OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 24 Juli 2018

NGAKAK! SIKAT Pentolan JIL Saidiman, Warganet: NGACA DULU.. Situ Liberal Maksimal Tapi Masih Melarat. Ruginya COMBO!

NGAKAK! SIKAT Pentolan JIL Saidiman, Warganet: NGACA DULU.. Situ Liberal Maksimal Tapi Masih Melarat. Ruginya COMBO!


10Berita, Liberalis Saidiman Ahmad kena batunya. Pria yang dikenal sebagai pentolan Jaringan Islam Liberal ini mempertanyakan mengapa negara-negara yang warganya lebih religius (rajin sembahyang, taat, suka ke rumah ibadah dan semacamnya) cenderung lebih miskin dan tidak teratur dari negara yang kurang religius.

"Kenapa negara-negara yang warganya lebih religius (rajin sembahyang, taat, suka ke rumah ibadah dan semacamnya) cenderung lebih miskin dan tidak teratur dari negara yang kurang religius?", cuit Saidiman melalui akun twitter @saidiman.

Kenapa negara-negara yang warganya lebih religius (rajin sembahyang, taat, suka ke rumah ibadah dan semacamnya) cenderung lebih miskin dan tidak teratur dari negara yang kurang religius?

— Saidiman Ahmad Al-Mandary (@saidiman) July 24, 2018


Tak diduga, cuitan Saidiman ini mendapat balasan sangat telak dari seorang pakar media, Bambang Elf.

Coba sampeyan ngaca dulu Mas..

Mas @saidiman kan sudah Liberal Maksimal.. Tapi masih Melarat aja..

Yai @Amal_Alghozali rajin ibadah, Lebih Sugih drpd sampeyan

Pikiran sampeyan pun jauh lebih berantakan drpd yg rajin ibadah.

Jd itu masalah Etos Kerja..
Bukan Agama.. https://t.co/LnrpgWaYdn

— 👽ᎪᏞᎥᎬᏁ bᎥᏟᎪᏒᎪ👽 (@bambangelf) July 24, 2018


Cuitan Saidiman juga ditanggapi warganet lainnya.

Saudi, UEA, Kuwait, Qatar, Brunei itu negara kaya semua kok ?

— Kals Kad (@kalskad) July 24, 2018

Liberal maksimal tapi masih melarat
.
Hasyuuuuuuuuu tenannnnn 😂😂😂

— Alison (@slowdiveee) July 24, 2018

Waduh.... Udah liberal masih kismin... Ruginya combo... 😂😂😂

— Jaka Widada (@SeuseuhBengeut) July 24, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Wasekjen MUI; Jangan Mudah Curiga Dengan Kegiatan Ulama

Wasekjen MUI; Jangan Mudah Curiga Dengan Kegiatan Ulama

10Berita – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki beberapa pesan kepada Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) yang akan menggelar Itjima Ulama dan Tokoh Nasional pada akhir pekan ini. Salah satunya, kegiatan tersebut harus mengedapankan Islam dan kemashlatan umat.

“Selama kegiatan membela Islam dan kemashlatan umat maka MUI tidak pernah keberatan sepenuhnya. Tidak boleh dicurigai,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI KH Tengku Zulkarnain ketika dihubungi Republika.co.id, Selasa (24/7).

Menurutnya, MUI akan terus mendukung kegiatan yang mengandung unsur pembelaan Islam. Sebab, setiap kelompok berhak mengeluarkan pendapatnya di hadapan publik. “Selama kegiatan itu tidak melanggar UUD 1945 dan UU yang berlaku maka mereka dijamin untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat, tidak boleh seorang pun yang melarangnya,” ucapnya.

Untuk itu, ia menghimbau kepada masyarakat untuk dapat bersikap terbuka terhadap kegiatan yang sering diselenggarakan oleh beberapa tokoh nasional. Hal ini tentunya yang berhubungan dengan kemashalatan umat beragama. “Ulama itu semakin berkumpul dan bermusyawarah semakin sering semakin bagus, kalau ulama bermusyawarah tidak ada kepentingan khusus di dalamnya tapi kepentingan realitas soal umat dan kebangsaan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum GNPF Ulama, Ustadz Yusuf Muhammad Martak menjelaskan, Ijtima’ ini nantinya akan dihadiri para ulama dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka diundang ke Jakarta untuk didengar pendapatnya tentang kondisi negeri ini. “Insya Allah akan hadir sekitar 500 orang ulama dari seluruh daerah di Indonesia, mereka merupakan perwakilan dari berbagai organisasi yang ada. Kita ingin Ijtima ini juga menjadi ajang silaturahmi para ulama,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (23/7).

Ustaz Yusuf juga menegaskan, di antara hal penting yang akan dibahas para ulama dalam Ijtima adalah soal kepemimpinan nasional dan penguatan ekonomi umat. “Kami ingin memberikan petunjuk bagi umat dalam memilih pemimpin. Apalagi ini menjelang tahun 2019, ada momentum pilpres dan pileg. Umat harus bisa menentukan pilihan pemimpin dan wakil rakyat yang jelas berpihak pada Islam dan kaum Muslimin,” ungkapnya.

Selain persoalan kepemimpinan nasional dan ekonomi umat, akan dibahas juga strategi dakwah dan persoalan kelembagaan. Sementara itu, Ketua Stering Committe (SC) Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii meminta doa dan dukungan dari masyarakat agar acara dapat berjalan dengan lancar. “Ini hajatan kita semua, maka kami mohon doanya agar acara dapat berjalan, berkelimpahan barokah dari Allah. Sehingga dapat betul-betul menghasilkan hal yang bermanfaat bagi umat dan Indonesia,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Organizing Committe (OC) ustaz M Nur Sukma menegaskan timnya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyukseskan acara. “Kami ingin berkhidmat melayani para ulama, para kiai, para habaib. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk beliau-beliau. Karena beliau adalah para pewaris nabi, dengan berkhidmat di Ijtima ini semoga kami semua dapat bagian dari keberkahan yanga akan Allah turunkan untuk NKRI,” pungkasnya. (rol)

Sumber : Eramuslim

Mesut Ozil Dapat Dukungan Luas dari Publik Turki

Mesut Ozil Dapat Dukungan Luas dari Publik Turki


Mesut Ozil (kiri) bersama Presiden Turki. (Aljazeera)

10Berita – Ankara. Sesaat setelah mengumumkan pensiun dari tim sepak bola Jerman, Mesut Ozil mendapat dukungan luas dari para pejabat dan partai penguasa di Turki. Ozil adalah imigran asal Turki.

Sejumlah pejabat Turki memuji keputusan pemain tim Arsenal tersebut. “Dari hati kami mendukung sikap terhormat saudara Mesut Ozil,” kata Mohammad Kasapoglu, Menteri Olahrahga Turki.

Menteri Kehakiman Turki, Abdulhamit Gul bahkan mengucapkan selamat kepada Ozil atas keputusannya tersebut. Menurutnya, keputusan pensiun yang diambil Ozil “Gol paling indah melawan virus fasisme”.

Menurut Ibrahim Kalin, Jubir Kepresidenan Turki, juga menyambut baik pernyataan Ozil yang menyebut akan bertemu Presiden Recep Tayyip Erdogan.

“Namun coba bayangkan tekanan seperti apa yang dipikul tuan Ozil dalam permasalahan ini. Kemana perginya toleransi, dan pluralisme?” kata Kalin di Twitternya.

Sementara Menlu Turki Mevlut Covusoglu berbicara melalui saluran telepon dengan Ozil Senin (23/07) kemarin. Menurut sumber diplomatik disebutkan, pembicaraan keduanya masih seputar keputusan pensiun sang pemain.

Diskriminasi dan Rasisme

Jubir Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Turki Mahir Ünal mengatakan, keputusan pensiun Ozil “sudah tepat dan ia sepenuhnya berhak atas itu”.

“Sayangnya di sana ada krisis dalam konflik dengan nilai-nilai universal di mana Uni Eropa dibangun atasnya. Kondisi ini sangat mengejutkan kita semua,” imbuh Ünal dalam konferensi pers dari Markas AKP di Ankara.

“Uni Eropa mengejar praktik-praktik yang membuat nilai-nilai dasar kemanusiaan dan nilai-nilai universal yang menjadi landasan mereka tercampuri unsur rasisme dan diskriminasi.”

Seperti diketahui, pesepakbola Mesut Ozil memutuskan pensiun dari tim nasional Jerman, Ahad. Dalam pernyataan resminya ia menyebutkan, adanya rasisme dan diskriminasi yang ia terima dari sejumlah petinggi Federasi Sepak Bola Jerman.

Pada Mei lalu, Ozil bertemu dan berfoto dengan Presiden Turki. Hal itu mengundang kontroversi luas bahkan kecaman kepada sang pemain. (whc/)

Sumber : dakwatuna

Meski Dekat, KH Said Aqil Siradj Blak-blakan Tak Mau Dukung Jokowi di Pilpres

Meski Dekat, KH Said Aqil Siradj Blak-blakan Tak Mau Dukung Jokowi di Pilpres



10Berita Suhu politik di tanah air kini semakin memanas. Pasalnya, tak lama lagi Indonesia akan menyelenggarakan Pileg dan Pilpres di tahun 2019 mendatang. Hingga kini, nama yang disebut-sebut paling kuat untuk maju sebagai calon Presiden adalah Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

pepnews.com

Kita ketahui bersama, Presiden Jokowi memang kerap bertemu dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj. Entah itu pertemuan soal masalah bangsa ataupun urusan lainnya. Yang jelas, antar keduanya diketahui memang memiliki kedekatan khusus.

Menariknya, baru-baru ini KH Said Aqil Siradj membuat pernyataan di luar dugaan. Bagaimana tidak, KH Said Aqil Siradj blak-blakan tak mau dukung Jokowi di Pilpres 2019 mendatang gara-gara sebuah hal yang dianggap penting.

Ada apa sebenarnya?

harianterbit.com

KH Said Aqil Siradj tidak akan mendukung Presiden Jokowi jika dirinya tidak memilih Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai calon wakil presidennya. Hal ini disampaikannya ketika menghadiri Peringatan Nuzulul Quran dan silaturahim DPW PKB dengan PWNU Jawa Tengah.

"Kalau Pak Jokowi 'nglamar' Cak Imin, baru saya dukung, kalau belum 'nglamar' masa saya dukung," kata KH Said Aqil Siradj dilansir dari merdeka.com (15/7).


Benar saja, Cak Imin memang diketahui sangat siap dan berharap bisa menjadi pendamping Jokowi di Pilpres. Dirinya sudah mendeklarasikan dukungannya hingga membuat Relawan Join (Jokowi-Cak Imin).

Mengapa KH Said Aqil Siradj bersikap demikian?

sangpencerah.id

Hal ini wajar, pasalnya masyarakat Indonesia yang basisnya NU memang memiliki wadah partai bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dimotori Cak Imin. Sebagai Ketua Umum PBNU, tak heran jika KH Said Aqil berharap ada sosok Cak Imin di kursi penting pemerintahan Indonesia sebagai cawapres.(Mwahyuarif Official)

Sumber : www.merdeka.com/politik/ketum-pbnu-kalau-pak-jokowi-nglamar-cak-imin-baru-saya-dukung.html

Pelapor Kasus Buni Yani dan Jonru Ginting Ini ‘Nyaleg’ Lewat PSI

Pelapor Kasus Buni Yani dan Jonru Ginting Ini ‘Nyaleg’ Lewat PSI


10BeritaPengacara Muannas Alaidid yang dikenal sebagai pelapor terhadap Buni Yani dalam kasus pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maju sebagai bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Akibat laporan yang ia buat itu, Yani harus dipidana 18 bulan penjara karena dianggap bersalah memotong video kampanye mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sebagai advokat, Muannas juga pernah melaporkan Jonru Ginting dengan tuduhan ujaran kebencian. Selain itu, dia juga menjadi kuasa hukum Muhammad Rizki yang melaporkan Fadli Zon dan Fahri Hamzah terkait penyebaran hoax.

Muannas mengatakan, dirinya terjun ke dunia politik karena prihatin melihat permasalahan intoleransi dan radikalisme yang terjadi di negeri ini. Ia ingin membawa perubahan bagi Indonesia, sehingga perilaku buruk itu bisa ditekan atau dihilangkan.

“Saya memimpikan situasi ketika setiap anggota masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama, tidak ada diskriminasi dan intoleransi,” ujar Muannas di Jakarta, Senin (23/7).

Muannas menuturkan, program utama yang ia tawarkan apabila berhasil masuk ke parlemen yakni memberantas berita bohong atau hoax serta membendung ujaran kebencian bernuansa SARA. Program tersebut merupakan keberlanjutan dari perjuangannya selama ini.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Inilah satu-satunya bentuk kebaikan di dunia. Di luar itu, yang ada ilusi dan kehampaan semata. Menjadi wakil rakyat adalah jawabannya,” jelasnya.

Sementara, Muannas mengaku sadar betul jika keterlibatannya dalam beberapa kasus yang menjadi pusat perhatian publik seperti perkara Buni Yani dan Jonru Ginting dapat memicu komentar negatif dari banyak pihak. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi bacaleg PSI.

Selain itu, Muannas juga memastikan terlibatnya sebagai pelapor dalam beberapa kasus pidana bukan sebagai ajang mencari sensasi maupun ketenaran. Langkah itu sepenuhnya ia dedikasikan sebagai upaya penegakan hukum. Sehingga hal-hal seperti ujaran kebencian hingga adu domba bermuatan SARA dapat dihilangkan.

“Saya berharap penegakan hukum tersebut dapat memberikan efek jera bagi setiap pengguna sosial media agar tidak lagi memberikan informasi yang mengandung fitnah dan hoax, juga ujaran kebencian dan adu domba, maupun SARA,” pungkasnya.

Muannas sendiri direncanakan akan bertarung di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat VII untuk memperebutkan kursi DPR RI. Dapil tersebut meliputi wilayah pemilihan Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta. [jpc]

Sumber : Eramuslim 

Dunia HITAM Buzzer Politik Indonesia Dibongkar Media Asing, Ini Jawaban Mengejutkan KEMKOMINFO

Dunia HITAM Buzzer Politik Indonesia Dibongkar Media Asing, Ini Jawaban Mengejutkan KEMKOMINFO


10Berita, Pengakuan buzzer politik soal 'pabrik' akun Twitter palsu di Indonesia selama Pilkada DKI pada 2017 lalu menjadi perhatian publik Tanah Air.

Testimoni itu menunjukkan platform Twitter masih menjadi media untuk menyebarkan propaganda berbalut isu suku, ras, agama dan antargolongan (SARA).

Kendati demikian, Kementerian Komunikasi dan Informatika memandangnya dari sisi lain. Mereka mengaku tidak melihat orang sebagai pemilik akun karena wewenang tersebut dimiliki setiap platform. Namun, konten yang dibuat oleh penggunalah yang diawasi oleh pemerintah.

"Apakah kontennya bertentangan dengan undang-undang atau tidak? Kita tidak melihat itu punya siapa. Tidak peduli," ujar Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, Senin, 23 Juli 2018.

Ia melanjutkan, akun yang diduga palsu bisa langsung dilaporkan kepada platform masing-masing. Karena media sosial, lanjut Semuel, sudah membuat aturan mengenai hal tersebut dalam Community Guidelines.

Sedangkan, untuk berita yang diduga palsu, ada mekanisme pelaporan ke Polri. "Kalau terbukti melanggar, kami siap menghapus atau take-down akun-akun penyebar konten meresahkan itu," tegas Semuel.

Meski begitu, termasuk konten fitnah, Semuel mengklaim belum bisa mengambil langkah menghapus langsung jika tidak ada pelaporan terlebih dahulu. Sebab, yang mengetahui fitnah atau tidaknya adalah orang yang menjadi korban.

"Bagaimana nanti kalau pemerintah salah-salah. Nanti dikira berpolitik. Jadi, trigger-nya bukan di orang tapi apa yang sudah dilakukan. Dia melanggar hukum atau tidak," tegas Semuel.

Akan tetapi, ia mengaku selama penyelenggaraan pilkada serentak 27 Juni lalu, pelaporan masyarakat tentang konten meresahkan jauh menurun, atau sekitar 90 persen, dibandingkan pilkada tahun sebelumnya.

"Masyarakat sudah mulai pandai dan punya pengalaman dari yang sebelum-sebelumnya. Pelanggaran tidak sebanyak pilkada sebelumnya. Kami berharap tahun depan bahwa bisa jauh lebih kondusif dalam berpolitik," tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, Juru Bicara Badan Siber dan Sandi Negara, Anton Setiawan, mengaku tidak bisa memberi komentar lebih jauh mengenai hal tersebut.

Namun yang pasti, Anton menuturkan, kepalsuan dalam bentuk apapun, baik secara riil maupun di dunia maya, tidak akan memberikan manfaat positif bagi masyarakat secara luas.

"Kami mengajak semua unsur agar berkompetisi secara sehat dan turut mendidik masyarakat di media sosial," kata dia kepada VIVA.

Sumber :Portal Islam 

Elektabilitas TGB Anjlok Usai Dukung Jokowi

Elektabilitas TGB Anjlok Usai Dukung Jokowi


10Berita – Sempat digadang-gadang sebagai sosok calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) alternatif, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi kini mengalami penurunan elektabilitas. Menurut Direktur Riset Median, Sudarto faktor tunggal yang membuat elektabilitas TGB turun drastis adalah sikap politik sendiri.

TGB memilih menyeberang untuk mendukung Joko Widodo memimpin dua periode dibanding mendukung adanya pergantian presiden pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Tidak tanggung-tanggung dari hasil survei Median saat ini TGB hanya meraih angka 0,2 persen.

Angka tersebut mengalami penurunan cukup dratis dibanding survei sebelumnya pada bulan April lalu, sebesar 2,5 persen. “Penjelasannya tidak lain dan tidak bukan karena masyarakat relatif tidak suka dengan kebijakan dengan Pak TGB yang menyebarang ke Pak Jokowi padahal sebelumnya, beliau menjadi tokoh sentral di barisannya pak Prabowo dan pendukung Islam politik,” jelas Sudarto di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (23/7).

Akibat dari sikap politiknya itu, lanjut Sudarto, banyak responden yang tidak suka. Apalagi pernyataan politiknya tersebut, menjadi satu bola yang membesar di media sosial dan di media-media mainstremTGB juga diberitakan banyak-banyak sehingga mempengaruhi elektabilitas TGB. Sebelumnya, memang TGB dipandang sebagai sosok ulama muda, berpotensi besar tidak hanya di NTB tapi juga di Indonesia.

“Begitu Pak TGB menyeberang ke Pak Jokowi ada banyak orang yang kecewa. Apalagi basis massa terbesarnya kalau menurut saya ada di kalangan Islam bukan di regional dalam hal NTB, tempat dia berkuasa,” tuturnya.

Selanjutnya jika diskenariokan TGB menjadi cawapres pendamping Joko Widodo elektabilitasnya tidak tinggi hanya 33,5 persen. Bahkan angka tersebut lebih kecil dibandingkan skenario Joko Widodo berpasangan dengan Budi Gunawan yang mencapai angka 37,9 persen. Sementara yang tertinggi adalah duet Joko Widodo dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebesar 42,6 persen.

Sebelumnya, TGB menegaskan dukungannya kepada Presiden Joko Widodo bersifat personal. TGB mengaku mendukung setelah melihat dirinya kinerja Joko Widodo selama dua tahun menjabat presiden. Bahkan dia menilai, Joko Widodo konsisten dan berkomitmen mengeksekusi rencana pembangunan. Pernyataannya itu juga menuai polemik di internal Partai Demokrat yang membesarkannya, karena sejauh ini partainya belum menentukan sikap terkait Pilpres 2019.

“Semata karena pertimbangan maslahat bangsa, umat, dan akal sehat agar pembangunan yang tengah berjalan di seluruh penjuru bisa dituntaskan dengan maksimal sesuai hajat masyarakat,” ujar TGB beberapa waktu lalu. [rol]

Sumber : Eramuslim

Teror Jelang Pilpres Jangan Dianggap Remeh

Teror Jelang Pilpres Jangan Dianggap Remeh


10Berita -Teror sekecil apapun yang terjadi jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) Serentak 2019 harus tetap diwaspadai. Pihak keamanan tidak boleh menganggap remeh setiap dugaan ancaman yang terjadi.

Begitu kata Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris menanggapi pelemparan bom molotov di kediaman inisiator #2019GantiPresiden sekaligus Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera dan dugaan pembakaran mobil aktivis perempuan Neno Warisman.

“Kedua peristiwa ini harus diusut dan diungkap tuntas oleh aparat penegak hukum. Apa yang dialami Bang Mardani dan keluarganya sudah pasti aksi teror, pelakunya harus bisa ditangkap. Apa yang menimpa Mbak Neno Warisman juga harus diungkap, apa benar hanya karena korsleting aki?” ujarnya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (23/7).

Pengusutan tuntas kedua peristiwa ini menjadi penting agar kasus tersebut tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh suasana menjelang Pemilu 2019.

Jika peristiwa ini dianggap teror biasa dan lewat begitu saja, maka, bukan tidak mungkin terjadi aksi teror-teror lain yang lebih besar.

Perbedaan pandangan politik menjelang Pemilu 2019 yang semakin tajam, lanjut Fahira, sebenarnya adalah hal yang lumrah. Namun, perbedaan ini bisa menjadi gesekan besar jika kita memberikan toleransi dan menganggap biasa aksi-aksi teror seperti ini.

“Agar tidak menjadi ajang saling curiga dan dimanfaatkan untuk mengadudomba kita, saya berharap kasus ini bisa terungkap sejelas-jelasnya. Penegakan hukum menjadi satu-satu cara agar demokrasi kita tidak dinodai dan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” pungkas Anggota DPD RI DKI Jakarta ini. (jj/)

Sumber : rakyatmerdeka

WOW! MetroTV Beberkan: Masyarakat Yang Ingin Presiden Baru 46,37%, Kalahkan Jokowi 2 Periode 45,22%

WOW! MetroTV Beberkan: Masyarakat Yang Ingin Presiden Baru 46,37%, Kalahkan Jokowi 2 Periode 45,22%


10Berita, WOW.. tumben nih MetroTV beritakan kekalahan Jokowi.

Dalam berita MetroTV kemarin dibeberkan hasil survei terbaru dimana publik yang menginginkan Presiden Baru lebih besar (46,37%), dibanding dengan yang ingin Jokowi 2 Periode (45,22%).

Insya Allah tahun depan Indonesia punya Presiden baru.

Allahu Akbar!!!

#2019GantiPresiden

Kabar gembira ini disampaikan oleh penggagas gerakan #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera.

"Copy dari berita @Metro_TV. Insya Allah tahun depan Indonesia punya presiden baru. 3 bulan gerakan #2019GantiPresiden sudah diatas 46%. Masih terus semangat. Jadwal deklarasi dalam & luar negeri semakin banyak. Mohon doa agar peralihan konstitusional berjalan lancar & aman," kata Mardani di akun twitternya, Senin (23/7/2018).

Copy dari berita @Metro_TV. Insya Allah tahun depan Indonesia punya presiden baru. 3 bulan gerakan #2019GantiPresiden sudah diatas 46%. Masih terus semangat. Jadwal deklarasi dalam & luar negeri semakin banyak. Mohon doa agar peralihan konstitusional berjalan lancar & aman pic.twitter.com/6I3ecatSY0

— Mardani Ali Sera (@MardaniAliSera) 23 Juli 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Fahri Doakan Penghina Ibunya Jadi Orang Baik

Fahri Doakan Penghina Ibunya Jadi Orang Baik


10Berita, Pendukung Jokowi yang mantan wartawan Harian Olahraga TopSkors, Zulfikar Akbar, kembali berulah.

Dulu menghina Ustaz Abdul Somad (UAS) melalui akun twitter pribadinya. Yang berujung pada dipecatnya Zulfikar oleh Harian Olahraga TopSkors pada 26 Desember tahun lalu.

Namun rupanya gak bikin kapok.

Melalui akun twitternya @zoelfick, Zulfikar Akbar kembali berulah menghina ibunda Fahri Hamzah.

"Padahal kalau saja @Fahrihamzah lahir dari ibu yang baik-baik, ia lebih bisa menebar kebaikan. Bukan hasutan, bukan adu domba, apalagi menjual agama hanya untuk semakin mempertebal lemak di perutnya," kicau Zulfikar Akbar (@zoelfick).

Padahal kalau saja @Fahrihamzah lahir dari ibu yang baik-baik, ia lebih bisa menebar kebaikan. Bukan hasutan, bukan adu domba, apalagi menjual agama hanya untuk semakin mempertebal lemak di perutnya.

— Zulfikar Akbar (@zoelfick) 22 Juli 2018


Kicauan @zoelfick ini langsung menuai kecaman luas netizen.

"lha ???? kenapa jadi Ibu ? bobrok lu!! jangan pernah hina sosok Ibu tau?? , susah hidup elu'nanti,  pulang sana cuci.kaki emak lu, basuh muka dan kepala lu, biar berkah hidup lu dan hatilu ga sempit," komen @BeeCutebees.

"Hei kamu, kamu sadar apa yang kamu tulis? Kamu mau maki @Fahrihamzah , sejelek apapun terserah bukan urusan saya. Khusus twit ini kamu telah berbuat keji kepada ibu seseorang, mau ibumu di perlakukan keji? Doa yg terbaik bagimu," sergah netizen @agungprie.

"Masalahmu cuma dgn FH bukan dgn ibu nya. Cebong klo kehabisan argumen ya gini, ngawur pol. Typikal," ujar Bu Carik (@luviku).

"Kalau saya Fahri, orang ini PASTI saya cari dan harus dikebiri. Biar tidak punya anak yg lebih buruk lagi ! Belum tentu saya suka Fahri, tapi orang ini keterlaluan kurangajarnya!" komen @her_alone.

Namun, Fahri Hamzah justru membalas penghinaan ini dengan mendoakan.

"Hampir Seharian Gak ikut TL, tapi saya dengar ada yg kurang ajar kepada ibu saya. Saya serahkan kepada Allah SWT yang mengajarnya. Semoga ia menjadi orang baik," ujar Fahri di akun twitternya.

Hampir Seharian Gak ikut TL, tapi saya dengar ada yg kurang ajar kepada ibu saya. Saya serahkan kepada Allah SWT yang mengajarnya. Semoga ia menjadi orang baik.

— #2019HayyaAlalFalah (@Fahrihamzah) 23 Juli 2018


"Kehinaan dan Kemulyaan di dalam bukan di luar kita. Bukan karena kita dihina kita (jadi) hina. Tapi karena memang hina. Bukan karena dipuji kita (jadi) Mulya tapi karena memang Mulya. Jangan goyah. Jangan berubah. Jangan lari dari medan laga. Tetap setia dan berdiri di atas cita2," lanjut Fahri.

Seorang warganet mengunggah video Fahri dengan Ibundanya...

[video]

Ratu ibu.

Salah satu dari ibu terhebat yang aku tau.

Kamu yang menghina ratu ibu sesungguhnya sedang menghinakan dirimu.

Semoga kita semua terhindar dari sifat tiada bermarwah. pic.twitter.com/c123HBGxGh

— کين مريم (@kenmiryam) 23 Juli 2018


Sumber : PORTAL ISLAM