OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 17 Juli 2018

Dapat Membuat Jakarta Semakin Macet, Jokowi Diminta Batalkan Proyek Enam Tol Dalam Kota

Dapat Membuat Jakarta Semakin Macet, Jokowi Diminta Batalkan Proyek Enam Tol Dalam Kota


10Berita, JAKARTA -Anggota DPD RI atau Senator DKI Jakarta Fahira Idris meminta Presiden Jokowi berbesar hati untuk membatalkan proyek pembangunan enam tol dalam kota di DKI Jakarta.

Selain sebagai tindak lanjut sikap Jokowi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta yang mengkritik proyek ini dan lebih mendukung pembangunan transportasi massal, juga sebagai pembuktian komitmen Pemerintah untuk menekan laju kendaraan pribadi dan mengalihkan ke transportasi publik. 

Menurut Fahira, jika merujuk pada RPJMN 2015-2019 yang disusun Pemerintahan Jokowi, fokus pembangunan perkotaan terutama kota besar seperti Jakarta adalah mengembangkan sistem angkutan umum massal yang modern dan maju dengan orientasi kepada bus maupun rel serta dilengkapi dengan fasilitas alih moda terpadu. Pembangunan enam ruas tol di Jakarta, lanjut Fahira, sama sekali kontraproduktif dengan rencana pembangunan perkotaan yang disusun Pemerintah sendiri. 

“Kalau pro transportasi publik, pembangunan jalan tol ini harus dibatalkan, bukan malah masuk dalam program strategis nasional. Saya harap Pak Jokowi berbesar hati membatalkan pembangunan enam ruas tol ini. Gubernur sekarang juga sudah tegas menolak. Jangan padamkan semangat Pemprov DKI yang begitu antusias menarik hati warganya menggunakan transportasi publik,” ujar Senator Jakarta Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta (17/7). 

Ketua Komite III DPD RI ini mengungkapkan, apapun alasan dilanjutkan pembangunan enam ruas tol dalam kota, termasuk nantinya akan disediakan dan digunakan untuk fasilitas transportasi umum, tetap saja yang namanya jalan tol dibangun untuk mengakomodir kendaraan pribadi.

Pasalnya, setiap pertambahan jalan di Jakarta satu kilometer saja, otomatis akan disertai pertambahan ribuan mobil. Pembangunan enam ruas jalan tol ini juga dipastikan akan menghambat program integrasi transportasi umum dengan satu tarif (Ok Otrip) yang sedang dilaksanakan Pemprov DKI saat ini. 

“Banyak riset membuktikan semakin banyak dan panjang jalan dibangun maka akan semakin banyak kendaraan yang melintas. Artinya, bangun jalan takkan mengurai kemecetan. Kebenaran riset ini sudah kita saksikan sendiri di Jakarta yang bertambah macet walau jalan terus dibangun. Kenapa kekeliruan ini terus kita ulangi? Ini kita belum bicara dampak lingkungan hidup. Kita mau wariskan apa kepada anak-anak Jakarta di masa depan? Kota polusi?” pungkas Fahira. 

Sebagai informasi, proyek enam ruas tol dalam kota dibangun dengan tiga sesi yang meliputi rute Semanan-Sunter, Sunter-Pulo Gebang, Duri Pulo-Kampung Melayu, Kemayoran-Kampung Melayu, Ulujami-Tanah Abang, serta Pasar Minggu-Casablanca dengan total panjang 69,6 kilometer.* [Syaf/]

Sumber : voa-islam.com

The Power of Ulama

The Power of Ulama



Oleh:

Aulia Fiddien*

ALHAMDULILLAH, Multaqo atau Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa V pada awal Juli 2018 ini telah berhasil dilaksanakan. Acara yang menghadirkan 400 ulama ini juga dihadiri Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Selain itu hadir pula sejumlah tokoh Islam terkenal seperti KH Ma’ruf Amin, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, dan lainnya.

Di malam puncak acara Pertemuan Ulama, para peserta menanti suatu momen yang ditunggu-tunggu. Para ustadz masyhur yang selama ini memenuhi ruang-ruang di media sosial, yakni Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat pada malam itu duduk pada satu meja. Mereka bergantian berceramah di hadapan para ulama dan syeikh dari berbagai negara, dan dengan intensif berbahasa Arab.

Dengan dimoderatori Ustadz Zaitun Rasmin, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) diberi giliran pertama dan berbicara menyinggung soal persatuan dan lemahnya kondisi umat Islam saat ini dalam politik, ekonomi, dan bidang strategis lainnya. Selanjutnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengawali ceramahnya dengan memperkenalkan diri kepada para syeikh mengenai latar belakang pendidikan dan asal-usulnya.

Dalam ceramahnya, UAS membawa masalah perbedaan madzhab fikih dengan pembawaan yang ringan. Dia bahkan terkadang menyelipkan humor yang tak jarang membuat para peserta dan para ulama yang lengkap dengan gamis dan kefiyyehnya itu tak mampu menahan tawa. “Persis, NU, Muhammadiyah semuanya adalah saudara kami. Perbedaan-perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu’iyah (cabang) bukan ushuliyah (landasan atau dasar-dasar agama),” ucap UAS.

Sementara Ustadz Adi Hidayat (UAH), dengan gaya bahasa yang puitis, yang didukung dengan penyebutan ayat-ayat al-Qur’an yang dikontekstualisasikan dengan sejarah Islam di Indonesia berkali-kali membuat para peserta berdecak kagum. Seakan dia ingin berpesan, bahwa datangnya rahmat Allah ke Indonesia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran para ulama terdahulu yang telah menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Tanah Air.

Acara kemudian diakhiri dengan diskusi antara peserta dari berbagai negara mengenai materi yang disampaikan ketiga ustadz tersebut. Tampak Ustadz Felix Siauw dan artis Arie Untung juga hadir dan tampak menikmati suasana acara yang berjalan dengan khidmat. (www.hidayatullah.com)

Ulama Dalam “Jebakan”

Banyak pihak berharap, pertemuan ulama ini dapat menjadi wasilah persatuan umat di tengah-tengah kondisi bangsa yang saat ini mengarah pada perpecahan dan kerusakan moral yang parah. Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Didin Hafidhuddin yang menyampaikan pentingnya persatuan umat Islam. “Kita semua terutama para ulama harus menghindari hal-hal yang menyebabkan perpecahan, misalnya ashobiyah (fanatik kelompok). Tidak boleh ada ashobiyah di kalangan ulama. Nabi mengatakan, bukan umat-Ku orang yang mengajak kepada kesukuan, berperang karena kesukuan atau kebangsaan. Jadi kita ini umat yang satu, tidak boleh berpecah,” ujarnya.

Tidak heran jika pertemuan ulama menjadi harapan umat. Sebab ulama selama ini memang dikenal sebagai pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari.

Posisi ulama dalam kehidupan sehari-hari sangat urgen sekali. Saking urgennya, sebagian masyarakat berdalih bahwa segala sesuatu harus didasarkan pada fatwa atau hasil keputusan para ulama. Keputusan ulama itu dianggap sebagai keputusan yang bijak dan berlandaskan nilai-nilai agama, sehingga layak dijadikan sebagai landasan dalam mengerjakan segala sesuatu.


Namun sayangnya, kini ulama adalah mahluk langka. Dari yang langka ini, lebih banyak yang lemah dan tidak mampu memimpin umat keluar dari keterpurukannya. Bahkan mereka menjadi bagian dari sistem yang menindas umat (pragmatisme). Hal ini nampak dari realita umat yang makin merosot agama dan moralitasnya.

Faktor-faktor apakah yang membuat ulama menjadi lemah? Secara umum ada tiga “jebakan” untuk memperlemah ulama. Pertama: jebakan pemikiran yang terjadi pada dirinya sendiri. Pemikiran yang dimaksud adalah sekulerisasi secara halus. Pahit untuk diakui, ulama kita banyak yang canggung berbicara masalah publik dari sisi Islam.

Mereka membatasi diri untuk berbicara hanya saat ada persoalan moral seperti pornografi, miras, perjudian, dll. Mereka juga hanya peka pada gerakan sesat (Ahmadiyah, shalat dwibahasa, dsb). Namun, mereka canggung ketika membahas pengaturan sumber daya alam menurut Islam atau mengatasi krisis ekonomi sesuai syariah. Seolah-olah Islam tidak mempunyai solusi lengkap.

Kedua: jebakan kultural yang “disiapkan” masyarakat. Jebakan ini dapat memaksa ulama yang semula kuat karena ikhlas, menjadi lemah karena bias. Ulama dimitoskan dengan segala idealitas dalam pandangan masyarakat awam, bukan pandangan syariah. Saat ulama melakukan hal-hal yang diopinikan negatif dikalangan masyarakat (misalnya poligami), gelar “orang suci” tiba-tiba lenyap. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa “ulama juga manusia”.

Ketiga: jebakan sistem. Sejarah terus berulang. Para penguasa korup agen penjajah zaman manapun selalu melihat para ulama sebagai penghalang tujuan mereka. Karenanya, penguasa semacam ini akan berupaya melemahkan para ulama. Cara yang mereka tempuh antara lain, pertama: ulama dimarjinalkan dari kancah politik. Dihembuskan opini bahwa Islam itu suci, politik itu kotor. Sehingga tidak layak seorang ulama berkecimpung di dunia politik. Ini tidak terlepas dari strategi penjajah yang berusaha menjauhkan ulama dalam mengurusi umat.

Kedua: pragmatisme. Ulama dipojokkan untuk sekedar bertahan hidup dalam sistem sekuler. Islam hanya untuk ranah pribadi. Akibatnya, ulama akhirnya diam ketika penguasa mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan publik. Seperti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan pajak yang makin menindas rakyat. Dakwah pun tidak lagi untuk kepentingan umat, namun “yang penting aman”.

Ketiga: godaan 3-TA. Yang paling vulgar adalah pelemahan ulama dengan harta, tahta, dan wanita. Ulama diberi kucuran dana, dilamar menjadi caleg atau pejabat. Namun, tentu saja tidak ada “makan siang gratis”. Akibatnya dengan perut kenyang, ulama menjadi sulit untuk bicara kritis.

Membangkitkan The Power of Ulama

Tak dipungkiri, umat ini membutuhkan ulama yang kuat. Ulama yang mampu memberi teladan dan memimpin umat menuju kebangkitan. Dalam sejarah Islam yang panjang, ulama adalah warasatul anbiya’ (pewaris para nabi). Merekalah yang mewarisi tugas para nabi dan rasul untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam Al qur’an dijelaskan pengertian ulama:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah para ulamaSesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Rasulullah SAW bersabda:

Seluruh mahluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan dalam air, semuanya beristighfar untuk para ulama. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang hamba yang suka beribadah bagaikan keutamaan bulan di antara bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris paranabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain dinyatakan:

“Di tengah-tengah umat,, ulama bagaikan lentera yang bersinar terang, membimbing, dan menunjukkan jalan yang benar. Apabila ulama terbenam, maka jalan akan kabur”. (HR. Imam Ahmad)

Berkaitan dengan hal di atas, dapat diketahui bahwa ulama merupakan hamba Allah yang beriman, menguasai ilmu secara mendalam (fakih fid dien), dan memiliki pengabdian tinggi semata-mata mencari keridlaan Allah, bukan manusia. Di hadapan penguasa, ulama adalah barisan terdepan yang melakukan tugas memberikan kritik dan nasihat agar penguasa senantiasa menjalankan hukum-hukum Allah. Dalam menjalankan misi dakwahnya, mereka tidak gentar atau merasa takut terhadap resiko yang akan menimpa.

Disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika menerima jabatan sebagai khalifah, beliau mengatakan, “Siapa saja yang melihatku menyimpang, tegurlah aku.”Di antara hadirin ada yang menjawab, “Umar, jika Anda menyimpang dari hukum Allah, kami akan meluruskan Anda dengan ketajaman pedang kami.” Lalu ada seorang lagi yang berkata, ”Umar, takutlah Anda kepada Allah.” Orang yang terakhir ini ditegur oleh temannya, “Mengapa engkau berkata demikian kasarnya terhadap Umar?”

Akan tetapi, Umar membenarkan orang yang menegur dirinya. Dan dengan bangga Umar berkata, “Bukan suatu kebaikan bagi kalian jika kalian tidak menegur orang yang salah. Bukan pula kebaikan bagi kami jika kami tidak menerima teguran.”

Seorang ulama yang ikhlas akan senantiasa mengorbankan segala-galanya demi menegakkan kebenaran. Imam Ahmad bin Hanbal misalnya, secara berulang-ulang pernah mengalami penyiksaan, pemukulan dengan 110 kali cambukan, serta lama mendekam di penjara. Semua itu beliau alami demi mempertahankan kebenaran bahwa Al qur’an bukanlah mahluk, tapi kalam Allah.

Dalam keadaan menyedihkan itu, Imam Ahmad tetap memuji kebesaran Allah. Beliau rela meringkuk dalam penjara yang sempit, kotor, dan gelap selama 29 bulan. Beliau dengan tersenyum berkata, “Penjara bagiku bukanlah apa-apa. Aku di rumah atau di penjara sama saja. Allah tetap mengetahui dan melihat di manapun aku berada. Aku tidak gentar memikul pukulan cambuk. Aku pun tidak takut leherku dipancung dengan pedang terhunus. Yang sangat aku takuti ialah jika imanku tergoyahkan dan keyakinanku runtuh.”

Demikianlah cuplikan beberapa kisah tentang keberanian ulama yang terukir dalam sejarah. Sikap ulama terdahulu dalam melakukan amar makruf nahi mungkar mestinya bisa diteladani ulama zaman sekarang. Hal ini selaras dengan gelar sosial dan kepercayaan umat yang disematkan kepada para ulama. Oleh karena itu, untuk membangkitkan The Power of Ulama (kekuatan ulama), ulama harus menegakkan kembali fungsi utamanya dalam menjaga pemikiran umat agar tidak menyimpang dari Islam, membangun kesadaran politik umat, serta melakukan kontrol terhadap penguasa.

Ulama saat ini mestinya tidak sekedar mencari ketenaran dan dunia yang sangat singkat, dibandingkan akhirat yang kekal abadi. Sehingga membiarkan umat ini dalam kesesatan dan keterpurukan. Naudzubillahi min zalik. *Penulis adalah seorang pemerhati masalah sosial, tinggal di Jember, Jawa Timur

Sumber :Voa-islam.com 

Rombongan Dai FPI Dihadang, BHF: Demo di Bandara Langgar Hukum

Rombongan Dai FPI Dihadang, BHF: Demo di Bandara Langgar Hukum



10Berita, JAKARTA , Badan Hukum Front Pembela Islam (BHF) menilai tindakan gerombolan massa aksi menghadang rombongan dai FPI di Bandara Internasional Juwata, Tarakan, Kalimantan Timur, Sabtu (14/7/ melanggar hukum. BHF menyayangkan aparat kepolisian yang membiarkan aksi tersebut.

"Tindakan segerombolan preman yang melakukan aksi demonstrasi sekaligus penghadangan dan persekusi di Bandara Internasional Juwata Tarakan pada Sabtu lalu, jelas kembali menegaskan pihak Kepolisian selalu sering kalah dalam menghadapi tindakan-tindakan dan aksi aksi pelanggaran hukum serta membiarkan hukum diinjak-injak oleh preman,"kata Koordinator BHF, Aziz Yanuar, SH kepada voa-islam, Selasa (17/7/2018).

Menurut Aziz, aksi demonstrasi di Bandara terang benderang dilakukan di daerah steril, sementara menurut pasal 9 UU no. 9 tahun 1998 adalah dilarang. "Bukannya dibubarkan malah diakomodir, jelas ini preseden buruk terhadap penegakan hukum di Republik ini,"ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, aksi yang mengandug kebencian terhadap suatu golongan rakyat Indonesia juga jelas dilarang oleh Kepolisian tertuang di pasal 12 (d,e,f,g dan h) Perkapolri no.9 thn 2008.

"Tapi, beberapa kali FPI mengalami upaya persekusi, hukum sebagai Panglima dan Kepolisian sebagai pelindung dan pengayom masyarakat malah tidak bertindak tegas pada pelanggaran hukum serius, serta perbuatan yang jelas mengancam kebhinekaan ini, ada apa?" tegasnya.

Belum lagi, sambung Aziz, tindakan penghadangan dan pengancaman ini masuk delik tindakan pidana persekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 368 KUHP. Aziz mengaku sulit membayangkan bila FPI yang melakukan hal ini,  pasti akan ada tindakan terhadap FPI.

Namun, katanya lagi, jika yang jadi korban adalah FPI, maka berlaku sebaliknya, ini sangat disayangkan. FPI menagih kembali janji-janji Kapolri bahwa akan menindak tegas persekusi.

"Bahkan, saat ini sudah berani para preman itu masuk wilayah yg dilarang untuk melakukan aksi. Apakah FPI dan ormas Islam lain tidak berhak mendapat perlindungan hukum atau bagaimana?" tanyanya menutup pernyataan. (bil/)

Sumber : voa-islam

Andil Pemain Muslim Antarkan Juara Dunia, Perancis Diserukan Akhiri Islamophobia

Andil Pemain Muslim Antarkan Juara Dunia, Perancis Diserukan Akhiri Islamophobia


10Berita, Saat Prancis merebut kemenangan Piala Dunia kedua atas Kroasia berkat gol-gol yang dilakukan oleh para migran dan seorang Muslim, penggemar dan penonton dengan cepat menunjukkan perlunya bagi negara itu untuk menerapkan kemenangannya di lapangan ke dunia nyata.

Dari empat gol yang dicetak Perancis melawan Kroasia, dua gol dicetak oleh putra-putra imigran Afrika – Paul Pogba, yang orangtuanya berimigrasi dari Guinea, dan Kylian Mbappe yang ibunya adalah Aljazair dan ayah Kamerun.

Dari 23 skuad Tim Prancis, 7 diantaranya adalah pemain muslim: Paul Pogba, N’Golo Kante, Nebil Fekir, Ousmane Dembele, Adil Rami, Djibril Sidibe, Benjamin Mendy. Dan 15 dari 23 skuad Tim Prancis adalah imigran Afrika.

Penggemar sepak bola dengan cepat menyerukan ke Twitter pada hari Minggu malam untuk meminta Prancis untuk mengakhiri “kemunafikan” dan mengakui peran mendasar para imigran dan Muslim.(kk/pm)

Sumber : eramuslim.com

Dari Penyakit Hingga Piala Dunia, Ini Alasan-alasan Pemerintah Harga Telur Meroket

Dari Penyakit Hingga Piala Dunia, Ini Alasan-alasan Pemerintah Harga Telur Meroket

10Berita – Gejolak kenaikan harga telur yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir disebut lantaran peningkatkan permintaan. Salah satu hal yang membuat permintaan ini meningkat yaitu adanya gelaran Piala Dunia 2018.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan), Fini Murfiani, mengakui salah satu penyebab lonjakan harga telur ayam lantaran terjadi penurunan produksi akibat penyakit dan libur Lebaran. Sehingga pasokan ke pasar juga berkurang.

“Terjadi penurunan produksi. Induknya tetap ada tapi tidak berproduksi. Itu yang akan kita selidiki. Memang menyebabkan tidak produksi itu karena adanya penyakit. Macam-macam alasannya,” ujar dia di Jakarta, Selasa (17/7).

Lonjakan harga ini juga diperparah dengan tingginya permintaan. Dia menyebut permintaan telur ayam meningkat hingga 30 persen dari normal. “20 persen-30 persen kenaikan permintaan seperti yang disebutkan. Itu memang tidak diprediksi sehingga peningkatan permintaan itu tinggi sekali,” terang Fini.

Menurut Fini, ada sejumlah hal yang membuat permintaan akan telur meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Selain karena Lebaran, adanya gelaran Piala Dunia juga membuat permintaan telur meningkat.

“Seperti yang dikatakan Pak Menteri (Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita) bahwa ada kenaikan demand karena libur panjang. Kita tidak siap dengan libur panjang. Lalu dengan bebagai event panjang kaya bola segala macem meningkatkan konsumsi makanan. Adanya pertandingan Piala Dunia ternyata memengaruhi. Saya pikir iya juga,” ungkap dia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Namun ada juga faktor lain yang menyebabkan permintaan akan telur naik, yaitu bantuan sosial untuk masyarakat miskin. ‎Telur menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam bantuan tersebut.

“Juga karena adanya bantuan dalam bentuk telur. Menteri sosial ada bantuan nontunai ke masyarakat miskin yang di Jakarta yang harganya disubsidi. Ada pembagian telur untuk rumah tangga miskin. itu pun menambah volume,” tandasnya. (mdk)

Sumber : Merdeka.com

Sikap Kita Pada Pemimpin yang Menyia-nyiakan Amanah

Sikap Kita Pada Pemimpin yang Menyia-nyiakan Amanah


Ustadz Ahmad Simin Dani

(Dewan Dakwah Islamiah Indonesia – Bekasi)

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الامين. امابعد

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu  berkata: ketika nabi sedang berbicara di suatu majlis besama para sahabat, tiba-tiba datang orang Baduwi dan bertanya, “Ya Muhammad kapan hari kiamat itu terjadi?”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak bergeming dan tetap berbicara hingga masalah yang dibahasnya selesai. Lalu Nabi bertanya, “mana orang yang bertanya tentang hari qiamat tadi?” Lalu orang Baduwi yang bertanya itu menyahut, “ inilah aku wahai muhammad”. 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda, “kiamat itu sudah dekat terjadinya apa bila anat kekuasaan itu telah disia-siakan.”

Si Baduwi bertanya lagi, “bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammenjawab, “apa bila kekuasaan itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya.  Maka terjadilah Qiamat.” (HR.  al-Bukhari)

Lalu bagaimana sikap kita terhadap pemimpin yang tidak amanah/Dzalim?

Ikhwan, walau pun kita tidak mampu memberontak bukan berarti kita harus menjilat. Dan ajaran Islam itu tegas mengatakan yang baik kepada orang baik dan melebelkan buruk kepada orang yang memang benar-benar buruk. Sesuatu yang Haq dikatakan Haq dan yang batil kita harus dikatakan Batil.

Dalam sebuah hadits riwayat Al-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَلَا إِنِّي أُوشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبَ فَيَلِيَكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِي، يَقُولُونَ بِمَا يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ بِمَايَعْرِفُونَ، وَطَاعَةُ أُولَئِكَ طَاعَةٌ، فَيَلْبَثُونَ كَذَلِكَ دَهْرًا، ثُمَّ يَلِيَكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِهِمْ، يَقُولُونَ مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ مَا لَا يَعْرِفُونَ، فَمَنْ نَاصَحَهُمْ، وَوَازَرَهُمْ، وَشَدَّ عَلَى أَعْضَادِهِمْ فَأُولَئِكَ قَدْ هَلَكُوا، خَالِطُوهُمْ بِأَجْسَادِكُمْ، وَزَايِلُوهُمْ بِأَعْمَالِكُمْ، وَاشْهَدُوا عَلَى الْمُحْسِنِ بِأَنَّهُ مُحْسِنٌ، وَعَلَى الْمُسِيءِ بِأَنَّهُ مُسِيءٌ

 “Ingatlah, aku khawatir akan dipanggil lalu aku akan menghadap (ke Allah –penerj) kemudian sepeninggalku kalian dipimpin oleh orang-orang yang mengatakan apa yang mereka ketahui (berupa kebaikan –penerj) dan mengamalkan apa yang mereka ketahui. Maka, taat kepada mereka itulah ketaatan (yang sebenarnya). Itu akan berlangsung selama beberapa lama.

Selanjutnya kalian akan diperintah oleh orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka ketahui dan mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui. Siapa yang jadi penasehat mereka, atau jadi pembantu mereka serta menguatkan kedudukan mereka, maka mereka itulah yang akan binasa.

Pergaulilah mereka dengan jasad kalian tapi berpisahlah dengan mereka melalui amal kalian. Persaksikan bahwa orang yang baik itu baik dan orang yang buruk itu buruk.”

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath no. 6988 dan Al-Baihaqi dalam kitab Az-Zuhd Al-Kabir no. 191.

Al-Haitsami menyebut hadits Al-Thabarani ini dalam Al-Majma’ Az-Zawa`id (5/426) dan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Al-Thabarani dalam Al-Awsath dari gurunya Muhammad bin Ali Al-Marwazi dan dia dhaif.”

Pernyataan Al-Haitsami ini perlu dikoreksi karena faktanya Muhammad bin Ali Al-Marwazi yang ada dalam sanad ini adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Huzmuzfarami Al-Marwazi, disebut oleh Syekh Nayif Al-Manshuri dalam kitab Irsyad Al-Qadhi (hal. 597) tentang nama-nama guru Al-Thabarani bahwa dia hafizh tsiqah. Beliau mengutip penilaian dari Al-Khathib Al-Baghdadi yang mengatakannya tsiqah, As-Sam’ani dalam kitab Al-Ansab yang mengatakannya hafizh mutqin, serta Al-Baihaqi yang mengatakannya hafizh mujawwad tsiqah.

Syekh Al-Albani memasukkan hadits ini ke dalam kitabnya As-Silsilah Ash-Shahihah nomor 457 dan mengatakan bahwa Hatim bin Yusuf (yang meriwayatkan hadits ini) dan di atasnya semua tsiqah.

Sanad Al-Baihaqi dan al-Thabarani bermuara pada Hatim bin Yusuf (dalam sanad Al-Baihaqi tertulis Hatim bin Musa), Aku mendengar Abdul Mukmin bin Khalid berkata, Aku mendengar Abdullah bin Buraidah menceritakan dari Yahya bin Ya’mar, dari Abu Sa’id Al-Khudri……

Hatim bin Yusuf bin Khalid bin Nushair bin Dinar Al-Jallab disebut oleh Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (5/199, no. 1000) merupakan murid Ibnu Al-Mubarak yang banyak meriwayatkan darinya, shahihul kitab (kitabnya shahih). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taqrib At-Tahdzib (1/123, no. 1105) memberinya predikat tsiqah.

Abdul Mukmin bin Khalid, hakim di Marw disebut oleh Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (18/442-443) menukil dari Abu Hatim yang mengatakan, “Tak ada masalah dengannya” dan Ibnu Hibban yang memasukkannya dalam kitab Al-Tsiqaat (orang-orang terpercaya). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Taqrib memberinya predikat, “laa ba`sa bih” (tidak ada masalah dengannya) sama dengan yang diberikan Abu Hatim. Jadi haditsnya hasan.

Abdullah bin Buraidah bin Al-Hushaib adalah perawi yang biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam shahihain dan dia tsiqah, lihat Tahdzb Al-Kamal jilid 14 hal. 328 dan Al-taqrib 1/321.

Yahya bin Ya’mar adalah tabi’in yang tsiqah memang biasa meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri. Lihat Tahdzib Al-Kamal jilid 32 hal. 53.

Dengan demikian status hadits ini adalah hasan lidzaatih lantara ada Abdul Mukmin bin Khalid.

Penjelasan Ringkas    

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengingatkan akan adanya pemimpin yang melakukan apa yang mereka kenal, artinya mereka mengenali kebaikannya.

Pemimpin seperti inilah yang harus ditaati dengan ketaatan yang sebenarnya, bukan terpaksa.

Lalu akan ada pemimpin yang tidak tahu kebenaran atau mereka mengamalkan sesuatu yang mereka tidak tahu baik buruknya. Dengan kata lain mereka tak lagi berpegang pada sunnah Nabi. Pemimpin seperti ini dipergauli dengan jasad kita yang tetap ada bersama mereka, tapi perbuatan kita berpisah dari mereka. Artinya, kita tidak mau mengikuti apa yang mereka lakukan. Salah satu bentuk pemisahan itu adalah tidak mau patuh pada perintah maksiat, sebagaimana hadits riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan dianggap hasan lighairih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Al-Shahihah, no. 590, dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

سيليكم أمراء بعدي يعرفونكم ما تنكرون وينكرون عليكم ما تعرفون، فمن أدرك ذلك منكم، فلا طاعة لمن عصى الله

Akan ada masanya kalian dipimpin oleh para pemimpin setelahku, dimana mereka menganggap baik apa yang kalian anggap mungkar dan mengingkari apa yang kalian anggap baik. Siapa saja dari kalian yang mendapati itu maka tidak ada ketaatan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah.

Lalu pesan di kalimat terakhirnya adalah memberi kesaksian bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Dengan kata lain bila menjumpai pemimpin seperti ini maka yang baiknya harus dikatakan baik dan yang buruknya harus dikatakan buruk.

Begitulah selaras dengan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit dimana salah satu isi bai’at mereka kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah,

وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا، لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Agar kami mengatakan yang benar dimanapun kami berada dan tidak takut dengan celaan pencela.” (Al-Bukhari, no. 7199 dan Muslim, no. 1709).

Perintah mengatakan orang baik itu baik, dan orang buruk itu buruk menunjukkan tak boleh ada penyembunyian kebenaran ketika kita menilai pemimpin. Yang baik harus dikatakan baik, yang buruk harus dikatakan buruk, dan itu bukanlah bentuk pemberontakan, melainkan menjelaskan kebenaran dan amar makruf nahi munkar. Tentunya penjelasan itu harus elegant, bukan memaki yang tidak pada tempatnya, serta benar-benar menginginkan kebaikan atas dasar syariat Islam dan maslahat kaum muslimin sesuai batasan syariat. Wallahu a’lam. [PurWD/]

Sumber :voa-islam.com

AKHIRNYA.. Ex Jubir KPK Bakal Nyaleg Lewat Partai Juara Korupsi, Warganet: Terobosan Visioner!!

AKHIRNYA.. Ex Jubir KPK Bakal Nyaleg Lewat Partai Juara Korupsi, Warganet: Terobosan Visioner!!


10Berita, Juru bicara Istana Kepresidenan, Johan Budi, dikabarkan mendaftar sebagai bakal calon legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P).

Saat dikonfirmasi, Johan Budi membenarkan kabar tersebut. Namun ia menyatakan rencananya itu masih menunggu kepastian dari PDI P memasukkan namanya dalam daftar caleg.

Johan juga memastikan dirinya tidak akan datang ke KPU untuk mendampingi para pimpinan partai saat menyerahkan berkas pendaftaran bakal caleg.

"Aku lagi di luar kota," kata Johan dalam pesan singkat, Selasa, 17 Juli 2018.

Ketika ditanya alasannya maju dalam pemilihan legislatif 2019, Johan Budi juga belum memberikan jawaban.

Johan mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis. Dia kemudian berkarir sebagai juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2006-2014. Johan Budi juga pernah menjabat sebagai pelaksana tugas komisioner KPK pada 2015.

Johan Budi sempat mengikuti pemilihan pimpinan KPK periode 2015-2019, namun gagal terpilih. Ia kemudian diangkat menjadi juru bicara Istana Kepresidenan oleh Presiden Jokowi.

Berlabuhnya Johan Budi ke PDI P ini membuat warganet heran dan miris. Pasalnya, Johan Budi selama ini dikenal sebagai sosok yang bekerja di lembaga anti rasuah. Sementara PDI P dikenal sebagai partai yang kadernya paling banyak terjerat kasus korupsi.

Berikut komentar warganet.

Serius ini? Terobosan yg menarik dr PDIP, juara korupsi ambil caleg orang Ex KPK , biar yg di tangkap KPK makin dikit ...

— Perjalanan Hidup (@agungprie) July 17, 2018

— ⓛⓞⓚⓐⓛ (@anonLokal) July 17, 2018


— Warta🌐Politik™ (@wartapolitik) July 17, 2018


— Kireina (@Umnia77) July 17, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Wapres JK Sebut Menteri yang Nyaleg Ganggu Kinerja Kabinet

Wapres JK Sebut Menteri yang Nyaleg Ganggu Kinerja Kabinet

10Berita – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, menteri-menteri yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) dapat mengganggu kinerja Kabinet Kerja. Hal itu berkaitan dengan izin cuti kampanye pemilihan umum (pemilu) legislatif 2019.

“Ya, tentu waktunya, karena masa kampanye pasti mengganggu waktu bekerja. Pasti itu, karena menurut KPU (Komisi Pemilihan Umum) cukup cuti saja,” kata Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa.

Wapres Kalla mengaku belum mengetahui menteri siapa saja yang ingin mencalonkan diri dalam Pileg 2019 karena biasanya izin tersebut dilakukan para menteri langsung kepada Presiden Joko Widodo. “Kita lihat hari ini, karena kalau sudah lihat pendaftaran hari ini kan diketahui siapa-siapa yang mendaftar. Saya tidak tahu kalau ke Presiden, tapi biasanya izinnya kan ke Presiden,” ujarnya.

Dengan adanya menteri yang izin cuti kampanye Pileg 2019, Wapres mengatakan, kinerja kementerian tetap dapat dijalankan melalui sekretaris jenderal dan direktur jenderal di lingkungan kementerian tersebut. JK pun mengatakan, tidak perlu dilakukan perombakan kabinet atau reshuffle untuk mengisi kekosongan jabatan menteri selama cuti kampanye.

“Tanggung (kalau) mau reshuffle, tinggal setahun (periode), tanggung ,” katanya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, kampanye pemilu yang mengikutsertakan presiden, wapres, menteri, dan kepala daerah harus menjalani cuti di luar tanggungan negara, dan tidak boleh menggunakan fasilitas dalam jabatannya kecuali pengamanan yang sifatnya melekat.

Berdasarkan Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilu 2019, masa kampanye calon anggota DPR, DPD, dan DPRD dilakukan bersamaan dengan kampanye capres-cawapres, yakni mulai 23 September mendatang hingga 13 April 2019.

Sementara itu, KPU menerima berkas pendaftaran caleg untuk Pemilu 2019 hingga Selasa, pukul 24:00 WIB. KPU RI juga telah menyiapkan 16 tim untuk memeriksa berkas dari 16 partai politik peserta pemilu.

Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Andreas Pareira mengatakan, ada dua nama menteri kabinet Presiden Joko Widodo yang maju sebagai caleg dari PDIP. “Dari eksekutif, yang maju menjadi caleg itu ada Mbak Puan Maharani dan Pak Yasonna Laoly,” ungkap Andreas kepada wartawan saat mendaftarkan caleg DPR PDIP di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/7).

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang juga merupakan kader PDIP tidak maju sebagai caleg. “Mengapa mereka maju sebagai caleg? Dan, ada juga yang tidak. Kalau Pak Presiden (Jokowi) meminta untuk tetap standby di pemerintahan, maka tetap harus standby,” ujar Andreas menegaskan. (rol)

Sumber : rol, Eramuslim.com

Cina di Timur Tengah: Di Balik Pesona Serangan Ekonomi Xi Jinping

Cina di Timur Tengah: Di Balik Pesona Serangan Ekonomi Xi Jinping


Emir Kuwait berjabat tangan dengan Presiden Cina (kiri). (Aljazeera)

10Berita – Beijing. Cina, sebagai negara konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia, meningkatkan investasinya di Timur Tengah yang kaya minyak dengan janji pinjaman lebih dari $ 23 miliar serta jutaan lainnya dalam bentuk bantuan.

Presiden Cina Xi Jinping juga punya rencana tentang perdagangan bebas dan mengedepankan model investasi “minyak dan gas plus”. Hal itu ia sampaikan di depan delegasn dari 21 negara Arab dalam sebuah forum di Beijing baru-baru ini. Ia meyakini, model seperti itu akan membuka lapangan kerja dan membantu menjaga kebutuhan energi masa depan Cina.

Kepada para pemimpin Arab, Xi menyebut negaranya ingin membentuk kemitraan strategis “untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah … serta teman baik yang saling belajar satu sama lain.”

Timur Tengah memainkan peran penting dalam inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan, sebuah megaproyek yang bertujuan menghubungkan bangsa Asia, Afrika dan Erop, melalui Jalur Sutra Modern. Cina bertekad menghidupkan kembali Jalan Sutra kuno masa lalu.

Negara-negara Timur Tengah saat ini menyediakan lebih dari separuh impor minyak mentah Cina. Sementara Cina menjadi mitra dagang terbesar di kawasan tersebut. Tujuannya adalah menggandakan perdagangan Timur Tengah menjadi $ 600 miliar pada 2020.

Jadi, apa di balik pesona serangan ekonomi terbaru Xi di Timur Tengah?

“Ini adalah bagian dari rencana jangka panjang Cina untuk mengamankan sumber dayanya untuk masa depan,” kata Reuben Mondejar, profesor untuk inisiatif Asia di IESE Sekolah Bisnis di Universitas Navarra, Barcelona.

“Minyak sangat penting, sumber daya energi bagi Cina akan jadi sangat penting dalam 10, 20, 30 tahun mendatang. Jadi, mereka telah berinvestasi di tempat lain seperti Afrika dan Amerika Selatan untuk sumber daya lain.”

“Tapi untuk minyak, Timur Tengah masih menjadi area utama, dan platform yang mereka gunakan dengan nyaman sekarang adalah Belt dan Road.” imbuh Mondejar.

Mondejar meyakini bahwa semua ini adalah soal waktu. “Karena dengan situasi sekarang, perang dagang dan semua isolasionisme, proteksionisme … Cina butuh teman. Dan ini waktu yang tepat untuk berteman dengan mengumumkan $ 23 miliar dalam bentuk ekonomi.”

Namun Mondejar menyebut kemitraan ekonomi dengan Timur Tengah lebih bermasalah dari pada dengan Amerika Selatan, misalnya.

“Timur Tengah merupakan kawasan yang mungkin paling bergejolak di dunia saat ini. Jadi, Cina tengah melangkah ke area yang sangat sulit,” pungkasnya. (whc/)

Sumber : dakwatuna

PKS Santai Tanggapi Yusuf Supendi Nyaleg dari PDIP

PKS Santai Tanggapi Yusuf Supendi Nyaleg dari PDIP


10Berita – Pendiri PKS Yusuf Supendi maju jadi caleg di Pemilu 2019 melalui PDIP. Anggota Majelis Dewan Syuro PKS Refrizal mengaku tidak kaget dengan keputusan Yusuf Supendi tersebut. Menurut dia, Yusuf sudah lama keluar dari PKS.

“Sudah lama dia keluar dari PKS. Sudah sejak dia menjadi anggota DPR, sudah keluar dari PKS. Kan 5 tahun lalu juga nyaleg dari Hanura di Bogor,” ujar Refrizal di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/7).

Ia menegaskan keputusan Yusuf Supendi pindah partai tak ada kaitan dengan polemik di internal PKS saat ini. Mengenai pindahnya Yusuf ke PDIP yang berbeda ideologi dengan PKS, Refrizal menilai tidak ada perbedaan mendasar antara dua partai tersebut.

“Kalau dalam pandangan negara kita sama saja. Menyejahterakan Indonesia, nanti kita berlomba-lomba saja untuk itu semua,” ujar dia.

“Kalau PKS kan platform Islam, kita segala sesuatu berdasarkan Islam yang telah diajarkan Nabi,” jelas dia.

Refrizal mengatakan partainya sudah lama tidak berkomunikasi dengan Yusuf Supendi. Menurut dia, sejak keluar dari PKS, sama sekali tidak ada komunikasi dengan Yusuf Supendi.

“Sudah enggak ada, dia juga bukan anggota PKS lagi sudah lama dia bukan,” tutup dia.

Dalam buku berjudul “Replik Pengadilan Yusuf Supendi Menggugat Elite PKS”, dijelaskan bahwa Yusuf Supendi adalah nama besar di kalangan aktivis PKS. “Dia salah satu generasi asabiqul awalun alias generasi pertama gerakan Tarbiyah yang kemudian berubah wujud jadi Partai Keadilan Sejahtera,” demikian yang tertulis di halaman ix.

“Tidak hanya itu, Yusuf Supendi juga dikenal sebagai orang yang lurus dan bersih. Meskipun sudah pernah jadi anggota DPR dia masih tinggal di ujung gang selebar satu mobil di Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur,” demikian potongan buku di bab “Yusuf Supendi: Penjaga Nurani dari Gang Sempit.”

Pertikaian Yusuf Supendi dengan PKS terjadi saat partai itu dipimpin oleh Luthfi Hasan Ishaaq. Beragam tudingan mengarah ke Yusuf Supendi sehingga dia dipecat dari PKS, antara lain dituding mengganggu istri orang.

Yusuf Supendi terus berjuang ke pengadilan atas pemecatan dirinya. []

Sumber : kumparan