OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 29 Juni 2018

Hilangnya Kredibilitas Media, Surveyor dan Konsultan Politik adalah Tumbangnya Lembaga Demokrasi

Hilangnya Kredibilitas Media, Surveyor dan Konsultan Politik adalah Tumbangnya Lembaga Demokrasi


10Berita, Hilangnya kepercayaan publik kepada lembaga survei akibat jomplangnya hasil survei terhadap hasil hitung cepat pada Pilkada serentak 2018 menambah panjang deretan tumbangnya lembaga demokrasi di Indonesia.

Setelah sebelumnya warga meragukan kejujuran media dalam mengungkap fakta karena kerap melakukan spinning, framing, dan menunjukkan keberpihakan kepada penguasa melalui serangkaian eufemisme saat menghantar berita kegagalan pemerintah, kini warga kehilangan kepercayaan kepada lembaga survei dan konsultan politik.

Menurut Marco Kusumawijaya, hilangnya kredibilitas media, surveyor dan konsultan politik ini semestinya menjadi kekuatiran bersama.

"Surveyor dan konsultan politik kehilangan kredibilitas. Sebelumnya beberapa media. Ini yang hrs kita khawatirkan: satu demi satu lembaga demokrasi tumbang....," cuit arsitek senior dan aktivis perkotaan Marco Kusumawijaya melalui akun twitter @mkusumawijaya.

Surveyor dan konsultan politik kehilangan kredibilitas. Sebelumnya beberapa media. Ini yang hrs kita khawatirkan: satu demi satu lembaga demokrasi tumbang....

— marco (@mkusumawijaya) June 28, 2018

Hilangnya kredibilitas media, surveyor dan konsultan politik sebagai tanda tumbangnya lembaga demokrasi memang harus disikapi secara serius. Pasalnya, sebagai lembaga demokrasi, media, lembaga survei dan konsultan politik telah gagal menjadi lembaga yang menjunjung tinggi kepentingan umum, terbuka untuk umum, dan mau menerima kritik dari publik.

Beberapa media, baik cetak maupun televisi telah menjadi kaki tangan penguasa. Bahkan media daring dan media sosial pun kini difungsikan sebagai corong pemerintah. Suara rakyat dipinggirkan dan dibungkam.

Surveyor diundang ke istana beberapa waktu lalu dan hasilnya nampak dalam pemetaan pilkada serentak 2018 yang compang camping dalam memprediksi kekuatan real calon kepala daerah. Quick count dirilis dan diopinikan seolah real count. Atas dasar quick count itu, para buzzer bergegas mengklaim kemenangan dan berbaris rapi menerima pencairan pembayaran.

Bagaimana konsultan politik? Mereka lebih suka meninabobokkan klien dengan fakta-fakta manis ketimbang menyodori kenyataan pahit yang membuat mereka harus bekerja keras. Menang kalah kini bisa diatur lewat opini, buzzer anonim biadab yang provokatif, serta tentu saja, logistik yang kuat untuk membiayai itu semua.

Melihat fakta ini, kita patut bertanya serius. Benarkah Indonesia sudah memasuki era post-truth? [*]

Sumber :Portal Islam 

Tanda-tanda Prabowo Jadi Presiden Makin Jelas. SBY Sudah Menduga

Tanda-tanda Prabowo Jadi Presiden Makin Jelas. SBY Sudah Menduga

Referensi pihak ketiga

10Berita, Politik bukan sekadar hitam putih. Memang hasil hitung cepat atau quick count pada Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Barat pasangan yang diusung Gerinda dan PKS kalah. Namun, lonjakan suara pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah di Jawa Tengah dan Sudrajat-Syaikhu di Jawa Barat menunjukkan besarnya pengaruh Prabowo Subianto.

Perolehan suara sementara di Pilgub Jawa Barat dan Jawa Tengah sangat mengejutkan. Tipisnya perolehan suara Sudirman-Ida dengan Ganjar-Yasin, Sudrajat-Syaikhu dengan Ridwan Kamil-Uu, menandakan keinginan masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah mendapat pemimpin baru, termasuk presiden.

Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade seperti dilansir detik.com, Rabu (27/6/2018), menilai Jawa Tengah tidak lagi dapat dijuluki kandang banteng alias lumbung suara PDIP. Begitu pula dengan Jawa Barat, di luar dugaan, pasangan Sudrajat-Syaiku yang merepresentasikan suara gerakan #2019GantiPresiden masih menjadi lumbung suara Prabowo.

Referensi pihak ketiga

Dengan kata lain, Gerindra makin optimis Prabowo menjadi Presiden semakin kelihatan tanda-tandanya di Pilpres 2019. Tumbangnya PDIP dan Jokowi di Jawa Tengah. Begitu pula dengan ketatnya suara Prabowo-Jokowi tergambar di Pilgub Jawa Barat.

Tanda-tanda Prabowo bakal memanangi Pilpres 2019 secara tidak tersirat dikemukakan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Melonjaknya, suara Sudrajat-Syaikhu diduga sebagai faktor asal bukan pendukung Jokowi sangat dominan.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, (27/8/2018), perolehan suara Sudrajat-Syaikhu mencapai 29,53 persen. Angka itu tak terpaut jauh dari pasangan calon yang unggul, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, dengan suara sebesar 32,54 persen.

Referensi pihak ketiga

SBY memuji peningkatan suara pasangan Sudrajat-Syaikhu. Presiden ke-6 RI itu menduga melonjaknya suara pasangan Gerindra dan PKS ini karena secara tegas mengambil pilihan politik mendukung Prabowo di Pilpres 2019. Ini menunjukkan bahwa suara asal bukan Jokowi atau yang menginginkan Prabowo menjadi Presiden masih kuat.

Belum lagi jika SBY dan Prabowo membentuk koalisi asal bukan Jokowi. Tentunya, akan menjadi ancaman bagi Jokowi.

Sumber : UC News

Rupiah Anjlok Tembus Rp 14.400/USD, Menko 'Serbabisa' Luhut Pasang Badan: Tak Ada Masalah, Penyebabnya Global

Rupiah Anjlok Tembus Rp 14.400/USD, Menko 'Serbabisa' Luhut Pasang Badan: Tak Ada Masalah, Penyebabnya Global


10Berita , Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan bicara soal pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melampaui level Rp14.400 per USD. Kondisi ini dinilainya tak perlu terlalu dipermasalahkan.

Untuk diketahui berdasarkan Yahoofinance, Kamis (28/6/2018), nolai tukar Rupiah pada pukul 17.00 WIB sudah menyentuh Rp14.385 per USD atau melemah 212 poin (1,5%). Rupiah pun sempat menyentuh level Rp14.422 per USD.


Menurut 'Menko Serbabisa' ini, Rupiah tertekan karena kondisi ekonomi global, baik perang dagang AS-China maupun kenaikan fed fund rate, suku bunga acuan Bank Sentral AS. Kondisi perekonomian domestik pun dinilai fundamental.

"Sekarang kan tekanan itu dari global. Mesti kita lihat tetap saja Rupiah ini depresiasinya tidak lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain. Jadi enggak ada masalah," ujar Luhut di kantornya, Kamis (28/6/2018).

Luhut menyatakan, saat rapat dengan pengusaha muda di kantornya, tak ada pembahasan mengenai depresiasi (melemahnya) Rupiah. Di mana penguasaha dinilai tak meributkan pelemahan Rupiah.

"Enggak ada (pembahasan Rupiah melemah). Mereka happy-happy saja, masih tetap investasi. Mereka kan liat fundamental ekonomi Indonesia bagus," kata Luhut, seperti dilansir okezone.

Berdasar data dari Reuters, berbagai mata uang negara-negara lain memang mengalamai gejolak menghadapi dollar AS. Namun dengan pelemahan mencapai 0,37%, rupiah menjadi mata uang dengan depresiasi terdalam kedua di kawasan. Rupiah hanya lebih baik ketimbang rupee India yang mengalami penurunan paling parah.


Sementara itu, ekonom senior yang dulu sempat mendukung Jokowi, Faisal Basri menyebut nilai tukar rupiah mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

"Secara tahunan, nilai tukar rupiah pada 2018 (Sampai 26 Juni 2018) mencapai titik terendah sepanjang sejarah," kata Faisal Basri melalui akun twitternya dengan melampirkan gambar chart kondisi Rupiah sejak masa krisis 1998 hingga saat ini.

Begitupun dengan ekonom yang lain, Didik J Rachbini menyebut pelemahan rupiah ini tak tertolong meskipun sudah ada intervensi dari pemerintah.

"Sudah ada intervensi tapi rupiah tetap lemah. Apa yang kita bayangkan beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan?" ujar Didik J Rachbini melalui akun twitternya.

Secara tahunan, nilai tukar rupiah pada 2018 (Sampai 26 Juni 2018) mencapai titik terendah sepanjang sejarah. pic.twitter.com/9fiUCJr7A3

— Faisal Basri (@FaisalBasri) 27 Juni 2018

Sudah ada intervensi tapi rupiah tetap lemah. Apa yang kita bayangkan bbrp minggu atau bbrp bulan ke depan? pic.twitter.com/xETbCikeF1

— DIDIK J RACHBINI (@DJRachbini) 27 Juni 2018


Sumber :Portal Islam

Paus terima pengunduran diri dua uskup Chile karena pelecehan seksual

Paus terima pengunduran diri dua uskup Chile karena pelecehan seksual


10Berita, Paus Fransiskus pada Kamis menerima pengunduran diri dua lagi uskup Chile, yang terlibat dalam skandal pelecehan seksual di negara itu, kata Vatikan.

Dengan demikian, secara keseluruhan sudah lima pengunduran diri yang disetujui Paus sejauh ini.

Uskup Alejandro Goic Karmelic dari kota Rancagua serta Horacio del Carmen Valenzuela Abarca dari kota Talca akan diganti para komisaris, yang dikenal sebagai pengurus kepausan, menurut suatu pernyataan.

Paus Fransiskus sebelumnya menerima pengunduran diri tiga uskup pada 11 Juni. Bulan lalu, seluruh 34 uskup Chile mengajukan permohonan mundur secara massal setelah melakukan pertemuan dengan Paus soal dugaan menutup-nutupi kasus pelecehan seksual.

Uskup Goic (78) dikenal di Chile karena mengutuk pelanggaran hak asasi manusia selama rezim militer Augusto Pinochet.

Goic memimpin panel penasehat pertemuan uskup soal pelecehan seksual namun ia mengundurkan diri dari panel pada Mei. Dalam pernyataan, ia juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak bertindak dengan cepat ketika tuduhan pelecehan seksual pastor-pastor di wilayah keuskupannya pertama kali menjadi perhatiannya.

Ia telah memberhentikan 14 pastor dan pekan lalu kantornya didatangi para jaksa yang menyelidiki kasus tersebut.

Uskup Valenzuela (64) adalah salah satu uskup yang dilatih untuk keimaman beberapa dasawarsa yang lalu Pastor Fernando Karadima, peleceh yang paling dikenal di Chile.

Berdasarkan hasil penyelidikan Vatikan pada 2011, Karadima dinyatakan bersalah melecehkan sejumlah bocah laki-laki di Santiago pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Karadima (87), yang saat ini tinggal di panti jompo di Chile, selalu membantah bersalah.

Dalam wawancara khusus dengan Reuters di kediamannya pada 17 Juni, Paus Fransiskus mengatakan ia sedang mempertimbangkan untuk menerima pengunduran diri dari banyak lagi uskup Chile, demikian Reuters.(Uu.T008)

[]

Sumber : RMOL

Tanda Kiamat Ini Sudah Muncul di Arab

Tanda Kiamat Ini Sudah Muncul di Arab


Gedung pencakar langit di Dubai tampak seperti negeri di atas awan Dubai (Getty Images)

10Berita, Syaikh Dr Muhammad Al Areifi meyakini bahwa salah satu tanda kiamat yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  telah muncul di Arab. Foto-fotonya memang indah, namun perlu menjadi bahan perenungan apa bekal kita menghadapi akhirat.

Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki berpakaian putih. Para sahabat tidak mengenal laki-laki asing itu. Namun tidak tampak tanda-tanda perjalanan darinya; rambutnya tidak kusut, pakaiannya juga tidak berdebu. Belakangan para sahabat tahu setelah Rasulullah mengungkapkan bahwa laki-laki itu adalah Malaikat Jibril.

Jibril bertanya beberapa hal kepada Rasulullah untuk mengajar para sahabat. Ia bertanya tentang Islam, iman, ihsan dan kiamat. Seluruh pertanyaan itu dijawab dengan tepat oleh Rasulullah kecuali tentang kapan terjadinya kiamat, Rasulullah menyatakan “yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.”

Lalu Jibril bertanya tentang tanda kiamat. Rasulullah pun menjawab:

أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ

“Jika budak wanita telah melahirkan tuannya serta kalian melihat orang yang bertelanjang kaki dan tak memakai baju yakni para penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan” (HR. Muslim)

Siapakah yang dimaksud dengan “orang tak beralas kaki berlomba meninggikan bangunan?”

Dalam hadits tersebut digunakan empat kata tentang siapa yang berlomba-lomba meninggikan bangunan. Syaikh Musthafa Dieb Al Bugha dan Syaikh Muhyidin Mistu dalam Al Wafi menjelaskan artinya:

الْحُفَاةَ merupakan bentuk jama’ dari حَافِ yang artinya “orang-orang yang tidak memakai alas kaki”
الْعُرَاةَ merupakan bentuk jama’ dari عَار yaitu orang-orang yang tidak memakai baju
الْعَالَةَ merupakan bentuk jama’ dari عَيْل yaitu orang-orang fakir
رِعَاءَ الشَّاءِartinya para penggembala kambing

Jadi, di antara tanda kiamat itu adalah ketika kaum yang biasanya menggembala kambing, tidak beralas kaki, tidak memakai baju dan miskin berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Siapa mereka? Syaikh Dr Muhammad Al Areifi dalam bukunya Nihayatul ‘Alam menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang Arab. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Imam Ahmad ketika beliau ditanya seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, siapakah penggembala kambing yang tidak beralas kaki, lapar dan peminta-minta itu?” Beliau menjawab, “Bangsa Arab.”

Syaikh Mahir Ahmad Ash Shufi juga menyatakan tanda kiamat ini telah muncul. “Saat ini, banyak gedung tinggi bahkan ada yang dibangun 100 lantai.”

Saat ini, tiga di antara lima gedung tertinggi di dunia berada di Arab. Dubai Towers tingginya 445 meter merupakan gedung tertinggi kelima di dunia. Burj Khalifa tingginya 820 meter merupakan gedung tertinggi kedua di dunia. Dan gedung tertinggi pertama akan dibangun di Jeddah dengan ketinggian 1 Km. Namanya The Kingdom Tower. Bangsa Arab benar-benar berlomba-lomba meninggikan bangunan.


Di Dubai, gedung-gedung pencakar langit bahkan lebih tinggi dari awan sehingga ketika difoto, mereka tampak seperti negeri di atas awan.


Negeri di atas awan Dubai (Shutterstock)

Apakah membangun gedung-gedung yang tinggi itu salah dan berdosa? Syaikh Dr Muhammad Al Areifi menjelaskan, “membangun dan meninggikan bangunan rumah maupun gedung bukanlah perkara haram jika memang ada manfaatnya dan bukan untuk kesombongan dan bermegah-megahan.”


Negeri di atas awan Dubai (Getty Images)

Yang hendaknya menjadi perhatian kita, banyaknya gedung-gedung pencakar langit di Arab ini menjadi bukti bahwa sabda Rasulullah selalu benar. Dan hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri, apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kiamat. Sebab kalaupun kita tidak bertemu dengan kiamat kubra, kita semua pasti akan mengalami kiamat sughra yakni kematian. [Muchlisin BK/]

Sumber :BersamaDakwah

TERNYATA Terjadi di Era Jokowi! Faisal Basri: Secara Tahunan Nilai Tukar Rupiah Mencapai Titik Terendah Sepanjang Sejarah

TERNYATA Terjadi di Era Jokowi! Faisal Basri: Secara Tahunan Nilai Tukar Rupiah Mencapai Titik Terendah Sepanjang Sejarah


10Berita  Nilai tukar Rupiah semakin rontok. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan, Kamis (28/6/2018) berakhir merosot tajam hingga menyentuh level Rp14.385/USD. Rupiah yang terus terjun bebas ke zona merah terjadi saat dolar melesat untuk mendekati posisi terbaiknya dalam satu tahun.

Meskipun BI telah mengeluarkan kebijakan moneter dan intervensi pasar, rupiah terus mengalami tekanan.


Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan sore kemarin semakin menguat. Dikutip dari Reuters, Kamis (28/6/2018), dolar AS berada di level Rp 14.390.

Mata uang Paman Sam terus mengalami penguatan sepanjang hari ini. Pagi tadi, dolar AS berada di level Rp 14.277.

Dolar AS bergerak dari Rp 14.173 dan melonjak ke level tertingginya di Rp 14.270. The Greenback kemudian sempat turun lagi ke Rp 14.255 dan naik lagi hingga Rp 14.275.

Dolar AS kemudian bergerak naik ke level Rp 14.302 dan terus menanjak hingga Rp 14.355. Meski sempat melemah di level Rp 14.309, mata uang AS ini kembali menunjukkan tren penguatan hingga Rp 14.390.

Ekonom senior yang dulu sempat mendukung Jokowi, Faisal Basri menyebut nilai tukar rupiah mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

"Secara tahunan, nilai tukar rupiah pada 2018 (Sampai 26 Juni 2018) mencapai titik terendah sepanjang sejarah," kata Faisal Basri melalui akun twitternya dengan melampirkan gambar chart kondisi Rupiah sejak masa krisis 1998 hingga saat ini.

Begitupun dengan ekonom yang lain, Didik J Rachbini menyebut pelemahan rupiah ini tak tertolong meskipun sudah ada intervensi dari pemerintah.

"Sudah ada intervensi tapi rupiah tetap lemah. Apa yang kita bayangkan beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan?" ujar Didik J Rachbini melalui akun twitternya.

Padahal saat Pilpres 2014, begitu dahsyat propaganda kalau Jokowi jadi presiden maka rupiah akan menguat Rp 10 ribu/USD. Sebaliknya, kalau Prabowo jadi presiden maka rupiah akan terperosok mencapai Rp 13 ribu/USD.

Jokowi Jadi Presiden, Rupiah Bisa Tembus 10 Ribu
https://bisnis.tempo.co/read/556888/jokowi-jadi-presiden-rupiah-bisa-tembus-10-ribu

Prabowo Menang, Rupiah Berpotensi Tembus 13 Ribu 
https://bisnis.tempo.co/read/590988/prabowo-menang-rupiah-berpotensi-tembus-13-ribu

Secara tahunan, nilai tukar rupiah pada 2018 (Sampai 26 Juni 2018) mencapai titik terendah sepanjang sejarah. pic.twitter.com/9fiUCJr7A3

— Faisal Basri (@FaisalBasri) 27 Juni 2018

Sudah ada intervensi tapi rupiah tetap lemah. Apa yang kita bayangkan bbrp minggu atau bbrp bulan ke depan? pic.twitter.com/xETbCikeF1

— DIDIK J RACHBINI (@DJRachbini) 27 Juni 2018


Sumber :Portal Islam 

LAGI.. Dua Polisi Tewas Ditembak di Papua, Jelas Teroris Tapi Kok Gak Disebut "TERORIS"? Apa Karena Pelaku BUKAN ISLAM?

LAGI.. Dua Polisi Tewas Ditembak di Papua, Jelas Teroris Tapi Kok Gak Disebut "TERORIS"? Apa Karena Pelaku BUKAN ISLAM?


10Berita, Peristiwa penembakan lagi-lagi terjadi di tanah Papua. Kali ini rombongan speed boat yang ditumpangi oleh kepala Distrik Torere dan 9 orang anggota Polres Puncak Jaya yang tengah mendistribusikan logistik pilkada dari Distrik Muara Hulu ke Distrik Torere.

Peristiwa itu terjadi saat pelaksanaan Pilkada Serentak pada Rabu (27/6/2018) siang. Akibatnya, 2 orang anggota Polres Puncak Jaya beserta Kepala Distrik (Camat) Torere tewas tertembak.

"Pada saat itu Kepala Distrik Torere dan 9 anggota Polres Puncak Jaya itu mengangkut logistik dari TPS di Douw," Kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto dalam keterangannya, Kamis (28/6).

Setyo mengatakan proses distribusi tersebut dilakukan menggunakan 2 unit speed boat dan mulai berangkat dari Distrik Muara Hulu pukul 11.30 WIT. Kemudian sekitar pukul 16.00 WIT rombongan tesebut dicegat dan ditembaki oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).

"(Speed Boat) yang satu membawa logistik dan dikawal dan satu lagi ada logistik pemilu yaitu surat suara yang sudah dicoblos karena itu sudah jam 11 lebih sudah selesai dan dibawa ke Distrik Torere. Pada saat diperjalanan terjadi penyerangan diserang," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, ketiga korban tewas itu adalah Kepala Distrik Torere Obaja Froaro, Ipda Yesayas H Nusi, dan Brigadir Sintong Kbarek. Sementara 7 anggota Polres Puncak Jaya lainnya adalah Bripka Maks Anjonderin, Brigadir Steven Auparay, Brigadir Yusuf Toding, Briptu Petrus Imbiri, Brigadir Mulyadi, Bripda Daniel Tambunan, dan Bripda Firmansa.

Setyo menegaskan polisi akan segera mencari kelompok yang melakukan tindakan tersebut.

"Pengejaran untuk Papua diperkuat, kemarin Kapolri memerintahkan Dankor Brimob mempersiapkan anggotanya segera berangkat ke Papua," tegas Setyo.

Link: https://kumparan.com/@kumparannews/dua-polisi-tewas-ditembak-kksb-di-puncak-jaya-27431110790534817

Seorang Camat dan 2 Polisi Tewas Ditembak KKB di Distrik Torere Papua

JAYAPURA, KOMPAS.com - Aksi penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) di Papua yang menelan korban tewas terus terjadi.

Kali ini aksi brutal oleh Kelompok KKB terjadi di Distrik Torere, Kabupaten Puncak, Papua, Rabu (27/6/2016) sekitar pukul 16.00 WIT.

Akibat peristiwa itu, Kepala Camat dan dua polisi tewas tertembak. Adapun nama korban meninggal dunia Obaja Froaro (Camat/Distrik Torere), Ipda Jesayas H Nusi (KBO Binmas Kabupaten Puncak Jaya) dan Brigpol Sinton Kabarek (Ba Sat Sabara Kabupaten Puncak Jaya).

Disamping itu, masih ada tiga orang anggota polisi bernama Brigpol Yusuf Toding, Brigpol Mulyadi dan Briptu Petrus Imbiri, yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.

Link: https://regional.kompas.com/read/2018/06/28/07075251/seorang-camat-dan-2-polisi-tewas-ditembak-kkb-di-distrik-torere-papua

***

Walaupun memakan korban tewas, dan kerap terjadi, kejadian ini TIDAK DISEBUT "TERORISME", Pelaku juga TIDAK DISEBUT "TERORIS".

APA KARENA PELAKU BUKAN ISLAM???

PADAHAL JELAS... AKSINYA MENEROR, BERMUATAN POLITIK, ADA TUJUAN POLITIK, BUKAN AKSI SPORADIS, ADA ORGANISASINYA...

Karena yg ini fakta, sementara teloris itu sandiwara, scenario & directed by The Police

— UnitedPribumi (@HostCoy) 28 Juni 2018


@DivHumas_Polri knp bgt takut dg Teroris salibis ini ya?? Baru diduga aja "teroris Islam" dah di dor n dg mudah diketahui sarangnya,knp ini SDH jelas msh diam?? Memalukan!! https://t.co/l572SgzHdi

— #SAVEINDONESIA (@IsyeG) 28 Juni 2018


Klo nembak mati terduga depan anak bini DS 88 udeh khatam nah ini pak segera dijawab tantangan perang gerilya pemberontak NKRI di Papua

salam NKRI ☝ https://t.co/AxZccOsIbq

— and-1 (@dulukombatan) 28 Juni 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Dianggap Pesanan, Masyarakat Tak Lagi Percaya Lembaga Survei

Dianggap Pesanan, Masyarakat Tak Lagi Percaya Lembaga Survei

10Berita, Masyarakat Indonesia tak lagi percaya kepada lembaga survei. Hasil itu didapat dari Indonesia Network Election Survey (Ines) saat survei terkait tingkat Kepercayaan Publik Terhadap Lembaga Survei Politik dan Opini. Sebanyak 79,6 persen masyarakat tidak percaya pada lembaga survei.

Hasil survei juga menyebutkan 87,3 persen publik mencurigai bahwa lembaga survei opini publik yang ada banyak dibiayai oleh pengusaha dan lembaga asing.

Fakta lain, 89.4 persen publik tidak percaya dengan hasil quick count  karena dianggap pesanan dari pihak tertentu untuk membangun opini publik dan dijadikan alat propaganda saja.

Terungkap pula, 86,5 persen publik berpendapat bahwa lembaga survei opini dan politik di Indonesia banyak melakukan manipulasi data survei dan tergantung pesanan.

"Seperti lembaga lembaga survei yang melakukan quick count pilpres yang dengan sudah mengumumkan kemenangan salah satu pilpres padahal tahapan pencoblosan saja masih belum selesai di banyak TPS serta tahapan perhitungan yang masih berjalan," ujar Tri Sasono dari Ines.

Metodologi survei menggunakan Multi Stage Random Sampling dengan jumlah responden 1.142 orang di seluruh Indonesia dengan tingkat kepercayaan 95 persen margin off error plus minus 2,9 persen. 

"Survei dilakukan tertutup oleh para surveyor dengan memberikan pertanyaan yang sudah disodorkan," kata Tri lagi.

Survei dilakukan mulai tanggal 10 juli sampai dengan 15 juli 2014. Itu artinya sudah berlangsung sekitar 4 tahun silam. Lalu bagaimana dengan kondisi hari ini?

Jika bercermin dari hasil survei dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, Pilkada Jabar dan Jateng 2018 yang meleset jauh, bisa jadi persentase ketidakpercayaan publik kepada lembaga survei semakin meningkat. ()

Sumber :Republika

Djarot Kalah. Megawati: Kasihan, Masih Muda Disuruh Nganggur

Djarot Kalah. Megawati: Kasihan, Masih Muda Disuruh Nganggur

Djarot saat di Balai Kota pasca kekalahan di Pilkada DKI-Referensi pihak ketiga

10Berita, Jika melihat hasil quick count Pilgub Sumut, paslon Djarot-Sihar hampir bisa dipastikan kalah. Menurut LSI, Eramas mendapat 57,12% dan Djoss 42,88%. Dengan rentang selisih yang cukup besar yakni 14,24% peluang Djoss membalik posisi di real count KPU agak tipis.

PDI-P sebagai partai pengusung Djoss agaknya sadar betul kondisi ini. Djarot sendiri dikabarkan stress menghadapi kekalahan keduanya di Pilkada.

Yah, wajarlah. Kekalahan memang sulit diterima, itu manusiawi.

Referensi pihak ketiga

Tapi mengapa paslon PDI-P bisa kalah di Sumut? Padahal partai ini punya basis massa yang lumayan besar di sana. Di DPRD, PDI-P adalah pemegang 16 kursi, kedua terbanyak setelah Golkar.

Ternyata bukan hanya kali ini saja pasangan usungan PDI-P kalah di Pilgub Sumut. Di tahun 2008, PDI-P pernah mengusung Tritamtomo-Benny Pasaribu. Mereka kalah dengan perolehan suara 21,69% suara.

Lalu kekalahan itu berlanjut pada 2013 saat PDI-P bersama PDS dan PPRN mengusung Effendi MS. Simbolon-Djumiran Abdi. Perolehan suaranya ketika itu 24,34% (merdeka.com/28/06/2018).

Sekarang di Pilkada 2018, Djarot melengkapi kekalahan itu.

Referensi pihak ketiga

Dengan sekian banyak sejarah kekalahan di Pilgub Sumut, nyatanya PDI-P tak kunjung belajar dari kegagalannya. Bengal.

Djarot-Sihar memang pantas kalah. Pasalnya Djarot bukan sosok yang membumi di tanah Sumut. Ia pendatang, ia orang asing. Meski masyarakat Sumut dikenal sebagai sosok terbuka dan tak bersekat namun untuk membiarkan ‘orang asing’ memimpin di tanahnya? Ups, tak semudah itu.

Bagaimana bisa kawanan singa dipimpin banteng? Begitu, kan?

Di sisi lain, kehadiran Sihar Sitorus sebagai cawagub malah membawa masalah. Menurut pengamat politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Arifin Saleh Siregar, keberadaan Sihar justru menguatkan politik identitas yang selama ini tak tampak. Masyarakat jadi terbelah, terkotak-kotak.

Situasi ini tak sehat.

Nah, perlawanan masyarakat Sumut ditunjukkan dari bilik suara.

Ketum PDI-P, Megawati SP-Referensi pihak ketiga

Oh, ya taukah Anda mengapa Megawati mengutus Djarot berlaga di Pilkada Sumut? Ternyata karena kasihan.

“Kasihan, masih muda disuruh nganggur,” jelas Mega di kantor DPP PDI-P Menteng, Jakarta (kompas.com/04/01/2018).

Ooo gitu ya...

 

Sumber :UC News 

Jangan Lagi Bicara Politik sebagai Panglima atau Hukum sebagai Panglima

Jangan Lagi Bicara Politik sebagai Panglima atau Hukum sebagai Panglima

10Berita – Mencermati banyak kejadian di tahun politik ini, bila merujuk pada kredo politik: “Bahwa politik praktis itu bukanlah hal yang tersurat melainkan apa yang tersirat”, maknanya bahwa apa yang terjadi/terlihat di publik bukanlah hal yang sesungguhnya terjadi atau berlangsung.

Jadi, apakah peristiwa yang sedang terjadi itu sebuah deceptiön? Bisa jadi. Atau cuma isu permulaan? Boleh juga. Atau, hanya test the water, memancing reaksi publik? Bisa juga begitu.

Niscaya ada skema besarnya. Jika skema dalam politik praktis itu bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan, sedangkan skema dalam geopolitik intinya mengendalikan geoekonomi (menguasai pangan dan energi) melalui ‘pintu kekuasaan’. Control oil and you control nation, control food and you control the people (Henry kissinger). Terdapat dua narasi/ skenario berjalan beriringan. Pertama, skenario berbasis skema politik. Ini skema lokal. Dan kedua, narasi berdasar geopolitik. Ini skema globalnya.


Jika di era dulu, topik kajian berkisar masalah hukum dan politik, dengan retorika — apakah hukum bagian dari politik; atau sebaliknya, politik bagian dari hukum? Makanya dulu ada istilah ‘politik sebagai panglima’ dan/atau ‘hukum sebagai panglima’. Tetapi itu bahasan tempo doeloe. Zaman old. Kenapa? Geopolitik zaman now mengajarkan bahwa power concept (penggunaan kekuatan) dalam dinamika geopolitik terdiri atas tiga hal, antara lain: “Powerpolitik, power ekonomi dan power militer.” Inilah yang kini berjalan pada dinamika (geo) politik global dimana juga mengimbas ke lokal. Retorikanya, “Apakah ada power hukum dalam implementasi power concept di atas?” Tak ada. Tapi bukan tidak penting. Maknanya, hakiki hukum adalah kesepakatan bersama. Nullum delictum noella poena sine praevia lege poenali. Tidak ada perbuatan dapat dipidana kecuali atas aturan yang telah ada. Itu titik awal. Azas legalitas hukum.

Dalam power concept, Jepang misalnya, lebih cenderung memainkan powerekonomi di setiap kebijakannya meski akhir-akhir ini ia mulai membesarkan postur militernya akibat pergeseran geopolitik ke Asia Pasifik. Cina pun demikian, ia kini juga menonjolkan aspek politik dan power militer selain powerekonomi yang telah berjalan duluan

Kalau Amerika Serikat (AS) jelas. Paman Sam mengimplementaaikan ketiga-tiganya secara simultan dengan intensitas berbeda, tergantung situasi.

Tak boleh dielak, bahwa kerap kali politik lokal adalah bagian dari (geo) politik global. Dengan kata lain, dinamika politik di suatu negara tidak lepas dari kontrol serta kendali para aktor global —entah aktor negara dan/atau aktor nonnegara— terutama bagi negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya (alam) energi yang besar.

Demikian pula apa yang terjadi di Indonesia kini. Sulit menafikan bila potret dinamika politik hari ini tidak terkait dengan tahapan menuju Pilpres 2019. Pilpres merupakan pintu masuk utama. Bagi kepentingan asing, Pilpres adalah pintu gerbang hajatan guna menguasai dan mengendalikan geoekonomi Indonesia yang kaya raya. Naiknya suhu politik dari waktu ke waktu merupakan isyarat atas kondisi tersebut.

Lagi-lagi, rakyat akan terbelah semakin dalam pada posisi saling berhadapan akibat sistem one man one vote (pilihan langsung) —pro ini, pro itu. Dan kegaduhan politik hari ini, bukanlah faktor tunggal yang berdiri sendiri, niscaya ada remote dari kejauhan para aktor global agar bangsa ini senantiasa gaduh dan gaduh sehingga abai terhadap apa yang sejatinya sedang terjadi.

Jadi, jangan lagi bicara politik sebagai panglima atau hukum sebagai panglima, karena ada yang lebih urgen daripada sekedar hal itu, yakni keselamatan negara! (kl/theglobalreview)

Penulis: M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Sumber : Eramuslim