutkan Ketum mereka, Megawati Soekarnoputri yang memang belakangan ini dikabarkan menerima gaji sebesar Rp 112 Juta sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

"Kalau pemberitaan kayak gitu kan (Radar Bogor) menyusahkan kami. Megawati Soekarnoputri bukan sekadar ketum bagi kami, dia adalah ibu kami. Jangan sampai itu terjadi di Jawa Tengah, rata itu tanah, kantornya," tegas Sekretaris Fraksi PDIP Bambang Wuryanto menggebu-gebu di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (detiknews.com, 31/5/2018).

Referensi pihak ketiga: detik.com

Bahkan tidak hanya itu, dikabarkan oleh pojoksatu.id, aksi tersebut berujung ke tindakan premanisme dan intimidasi yang mengakibatkan pemukulan terhadap staf Radar Bogor serta pengrusakan alat-alat kantor lainnya.

“Hal tersebut merupakan pelanggaran hukum yang dapat dikategorikan perbuatan pidana yang sangat mengancam demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia. Lebih jauh lagi, sikap tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila yang notabene ketua umumnya adalah sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP),” ucap Nawawi, Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi pojoksatu.id, Kamis (31/5)

Demo di kantor Radar Bogor: merdeka.com

Tapi seolah tidak puas, hari ini, kader PDIP kembali beraksi dengan tuntutan sama, sepertinya mereka tidak akan berhenti sebelum pihak Radar Bogor memenuhi permintaan mereka.

Namun, marilah kita benar-benar fokus melihat sisi aksi gerudukan tersebut. Coba kita amati tentang sikap 'Cinta Pancasila' yang selalu didengungkan partai berlambang Moncong Putih itu. Jika dilihat dari sisi pernyataan Bambang tadi apalagi tindakan premanisme pihak PDIP, tidakkah ini terlihat kontras? Mereka yang selama ini selalu menjadi 'pemimpin' dalam menyerukan 'saya cinta Pancasila' melakukan perbuatan yang menunjukkan sebaliknya? Bahkan tidak segan mengatakan kepada oknum yang berseberangan pendapat dengan mereka adalah anarkis?

Tentu kita tidak bisa melupakan bukan, kerap pula masyarakat yang seolah berpihak kepada partai ini serta partai koalisi lainnya menyebutkan aksi damai yang dimulai dari kasus penistaan agama adalah tindakan anarkis, begitupun ketika FPI yang mendatangi redaksi Tempo di Jl Palmerah Nomor 8 pada Jumat 16 Maret silam. Laskar FPI dikatakan anarkis, padahal mereka melakukan aksi damai dan tidak berkata sesumbar apalagi mendatangkan korban.

FPI gelar aksi damai di kantor majalah Tempo: panjimas.com

Adalah sama di Tahun 2016 saat pihak FPI mendatangi Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta, pada Kamis (16/6) terkait kasus razia warung makan di Serang. Terlihat jelas bahwa FPI sama sekali tidak melakukan tindakan anarkis, justru yang ada pihaknya bisa duduk melingkar dengan pihak Kompas untuk mencari solusi bersama.

Ketika FPI mendatangi Kompas: arah.com

"Terima kasih atas segala keterangan yang disampaikan Munarman, terkait kasus yang terjadi 8 Juni silam, yakni razia warung makan di Serang. Saya kira memang ada efek berita, tapi kami benar-benar nggak pernah punya niat jahat," kata Widi Krastawan, Humas dari Kompas Grup Saat itu (arah.com, Kamis 16 Juni 2016)

Jika demikian, siapakah yang sesungguhnya 'Cinta Pancasila'? Siapa yang sebenarnya 'Cinta NKRI'? Dan siapa yang sejatinya telah bertindak anarkis? Jika FPI saja yang selalu dicitrakan buruk dalam melakukan aksi, mengapa masih bisa melakukan dengan damai? Mengapa PDIP yang merupakan partai besar bisa kebablasan dalam bertindak?

Tentu ini kembali lagi kepada penilaian masyarakat, sebab mereka lah yang sesungguhnya bisa melihat dengan mata cerdas dengan menyaksikan sendiri situasi yang disajikan kepada mereka.

Satu hal yang pasti, 'Cinta Pancasila' dan 'Cinta NKRI' memiliki berbagai bentuk pengamalannya, tidak hanya dengan teriak 'saya cinta Pancasila' lantas pengakuan tersebut juga berlaku di dalam hati. Sama dengan omongan yang mengatakan 'berbuat baik nggak usah dipamer' maka begitu juga dengan sikap nasionalisme. Toh, hati siapa yang tahu?

Cukup dengan ketulusan, membuktikan dengan perilaku maka orang lain akan mengerti, mana yang sesungguhnya dan mana yang bohongan.

Sumber :UC News 

JIMI: Jangan Pilih Parpol Yang Suka Melakukan Teror

JIMI: Jangan Pilih Parpol Yang Suka Melakukan Teror


10Berita, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian harus berani tegas mengusut tuntas insiden penggerudukan dan kekerasan atas kantor redaksi Radar Bogor.

Tindakan penggerudukan dengan menggunakan kekerasan dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan PDIP Bogor.

"Ini bentuk teror terhadap pers, partai politik jangan seperti teroris dong," kata Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) Don Zakiyamani dalam keterangannya, Sabtu (2/5).

"Anarkisme dan teror terhadap pers yang dilakukan kader PDIP bukan kali ini saja, sebelumnya juga dilakukan terhadap salah satu stasiun TV. Aneh bila pihak berwajib terus membiarkan partai berkuasa berbuat sesuka hati," tambahnya.

JIMI menghimbau rakyat Indonesia agar tidak memilih partai yang bertindak anarkis. Pihaknya menilai sikap anarkis bukanlah cerminan parpol yang sehat, parpol harusnya menjadi contoh bagi rakyat dalam berdemokrasi.

"Kritikan harus dibalas dengan argumen bukan main hakim sendiri," terang Don Zakiyamani menyayangkan.

Menurutnya, jika kejadian penyerangan seperti ini dibiarkan maka dikhawatirkan kebebasan berpendapat dan berserikat yang dijamin UUD 45 bakal lenyap.

"Kebebasan pers semakin terancam dan ini teroris yang sama menakutkan dengan bunuh diri. Bagaimana mungkin menjadi penafsir Pancasila bila anggota partainya bersikap tidak pancasilais," ujar Don Zakiyamani. 

Sumber : b-islam24h.com, rmol.co

NGAKAK! KEJEPRET Pohon Plastik, Saidiman Ahmad Ditertawakan Warganet: Yang Lain Sudah Mingkem, Dia Baru Ribut!

NGAKAK! KEJEPRET Pohon Plastik, Saidiman Ahmad Ditertawakan Warganet: Yang Lain Sudah Mingkem, Dia Baru Ribut!


10Berita, Polemik seputar pohon plastik rupanya masih sangat menarik perhatian pendukung Ahok yang belum bisa menerima kekalahan telak dari Anies Baswedan di Pilgub 2017 lalu.

Sayangnya, kebencian terhadap Anies begitu membutakan hati dan pikir mereka. Sampai-sampai mereka enggan melakukan cek dan kroscek sebelum bercuit.

Contohnya pentolan JIL, Saidiman Ahmad. Melalui akun twitternya, Saidiman menyinyiri pemasangan pohon plastik di trotoar, tanpa mengetahui bahwa pembelian pohon tersebut dianggarkan pada tahun pemerintahan Ahok-Djarot dan bahkan telah digunakan 3 x pada tahun lalu di tempat yang sama!

Saidiman pun kemudian membandingkan Ahok dengan Anies.

"Apakah karena Ahok tak pandai menghabiskan anggaran bangsa dan negara dia kemudian tak pernah mendapat opini WTP dari BPK? Kalau yang sekarang kan nampak sangat piawai tuh menghabiskan anggaran," sindir Saidiman.


Namun sayang, dalam hitungan jam, cuitan tersebut langsung dihapus oleh Saidiman. Untungnya warganet gerak cepat dan menyimpan tangkapan layar cuitan Saidiman.

Saidiman pun menjadi bahan tertawaan warganet.

— Dr.Gunawan (@dr_gundi) June 1, 2018

Wow enak sekali langsung hapus tanpa minta maaf.. HOAX =Fitnah..

— IkutiSajaKataHatiMu (@teguhprasaja) June 1, 2018

Media skrg sulit dipercaya. Apalagi kebijakan Anies itu lebih banyak pada sisi public empowerment & enabling. Kedua program yg sama sekali tdk disenangi kaum kapitalis, dan media2 besar skrg memang dimiliki kelompok mereka.

— Pemberdaya! (@CukongAgen) June 1, 2018


Sumber :Portal Islam 

Belum Kelar Kasus Radar Bogor, Kini Karikatur Megawati di Koran Pos Kota Pancing Warganet Komentar

Belum Kelar Kasus Radar Bogor, Kini Karikatur Megawati di Koran Pos Kota Pancing Warganet Komentar

Karikatur Pos Kota.| ISTIMEWA

10Berita , Gaji Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) masih menjadi polemik di media sosial. Kontoversi soal gaji itu semakin ‘panas’ belakangan ini lantaran sejumlah kader PDI Perjuangan menggeruduk kantor Radar Bogor pada Rabu (30/5) lalu.

Bahkan, Jumat (01/06) kemarin kader dan simptasian dari PDI Perjuangan kembali mendatangi kantor Radar Bogor yang berada di Jalan KH. Abdullah Bin Nuh, Curug Merak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor dipimpin Anggota DPR RI Komisi VII Rieke Diah Pitaloka. Mereka datang dengan tuntutan yang sama, yakni menuntut permintaan maaf dari Radar Bogor yang dianggap telah salah dalam memuat pemberitaan edisi Rabu (30/5) berjudul “Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta”.

Belum selesai kasus itu, kini giliran headlinekoran Pos Kota memancing perbincangan warganet.

Seorang warganet, @TopeRendusara mengunggah foto terkait headline Pos Kotadengan judul “Gaji Megawati Sakiti Rakyat”. Koran tersebut berisi penjelasan bahwa "Di tengah masyarakat dililit kesulitan ekonomi, pemerintah justru memberi gaji Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri sebesar RP112 juta lebih sebulan."

Tak kalah menarik dengan judul headline, karikatur pada headline tersebut juga memicu warganet berkomentar. Karikatur itu menggambarkanMegawatiseolah tengah menerima gaji Rp112 juta, sedang di sampingnya ada potret anak kecil tengah makan nasi dan garam.

Pos Kota : Gaji Megawati Sakiti Rakyat, Nu ngampar-ngampar, Nu nabeuh – nabeuh, Nu lapar – lapar, Nu seubeuh – seubeuh ( yang lapar-lapar yang kenyang-kenyang),” kata akun @wanrosadi.

“Ongkang-ongkang kaki dapat 112juta , Banteng mabok ngamuk geruduk media Radar. Gaji Megawati Sakiti Rakyat, Awas nanti Banteng mabok lagi Geruduk Pos Kota?? ,” ucap akun @S0N_2000.

“Koran Poskota. Kira-kira di geruduk lagi gak yaaa...,” ujar akun @TopeRendusara.[]

Sumber :Aktual.com 

Advokat: Tuduhan Mahfud MD 'PKS Lahirkan Koruptor' Bisa Kena Pidana

Advokat: Tuduhan Mahfud MD 'PKS Lahirkan Koruptor' Bisa Kena Pidana


10Berita,  Pernyataan anggota Dewan Pengarah Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Mahfud MD bahwa 'PKS melahirkan koruptor', dinilai sebagai ujaran kebencian dan bisa kena pidana.

"SALAH BESAR jika PKS disebut melahirkan 2 koruptor besar, koruptor itu individu (oknum), tidak bisa dikaitkan dengan partai, jengkel ke 1 orang kok merembet ke yang lain, ujaran Pak Mahfud ini bisa menjadi ujaran kebencian, kalau PKS tegas bisa saja ini dipidanakan dan dilaporkan ke kepolisian," ungkap advokat Ach. Supyadi melalui akun twitternya.

SALAH BESAR jika PKS disebut melahirkan 2 koruptor besar, koruptor itu individu (oknum), tdk bisa dikaitkan dg partai, jengkel ke 1 org kok merembet ke yg lain, ujaran P.Mahfud ini bisa menjadi ujaran kebencian, kalau PKS tegas bisa saja ini dipidanakan & dilaporkan ke kepolisian https://t.co/M2UThNYfuR

— Ach. Supyadi (@adv_supyadi) 1 Juni 2018

Sebelumnya, Mahfud MD menyebut ada kader PKS yang mengirim gambar meme bertulisan 'Saya Pancasila, Saya Rp 100 Juta' di twitter.

[video]

— #2019GantiPresiden 🌸🌺 (@Silvy_riau) 31 Mei 2018


"Orang ini kurang ajar. PKS itu sudah punya koruptor dua, melahirkan koruptor besar! Mau melurus-luruskan dengan cara tidak sopan," kata Mahfud dalam jumpa pers di kantor BPIP di kompleks Wantimpres, Jalan Veteran, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Pengamat publik Ferry Koto juga menyatakan pernyataan Mahfud MD bisa dipidana.

"Harap prof @mohmahfudmd hati-hati menjaga emosi, jangan dalam keadaan marah berpendapat. Tuduhan partai melahirkan koruptor itu, bisa di pidana. Dalam prinsip keadilan hukum, jika Prof nuduh @PKSejahtera lahirkan Koruptor, itu sama berlakunya untuk Parpol-parpol lain yang punya kader korupsi," kata @ferrykoto.

"Sebagai orang hukum prof off side. Kita sama-sama punya data partai yang kadernya paling banyak korupsi, tapi apa pantas simpulkan sebagai pencetak koruptor?" sambungnya.

Harap prof @mohmahfudmd hati2 menjaga emosi, jangan dlm keadaan marah berpendapat.

Tuduhan partai melahirkan koruptor itu, bisa di pidana. Dalam prinsip keadilan hukum, jika Prof nuduh @PKSejahtera lahirkan Koruptor, itu sama berlakunya untuk Parpol2 lain yg punya kader korupsi https://t.co/9VSdHqWZE6

— Ferry Koto (@ferrykoto) 2 Juni 2018

Ternyata prof @mohmahfudmd emosional sekali, hanya kena sindir langsung naik tensi.

Sbg org hukum prof off side, u/ yg masih terduga tapi sdh dijadikan kesimpulan.

Kita sama2 punya data partai yg kadernya paling banyak korupsi, tapi apa pantas simpulkan sbg pencetak koruptor? pic.twitter.com/uXcJNQsOie

— Ferry Koto (@ferrykoto) 2 Juni 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

VIRAL... [Video] Spanduk FPI "Marhaban Yaa Ramadhan" Dicopot Paksa, Diduga Pelaku Banser

VIRAL... [Video] Spanduk FPI "Marhaban Yaa Ramadhan" Dicopot Paksa, Diduga Pelaku Banser


10Berita, Entah apa yang ada didalam benak para pemuda yang melakukan tindakan secara serampangan dengan mencopot spanduk ucapan 'MARHABAN YAA RAMADHAN' kepada sesama muslim yang sedang memasuki bulan suci Ramadhan.

Spanduk yang bertuliskan “Marhaban Yaa Ramadhan” milik ormas Front Pembela Islam (FPI), yang dipajang di salah satu sudut kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dicopot pada saat malam.

“Spanduk “Marhaban yaa Ramadhan” FPI DPW kab. Brebes dicopot Banser, inikah islam rahmatan lil alamiin? #2019GantiPresiden,” tulis akun twitter @Intel_FPI, pada Jumat (1/6/18) sekitar pukul 22.12 WIB.

Akun @Intel_FPI menyertakan video.

Dalam video tsb, tampak spanduk besar FPI dengan foto Imam Besar FPI Habib Rizieq Sihab dicopot paksa dengan menggunakan benda tajam.

Di chanel Youtube juga beredar video pencoptan spanduk Ramadhan FPI tsb.

Video yang diposting akun Buat Channelberitel "SPANDUK "MARHABAN YA RAMADHAN" DPW FPI BREBES DICOPOT BANSER, DIGANTI DENGAN PENOLAKAN ORMAS FPI."

Berikut videonnya...

[Twitter]

— Intelijen FPI (@Intel_FPI) 1 Juni 2018


[Youtube]


Sumber :Portal Islam 

Anak Muda Indonesia Timur Kecam Ngabalin

Anak Muda Indonesia Timur Kecam Ngabalin


10Berita – Anak muda asal Indonesia Timur yang tergabung dalam Forum Pemuda Indonesia Timur (FPIT), mengecam beberapa pernyataan stafsus Presiden, Ali Mochtar Ngabalin yang dianggap meresahkan masyarakat.

Pernyataan Ali Mochtar yang tendensius terhadap keberadaan forum alumni 212 dianggap hanya meresahkan dan menciptakan polemik di publik.

Kordinator FPIT, Mahasale Sangaji dalam pernyataan persnya mengatakan Ali Mochtar tak memiliki hak apapun untuk mengatur siapapun termasuk alumni 212.

“Ali Mochtar Ngabalin itu siapa? Kok dia ngatur-ngatur Forum Alumni 212, apalagi sampai minta pecat Amien Rais sebagai dewan pemasehat forum alumni 212. Ali Mochtar itu tak punya andil apa-apa dengan gerakan 212,” katanya dalam konferensi pers di kafe RopisbakTebet Jakarta Selatan (31/5/2018).

Lebih lanjut alumni HMI ini mengatakan, jangan hanya karena Ali sudah dipusaran kekuasaan, lantas yang bersangkutan bisa secara diktator mengatur-atur ormas yang kritis terhadap pemerintah.

“Memangnya dia itu siapa? Dia cuma politisi yang oportunis,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, sekretaris FPIT, Thomas Warijo mengatakan, Ali Mochtar hanya menciptakan preseden buruk bagi citra orang Indonesia Timur dengan pendirian politiknya yang plin-plan.

“Orang inikan suka gonta-ganti partai. Sebelumnya dia inikan kader partai Bulan Bintang (PBB) yang pindah ke Golkar.

Lanjut aktivis asal Papua ini, dulu 2014, Ali Mochtar juga ketua timses Prabowo-Hatta yang paling getol kritik Jokowi-JK, sekarang dia yang pasang badan bela Jokowi. Sayang aja dengan sikap politisi muda yang tak jelas pendirian politiknya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ali Mochtar Ngabalin menanggapi sikap kritis Amien Rais terhadap pemerintahan Jokowi dan meminta Forum Alumni 212 untuk memecat posisi Amien Rais sebagai ketua Dewan Penasehat. Terkait pernyataan Ali Mochtar ini, FPIT mengecamnya dan meminta dia berhenti mengintervensi forum alumni 212. []

Sumber : inilah