OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 13 Juni 2018

HNW Skakmat KH Yahya Staquf, Ngaku Bela Palestina Kok Nyebut Nama Saja Kagak

HNW Skakmat KH Yahya Staquf, Ngaku Bela Palestina Kok Nyebut Nama Saja Kagak

KH Yahya Cholil Staquf berbicara di forum Israel

10Berita , JAKARTA – Kedatangan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf ke Israel dikritik sejumlah kalangan.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang akrab disapa Gus Yahya ini dianggap tidak peka dengan perjuangan Palestina melawan pembantaian zionis Israel.

Menanggapi berbagai kritikan yang ditujukan kepadanya, KH Yahya Staquf mengatakan, dia menjadi pembicara di Israel sebagai upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina.

“Saya berdiri di sini untuk Palestina, saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka,” tegas Gus Yahya dalam forum diskusi yang diprakarsai oleh America Jewish Commitee (AJC) di Tel Aviv, Israel, dikutip NU Online dari akun YouTube AJC Global.

Dalam forum tersebut, Gus Yahya juga menjelaskan peran aktif Indonesia dan NU bagi keberlangsungan kehidupan sebuah bangsa di level global.

Hal ini merupakan salah satu usaha untuk meneruskan perjuangan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di sejumlah negara untuk mewujudkan perdamaian dunia, termasuk kemerdekaan rakyat Palestina.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengaku sudah mendengarkan rekaman video saat KH Yahya Staquf berbicara di forum diskusi yang dipandu Direktur AJC, Rabbi David Rosen.

Hidayat Nur Wahid

HNW menyatakan sudah membuka linknya. Namun, dia tidak menemukan pernyataan KH Yahya Staquf yang menyebut dirinya membela perjuangan rakyat Palestina.

“Saya sudah buka linknya, dan saya simak dari awal hingga akhir, saya tak dapatkan pernyataan Gus Yahya, yg kalau diterjemahkan ke dlm bhs Indonesia bermakna: ”Saya berdiri disini unt Palestina”. Jadi pertanyaan saya: dimana pernyataan tsb? Knp nggak ikuti sikap Bung Karno saja?,” cuit HNW melalui akun Twitter pribadinya @hnurwahid, Senin (11/6).

Menurut HNW, Gus Yahya berbicara di forum yang diselenggarakan oleh organisasi radikal bernama AJC. Organisasi ini dibentuk untuk kepentingan Israel.

“Krn The AJC yg beri forum unt Gus Yahya, adalah Organisasi Yahudi Radikal yg bertujuan al :”advocating for peace and security for israel”. Maka standing position mrk jelas unt israel, bukan unt Palestina. Israelpun bergembira dg kunjungan yg untungkan mrk, tapi Palestina kecewa,” kata HNW.

KH Yahya Cholil Staquf

Kehadiran Gus Yahya di Israel juga mendapat protes dari Palestina. Sumber tidak resmi Kedubes Palestina di Jakarta mengatakan, Kementerian Luar Negera Palestina telah mengirimkan surat protes kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia.

“Seandainya kehadiran Gus Yahya bermanfaat unt Palestina, tentu didukung Palestina. Tapi tidak. Mrk sudah khatam laku yahudi yg puluhan thn jajah Palestina, tanpa kenal kasih&keadilan spt diharapkan olh Gus Yahya. AJC plintir kunjungan itu unt keuntungan israel, bukan unt Palestina,” tandas HNW.

Hal senada dikatakan Azzam Mujahid Izzulhaq. Melalui akun Twitter pribadinya @AzzamIzzulhaq, ia mempertanyakan pernyataan Gus Yahya yang mengaku membela rakyat palestina di forum Israel.

“Saya menyaksikan tayangan tak terpotong langsung dari channel AJC sebanyak 5 kali. Saya perlambat 1 kali. Saya TIDAK MENEMUKAN kalimat We Stand With Palestine”. Bahkan kata PALESTINA TIDAK DISEBUT SATU KALI PUN,” cuit @AzzamIzzulhaq.

Berikut video KH Yahya Cholil Staquf saat berbicara di forum Israel:

Sumber : POJOKSATU.id 

KEPANIKAN REZIM MEMBUAHKAN KEDIKTATORAN MELALUI MENRISTEKDITI

KEPANIKAN REZIM MEMBUAHKAN KEDIKTATORAN MELALUI MENRISTEKDITI


Oleh : Ardiansyah Yp SH
LBH PELITA UMAT KORWIL SULAWESI TENGGARA

Sangat mencengangkan bahwa Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. Hamli mengeluarkan daftar yang berisi tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) ternama yang disebut terpapar paham radikalisme.

Ketujuh kampus tersebut yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

“PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua (paham radikalisme), dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi,” kata Hamli dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, seperti dikutip Antara Jumat (25/5).

Harusnya kita mempertanyakan metodologi, tolak ukur dan definisi apa yang digunakan BNPT dalam menentukan paham radikalisme.

Jangan sampai ada upaya menggunakan kampus secara struktural, yang seharusnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, akan tetapi digunakan untuk mematikan daya kritis dosen maupun mahasiswa Islam.

Kami menolak tuduhan Radikalisme yang selalu ditujukan kepada umat Islam, seakan lupa terdapat radikalisme lain seperti radikalisme kesukuan yang ditunjukan oleh Cornelis, radikalisme Parpol yang ditunjukan Victor Laiskodat, radikalisme separatis yang ditunjukan OPM dan RMS serta Radikalisme lainnya seperti radikalisme liberal, kapitalis, sekuler.

Celakanya pemerintah melalui menristekditi melakukan persekusi terhadap civitas akademika di berbagai kampus negeri ternama di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Semarang mereka dipersekusi secara kontroversial karena dituduh Anti Pancasila. Tuduhan ini dimunculkan karena civitas akademika tersebut dianggap mendukung Ormas Islam yang kritis terhadap rezim Jokowi, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sunggu celaka bahwa menristekdikti yang berperan besar atas persekusi tersebut melalui arahan rezim telah melanggar UU yang dibuat sendiri oleh pemerintah.

Menristekdikti telah mengekang hak asasi manusia (HAM) yang telah dijamin peraturan perundang-undangan yaitu pasal 28E ayat (3) UUD 1945 dan Pasal 5 UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum memberikan hak yang sama kepada warga Indonesia untuk mengeluarkan pikiran secara bebas sekaligus memperoleh perlindungan hukum.

Kami dari LBH PELITA UMAT yang berkedudukan di Sulawesi Tenggara akan segera menindaklanjuti agenda nasional untuk mengadvokasi maraknya persekusi di dunia kampus.

Kami juga mengajak seluruh lapisan masyarakat khususnya advokad untuk melawan ketidakadilan terstruktur yang terjadi di negeri kita yang tercinta ini.

Jangan sampai kekuasaan yang digenggam oleh segelintir orang-orang zalim ini mampu membinasakan kita semua jika kita tidak menyuarakan kebenaran. Untuk itu kami akan terus melakukan perlawanan atas kemungkaran ini secara konstitusi tanpa memberikan toleransi sedikitpun terhadap segala jenis tindak kekerasan yang terjadi ditengah-tengah umat.

Jadilah penolong Agama Allah, agar Allah kelak menolongmu di yaumul hisab (kiamat) kelak. []

Sumber :Dakwah media 

Begini Kondisi Penghuni Neraka Jahanam

Begini Kondisi Penghuni Neraka Jahanam

10Berita, NERAKA Jahanam adalah neraka paling ‘mengerikan’ di antara tingkatan neraka-neraka yang lain. Penghuninya adalah manusia kafir dan munafik yang paling buruk selama mereka hidup di dunia.

Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam: ‘Mohonkanlah kepada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.’” (QS Ghafir: 49)

Berikut beberapa kondisi yang akan dialami para penghuni neraka Jahanam:

Pertama, mereka tidak bisa meminta kepada Allah SWT, namun mereka meminta kepada penjaga neraka Jahannam agar berdoa untuk mereka, karena Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Qs. Al-Mu’minun: 108)

Kedua, bahwasanya mereka mengatakan “Mohonkanlah kepada Rabbmu,” dan mereka tidak mengatakan “Mohonkanlah kepada Rabb kami”

Karena wajah-wajah mereka dan hati-hati mereka tidak kuasa untuk mengatakan atau berbicara dengan menyandarkan Rububiyyah Allah SWT bagi mereka, yakni (mereka tidak sanggup) untuk mengatakan Rabb kami, karena pada mereka ada cacat dan kehinaan yang mereka nilai bahwa mereka bukanlah orang yang pantas untuk menyandarkan Rububiyyah Allah kepada mereka, akan tetapi mereka mengatakan “Rabbmu.”

Ketiga, mereka tidak (kuasa) mengatakan “Angkatlah siksaan kepada kami,” akan tetapi mereka mengatakan “Ringankanlah siksaan kepada kami,” karena mereka -na’udzubillah- telah putus asa dari diangkatnya (siksaan) dari mereka.

Keempat, mereka tidak akan mampu mengatakan “Ringankanlah siksaan kami selamanya,” akan tetapi mereka mengatakan “Ringankanlah siksaan barang sehari (saja).”

Dengan ini menjadi jelaslah apa yang mereka rasakan dari siksaan, kehinaan dan kerendahan berada di neraka Jahanam.

“Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu.” (QS. As-Syuraa: 45). []

SUMBER: https://www.atsar.id/2015/12/kondisi-penghuni-jahannam-di-hari-kiamat.html, IP 

Erdogan: Turki Akan Gunakan Sistem Rudal S-400 Jika Diperlukan

Erdogan: Turki Akan Gunakan Sistem Rudal S-400 Jika Diperlukan



10Berita, ANKARA, TURKI - Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengatakan Ankara akan memanfaatkan sistem rudal anti-pesawat canggih S-400 buatan Rusia, yang rencananya akan diakuisisi berdasarkan kesepakatan akhir tahun lalu, jika diperlukan.

“Kami tidak akan membeli S-400 dan menempatkannya di gudang. Kami akan menggunakannya jika perlu. Ini adalah sistem pertahanan. Apa yang akan kita lakukan dengan mereka jika tidak menggunakan sistem pertahanan ini? Apakah kita akan bergantung pada Amerika Serikat lagi? Kami telah menuntut mereka selama bertahun-tahun, tetapi jawaban yang diberikan kepada kami adalah: Kongres [AS] tidak mengizinkan. Kami lelah dengan ini, ”kata Erdoğan dalam pernyataan yang disiarkan langsung oleh jaringan berita televisi swasta TGRT Haber Turki.

Presiden Turki itu menambahkan, “Rusia telah menanggapi tawaran kami dengan tawaran yang cukup menggiurkan. Mereka mengatakan mereka bahkan akan masuk ke produksi bersama. Dan sehubungan dengan pinjaman, mereka telah menawari kami persyaratan pinjaman yang cukup bagus. ”

Pada tanggal 8 Juni, Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan bahwa negaranya memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk melindungi keamanannya sendiri dan tidak akan menghindarkan upaya untuk mendapatkan sistem rudal S-400.

“Turki saat ini tidak dapat mengusir serangan rudal di tanahnya. Sistem anti-rudal Rusia akan memperkuat kemampuan pertahanan udara Turki. Negara-negara, yang telah menolak untuk memasok Turki dengan sistem pertahanan udara canggih ingin merusak kecakapan militer Turki” kata Soylu.

Dia menambahkan, "Pembelian sistem anti-rudal S-400 adalah kepentingan nasional Turki, dan tidak ada hubungannya dengan politik ... Operasi sistem pertahanan udara Rusia akan memperkuat posisi Turki."

Pernyataan itu muncul sehari setelah surat kabar Turki Hurriyet Daily News Turki, mengutip sumber diplomatik anonim, melaporkan bahwa pejabat Amerika telah meminta rekan-rekan Turki mereka untuk tidak menggunakan sistem rudal S-400 bahkan jika Ankara mengakuisisi sistem tersebut di bawah kesepakatan akhir akhir tahun.

Pada 3 April, Erdogan dan timpalannya dari Rusia, Vladimir Putin mengatakan di ibukota Turki Ankara bahwa mereka telah setuju untuk mempercepat pengiriman sistem rudal S-400. Pengiriman diharapkan dimulai antara akhir 2019 dan awal 2020.

Hurriyet Daily News melaporkan pada 29 Desember tahun lalu bahwa kesepakatan pinjaman untuk empat baterai rudal permukaan-ke-udara S-400 telah ditandatangani di Ankara.

Perkembangan itu terjadi hanya dua hari setelah Sergey Viktorovich Chemezov, Chief Executive Officer perusahaan negara Rusia Rostec, mengatakan kepada surat kabar Kommersant bahwa Rusia akan memasok Turki dengan empat baterai S-400, masing-masing bernilai $ 2,5 miliar, dan Moskow diperkirakan akan mulai pengiriman pertama di bulan Maret 2020.

Chemezov menambahkan bahwa Turki akan membayar 45 persen dari biaya perjanjian di muka, sementara Rusia akan memberikan pinjaman untuk menutupi sisa 55 persen.

Sistem S-400, yang nama lengkapnya adalah Triumf Mobile Multiple Anti-Aircraft Missile System (AAMS), adalah sistem rudal Rusia canggih yang dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan pesawat, drone, atau rudal sejauh 402 kilometer jauhnya. Ini sebelumnya hanya dijual ke China dan India.

Turki berusaha untuk meningkatkan pertahanan udara, terutama setelah Washington pada tahun 2015 memutuskan untuk menarik sistem rudal permukaan-ke-udara Patriot dari perbatasan Turki dengan Suriah, sebuah langkah yang melemahkan pertahanan udara Turki.

Sebelum cenderung terhadap Rusia, militer Turki dilaporkan keluar dari kontrak senilai $ 3,4 miliar untuk sistem serupa Cina. Penarikan itu terjadi di bawah tekanan yang diakui dari Washington.

Hubungan Ankara dengan sekutu Baratnya di NATO telah tegang karena berbagai masalah.

Erdogan telah kritis terhadap Washington karena mendukung kelompok-kelompok Kurdi di Suriah yang katanya bertanggung jawab atas serangan teror di dalam Turki.

Pemimpin Turki itu juga mengecam para pejabat Amerika karena menolak permintaannya untuk menyerahkan Fethullah Gulen, seorang tokoh oposisi kuat yang tinggal di AS yang dituduh berada dibalik kudeta militer berdarah Juli 2016 lalu. (st/ptv)

Sumber :Voa-islam.com 

Sukses Di Akhir Ramadhan, Why Not?

Sukses Di Akhir Ramadhan, Why Not?



Oleh : Dina Prananingrum, S.T* 

10Berita, Sedih! Tak lama lagi Ramadhan akan meninggalkan kita. Tamu istimewa yang sudah lama dinanti kini akan pergi. Padahal kita belum menjamunya dengan jamuan terbaik.

Setiap muslim memang selayaknya bersedih ketika belum mempersembahkan amalan terbaik saat Ramadhan akan berlalu. Jika di awal Ramadhan kita begitu bahagia dan bersemangat melakukan berbagai ibadah, sudahkah di sisa Ramadhan ini kita bersikap sama? Semakin semangat dan meningkatkan ibadah berburu pahala lailatul qodar, atau malah sebaliknya?

Diriwayatkan dari Hasan bin Abu al Hasan al Bashri pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa-tawa. Ia lalu berkata. " Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh kerahasiaan bagi makhluk-Nya agar mereka saling berlomba di dalam ketaatan kepada-Nya. Suatu kaum sukses berada di depan, sementara banyak kaum lainnya tertinggal di belakang (gagal). Tentu sangat aneh jika orang tertawa-tawa pada hari yang di dalamnya mungkin mereka berhasil tetapi mungkin pula gagal."

Tentu setiap muslim tak ingin dikatakan "gagal" menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Di awal Ramadhan ia begitu semangat beribadah. Tapi, di akhir Ramadhan ia sibuk dengan urusan duniawi sehingga tidak sempat mengejar lailatul qodar. Pergi ke Mal membeli baju baru, sepatu baru, perabotan baru dll. Masjid-masjid semakin rapat dan maju shafnya. TPA yang biasa terdengar suara anak mengaji Quran, tak lagi riuh suaranya.

Di saat yang sama, mereka tetap berpuasa. Berjuang dan berkorban menahan lapar dan haus di tengah berbagai aktivitas. Juga bersusah payah menahan syahwat sampai terbenam matahari. Puasa seperti inilah yang sering dilakukan kebanyakan orang. Puasanya orang awam yang minim ilmu.

Puasa sekedar menahan lapar, haus dan syahwat saja. Puasa yang tidak menghadirkan idrak sillah billah (kesadaran hubungan dengan Allah). Sehingga ia sekadar menggugurkan kewajiban saja. Menjalankan ibadah puasa dan sholat sekedar sebagai rutinitas mengikuti arus. Ketika orang ramai-ramai ke masjid, ia ikut ke masjid. Ketika di masjid mulai sepi, ia pun ikut malas ke masjid. Inilah yang dikatakan muslim yang "gagal".

Berbeda dengan puasanya orang shalih. Puasa tidak sekadar menahan lapar, haus dan syahwat saja. Tapi juga memelihara telinga, mata, lisan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Puasa ini didasari dengan keimanan yang kuat yakni senantiasa menghadirkan idrak sillah billah yaitu senantiasa merasa diawasi Allah dimana pun ia berada. Sehingga setiap gerak-geriknya ia sesuaikan dengan aturan Allah.

Ia menyadari dengan sepenuh hati bahwa menjalankan ibadah puasa harus meluruskan niat semata-mata ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Ia akan semakin takut kepada Allah. Ini ditunjukkan dengan makin terikatnya ia dengan akidah dan syariah Islam serta menjadikan akhirat sebagai pelabuhan terakhir tanpa melupakan dunia.

Tak hanya itu, ia pun akan berupaya mewujudkan ketakwaan dalam dirinya. Dan juga berupaya mewujudkan ketakwaan dalam masyarakat. Di tengah kekhusyukannya beribadah berburu lailatul qodar di penghujung Ramadhan, ia tetap peduli dengan kondisi masyarakat. Ia tetap menyeru masyarakat  agar bersegera meraih keberkahan dari Allah dengan menerapkan syariah Islam di seluruh aspek kehidupan sehingga terwujud masyarakat yang bertakwa. Allah SWT berfirman : "Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa niscaya Kami membukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi." (TQS. Al A'araf :96).

Ia pun tetap rajin berangkat ke majelis ilmu, mengisi kajian, menulis artikel Islam. Jika ia seorang istri ia berbakti kepada suami, berbakti kepada kedua orangtua, membaca dan memahami al Qur'an. Begitu juga bila ia masih remaja dan sekolah. Aktivitas sehari-hari tentu tak lepas dari upaya untuk meningkatkan ketakwaan terlebih di bulan Ramadhan ini.  

Inilah muslim yang dikatakan sukses di bulan Ramadhan. Sukses mewujudkan takwa baik dalam level individu maupun di tengah-tengah masyarakat. Yakni individu dan masyarakat yang menerapkan seluruh syariah Islam secara sempurna. Ia berhak mendapatkan kebagian dari Allah sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam Surat Al Baqarah : 183.

" Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa"

Nah, Ramadhan masih belum usai. masih ada kesempatan kita meraih kesuksesan itu. Mari kita manfaatkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan ini dengan terus memperbanyak amal shalih. Jangan kita sia-siakan waktu yang tersisa. Aturlah waktu sebaik mungkin untuk urusan akhirat dan dunia agar jangan sampai urusan dunia lebih mendominasi aktivitas di akhir Ramadhan ini. Selagi Allah masih memberi waktu dan selagi kita mampu. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan meraih kesuksesan di bulan Ramadhan.

*Penulis adalah Pengasuh Majelis Cinta Dirosah

Sumber :Voa-islam.com 

Sebar HOAX Tol Medan-Toba, Buzzer Jokowi Ditertawakan Warganet: Google Map Aja Nyerah!

Sebar HOAX Tol Medan-Toba, Buzzer Jokowi Ditertawakan Warganet: Google Map Aja Nyerah!


10Berita, Bukan buzzer Jokowi namanya kalau masih punya urat malu dan melakukan cek keakuratan informasi sebelum berkicau. Akhirnya, lagi-lagi mereka jadi bahan tertawaan warganet.

Dengan sangat meyakinkan karena merasa memiliki data pendukung berupa tangkapan layar sebuah artikel foto mengenai jalan tol di Sumatera Utara yang disebut-sebut akan menghubungkan Medan dengan wilayah Toba, seorang buzzer Jokowi bercuit percaya diri.

"Lewat Tol Ini, Dari Medan ke Danau Toba Tembus 2 Jam https://t.co/ZyWYnSLDk6

Selama ini Medan-Danau Toba ditempuh 7 jam, sekarang hanya memerlukan waktu 2 jam dari Medan ke Danau Toba setelah ada jalan tol.

*Horas...Horas...Horas !" Tulis Dede, Selasa 12 Juni 2018.

Lewat Tol Ini, Dari Medan ke Danau Toba Tembus 2 Jam https://t.co/ZyWYnSLDk6

Selama ini Medan-Danau Toba ditempuh 7 jam, sekarang hanya memerlukan waktu 2 jam dari Medan ke Danau Toba setelah ada jalan tol.

*Horas...Horas...Horas !*#mudik2018 #mudikasik

— Dede Budhyarto (@kangdede78) June 12, 2018

Membaca cuitan Dede, warganet pun langsung menyanggah.

Buat dede dan buzer pemerintah.kalian plis jgn sebar berita hoax dibulan Romadon. Mana ada tol dr medan ke danau toba aplg ditempu 2 jam. Tol nya sj gak ada. Mending kalian survey dulu baru sebarin berita. pic.twitter.com/1jRpwhHDV7

— Gus Umar Hasibuan (@Umar_Hasibuan_) June 12, 2018

Mungkin maksud detik dan si @kangdede78 Tangjung Morawa - Tebing Tinggi via toll bisa 2jam? Krn kalo jalan biasa sering macet parah

Dan tebing ke TOBA tetap tak ada TOL.

FAKTA! hy yg TOL(OL) yg yakin 2 jam bisa ke TOBA

Gugel map aja NYERAH! Mungkin @detikcom pak jalur mana? pic.twitter.com/HFwWGwEETM

— ElSang (@elfizal) June 12, 2018


Cuma orang2 luar Sumut yg bisa dibodoh2i si dede2.. Orang2 Sumut ya ketawa aja liatnya hahaha paok paok 😂😂

— May #2019GantiPresiden (@may11june) June 12, 2018


Detik ini media berita apa media buzzer. Sumber cuma buzzer kok jadi berita parah.😁😁

— #2019gantipresiden (@mangkuto78) June 12, 2018


Atu aje pertanyaan aye, ntu dede pernah ke danau toba blm ? masak kagak tau jarak tempuh ame medan jalannye sih ?😁

— IdulFitri2018 (@M44F_LahirBatin) June 12, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Ini Dialog Lengkap Gus Yahya dengan AJC

Ini Dialog Lengkap Gus Yahya dengan AJC

10Berita, KUNJUNGAN Katib Aam (Sekjen) Suriyah PBNU, Yahya Cholil Staquf ke Israel disayangkan berbagai pihak dan pejabat negara. Yahya Cholil Staquf yang biasa dipanggil Gus Yahya berangkat ke Israel untuk memenuhi undangan dalam acara forum tahunan terbesar Yahudi.

Kedatangan Gus Yahya di Israel disambut baik oleh penyelenggara bahkan PM Benyamin Netanyahu. Dalam kesempatan tersebut Gus Yahya juga sempat diwawancarai oleh Forum Global Yahudi (AJC).

Berikut dialog AJC dengan Gus Yahya yang dikirimkan Alma Ashfiya (santri asal Yogyakarta) kepada NU Online. Transkrip ini diterjemahkan oleh Gus Zaim Cholil Mumtaz (Pengurus PP GP Ansor Departemen Hubungan Luar Negeri). Sumber video dari akun Youtube AJC Global berdurasi 14.35:

David Rosen: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak 3 kali. Lalu Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

Gus Yahya: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

David Rosen: Tapi ini bukan sekadar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikasi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

Gus Yahya: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung. Sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

David Rosen: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

Gus Yahya: Hubungan antara Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri. Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

David Rosen: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Al-Qur’an dan Hadits sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

Gus Yahya: Bukan hanya “mungkin”, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Al-Qur’an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Alquran dan hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

David Rosen: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

Gus Yahya: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam. Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan di dalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik. Sekarang saatnya kita bertanya, apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: tidak ada yang bisa bertahan hidup di dalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan. Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?”

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora “obat macam apapun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau mengubah gaya hidupnya”. Salah satu ayat dalam Alquran juga menyebutkan “innallaha la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim.” Yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula, dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan. Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai Rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Kita “harus” memilih Rahmah, karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih Rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki Rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain. Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih Rahmah”.

David Rosen: Konsep Rahman dan Rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterima kasih banyak atas seruan Anda untuk memilih Rahmah. Dan kami harap Anda mampu menjadi inspirasi bagi Muslim di seluruh dunia. Dan kita harap kita bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati. []

SUMBER: http://www.nu.or.id/post/read/91791/transkrip-lengkap-dialog-gus-yahya-di-israel

Agar Mudik Tak Sekadar Tradisi

Agar Mudik Tak Sekadar Tradisi


Oleh: Yuyun suminah, A.Md

10Berita, Ramadan berlalu begitu cepat, tidak terasa Ramadan telah sampai di penghujung pertemuan. Sepuluh hari terakhir menjadi momen untuk beriktikaf (mendekatkan diri pada Allah) dengan berdiam diri di mesjid. Juga, menjadi momen sibuk orang-orang untuk melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman atau mudik.  

Tidak ada yang salah ketika kita melakukan mudik sebagai bentuk silaturahmi atau mengunjungi orang-yang kita cintai. Sebagaimana  Allah berfirman: "Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahmi. (QS An Nisa: 1).

Saat mudik, kita bisa bertemu orang tua, sanak sodara, sanak family dan teman. Mudik juga termasuk bagian birrulwalidain atau berbakti kepada orang tua. Sebagai orang perantauan, momen ini dijadikan sebagai luapan gharizah na’u (naluri kasih sayang). Di bulan-bulan lain kondisi ini susah dilakukan karena kendala waktu, biaya, dan berbagai alasan kesibukan lainnya.  

Persiapan pun dilakukan jauh hari. Mulai dari persiapan biaya, perbekalan, anak rewel, dan sebagainya untuk antisipasi selama perjalanan. Hanya saja ada hal yang sering luput dari perhatian ketika kita melakukan perjalanan mudik. Dua hal penting di bawah ini perlu diperhatikan saat mudik agar nilai silaturahimnya tetap terjaga dan jauh dari maksiat.

1. Jaga Kondisi Spiritualnya

Perhatikan ketentuan ibadah dalam safar, khususnya terkait keringanan (rukhshah) shalat saat melakukan perjalanan. Seperti kapan mulai shalat qashar jamak, bagaimana caranya dll. Intinya, shalat tidak boleh ditinggalkan dalam safar, namun di sana ada keringanan yang diberikan syariat. Seperti firman Allah yang artinya: "Allah menghendaki kemudahan bagimu (TQS. Al-Baqarah: 185). 

Untuk menjaga ibadah tetap terjaga kita bisa mempersiapkan perlengkapan seperti perlengkapan buat solat, membawa Alquran, dengan bantuan teknologi kini lebih mudah membaca alquran bisa lewat telepon genggam. Bahkan bila diperlukan membawa buku bacaan jadi, dalam perjalan masih bisa kita gunakan waktu itu untuk melakukan ibadah lainnya, mulai dari berdzikir, membaca alquran atau buku, apa lagi ketika perjalanan macet itu semua bisa jadi pengusir kejenuhan, tidak hanya mengisinya dengan tidur saja. Agar spirit ramadan masih bisa kita rasakan walaupun dalam perjalanan. 

Selain ibadah solat, ibadah puasa pun penting diperhatikan. Orang  yang melakukan safar boleh untuk membatalkan puasa.

Dari Aisyah ra, istri Nabi saw: Bahwa Hamzah bin Amr al-Aslami berkata kepada Nabi saw: Apakah aku harus berpuasa ketika dalam perjalanan, sementara dia dikenal banyak berpuasa. Maka Nabi saw bersabda: jika engkau menghendaki maka silakan berpuasa, dan jika engkau menghendaki maka silakan pula engkau berbuka. (HR.Bukhari [1943], an-Nasai, Ahmad dan ad-Darimi). 

Ketika kita mengambil untuk membatalkan puasa jangan lupa wajib mengqadanya di luar hari ramadan. Meskipun saat safar kita dalam kondisi tak berpuasa, harap diperhatikan adab makan dan minum serta menghormati orang lain yang sedang berpuasa.

2. Ketika di kampung halaman

Libur idul fitri menjadi momen berkumpul atau silaturahmi. Bukan hanya dengan keluarga, saudara bahkan dengan teman pun bisa jadi momen ini dimanfaatkan untuk bertemu teman lama dengan istilah reuni.

Dari Anas bin Malik Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi. (HR Muslim).

Dalam reuni, jangan lupa harus tetap memperhatikan rambu-rambu syariat.

Memang senang bisa temu kangen dengan teman-teman di kampung halaman yang tidak pernah bertemu karna  sama- sama merantau. Hati-hati, tidak menutup kemungkinan Silaturahmi ini pun bisa juga jadi ajang "pamer" kesuksesan materi selama di daerah perantauan. Belum lagi masaah ikhtilat atau campur baur di dalamnya.

Melakukan mudik tidak ada salahnya selama ada kesempatan dan kemampuan. Mudik juga tidak melulu menunggu waktu Idul Fitri karena menjalin silahturahmi dengan keluarga bisa dilakukan kapan saja. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga ibadah kita selama perjalanan dan di tempat tujuan mudik agar perjalanan kita mendapatkan keberkahan. Aamiin. Walahua’lam. (rf/)

Ilustrasi: Google

Sumber : voa-islam.com

Kunjungan Yahya Staquf ke Israel Melanggar Konstitusi

Kunjungan Yahya Staquf ke Israel Melanggar Konstitusi


Yahya Cholil Staquf dalam Acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Jerusalem, Palestina

10Berita, JAKARTA – Kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Yahya Cholil Staquf ke Israel pada pekan lalu mulai menuai kontroversi. Tak terkecuali Lembaga Kajian dan Riset Spesialisasi Al-Aqsha dan Palestina di Indonesia, International Aqsa Institute (IAI).

Dalam pernyataan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, IAI menilai, kunjungan Yahya Staquf tersebut telah melanggar konstitusi negara. Berikut pernyataan sikap IAI selengkapnya:

International Aqsa Institute (IAI) sebagai Lembaga Kajian dan Riset Spesialisasi Al-Aqsha dan Palestina, setelah mengikuti perkembangan di media-media nasional dan internasional, berkaitan dengan tampilnya KH. Yahya Cholil Staquf (Katib Aam atau Sekjend PBNU dan Penasihat Presiden RI urusan keagamaan dan Luar Negeri), dalam acara AJC (American Jewish Comittee) Global Forum di Israel pada hari Ahad, 10 Juni 2018, dengan ini menyatakan sikap:

Pertama, menghadiri undangan dari lembaga Zionis Israel, baik atas nama pribadi ataupun lembaga adalah pelanggaran terhadap konstitusi negara Republik Indonesia. Karena tertuang jelas dalam pembukaan UUD 1945, bahwa Indonesia berdiri tegak menghapuskan penjajahan di atas dunia. Sedangkan Israel adalah entitas penjajah Palestina hingga saat ini.

Kedua, menjalin hubungan dengan entitas penjajah bernama Israel adalah mengkhianati negara dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena tokoh sentral yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1945 adalah Mufti Palestina, bernama Syaikh Muhammad Amin Husaini.

Ketiga, berhubungan mesra dengan entitas penjajah bernama Israel adalah tindakan melawan kedaulatan RI, karena Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan negara penjajah bernama Israel. Justeru menjatuhkan harga diri bangsa Indonesia di hadapan negara-negara dunia.

Keempat, kehadiran KH. Yahya Cholil Staquf di AJC Global Forum bertentangan dengan nilai kemanusiaan, karena semakin menguatkan posisi Israel menjajah Palestina. Terlebih lagi dilakukan bersamaan dengan pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat sipil di Gaza Palestina, ketika sedang menuntut haknya untuk kembali ke tanah airnya yang dirampas Israel.

Kelima, kehadiran KH. Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan AJC Global ini, secara ideologis bertentangan dengan kebenaran teks-teks suci Islam. Apalagi Presiden AS baru saja meresmikan Kedutaanya di Al-Quds (Yerussalem) dan menjadikan Al-Quds sebagai Ibukota Israel (14 Mei 2018), berdampak semakin kuat upaya Zionis Israel menguasai Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Keenam, mengecam keras tindakan KH. Yahya Cholil Staquf yang menciderai nilai kemanusiaan, merusak citra Indonesia yang serius mendukung kemerdekaan Palestina, menjatuhkan wibawa Indonesia, dan menyakiti perasaan seluruh Umat Islam.

Ketujuh, menuntut pemerintah Indonesia untuk segera merealisasikan janjinya berkaitan dengan dukungan untuk kemerdekaan Palestina secara riil, bukan sekedar ucapan-ucapan semata. Demi memperbaiki citra Indonesia di mata dunia.

Jakarta, 27 Ramadhan 1439 H/12 Juni 2018 M

Direktur IAI
Ttd
Ahmad Musyafa’, Lc. M.Pd.I

Sumber :Jurnal Islam 

“Kado Pahit Iedul Fitri Untuk Rakyat Palestina dari Sekjen PBNU”

“Kado Pahit Iedul Fitri Untuk Rakyat Palestina dari Sekjen PBNU”




Yahya Cholil Staquf dalam Acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Jerusalem, Palestina

10Berita, JAKARTA  – Pengamat terorisme, Harits Abu Ulya menilai, kehadiran Sekjen PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum telah melukai hati umat Islam. Ia menyebut, keputusan Yahya tersebut sebagai kado pahit Iedul Fitri untuk rakyat Palestina.

“Ini kado pahit jelang Ied Fitri untuk rakyat Palestina dari sekjen PBNU. Tsaquf tidak hanya melukai muslim Palestina, tapi melukai nurani muslim di berbagai belahan dunia yang peduli pada urusan Palestina,” katanya melalui pesan elektronik kepada Jurnalislam.com, Selasa (12/6/2018).

Kehadiran Yahya dalam acara tersebut, lanjut Harits, tidak mewakili pandangan mayoritas umat Islam di Indonesia terkait eksistensi negara Israel.

“Secara konstitusi justru bertentangan dengan spirit UUD 1945, kita sebagai bangsa yang menentang segala bentuk penjajahan,” tegas Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu.

Jika kehadirannya atas nama pribadi, Harits meminta Yahya Staquf setidaknya menyampaikan klarifikasi terkait jabatan Yahya Staquf yang tertulis Sekretaris Jenderal PBNU pada backdrop acara tersebut.

“Jika Tsaquf hadir atas nama pribadi, maka paling tidak ia membantah atau meluruskan kenapa di backdrop/latar ia ditulis atas nama sekjen PBNU,” tukasnya.

Kehadiran Yahya Staquf juga dinilai Harits sebagai keputusan yang fatal. Dimana hingga saat ini, umat Islam di Palestina masih terbelenggu oleh penjajahan Israel terlebih setelah pencaplokan Baitul Maqdis (Yerusalem Timur) sebagai ibukota Israel.

“Kalau kita masih waras tentu mikir beribu kali untuk hadir penuhi undangan acara dari gerombolan perampok yang tempatnya di rumah hasil rampokan, sementara pemilik rumah masih ada meski di penjara di sudut rumah yang paling sempit,” ungkap Harits.

“Yahudi pandai memilih orang dan tepat memilih orang sesuai kepentingan mereka,” pungkasnya.

Yahya Cholil Staquf hadir dalam acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum in Israel 2018 pada Ahad (10/6/2018). Dalam acara tersebut Yahya diwawancarai oleh moderator bernama Rabbi David Rosen yang merupakan Direktur AJC Internasional bidang hubungan Intereliji.

Dalam kesempatan tersebut, Yahya menyampaikan pandangannya soal hubungan Islam dan Yahudi. Menurut Yahya, hubungan Islam dan Yahudi bersifat fluktuatif tergantung dinamika sejarahnya.

“Hubungan antara Islam dan Yahudi menurut sebutan saya adalah fluktuatif. Kadang berhubungan dekat, tapi di sisi lain dari sejarah, ada banyak konflik dan tensi. Secara umum, kita tahu bahwa kita punya masalah dalam hubungan antara Islam dan Yahudi. Permasalahan -sebagian dari permasalahan- ada dalam pengajaran agama itu sendiri. Sekarang konteks terkini kita dari realitas, umat beragama–termasuk Islam dan Yahudi–harus menemukan cara baru untuk, pertama, memahami fungsi agama untuk kehidupan nyata dan kedua, menemukan interpretasi moral baru dari agama yang bisa membuat kita menuntun umat beragama lebih memiliki hubungan harmonis,” tutur Yahya.” ujar Gus Yahya seperti dikutip Jurnalislam.com dalam video yang diunggah saluran resmi AJC di YouTube, Selasa (12/6/2018).

Sumber : Jurnalislam.com